Tuesday, July 23, 2019

The Lion King

Ada satu frame di foto Opera The Lion King yang mengingatkan saya pada seseorang yang baru saja meninggal, Mas Sugeng Hendratno. 

Dia pernah bilang, “Sebelum motret obyek, kau rasakan dulu suasana di gambar itu.” Saya coba-coba memaknainya saja sendiri. Kekeran pertama, biasanya belum dapat. Entah itu karena masih coba-coba cari komposisi, pencahayaan kurang pas atau lainnya. Setelah frame kedua dan seterusnya, biasanya baru dapat, gambar yang kita inginkan.

Omongan yang Mas Sugeng katakan, terkadang sulit dilakukan, pada kondisi tertentu. Misalnya saja saat nonton Opera The Lion King di Broadway New York. Kebetulan, tahun 2010, saya dapat International Visitor Leaderhip Program (IVLP) dari pemerintah Amerika Serikat. Keliling lima negara bagian, satu diantaranya ke New York.

Di Theater Broadway yang terkenal itu, kita tidak boleh mengambil gambar selama pementasan. Dilarang keras. Tapi, untunglah. Saya terlahir di Negara yang Iklimnya rada nakal, untuk melawan urusan larang melarang seperti itu. Meski dilarang, tapi tetap dilakukan, asal dapat gambar. Mungkin, ini bisa saja bernama semangat. Contoh ketidakpatuhan. Atau, sikap mbalelo. Bedanya tipis-tipis saja.

Saya berpikir, bagaimanalah cari saat yang tepat, untuk keluarkan kamera. Ini hanya masalah waktu dan kesempatan yang harus ditata dengan tepat. Begitu pertunjukan sudah berjalan lebih dari 10 menit, orang mulai tersihir dengan pertunjukan yang memang bagus dari sisi pementasan. Setting panggungnya bagus dan dinamis. Tampilan para pemainnya menjiwai dan bagus. Tata cahaya menarik. Pokoknya satu kata, KEREN! 

Diam-diam saya keluarkan kamera dan lensa panjang dari tas. Saya berpikir, kesempatan saya ambil gambar paling hanya beberapa frame, sebelum orang lain marah. Malam itu, saya merutuki nasib. Inilah salah satu kelebihan kamera bagus dan mahal, sesedikit apa pun cahaya, bisa ditangkap. Gerak dinamis pemain atau tata cahaya lampu, bisa segera ditangkap dan dieksekusi dengan cepat. Atau, memang saya yang masih bodoh dalam memotret. 

Ya, memotret bagi saya adalah hobi. Juga, sarana untuk mendukung tulisan. Memotret bukan kerjaan utama (meskipun, saat pertama memutuskan kuliah di jurnalistik, menjadi fotografer perang adalah cita-cita setelah lulus kuliah. Keliling dunia dan mengambarkan masalah kemanusiaan, efek dari peperangan). 

Dan, benar saja. Begitu saya pencet tombol kamera, terdengar bunyi crek. Orang yang duduk di depan saya langsung menoleh. Tanpa basa basi, lensa saya ditepas. Didorong. Masih berusaha ambil lagi beberapa frame, tapi terus dihalang-halangi pakai tangannya. 

Ya, sudahlah.... Dan, minggu ini, film The Lion King terbaru yang disutradarai Jon Favreau mulai dipasarkan. Film yang diproduksi Walt Disney Pictures tersebut, iklannya gencar di televisi, serta medsos.

Ada teknologi baru, CGI di film itu. Sebuah teknologi foto realism yang digabungkan dengan motion picture, sehingga menghasilkan gambar lebih nyata dan bagus. Pasti, ini salah satu film yang bakal laris. Anak-anak di berbagai belahan dunia, bakal menyukainya. Hakuna matata...

#thelionking 
#waltdisneystudios 
#theatrebroadway 
#newyorkcity 
#sugenghendratno

Baca Selengkapnya...

Sunday, July 21, 2019

Sugeng Tindak Mas Sugeng Hendratno...

Saya mengenalnya sejak tahun 2005. Namanya, Sugeng Hendratno (55 tahun). Ketika itu, saya baru saja pindah ke Kota Pontianak dari Jakarta. Ada kerjaan menulis buku.

Selesai urusan wawancara atau bertemu narasumber, saya cari kesibukan dengan bertemu para jurnalis atau fotografer di Pontianak.

Nah, Sugeng Hendratno adalah fotografer di Pontianak ketika itu, yang biasa saya temui. Persamaan hobi membuat kami mendirikan komunitas fotografi.

Anggotanya, ada penggemar fotografi, jurnalis, fotografer profesional, macam Sugeng Hendratno, dan lainnya. Mas Sugeng, saya biasanya memanggilnya, orang yang tidak pelit dengan ilmu. Juga tidak pilih-pilih teman. 

Tak heran bila temannya banyak banget. Dari berbagai macam kelompok, profesi atau sebatas tongkrongan warung kopi. Sebagian besar orang mengenalnya. Tak hanya kenal, mereka juga suka dengan pribadinya. 

Mas Sugeng pandai menempatkan diri. Apalagi di dunia para penggemar fotografi. Kawannya mulai dari remaja, dewasa hingga orang tua. Mulai dari penggemar fotografi, fotografer kawinan, fotografi jurnalistik, hingga para model yang sering dijadikan obyek foto. 

Ia sosok yang disenangi dan jadi idola. Bagaimana tidak, anak yang baru pegang kamera dan lagi senang-senangnya motret pun, dia temani hunting foto. Begitu pun dengan para fotografer profesional atau sekedar hobi. Semua dekat dengannya. 

Dia tak pelit ilmu. Pada siapa pun. 

Saya punya pengalaman tersendiri, jalan bareng dia. Ketika itu, saya dapat dana hibah dari PPMN (Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara) di Jakarta, untuk sebuah liputan investigasi, akhir tahun 2007. Liputan itu meliputi wilayah Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Mempawah, Bengkayang, Sambas, Singkawang hingga ke Sarawak, Malaysia. 

Setelah riset pustaka, membuat timeline liputan, menentukan narasumber, jalin kontak dengan para penghubung di lapangan, saya mengajaknya jalan bareng ke beberapa daerah pedalaman di Kalbar. Bagi orang luar Kalbar, masuk ke wilayah-wilayah pedalaman Kalbar, tentu saja harus punya cara tersendiri. 

Mas Sugeng ibarat jimat dalam perjalanan dan kerjaan yang saya lakukan. Dia kenal banyak orang. Bahkan, di tempat terpencil sekali pun. Heran saya. Ada saja orang yang dikenalnya di suatu wilayah. Itu sangat memudahkan perencanaan, gerak dan pencapaian target-target hasil liputan. 

Liputan itu terbit di koran tempat saya bekerja, Harian Borneo Tribune dengan judul The Lost Generation. Tulisan itu terbit 19 edisi secara bersambung. Ada 63 halaman folio atau sekitar 24 ribu kata. 

Naskah tentang pengusiran orang-orang Tionghoa sepanjang perbatasan Kalbar tersebut, memenangkan penghargaan jurnalistik Mochtar Lubis Award dan Adiwarta, untuk kategori investigasi tahun 2008.  

Lain kali, saya jalan bareng dengan Mas Sugeng lagi, untuk liputan di Majalah Play Boy Indonesia. Saya ditelepon seorang redaktur majalah tersebut, Agus Sopian (almarhum). 

“Lis, mau nulis untuk Majalah Play Boy, nggak?” 
“Oh, siap. Seneng banget, Kang.” 
“Oke, buat proposal liputannya, tema dan budjetnya, ya!” 

Setelah semua beres, saya liputan ke Singkawang. Dalam budjet yang saya buat, estimasi waktu liputan selama empat hari. Temanya, pengantin pesanan atau kawin kontrak di Singkawang. Hingga hari keempat, narasumber utama belum dapat. 

Otak mulai stres. Berbagai cara dan jaringan diberdayakan. Akhirnya, tugas beres. Beberapa hari setelah liputan itulah, istri cerita. 

Mas Sugeng cerita, “Gila, gigih suamimu itu.” 

Saya hanya senyum-senyum saja. 

SUGENG HENDRATNO, awalnya adalah pelukis. Ada banyak lukisan dia buat. Saya kebagian dua lukisan. Satu lukisan perempuan Dayak dengan hiasan manik-manik. Cerah dan ceria. Satu lagi, lukisan ukuran besar bertema topeng, dengan beragam ekspresi wajah. 

Lukisan itu dibuatnya di Sekretariat AJI Pontianak. Lukisan pernah beberapa kali pindah tempat. Terakhir saya bilang ke dia, 

“Aku ingin pasang lukisan itu di rumah. Pokoknya, aku bakal mulyakan lukisan itu.” 

Dan, memang, lukisan dengan dasar warna abu-abu itu, menempel di ruang tamu rumah. Gambaran wajah dalam topeng dengan beragam ekspresi tersebut, selalu membuat saya tersadar bahwa, dalam hidup ada beragam karakter manusia. 

Kita tidak bisa membuat semua orang senang, gembira atau melayani apa yang menjadi kemauannya. Yang bisa dilakukan dalam hidup dan pergaulan adalah, belajar dan menerima segala karakter tersebut. Bila tidak, kita akan berserak. Pecah seperti gambaran topeng yang berserak di dasar lukisan. 

Sebagai fotografer yang berawal dari pelukis, dia paham benar anatomi tubuh. Juga gestur dan komposisi. Foto-foto human interest yang dia potret, banyak menggambarkan detail itu. 

Begitu pun dengan foto-foto alam yang dipotretnya. Gambaran lukisan dengan berbagai pernak-pernik, warna dan tata cahaya, kerap muncul di foto-fotonya. Persis bak lukisan. 

Foto-fotonya kerap digunakan untuk berbagai program di WWF, tempat dia menjadi fotografer. Para aktivis pun, kerap menggunakan fotonya untuk kegiatan mereka. Dan, dia tak pelit atau minta imbalan untuk foto yang digunakan tersebut. 

Akhir 2018, saya tak lagi bisa menikmati foto-fotonya. Badannya mulai digerogoti penyakit. Kanker paru. Efek dari perjalanannya selama 24 tahun, keluar-masuk hutan. Gas dan karbon dioksida dari lingkungan yang basah dan lembab, mulai mengikis kekebalan tubuhnya, kata seorang dokter. 

Semalam, bayangan dan kilatan flash dari kameranya, seakan membekap kami dalam jarak. Kami saling memandang. Ia terbujur dalam diam. Tanpa kata-kata. Tangan yang biasa menenteng kamera dan lensa, tak lagi liat dan kekar. Imbas dari sakit yang mendera. 

Yang mengantarnya pada pusara. 

Clik. Cekrek... 

Keterangan foto: Sugeng Hendratno berfoto di depan mozaik foto karyanya. (Foto oleh Galih Nofrio Nanda)

Baca Selengkapnya...

Saturday, December 15, 2018

Siswa SD Muhammadiyah 2 Pontianak Luncurkan Novel Berjudul "Starlight Strianggle"

Pontianak (Antaranews Kalbar) - Siswa kelas 3 SD Muhammadiyah-2 Pontianak, Kalimantan Barat, Keisha Amelia Karenina meluncurkan sebuah novel perdananya berjudul "Starlight Strianggle, Kisah 10 anak biasa yang menjadi terkenal", berlangsung di Geduang Balai Pelestarian Nilai Budaya Kalbar, Sabtu (15/12/2018).

Puluhan teman sekolah dan kerabat beserta orang tuanya turut hadir. Saat peluncuran orang tua Keisha, Muhlis dan Nurul Hayat juga menghadirkan psikolog Yulia Ekawati Tasbita, Direktur Persona and Consulting Pontianak, yang membahas seputar potensi dan kecerdasan anak.

Ayah Keisha, Muhlis Suhaeri saat memberikan sambutan memaparkan bahwa Novel Starlight Strianggle bercerita tentang persahabatan 10 anak di sekolah asrama. Mereka memiliki idol. Ada yang mengidolakan Fateh (Gen Halilintar), Agnes Monica, Naura, dan Neona.

Novel ini sebenarnya merupakan "kecelakaan sejarah", saat kelas 2, guru memberi tugas pada murid untuk membuat majalah dinding.

Di SD Muhammadiyah, guru aktif mendorong siswa membuat majalah dinding. Bahkan, kegiatan itu diperlombakan. Ada hadiahnya, murid semangat mengisi majalah dinding kelas, ujar Muhlis.

Saat diminta mengisi majalah dinding oleh wali kelas, ibu Uray Monaya, Keisha membuat cerpen. Ceritanya, rencana nonton bareng film Nyai Ahmad Dahlan di Megamall, Pontianak. Nyai Ahmad Dahlan, istri pendiri Organisasi Muhammadiyah di Indonesia.

Acara nonton bareng, sebenarnya diperuntukkan bagi anak kelas 3 sampai kelas 6. Karena Keisha masih duduk di kelas 2, ia ikut nonton bareng dengan sang kakak, Cori Nariswari Mernissi (12) dan Shima A. Calluella (10), serta teman-temannya.

Cerpen itu ditulis hingga empat halaman kertas kuarto. Terlalu panjang untuk ukuran majalah dinding. Akhirnya, tulisan tak dipajang. Kemudian, Keisha melanjutkan tulisan itu. Ia menukilkan impiannya menjadi artis. Muncullah ide cerita novel berjudul Starlight Strianggle.

Saat tahu Keisha menulis cerita untuk novelnya, sang ayah minta novel itu diselesaikan, dan berjanji akan menerbitkannya. Begitu pun dengan sang ibu, Nurul Hayat yang selalu mendampingi dalam proses penulisan itu.

"Sebenarnya sejak kecil Keisha sering dibacakan cerita, dibelikan buku dan sebagainya. Ia diberi suasana dan dukungan akan hal itu. Dengan demikian setidaknya dia termotivasi. Alhamdulillah dengan kemauannya akhirnya bisa meluncurkan novel ini," papar dia.

Novel sepanjang 180 halaman, ditulis selama satu setengah hingga dua bulan. Sang ayah menyunting novel itu. Ia juga mencari orang untuk menggambar karakter tokoh-tokoh di cerita. Itu yang membuat buku ini, agak lama diterbitkan.

"Semoga novel anak saya menjadi bacaan yang bisa diterima anak-anak di mana pun. Membuat mereka bahagia. Berani menggapai mimpi dan cita-cita,"kata dia.

Sementara itu, psikolog Yulia Ekawati Tasbita menyatakan, Keisha memiliki kecerdasan di bidang bahasa. Kemampuannya terasah karena didukung kedua orang tuanya yang merupakan jurnalis yang biasa menulis dan membaca.

Yulia mengajak para orang tua yang hadir dalam peluncuran novel tersebut untuk sejak dini melihat minat dan bakat anak-anaknya. "Anak saat ini berbeda dengan kita, apalagi dalam bacaan-bacaannya. Kita dulu kenal dengan cerita 'Lima Sekawan', nah mereka sudah berbeda zaman, bacaannya pun berbeda," kata Yulia.

Ia juga mengingatkan para orang tua untuk tidak menyebut seorang anak sebagai anak nakal, karena itu akan tertanam dalam pikirannya. Ia mengajak para orang tua untuk sering membisikan kata-kata bijak di antara waktu tidur anak, sebelum ia benar-benar terlelap. "Bisikan kata-kata bijak di telinga anak-anak kita," katanya. (Antara)            

Baca Selengkapnya...

Thursday, June 8, 2017

Kelahiran Pancasila dan Perdebatan di Sekitarnya 

Pidato Bung Karno Tanpa Teks di Sidang BPUPKI Hari Lahir Pancasila diperingati dengan gegap gempita pada 1 Juni. Berbagai kegiatan, sosialisasi, seminar hingga hari libur nasional telah dilaksanakan. Hari lahir Pancasila ditetapkan melalui Peraturan Presiden (Perpres) No 24 Tahun 2016, tentang Hari Lahir Pancasila.  
Meski sudah 71 tahun sejak pertama kali diucapkan dalam suatu pidato dan sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK, selanjutnya ditambahi kata Indonesia, BPUPKI), namun peringatan hari lahir Pancasila, baru tahun ini diperingati. 

Pancasila merupakan pidato Bung Karno yang diucapkan dengan tidak tertulis dalam sidang yang pertama Dokuristsu Zyunbi Tyoosakai, tanggal 1 Juni 1945, ketika sedang membicarakan Dasar Negara Indonesia Merdeka (buku berjudul Filsafah Merdeka, Adi Negoro, 1950). 

Sukarno menyatakan, BPUPK telah bersidang tiga hari. Telah mendengar pendapat dari Dr Sukiman, Ki Bagus Hadikusumo, M Yamin, Ki Hadjar Dewantoro, Sanusi, Abikusno, Lim Kun Hian, dan lainnya. Sukarno menyatakan, sidang itu untuk mencari hal yang disetujui bersama, bukan kompromi. “Pertama-tama saudara-saudara saja bertanja: apakah kita hendak mendirikan Indonesia Merdeka untuk sesuatu orang, untuk sesuatu golongan? Mendirikan negara Indonesia Merdeka yang namanya saja Indonesia Merdeka, tetapi sebenarnya hanya untuk mengagungkan satu golongan yang kaja, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan yang kaja, untuk memberi kekuasaan pada satu golongan bangsawan? Apakan maksud kita begitu? Sudah tentu tidak! Baik saudara-saudara yang dinamakan kaum kebangsaan yang disini, maupun saudara-saudara yang dinamakan kaum Islam, semuanya telah mufakat, bahwa bukan negara yang demikian itulah kita punya tujuan. Kita hendak mendirikan suatu negara ‘semua buat semua. Bukan satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya, tetapi semua buat semua.” 

Adi Negoro, jurnalis awal Indonesia ini menulis, “Pancasila, selain menjadi dasar falsafah Indonesia Merdeka, adalah dasar kesusilaan warga negara Indonesia, dan menunjukkan watas-watas fikiran.” 

Dalam buku berjudul “Pengertian Pancasila” karya Dr Mohammad Hatta, rumusan Pancasila dari Sukarno, pertama, kebangsaan Indonesia. Kedua, Internasionalisme atau peri-kemanusiaan. Ketiga, mufakat atau demokrasi. Keempat, kesejahteraan sosial. Kelima, Ketuhanan Yang Maha Esa. 

Pancasila punya dua lapis fundamen, yaitu; fundamen politik dan fundamen moral (etik agama). Bagi Bung Karno, sendi politik didahulukan, sendi moral menjadi penutup. Sendi kebangsaan menghendaki satu Nationale Staat, meliputi seluruh kepulauan Indonesia, sebagai satu kepulauan di Khatulistiwa. 

Menurut Sukarno, Sumatera, Jawa atau Sunda, Kalimantan, Sulawesi, satu per satu bukan Nationale Staat. Yang dinamakan Nationale Staat, bila kepulauan seluruhnya. Untuk menegaskan ini, dasar kebangsaan menajdi dasar pertama atau sila pertama. 

 Dalam memaknai nilai kebangsaan, Bung Karno mempergunakan dalil-dalil dari teori geopolitik, khususnya Blut-und-Boden teori dari Karl Haushofer. Teori ini sebenarnya sendi dari Imperialisme Jerman. Tetapi dianggap menarik bagi kaum nasionalis Asia dan Indoensia, khususnya untuk membela cita-cita kemerdekaan, persatuan Bangsa dan Tanah Air. 

Teori geopolitik sebagai Nationale Staat cukup menarik, namun kebenarannya sangat terbatas. Kalau diterapkan di Indonesia, maka Filipina harus dimasukkan ke Indonesia, dan Irian Barat dilepaskan. Demikian juga seluruh Kalimantan, harus masuk Indonesia. 

Filipina tidak saja serangkai dengan Kepulauan Indonesia. Tapi, bangsa Filipina bangga mengatakan, mereka sebagai bangsa Melayu. Namun, Indonesia dan Filipina memiliki sejarah berbeda. Indonesia dijajah Belanda dan Jepang, Filipina dijajah Portugis, Spanyol, Amerika dan Jepang. Penjajahan itu menghasilkan sikap, prilaku, tradisi dan budaya berbeda. India, setelah merdeka malah terpecah karena faktor agama. 

India pecah menjadi India yang hindu, dan Pakistan yang Islam. Pada akhirnya, Pakistan juga terpecah menjadi Pakistan dan Bangladesh. Soal bangsa dan kebangsaan memang tidak mudah memecahkannya secara ilmiah. Sukar mendapatkan kriteria yang tepat. Tidak bisa ditentukan dengan persamaan asal, bahasa dan agama. 

“Bangsa ditentukan oleh keinsafan sebagai suatu persekutuan yang tersusun jadi satu. Yaitu, keinsafan yang terbit karena percaya atas persamaan nasib dan tujuan,” kata Bung Hatta. 

Mohammad Ibnu Sajoeti atau Sajoeti Melik (dalam bukunya berjudul Demokrasi Pantja Sila dan Perjoengan Ideologis Didalamnya, 1953) menulis, Bung Karno pernah menerima surat dari orang-orang di daerah, mereka akan memisahkan diri dari Indonesia, bila dasar negara menggunakan dasar agama Islam. Karenanya, tak heran bila Bung Karno meletakkan dasar kebangsaan sebagai dasar pertama, selain ia adalah seorang nasionalis. 

 Setelah menempatkan dasar kebangsaan pada sila atau dasar pertama dari Pancasila, Bung Karno menggunakan paham Internasionalisme, pada dasar kedua. Dasar ini untuk menegaskan bahwa, Indonesia tidak menganut paham nasionalisme yang picik, melainkan harus menuju persaudaraan dunia, kekeluargaan bangsa-bangsa. Internasionalisme bagi Bung Karno, sama dengan humanity atau perikemanusiaan. Pendapat ini berasal dari gerakan sosialisme abad ke 19 dan permulaan abad ke 20. 

Dasar ketiga, Permusyawaratan. Oleh karena Indonesia didirikan sebagai negara “semua buat semua, satu buat semua, semua buat satu.” Artinya, demokrasi yang membawa sistem permusyawaratan dalam Dewan Perwakilan Rakyat.

Dasar keempat, Kesejahteraan Sosial. Yaitu, menciptakan prinsip tidak ada kemiskinan dalam Indonesia Merdeka. Kesejahteraan sosial meliputi demokrasi politik dan ekonomi. Dasar kelima, Ketuhanan yang Berkebudayaan. “Artinya, Ketuhanan yang berbudi pekerti luhur. Ketuhanan yang hormat menghormati satu sama lain, sehingga segenap agama yang ada di Indonesia sekarang ini, akan mendapat tempat yang sebaik-baiknya,” tulis Bung Hatta.

Lalu, dari mana kalimat Bhineka Tunggal Ika, muncul di Pancasila? Dalam buku yang lain, “Bung Hatta Menjawab” karya Dr Z Yasni, Bung Hatta menjelaskan bahwa, Semboyan Bhineka Tunggal Ika bermula sejak kegiatan Perhimpunan Indonesia di Eropa. Saat itu, para mahasiswa Indonesia di sana bersatu, dan menyadari betapa mereka yang datang dari berbagai daerah dan suku bangsa, serta adat dan pembawaan, harus bersatu padu kalau hendak berhasil melepaskan Indonesia dari penjajahan, dan membangunm bangsa untuk kemajuan dan kemakmuran.

Semboyan “bersatu kita kuat, berpecah kita lemah” sungguh-sungguh dihayati, walaupun masing-masing tahu dasar keanekaragaman tadi ada, tetapi dibawah terhadap prinsip kesatuan, ke-ika-an tadi.
Bung Hatta menegaskan, sejatinya, semboyan Bhineka Tunggal Ika adalah ciptaan Bung Karno, setelah Indonesia merdeka. Semboyan itu kemudian diperkuat dengan lambang yang dibuat oleh Sultan Hamid II, dan diresmikan pemakaiannya oleh Kabinet RIS tanggal 11 Februari 1950.

Pancasila sebagai dasar dari negara, perlu diamalkan dalam setiap perbuatan dengan penuh makna. “Pancasila itu perlu disakralkan. Bukan berarti dianggap barang suci seperti agama, tidak! Disakralkan berarti dijadikan satu dengan jiwa dan perbuatan kita,” kata Bung Hatta.

Perdebatan Era Orde Baru 
Siapa penggali Pancasila pernah menjadi perdebatan, ketika muncul buku berjudul “Proses Perumusan Pancasila Dasar Negara” karya Nugroho Notosusanto, Juli 1981. Buku setebal 68 halaman itu, antara lain berisi tulisan Prof Dr Mr AG Pringgodigdo, dan diberi kata pengantar oleh Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen P & K, Prof Dr Dardji Darmodihardjo.

Seperti kita ketahui, saat itu, Prof Nugroho Notosusanto merupakan guru besar mata kuliah Metode Sejarah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia (UI). Ia juga mengepalai Pusat Sejarah ABRI, berpangkat Brigadir Jenderal.

Dalam tulisannya, Nugroho Notosusanto menguraikan siapa penggali Pancasila berdasarkan buku Prof Muh Yamin. Isinya, “Naskah Persiapan Undang-undang Dasar 1945 yang terbit tahun 1959. Ia menarik kesimpulan bahwa, penggali Pancasila bukan hanya Bung Karno saja, tetapi juga Muhamad Yamin dan Supomo. Sedangkan hari Lahir Pancasila bukan 1 Juni 1945, tapi hari lahir Pancasila Dasar Negara tanggal 18 Agustus 1945.

Buku itu menjadi heboh, karena dimuat di berbagai koran di Indonesia, khususnya koran yang terbit di Jakarta. Pemuatan di berbagai media itu, atas permintaan Departemen Penerangan (buku, Siapa Penggali Pancasila, Anjar Any, 1981). Pendapat itu tentu saja mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Ada yang pro dan kontra.

Menanggapi hal itu, Nugroho menyatakan, “Ini karya ilmiah. Saya kan Profesor dan Doktor sejarah. Saya pertaruhkan nama saya pada buku itu.” Meski demikian, Nugroho juga menyatakan bahwa, apabila nanti ada bukti yang kuat, bisa diuji dan mengatasi buktinya, dia pun tidak akan malu untuk mundur.

Dasar tulisan Nugroho berasal dari Prof Muhamad Yamin yang berjudul, “Naskah Persiapan Undang-Undang Dasar 1945.” Menurut Mr AG Pringgodigdo, buku Yamin dianggap otentik karena bagian dari sidang-sidang Tyoosakai memang percetakan belaka dari laporan stenografis yang pernah dipnjam Yamin dan tidak pernah kembali alias hilang. Dalam buku Yamin, terdapat pidato Bung Karno “Lahirnya Pancasila” pada 1 Juni 1945, disusul pidato M Yamin pada 29 Mei 1945, dan pidato Supomo pada 31 Mei 1945. Tiga pidato itu, semua mengenai dasar negara yang mirip dengan Pancasila, meskipun tidak diberi nama Pancasila.

Hanya pidato Bung Karno yang memberikan nama Pancasila untuk pidatonya mengenai dasar negara tersebut. Karenanya, Nugroho berkesimpulan, Hari Lahir Pancasila bukan 1 Juni 1945, ketika Bung Karno pidato di BPUPK. Tapi kelahiran Pancasila pada 18 Agustus 1945, ketika Pancasila disahkan sebagai Dasar Negara. Lalu, apa komentar orang terhadap tulisan Nugroho itu?

Drs Ruben Naelan, Sekretaris Lembaga Penelitian Sejarah UNTAG menulis, ia menyayangkan hilangnya dokumen yang dipinjam Yamin. Menurutnya, apa yang ditulis dan dimuat dalam buku Yamin tentang pidato dan lampiran “Rancangan UUD”-nya dianggap tidak asli. Hal itu berdasar pendapat Bung Hatta, sewaktu diwawancara Lembaga Penelitian Sejarah UNTAG. Juga diperkuat dalam buku “Uraian Pancasila” oleh Panitia Lima, dimana Bung Hatta berkata;

”Ya, dalam buku yang disebut Naskah Persiapan UUD 45, Pancasila itu dimasukkan di sana (maksudnya pidato Yamin, 29 Mei 1945). Tahu saya, pidato Pancasila yang pertama kali Bung Karno, bukan Yamin. Kalau dia lebih dulu tentu saya ingat bahwa itu ulangan. Yamin bicara hari pertama, saya hari kedua. Itulah kelicikan Yamin dimasukkan ke sini (buku Uraian Pancasila oleh Panitia Lima, hal 100). Dalam buku ini juga, AG Pringgodigdo menambahi komentar, “Pak Yamin itu pinter nyulap Kok.”

Menurut Naleman, apabila Yamin sudah berpidato tentang rancangan dasar negara pada tanggal 29 Mei 1945, maka pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945, hanya dianggap nyontek saja. Hal itu tidak mungkin. Sebab, pidato Bung Karno mendapat sambutan yang sangat meriah. Begitu pun dengan Lampiran ’Rancangan UUD” dari Yamin itu persis dengan UUD yang selanjutnya disahkan. Artinya, panitia hanya nyontek dari Yamin.

Hal itu mustahil, karena Yamin tidak duduk di Panitia tersebut. Ketua Panitia Lima adalah Bung Hatta. Selain itu, UUD yang akhirnya disahkan, prosesnya melalui perdebatan yang sangat panjang. Banyak perubahan kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Lalu, diperhalus oleh Panitia Penghalus Bahasa, kata R Nalenan.

BM Diah, jurnalis dan aktivis yang terlibat dalam dunia pergerakan menjelaskan, pidato Supomo tidak bisa dimasukkan sebagai bahan-bahan dasar negara. Supomo hanya bicara soal “keseimbangan lahir dan batin”. Bahkan, Supomo mengatakan, satu susunan negara totaliter adalah baik, dan sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

 Edisi cetak di Suara Pemred, 6-8 Juni 2017. Foto dokumen negara. (Muhlis Suhaeri)

Baca Selengkapnya...

Wednesday, January 25, 2017

Drs H. Sudarto, Pendidik dan Sejarawan Kalbar
Meninggal Ia Pergi Bersama Kesederhanaan dan Keteladanan

                                         Sudarto (84) merupakan contoh dari sedikit orang yang hidup penuh kesederhanaan sepanjang hidup, bahkan hingga ajal menjemput. Pemahamannya tentang sejarah di Kalbar, ia dalami berdasarkan literasi dan pengalaman empiris semasa hidup di Kalbar, sejak tahun 1960.  Langit mulai terlihat pudar dan redup, ketika saya melangkah menuju rumah kayu di Jalan Selayar, Pontianak Selatan. Rumah beratap seng dengan dinding kayu disusun membujur tersebut, meski terlihat sederhana, tetap terlihat apik. Halaman rumah penuh rimbun tumbuhan. Rumput di halaman selalu terjaga, dipotong dengan rapi. Di bagian dalam rumah, tumpukan majalah dan buku berjajar dengan rapi. Tak hanya di ruang tamu, bagian tengah dan kamar, semua terisi buku. Semua tertata rapi. Berada di ruangan itu, hati dan pikiran langsung terasa rilek. Begitu pun ketika berbincang dengan si empunya rumah. Ada sikap tulus menerima sang tamu. Itu adalah gambaran tahun 2007, ketika saya riset dan menulis beberapa tulisan tentang sejarah Pontianak dan Kalbar. Kemarin, Rabu (25/1), setelah berlalu 10 tahun lamanya, gambaran itu masih terlihat sama. Rumah itu masih terlihat sama bentuknya. Begitu pun dengan halaman rumah. Bedanya, penghuni rumah itu, telah tak ada kini. Beberapa karangan bunga dan ucapan belasungkawa yang berjajar di halaman rumah, menjadi penanda kepergiannya. Siang itu saya bertemu Tono. Ia warga di Jalan Selayar. Tono biasa diminta tolong oleh Sudarto, menebas rumput, perbaiki rumah atau lainnya. Kemarin, Selasa malam, Sudarto minta Tono datang ke rumahnya. Sepagi itu, Rabu sekitar pukul 7 pagi, Tono datang ke rumah Sudarto. Ia lewat bagian samping, agar bisa langsung ke bagian belakang rumah. Begitu sampai di bagian belakang rumah, Tono terkejut bukan kepalang. Sudarto tertidur di lantai rumah. Posisinya masuk ke rumah.  Ia segera memanggil orang untuk datang. Selepas itu, ia bersama yang lain, menggotongnya masuk ke tengah rumah. “Saat digotong perutnya masih terasa hangat. Mungkin kejadian pas subuh. Biasanya jam segitu bapak salat subuh,” kata Tono. Siang itu juga, jenazah Sudarto dikebumikan. Banyak pejabat datang, termasuk Wali Kota Pontianak, Sutarmidji. Tono berseloroh, “Bapak kayaknya sudah tahu kalau bakal meninggal. Buktinya, dia menulis surat wasiat. Surat itu ditemukan di atas meja makan. Di meja itulah biasanya dia nulis.”  Dan, sebelum jenazah diberangkatkan menuju tempat peristirahatan terakhir, surat wasiat itu dibacakan di hadapan keponakan, anak-anak angkatnya, dan warga yang hadir. Isinya, seluruh buku-buku bacaan, majalah dan lainnya, dihibahkan ke perpustakaan IKIP PGRI. Ada juga yang dihibahkan ke yayasan dan panti asuhan.  Sudarto kelahiran Yogyakarta, tahun 1933. Pada awal 1960, ia hijrah ke Pontianak. Di tempat inilah, ia mendedikasikan diri pada pendidikan. Ia juga begitu peduli dengan pelestarian benda dan sejarah. Hidupnya diberikan untuk dunia pendidikan. Ia pernah menjadi guru di SMA Paulus selama 30 tahun. Guru sejarah di SMA 1 Pontianak dari tahun 1960-1970. Sudarto pun pernah menjadi dosen di IKIP PGRI Pontianak.  Sudarto juga menjadi pegawai di Dinas Pendidikan. Bahkan, hingga pensiun, dinas pendidikan masih menggunakan kemampuannya, menangani berbagai program terkait pendidikan. Sudarto adalah gudang ilmu pengetahuan. Seorang mantan muridnya di SMA 1 Pontianak, Pahrian Siregar menulis di Facebooknya.  “Almarhum H. Sudarto, seorang sejarawan, pendidik dan perencana pendidikan di Kalbar. Semoga lapang jalanmu menghadap Sang Khalik. Banyak sekali pembelajaran yang kau ajarkan kepada kami mengenai dedikasi, kesederhanaan, dan pengabdian pada ilmu pengetahuan. Diskusi-diskusi sejarah dan pendidikan yang kau sajikan padaku, selalu menghadirkan nuansa baru. Pesan, nasehat dan ajarannya mudah-mudahan selalu menjadi kompas bagi kehidupan kami,” tulis Pahrian.  Dalam sebuah tanggapan terhadap tulisan yang pernah menulis, “Beliau adalah mutiara ilmu pengetahuan dan kebijakan. Banyak sekali pengetahuan dan ilmu beliau yang belum terturunkan ke generasi muda.” Selamat jalan Pak Sudarto. Semangatmu memberikan pengajaran pada generasi muda, adalah bara api yang harus kami sambung, untuk generasi selanjutnya. (muhlis suhaeri)  Terbit di Harian Suara Pemred, 25 Januari 2017.


Baca Selengkapnya...

Friday, January 20, 2017

Film tentang Penyair Wiji Thukul, “Istirahatlah Kata-Kata”
Menjadi Buronan itu Jauh Lebih Menakutkan dari.....

Anda pengguna sosial media? Kebebasan berpendapat yang Anda nikmati hari ini, tidak lahir begitu saja. Ia hadir melalui perjuangan dan keberanian orang-orang yang rela menanggalkan kehidupan pribadinya. Dikejar aparat, terbuang bahkan ada yang hilang hingga kini.

Film Istirahatlah Kata-Kata dengan tokoh sentral Wiji Thukul, diperankan secara apik oleh Gunawan Maryanto. Sebagai pemain teater, gestur Maryanto sangat terlihat, saat bermain di film ini.

Adegan film Istirahatlah Kata-Kata dibuka dengan suara panci berisi air yang sedang mendidih. Selanjutnya, adegan beralih ke istri Wiji Thukul, Sipon (diperankan Marisa Anita) berbicara dengan seorang intel, sambil merangkul anaknya (Fitri Nganti Wani).

Sang intel meski berbicara dengan gaya santai, tetapi dengan tujuan dan karakter jelas. Intimidatif. Ia menanyakan keberadaan Wiji Thukul.

Pelarian Thukul berawal ketika Partai Rakyat Demokratik (PRD) dideklarasikan pada 22 Juli 1996. Lima hari selepas deklarasi PRD, terjadi penyerbuan dan pengambilan paksa kantor Partai Demkorasi Indonesia (PDI, kelak jadi PDIP) di Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat.

Oleh pemerintah Orde Baru, PRD segera dijadikan sebagai kambing hitam atas peristiwa Sabtu Kelabu tersebut. Seluruh pengurus dan aktivis demokrasi di bawah naungan PRD, jadi target operasi. Pemberitaan di berbagai media massa yang ketika itu berada dibawah tekanan pemerintah Orde Baru, menyudutkan PRD. Thukul sebagai aktivis Jakker (Jaringan Kerja Kerakyatan), di bawah naungan PRD, segera jadi target pengejaran. 

Singkat kata, ia tiba di Kota Pontianak. Di kota ini, dia disembunyikan di rumah Sylvester Thomas Daliman (dosen) dan Martin Siregar (aktivis buruh dari Medan yang lari ke Pontianak).   

Selama di Pontianak, Thukul hanya bersembunyi. Ia tidak melakukan aktivitas politik, seperti yang dilakoni di Solo, Tangerang atau Jakarta. Di sinilah, sisi-sisi kemanusiaan dan psikologi seorang Thukul dikupas.

Dalam pelariannya, ia kerap mengalami paranoid dan kekhawatiran dengan suara. Entah itu suara ambulan, sepeda motor, sepatu lars serdadu, atau tangis bocah.

Dalam suatu dialog dengan Martin dan Thomas, Thukul secara bergurau berucap, “Rejim ini bangsat tapi takut dengan kata-kata. Menjadi buronan itu, jauh lebih menakutkan dari menghadapi sekompi Kacang Ijo bersenapan lengkap yang membubarkan demontran.” 

Martin, dalam wawancara dengan saya berujar, saat pertama ke Pontianak, Wiji Thukul sangat paranoid. “Thukul selalu curiga dan takut. Apalagi bila melihat orang berseragam tentara. Thukul bergegar dan gemetar,” kata Martin.

Kondisi itu terjadi, karena Thukul pernah mendapat poporan senjata di wajahnya, ketika mendukung aksi buruh Sritex di Sukoharjo, Jawa Tengah. Karenanya, Martin harus mengembalikan semangat Thukul, ketika berada di Pontianak.

Dalam film itu digambarkan, karena tak bisa tidur selama berhari-hari, Thomas mengajak Thukul beli tuak. Dengan motor tua, keduanya berboncengan malam-malam mencari minuman keras, khas Kalbar ini.

Eh, tak tahunya ketika hendak masuk ke jalan kampung, seorang gila berlagak serdadu menghadang jalan. Tanya ke Thukul, “Dari mana? Punya KTP?”

Karuan saja keduanya kelimpungan. Untunglah, Thomas yang kenal sang serdadu menetralisir. Thukul adalah temannya. Kenapa harus ditanya KTP-nya segala. Sejak itulah, Thukul dibuatkan identitas baru di Pontianak. 

Kondisi tak kalah sulit dialami Sipon. Sebagai istri aktivis, Sipon kerap didatangi intel serdadu atau polisi. Ia juga kerap mendapat cibiran dari tetangga. Dalam suatu pertemuan dengan Thukul, Sipon ditanya dan bingung menjawab.

“Aku tidak ingin kau pulang, dan tidak ingin kau pergi. Aku hanya ingin kau ada.”

Problem Penindasan Struktural

Menyaksikan film Istirahatlah Kata-Kata, tak sekedar menyaksikan narasi besar sejarah yang dilihat dan dibangun dari arus pinggiran. Ia juga menegaskan problem besar dari permasalahan di Indonesia, bagaimana penindasan struktural dilakukan oleh negara, melalui elemen-elemen pendukungnya. Seperti, militer, undang-undang yang tidak pro rakyat, dan sebagainya.

Sejarah suatu bangsa selalu dibangun para penguasa. Mereka yang menentukan sejarah bangsa, akan dilihat seperti apa. Tak heran bila sejarah yang ada saat ini, tak lepas dari sejarah arus utama. Yang coba dibuat, dijaga dan dicekokkan kepada generasi penerus bangsa. Film ini coba menepis itu.

“Kita tidak boleh melupakan arus pinggiran. Sekarang ini, narasi Indonesia ditulis oleh orang-orang yang berkuasa,” kata Yosep Anggi Noen, sutradara sekaligus penulis film ini.

Padahal, sejarah-sejarah dari arus pinggiran itulah yang turut membangun dan punya andil besar, membangun sejarah di Indonesia. Narasi pinggiran itu, membangun ranah yang bisa jadi lebih intelektual.

Narasi yang dibuat melalui arus pinggiran itu, terlihat dari tema utama yang diangkat. Yaitu, film biografi Wiji Thukul. Kenapa pinggiran? Seperti kita ketahui, Thukul bukanlah seniman arus utama. Yang puisinya merefleksikan arus besar puisi saat itu.

Thukul hanyalah buruh, aktivis, dan seniman yang melihat segala problem yang ada di sekitarnya, dengan kaca mata rakyat biasa. Namun, problem itu dia lihat tidak hanya yang nampak di permukaan saja. Ia gali dan analisis hingga akar masalahnya. Misalnya, ketika Thukul melihat pelacur.

Seorang pelacur, bila dilihat melalui pendekatan moral, tentu saja orang yang dianggap tak memiliki moral. “Pendekatan moral menjamah masalah saja tidak bisa, apalagi menyelesaikan masalah,” kata Martin menirukan ucapan Wiji Thukul.

Oleh sebab itu, setiap persoalan di masyarakat harus dikaji secara struktural. Pelacur itu tidak salah. Bapak atau keluarga pelacur juga tidak salah. Tapi, pembangunan developmentalis itu yang menciptakan kemiskinan, tutur Martin.
 
Permasalahan struktural sangat kental di film ini. Meski tidak dijejalkan, tapi dia nampak dari adegan-adegan yang ditampilkan. Misalnya, permasalahan mendasar tentang listrik. Dalam beberapa adegan di film, mati listrik menjadi problem yang selalu dialami masyarakat, khususnya orang di luar Pulau Jawa.

Listrik mati membuat orang tak bisa bekerja. Anak menangis karena takut dengan kegelapan. Tak hanya di luar Jawa. Problem struktural juga terjadi di Jawa.

Di Jawa, rakyat tidak bisa mengakses perumahan yang layak. Padatnya penduduk di Jawa, membuat rakyat harus berdesakan di lahan-lahan yang sempit. Bahkan, menyediakan MCK (mandi, cuci, kakus) untuk keluarga sendiri pun, masih kesulitan. Alhasil, mereka harus berbagi fasilitas MCK di tempat umum.

Ketika menggunakan fasilitas umum pun, penindasan terhadap anak atau perempuan kerap terjadi. Misalnya, dalam adegan itu, istri Wiji Thukul harus meminjamkan sikat gigi dan odol kepada seorang tetangga.

Adegan yang digambarkan secara parodi tersebut, membuat penonton tertawa. Hal itu sesungguhnya menyiratkan, problem struktural yang terkadang tak kita sadari sepenuhnya.

Begitu pun ketika Sipon harus menemui Wiji Thukul yang baru pulang dari Pontianak. Bagi perempuan, pergi ke hotel untuk suatu keperluan, sesuatu yang diharamkam. Hotel adalah gambaran dan hegemoni relasi yang maskulin. Tak heran bila Sipon dianggap pelacur, ketika ada tetangga melihatnya ke sana.

Problem struktural juga muncul melalui relasi kekuasaan aparatur tentara. Ketika Thukul dan Martin datang ke tukang cukur. Thukul harus mengalah, karena ada anggota tentara yang ingin dicukur duluan. Tak berhenti sampai di situ, aparat ini juga berbincang dengan gaya khas, interogasi.
  
Lalu, kenapa Thukul memilih jalur kebudayaan dalam perjuangannya? Pilihan itu tak lepas dari pemahamannya mengenai sejarah panjang gerakan yang dipahaminya.

Ada tiga fase sejarah gerakan sejak tahun 70-an. Pertama, perubahan sosial tahun 1970-1980, harus dilakukan secara idelogis. Tapi gerakan itu ternyata gagal. Kedua, perubahan sosial tahun 1990, berbasis gerakan sipil. Gerakan itu pun gagal. Karenanya, strategi gerakan selanjutnya, melalui kebudayaan.

“Hal itulah yang diyakini Wiji Thukul, sehingga dia muncul melalui gerakan kebudayaan,” kata Martin Siregar.

Film Istirahatlah Kata-Kata mengingatkan pada pemerintah, masih ada pekerjaan rumah yang harus dituntaskan. “Penghilangan terhadap aktivis harus ada yang bertanggungjawab. Apakah nanti mereka rekonsiliasi atau apa terserah. Selama penghilangan ini belum diselesaikan atau tidak ada yang bertanggungjawab, tidak akan bisa diselesaikan,” ucap Thomas Daliman.

Menonton Film Istirahatlah Kata-Kata, adalah melihat sisi lain dari aktivis Wiji Thukul. Bahwa, daya tahan hidup dan kesunyian, juga ruang paling dalam dari suatu perjuangan.*

Terbit di Suara Pemred, 20-21 Januari 2017
Foto adegan dari film Istirahatlah Kata-Kata

Baca Selengkapnya...