Sunday, July 29, 2007

Ulang Tahun Tuo Pek Kong

Sebuah ruangan serba merah. Begitu pun dengan lampion, kertas, dan lilin. Asap hio mengepul dengan aroma khas. Puluhan lilin dinyalakan. Cahaya lilin memendar mencari celah di antara kepul asap.

Sepasang patung mengisi altar. Usia patung, sekira dengan berdirinya bangunan. 139 tahun lalu. Patung perempuan bernama Pek Ma. Patung lelaki, Pek Kong.


Beragam buah, daging, jeruk, daging dan kertas uang, menumpuk di atas nampan. Semua mewujud dalam sesaji dan persembahan.

Puluhan orang berkumpul. Dengan tangan tertangkup dan wajah menengadah, sebuah doa dipanjatkan. Ada harapan dan permintaan. Memohon keselamatan menjalani hidup dan petunjuk berusaha.

Bagi yang punya cukup uang, seekor binatang dipersembahkan. Ketika daging terbagi, mereka percaya, kemurahan rejeki bakal mengikuti.

Pada jamuan makan malam, semua berbagi menikmati hidangan. Ada kebersamaan. Ada semangat baru terpancar. Bagi hidup dan jalan kedepan.


Fotografer : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri

Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 29 Juli 2007

Baca Selengkapnya...

Friday, July 27, 2007

Ketika (Parkir) Rakyat Harus Tersingkir

Muhlis Suhaeri

Borneo Pribune, Pontianak
Salah satu ciri kemajuan kota, katanya, bisa dilihat dengan munculnya beragam bangunan modern. Begitu juga dengan masalah pasar. Seiring dengan perkembangan kota, munculnya pula berbagai pusat swalayan. Pusat belanja yang lebih bersih, rapi, nyaman dan “aman”, langsung diterima masyarakat. Bagaimanapun, warga lebih senang mendatangi pusat pertokoan ini. Pada akhirnya, pasar tradisional menjadi hancur. Ekonomi rakyat kecil tercerabut. Tidak sanggup menghadapi raksasa ekonomi. Yang secara modal dan managemen, lebih baik dan dianggap unggul.


Begitu juga yang terjadi dengan masalah perparkiran. Perpakiran rakyat yang digarap secara manual, pada akhirnya juga harus tersingkir, karena dianggap tidak layak secara pengelolaan dan managemen. Ketika hal itu terjadi, dan urusan perut mulai terampas, yang muncul adalah perlawanan.

Hal itulah yang dilakukan serombongan juru parkir di Rumah Sakit Umum (RSU) Sudarso, Pontianak. Pada 15 Juli 2007, juru parkir mengadakan demo menolak pemasangan Sun Parking. Sun Parking adalah perusahaan atau operator yang menangani masalah perparkiran.

Alasan demo, “Pihak rumah sakit tanpa koordinasi di lapangan, memutuskan sepihak dengan para juru parkir dan menggandeng Sun Parking,” kata Suhartono Sukran, juru bicara tukang parkir di RSU Sudarso. Dia juga ketua rukun warga (RW) dan anggota Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (RKPM).

Menurutnya, pemutusan kontrak itu adalah, kebijakan membabi buta. Tanpa menghargai juru parkir yang sudah mengelola secara turun temurun. Kehadiran Sun Parking, suatu komoditi kepentingan pribadi atau apa, kata Sukran.

Alasan lain penolakan, karena lokasi parkir yang digunakan Sun Parking, merupakan fasilitas umum (fasum). Yang bila digunakan, bakal menganggu ketertiban umum atau kemacetan di Jalan Sudarso.

“Kami pada dasarnya sangat mendukung kebijakan yang dilakukan RSU Sudarso. Tapi, setidaknya pengambilan kebijakan itu, harus disesuaikan dengan fasilitas yang ada,” kata Sukran.

Menurutnya, dari survey lapangan yang mereka lakukan, keberadan Sun Parking tidak menguntungkan pengguna jalan dan pengunjung. Mereka berpatokan, pusat pertokoan di Mega Mall, Jalan A Yani, lahan parkir yang diasuh Sun Parking, membuat jalan jadi macet. Apalagi di Jalan Sudarso. Yang sempit dan dua arah.

Dengan tegas mereka menolak keberadan Sun Parking di RSU Sudarso. Apalagi ditengah pekerjaan sulit seperti sekarang.

“Kami akan adakan perlawanan. Kalau ada kesepakatan bersama, kami siap untuk dipertemukan,” kata Sukran.

Ia mengingatkan, pihak juru parkir tidak ingin melakukan tindakan anarkis diluar ketentuan. Mengingat juru parkir adalah masyarakat di wilayah RW 14. Lokasi itu berada di sekitar RSU Sudarso. Ia khawatir, bila tindakan anarkis itu, terjadi di wilayahnya.

Sukran mengingatkan, seharusnya keluhan ditindaklanjuti demi menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas). Sukran menilai, kebijakan yang dilakukan pihak rumah sakit, merupakan keputusan sepihak. Karena, kondisi perparkiran yang mereka kelola selama ini, aman dan tertib. Bahkan, ia mempertanyakan, apakah pihak rumah sakit terjun ke lapangan.

“Dalam kondisi apapun, kami yang menyelesaikan masalah parkir di lapangan,” kata Sukran. Ia menganggap, pihak RSU Sudarso tidak ada toleransi dan perikemanusiaan terhadap juru parkir.
Paska demo, terjadi pertemuan tripartit antara tukang parkir, pihak rumah sakit, dan Kapolsek Selatan, AKP Slamet Nanang Widodo. Pertemuan tersebut disepakati dengan tindaklanjut. Masalah itu akan diselesaikan di Polsek Selatan.

Sesuai kesepakatan awal, pertemuan kedua dilaksanakan pada 16 Juli 2007, di Mapolsek Selatan. Namun, pihak managemen RSU Sudarso tidak menghadiri pertemuan. Kapolsek saja yang hadir. Pertemuan menemui jalan buntu.

Pada 20 Juli 2007, juru parkir mengadukan nasibnya ke dewan. Mereka menemui Komisi D DPRD Provinsi. “Kami diterima Pak Anwar, Spd. Oleh beliau, akan menindaklanjuti permasalahan tersebut. Sampai sekarang belum ada titik temu,” kata Sukran.

Mengenai ketidakhadiran pihak RSU Sudarso dalam pertemuan yang telah direncanakan, dr Subuh, MPPM, Direktur Rumah Sakit Umum dr. Sudarso Pontianak mengemukakan,
“Selama kami tidak dapat undangan secara tertulis, kami tidak datang. Kalau undangan lisan, ngapain kami datang.”

Menurut Subuh, ketika juru parkir mendatangi DPRD, Ketua Komisi D DPRD, meneleponnya. Sang dewan bertanya, mengapa ada permasalahan itu. Subuh menjawab, dirinya tidak tahu kalau ada pertemuan. Itu masalah memorandum of understanding (MoU). Ia justru mempertanyakan keberadaan para juru parkir. Mewakili dan mengatasnamakan siapa. Apakah ada perwakilan yang mengatasnamakan CV Cikal Mandiri atau tidak. Kalau perorangan, berarti sulit. Yang bicara satu orang, tapi badan usahanya tidak ada, kata Subuh.

Awal Mula
Menurut Sukran, mereka mengelola parkir di RSU Sudarso sejak 1982. Banyak dari pengelola parkir, menjalani profesi itu dari bujangan hingga punya dua atau tiga anak. Sudah cukup lama. Sekarang ini, juru parkir ada 56 orang.

Ketika pertama kali mengelola parkir, mereka tidak punya perjanjian tertulis dengan
pihak rumah sakit. Pada perkembangannya, sebagai satu syarat kerja sama pihak rumah sakit dengan juru parkir, dibentuklah CV Cikal Mandiri. Sebagai direkturnya, ditunjuklah Muhammad Arif, mewakili para juru parkir.

Pembentukan CV Cikal Mandiri untuk menjembatani kontrak kerja sama dengan pihak rumah sakit. Bagaimanapun, sebuah bentuk kerja sama, bisa terjalin dengan perusahaan berbadan hukum.

Subuh menjelaskan, hak dari wilayah parkir suatu instansi pemerintah, merupakan tanggung jawab dan wewenang dari instansi bersangkutan. Alasan pengelolaan parkir, supaya masyarakat bisa mendapatkan pelayanan dan kenyamanan. Dia ingin memberikan pelayanan yang profesional. Dan, pelayanan profesional dimulai sejak dari ruang parkir, hingga pelayanan rumah sakit.

Menurutnya, bila ada puluhan orang juru parkir merasa dirugikan, berapa masyarakat dirugikan, karena pengelolaan parkir yang tidak baik.

“Itu yang harus dipahami secara bersama. Ketika dipegang oleh CV Cikal Mandiri, masalah perparkiran tidak memberi rasa kenyamanan,” kata Subuh.
“Indikasinya,” tanya saya.
“Terlihat dari perilaku petugas di tempat parkir. Kurang menunjukkan suatu yang menyejukkan bagi pengunjung. Dengan sistem yang ada, tidak menjamin keamanan,” kata Subuh.
“Apakah dengan sistem komputerisasi, langsung menjamin keamanan?” tanya saya.
“Tidak. Tapi kita meminimalisasi faktor-faktor seperti itu,” kata Subuh.

Subuh menerangkan, terjadi semacam ketidaksepahaman antara MoU yang dibuat dengan pelaksanaannya. Misalnya? Sudah ada kesepakatan dengan seragam parkir, tapi tidak dilakukan. Keamanan parkir tidak terjamin. Setoran parkir tidak disepakati. Karenanya, wajar jika melakukan pemutusan kontrak seperti itu. Kewajiban yang harus lakukan, tidak dilaksanakan.

Apapun alasannya, penanganan masalah parkir di RSU Sudarso, cukup menggiurkan. Bagaimana tidak, bila satu sepeda motor saja harus membayar Rp 500 dan mobil Rp 1000, tinggal kalikan saja dengan kendaraan yang masuk.

Ada sekitar 3.000-3.500 orang, mengunjungi RSU Sudarso setiap harinya, kata Subuh. Katakanlah, setiap orang bawa motor sendiri atau boncengan, kendaraan yang masuk sekitar 800 motor dan 45 mobil, setiap harinya, kata Sukran.

“Dari sisi pendapatan, yang dikelola oleh pihak CV Cikal Mandiri selama ini tidak jelas,” kata Subuh.

Berdasarkan MoU yang dilakukan, juru parkir seharusnya memberikan pendapatan yang jelas. Sehingga pendapatan bisa disetorkan ke kas daerah, bukan kepada rumah sakit, karena RSU Sudarso merupakan aset pemerintah provinsi.

Mengenai setoran yang tidak tetap, Sukran, juru bicara tukang parkir menepis anggapan itu. Menurutnya, setiap bulan juru parkir setor ke pihak rumah sakit sebesar Rp 6 juta rupiah.

Hal ini ditepis Subuh, “Kalau data itu dari CV Cikal Mandiri, saya akan melakukan klarifikasi pada bagian keuangan kami. Tapi, kalau data dari mereka, itu data tidak falid.”


Karena, setiap setoran ke rumah sakit, diberikan bukti setoran. Menurutnya, ini bukan masalah setoran. Dia hanya ingin, masalah perparkiran dikelola secara profesional.


Untuk melihat alur dan kronologi masalah kontrak parkir, antara juru parkir dengan RSU Sudarso, saya menemui Muhammad Meha Menon, Kasubag Perlengkapan RSU Sudarso. Dia yang mengurusi masalah MoU.

Ia memperlihatkan beberapa lembar kontrak kerja sama itu. Dalam lembaran surat itu tertulis, kontrak parkir dilakukan dengan jangka waktu setahun. Tahun berikutnya, kontrak bakal diperbaharui. Dengan satu syarat, kedua belah pihak menyetujuinya.

Dalam satu surat kontrak yang diperlihatkan pada saya, pada Pasal 11 tertulis, “Kontrak tanggal 1 Maret 2006 dan berakhir 28 Februari 2007. Kontrak itu akan diperbaharui oleh managemen.”

Dalam surat bernomor 119/1618/RSDS/TUC/2006, setiap hari CV Cikal Mandiri menyetor Rp 75 ribu ke rumah sakit. Kewajiban yang diberikan kepada badan perparkiran, Rp 600 ribu perbulan.

Menurutnya, menjelang berakhirnya masa kontrak pada Februari 2007, pihak rumah sakit mengundang beberapa operator parkir. Mereka diminta mempersiapkan dan menawarkan penanganan masalah parkir. Ada empat perusahaan memasukkan penawaran. PT Sun Parking, REIM, CV Cikal Mandiri dan sebuah koperasi.

Dari hasil presentasi dan pemaparan yang dilakukan, PT Sun Parking dianggap paling siap. Dari apa yang dipaparkan, cukup profesional dan pengalaman mengelola perparkiran di rumah sakit.

Kerja sama dengan Sun Parking dalam bentuk kerja sama operasional (KSO). Maksudnya, perusahaan itulah yang membangun fasilitas operasional peralatan kerjanya. Faslitas itu berupa gardu, palang pintu parkir, dan berbagai fasilitas lain. Setelah lima tahun, fasilitas itu menjadi milik Pemda. Karena masalah yang masih mengganjal, hingga sekarang Sun Parking belum beroperasi di RSU Sudarso.

Subuh menerangkan, dalam masalah ini, pihaknya telah memberikan toleransi dengan juru parkir. Kontrak itu selesai pada Februari 2007. Namun, pihaknya tetap memberi toleransi hingga Akhir Juni 2007, sebagai persiapan yang dilakukan PT Sun Parking selesai. “Dan mereka sudah tahu itu. Jangan mereka tidak mau tahu,” kata Subuh.

Ia mempertanyakan, mengapa dari Februari hingga akhir Juni, tukang parkir tidak melakukan klarifikasi. Menjelang Sun Parking beroperasi, malah melakukan langkah-langkah ketidakpuasan. Ini yang perlu diklarifikasi.

“Kalau mereka ingin mengadakan ketidakpuasan, sampai sekarang saya tunggu pimpinan orang yang punya CV itu. Tapi tidak pernah mengadakan komunikasi,” kata Subuh.

Sekarang ini, ada 56 orang tukang parkir yang penghasilannya terhenti. Di sisi lain, atas nama kenyamanan dan profesionalitas, sebuah institusi mengambil satu langkah tidak populis. Apalagi ditengah kondisi serba sulit seperti sekarang ini. Kehidupan mereka terampas. Hal ini, bisa saja menimbulkan masalah sosial dan tindak kekerasan.

“Saya sudah bicara dengan Sun Parking. Begitu kerja sama itu terjalin, berdayakan mereka,” kata Subuh. Namanya perusahaan, tentu menghitung, berapa SDM yang dipakai. Sun Parking mengambil 20 orang dari jumlah asal, 56 orang.

Meski begitu, pihak juru parkir tetap mengajukan satu permintaan.
“Kalau memang lahan itu mau dikontrakkan, kami juga siap,” kata Sukran. Tapi, berapa jumlah sewanya, mereka mau berdialog. Pada dasarnya, juru parkir siap melakukan apa saja yang ditentukan RSU Sudarso.

“Dengan ketentuan, kamilah yang bakal mengelola parkir itu,” kata Sukran.□

Edisi Cetak ada di Borneo Tribune, 28 Juli 2007

Baca Selengkapnya...

Sunday, July 22, 2007

Akil Mochtar Bicara tentang Pemekaran Wilayah

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak

Ketika kesebelasan Indonesia bertanding dalam laga Piala Asia, semua warga negara Indonesia bersatu padu, mendukung kesebelasan nasional ini. Suporter dari beberapa klub yang biasanya berantem dan saling lembar batu, tiba-tiba bersatu. Atas nama nasionalisme atau apapun namanya, mereka menjadi padu. Mendukung dan membela tim nasional. Satu pertanyaan tersisa. Akankah, semangat membela tanah air, melalui dukungan klub sepak bola, akan terus mengalir, meski kesebelasan Indonesia telah tersisih?


Kini, satu situasi juga terjadi di Kalbar. Semua mata. Semua media, memberitakan pemekaran Kabupaten Kubu Raya. Bahkan, sangking semangatnya, 105 lima lurah dari daerah pemekaran, mendatangi gedung DPR RI. Hanya untuk menyaksikan pengesahannya kabupaten baru ini.

Ya, begitulah. Datangnya kabupaten baru, berarti ada satu kesempatan baru, untuk mengisi berbagai jabatan, atau apapun namanya di daerah itu.

Semua berteriak lantang. Semua merapat. Dalam setiap kesempatan, semua memperlihatkan wajahnya di media. Satu pertanyaan tersisa. Akankah, semangat membangun Kabupaten Kubu Raya, akan terus terpompa, meski mereka tidak mendapat jatah kekuasaan kelak?

Hanya waktu yang bakal menjawabnya. Konsistensi mewujud dalam tindakan. Bukan kata-kata.
Untuk menjawab berbagai hal mengenai pemekaran, saya menemui Akil Mochtar. Selama menjadi anggota Komisi II DPR RI, Akil telah memekarkan 76 kabupaten dan kota, serta 6 propinsi baru se-Indonesia.

Menurutnya, dalam suatu pemekaran daerah, ada berbagai syarat mesti dipenuhi, untuk menjadi wilayah otonom. “Pembentukan daerah otonom ada syarat dan UU-nya. Baik pembentukan daerah kabupaten baru maupun kota atau propinsi,” kata Akil.

Daerah di Kalbar yang pernah dimekarkan, dan lahir dari tanggungjawabnya sebagai anggota DPR RI adalah, Kabupaten Melawi, Sekadau, dan Kota Singkawang. Akil, kini duduk di Komisi III DPR RI, membidangi masalah hukum, kepolisian dan lainnya.

Untuk memekarkan suatu daerah, harus ada yang mengusulkan. Usulan pemekaran harus mendapat persetujuan dari bupati kabupaten induk. Usulan juga harus mendapat persetujuan dari DPRD kabupaten induk.

Nah, untuk mendapat persetujuan dari bupati dan DPRD, tentunya harus ada aspirasi dari masyarakat.

Dalam suatu pemekaran, harus ada panitia pemekaran. Setelah semua syarat terpenuhi, usulan itu dibawa ke propinsi. Harus ada rekomendasi dari gubernur dan ketua DPRD propinsi. Kalau semua itu sudah lengkap, usulan masuk ke pemerintah pusat atau ke DPR RI.

Kalau ke pemerintah pusat, pemekaran dilakukan melalui Departeman Dalam Negeri (Depdagri). Kalau ke DPR RI, masuk melalui usul inisiatif. Komisi yang menangani masalah pemekaran wilayah adalah Komisi II DPR.

Dari usulan yang masuk, dilakukan studi kelayakannya. Bila usulan melalui DPR, menugaskan komisi yang mengurusi masalah teknis di Komisi II, turun ke lapangan. Tim teknis ini, akan mengadakan beberapa penilaian, terhadap daerah tersebut. Keberadaan tim teknis, ada di UU No 22 Tahun 1999, direvisi dengan UU 32 Tahun 2004, tentang pemerintahan daerah, dan PP 106 tentang pembentukan daerah otonomi.

Daerah itu akan dilihat bagaimana potensi ekonominya. Potensi sumber daya alam (SDA)-nya. Ada tambang apa saja. Sumber daya lautnya. Bagaimana Sumber daya manusia (SDM)-nya. Ada berapa SMA atau perguruan tinggi. Ada rumah sakit atau belum. Berapa puskesmasnya. Kalau sudah ada, bisa ditingkatkan untuk sarana rumah sakit kelas tiga. Dari sisi perdagangan juga dilihat. Ada berapa Bank di sana. Bank tentu saja penting untuk transaksi keuangan, dan lainnya. Pendapatan asli daerah (PDA) dari kabupaten yang dimekarkan, dihitung dari retribusinya.

Setelah semua syarat itu terpenuhi, ada nilai penjenjangan atau skor. Daerah yang dimekarkan, harus ada pengembangan lahan. Minimal selama dua puluh lima tahun, untuk instansi pemerintah. Setelah itu, baru ada usul inisiatif dari DPR atau dari pemerintah.

Proses selanjutnya, setelah daerah itu memenuhi syarat untuk dimekarkan, masuk nominasi menjadi rancangan UU. Sebelum menjadi UU, ada tim Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD). Fungsi DPOD terdapat dalam UU. Tim DPOD diketuai Menteri Dalam Negeri. Anggotanya, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara, Menteri Pertahanan, ketua Bappenas, dan lainya.

Tim DPOD mengirim pejabat eselon dua yang dipimpin oleh pejabat eselon satu. Tim teknisnya meninjau lagi ke lapangan. Mereka yang menentukan, apakah daerah itu, layak menjadi daerah otonomi baru, atau tidak. “Tidak gampang itu,” kata kandidat doktor (S3), ini.

Sebagai contoh, ketika memekarkan Kabupaten Melawi, Akil membawa anggota Komisi II DPR RI, meninjau langsung daerah pemekaran. Ia mencari akal, supaya anggota Komisi II, ikut.

“Jauh tak daerah itu dari Kota Pontianak?”
“Dekat. Cuma, satu jam saja.”
Padahal, perjalanan ke sana, butuh waktu 8-9 jam. Itulah, salah satu cara, supaya daerah itu bisa cepat dimekarkan. Tanpa kunjungan ke daerah bersangkutan, pemekaran bakal lama prosesnya.

Ketika turun ke Melawi dan Sekadau, masyarakat dengan antusias menyambut rombongan Komisi II DPR RI. Berbagai upacara adat dihelat dalam penyambutan. Semua tokoh formal maupun informal datang. Misalnya, ketika memekarkan Sekadau. Bupati Sanggau datang ke Sekadau. Setelah itu, ketemu lagi di Jakarta.

Begitu pun ketika memekarkan Melawi. Bupati Sintang juga ketemu di Melawi dan Jakarta. Sekda, Kepala Biro Pemerintahan, Asisten I Pemerintahan, ditambah tokoh masyarakat. Semua minta supaya pemekaran dipercepat.

Dalam pemekaran Kabupaten Melawi, Akil yang memimpin rapat. Pembahasan pemekaran ada UU. Sewaktu rapat panitia kerja (Panja), Akil yang memimpin rapat itu.

“Memang kita jaga rapat saat itu. Orang daerah itu tahu, bagaimana kita memperjuangkan saat itu,” kata Akil.

UU tentang pembentukan otonomi daerah, implikasinya ke Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), kemampuan daerah, dan lainnya. Kalau daerah yang dimekarkan tidak mampu bertahan menghidupi diri selama tiga tahun, pemekaran itu dievaluasi. Bila tidak mampu, akan digabungkan lagi dengan daerah induk.

Dalam pemekaran Kabupaten Kubu Raya dan Kayong Utara, Akil berperan dalam mengusulkan dan menangani pemekaran, semasa masih duduk di Komisi II.

Tak heran, bila dalam rapat paripurna pengesahan dan pengambilan keputusan rencana undang-undang (RUU) menjadi UU, pada Senin (9/7), di gedung DPR RI, Ferry Mursidan Baldan secara langsung mengucapkan terima kasih padanya.

“Partai Golkar mengucapkan terima kasih pada saudara Akil Mochtar, yang telah dengan gigih, ikut memperjuangkan pemekaran wilayah-wilayah di Kalimantan Barat,” kata Ferry.

Ferry Mursidan Baldan, Wakil Ketua Fraksi Partai Golkar di DPR. Ia menjadi juru bicara Partai Golkar dalam membacakan, pendapat dan pandangan fraksi-fraksi di rapat paripurna tersebut. Rapat itu juga dihadiri berbagai elemen masyarakat Kalbar, pejabat pemerintah, dan forum lurah Kubu Raya.

Sejatinya, tujuan dari pemekaran wilayah adalah, mengurangi rentang kendali pembangunan. Daerah yang semula tak terjangkau pembangunan, menjadi terjangkau dan bisa dibangun. Pemekaran juga mempermudah akses masyarakat dalam mengurus berbagai dokumen, dan lainnya.

Bila awalnya, masyarakat mengurus surat butuh waktu lama, karena jauhnya jarak yang mesti ditempuh, dengan pemekaran, jarak itu bisa disingkat dan lebih dekat.

“Dengan pemekaran, memudahkan warga dalam mengakses dan mempermudah berbagai pelayanan sosial dan pemerintahan,” kata Akil Mochtar.

Ya, inilah esensi dasar dari suatu pemekaran. Nah, dapatkan masyarakat menikmati pemekaran dan mempermudah berbagai akses pembangunan. Untuk menjawab pertanyaan itu, setidaknya, semua warga harus mulai membuka mata. Mari.□

Edisi Cetak ada di Borneo Tribune, 22 Juli 2007.

Baca Selengkapnya...

Duta Lingkungan Hidup

Ketika kerusakan lingkungan kian meruyak. Menghancurkan berbagai lingkup kehidupan. Mesti ada tindakan. Harus ada yang bicara. Ada yang melakukan kampanye. Apapun caranya.

Salah satunya dengan pemilihan Duta Lingkungan Hidup. Perempuan semua memang. Karenanya, sedap untuk dipandang mata. Namun, bukan itu tujuannya.

Pemilihan Duta Lingkungan Hidup, tak bertujuan menampilkan kemolekan raga. Namun, isi kepala dan kampanye mengenai lingkungan hidup, menjadi tujuan utama.



Ketika kerusakan lingkungan kian meruyak. Menghancurkan berbagai lingkup kehidupan. Mesti ada tindakan. Harus ada yang bicara. Ada yang melakukan kampanye. Apapun caranya.

Salah satunya dengan pemilihan Duta Lingkungan Hidup. Perempuan semua memang. Karenanya, sedap untuk dipandang mata. Namun, bukan itu tujuannya.


Karenanya, peserta diminta memaparkan berbagai isu lingkungan hidup di daerahnya.


Diberi pengetahuan mengenai isu-isu lingkungan terkini. Dibawa mengunjungi tempat pembuangan akhir (TPA). Melakukan audiensi ke kantor gubernur. Ke DPRD Propinsi.

Semua dilakukan untuk membuka wacana. Memberi wawasan tentang tugas yang bakal diembannya, kelak.

Ada pengalaman. Ada antusias terpancar. Ada kelelahan.

Semua menjadi satu. Dalam jenjang tujuan dan pencapaian. Duta Lingkungan Hidup.


Fotografer : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri

Edisi Cetak ada di Borneo Tribune, 22 Juli 2007

Baca Selengkapnya...

Friday, July 20, 2007

Menelusuri Jejak Sejarah Melalui AJARI II

Muhlis Suhaeri
Ketapang, Borneo Tribune

Kegiatan Nasional Arung Sejarah Bahari (AJARI) II, yang diikuti 72 mahasiswa dari seluruh universitas di Indonesia, pada Kamis (16/7) melaksanakan perjalanan ke Kabupeten Ketapang dan Sukadana, Kabupaten Kayung Utara (KKU). AJARI II yang digelar pada 15-21 Juli 2007, bertema “Mengarungi Lautan, Menyusuri Sungai, Menguak Peradaban.”

Sehari sebelumnya, Rabu (15/7) rombongan mengikuti diskusi sejarah, berkeliling Kota Pontianak, menyambangi berbagai obyek wisata sejarah. Seperti, Masjid Jami’, Keraton Kadariah, Tugu Khatulistiwa, Klenteng Budhisatva Karaniya Metta, Rumah Betang, Museum Negeri Kalbar, Pelabuhan Seng Hie, dan Makam Raja Pontianak di Batu Layang.


Rombongan mahasiswa dan panitia menggunakan pesawat terbang dari Jakarta. Meski tujuan kegiatan adalah menciptakan minat dan rasa cinta pada bahari, tapi panitia tak menggunakan kapal dari Jakarta ke Pontianak. Penggunaan kapal bisa membuat keuangan melambung tinggi.

Bayangkan, jika menggunakan salah satu kapal milik pemerintah, untuk mengisi solar selama seminggu saja, butuh dana sekitar Rp 2 miliar. Belum lagi harus membayar anak buah kapal.

Dari Pontianak, rombongan menggunakan kapal cepat Ekspres. Kapal berbobot 2000 ton ini, pasokan bahan bakarnya juga lumayan besar. Untuk sekali jalan saja, Pontianak Ketapang, butuh solar 2500 kiloliter atau 2,5 ton.

Dalam perjalanan ini, panitia menyewa kapal. Selama perjalanan, peserta diberi berbagai macam permainan dan kegiatan. Ada kegiatan mengisi peta buta, mengisi alur pelayaran bahari dunia dan Indonesia, menebak nama perahu tradisional di Indonesia dari gambar yang diberikan, dan lainnya.

Peserta terlihat menikmati permainan ini. Mereka begitu antusias. Dalam suasana kebersamaan, mereka menyelesaikan seluruh soal. Ada diskusi. Ada interaksi. Sesekali, canda nakal pun turut menyelingi. Khas remaja.

Di Ketapang, rombongan mengikuti diskusi di pendopo rumah dinas bupati, dan presentasi poster dari peserta.

Dalam lomba poster, yang dinilai ada beberapa kategori. Poster harus komunikatif. Bahkan, harus bisa ditangkap maksudnya oleh orang sekali pun. Ada kesesuaian tema. Harus sesuai dengan eye catching.

Esoknya, Rabu (18/7), mengunjungi Keraton Mulia Kerta, Makam Raja-raja Matan, Makam Keramat Tujuh dan Sembilan, dan Makam Iranata. Selepas mengunjungi makam itu, perjalanan dilanjutkan menuju Sukadana, Kabupaten Kayung Utara.

Keraton Matan menghadap sungai Pawan. Keraton ini merupakan hasil pemindahan kerajaan Tanjungpura pada 1922. Kerajaan Matan berakhir pada 1943, seiring dengan diculiknya Gusti Muhammad Saunan oleh tentara pendudukan Jepang. Hingga kini, jenasah sang penembahan tidak pernah ditemukan.

Tak ada yang menggantikan kedudukannya. Ia belum berkeluarga. Gusti M Saunan merupakan panembahan ke-5 kerajaan Matan.

Di istana yang dicat serba kuning ini, berbagai peninggalam masa kerajaan Matan, masih tersimpan rapi. Pada ruangan depan sebelah kiri, terdapat satu ruangan yang menyimpan berbagai benda pusaka keraton. Seperti, guci, kain, timbangan, tombak, dan lainnya. Ada juga tempayan gajah. Ini sebutan guci besar dengan motif naga dari China.

Sebuah busana lengkap bermotif Balai Mengunang, tergantung pada lemari kaca. Usia baju berumur 263 tahun. Sebuah kain bermotif Lunggi, berumur 340 tahun.

Di ruangan depan sebelah kanan, terdapat ruang kerja sang panembahan. Di ruangan ini, terdapat seperangkat meja dan kursi. Podium. Meja kerja. Almari.

Di ruangan tengah terdapat sepasang singasana. Semua ornamen dan ruangan itu, dipenuhi warna kuning. Warna kuning melambangkan keanggungan dan warna kerajaan.

Ada sepasang meriam Padang Pelita. Meriam ini jenis perempuan dan lelaki. Menurut sang juru kunci istana, Uti Syahrudin, bila meriam ini meletup atau dibunyikan, seluruh listrik bisa mati. Sangking, kerasnya letupan. Waallahu alam.

Namun, ada yang disayangkan dalam pengelolaan pusaka bersejarah ini. Setidaknya, hal itu dinyatakan Dian Pratiwi Pengemanenan, mahasiswi Fakultas Komunikasi, Jurusan Iklan, kampus Mustopo Beragama Jakarta.

“Seharusnya barang pusaka itu diberi pelindung, supaya tidak bisa langsung disentuh atau diduduki,” kata Dian, ”Mosok kita bisa dengan bebas memegang dan menduduki kursi atau tempat tidur bersejarah ini.”

Mengenai makam yang dikunjungi, merupakan makam kuno. Makam Keramat Tujuh atau Keramat Sembilan, telah diperbaiki dan dikumpulkan menjadi satu komplek makam. Namun, pengumpulan makam jadi satu komplek pekuburan ini, juga menyisakan pertanyaan. Di makam itu, tak jelas, siapa yang dimakamkan.

Begitu pun dengan tahun, kematiannya. Tak tertera angka tahun. Nisan makam terbuat dari batu andesit. Batu ini tidak ditemukan di Ketapang. Berarti, nisan batu itu, dibawa dari luar Ketapang atau Kalbar. Dari tulisan yang tertera pada makam, terdapat tulisan Arab berbunyi, kullunafsin daaikatul maut. Kalimat itu memiliki arti, setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Ada perbedaan komplek makam ini, dengan makam-makam kuno di Jawa. “Kalau makam di Jawa, hirarkinya jelas,” kata Surya Helmi, Direktur Arkeologi Bawah Air, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala. Helmi, pernah menjabat sebagai kepala balai sejarah di Minangkabau.

Menurutnya, kalau makam itu merupakan makam raja atau sunan, tidak mungkin makam itu dikelompokkan dalam satu tempat. Seperti, di makam Keramat Tujuh atau Keramat Sembilan. Makam seorang raja atau sunan, biasanya terpisah dengan makam lain. Ada satu tempat tersendiri.

Perjalanan dilanjutkan menuju Sukadana, Kabupaten Kayung Utara (KKU). Sukadana pernah diduduki Inggris dan Belanda. Daerah ini sejuk. Bukit menjunjung tinggi dengan warna hijau, berpadu dengan hamparan hamparan pasir pantai. Tak heran bila Belanda memberi nama Brusel, untuk Sukadana. Nama itu mengacu pada ibukota Belgia, Brusel. Yang terkenal karena keindahan dan kesejukan hawanya. Namun, lidah lokal keseleo, dan menyebut daerah ini dengan nama Bresol.

Di kabupaten yang baru saja dimekarkan ini, rombongan mengunjungi makam raja Sukadana, Tengku Akil. Perjalanan juga diteruskan dengan mengunjungi Tengku Abdul Hamid, rumah keturunan Tengku Akil, kantor dan tangsi Belanda.

Di pinggir pantai Tanjung Datu’, rombongan menikmati santap makan siang sambil diiringi tarian panen durian. Ini tarian khas masyarakat Sukadana.

Acara lain yang tak kalah seru, presentasi makalah peserta. Ada 39 makalah masuk ke panitia. Dari makalah itu, disaring menjadi 12 makalah. Ada tiga peserta dari Universitas Tanjung Pura (Untan), Pontianak. Dari Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor. Universitas Pajajaran (Unpad), Bandung. Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Universitas Sumatera Utara (USU). Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Universitas Patimura, Ambon. Semua makalah dipresentasikan.

Selesai mendengarkan semua peserta presentasi makalah, Triana Wulandari, ketua panitia mengemukakan, “Semula saya tidak percaya, ketika pertama kali membaca makalah yang dibuat.”

Begitu juga ketika harus memilih makalah mana yang layak untuk masuk dalam 12 besar. Setelah mendengar langsung presentasi malam itu, ia merasa terharu dan kagum dengan kemampuan semua peserta. “Mereka lancar dan menguasai betul makalah yang dibuat,” kata Wulandari.

Malam Kamis, acara ditutup di pendopo Walikota Pontianak. Acara penutupan diisi dengan acara makan malam bersama. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan laporan panitia, dan diakhiri dengan pagelaran dan pentas seni dari peserta.

Begitulah, acara AJARI II tingkat nasional itu, telah menorehkan berbagai kenangan bagi peserta. Khususnya bagi wilayah Kalimantan Barat, yang telah menjadi tujuan acara kegiatan. Semoga, kegiatan itu menumbuhkan para pembaharu di bidang bahari. Semoga.□

Edisi Cetak ada di Borneo Tribune, 20 Juli 2007
Foto Muhlis Suhaeri, judul "Makam Keramat Tujuh di Ketapang."

Baca Selengkapnya...

Thursday, July 19, 2007

Info Ajari II

Borneo Tribune, Ketapang
Peserta Arung Sejarah Bahari (Ajari) II, Selasa (17/7) menuju Ketapang. Perjalanan menggunakan kapal Ekspres Poly Mega dari pelabuhan Seng Hie menuju Sukabangun.

Ajari II diikuti 72 mahasiswa dari seluruh kampus di Indonesia. Selasa malam, peserta berkumpul di pendopo bupati Ketapang, untuk jamuan makan malam, diskusi dan presentasi makalah.

Besok rombongan akan mengunjungi keraton Mulia Kerta, komplek makam raja-raja Matan, makam Keramat Tujuh dan Sembilan, makam Iranata, Sukadana, makam Tengku Abdul Hamid, makam Tengku Akil, rumah keturunan Tengku Akil, kantor dan tangsi militer Belanda.

(Muhlis Suhaeri).

Baca Selengkapnya...

Sejarah Kalbar, Tunjukan Penguasaan Bahari Yang Luar Biasa


Endang Kusmiyati
Borneo Tribune, Pontianak

Sekitar 100 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di seluruh Indonesia senin (16/7) pagi kemarin mendatangi kantor Gubernur Kalimantan Barat. Kedatangan mereka ini bukan untuk menyampaikan aspirasi sebagaimana biasanya, namun mereka adalah peserta arung sejarah bahari (AJARI) II.

Sebuah kegiatan yang bertujuan untuk menumbuhkan sikap nasionalisme dan kecintaan terhadap potensi kelautan Nusantara. Ratusan mahasiswa ini telah berlayar dari Jakarta menuju Pontianak dan selanjutnya esok mereka akan kembali berlayar menuju Sukadana Kabupaten Ketapang.


Direktur jenderal sejarah dan purbakala Endjat Djaenuderadjat yang mendampingi ratusan mahasiswa tersebut mengatakan Kalimantan Barat mempunyai potensi bahari yang sangat luar biasa. Dan hal inilah yang menyebabkan Kalbar terpilih sebagai daerah penyelenggaran AJARI II.

”Zaman dulu, ketika jalan darat masih sangat susah ditempuh, air merupakan satu-satunya jalan. Dan untuk mengarungi lautan tentu saja diperlukan penguasaan kemaritiman yang bagus. Kalimantan Barat sudah membuktikan itu. Salah satunya kerajaan Tanjung Pura yang ada di Sukadana Ketapang sana. Kemudian kerajaan-kerajaan lain yang letaknya di tepi sungai. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat Kalbar dulu telah memiliki kemampuan dan penguasaan dalam hal kelautan,” urainya.

Selain itu menurutnya pada abad XIV-XV wilayah perairan Kalbar menjadi jalur sutra perdagangan. Pedagang dari Asia dan Eropa yang melalui jalur ini pasti akan singgah di Kalimantan Barat. Ketika singgah, tentu ada aktivitas perdagangan yang mereka lakukan. Selain itu, berbagai kendala dilautan dapat juga menjadi pemicu terjadinya kecelakaan. Kapal para pedagang yang tenggelam di wilayah perairan Kalbar tentu saja menjadi sebuah potensi pariwisata yang layak dikembangkan.

Menurut Endjat, Belanda yang telah menjajah Indonesia selama 350 tahun telah membuat kearifan lokal masyarakat hilang. Kearifan lokal yang dimaksudnya adalah kearifan yang berbasis kelautan. Kearifan itu menurutnya bisa dilihat dari proses penyebaran agama dari Aceh hingga Ternate di Maluku yang tentu saja dilakukan melalui jalur air.

”Tanpa penguasaan kelautan yang dimiliki oleh para penyebar agama tersebut, maka tidak mungkin mereka bisa sampai ke Ternate. Namun sejak Belanda datang, hal itu sedikit demi sedikit terkikis, ” tukasnya.

Apa yang dilakukan Belanda menurut Endjat masih terus dilakukan bahkan setelah Indonesia merdeka. Orang lebih banyak melakukan pengembangan dan ekplotasi ke daratan. Dan kini hal itu kita bisa rasakan dampaknya. Daratan semakin padat dan sempit. Tidak banyak orang yang melihat potensi laut.

”Hanya 3 persen saja atau sekitar Rp 47 T APBN kita berasal dari lautan. Padahal 2/3 negara kita ini terdiri dari lautan. Artinya masih banyak peluang yang bisa digali dari perairan kita yang dapat digunakan untuk mensejahterakan rakyat,” katanya.

Selain memiliki potensi pariwisata, berbagai makanan yang telah dibuat oleh para nenek moyang selama mengarungi lautan selama ini juga tidak terlalu mendapatkan perhatian. Endjat mencontohkan tempoyak (makanan dari buah durian yang diawetkan).

Menurutnya tempoyak merupakan salah satu cara orang zaman dulu untuk membuat makanan tahan lama. Makanan itulah yang dijadikan bekal selama mengarungi lautan yang waktunya berbulan-bulan.

Sementara itu Dirjen Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Heri Untoro Drajat mengatakan setidaknya terdapat 7374 aset buadaya peninggalan purbakala. 463 diantaranya terdapat dibawah air atau arkeologi bawah air.

”Itu yang baru kita temukan, dan masih mungkin ditemukan titik-titik lain mengingat wilayah perairan kita sangat luas,”katanya.

Ketika di tanya mengapa potensi bahari baru di angkat dibandingkan dengan potensi-potensi lainnya. Ia mengataka karena reformasi baru saja lahir. Selama sebelum reformasi lahir, pemerintah tidak menyadari akan besarnya potensi kelautan.

Kedepan menurutnya potensi ini akan terus dikembangkan sehingga menjadi salah satu income bagi pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Edisi Cetak ada di Borneo Tribune, 17 Juli 2007
Foto Gusti Iswadi

Baca Selengkapnya...

Tuesday, July 17, 2007

Menguak Sejarah Bahari Kalbar

Endang Kusmiyati
Borneo Tribune, Pontianak
Perairan Kalimantan Barat masa lalu merupakan jalur perdagangan internasional, yang lebih dikenal dengan jalur sutra. Kapal-kapal pedagang asing banyak yang singgah di daerah ini. Baik untuk berlindung ketika badai atau membeli hasil bumi dengan ditukar barang-barang seperti keramik, manik-manik, hasil tenun dan barang dagangan yang lainnya.


Dengan kegiatan arung sejarah bahari (AJARI) II, diharapkan sejarah bahari Kalimantan Barat dapat dikuak dan diketahui oleh seluruh masyarakat kalbar khususnya. Hal ini disampaikan oleh Gubernur Kalbar dalam sambutannya saat menerima rombongan peserta AJARI II di Balai petitih yang diwakili oleh Sekda kalbar Syakirman.

Syakirman mengatakan sangat berbangga dengan dipilihnya Kalimantan Barat sebagai daerah tujuan kegiatan AJARI II. Karena menurutnya sejarah bahari II memiliki nilai penting dan mengandung hikmahyang mendalam bagi pelestarian peninggalan sejarah bahari.
”Dengan terkuaknya sejarah bahari daerah ini diharapkan Kalimantan Barat akan mendapat porsi tersendiri dalam historiografi nasional, ” ungkapnya.

Peninggalan masa lampau menurut Syakirman dapat dilihat dari bekas istana raja (keraton) yang tersebar hampir disemua kabupaten/kota yang ada di Kalimantan Barat. Bahkan hampir semua keraton terletak di tepi sungai-sungai besar atau pertemuan dua buah sungai. Hal ini menurutnya menunjukan bahwa kerajaan-kerajaan di Kalbar merupakan kerajaan maritim.

AJARI merupakan event untuk mengembangkan kembali The Sleeping Giant bagi smber daya alam yang terdapat diperairan Indonesia. Melalui pengenalan dan penjelajahan yang terisat dalam arung sejarah bahari ini. Dengan kegiatan ini kita dapat mempelajari dan mengungkap kembali jati diri bangsa sebagai bangsa yang maju dan berpotensi besar di bidang kebaharian.

”Karena pemuda merupakan penerus bangsa, maka kegiatan yang diikuti oleh para mahasiswa terpilih ini diharapkan para alumninya mampu mengembangkan dan mengeksplorasi kekayaan perairan Indonesia sebagai jalan meningkatkan kesejahteraan rakyat,”Kata Syakirman.

Ditanya tentang tindak lanjut dari kegiatan AJARI, Syakirman mengatakan sejarah bahari Kalimantan Barat tentu akan menjadi potensi yang luar biasa. Dan kehadiran para peserta AJARI yang merupakan perwakilan mahasiswa seluruh Indonesia ini merupakan sebuah sarana promosi yang bagus.

”Setelah mengetahui sejarah bahari Kalimantan Barat, nantinya peserta ini pasti akan terus menginformasikan kepada rekan-rekannya. Yang saya yakin tidak hanya dari Indonesia saja, tapi bisa jadi sampai ke Internasional. Dengan demikian ini merupakan potensi wisata yang harus dikembangkan,”ungkapnya.

Sementara itu, kepala Disbudpar Kalbar Rihat Natsir Silalahi mengatakan kegiatan AJARI sejalan dengan program pariwisata Kalbar, yaitu pariwisata berbasis budaya. Apalagi laut atau bahari telah menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Kalbar. Namun, Rihat juga mengatakan kelebihan yang dimiliki oleh perairan Kalimantan Barat juga rawan dari ancaman negara luar.

”Sudah biasa, kalau suatu negara mempunyai kelebihan maka akan menjadi incaran bagi negara-negara yang lain. Buktinya, Belanda tidak mungkin datang ke Indonesia kalau tidak karena potensi rempah-rempah negara kita yang luar biasa,” Katanya.

Oleh karena itu kedepan terhadap potensi bahari Kalimantan Barat perlu dibuat cagar budaya Bahari. Cagar budaya bahari ini dimaksudkan sebagai penjaga ”harta karun” yang ada di wilayah perairan Kalbar.

Namun, Hingga kini Rihat mengaku belum mempunyai data tentang titik-titik ”harta karun” yang ada di wilayah perairan Kalbar.

”Cagar budaya bahari ini tentu saja menjadi salah satu potensi pariwisata Kalbar yang sangat potensial. Walau memang wisata jenis ini hanya memiliki peminat khusus,”tegasnya. 

Edisi Cetak ada di Borneo Tribune, 17 Juli 2007

Baca Selengkapnya...

Tiga Kementrian Lakukan Sinergi untuk Program Kepemudaan

Endang Kusmiyati
Borneo Tribune, Pontianak.

Tiga Kementrian, Departemen Pendidikan Nasional, Kementrian Pemuda dan Olah Raga, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, lakukan sinergi kegiatan program-program kepemudaan. Salah satunya adalah kegiatan Arung Sejarah Bahari (AJARI). Program nasional ini telah dilaksanakan 2 kali. Dan untuk Ajari II terpilih Kalimantan barat sebagai pusat kegiatan tersebut.

Koordinator program sinergi Depdiknas dengan kementrian dan lembaga Dr. Didik Sulistyanto mengatakan, kerjasama program yang dilakukan adalah, program yang memiliki visi dan misi sama. Ia mensinyalir, rasa nasionalisme di kalangan pemuda saat ini, mulai merosot.

Untuk mengantisipasinya diperlukan program-program yang dapat membangkitkan nasionalisme pemuda. Caranya, dengan mengenalkan potensi negeri ini, agar mereka mengetahui, betapa Indonesia memiliki kekayaan dan potensi alam yang luar biasa, untuk dijaga dan dikembangkan.

Salah satu cara untuk mengenalkan kekayaan negeri adalah, dengan kegiatan yang mengenalkan potensi wisata. Cara ini menurutnya lebih memudahkan pemuda untuk mencintai negerinya. ”Kegiatan arung sejarah bahari yang digelarr di Kalimantan Barat, merupakan salah satu kegiatan yang bertujuan menggali potensi kekayaan alam, mengenal jati diri bangsa dengan mempelajari sejarah-sejarah kebaharian,” kata Didik.

Selain AJARI yang kegiatannya diikuti oleh mahasiswa, kegiatan lain yang telah dilaksanakan program sinergi antara lain, Bina Taqwa Pelajar Indonesia (BPTI). Program ini dilakukan bersama dengan Menegpora dan diikuti oleh pelajar SLTA dari berbagai provinsi di Indonesia.

Dijelaskan oleh Didik, pada program BPTI yang dilakukan selama seminggu, 210 pelajar berlayar dengan kapal perang KRI Makasar 590. Kapal ini merupakan jenis Landing Platform Dock (LPD). Kapal itu menurutnya dibeli dari Korea Selatan dan tiba di Indonesia pada 14 Mei, lalu.

Kapal dengan panjang 122 meter tersebut, dapat mengangkut sekitar 507 personel, 13 kendaraan tempur tank, 5 helikopter dan menggunakan teknologi khusus serta sejumlah peralatan militer lainnya.

Kapal itu juga dilengkapi dengan meriam 100 mm, ruang Combat Information Center (CIC) atau ruang pusat informasi tempur. Ruang ini untuk sistem kendali senjata yang berfungsi sebagai alat komunikasi, melindungi pendaratan pasukan dan kendaraan tempur, serta pengendalilan pendaratan helikopter.

Sambil berlayar melalui rute Jakarta, Pulau Untung Jawa dan Krakatau, peserta mendapat materi kepemimpinan, semangat kebangsaan dan nilai ketaqwaan.

Dengan kegiatan tersebut, para peserta diharapkan dapat menumbuhkembangkan kepemimpinan, nasionalisme kebaharian dan kecakapan hidup (life skill) dalam keberagaman agama dan budaya untuk mencapai manusia yang bertaqwa.

Edisi Cetak ada di Borneo Tribune, 17 Juli 2007

Baca Selengkapnya...

Arung Sejarah Bahari II Menelusuri Sejarah Kebudayaan Sepanjang Sungai Kapuas

Borneo Tribune, Pontianak

Arung Sejarah Bahari II yang diikuti 100 mahasiswa dari berbagai universitas negeri dan swasta Indonesia akan menelusuri sejarah kebudayaan dan peradaban di sepanjang sisi Sungai Kapuas pada 17-19 Juli.

Ketua Panitia AJARI II, Triana Wulandari, di Pontianak, Senin menyatakan Arung Sejarah Bahari memiliki makna yang sangat penting. Arung berarti "menjelajah samudera luas". Sedangkan "sejarah" bermakna kehidupan manusia di masa lalu.


"Kegiatan ini berarti mengarungi lautan sejarah atau dengan kata lain mengaruhi sejarah kehidupan manusia dalam suatu lingkup dan tingkat-tingkat peradaban yang telah dicapainya," katanya.

Dalam AJARI kali ini, peserta akan mengunjungi objek sejarah di Kota Pontianak, Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara (Sukadana). Adapun tujuannya, menciptakan forum silaturahmi dan diskusi bagi peserta dari berbagai wilayah di Indonesia, menumbuhkembangkan jiwa dan semangat kebaharian khususnya di kalangan generasi muda, meningkatkan kesadaran kemajemukan bangsa, mendorong perjalanan wisata Bahari, dan terbentuk sebuah jaringan masyarakat generasi muda maritim yang bersifat nasional.

Ia mengatakan, diharapkan melalui AJARI II itu akan semakin menumbuhkan semangat bahari, cinta laut dan tumbuhnya pengetahuan untuk memanfaatkan potensi laut bagi kesejahteraan bangsa di kalangan generasi muda dan masyarakat umum.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Kalbar, Syakirman, menyambut baik dijadikannya Kalbar sebagai tujuan AJARI II tersebut.

Ia mengatakan, kegiatan itu sangat bermanfaat guna mengenalkan kekayaan sejarah yang ada di Kalbar, terutama mengenai sejarah kerajaan atau istana di seluruh wilayah Kalbar. Syakirman berharap setelah kembali ke daerah masing-masing, hendaknya dapat menginformasikan kekayaan yang ada di daerah itu.Antara□

Foto Muhlis Suhaeri

Baca Selengkapnya...

Ajari II untuk Menimbulkan Kecintaan Bahari Pada Generasi Muda

Borneo Tribune, Pontianak

Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala, pada Kementerian Negara Kebudayaan dan Pariwisata, Heri Untoro Dradjat, menyatakan diselenggarakannya kegiatan "Arung Sejarah Bahari" atau AJARI II, guna menimbulkan kecintaan bahari pada generasi muda Indonesia.

"Mereka yang akan memiliki warisan budaya ini. Di balik wisata ini terdapat nilai kepahlawanan dan solidaritas yang mesti mereka ketahui," kata Heri Untoro Dradjat seusai menghadiri Pembukaan AJARI II di Balai Petitih, kantor Gubernur Kalimantan Barat, Senin.


Menurutnya, peserta AJARI II yang terdiri dari mahasiswa berbagai perguruan tinggi di Indonesia dapat memetik pengalaman berharga dari kegiatan tersebut. Mereka dapat menginformasikan kepada siapa saja mengenai apa yang telah disaksikan dari perjalanan bahari itu.

Mengenai dipilihnya Kota Pontianak, Ketapang dan Sukadana menjadi lokasi AJARI II, menurutnya, karena daerah tersebut merupakan Zamrud Khatulistiwa. Wilayah itu dikenal sejak abad ke-13 dan memiliki banyak peninggalan sejarah.

Sungai-sungai yang ada dahulu merupakan jalur komunikasi, budaya dan perdagangan. Terdapat hubungan yang kuat antara pedalaman Kalbar dengan dunia luar. Dan jika diamati saat ini, jalur perdagangan sudah terbuka luas.

Ia menyesalkan banyak mahasiswa Indonesia tidak mengetahui hal itu dan lebih banyak mengenal Singapura daripada kekayaan negara sendiri. "Dari kegiatan itu mereka tidak hanya akan mengetahui peninggalan, tetapi banyak nilai penting yang dapat digali, yakni kebersamaan, solidaritas dan harmoni," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Dirjen Heri Untoro Dradjat juga mengkhawatirkan telah berkurangnya "spirit of community" yang dimiliki bangsa Indonesia. Malaysia menggunakan slogan itu dalam promosi wisatanya. "Padahal semangat gotong royong itu merupakan bentuk kepribadian bangsa kita," jelasnya.

Kepada peserta AJARI II, ia berpesan agar sekembalinya dari kegiatan tersebut dapat menyampaikan informasi yang mereka peroleh kepada teman-temannya. "Informasikan bahwa Indonesia sangat kaya dan punya jalur perdagangan yang luas. Sehingga akan banyak generasi muda yang lebih mencintai negerinya karena ada potensi itu," katanya.
Ia juga berharap agar peserta AJARI II membentuk jaringan yang dapat melestarikan sejarah yang dimiliki bangsanya.

Sementara Ketua Panitia AJARI II, Triana Wulandari menyatakan kegiatan itu berlangsung pada 15-19 Juli dan diikuti 75 mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi. Terdapat pula 45 pejabat dan narasumber dari Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, Universitas Gadjah Mada, Universitas Muhammadiyah Pontianak, dan Universitas Tanjungpura.

Perjalanan AJARI II akan dimulai dari Kota Pontianak, mengunjungi sejumlah tempat bersejarah yang berada di daratan, seperti tugu Khatulistiwa, Makam Pendiri Kota Pontianak di Batu Layang, Masjid Jami`, klenteng tua Budhisatva Karaniya Metta dan Pelabuhan Sheng Hie. Perjalanan kemudian berlanjut menggunakan kapal cepat Polymega guna melanjutkan perjalanan menuju Kota Ketapang dan Sukadana.

Selama kegiatan tersebut, peserta juga mengikuti lomba penulisan karya ilmiah tentang sejarah dan pemenangnya akan mendapatkan beasiswa dengan nilai total Rp18 juta. Membuat poster sejarah maritim yang mewujudkan semangat negara kesatuan RI, pemilihan ratu dan raja Bahari yang memahami segala aspek kebaharian Indonesia dan mengikuti kuis mengenai geografi Indonesia, termasuk pengetahuan tentang pulau besar dan kecil, pengenalan wilayah dalam bentuk peta dan gambar.Antara□

Edisi cetak ada di Borneo Tribune 17 Juli 2007
Foto Lukas B. Wijanarko

Baca Selengkapnya...

Kalbar Berpotensi Kembangkan Wisata Bawah Laut

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak

Sebagai daerah yang pernah menjadi jalur perdagangan maritim, perairan Kalbar menjadi perlintasan yang selalu dilewati kapal dari berbagai penjuru dunia.

Begitu pun ketika badai atau perompakan terjadi, perairan Kalbar menjadi kuburan bagi kapal yang melayarinya.



“Selamat siang, Pak Helmi.”
“Ya.”
“Dapatkah, saya bicara dengan Anda?”
“Bisa. Apa yang bisa saya bantu.”

Itulah, kesahajaan pejabat yang satu. Tak berjarak. Aku langsung menanggapinya dengan antusias. Kujelaskan permasalahan yang mengganjal. Tentang peninggalan bersejarah yang bertebaran di perairan Kalbar. Orang yang satu ini, punya kapasitas bicara tentang topik itu. Sebab, dia adalah Direktur Arkeologi Bawah Laut, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala.

Namanya, Helmi Surya. Dia kutemui, selepas mengikuti acara pembukaan Arung Sejarah Bahari (Ajari) II, di Balai Petitih, Kantor Pemprov Kalbar, Senin (15/7).

Menurutnya, wilayah perairan Kalimantan Barat (Kalbar), sangat berpotensi sebagai wisata bawah laut. Wilayah Indonesia yang terdiri dari duapertiga lautan, banyak memiliki kekayaan peninggalan bawah laut. Peninggalan itu berupa, kapal-kapal dagang yang tenggelam di perairan Indonesia.

Apalagi perairan Kalbar. Yang menjadi jalur perdagangan sutra perairan. Sekitar abad ke 10, perairan Kalbar menjadi jalur yang dilewati kapal dagang. Sebagai jalur perdagangan, tentu saja ada kapal tenggelam, ketika melewati jalur ini. Jalur klasik itu, berkisar dari Selat Malaka, Pantai Timur Sumatera, laut Utara Jawa, Selat Karimata, terus ke Selayar. Perairan itu merupakan jalur perdagangan laut.

“Sekarang ini, kita baru bisa mendeteksi sekitar 500 kapal yang tenggelam,” kata Helmi.

Padahal, dari sejarah dan berita China, ada sekitar 30 ribu kapal dagang China yang berlayar lewat jalur perdagangan ini, dan tidak kembali ke China. Jumlah itu baru kapal China. Belum lagi kapal Portugis, Belanda, Spanyol, India dan lainnya. Mungkin, puluhan ribu kapal yang tenggelam di perairan Indonesia, katanya.

Terhadap kapal yang tenggelam itu, sebenarnya pemerintah sudah punya perhatian. Cuma, belum begitu optimal. Untuk menyelamatkan hasil budaya bawah laut, dua tahun lalu, pemerintah mendirikan Direktorat Khusus. Namanya, Direktorat Arkeologi Bawah Air. Tugasnya, menangani peninggalan arkeologi bawah air. Instansi ini, scientific arkeologi. Penyelamatan data budaya.

Selain itu, pemerintah juga membentuk Panitia Nasional. Anggotanya terdiri dari 15 instansi. Semua menangani dan berhubungan dengan peninggalan bawah air. Secara prinsip, panitia ini bekerja dan menyelamatkan arkeologi bawah air, dari penjarahan orang tak bertanggungjawab. Dengan adanya Panitia Nasional, kalau pun diadakan pengangkatan kapal yang tenggelam, pengangkatannya harus dilakukan secara metodologi.

Dulunya, pengangkatan dilakukan secara langsung. Dengan adanya kebijakan baru dari pemerintah, pengangkatan harus atas persetujuan pemerintah.

Menurut Perpres terbaru, Perpres 76/77, peninggalan bawah laut, termasuk juga peninggalan budaya darat, merupakan obyek yang tidak boleh ada penanaman modal. Tapi, Perpres itu belum sepenuhnya diterapkan. “Sampai sekarang ini, swasta masih boleh melakukan pengangkatan,” kata Helmi.

Perpres itu baru diumumkan. Dia belum klarifikasi, pelaksanaannya bagaimana. Apakah tidak boleh ada pengangkatan terhadap kapal yang tenggelam, atau kapal itu dilestarikan sebagai aset negara. Sekarang ini, pihak swasta masih boleh melakukan pengangkatan. Tapi, harus dengan izin Panitia Nasional.

Lalu, syarat apa saja yang harus dipenuhi, bila suatu perusahaan ingin melakukan pengangkatan arkeologi bawah laut?

Yang pasti, perusahaan itu harus punya kriteria kelayakan. Panitia Nasional akan menilai, sejauhmana kelayakan perusahaan itu. Syarat lain, perusahaan harus punya modal. Tentu saja, karena pekerjaan ini butuh biaya besar. Pengangkatan harus mengikuti prinsip-prinsip arkeologi. Tidak asal angkat. Harus ada metodologi. Dengan cara itu, data sejarah yang didapat dari perusahaan, bisa digunakan untuk menggali sejarah.

“Kalau tidak diangkat berdasarkan metodologi, kita akan kehilangan data sejarah,” kata Helmi.

Kalaupun arkeologi bawah air itu diangkat, perusahaan harus membagi hasil penemuannya kepada pemerintah. Bagi hasil itu tertuang dalam Kepres 25. Isinya, hasil pengangkatan arkeologi air, harus dibagi 50:50 persen. Untuk negara 50 persen, perusahaan 50 persen. Hasil 50 persen negara, langsung masuk ke kas negara.

Seiring dengan adanya otonomi daerah, peraturan atau Kepres yang mengatur bagi hasil, mesti berubah. Pemda dapat apa? Bukankah, peninggalan arkeologi itu, berada di Pemda Tingkat I dan II. Itulah yang menjadi pertanyaan.

Nah, sekarang ini, pemerintah pusat sedang merevisi Kepres 25. Hasilnya, pengangkatan yang berada 12 mil ke bawah garis pantai, izinnya dari pemerintah daerah. Perinciannya, dari garis pantai ke 4 mil, izinnya kepada pemerintah kota/kabupaten. Dari 4-12 mil, izinnya kepada pemerintah propinsi. Di atas 12 mil, izin kepada pemerintah pusat, melalui Menteri Kebudayaan dan Pariwisata.

Meski demikian, semua izin pengangkatan, harus mendapat rekomendasi dari Panitia Nasional. Berapa persen hasil yang bakal diberikan kepada Pemda?
“Kita belum bisa menggambarkan, Pemda mendapat berapa persen dari hasil itu. Dan, ini memang harus dibicarakan, antara pemerintah pusat dan daerah,” tutur Helmi.

Sekarang ini, perubahan Kepres 76/77, terus dipantau pelaksanaannya. Kalau memang tidak boleh ada penyertaan modal, harus menyelamatkannya secara arkeologis.

Bila tidak ada pengangkatan, hal ini justru menguntungkan bagi daerah. Pemda bisa menggunakan situs bawah air itu, sebagai obyek budaya wisata bahari. Bila hal itu dikelola dengan baik, bakal meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).

Kalau ada ekplorasi atau pengangkatan, daerah hanya mendapat sekali. Tapi, kalau itu dikelola daerah, bisa menjadi wisata penyelaman. Caranya, daerah harus menata situs itu dengan baik. Harus ada nilai konservasi. Situs itu, harus dipelihara secara asli dan alami.

Sekarang ini, hanya ada satu daerah yang bisa melihat potensi itu. Di Tulamben, Bali, ada sebuah kapal perang Amerika yang tenggelam. Daerah ini dijadikan obyek wisata bawah air. Hasilnya, wisatawan asing berdatangan ke Tulamben melakukan diving atau penyelaman.

Daerah lain yang coba dikembangkan adalah, Manado, Sulawesi Utara dan Sumatera Barat. Ada kapal tenggelam di sana.

Arkeologi bawah air, telah melakukan berbagai pemetaan bawah air. Hasil datanya disumbangkan ke pemerintah daerah. Harapannya, dengan data itu, Pemda bakal mengembangkan wisata penyelaman.

Dengan sejarah Kalbar yang pernah menjadi jalur sutra perdagangan laut, terbuka peluang ekonomi mengembangkan wisata bawah air. Sekarang, tinggal kemauan Pemda. Mau atau tidak, mengolah potensi ini.

Aku menerawang jauh. Jawaban itu, ada di pundak kita semua.□

Edisi tulis ada di Borneo Tribune, 17 Juli 2007
Foto Lukas B. Wijanarko, "Penanda."



Baca Selengkapnya...

Sunday, July 15, 2007

Inside Kapuas II

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), baru saja meresmikan Jembatan Kapuas II. Pembangunan jembatan, merupakan satu upaya mengatasi kemacetan di Pontianak.

Dari jalur inilah, warga langsung bisa menuju Tayan, Sanggau, Entikong, Sintang dan Kapuas Hulu. Begitu pun sebaliknya. Dana pembangunan jembatan sebesar Rp 79 miliar, diperoleh dari APBD.


Pembangunan jembatan Kapuas II yang dibangun sejak 2003, melibatkan banyak pihak. Pekerja mengerahkan tenaganya. Arsitek mencurahkan pikirannya. Warga dengan sabar melongok setiap meter perkembangannya. Semua memusatkan perhatiannya ke sana.

Begitu juga ketika jembatan hendak diresmikan Presiden SBY. Menjelang kedatangan orang nomor satu di negeri ini, semua berbenah.

Tukang bekerja keras menyelesaikan sisa pekerjaan jalan. Pekerja membersihkan rumah dinas gubernur. Aparat mengamankan wilayah yang bakal dilewati dan dikunjungi. Mahasiswa melakukan demonstrasi menyuarakan pendapat. Korem dan polisi juga ikut memberi penataran, pada wartawan yang bakal meliput kunjungan presiden.

Tak kalah meriah di luar kegiatan pokok peresmian, para istri pejabat dan presiden, juga menyelenggarakan acara. Berbagai souvenir digelar. Makanan dihidangkan. Acara seremonial pun dihelat.

Meski sudah diresmikan, Kapuas II masih menyisakan berbagai pertanyaan. Kapan jalan di ujung jembatan menuju Tayan, akan tersambung. Kapan jalan dari A Yani menuju jembatan, bakal dirapikan. Kapan tubuh jembatan bakal dicat. Kapan?□


Fotografer : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri

Edisi Cetak ada di Borneo Tribune, 15 Juli 2007


Baca Selengkapnya...

Wednesday, July 11, 2007

Cerita Mak Isah

Oleh Muhlis Suhaeri


Dalam hidup orang butuh cerita. Dan dalam keluarga, cerita ini diturunkan dari generasi ke generasi, membentuk sejarah keluarga. Ini juga terjadi pada keluarga Mak Isah, seorang perempuan Madura, ibu dari empat anak perempuan, yang tinggal di Pontianak. Keempat anaknya berturut-turut Nur Hayati, Nurma, Sapariah dan Tursih.

Menurut Nurma, dia mendapat cerita keluarga dari neneknya. Ceritanya, kakek dan nenek buyut Nurma, naik perahu kayu dari Pulau Madura pindah ke Kalimantan. Nurma tak tahu persis kapan kakek dan nenek buyutnya pindah ke Kalimantan, kemungkinan pada zaman Hindia Belanda.


Mak Isah sendiri kini umurnya telah sepuh. Guratan dan garis kehidupan jelas pada raut wajahnya. Caranya berjalan masih tegak. Mak Isah juga giat bekerja, mengerjakan urusan rumah tangga sendiri. Dia memasak, membersihkan rumah, mengambil air, membakar sampah, memelihara kucing-kucing kesayangannya. Orangnya penuh kasih sayang. Tak heran jika anak dan cucu, betah tinggal di rumahnya.

“Waktu itu butuh waktu sekitar 15 hari,” kata Nurma. Perahu kayu yang membawa rombongan nenek buyutnya, dari Madura ke Kalimantan, memuat sapi, garam dan barang dagang lainnya. Nah, di antara muatan barang itulah, manusia berjejal, menuju Kalimantan, sebuah pulau dimana etnik Madura banyak menetap di luar Pulau Madura dan bagian timur Pulau Jawa. Bila ombak ganas menerjang dan perahu kian oleng, sering sapi dan barang muatan dilempar ke laut.

Dalam desertasi Hendro S. Sudagung, Migrasi Swakarsa Orang Madura ke Kalimantan Barat, kedatangan orang Madura ke daerah ini, dibagi dalam tiga periode. Pertama, 1902-1942 ketika Kalimantan dan Madura diperintah oleh Kerajaan Belanda. Migrasi ini berlangsung lambat dan terus-menerus. Kedua, migrasi yang terjadi pada zaman peralihan kekuasaan, saat Perang Dunia II, antara 1942 dan 1950.

Saat itu Jepang menduduki Hindia Belanda, lalu terjadi kekosongan kekuasaan, sesudah Amerika mengalahkan Jepang pada Agustus 1945. Antara 1945-1950, terjadi diplomasi internasional guna menetapkan status Hindia Belanda dimana pemenangnya sebuah negara baru bernama Republik Indonesia Serikat. Ketiga, migrasi yang terjadi pada zaman Republik Indonesia, 1950-1980.

Perpindahan orang Madura ke Kalimantan Barat, juga dikarenakan faktor perdagangan. Orang Madura biasa mengarungi lautan, dan menjadi pedagang antarpulau. Selain mendarat di Ketapang dan Pontianak, para pedagang sapi itu, juga mendarat di pelabuhan Pemangkat, di daerah kekuasaan keraton Sambas.

“Karena biasa berlabuh di Pemangkat, akhirnya menetap di sana,” kata H. Syamsuddin dari Yayasan Korban Kerusuhan Sosial Sambas.

Orang tua Syamsuddin datang ke Pemangkat pada 1923. Pemangkat adalah satu dari tiga daerah Sambas dimana terjadi pembunuhan dan pengusiran orang Madura besar-besaran pada 1999. Kini Sambas “bersih” dari orang Madura.

Di Kalimantan, orang Madura, ibarat imigran kebanyakan, pekerja keras dan ulet. Mereka bekerja sebagai buruh atau petani. Tugasnya membuka hutan, ladang, kebun, menggali parit, hingga memecah batu. Upahnya kecil. Selain rajin, orang Madura dianggap taat pada majikan bila bekerja. Tak heran, permintaan tenaga kerja orang Madura, terus meningkat. Menurut Sudagung, biasanya, orang Madura yang datang ke Kalimantan Barat, dari Bangkalan dan Sampang di Pulau Madura.

Dalam salah satu pendaratan itulah, menurut Nurma, turun pasangan kakek-nenek buyutnya, bernama Belidin dan Dulamah. Mereka merupakan generasi pertama keluarga Mak Isah. Pasangan ini menuju Parit Deraman, Punggur Besar, Kecamatan Sungai Kakap, Pontianak. Menurut Hasan, seorang tokoh Punggur Besar, “Dinamakan Parit Deraman karena yang pertama kali membuka daerah itu bernama Abdurahman.” Keluarga Hasan tetangga keluarga Mak Isah di Punggur. Hasan keturunan Bugis. Abdurahman merupakan moyangnya.

Ketika itu Punggur masih berupa hutan rimba. Belidin bekerja sebagai tukang tebas. Ia menyabit rumput dan membersihkan kebun. Begitu juga Dulamah. Dari perkawinan itu, lahirlah seorang anak, diberi nama Misdin.

Ketika dewasa, Misdin juga menjadi buruh tebas pada pemilik ladang di Punggur. Dia juga bertani, menanam padi dan menoreh getah karet. Di Punggur ada yang menampung getah itu. Terkadang Misdin juga berangkat ke berbagai wilayah di Kalimantan Barat mencari pekerjaan. Segala pekerjaan dilakoninya. Yang penting halal. Begitu prinsipnya.

Misdin menikah dengan Aminah. Dari perkawinan ini, lahirlah anak perempuan bernama Isah. Kelak, anak perempuan ini biasa dipanggil Mak Isah. Aminah inilah yang sering cerita kepada Nurma. Mak Isah tak tahu tanggal kelahirannya. “Jaman dulu, orang tua jarang mencatat kelahiran anaknya. Anak yang penting lahir selamat,” kata Mak Isah.

Untuk menghidupi ekonomi keluarga, mereka menanam padi. Misdin tak punya tanah. Keluagra Misdin numpang di tanah orang. Padi panen setelah tujuh bulan. Saat panen tiba, hasilnya dibagi dengan pemilik tanah. Satu hektar sawah hasilnya sekitar 200 gantang. Satu gantang setara dengan lima kilogram. Yang punya tanah diberi 20 gantang. Setelah bagian pemilik tanah diberikan, zakat pun dihitung. Besarnya 2,5 persen dari hasil panen. Begitupun, bila sawah ditanami jagung. Setiap panen, dapat menghasilkan 1000 biji jagung. Dari hasil itu, jagung yang dizakatkan sekitar 100 biji jagung.

Nenek Aminah suka memberi makan para tetangganya. Ketika itu menjelang akhir pemerintahan Belanda dan awal pendudukan Jepang. Malaise. Dunia serba susah. Di Punggur, orang sulit mendapatkan makanan. Tak heran jika Aminah melarang anaknya membuang makanan. Menurutnya, membuang makanan berarti sikap takabur.

Orang biasa makan bulgur atau dedak. Makanan ini, biasanya untuk hewan ternak. Begitu juga dengan pakaian. Kalaupun ada pakaian, hanya terbuat dari kulit kayu kapoa. Yang ditumbuk dengan tipis dan dibentuk pakaian. Ada banyak kasus tentara Jepang datang dan mencari perempuan desa untuk dijadikan jugun ianfu.

Orang menggunakan penerangan lampu teplok. Lampu itu terbuat dari kaleng kecil diberi sumbu. Bahan bakarnya dari minyak tanah. Bila ada pesawat Jepang lewat, semua lampu dimatikan. Supaya tidak kena bom.

Meski hidup pas-pasan, Nenek Aminah peduli dengan orang sekitarnya. Menurut Nurma, neneknya punya sikap welas asih pada sesama. Sikap peduli dan baik hati itu, menjadi pelajaran penting bagi Isah. Selain sering memberi makanan, Aminah suka memberi pakaian pada tetangga. Selain bertani, Aminah juga berdagang kain.

Apa yang diingat Isah, pada sosok ayah dan ibunya? Keduanya, selalu memberikan pelajaran tentang agama. Sedari kecil, Isah digembleng dengan pendidikan agama. Alasannya, supaya bisa menjadi bekal, untuk hari kemudian. Salat dan mengaji, merupakan pelajaran pokok.

Pendidikan yang Isah peroleh dari orang tua, juga ia terapkan pada anak-anaknya, kelak.
Bagaimana dengan sekolah? Sekolah terdekat dari Punggur berada di Pontianak. Jaraknya sekitar 23 km. Sekarang sebagian sudah ada jalan aspal, dulu jalanan masih berupa jalan setapak. Orang menyebutnya jalan tikus. Lagian, sekolah bukan menjadi pekerjaan wajib perempuan. Budaya patriarki masih kental. Dan, sekolah hanya milik orang kaya dan para bangsawan.

Menjelang Isah, usia remaja, Aminah meninggal dunia. Sepeninggal istrinya, Misdin menikah dengan Misti. Dari perkawinan itu, lahirlah Mahmur dan Rahmat. Mahmur meninggal dunia Lebaran 2006.

Nasib tragis dialami Misdin. Suatu ketika, ia dan beberapa kawannya, berangkat ke Pontianak. Ada kerjaan di sana. Pada saat menyeberangi Sungai Kapuas, perahu yang mereka tumpangi terbalik. Misdin dan beberapa kawannya tenggelam. Misdin dikebumikan di Punggur.


ISAH MENIKAH pada umur 15 tahun. Suaminya bernama Ahmad. Ia peranakan Jawa di Kalimantan. Mereka dijodohkan. Seorang anak tidak bisa menolak, ketika orang tua menjodohkannya. “Amit-amit. Mau buta keh. Mau sumbing keh. Mau pincang keh, tak bisa menolaknya,” kata Isah.

Meski dijodohkan orang tuanya, Isah tak mau menjodohkan anak-anaknya. Perkawinan pertamanya dengan Ahmad, tidak dikarunia anak. Ahmad meninggal pada usia muda.
Sepeninggal Ahmad, Isah menikah dengan Muhamad, tetangga di Punggur, seorang keturunan Banjar dan Madura. Dari perkawinanan ini, lahir Nur Hayati dan Nurma. Perkawinan itu berakhir di tengah jalan. Mereka bercerai. Muhamad masih tinggal di Punggur, hingga kini.

Nur Hayati ketika dewasa menikah dengan Ilyas Bujang. Mereka dikarunia enam anak: Ernawati (kini tinggal di Jakarta), Hendrik (Punggur), Tri Wati (Pontianak), Eko (polisi di Mempawah), Desita Wulandari (Punggur) dan Novi Wulansari (Punggur). Ilyas dan Nur menetap di Punggur dan mengelola tanah pertanian Mak Isah maupun milik pasangan ini sendiri.

Anak kedua, Nurma, pernikahan pertamanya dengan Benu, dikarunia seorang anak, Jhoni Indra. Lalu pernikahan keduanya dengan Johan mempunyai empat orang anak, Febriansyah, Helmi Januar, Delly Ariska Virgina Jannati dan Lusinda Aprilia Arsy Islami. Nurma kini tinggal di Pontianak bersama kelima anaknya di rumah Mak Isah. Johan sendiri menikah lagi dan tak tinggal bersama Nurma.

Setelah cerai dengan Muhammad, Isah menikah dengan Saturi. Ia pendatang dari Pulau Madura. Di sana, ia pernah menikah dengan Saminten. Dari pernikahan itu, lahir seorang anak lelaki. Namanya Ramli, kini tinggal di Surabaya.

Saturi perawakannya sedang. Tidak tinggi. Tidak pendek. Ia agak gemuk. Kulitnya hitam. Orangnya bertanggung jawab dengan keluarga. Ia rajin bekerja. Semua pekerjaan dilakoninya. Mengupas kelapa. Menanam padi. Memelihara sapi. Menyabit rumput. Borong bangunan. Narik becak. Semuanya. Kalau mengerjakan sesuatu hingga tuntas. Ia biasa kerja hingga larut malam.

Menurut Mak Isah, Saturi orang baik, tak mau bicara kasar, atau berkelahi dengan orang lain. Teman-temannya datang dari berbagai etnik. Mereka acapkali menyambangi rumah Saturi, sekedar untuk nongkrong dan bertegur sapa. Saturi pemberani. “Kalau memang Allah menghendaki saya mati, ya, matilah,” begitu ingatan Mak Isah.

Saturi jarang bersikap masam. Ia lebih sering tertawa. Istilahnya, meskipun susah, ia selalu gembira. Bahkan, bila melihat istrinya melamun, ia akan menegurnya, “Tidak boleh melamun. Berdoa saja.”

Pasangan ini biasa memasarkan hasil kebunnya ke Pontianak. Mereka menggunakan perahu kecil. Perahu itu didayung. Satu di depan dan satu di belakang. Hasil kebun seperti pisang, kelapa, daun pisang, langsat, dan lainnya, dibawa melalui Sungai Punggur menuju Sungai Jawi di Pontianak. Perjalanan dari Punggur menuju Sungai Jawi lumayan berat. Bila dari Punggur berangkat pukul 8 pagi, sampai di Sungai Jawi sekitar pukul 5 sore.

Mereka membawa bekal makanan dan peralatan memasak di perahu. Sepanjang jalur sungai tak ada warung makanan. Bila rasa lelah mulai merayap, mereka bakal menepi. Istirahat dipergunakan untuk membuka bekal makanan. Dalam perahu biasanya diletakkan kajang. Ini semacam anyaman dari daun nipah untuk atap perahu. Bila kajang diletakkan di atas sampan, pendayungnya tidak bisa mengayuh sampan. Obor pun dibawa untuk penerangan dan menghindari sampan tabrakan dengan lainnya. Bila sudah terlihat cahaya lampu, berarti sudah dekat Pontianak. “Kita pun akan semakin semangat mendayungnya,” kata Ilyas Bujang, menantu dari Mak Isah. Bujang menikahi Nur Hayati, anak pertama Mak Isah, pada 1976.

Sama dengan mertuanya, Ilyas membawa hasil kebunnya ke Pontianak dengan mendayung sampan. Ketika barang dagangan laku, mereka membawa kebutuhan sehari-hari, seperti, minyak, gula, beras, ikan dan lainnya.

Pada 1972, pasangan Saturi-Isah memutuskan pindah dari Punggur ke Pontianak. Tepatnya di Jalan HM Suwignyo. Saturi sering mendapat penyakit “angin setan.” Ia pernah dibawa ke Madura, hingga ke Lamongan untuk berobat. Mereka memutuskan pindah ke Pontianak dimana sarana kesehatan lebih baik dari Punggur. Daerah Suwignyo masih berupa kebun. Tidak seramai sekarang.

Di tempat tinggal baru, Isah bekerja menjual sayuran. Ada daun singkong, cabe, bawang, kentang dan lainnya. Dari pukul empat subuh, Isah belanja sayuran. Pagi hari, Isah membawa dagangan keliling ke berbagai perumahan. Berjalan kaki hingga belasan kilometer dari rumahnya. Kalau nasib sedang baik, sayurannya laku terjual. Namun, tak jarang orang bersikap ketus dan angkuh, ketika ditawari. Isah hanya mengurut dada, dan mendoakan orang tersebut. “Alhamdulillah. Tak ape, kau tak beli sayuran kami.”

Setelah punya anak, Saturi minta Isah tidak berjualan. Makan tak makan, pokoknya harus kumpul dengan keluarga. Ia mengerjakan semua pekerjaan. Perkawinannya dengan Isah juga melahirkan anak. Anak pertama bernama Marsuni. Ketika berumur tiga bulan, anak ini meninggal. Sakit kejang-kejang. Anak kedua bernama Menik, dan anak ketiga, Dayang, mengalami hal sama. Meninggal pada usia tiga bulan, karena sakit kejang-kejang. Jarak masing-masing anak antara dua hingga tiga bulan.


SAPARIAH lahir 6 Januari 1976. Ia dinamakan Sapariah, karena lahir pada bulan Syafar dalam penanggalan hijriah. Ketika Sapariah berumur tiga tahun, Mak Isah melahirkan adiknya Sapariah, diberi nama Tursih.

Sewaktu kecil, Sapariah gemuk tubuhnya. Mak Isah ingat Sapariah suka makan telur ayam kampung mentah. Telur dilubangi, dihirup dan dibawanya jalan. Sapariah juga suka minum susu. Tak heran bila orang memanggilnya “Bogel.” Sapariah tidak peduli. Ia asyik dengan kegiatannya sendiri, menulis. Menulis sesuatu di lantai dan tembok. Lalu, bicara sendiri. Bogel belum sekolah, ketika itu. Menurut Mak Isah, Bogel tidak nakal, dan lebih sering bermain sendiri di rumah. Kegiatan Bogel, membuat ibu-ibu yang lewat, berkata pada Isah, “Anak ibu ini, nantinya pintar.”

Daerah Suwinyo adalah lingkungan beragam. Ada orang Melayu, Dayak, Jawa, Cina, Bugis dan lainnya. Masalah etnisitas merupakan isu dan masalah penting di Kalimantan Barat. Ia selalu jadi bahan pergumulan, bahkan terkadang pembunuhan, di kalangan etnik ini. Namun anak-anak sering main petak umpet, cakak lele, dan permainan lainnya.

Malam hari, Sapariah dan Tursih menderas Al-qur’an pada guru mengaji Abdul Hamid, dekat rumah. Bila ada tontonan bioskop keliling –misbar (gerimis bubar)-- mereka bakal nonton. Pertunjukan di tanah lapang. Jaraknya ratusan meter dari rumah. Yang diputar biasanya film kungfu, atau film tentang Keluarga Berencana. Kegiatan mengasyikkan lainnya adalah mencari kayu bakar untuk masak di rumah.

Saturi dan Isah figur orang tua teladan. Mereka mengajari anak dengan contoh. Tidak mau memerintah, juga tidak menuntut apa-apa dari anaknya. Meski keduanya tidak mengenyam pendidikan, tapi punya kepedulian menyekolahkan anaknya. Apapun akan dilakukan, demi untuk menyekolahkan anaknya. Apa yang dilakukan orang tua, adalah simbol dari pendidikan kepada keluarga. “Meski tidak kaya, tapi orang tua mau menyekolahkan anaknya, hingga perguruan tinggi,” kata Tursih.

Sapariah dan Tursih lulus sarjana dari Universitas Tanjungpura. Sapariah lulus dari Fakultas Ekonomi. Tursih lulus dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Keluarga Ilyas Bujang dan Nur Hayati punya peranan membantu keduanya menyelesaikan sekolah hingga kuliah. Melalui hasil kebun yang mereka kelola di Punggur, keluarga ini membantu adik-adiknya.

Setelah anak-anaknya menyelesaikan kuliahnya, Saturi meninggal dunia. Ia tidak mengalami sakit atau apa. Dua hari sebelum meninggal, badannya merasa meriang. Pada hari ketiga, ia dibawa ke Rumah Sakit Sudarso. Baru sehari di rumah sakit, Saturi meninggal dunia. Keluarga ini tabah menghadapi cobaan. “Ketika ayahnya meninggal, Ari tidak menangis,” kata Nurul Hayat, teman Sapariah. Menurut Nurul, selama bergaul dengan Sapariah, ia tidak pernah melihatnya menangis.

Sapariah tidak pernah bicara mengenai cita-cita, semenjak kecil. Ketika pertama kali kerja, dia hanya berkata pada adiknya, “Aku ingin kerja yang tidak terikat dengan birokrasi atau apa. Kerja yang bebas, tapi benar.” Sapariah memang suka petualang dan pergi kemanapun. Dia pun melamar jadi wartawan, mulanya di harian Suaka lalu pindah ke Equator. Pada Agustus 2005, Sapariah mengambil keputusan pindah ke Jakarta dan bekerja untuk harian Bisnis Indonesia.

Di mata adiknya, Sapariah sosok pengayom. Kalau perlu, dia yang disalahkan juga tidak apa-apa, demi melindungi adiknya. Orangnya teguh pada pendirian. Tekun. Mau bekerja keras. Dalam masalah kerja, uang bukan satu-satunya tujuan. Namun, ada sisi lain yang ingin diraihnya. Selama apa yang dilihat dan dirasakan baik dan bagus, akan terus dikerjakannya. Kalau mengerjakan sesuatu hingga tuntas, begitu kata Tursih, mengenai kakaknya.

Aku punya pengalaman sendiri mengenai Sapariah. Biasanya kami sering kumpul dengan apa yang dinamakan, “Gang Jomblo” dimana Sapariah anggotanya. Kata “jomblo” merupakan bahasa gaul bagi orang yang belum punya pasangan. “Gang Jomblo” anggotanya wartawati dari berbagai media, antara lain, Nurul Hayat (Antara), Aseanty Widaningsih Pahlevi dan Sri Apriyanti (Pontianak Post), Eva Rade Sitio (Sonora), dan Christin Boekit (TVRI), dan Ansela Sarating (Volare). Sapariah biasanya telat bila Gang Jomblo buat acara. “Ketika ditelepon, ia selalu bilang on the way,” kata Uun dan Levy, hampir bersamaan. Padahal masih ada di rumah, bangun tidur siang.

Kini, Gang Jomblo telah kehilangan beberapa anggotanya. Setidaknya, aku juga berperan mengurangi jumlah populasi mereka. Ehmm, satu anggotanya, Nurul Hayat, telah menjadi istriku. Dan satu lagi, Sapariah, akan mengakhiri status kejombloannya.

Orang Madura adalah etnik yang mengalami diskriminasi luas di seluruh Pulau Kalimantan. Media sering mengulang-ulang (dan menyalahgunakan) pepatah, “Dimana bumi dipinjak, disana langit dijunjung.” Madura diibaratkan sebagai kelompok etnik yang tak membaur, suka mencuri, suka berkelahi, keroyokan dan sebagainya.

Pada 1997 di daerah Sanggau Ledo, orang-orang Dayak membunuh lebih dari 650 orang Madura. Pada 1999 di daerah Sambas, termasuk Tebas, Pemangkat dan Jawai, masyarakat Melayu Sambas melakukan ethnic cleansing terhadap orang Madura. Akibat pengusiran dan pembunuhan warga Madura di Sambas, lebih dari 52 ribu orang Madura mengungsi. Mereka meninggalkan tanah yang telah didiami puluhan tahun. Menurut penelitian Jamie Davidson dalam disertasi, Not Since Time Immemorial: Ethnicity, Indigeneity and Collective Violence on an Indonesian Periphery, lebih dari 3,500 orang Madura dibunuh di Sambas. Davidson juga menulis korban Madura di Sampit pada 2001, dalam Encyclopedia of Genocide and Crimes Against Humanity. Di seluruh Kalimantan, terjadi diskriminasi terhadap orang Madura.

Tak heran bila mengalirnya darah Madura di keluarga Mak Isah, membuat sebagian anggota merasa tekanan diskriminasi dan menanggung stigma dalam hidupnya. Bagi orang dewasa, masalah identitas Madura ini bisa mereka hadapi. Namun, bagi remaja dan kanak, ada dampaknya. Menurut Tursih, “Keponakan, terkadang malu mengaku Madura. Tidak tahu juga, mengapa mereka punya perasaan seperti itu. Mereka biasanya mengaku Melayu kepada teman-temannya.”

Lalu, apa yang menarik dari calon suami Sapariah, Andreas Harsono? Apakah karena ada kesamaan sebagai minoritas dan mendapat diskriminasi? Andreas orang Tionghoa kelahiran Jawa. “Walaupun kami secara pergaulan belum begitu dekat, tapi saat pertama kali datang, dia begitu peduli dengan kami,” kata Tursih.

Tursih berpikir, mungkin ini hanya sikap awal, untuk menarik hati keluarganya. Tapi, dalam kelanjutannya, Andreas memang orang terbuka dan asyik dalam pergaulan. Orangnya mau mengkritik. Kadang kalau sudah mengkritik aneh-aneh, Tursih langsung marah. Dan kalau orang yang dikritiknya marah, Andreas langsung mencandai dan bergurau. Menurut Tursih, Andreas orangnya pintar. “Itu yang kami suka dari dia. Selain itu, dia juga terbuka dan peduli,” kata Tursih.

Keluarga besar Mak Isah, tak mempersoalkan masalah etnis, kekayaan atau apa, ketika anaknya memilih jodohnya. Anggota keluarga ini menikah dengan beragam etnis. Yang penting agamanya Islam. Itu saja.

Tentu saja ada harap, pada pasangan Sapariah dan Andreas di keluarga Mak Isah. Tentu saja, supaya perkawinan itu awet hingga akhir. Latar belakang keluarga dari Sapariah dan Andreas, menjadi kata kunci dari harapan tersebut.

Kata orang dulu, kalau dalam keluarga ada yang kawin beberapa kali, kemungkinan anak-anaknya ada juga. “Nah, saya berharap sekali, mudah-mudahan itu tidak ada. Pokoknya, Ari dan Mas Andreas itu selamanya,” kata Tursih.**

Edisi Cetak ada di Pantau edisi pernikahan Andreas Harsono dan Sapariah Saturi
Foto Haryo Damardono, KOMPAS.

Baca Selengkapnya...

Sunday, July 8, 2007

Gas Elpiji

Keputusan pemerintah mengganti minyak tanah dengan gas elpiji, disambut baik dengan pendirian Stasiun Pengisian dan Penyaluran Khusus (SPPK) gas elpiji PT Gemilang Asia Sejahtera (GAS) di Desa Wajok Hulu, Kecamatan Siantan, Kabupaten Pontianak, Kalbar.

Pendirian SPPK, dianggap sebagai yang terbesar dan termegah di Indonesia. Adalah, The Iu Sia, seorang pengusaha Kalbar, yang bisa melihat peluang baik bisnis itu.

Dan, peresmian SPPK dilakukan dengan menghadirkan gubernur, walikota, bupati, serta pejabat dari Pertamina.


Pembangunan SPPK telah direncanakan dua tahun. Pembangunan SPPK butuh waktu delapan bulan. Ada tangki timbun dengan kapasitas 250 ton. Semua dipantau dengan sistem komputerisasi. Sehingga bisa dijamin keamanannya.

Ada ponton berkapasitas 4x50 ton. Kabarnya, ponton ini telah dipatenkan sebagai trade mark dan alat angkut gas dari Kilang Plaju Palembang.

Sistem pengisian gas dilakukan dengan komputerisasi. Isi gas ditimbang dengan presisi sangat tepat, karena menggunakan sistem komputer juga.

Semua berharap, dengan berdirinya SPPK bisa berdampak terhadap harga gas. Katanya sih, harga gas bisa turun hingga Rp 7000, pertabung.

Semoga saja.□

Fotografer : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri

Edisi Cetak ada di Borneo Tribune, 8 Juli 2007

Baca Selengkapnya...

Thursday, July 5, 2007

Saat Wisuda Tiba….

Gelar baru itu segera diselempangkan. Semua bersiap menyambut. Wajah-wajah cerah terlihat. Senyum memancar dan tersungging pada setiap wajah wisudawan/wati.

Acara arak-arakan pun digelar. Berbagai peralatan digadang. Semua berhias penuh kemeriahan.

Iring-iringan mewarnai sang wisudawan/wati. Ada teriakan. Ada canda. Ada senyum yang tertahan.

Hari itu, Sabtu 28 Juli, acara Penyerahan Mahasiswa dari Dekan dan Ketua Program kepada Rektor di Auditorium Untan Pontianak, dilakukan.
Sang Rektor, Dr Chairil Effendi berharap, alumni Untan menciptakan lapangan kerja sendiri. Bekal semasa perkuliahan sudah cukup, begitu katanya.

Tercatat, 966 mahasiswa/wi, lulus pada semester genap tahun 2006/2007. Mereka terdiri dari Strata II Magister Manajemen 41 orang. Magister Sains 80. Magister Hukum 57. Magister Teknik 6. Strata I Hukum 130. Ekonomi 163. Pertanian 79. Teknik 114. ISIP 76. KIP 134. Kehutanan 37. MIPA 22. Diploma III Pertanian 12. Fisip 15 orang.

Esok harinya, di tempat yang sama, ribuan orang telah menunggu dengan penuh antusias. Mereka berkerumum mengitari sang wisudawan/wati. Ada kebanggaan terpancar. Ada harapan menyembul. Ada rejeki mengalir.

Satu pertanyaan muncul. Akankah, semyum sang wisudawan/wati terus tersungging, ketika mereka mulai meninggalkan ruang Auditorium. Sebuah perjuangan hidup telah menanti. Pada setiap diri.□


Fotografer : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri
Edisi Cetak ada di Borneo Tribune, 5 Agustus 2007


Baca Selengkapnya...

Monday, July 2, 2007

Perempuan di Sungai Itik Lebih Mudah Menjadi Anggota Credit Union

Nurul Hayat
ANTARA

Borneo Tribune, Pontianak

Kaum perempuan di desa Sungai Itik, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Pontianak lebih mudah untuk dirangkul menjadi anggota credit union atau koperasi kredit daripada para prianya.


"Untuk mengajak mereka masuk CU, tidak mengalami kesulitan berarti. Apalagi biasanya keinginan bergabung itu dari mereka sendiri karena melihat keberhasilan sesama perempuan yang sudah terdaftar sebagai anggota," kata Sapiah, 27, Pengurus CU Muare Pesisir, Desa Sungai Itik, 23 kilometer dari Pontianak, Senin.


Menurut ia, untuk mengajak warga setempat menjadi anggota tidaklah mudah. Kebanyakan penduduk Sungai Itik adalah petani yang sepanjang pagi hingga siang berada di sawah. Selain itu, tidak jarang dari mereka juga memiliki usaha sampingan seperti keramba ikan dan berkebun kelapa.

Waktu yang masih tersisa, mereka pergunakan untuk mengerjakan keterampilan tangan, semisal membuat atap daun nipah. Karena sempitnya waktu yang ada, membuat kaum pria setempat enggan terlibat kegiatan lain, seperti menjadi anggota koperasi kredit. Karena itu pula, ia mengatakan kebanyakan anggota CU Muare Pesisir di desa Sungai Itik, adalah para perempuannya.

Para perempuan setempat masih mempunyai waktu luang pada hari Sabtu untuk mengikuti kegiatan lain di luar urusan rumah tangga dan bertani. Pengurus CU pun, pada akhirnya hanya bisa memberikan pendidikan kepada calon anggota yang didominasi perempuan untuk sehari saja. Padahal lazimnya, pendidikan bagi anggota CU berlangsung selama dua hari.

"Jika pendidikan berlangsung dua hari, apalagi lebih, banyak calon anggota merasa keberatan," jelas Sapiah.

Para perempuan setempat masih bersedia meluangkan waktu mengikuti kegiatan pendidikan yang juga menjadi syarat jika hendak mengajukan peminjaman uang baik untuk keperluan produktif maupun konsumtif. Sementara itu, seorang anggota CU dari dusun Parit Cik Mina, Hadiah, 50, menyatakan suaminya tidak mempunyai waktu khusus untuk mengikuti kegiatan di luar bertani.

"Saya telah mengajak suami masuk anggota tapi selalu tidak ada waktu untuk ikut pendidikan," kata anggota CU sejak 2003 itu. Suami Hadiah, Ariadi, 53, memiliki sawah dan kebun kelapa. Waktunya habis untuk mengurusi kedua hal itu. Hadiah mengaku ingin sekali melibatkan suaminya menjadi anggota Cu yang telah memberikan manfaat lebih bagi kehidupan mereka.

"Tetapi memang susah ya, laki-laki lebih mengutamakan pekerjaannya," kata ibu dengan tiga anak itu.

Pernyataan serupa juga disampaikan Taksiah, 39, yang telah 3 kali meminjam uang melalui CU Muare Pesisir. Namun begitu, ia telah berhasil mengajak 6 orang adiknya untuk menjadi anggota CU. Mereka kini menjadi anggota aktif dan telah beberapa kali meminjam modal usaha melalui CU Muare Pesisir yang berkantor pusat di Sungai Kakap, Kabupaten Pontianak.

Sementara menurut data Badan Koordinasi Koperasi Kredit Daerah Kalimantan, jumlah anggota dari 48 CU yang ada telah mencapai 334.119 orang. Khusus CU Muare Pesisir yang berdiri 10 Mei 2003, telah memiliki anggota sebanyak 853 orang hingga Maret lalu.ANTARA□

Foto by Lukas B. Wijanarko, "Memetik Sayur."
Edisi Cetak di Borneo Tribune, 3 Juli 2007

Baca Selengkapnya...

Workshop dan Pelatihan Fisioterapi Pertama di Kalbar

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak


Pada 29 Juni-1 Juli 2007, Ikatan Fisioterpi Indonesia (IFI), mengadakan pelatihan fisioterapi di Hotel Merpati, Pontianak. Pelatihan bertema “Penatalaksanaan Fisioterapi pada Stroke”, rencananya diikuti peserta dari seluruh rumah sakit, yang ada pengobatan fisioterapi.

Fisioterapi merupakan bidang pengobatan tanpa obat, dan menggunakan khasiat alam. Termasuk dalam hal ini adalah, menggunakan kekuatan listrik, mekanik, air, atau terapi gerak. Fisioterapi ada beragam bentuk. Fisioterapi tumbuh kembang, stroke, ibu hamil dan melahirkan, olahraga, bedah dan lainnya.

Untuk mempelajari fisioterapi, setamat SMA, orang harus melakukan pendidikan khusus mengenai fisioterapi selama empat tahun.

Awalnya, tujuan dari pelatihan ini, melatih para fisioterapi di Kalbar. Peserta pelatihan diutamakan dari Kalbar. “Tapi, pada perkembangannya, juga akan diikuti peserta dari seluruh Indonesia,” kata A. Jauhari, fungsional fisioterapi di Rumah Sakit Sudarso, Pontianak.


Dalam pelatihan pertama mengenai fisioterapi di Kalbar ini, panitia menggunakan pelatihan metode Bobath. Metode ini khusus bagi penderita stroke. Metode ini ditemukan oleh Berta dan Karel Bobath. Metode ini untuk aplikasi assessment dan treatment terhadap pemulihan pada penderita stroke, dan kondisi neurologi lain. Khususnya gangguan sistem saraf pusat pada orang dewasa atau anak.

Metode Bobath tidak menggunakan alat. Semuanya pakai tangan. Metode Bobath bisa dibawa ke rumah, karena tidak membutuhkan peralatan. Karena membawa berbagai peralatan ke rumah pasien, tentu merepotkan. Metode Bobath tingkat sembuhannya lebih cepat.

Metode Bobath baru dekade 90-an di dunia. Di Indoensia pada tahun 2000-an. “Di Pontianak, pelatihan baru dilakukan kali ini. Tapi, ada orang perorang yang belajar di Jakarta,” kata Jauhari.

Salah satunya, Agustinus Hendro. Dia sudah belajar mengenai metode Bobath di Jakarta, pada 2005. Kebetulan, dia ikut wawancara siang itu.

Sebelum ditemukan metode Bobath, para fisioterapi menggunakan metode Proprioceptive Neuromuscular Facilitation (PNF). Semua metode ada plus minusnya. Lalu, apa perbedaannya?

Misalkan, ada orang kena stroke pada tangannya. Kalau metode PNF, tangan itu saja yang diobati. Kalau metode Bobath, bila tangannya sakit, akan dicari dulu, mana yang menjadi inti dari sakitnya. Misalnya di leher. Maka, leher itulah yang diobati dulu. Kemudian baru mengobati tangannya. Istilahnya, dimulai dari akar hingga ke ujung. Basis adalah awal dari gerakan. Kalau basisnya tidak kuat, gerakannya juga goyang. Jadi, mesti menentukan dulu basisnya, barulah turun pada organ yang sakit.

Metode PNF, hasil akhirnya pasien bisa saja tidak kembali normal atau kaku. Kalau metode Bobath, sebagian besar berhasil dalam pengobatannya. Itulah kelebihan dari metode Bobath.

Pada pelatihan ini, semua rumah sakit kabupaten di Kalbar, kecuali kabupaten Melawi dan Kapuas Hulu, mengirimkan peserta. Dua rumah sakit kabupaten itu, tidak ada bagian fisioterapi.

Rumah sakit yang mengirimkan peserta dalam pelatihan, Sambas, Pemangkat, Singkawang, Sanggau, Sintang, landak, Bengkayang, Ketapang, Kabupaten Pontianak dan Kota Pontianak. Kota Pontianak ada Rumah Sakit Sudarso, Rumah Sakit Jiwa, Bayangkara, Rumah sakit tingkat III, dan Yarsi.

Dalam pelatihan itu, ada beberapa materi akan diberikan. Seperti, patofisiologi stroke, penatalaksaan fisioterapi/assesment FT, sisi kognisi, dan sensomotorik.

Patofisiologi berasal dari dua kata. Patologi yang berarti penyakit, dan fisiologi. Stroke ditinjau dari fisiologinya, fungsi dari otak dan penyakitnya itu sendiri. Yang sangat penting, sebelum menangani stroke, harus mengerti fisiologinya. Fisiologi ini menyangkut, apakah strokenya mengalami perdarahan, penyumbatan, kecelakaan, atau abnormalitas dari otak. Jadi, patofisiologi merupakan kata kunci, dan untuk menentukan suatu penanganan lebih lanjut.

Pada pelatihan ini, yang menjadi narasumber dari patofisiologi stroke, Airiza Ahmad. Ia merupakan doktor, dokter spesialis, dan konsultan pada Stroke Center Suparjo Rustam, Jakarta.

Pada materi penatalaksanaan fisioterapi diisi oleh Herry Priatna. Dia Ketua Fisioterapi Indonesia. Materi ini adalah, bagaimana ketika orang menghadapi stroke. Sang fisioterapi harus sudah tahu dan membuat program, untuk menangani stroke. Sudah harus bisa menatalaksanakan program ketika menghadapi stroke. Teknik pengobatan apa yang paling tepat. Misalnya, ada kekakuan sendi. Maka, fungsi geraknya mesti dinormalkan kembali. Hingga tahap akhir, sang fisioterapi harus bisa beraktifitas seperti biasa lagi.

Pada materi mengenai kognisi, sebagai pembicara Wayan, dari Stroke Center Suparjo Rustam. Sisi kognisi melihat, apakah ada sisi gangguan luhur pada strokenya. Pasien stroke biasanya mengalami perubahan perilaku. Yang tadinya periang jadi pemurung. Tadinya, sabar jadi pemarah. Ada perubahan perilaku. Kemampuan daya ingat jadi menurun. Penampilannya juga menurun. Yang semula memperhatikan penampilan, begitu kena stroke, jadi tidak peduli dengan penampilan. Kemampuan bekerja atau memotifasi dirinya juga berkurang. Jadi, sisi kognisi luas sekali.

Pada materi mengenai sensomotorik, yang menjadi pembicara Seman. Dia lulusamfisioterapi Belanda. Sensomotorik berhubungan dengan suatu sensor. Misalnya, kalau orang kena stroke, ada perasaan tidak enak. Badan tebal sebelah. Motoris adalah gangguan kelumpuhan. Yang tadinya bisa bergerak menjadi lumpuh layu dan kaku.

Pada pembukaan acara, akan diikuti oleh berbagai lembaga profesi. Seperti, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Perawat Indonesia (PPI), Persatuan Ahli Rontzen Indonesia (PARI), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Berbagai organisasi ini diundang pada saat pembukaan acara. Ketika acara pelatihan berlangsung, semua peserta adalah para fisioterapi.

Pemilihan fisioterapi stroke pada pelatihan ini, bukan tanpa alasan. Di Rumah Sakit Sudarso, rata-rata pasien stroke 10 orang perhari. Itu pasien rawat jalan. Pasien yang dirawat inap, sekitar 5 orang perhari. Itu baru satu rumah sakit.

Dalam melaksanakan pelatihan ini, karena panitia tidak mendapat subsidi dari pemerintah, pihak panitia menggandeng beberapa sponsor. Seperti, Kalbe Farma dan Dosni Roha.

Ada harapan kedepan terhadap pelatihan yang bakal dilakukan. “Bila pelatihan ini sukses, akan dilakukan pelatihan berikutnya dengan metode lainnya,” kata Jauhari.□

Edisi Cetak di Borneo Tribune 29 Juni 2007
foto by Lukas B. Wijanarko


Baca Selengkapnya...

Menelusuri Hutan Mangrove di Batu Ampar

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune
Pagi yang cerah bagi suatu perjalanan. Bersama rombongan Yayasan Hutan Mangrove Indonesia, kami berangkat ke Batu Ampar, Kabupaten Pontianak. Ada dua orang profesor ikut dalam kunjungan ini Mereka terdiri dari Prof. Cecep Kusmana, ahli mangrove dan Profesor Yusuf Sudo Hadi, ahli pengolahan hasil kayu dari Institut Pertanian Bogor (IPB).

Kunjungan ini merupakan kesempatan yang diberikan Bapedalda Provinsi, pada para jurnalis. Aku dan Lukas B. Wijanarko mewakili Borneo Tribune, Aris Munandar dari Media Indonesia, Novi dan tiga rekannya dari TVRI Kalbar.

Pukul, 7.30 Wib, kami berangkat dengan mobil jemputan dari Hotel Kini ke Rasau. Rasau Jaya merupakan pemukiman transmigran pertama di Kalbar, dibangun sekitar tahun 1971/1972. Transmigran ini didatangkan dari Jawa. Meski “cuma” berjarak 25 km dari pusat kota Pontianak, butuh waktu satu jam untuk ke sana.

Sempit dan rusaknya ruas jalan, menghalangi sopir memacu laju kendaraan. Struktur tanah gambut sangat terasa pada ruas jalan ini. Kami terus terayun, pada jalan penuh gelombang. Mobil terus melaju. Membelah cadas batu, aspal dan debu.

Aku menikmati setiap liputan dan perjalanan luar kota. Let’s rocking roll......bisikku dalam hati.

Tak ada perubahan, pikirku. Setahun lalu aku sampai di sini. Meliput kabut asap. Sekarang ini, kembali lagi, dalam suatu perlintasan. Sawah tak ada yang menguning. Kebun tak terlihat hijau. Pembangunan tak meninggalkan jejak pada berbagai sarana dan prasarana. Semua masih terlihat sama. Yang berubah hanya waktu. Puluhan tahun masa pembangunan, tak terlihat signifikan. Padahal, Rasau hanya berjarak 25 km dari ibu kota provinsi. Hanya 25 km!

Aku jadi teringat satu buku karya Patrice Levang. Ia pernah meneliti masalah transmigrasi di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Ia juga pernah diminta Departemen Transmigrasi (Deptrans) sebagai konsultan.

Dalam bukunya berjudul, “Ayo ke Tanah Sabrang, Transmigrasi di Indonesia,” ia menuliskan catatannya. Ia tidak dapat langsung memahami, mengapa beberapa usulan umumnya ditolak, atau tidak diperhatikan Deptrans. Akhirnya terungkap, bahwa semua yang tidak sejalan dengan usaha pertanian pangan intensif, tidak berpeluang sedikit pun diterima.

Semua yang tidak sesuai dengan “pola Jawa” bakal ditolak. Padahal, kondisi iklim dan terutama kondisi lahan di sejumlah besar pulau, selain pulau Jawa, Bali, Madura, dan Lombok (Jambal) tidak mendukung proyek yang menitikberatkan pada pola tanaman pangan intensif.

Bila hanya proyek semacam itu yang dikembangkan, banyak daerah menjadi unsuitable (tidak cocok) untuk transmigrasi. Masalahnya, transmigrasi tidak hanya memberikan lahan bagi mereka yang tidak memilikinya, dan meningkatkan produksi pertanian. Tapi, sebuah transmigrasi tidak bisa dipisahkan dengan sebuah pola pangan, dari budaya dan teknik pertanian masyarakat setempat.

Tak berjalannya pembangunan di Rasau Jaya, membuat masyarakat menggantungkan hidupnya di Kota Pontianak. Mereka menjadi manusia urban. Alasannya beragam. Mulai dari faktor pendidikan, tak tersedianya pekerjaan, fasilitas kesehatan dan lainnya. Tak tersedianya berbagai teknologi pertanian, atau pupuk bagi lahan gambut yang harus mereka olah, membuat warga meninggalkan lahan pertaniannya. Mereka tercerabut dari ruang sosialnya. Berubah menjadi manusia urban, tanpa identitas budaya.

Satu jam sudah. Kami berhenti di terminal. Inilah batas penyeberangan. Orang yang hendak menyeberang ke Batu Ampar, Padang Tikar, Kubu dan Ketapang, melalui jalur ini.

Suasana hingar mulai terasa. Alunan musik dangdut dari tape karaoke diperdengarkan dengan keras. Suara itu muncul dari berbagai warung di sekitar terminal. Suara fals penyanyi, kwalitas tata suara kurang baik, berbaur jadi satu. Menimbulkan bayangan tersendiri terhadap daerah ini. Inilah sisi lain, daerah pinggiran yang tumbuh dengan dunianya sendiri.


SEBUAH kapal ferry bersandar pada steiger. Warna cat kapal telah memudar dan mengelupas di sana sini. Warna pudar cat, berpadu dengan coklat air sungai. Kapal ini milik PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP). Kapal membawa penumpang ke Ketapang. Bila ada penumpang membawa truk atau kendaraan roda empat lainnya, bisa menggunakan kapal ferri ini.

Pada sisi lain, serombongan penumpang sudah antre. Jejeran penumpang dan deretan motor, berpadu membentuk komposisi tersendiri. Mereka menunggu perahu motor yang bakal membawanya ke Kubu, Padang Tikar atau Batu Ampar. Masyarakat biasa menyebut perahu mesin ini dengan sebutan perahu klotok.

Inilah urat nadi masyarakat. Sungai menjadi satu bagian tak terpisahkan dari kehidupan warga. Sungai memberi kehidupan pada manusia melalui aliran airnya. Sungai juga memberi ruang batas eksistensi dan keterbatasan manusia pada alam.

Setelah perahu klotok merapat, serempak barisan manusia itu bergerak mengisi berbagai ruang kosong di perahu. Untuk sampai di Batu Ampar, Anda cukup mengeluarkan uang Rp 12 ribu. Namun, Anda harus bersabar dan menahan diri. Perjalanan itu butuh waktu 6 jam.

Pada sisi lain, kami berkumpul untuk suatu pemberangkatan juga. Kami menggunakan speed boat. Perahu cepat itu bermesin 115 pk, dan sanggup menampung sembilan orang, termasuk sang motoris atau pengemudi perahu.

Untuk sewa perahu cepat ini, Anda harus mengeluarkan uang Rp 2 juta. Jumlah cukup lumayan. Apalagi di tengah sulitnya perputaran uang, seperti sekarang ini.

Kalau tak mau sewa, ada juga speed boat yang biasa mengantarkan penumpang ke Batu Ampar. Anda harus rela menunggu, hingga penumpang berjumlah delapan orang. Setelah cukup jumlahnya, baru berangkat. Biaya yang dikeluarkan Rp 70 ribu perorang. Jadi, nilai uang, tentu saja turut berpengaruh pada jasa yang kita terima. Impas, kan?

Kami berjajar rapi menuju pemberangkatan. Sebelum masuk perahu cepat, beberapa peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), mengenakan jaket pelampung. Mereka menyiapkan beberapa jaket pelampung untuk perjalanan ini. Jumlahnya terbatas. Warna jaket pelampung itu, terang dan menyala. Ini tentu ada maknanya. Seandainya sang pemakai terapung di perairan luas, tentu lebih mudah dilihat dari jarak jauh.

Aku hanya tertegun memandang. Melihat sikapku, salah seorang bertanya.
“Bisa berenang?”
“Bisa. Tapi, kalau jaraknya ratusan meter, pegel juga.”
Aku menjawab sekenanya.

Melihat mereka memakai jaket pelampung, aku jadi teringat peristiwa tenggelamnya kapal Levina I di teluk Jakarta. Suherman, kamerawan Lativi dan M. Guntur, kameramen SCTV, menjadi korban ketika melakukan liputan. Mereka tidak mengenakan jaket penyelamat, ketika meliput di kapal yang telah terbakar itu. Atau, hilangnya Agus, kameramen Jejak Petualang Tran 7 di perairan Papua.

Dalam satu perbincangan, aku pernah bicara pada teman sesama jurnalis, seharusnya tiap media menyediakan minimal dua jaket pelampung di kantornya. Jaket itu mesti dikenakan, bila ada jurnalis melakukan perjalanan, dan tugas liputan yang melewati perairan.

Bukankah di Kalbar, sebagian besar merupakan lahan basah dan sungai? Bukankah, pekerjaan jurnalis selalu bergerak ke mana pun dan kapan pun?

Agaknya, pengalaman meninggalnya wartawan Lativi, SCTV, dan Tran 7, ketika melakukan liputan di perairan, belum menjadi pelajaran berharga buat perusahaan media, untuk menjaga aset dan SDM yang dimiliki.

Selepas kejadian itu pula, beragam tanggapan muncul. Berbagai pelatihan dan cara menyelamatkan diri dari kondisi darurat dilakukan. Teori-teori dasar penyelamatan pun diberikan. Pengetahuan dasar dan cara bertahan hidup pada kondisi tertentu, menjadi sangat penting dan berarti. Bahkan, satu media besar di negeri ini, melakukan pendampingan terhadap jurnalisnya. Ada tim penyelamat ikut pada peliputan beresiko.

Namun, ada juga jurnalis yang menanggapi dengan semangat heroik. Menurut mereka, makin berbahaya suatu liputan, itulah kenikmatan lain dari profesi jurnalis. Ada adrenalin terpacu. Mendengar komentar para jurnalis ini, aku jadi ingat satu VCD yang pernah kutonton. VCD itu berupa film dokumenter dari National Geographic berjudul, “Unseen War in Vietnam.”

Film dokumenter itu bercerita tentang kisah para jurnalis meliput peperangan di Vietnam. Dalam narasi film terkisah, bagaimana medan peperangan berbahaya di seluruh dunia, menjadi tujuan para jurnalis melakukan peliputan. Orientasi jurnalis beragam, ketika datang ke medan pertempuran.

Ada yang beranggapan, medan perang merupakan wilayah paling bagus membuat peliputan dan menghasilkan karya jurnalistik, foto, video maupun tulis. Liputan perang merupakan cara berpetualang dan mengekspresikan diri. Meliput peperangan, merupakan satu cara, supaya perang itu berhenti. Karena dalam perang, ada kebrutalan, darah dan penindasan. Ada yang harus disingkap, dari sisi perang.

Begitulah dunia kami. Para jurnalis.
KAMI berjajar memasuki speed boat. Sebelum semua masuk ke perahu, crew TVRI Kalbar, mengambil gambar. Dua kameramen berdiri pada posisi berbeda. Sang recorder menyorongkan mike perekam suara pada sang reporter. Sejenak mereka mengatur posisi. Novi, sang reporter mulai bersiap-siap.

“Pemirsa, hari ini kita ke Batu Ampar bersama Yayasan Mangrove Indonesia dan para ahli mangrove.......”

Selepas itu, semua masuk ke speed boat. Tak ada retake atau pengambilan ulang adegan.

Melihat pengambilan gambar yang mereka lakukan, aku jadi teringat ketika meliput pembuatan film independen berjudul “Novel Tanpa Huruf R” karya sutradara Aria Kusumadewa. Sebagai bintang utama, Lola Amaria dan Agastya Kandau. Film itu bercerita tentang kondisi Indonesia yang sudah kejet-kejet.

Selama hampir tiga bulan, kami syuting di tiga kota, Jakarta, Sukabumi dan Tangerang. Film itu rampung setelah berkutat selama lebih dari setahun. Aku meliput awal pembuatan film ini, mulai dari desain produksi, sebelum dilakukan syuting. Proses pembuatan film atau syuting, editing film, hingga pendistribusian film melalui jalur independen, dari kampus ke kampus dan kantung budaya.

Semua proses itu pembuatan film itu, mewujud dalam satu buku berjudul, “Di Balik Novel Tanpa Huruf R,” penerbit LKiS, Yogyakarta.

Setelah semua masuk, speed boat segera berangkat. Suara mesin menderu. Pada bagian belakang, air muncrat terbelah baling-baling. Perahu melaju, menyibak hamparan air di depannya.

Bau khas sungai dan rawa, seketika tercium. Angin mengalir deras menerpa wajah dan tubuh kami. Speed boat yang kami tumpangi segera memacu. Kami yang berada di dalam speed boat, mulai terempas-empas. Apalagi, ketika berseberangan dengan perahu, atau speed boat lain. Sesekali, kapal dari fiberglass itu bermanuver. Memecah ombak dan menghindari bonggol kayu yang berserak di sepanjang perlintasan.

Satu menit. Setengah jam. Satu jam. Penumpang mulai terserang kantuk. Sebagian masih berbincang. Namun, suara mesin terlanjur memenuhi semesta. Mengalahkan semua yang berada di dekatnya.

Setelah terguncang selama satu jam, speed boat mulai memasuki kawasan flat mud. Ini adalah kawasan yang bila airnya turun, membuat wilayah itu menjadi dangkal. Bila tidak hati-hati. Kapal cepat itu akan kandas. Kami merapat dulu sebelum melewati kawasan ini. Setelah melihat kondisi air, perjalanan dilanjutkan dengan beriringan. Konvoi.

Setelah melewati jalur ini, kami langsung mendekati wilayah tujuan, Batu Ampar. Dari sini, perahu merapat ke tepian untuk melihat berbagai jenis species mangrove. Kami mengambil gambar. Teman-teman di TVRI juga merekam beragama jenis mangrove ini, dalam kameranya.

Profesor Cecep dari UPB, seketika langsung mencondongkan badannya ke depan, untuk berdiri. Ia terlihat antusias. Mangrove memang kajiannya. Dan ia mendapatkan gelar doktor, dari pohon yang hidup di sepanjang sisi pantai ini.


KAMI mulai masuk hutan mangrove di Nipah Panjang, Kecamatan Batu Ampar. Mangrove di sini masih asri dan terpelihara. Dari berbagai literatur yang telah dikumpulkan, hutan mangrove merupakan jenis tumbuhan di sepanjang garis pantai tropis sampai sub tropis.

Mangrove tumbuh di daerah yang mengandung kadar garam. Mangrove tumbuh di wilayah pasang surut. Mangrove tumbuh terutama di pantai yang terlindung, laguna, muara sungai. Daerah ini biasanya tergenang pasang dan bebas dari genangan ketika surut. Hampir semua jenis flora hutan bakau memiliki biji atau buah dan dapat mengapung, sehingga bisa mengikuti arus air dan tersebar.

Hutan mangrove menyebar di wilayah yang cukup panas, seperti di sekitar garis khatulistiwa yang merupakan daerah tropis dan subtropis. Luas hutan bakau di Indonesia sekitar 2,5 hingga 4,5 juta hektar. Menurut data dari mangrove center, luas merupakan mangrove yang terluas di dunia. Melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha) dan Australia (0,97 ha).

Menurut Nyoto Santosa, Ketua Yayasan Mangrove Indonesia, hutan mangrove di Batu Ampar sekitar 65 ribu hektar. Dari sisi dan nilai ekonomis, hutan mangrove di Batu Ampar, senilai Rp 95,6 miliar, tiap tahunnya. Nilai itu terdiri dari nilai dasar penggunaan dan nilai keberadaan. Nilai dasar penggunaan langsung Rp 45 miliar. Penggunaan tidak langsung Rp 37, 6 miliar. Nilai opsi Rp 690 juta, dan nilai keberadaan Rp 12,19 miliar.

Mangrove bisa digarap menjadi jasa wisata, pertambakan, kayu arang, atau potensi lain. Hal yang harus dilakukan sebelum membuat mangrove sebagai ekowisata, membuat zonasi. Dibuat suatu sistem, mana yang bisa digunakan untuk datangnya para turis, dan daerah mana yang digunakan untuk pengolahan. Masyarakat juga harus dipersiapkan untuk datangnya para turis. Selain itu, Pemda harus juga menyiapkan sarana infrastrukturnya.

“Sehingga turis datang ke sana dengan aman dan nyaman,” kata Profesor Cecep Kusmana.

Menurut Cecep, komposisi mangrove di Batu Ampar sama dengan di daerah lain. Namun, ada satu keistimewaan dimiliki mangrove di Batu Ampar. Mangrove bisa tumbuh secara prima, karena kondisinya memungkinkan. Pasokan air tawar ada. Pasokan nutrisi dari laut, berjalan dengan baik. Substrate cukup stabil. Seperti, lumpur, sedimintasi berjalan seimbang. Ketiga unsur itu, terpenuhi di Batu Ampar. Itu kelebihan Batu Ampar dengan daerah lain.

“Batu Ampar menyediakan surga bagi mangrove,” kata Cecep.

Menurutnya, mangrove berfungsi meredam gelombang dan angin. Mangrove juga pelindung dari abrasi, penahan intrusi air laut ke darat, penahan lumpur dan perangkap sedimen. Mangrove juga penghasil sejumlah besar detritus (hara) bagi plankton yang merupakan sumber makanan utama biota laut. Mangrove merupakan daerah asuhan, tempat mencari makan dan pemijahan berbagai jenis ikan, udang dan biota laut lainnya. Daun mangrove yang jatuh ke air, menyediakan nutrisi dan makanan bagi biota laut.

Hutan mangrove juga menyediakan berbagai ruang dan habitat bagi burung, reptilia, dan mamalia. Mangrove bisa digunakan untuk arang supaya lestari. Hutan mangrove bisa digunakan sebagai tempat memelihara lebah madu.

Kerusakan mangrove di beberapa tempat bisa ditangani dengan berbagai cara. Salah satunya dengan penanaman kembali mangrove. Namun, cara ini memerlukan biaya cukup tinggi. Semua ekosistem mangrove bisa ditangani dengan baik, tergantung situasi dan kondisi arealnya. Dulu gangguannya hanya pernah ditebang. Sekarang ini sudah bisa tumbuh dengan sendirinya. Pemulihan di Batu Ampar, menanam mangrove saja sudah aman.

Pertumbuhan mangrove sangat lambat. Rata-rata 0,5 cm pertahun pertumbuhan diameter pohonnya. Mangrove bisa digunakan setelah berusia sepuluh tahun. Mangrove umur 10-15 tahun sudah cukup rimbun. Sampai saat ini, belum ada teknologi yang bisa mempercepat tumbuhnya mangrove. Mangrove tanpa perawatan tertentu, sudah bisa tumbuh dengan baik.

Sekarang ini, kerusakan mangrove di seluruh Indonesia, sudah mencapai 70 persen. Hal yang harus dilakukan sekarang adalah, memberi pemahaman kepada masyarakat, bahwa mangrove merupakan tanaman yang penting untuk penahan erosi laut. Mangrove dapat pulih dengan baik, bila pelihara dengan baik, begitu kata professor Cecep.

Cecep meneliti mangrove sejak 1985. Ia kuliah di Jepang, dan mengadakan penelitiannya di Sumatera tentang mangrove. Ia tertarik dengan mangrove, karena pohonnya kuat. Menurutnya, mangrove jangan dijadikan tambak. Namun, boleh saja orang membuat tambak di belakang mangrove.

Bagaimana kondisi hutan mangforve di Kalbar? Tim Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB), pernah mengadakan inventarisasi dan identifikasi pada 1999. Hasil dari penelitian itu menyebutkan, luas keseluruhan hutan mangrove di Kalbar, mencapai sekitar 472.385,80 hektar. Dari jumlah itu, yang berada di Kabupaten Sambas dan Bengkayang, sekitar 183,777,68 hektar atau 38,9 persen. Yang mengalami kerusakan mencapai 25,86 persen. Di Kabupaten Pontianak dan Kubu Raya, sekitar 178.845,14 hektar atau 37,86 persen. Yang mengalami kerusakan 80,76 persen. Di Kabupaten Ketapang dan Kayong Utara, seluas 109.742,98 hektar atau 23,24 persen. Angka kerusakannya mencapai 16 persen. Berdasar data itu, hutan mangrove yang telah alami kerusakan berat maupun ringan, ada sekitar 44,36 persen.
“Jadi, jangan ada lagi konfersi mangrove untuk konfersi,” kata Cecep.□

Edisi Cetak 2 Juli 2007 di Borneo Tribune
Foto Lukas B. Wijanarko

Baca Selengkapnya...