Tuesday, December 8, 2009

For What It’s Worth

By Antonia Koop
Open letter to my friends and fellows who are not journalists:

30 Journalists died in an ambush on November 23,2009 in Maguindanao, Central Mindanao, Philippines, along with 27 other people who joined the family of a local politician for the filing of candidacy for the upcoming 2010 elections. The International Federation of Journalists (IFJ) qualified the incident as the worst attack on journalists recorded so far in journalism history. The event has come to be known as the Ampatuan or Maguindanao Massacre.

The brutal and brazen attack once more raises the most crucial questions we as journalists have to face:
Is there any story worth dying for? And for what do we journalists risk our lives?

Being a good journalist has never been easy. In many countries the job is poorly paid, journalists are harassed or threatened. And in too many places reporters get killed, such as in the Philippines. Journalists often work in areas known to be dangerous. We ask questions that put us into trouble, that leave us hated and disliked by those who attempt to hide their actions and intentions from public.

Many people look at us as if we were leeches who crave for the blood of others to feed their newspapers’ sales. We are seen as tool, easy to abuse for polishing an image, for gaining fame, for outing an opponent by spreading scandals.

Even our own business driven companies often treat us journalists as cheap producers of reality entertainment for bored and disinterested masses waiting to be fed with delusion and potato chips on their living room sofa.

And then once in a while we become essential as instrument to be used to gain political power in the campaign for an upcoming election.

What a dirty business. What a poor job.

So, why do we risk so much, risk our lives our families, our personal well being to do that?
Many believe journalists are natural adrenaline junkies, adventurous, restless folks who crave for experiences beyond the limit. And to a certain extend those people are right. But one can satisfy those needs by other less dangerous means, such as bungee jumping or sky diving. So there must be more to the journalism profession than adventurism.

The good ones among us deeply believe that journalism is a damn important profession.
In this interconnected interdependent world we live in, information is power and those who control information control the world.

In this world journalism is the only institution that has the single task to provide the public with independent, reliable information. Our task as journalists is to allow everybody access to vital information, because only if each member of society truly knows what is happening out there, people have a chance to make good choices for their own lives. We believe that journalism as an institution is essential to keep every member of society accountable for their actions and is thereby crucial defense for the people in our modern interest driven societies against abuse, lies and manipulation.

We have painfully experienced what happens if this important instrument of accountability fails; in Rwanda where the media became agitator for the genocide, in fascist Germany, where people were all too willing to believe a propaganda that paved the way for killing Millions and devastated not only Europe but affected large parts of the world. In war zones all over the world journalists got targeted and killed to shut out the worlds attention. Until today we have seen an increasingly sophisticated propaganda machinery driving some of the most suppressive or problematic situations in the world.

Without the courageous efforts of independent journalism we have no chance to distinguish between what is true and what is fake, what to believe and what to question.

This is why being a journalist is so challenging. Why we always have to do our best despite danger, difficulties and dislikes. Despite being harassed and threatened and having missed another birthday of our kids because of a road accident, a bombing, a political clash, a burning chemical factory. Despite becoming ourselves victims of a system that doesn’t like to have reporters around to tell the truth.

If we journalists fail, you live your lives blindfolded.

We are not journalists for our own fun, for travel and adventure.
We do this job for you people out there. For the politicians who try to truly lead their cities, regions and countries. For business that aims to be successful without leaving burned earth behind. For public administration that truly aims to serve the peoples needs. And for each and every member of a society that tries to exist in abundance, peace and security.

By keeping all stakeholders of society accountable, journalists protect your rights.
And now we need you to protect us.

Do you choose to be a bored and disinterested mass that doesn’t care? Or do you choose to claim your right to be concerned about what is happening around you, willing to ask who defines the rules, willing to claim your right to speak out?

The killing of a journalist is not an internal problem of the media.
It is concern for each and every member of the public, of a society that chooses to have a say.
So now is the time to claim back your right to know and your right to be heard.

It is time to protect your journalists.
Or you will lose us.
One after the other.
To danger or temptation wrapped in bribes, political power or the promise
of an easier way of life and earning.

Now it is time also for you to stand up and say:



Baca Selengkapnya...

Saturday, November 28, 2009

Menelusuri Tionghoa Perintis di Kalbar

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Tak banyak buku yang membedah dan menelusuri, sejauhmana peran masyarakat Tionghoa dalam sejarah perkembangan sosial, budaya dan ekonomi di Kalbar. Dari buku inilah, sejarah dan peranan itu terpapar dengan baik.

Buku ini berjudul “Goldiggers, Farmers and Traders in the ”Chinese Districts” of West Kalimantan. Lalu diterjemahkan dan diterbitkan Yayasan Nabil (Nation Building), Jakarta dengan judul, “Penambang Emas, Petani, dan Pedagang di ‘Distrik Tionghoa’ Kalimantan Barat”. Buku ini ditulis oleh Mary Somers Heidhues.

Mary kelahiran Philadelphia, Amerika Serikat (1936). Ia lulusan Trinity College, Washington DC, 1954-1958. Pascasarjana sarjana diselesaikan di Cornell University, New York, 1958-1964. Gelar Doktor diperolehnya di Cornell University, New York, 1965.

Mary banyak menghabiskan waktunya di Indonesia, untuk meneliti Tionghoa peranakan. Buku “Penambang Emas, Petani, dan Pedagang di ‘Distrik Tionghoa’ Kalimantan Barat”, merupakan penelitiannya selama 10 tahun di Kalbar.

Selain menulis tentang orang Tionghoa di Kalbar, Mary juga melakukan penelitian di Bangka. Penelitiannya di Bangka selama 7 tahun, diterbitkan dengan judul “Bangka Tin and Mentok Peppers (1992).

Titik tolak dari penelitian buku ini adalah, kurangnya informasi dan beberapa kesalahan informasi mengenai, pusat berkumpulnya minoritas penting di Indonesia. Juga, berusaha menggali catatan sejarah yang bisa saja hilang dengan segera.

Dari judulnya saja, kita sudah bisa membayangkan, apa kira-kira isi dari buku ini. Buku bercerita tentang kedatangan awal komunitas Tionghoa di Kalbar. Tepatnya di sebuah distrik Tionghoa. Kenapa dinamakan distrik Tionghoa? Karena sebagian besar wilayah itu, menjadi tempat tinggal bagi komunitas warga Tionghoa di Kalbar.

Alasan penelitian dilakukan di Kalbar, sebab orang Tionghoa di Kalbar, merupakan sebuah kelompok Tionghoa yang unik di antara minoritas Tionghoa Indonesia. Dalam gambaran umum masyarakat Indonesia tentang orang Tionghoa, biasanya muncul dengan gambaran orang yang kaya, pengusaha dan berhasil. Mereka biasanya menguasai berbagai bidang ekonomi.

Namun, gambaran itu akan serta merta hilang, ketika kita melihat sosok dan gambaran tentang warga Tionghoa di Kalbar. Mereka menempati beragam lapangan pekerjaan. Mulai dari strata rendah hingga tinggi. Tionghoa di Kalbar, bergerak di sektor mulai dari perdagangan kecil, pemilik toko, petani dan nelayan. Tak jarang dari komunitas ini hidupnya miskin dan sulit. Selain itu, mereka juga masih menggunakan bahasa Ibu hingga sekarang, dalam kehidupan sehari-hari.

Migrasi atau perpindahan pertama orang Tionghoa di Kalbar, sulit diketahui secara pasti. Namun, sejarah keberadaan mereka, berisi kisah dan upaya berbagai masyarakat asli dan pemerintah kolonial di wilayah Kalbar, untuk menindas dan menguasai mereka. Repotnya lagi, penguasaan itu seringkali menggunakan kekerasan.

Sebelum abad ke 13, pengunjung dan pedagang dari Tiongkok sudah mendatangi pulau Borneo, untuk melakukan perdagangan. Wilayah Kalbar yang berada di laut China Selatan, juga merupakan lintasan perdagangan internasional, dari dan menuju India. Karenanya, tak heran bila banyak armada dagang yang melewati atau singgah di daerah ini.

Pada masa ini, orang Tionghoa belum banyak yang menetap. Dalam kontak perdagangan itu, barang dagangan dari Borneo yang diekspor biasanya terdiri dari hasil hutan dan laut, emas dan intan. Lalu, barang itu ditukar dengan garam, beras, dan barang kebutuhan lainnya dari Tiongkok.

Orang Tionghoa mulai menetap di wilayah Kalbar, dalam jumlah besar sekitar pertengahan abad ke 18. Migrasi orang Tionghoa menempati wilayah yang disebut Distrik Tionghoa. Daerah ini meliputi sebelah Utara Pontianak, sepanjang pesisir hingga ke Sambas dan perbatasan Sarawak. Wilayah tersebut meliputi lembah-lembah sungai yang subur. Tak hanya di sepanjang pesisir, tapi mencakup wilayah hingga puluhan kilometer ke pedalaman. Dalam istilah administrasi saat ini, Distrik Tionghoa mencakup wilayah Kota Pontianak, sebagian Kabupaten Pontianak, dan sebagian Kabupaten Sambas. Sebagian besar yang menghuni Distrik Tionghoa merupakan orang Hakka.

Migrasi orang Tionghoa di Kalbar, dilakukan secara swakarsa dan menggunakan jaringan mereka sendiri. Mereka diorganisir oleh sesamanya. Dan, hampir semua pendatang Tionghoa adalah calon buruh. Alasannya, mereka berhutang untuk membiayai perjalanan yang dilakukan.

Kondisi yang sama juga terjadi pada para tenaga kerja Indonesia (TKI), sekarang ini. Mereka terjerat hutang, dan harus membayar uang pada para penyalur tenaga kerja atau agen yang memberangkatkan mereka. Uang dipotong dari gaji yang mereka terima saat sudah bekerja sebagai TKI.

Kedatangan awal orang Tionghoa di Kalbar, juga didorong pihak kerajaan Sambas. Pada awalnya, kerajaan turut serta mendatangkan para pekerja ini, karena kebutuhan pertambangan yang mereka miliki. Namun, pihak kerajaan juga memberlakukan aturan-aturan yang menjerat. Misalnya, pajak bagi kedatangan dan kepulangan orang Tionghoa. Kerajaan juga melarang orang Tionghoa membuka lahan pertanian. Tujuannya, agar pihak kerajaan bisa tetap memenuhi kebutuhan pangan para penambang ini. Dan, harga yang ditetapkan bagi kebutuhan tersebut, cukup tinggi. Meski begitu, persediaan barang kerap tak mencukupi.

Sebagian besar orang Tionghoa di Kalbar, datang dari provinsi Guangdong di Tiongkok bagian selatan. Mereka berbahasa Hakka, Teochiu, Kanton, Hainan, dan lainnya. Walaupun berasal dari satu wilayah, mereka tidak saling memahami bahasa yang digunakan. Meski terlihat homogen, namun keterpisahan diantara mereka begitu besar.

Pascamigrasi tersebut, ada dua kelompok suku besar muncul. Yaitu, Teochiu atau Hoklo dan Hakka. Orang Teochiu lebih banyak berkumpul di perkotaan dan mengandalkan diri dari perdagangan. Orang Hakka bekerja di pertambangan dan pertanian. Dalam perkembangannya, kemudian menjadi pedagang kecil di pedalaman. Karenanya, orang Hakka biasa disebut sebagai para perintis. Daratan luas Borneo tepat bagi sifat dan karakter orang Hakka, saat itu.

Diantara komunitas Tionghoa lainnya, perempuan Hakka lebih gigih dalam bekerja. Mereka juga lebih bebas memilih pekerjaan, dan mandiri sifatnya. Mereka terbiasa bekerja keras di ladang.

Tak heran bila dalam berbagai alasan kawin campuran antara warga Taiwan dengan perempuan di bekas Distrik Tionghoa sekarang ini, hal itu jadi salah satu alasan. Bahwa, perempuan Hakka rajin bekerja, sehingga disukai keluarga Taiwan. Meskipun ada banyak alasan lain, kenapa pria Taiwan kawin dengan perempuan Hakka di Singkawang. Misalnya, biaya kawin lebih murah, alasan satu leluhur, dan lainnya.

Pada masa awal ini, ada tiga kelompok komunitas Tionghoa muncul, dibedakan dari tempat tinggal dan mata pencahariannya. Kelompok pertama, terdiri dari para penambang emas. Sebagian besar mereka bujangan. Biasanya tinggal di asrama pertambangan. Biasanya imigran dan penduduk sementara. Kelompok kedua, orang Tionghoa yang mata pencariannya terkait dengan kongsi pertambangan, namun bukan sebagai penambang. Mereka bekerja sebagai petani atau pedagang kecil. Tinggal di pasar-pasar kecil dan melayani kebutuhan komunitas tambang. Biasanya penduduk kelahiran setempat atau perkawinan campuran atau bekas penambang. Kelompok ketiga, penghuni perkotaan, pedagang, tukang dan buruh.

Pada awal kedatangan, orang Tionghoa lebih banyak bergerak di sektor pertambangan emas. Karena tingginya harga kebutuhan pokok yang diterapkan pihak kerajaan Sambas, mereka juga memenuhi kebutuhan hidupnya dengan bertani.

Sebagai petani, orang Tionghoa dan Dayak tidak bersaing memperebutkan tanah. Biasanya orang Dayak bertani di tanah lebih tinggi, kering, dan berbukit-bukit. Sebab, daerah itu lebih cocok untuk berladang. Orang Tionghoa menyukai dataran rendah dengan banyak pengairan untuk bersawah.

Dalam perkembangannya, kedua sistem itu berubah seiring berjalannya waktu. Beberapa orang Dayak beralih ke tanah basah. Demikian juga orang Tionghoa. Dengan pengenalan terhadap tanaman niaga, seperti karet dan lada, orang Tionghoa menggunakan dataran tinggi. Pada abad ke 20, kondisi tanah mulai berkurang. Kondisi itu membuat persaingan antara dua kelompok etnis tersebut juga meningkat.

Dalam perkembangannya, orang Tionghoa juga mengisi berbagai sektor ekonomi dan perdangangan. Para petani dan pedagang Tionghoa punya peran utama di Kalbar. Mereka menyumbang berbagai ilmu pengetahuan dan pengenalan, terhadap berbagai jenis tanaman baru, dan penggunaannya bagi petani setempat.

Masyarakat di Kalbar, terdiri dari tiga kelompok etnis utama. Biasa disebut Tiga Pilar, yaitu, Dayak, Melayu, dan Tionghoa. Hingga saat ini, ciri etnisitas yang berhubungan dengan sektor ekonomi tertentu atau spesialisasi ekonomi, memperkuat identitas dan membuat perbedaan diantara kelompok etnis menjadi lebih kuat.

Dalam bidang ekonomi, ada sesuatu yang unik dan khas dari Tionghoa di Kalbar. Sejak pra-kolonial hingga sekarang, mereka berorientasi keluar dan tidak terikat dengan Jawa, yang menjadi pusat pemerintahan dan ekonomi. Orientasi ekspor, tapi lebih cenderung pada penyelundupan. Kecenderungan ekonomi lebih terhubung dengan Singapura, Sarawak, dan lainnya. Sifat orientasi ekonomi keluar ini, jadi salah satu penyebab terjadinya konflik yang terus berulang dengan pemerintah pusat.

Pada masa awal kehidupan di Kalbar, orang Tionghoa mengusahakan pertambangan emas. Kehidupan pertambangan ini bisa diselenggarakan dengan baik, karena orang Tionghoa tidak memiliki gelar secara turun temurun. Kondisi itu membuat mereka setara, satu dengan lainnya. Sehingga lebih egaliter.

Pemimpin biasanya dipilih berdasarkan kekuatan fisik dan kemampuan organisasi. Status sosial biasanya tak lepas dari unsur kekayaan. Bahkan, pada abad ke-20, ketika pendidikan sudah berkembang pesat, kekayaan tetap jadi penentu terpenting bagi kepemimpinan komunitas. Walaupun, pendidikan juga dihargai.

Sebagai penambang emas, orang Tionghoa bersaing dengan orang Melayu dan Dayak. Dua suku ini mengerjalan penambangan lebih awal. Namun, metode yang digunakan orang Tionghoa lebih efisien. Teknologi pertambangan dan organisasi pekerja, menghasilkan emas lebih banyak dari penambangan yang menggunaan metode tidak beraturan. Penambang lokal biasanya bekerja sebagai penambang, ketika kerja-kerja pertanian, penangkapan ikan, perburuan, dan pengumpulan hasil hutan, tidak mereka lakukan.

Di pertambangan, kemampuan orang Tionghoa disatukan dalam berbagai pekerjaan, melalui sebuah organisasi tambang atau kongsi. Mereka mandiri dan memenuhi berbagai keperluannya sendiri. Sangking kuatnya, pemerintah kolonial Belanda, juga khawatir dengan keberadaan organisasi ini. Para penambang ini relatif merdeka hidupnya.

Ada beberapa alasan, kenapa para penambang bisa hidup merdeka. Kondisi alam yang luas, membuat mereka lebih bisa mendayagunakan sumber daya alam yang ada. Sifat dari kekuasaan kerajaan Melayu, kekuatannya terpusat dan lemah di pinggiran. Tak ada penguasaan wilayah. Yang ada hanya penguasaan orang-orang. Sementara, orang sifatnya dinamis dan bisa pindah ke mana saja dan kapan saja. Hal paling penting, kenapa orang Tionghoa memperoleh kemerdekaannya, karena mereka mendayagunakan organisasi- organisasi yang kuat dan relatif stabil, yaitu kongsi.

Tak heran bila sejarawan Onghokham dalam tulisannya, “The Chinese of West Kalimantan” menulis, di seluruh kepulauan Indonesia, orang Tionghoa Kalbar kemungkinan besar, merupakan satu-satunya pendatang Tionghoa yang untuk berpuluh-puluh tahun, bebas membentuk lembaga-lembaga sosial, politik, dan budaya mereka sendiri, juga lembaga lainnya. Mereka relatif bebas dari segala pengaruh luar, seperti dari negara kolonial yang kuat dengan kebijakan-kebijakan sentralitisnya.

Dalam komunitas tambang abad ke 19, biasanya para penambang merupakan bujangan. Karenanya, mereka menikahi penduduk lokal, terutama Dayak. Para istri ini diintegrasikan ke dalam masyarakat Tionghoa. Mereka mengenakan pakaian, dan belajar budaya, serta bahasa suaminya. Namun, ketika komunitas-komunitas itu sudah menetap, dan generasi perempuan sudah lahir, pernikahan antara laki-laki Tionghoa dengan perempuan Dayak, jarang terjadi.

Pada masa awal kehidupan orang Tionghoa di Kalbar, tidak bisa dipisahkan dengan kongsi. Pada abad ke 19, ada tiga kongsi besar di Kalbar. Pertama, Fosjoen di Monterado. Kedua, Lanfang di Mandor. Ketiga, Samtiaokieo di Sambas. Selain itu, masih ada kongsi-kongsi kecil yang hidup dengan mandiri. Bila diperlukan, kongsi ini juga melebur dan bergabung dengan kongsi yang lebih besar membentuk sebuah federasi. Baik kerajaan pribumi maupun kekuasaan kolonial, tidak memiliki organisasi, infrastruktur dan kekuasaan yang sebanding dengan federasi ini.

Kongsi menjadi pusat kegiatan. Tak hanya pertambangan. Kongsi punya struktur. Kepemimpinan dilakukan dengan pemilihan, dan dilakukan secara teratur. Para pimpinan kongsi menyelesaikan tindakan kriminal dan perdata. Menjaga hukuman badan. Mempersiapkan angkatan bersenjata. Mengembangkan jalur hubungan komunikasi darat. Memacu perdagangan, perniagaan, dan industri. Memungut pajak dan cukai. Mendirikan sekolah. Bahkan, mencetak uang sendiri. Selain itu, juga menyelenggarakan upacara keagamaan, untuk menjaga solidaritas dan kesejahteraan umum.

Tak heran bila, keberadaan kongsi yang merdeka dan kuat tersebut, membuat penguasa kolonial berang. Belanda menganggap, organisasi Tionghoa teleh merebut kekuasaan, atas berbagai hal yang tidak boleh menjadi hak mereka. Termasuk dalam hal kepemilikan tanah.

Konflik para kongsi tak hanya dengan kolonial, tapi juga antar kongsi. Permasalahan mendasar dari pertambangan adalah, persaingan mendapatkan sumber daya, lokasi emas, dan persediaan air yang semakin sedikit dan langka.

Terkurasnya kandungan emas di wilayah pertambangan yang dimiliki, membuat mereka harus mencari wilayah baru. Karenanya, satu-satunya alternatif adalah, memperluas wilayah pertambanga. Namun, alternatif ini mengakibatkan ketegangan dengan kongsi lainnya, atau dengan orang Dayak dan Melayu, yang juga mengerjakan lokasi pertambangan, lebih jauh ke pedalaman.

Karenanya, konflik-konflik yang terjadi antara orang Tionghoa dengan keompok lain, tidak selalu tergantung pada garis etnis. Orang Melayu dan Dayak, dapat menjadi sekutu atau musuh bagi orang Tionghoa.

Sejarah komunitas Tionghoa di Kalbar, juga ditandai dengan Perang Kongsi. Ini perang antara kongsi dan pemerintah kolonial. Perang ini mengacu pada tiga periode peperangan. Yaitu, 1822-1824. Kedua, 1850-1854. Ketiga, 1884-1885. Bahkan, sepanjang 1818 hingga 1849, meski kondisinya damai, tapi penuh dengan pergolakan. Perang kongsi berakhir pada 12 Agustus 1885. Ada empat pemberontak tertangkap di Mandor. Lalu, keempatnya dihukum mati.

Salah satu penyebab Perang Kongsi, karena residen Belanda saat itu, Kater, mengusir Kwan Ya dan Lo Fong Pak ke tempat lain, dan mengambil alih kepemimpinan atas thang.

Perang Kongsi melahirkan persekutuan etnis dan politik yang komplek. Karenanya, Perang Kongsi tidak bisa disebut sebagai perang perlawanan orang Tionghoa melawan kolonialisme Belanda. Sebab, beberapa orang dari Kongsi Thaikong, musuh paling terkenal dari kolonial, memohon damai dan minta bantuan kepada Belanda.

Salah satu kunci kemenangan Belanda dalam peperangan ini, kemampuan angkatan laut Belanda dengan kapal uapnya, memblokade jalur laut. Terutama ketika perang di Monterado. Sehingga angkatan laut Belanda, bisa memutus jalur perbekalan kaum pemberontak. Seperti, beras, garam, candu dan amunisi. Singapura merupakan salah satu pelabuhan yang menjadi pusat dari distribusi jalur perdagangan saat itu.

Peristiwa besar lainnya, yang menandai sejarah orang Tionghoa di Kalbar, terusirnya orang Tionghoa secara besar-besaran dari kantong-kantong Distrik Tionghoa pada 1967. Hasutan dari pihak militer mulai memberikan pengaruh, mengibarkan balas dendam orang Dayak. Kampanye itu segera saja menjadi perburuan umum terhadap seluruh orang Tionghoa. Bahkan, para pedagang dan petani yang telah hidup damai berdampingan dengan orang Dayak dari generasi ke generasi pu, tidak terhindarkan dari serangan ini.

Buku ini memberikan banyak informasi menarik, mengenai sejarah awal kedatangan orang Tionghoa di Kalbar. Latar belakang munculnya konflik, menjadi bahan kajian menarik, untuk mengambil benang merah dari berbagai rentetan peristiwa sejarah mengenai konflik yang pernah terjadi pada masa lalu, dan sekarang.

Rasanya, tak berlebihan bila buku ini menjadi bacaan penting bagi para akademisi, mahasiswa, dan berbagai pihak yang ingin memahami, berbagai permasalahan yang ada di Kalbar, dulu dan sekarang.

Salah satu kelemahan dari buku ini, terjemahannya masih terlihat kaku, seperti halnya bahasa-bahasa buku penelitian. Namun, hal itu tertutup dengan banyaknya informasi penting, mengenai sejarah peranakan Tionghoa di Kalbar. Apalagi, Kalbar merupakan salah satu daerah dengan populasi masyarakat Tionghoa cukup besar. Dan, munculnya keterbukaan politik, menempatkan orang Tionghoa dari Hakka dalam pucuk pimpinan pemerintahan di Kalbar. Christiandy Sanjaya sebagai Wakil Gubernur di Kalbar. Serta, Hasan Karman sebagai Walikota Singkawang.


Penulis : Mary Somers Heidhues
Judul : Penambang Emas, Petani dan Pedagang di “Distrik Tionghoa”
di Kalimantan Barat, Indonesia
Penerbit : Southeast Asia Program Publication, Cornell University
di Ithaca, New York, 2002
Edisi terjemahan : Yayasan Nabil, 2008
Penerjemah : Asep Salmin, Suma Mihardja dkk.
Penyunting dan desain : Suma Mihardja
Catalog : xxv + 361 hal: 18 cm x 25 cm

Edisi cetak ada di Borneo Tribune 29 November 2009

Baca Selengkapnya...

Tuesday, November 17, 2009

Pentingnya Pembangunan Jalan

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Dalam sejarah perkembangan dan peradaban manusia, selalu diwarnai dengan upaya memperpendek waktu dan ruang. Karena itulah, berbagai rekayasa, karya, dan upaya dilakukan, untuk mencipta dan menemukan suatu alat atau teknologi, untuk menjangkau dan memperpendek waktu dan ruang tersebut.

Salah satu upaya dengan membuat jalan, jembatan, dan infrastruktur lainnya.

Dengan jalan, manusia bisa melakukan berbagai aktivitas dan kegiatan. Jalan memegang peranan penting bagi kehidupan manusia. Jalan merupakan urat nadi bagi kehidupan.

Ini bisa dimaklumi, sebab tanpa ada jalan, proses distribusi barang dan jasa akan sulit dilakukan. Dengan jalan yang baik, membuat jalur distribusi menjadi lancar. Selain itu, jalan yang baik akan mempermudah kegiatan ekonomi, sosial, budaya, dan lainnya.

Dalam berbagai pembangunan yang dilakukan, keberadaan jalan dengan sendirinya akan menghidupkan berbagai aktivitas ekonomi daerah, yang menjadi jalur perlintasan tersebut. Jalan membuka peluang bagi kemajuan dan tumbuhnya berbagai kegiatan.

Kalbar dengan wilayah yang cukup luas, sangat terkendala dalam menjangkau wilayahnya. Salah satu penyebabnya adalah, jalan yang tak dibuat dengan baik. Apalagi dengan kondisi tanah gambut yang ada, membuat kondisi jalan tak bisa bertahan lama.

Mudahnya jalan menjadi rusak, memang tak sepenuhnya karena faktor alam. Ada berbagai ulah manusia, dalam proses makin rusaknya jalan ini. Biaya pembangunan jalan yang semestinya dipergunakan untuk pembangunan, banyak yang menguap karena mental para birokrat yang masih “menyunat” biaya tersebut.

Akibatnya, hasil pembangunan jalan tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan. Ini tentu saja merugikan kepentingan masyarakat yang setiap hari menggunakan jalan tersebut. Juga merugikan Negara.

Dalam hal ini, semua harus mengawasi dan melihat proses dari pembangunan yang dilakukan, apakah sudah sesuai dengan prosedur dan spesifikasi yang tertulis dalam total anggaran yang ada.

Setelah pembangunan jalan terwujud, pemeliharaan juga mesti dilakukan semua pihak, tak hanya pemerintah. Yang tak kalah penting, mental masyarakat juga harus siap dengan adanya jalan yang sudah jadi. Sehingga, jalan yang sudah baik, tak dikeruk lagi agar orang bisa mendapatkan uang, dari mengutip mereka yang melewati jalan tersebut.

Kondisi itu memprihatinkan semua pihak. Ditengah upaya membuka keterisoliran suatu wilayah, ada oknum yang memanfaatkan kondisi itu, dengan cara merusak jalan. Karenanya, perlu pembinaan wilayah dan ketegasan dari aparat, untuk mengamankan infrastruktur yang sudah ada.

Edisi cetak ada di Borneo Tribune 19 Agustus 2009

Baca Selengkapnya...

Monday, November 2, 2009

Ferri Penyeberangan Kapuas

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak

Sungai Kapuas adalah nadi
yang membawa hidup bagi jantung Borneo.
Segala yang hidup seakan tak lepas dari alirannya.

Kapuas memberi hidup bagi semua yang hidup.
Bahkan, tetap menyemai bagi yang telah mati.
Sebab, dari alirannya semua bakal menyemai kehidupan itu sendiri.

Kapuas menghidupkan ekonomi, membentuk kultur sosial,
dan menghidupkan berbagai religi.
Memberikan ruang bagi mereka yang ingin menjalani hidup.

Kapuas selalu diarungi.
Memberi mantra bagi siapa saja yang melewati,
Untuk selalu kembali dan mengarunginya.

Begitu juga bagi kapal ferri penyeberangan,
Yang seolah tak pernah lelah, menempelkan lambungnya
pada Sungai bernama Kapuas…

Foto dan Teks: Muhlis Suhaeri

Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 30 Agustus 2009

Baca Selengkapnya...

Sunday, November 1, 2009

Ta-thung: Ironi Manusia Pilihan Dewa

Oleh: Muhlis Suhaeri
Mereka manusia pilihan Dewa, yang diberi “mandat” menyunggi nasib manusia. Mereka punya kemampuan mengobati, mengusir roh jahat, dan kebal terhadap berbagai senjata tajam. Namun, kalau pun bisa memilih, sebenarnya mereka tak ingin punya kemampuan dan dipilih para Dewa, demi keistimewaan-keistimewaan itu. Manusia istimewa itu, ta-thung, namanya.

Keluarga Ta-thung
MATA BONG Khin Dyung (56 tahun) terlihat menerawang. Ia seakan sedang menatap dan menimbang garis nasib yang diembannya kini. Bong bekerja sebagai tukang gigi di Singkawang. Dia tak begitu kesulitan dengan pekerjaan yang dijalani. Namun, ada satu kemampuan istimewa yang tak sembarang dimiliki orang, yang harus selalu dijaganya. Agar kemampuan itu, “tak memakan diri sendiri” karena perbuatan tak bijak yang dilakukannya.

Bong memiliki kemampuan sebagai ta-thung sejak berusia tujuh tahun. Waktu itu, ia bekerja di pangkalan Saga Tani Singkawang. Kerja di toko yang menjual beraneka ragam sembako atau kelontong. Warung itu melayani berbagai keperluan karyawan yang bekerja menoreh karet.

Suatu saat dia jatuh sakit. Seperti penyakit malaria. Badan rasanya panas dingin. Demam. Terutama pada malam hari. Ia tak sanggup mengerjakan sesuatu. Tapi, pada siang hari, dia masih bisa kerja. Kondisi itu berlangsung hingga 49 hari. Oleh pemilik toko, dia dibawa ke dokter dan sin she atau dukun tradisional masyarakat Tionghoa.

Pertama kali dibawa ke dokter, sakitnya tidak sembuh juga. Dalam sakitnya, Bong mengigau. Sakitnya akan sembuh dengan sendirinya. Tunggu waktu. “Sembuhnya sudah penetapan,” kata Bong.

Setelah sembuh, dia merasa ketakutan dan tidak ingin kerja lagi di tempat itu. Ia merantau ke Batu Ampar, Kubu Raya. Ia bekerja di sektor kayu. Namun, dia merasa badan tetap tak enak. Ia merasa ada yang mengikuti.

“Ke mana-mana diikuti. Merasa dikejar-kejar terus,” kata Bong.

Ia ingin melepaskan diri, agar yang “ikut” tersebut, bisa lepas. Tapi tak bisa dilakukan, karena ia punya kerja benar.

Bong mengobati orang sejak umur 10 tahun. Fungsinya hanya sebagai perantara. Suatu saat ada orang sakit. Dia membantu orang itu dengan ramuan dedaunan. “Kita tak tahu daun apa. Kita cari di hutan,” kata Bong.

Bong membuat resep dengan bahasa Mandarin. Padahal, dia tak pernah sekolah atau belajar bahasa Mandarin. Setelah kemasukan roh, dia bisa bahasa Mandarin. Roh itulah yang menuntunnya untuk membuat obat-obatan dari dedaunan.

Setelah tenang dan merasa ada yang istimewa dalam dirinya, dia baru merasa yakin. Bahwa, dia punya kemampuan. Saat ada yang sakit, segera dibantu.

Dewa yang mengikuti dirinya bernama Chau Liu Nyian Shai, Dewa Langit. Ini orang sakti. Dia panglima perang dari sebuah kerajaan di China daratan dan pandai mengobati orang sakit. Orang sakti atau panglima, setelah mati biasanya disebut Dewa.

Bong punya 13 anak. Meski punya banyak anak, setiap ada kesulitan apapun, ada saja jalan keluarnya. Belum pernah ada anaknya sakit parah, sehingga harus mendapatkan perawatan khusus.

Ada lima anaknya jadi ta-thung. Saat ditanya anaknya yang ke berapa punya kemampuan ta-thung, dia menjawab, “Sebentar, ya, lihat KK dulu.”

Sangking banyaknya anak, dia sendiri lupa anaknya yang nomor berapa, punya kemampuan sebagai ta-thung.

Setelah mengambil kartu keluarga (KK), dia menyebutkan satu persatu anaknya yang punya kemampuan sebagai ta-thung. Anak keempat, Steven Wong. Nama dewanya Nam Hoi Thung Jie. Anak kelima, Pin-Pin Chong. Nama dewanya Chiang Hoi Thung Jie. Anak ketujuh, Antoni Bong. Nama dewanya Sui Kheu Pak Kung. Anak kesebelas, Henri Frans Wong. Nama dewanya tak tetap. Tapi, biasanya Chiau Shan Pak Kung.

Bicara mengenai ta-thung, terkadang bicara mengenai sesuatu di luar jangkauan kesadaran manusia. Misalnya saja, kenapa kemampuan ta-thung bisa menurun pada anak. Biasanya ada jodohnya. Namun, ada juga yang tak bisa menurun pada keluarga.

Bong punya banyak jimat untuk menurunkan kemampuan ta-thung pada anaknya. Tapi ia tak mau menurunkan. Paling membina anak supaya menjalankan sesuatu atau berbuat baik.

Dalam satu pertemuan, Antoni Bong sebenarnya merasa takut menjadi ta-thung. Ia menjadi ta-thung sejak 2003. Saat dia bimbang dan ragu, orang tuanya memberikan keyakinan. Bahwa, semuanya akan baik dan menjaga diri dari masalah apa saja.

Hingga sekarang, ia tak pernah diganggu orang. “Yang kita harap, Tuhan masih sayang sama kita. Jadi, kita tidak usah takut,” kata Antoni.

Sama seperti orang tuanya, saat pertama kali menjadi ta-thung, ia alami banyak hal. Kepala pusing. Badan terasa berat untuk bergerak. Capek. Tak bisa lakukan apa-apa. Menjadi ta-thung di luar kesadarannya. “Kita dalam keadaan tidak sadar,” kata Antoni.

Antoni dalam kesehariannya, ikut membantu orang tuanya.

Menurut Bong, ta-thung harus punya hati baik. Tak boleh menipu orang. Kalau berbuat jahat, bisa membahayakan diri sendiri. “Bagi yang berilmu, kalau kita sadis, ‘dia’ lebih sadis,” katanya.

Dia dalam hal ini adalah, Dewa yang mengikuti para ta-thung. Orang juga menyebut guru, atau arwah leluhur.

Untuk mencapai jalan kebenaran dan kebaikan, butuh waktu lama belajarnya. Kalau berbuat jahat, belajarnya 3-4 hari saja. Begitu kata Bong. “Karena belum apa-apa sudah mau menipu, maka ilmu makin ganas. Kalau ikuti jalan baik, akan baik,” kata Bong.

Ta-thung ada yang hitam dan putih. Membina ta-thung supaya baik, butuh waktu satu hingga dua tahun. Ta-thung bila punya pikiran jahat, cepat reaksinya. Tapi, tetap ada hukum karmanya. Bong selalu memberikan saran, supaya anaknya mengikuti jalan yang baik.

Kalau ada perintah untuk bertapa, ta-thung tak perlu membantah. Begitu juga dengan pantangan, jangan sampai dilaksanakan. Kenapa banyak ta-thung bermasalah? Misalnya tak punya anak, karena yang “di atas” punya mata.

Menurut Bong, ta-thung tak bisa dijadikan mata pencaharian. Kemampuan itu untuk masyarakat yang minta bantuan. Karenanya, ta-thung harus punya mata pencarian tetap.

Bong kerja sebagai tukang gigi. Kalau ada yang minta berobat dan bantuan, ia akan melaksanakan tugas itu. Di luar itu, dia akan bekerja sebagai tukang membuat gigi.

Dalam berbagai kesempatan khusus, seperti pembukaan Klenteng, Cap Go Meh, Imlek atau tradisi lainnya, ta-thung memiliki peran penting.

Untuk melaksanakan tugasnya, ta-thung harus menyesuaikan dengan Dewa yang mengikutinya. Pakaian disesuaikan dengan karakter dan sifat dari sang Dewa. Pakaian membuat sendiri atau pesan. Bong dan masing-masing anaknya punya dua pasang pakaian.

Seragam dibuat dari lokal dan luar. Harganya beragam. Misalnya, bila pakaian dipesan dari Thailand, harganya sekitar Rp 1,6 juta. Dari Singapura Rp 3 juta. Dari Tiongkok seharga Rp 9 juta.

Namun, pakaian Steven dipesan dari Singapura, harga sepasang Rp 9 juta. Warna pakaian merah dengan motif naga dan bordir. Pakaian Pin-Pin dari Tiongkok. Satu pasang seharga Rp 9 juta. Ada tiga set. Baju itu dipakai selamanya.

Bong pernah alami pengalaman yang membuatnya nyaris bangkrut. Pada 25 September 2008, ia diminta warga di Kepulauan Natuna, Riau, meresmikan sebuah Pekong atau Klenteng.

Klenteng memiliki peran sangat penting dalam budaya dan masyarakat Tionghoa. Sebab, ketika mereka tinggal atau mendirikan suatu rumah atau perkampungan, Pekong sebagai tempat beribadat bagi warga, harus ada di sana.

“Apa yang bisa dilakukan untuk Pekong, itu akan dilakukan,” kata Bong.

Namun, musibah menimpa tanpa disangka. Perahu yang membawa mereka terbakar. Pakaian dan barang yang dibawa ikut terbakar di dalam kapal. Pakaian seragam, tandu, gendang, obat ramuan, ikut terbakar. Kerugian diperkirakan sekitar Rp 90 juta.

Pemilik kapal tak mau ganti. Masyarakat yang mengundangnya bersedia mengganti. Namun, Bong tak mau. Kalau masyarakat yang ganti, sampai 10 keturunan, akan dicaci maki. Dia konsultasi dengan pemilik kapal, tapi tak ada jawaban. Akhirnya, Bong membuat pakaian baru.

Meski memiliki kemampuan istimewa, tapi Bong tidak pernah merasa sebagai manusia istimewa. Kalau merasa sebagai manusia istimewa, sama saja merasa sebagai yang “Di atas”.

Jadi, sebagai manusia, ia tidak merasa ada yang istimewa. Ia menganggap biasa saja. Kalau merasa istimewa, akan membuat seseorang menjadi sombong.

“Kita tidak memikirkan. Bukan kita yang bantu orang. Kita cuma sebagai pelaksana,” kata Bong, “Tuhan berkuasa yang bantu.”

Bong merupakan salah satu contoh dari keluarga yang menjadi ta-thung secara turun temurun. Tak hanya keluarga Bong, Chie Lie Na atau Lina (40 tahun), juga contoh keluarga ta-thung.

Sejak umur 35, ia menjadi ta-thung. Keturunan dari kakek ke bapak ke anak. Lina keempat dari tujuh bersaudara. Empat orang saudaranya menjadi ta-thung. Namun, ada satu yang sudah meninggal, sehingga tinggal tiga orang.

Anak nomor dua, Chie Jun Nam biasa dipanggil Ahmad. Dewanya bernama Malin Ciong Kiun. Anak nomor empat, Lina. Anak nomor lima, Chie Jun On alias Budi. Dewanya bernama, Ng Fong Thai Chie. Anak nomor enam, Chie Jun Fo alias Rudi. Dewanya bernama Thai Fut Shin. Ayah Lina bernama Chie Chiung Fu atau Ali. Kakeknya bernama, Chie Jin Tong. Biasa dipanggil Holian atau Alian Chiton. Dia perantauan langsung dari Tiongkok. Nama dewanya, Chee Thian Thai Sien atau Sun Go Kong. Kitab Sun Go Kong bernama Tung Su. Ketika berubah wujud menjadi monyet kecil, dan bisa masuk ke ruang kecil.

Kini, Lina tinggal di Jakarta. Di ibu kota, dia menjadi tabib. Kemampuannya bisa menyembuhkan orang kerasukan, meningkatkan usaha, dan lainnya. Namun, kebanyakan yang datang orang sakit. Misalnya, ada gangguan, masuk angin jahat, dan lainnya.

Kemampuan yang dimiliki tidak untuk mengganggu orang. Kalau orang dalam kesusahan, ia akan menyembuhkannya. Ta-thung tidak pernah minta bayaran khusus, ketika mengobati seseorang. Suka rela saja.

Ia mengobati orang di rumahnya. “Kalau ada guru ikut, kapanpun guru datang harus pulang. Memanggilnya harus di rumah. Untuk mengobati orang harus di Toa Pekong,” kata Lina. Untuk memanggil guru, harus dipanggil dari lima penjuru.

Lina punya tiga anak. Paling besar kelas 3 SMA. Dia tidak berharap anaknya jadi ta-thung. “Mudah-mudahan jangan. Ikut boleh, tapi jangan masuk,” kata Lina.

Anaknya kenal dengan dunia ta-thung. Lina pernah mengajak anaknya. Anak paling kecil, sering diajak sehingga tidak takut.

Menurutnya, pengalaman berkesan sebagai ta-thung, kalau bisa menyembuhkan orang sakit. Begitu juga kalau ada anak yang sakit.

Lina juga punya kemampuan kebal terhadap senjata tajam. Kalau sudah kemasukan ruh Dewa, ia bisa duduk di atas pedang yang bentuknya serupa bunga teratai. Ia pengikut dari Dewi Kwan Im atau Dewi Welas Asih. Dewi ini selalu menggunakan simbol bunga teratai.

Sebagai ta-thung karena faktor keturunan dan pengikut Dewi Kwan Im, Lina pantang makan daging. Sebab, Dewi Kwan Im tidak boleh makan binatang hidup. Lina harus vegetarian. Tidak boleh makan daging sapi, ayam, serta babi.

Dewa dari kakek, tidak boleh makan daging monyet, anjing, kucing, kura-kura dan ular.
Sebab, dewa yang mengikut adalah Sun Go Kong dari bangsa kera.


MENURUT XF ASALI, pengarang buku Aneka Budaya Tionghoa, ta-thung berasal dari dua suku kata. Tha: pukul. Thung: orangnya. Tak sembarang orang bisa menjadi ta-thung. Kemampuan itu bisa dimiliki melalui keturunan atau peristiwa tertentu. Misalnya, selepas sakit. Kemampuan jadi ta-thung juga bisa dipelajari melalui tuntunan seorang suhu atau guru. Ta-thung untuk menolong orang lain, bukan mencari kekayaan.

Kalau kemampuan menjadi ta-thung muncul dengan sendirinya pada seseorang, maka ruh Dewa atau arwah leluhur bisa dibawa ke mana-mana. Bahkan, bila orang itu pindah ke lain pulau atau negara. Ia masih bisa memanggil ruh untuk datang.

Ta-thung paling banyak terdapat di Singkawang. Namun, banyak juga yang tinggal di Pontianak, dan daerah sekitarnya.

Lo Chin Hin (45 tahun), ta-thung dari Siantan, Pontianak. Ia pertama kali kemasukan ruh arwah leluhur, ketika usianya 25 tahun. Ruh yang masuk bernama Sak Bong Kung. Dalam bahasa dialek China Kek, nama itu berarti Batu Raja Dewa. Karena itulah, ia membangun Klenteng dengan nama tersebut di depan rumahnya.

Tahun 2000, Lo Chin Hin membangun tangga setinggi delapan meter. Bangunan itu dibangun atas permintaan ruh yang ada pada dirinya. Bangunan itu berupa tangga dan undakan dari besi baja setajam pisau. Setiap undakan diberi pisau.

Pada perayaan dan acara tertentu, Lo Chin Hin akan menari, menaiki dan menuruni undakan itu. Sambil beratraksi, ia mencucuk pipinya dengan tembaga sepanjang setengah meter sebesar paku. Kenapa tembaga? Sebab, bekas luka tidak mengalami infeksi. Luka menutup sendiri, setelah diberi abu hio atau setanggi.

Cap Go Meh atau hari ke 15 Imlek, merupakan hari besar bagi para ta-thung. Ia akan meramaikan acara itu. Datangnya ruh leluhur ke raga, bisa 2-3 kali secara bergantian. Kedatangan itu ditandai dengan permintaan dari ta-thung untuk mengganti baju. Warna baju itu merah, putih dan hitam. Baju merah yang datang ruh dari leluhur atau Dewa dari Tiongkok. Bila warna hitam, biasanya yang datang Datuk dari orang Dayak.

Masuknya ruh ke raga ditandai dengan berbagai macam hal. Salah satunya, dengan muntahnya sang ta-thung. Ketika arwah leluhur masuk pada raganya, harus ada orang yang sanggup menerjemahkan apa permintaannya. Karenanya, harus ada yang selalu menjaga ta-thung, ketika ia sedang trance.

Lo Chin Hin selalu ditemani Fut Men, 34 tahun, ketika sedang kerasukan ruh. Fut Men kebetulan menantunya sendiri. Dialah pemandu atau penerjemah, bila arwah minta sesuatu. Bahasa yang dipergunakan adalah bahasa China, Khek Kuno. Bahasa itu beda dengan bahasa Khek yang biasa dipakai sekarang ini.

Menurut Fut Men, tradisi ta-thung di negeri China sudah tidak ada. Ta-thung di Kalbar merupakan perpaduan antara tradisi masyarakat Tionghoa dan Dayak. Tak heran jika pada perayaan Cap Go Meh, ada juga orang Dayak menjadi ta-thung.

Lo Chin Hin punya 6 anak. Namun, belum ada satu pun anaknya memiliki dan bisa mewarisi kemampuannya sebagai ta-thung.

Seperti juga Lo Chin Hin, Acai (24 tahun) menjadi ta-thung bukan karena garis keturunan. Ia tinggal di Singkawang. Postur tubuhnya kurus dengan tinggi sekira 170 cm. Acai kurang lancar berbahasa Indonesia.

Ia jadi ta-thung sejak usia 11 tahun. Bila biasanya ta-thung ada pantangan makan sesuatu, ia tidak punya pantangan makan apapun.

Acai biasa memakai pakaian hijau, saat menjadi ta-thung. Ia kerasukan ruh salah satu arwah leluhur. Namanya sama dengan nama salah satu Dewa. Namun, ia sendiri tidak tahu nama Dewa itu. Ketika ia hendak memanggil arwah leluhur masuk ke raganya, ia mesti dipandu sang suhu. Acai banyak belajar dari gurunya, untuk menjadi ta-thung.

Lalu, apa pendapatnya terhadap kemampuan dan kesaktiannya?
“Jadi ta-thung biasa saja,” kata lelaki dengan rambut sebahu ini.


PADA SEBUAH gang di belakang bangunan bioskop bercorak Art Deco yang dibangun pada 1957 di Kota Singkawang, terdapat sebuah Pekong kecil. Di sana, ada seorang ta-thung bernama Tjhan Hian Bun (67 tahun). Dia biasa dipanggil Ahian.

Ia menjadi ta-thung sejak umur 24 tahun. Arwah leluhur atau dewanya bernama Bun Bu Ciong Kiun, panglima perang atau jenderal. Dewa ini punya kemampuan menyembuhkan orang sakit. Tergantung orang yang datang dan kondisi pasien. Misalnya, anak kecil sering kaget karena kemasukan ruh, kena ilmu atau disantet orang.

Ia punya tujuh orang anak. Namun, tak ada yang jadi ta-thung. Menurutnya, ta-thung tak bisa disembuhkan. Ruh dewa yang sudah masuk ke tubuh seseorang, akan terus ikut. Menjadi ta-thung bukan kehendak sendiri. Kemampuan itu ditunjuk sendiri oleh para dewa.

Masuknya arwah Dewa susah diperkirakan. “Kalau orang tak mau atau menghindar jadi ta-thung, bisa gila atau sakit,” katanya.

Selama menjadi ta-thung, beberapa kali orang menguji kesaktiannya. Ada orang kirim ilmu untuk diadu. Bentuknya seperti santet. Orang mengirim ilmu berbentuk ular, jarum, dan lainnya. Namun belum sempat masuk sudah ditangkis. Tak tahu siapa yang kirim. Rasanya seperti orang tidur, badan panas atau meriang. Peristiwa itu berlangsung sekitar satu jam. Kejadian berlangsung belasan kali.

Ta-thung memiliki aura dan energi positif. Kalau ke mana-mana, orang yang melihatnya langsung baik. Apalagi kalau ta-thung ketemu sesama ta-thung. Begitu ketemu di jalan, langsung tahu bahwa orang itu punya ilmu. Seperti magnet yang saling ketemu. Ada energi. Ada getaran.

Meski begitu, dia tidak berharap anaknya jadi ta-thung. “Usaha seperti ini hanya secukupnya saja. Bukan untuk cari kekayaan. Orang tua ingin anaknya maju, karena kehidupan ta-thung pas-pasan,” kata Tjhan Hian Bun. Namun, ia merasa cukup hidupnya. Bisa makan dan mencukupi kebutuhan hidupnya.

Ta-thung bukan sesuatu yang dibanggakan. Kemampuan itu hanya pemberian. Kecuali, kemampuan itu diperoleh dengan mempelajari suatu ilmu.

Uniknya, meski ta-thung merupakan tradisi orang Tionghoa, kemampuan sebagai ta-thung juga bisa dimiliki orang Melayu, Dayak dan lainnya. Pada perayaan Cap Go Meh, mereka ikut pawai dan meramaikan. Ta-thung muncul dan ikut meramaikan festival. Tujuannya, mengusir ruh jahat, sehingga tahun depan bisa hidup lebih baik. Ini semacam tolak balak. Bagi orang Taoisme, ini adalah suatu keyakinan. Bagi orang Tionghoa yang sudah memeluk agama Kristen, misalnya, ini dianggap seni saja.

Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, ketika ta-thung berkeliling kota pada perayaan Cap Go Meh, ia dipercaya dapat membersihkan kota dari berbagai unsur ruh jahat. Dengan hilangnya ruh jahat, kehidupan menjadi tenang dan tentram.

Menjelang perayaan Cap Go Meh, ta-thung biasanya melakukan puasa dulu. Puasa dari segala perbuatan berbau kotor. Puasa dilakukan 3-7 hari. Intinya, puasa untuk keselamatan dan kesejahteraan.

“Orang yang berilmu ikut merayakan Cap Go Meh sebagai ucapan selamat,” katanya.

Ia berharap pada pemerintah, tradisi itu diteruskan. Zaman Presiden Suharto, tradisi itu ditiadakan. Padahal, itu suatu agama dan adat istiadat. Tradisi itu gabungan dari Tao, Konghucu, dan Buddha (Darma). “Seharusnya ta-thung terus diadakan dan dimeriahkan,” katanya.

Di lingkungan keluarga dan lingkungan sosial lainnya, ta-thung disegani masyarakat. Tapi juga bukan sesuatu yang dianggap istimewa oleh keluarganya.

Keponakan Tjhan, Melson (29 tahun) menyatakan, “Dibilang bangga, ya, iya. Dibilang tidak, ya, tidak. Tapi kalau ada keperluan, tidak datang ke orang lain.”

Melson lahir di Singkawang. Sekarang tinggal dan hidup di Jakarta. Saat acara Cap Go Meh, dia pulang ke Singkawang. Ia jadi penerjemah pamannya, ketika sedang kemasukan ruh Dewa. Segala apa yang diminta dan dibicarakan, harus diterjemahkan.

Meski demikian, ia tak ingin jadi ta-thung. “Tak terpikirkan jadi seorang ta-thung,” katanya.
Ta-thung memang identik dengan kehidupan apa adanya. Tak bisa bergerak lebih luas, dalam mengembangkan berbagai usaha atau pekerjaan. Sekedar cukup untuk hidup.


MALAM ITU, saya seperti berada di dunia lain. Seluruh ruangan dipenuhi oleh bunyi-bunyian. Saling menyahut. Bunyi gendang besar bersahutan dengan simbal yang ditabuh secara terus menerus oleh anak-anak kecil. Mereka memang bertugas membunyikan alat musik tersebut.

Asap tebal membumbung dan berpendar ke segenap celah ruangan, dari dua kaleng berisi dupa dan kemenyan. Kaleng itu diputar-putar. Asap semakin mengepul keluar dari kaleng. Asap seakan membekap setiap jiwa di ruangan itu. Menenggelamkannya pada suasana magis dan dramatik.

Pada sebuah altar, seorang pemuda bertubuh subur, seperti termenung dan menunggu sesuatu. Sekujur tubuhnya telah diberi kerincingan, lonceng, dan pakaian khas, seorang Datuk. Di bagian kepalanya, terselip bulu burung enggang. Ini burung khas endemik di Pulau Kalimantan. Burung suci bagi orang Dayak.

Lelaki itu bernama Darmanto alias Afu (30). Sedari tadi, ia selalu menguap. Bukan sembarang menguap. Itu pertanda Dewa bakal masuk ke tubuh lelaki Tionghoa ini.

Tak berapa lama, anjing di belakang rumah melolong dengan pelan. Entah kebetulan atau tidak, melolongnya anjing bisa dilihat sebagai sebuah pertanda, ada sesuatu yang datang. Panca indera pendengaran anjing, lebih kuat dari pendengaran manusia. Anjing punya indera sensitif terhadap suara, temperatur, perubahan suhu, getaran, aktivitas elektrostatis dan kimia, serta medan magnet dan medan listrik.

Bersamaan dengan itu, tubuh Afu terjengkang ke belakang. Mendadak seperti orang pingsan. “Pas mau masuk, badan seperti tertimpa batu dari punggung. Setelah itu tak sadar diri, seperti orang tidur,” kata Afu.

Kemenyan berfungsi menguatkan ilmunya. Tambah semangat. Kalau gurunya datuk –orang Jawa, pakai kemenyan. Kalau gurunya Tionghoa, tak pakai kemenyan.

Datuknya bernama Kinsan dari Jawa. Guru yang lain bernama Bu Mian Ciong Kiun.
Yang masuk ke tubuh Afu bernama Gum Chit Sian Bong, dan punya kemampuan sebagai tabib.

Afu jadi ta-thung sejak umur 18 tahun. Ketika itu, ia berdiri di depan pintu rumah. Tiba-tiba ada bayangan terbang. Ada ruh yang masuk ke tubuhnya. Dia langsung bengong. Tubuhnya terasa demam, seperti orang tak sadar.

Sejak kemasukan ruh, ia tak bisa konsentrasi saat guru menerangkan di depan kelas. Afu sering melamun dan bengong hingga setahun lamanya. Sehingga, mau tak mau ia berhenti sekolah. Setelah membuat Pekong, ia langsung sembuh total.

Afu tak banyak bicara. Bahasa Indonesianya kurang lancar. Ia selalu ditemani sang mertua, Fifi (43). Mertua ini yang menterjemahkan apa kemauan Afu saat kemasukan ruh.

Seperti juga para ta-thung maupun anggota keluarganya, seandainya boleh memilih, Fifi tak ingin Afu jadi ta-thung. “Apa boleh buat, sudah kemasukan. Bukan kemauan,” kata Fifi.

Mula-mula ia tidak ingin punya menantu ta-thung. “Jadi ta-thung tak bisa kerja apa-apa. Harus pulang,” kata Fifi.

Afu tak bisa keluar kota. Ia selalu berada di Singkawang. Afu pernah ke Taiwan. Namun, ia merasa tidak tenang. Ia selalu ingin balik ke Singkawang.

Saat anaknya hendak menikah dengan Afu, Fifi tak bisa menolaknya. “Kalau memang jodohnya, orang tua tak bisa menghalangi,” kata Fifi.

Fifi merasa menantunya membawa hoki atau keberuntungan. Afu membuka tempat biliar. Tiap hari dapat hoki.

Fifi selalu menjaga Afu ketika menantunya ini melakukan atraksi. Fifi selalu pakai helm saat upacara berlangsung. Di dalam helm itu ada jimat dari singsang supaya tidak kemasukan. “Karena saya dari dulu selalu urusi itu, maka harus jaga-jaga,” kata Fifi.

Setiap ta-thung punya hari tertentu untuk memperingati hari jadinya. Ulang tahun itu biasanya permintaan dari ruh atau Dewa yang mengikuti. Afu memperingati ulang tahun gurunya pada tanggal 9 bulan Imlek.

Banyak hal yang harus disiapkan untuk itu. Ada tebor, bir, kue bulan, tebu, limau dan lainnya. Semua memiliki makna. Tebu bentuknya beruas-ruas seperti tangga. Maknanya, pekerjaan atau usaha juga bertingkat sampai ujung. Kue bulan adalah kue ulang tahun. Limau supaya bisa membawa hoki. Bir untuk menjamu tamu-tamu guru.

Setiap ulang tahun butuh dana sekitar Rp 3-4 juta. Uang itu dipergunakan untuk memberi angpao pada setiap orang yang membantu. Namun, biasanya dalam kegiatan itu, banyak orang yang pernah ditolong dan disembuhkan Afu, turut membantu. Dalam berbagai ritual dan kegiatan, Afu dibantu pengusaha pakan ternak. Pengusaha ini merasa “dibantu” oleh Afu dalam berusaha.

Saat menjadi ta-thung, Afu menggunakan dua tandu. Pada ujungnya dipasang dua tiang untuk pegangan. Tandu hitam pada sebelah kanan ada pedang besar. Pada sebelah kiri ada tombak besar dengan bentuk setengah bulan. Tandu merah, ada tombak dan bulan sabit di sebelah kanan. Bagian bawah tandu diberi baja setajam pisau. Di atas baja tajam itulah, Afu berdiri tanpa alas kaki dan menggoyang-goyangkan tandu ke depan dan belakang, samping kiri dan kanan.

Afu pernah terluka dalam atraksinya. Luka itu seperti disilet pisau di bagian bawah kakinya. Ketika itu, dia belum punya tandu sendiri. Masih ikut tandu orang. Kini, selama punya tandu sendiri, ia tak pernah alami luka. Tandu itu berwarna merah dan hitam. Untuk membuatnya butuh dana sekitar Rp 3 juta setiap tandunya.

Meski kebal senjata tajam, atraksi para ta-thung tetap saja mengkhawatirkan orang-orang terdekatnya. Siau Ling (24), istri Afu juga merasa khawatir bila Afu melakukan atraksinya.

“Ada perasaan takut juga, kalau Afu luka,” kata Siau Ling.

Dari perkawinan itu, lahir dua anak. Satu lelaki dan perempuan. Lelaki bernama Yung-yung (6). Perempuan bernama Cia-Cia (2). Kedua anak itu belum terlihat ada bakat ta-thung.

Siau Ling berharap dan menurut saja pada garis nasib yang telah ditentukan. Namun, kalau boleh memilih, dia tak ingin anak jadi ta-thung. “Tak bisa ke manapun,” katanya.

Meski ruh para Dewa bisa dipanggil kapanpun, namun tak pernah muncul saat di kamar ketika keduanya sedang berduaan.

Ta-thung harus saling menjaga dan menolong, saat kemasukan ruh. Karenanya, orang yang tidak berkepentingan saat ta-thung kerasukan, jangan berdiri di jalur perjalanan ta-thung. Bisa kena marah atau dikejar. Ketika selesai melakukan atraksi, tubuh Afu lelah sekali. Kepala juga masih terasa puyeng.

Begitulah kehidupan dan kisah para ta-thung. Meski memiliki kemampuan istimewa, sebagian besar ta-thung yang ditemui, tidak ingin keluarganya menjadi ta-thung. Meskipun para Dewa atau leluhur yang memilihnya. Inilah sebuah ironi di balik kehidupan para ta-thung atau manusia sakti itu.

Edisi cetak ada di Majalah Suara Baru, edisi November 2009

Baca Selengkapnya...

Sunday, October 18, 2009

Para Penjelajah Kapuas

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Inilah tapak sejarah, yang menanda pada alat transportasi
Membentuk ciri dan kekuatannya yang khas
Menampilkan bentuk dan fungsinya,
untuk menjelajah alur dan sungai terpanjang ini.

Dialah para penjelajah Sungai Kapuas
Yang setia dan berbagi dengan lainnya,
Menapakkan punggungnya
pada coklat air yang kian keruh dan berlumpur

Para penjelajah itu, melayani kepentingan
ekonomi, wisata, budaya, pengamanan dan lainnya,
Dari para manusia yang seakan tak pernah putus kepentingannya.
Hingga pada akhirnya, tercipta yang baru dan membuang yang lama.

Begitulah teknologi terciptakan
Dan, Sungai Kapuas menjadi saksi
dari semua Perkembangan itu….

Teks dan Foto: Muhlis Suhaeri
Edisi cetak ada di Borneo Tribune 18 Oktober 2009

Baca Selengkapnya...

Wednesday, October 14, 2009

Selamatkan Hutan Kalimantan

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Kalbar punya kawasan hutan seluas 4.893.923 hektar. Kawsan itu tersebar dalam berbagai kawasan taman nasional, cagar alam, dan hutan lindung. Namun, dalam perkembangannya, kondisi hutan makin menipis akibat penguasaan hutan yang dilakukan melalui Hak Penguasaan Hutan (HPH). Parahnya lagi, hal itu hanya dimiliki oleh segelintir orang saja, melalui berbagai keistimewaan yang didapatkan karena dekat dan bisa masuk ke lingkar kekuasaan.

Akibat tak adanya kontrol dan kendali atas kekuasaan itu, semua yang ada di hutan terjarah dan hilang. Tak hanya kayu, juga berbagai habitat ada di dalamnya. Termasuk berbagai tanaman yang menjadi unsur penting bagi masyarakat yang mendiami hutan. Penggundulan hutan juga menghilangkan berbagai macam satwa di dalamnya.

Masyarakat yang berada di sekitar hutan, tak bisa memanfaatkan hasil hutan. Bahkan terpenjara karena aturan yang tak jelas, dalam berbagai hal mengenai pemanfaatan hutan, dan segala yang berada di dalamnya.

Padahal, hutan ibarat pasar swalayan yang menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat yang mendiami kawasan itu. Hutan juga menjadikan ruang interaksi bagi tumbuh kembangnya ilmu pengetahuan, budaya, adat, obat-obatan dan lainnya.

Penebangan yang tak terkendali berakibat pada berbagai hal. Salah satunya adalah bencana alam yang selalu terjadi. Seperti, terjadinya banjir, tanah longsor dan lainnya. Fakta membuktikan, dalam beberapa tahun kebelakang, bencana banjir semakin sering terjadi. Padahal, puluhan tahun ke belakang, tak ada kabar mengenai banjir di Kalimantan.

Ini membuktikan bahwa kerusakan hutan semakin parah, mengakibatkan bencana bagi manusia itu sendiri. Harga yang harus dibayar bagi kerusakan dan bencana itu sungguh parah dan mahal. Tak hanya harta, bencana juga mengakibatkan jatuhnya korban jiwa. Rusaknya infrastruktur jalan, jembatan dan berbagai fasilitas publik lainnya. Kerusakan ini tentu mengakibatkan kerugian besar jumlahnya. Bisa dibayangkan kerugian yang dialami Negara dan masyarakat.

Selain rusaknya lingkungan, juga harus membangun berbagai infrastruktur yang rusak. Juga hilangnya kesempatan ekonomi bagi warga. Belum lagi akibat yang dialami secara langsung. Misalnya dalam bentuk penyakit dan akibat bencana yang ditimbulkan.

Terlebih lagi bagi hutan di Kalimantan yang menjadi paru-paru dunia. Juga ada tiga Negara di dalamnya, Indonesia, Brunei Darussalam dan Malaysia. Di wilayah ini, ada kawasan hutan seluas sekitar 22 juta hektar. Hutan itu merupakan sumber air bagi 14 dari 20 sungai utama di Kalimantan.

Kedepannya, bila kita tak sama-sama menjaganya, bisa dipastikan, benteng terakhir paru-paru dunia ini, juga akan hilang. Bisa dibayangkan, bagaimana akibat yang ditimbulkannya. Karenanya, menjadi kewajiban kita bersama, untuk menjaganya.

Edisi cetak ada di Borneo Tribune 14 Oktober 2009

Baca Selengkapnya...

Sunday, October 11, 2009

Kampung Beting

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Seperti juga wajah wilayah lain di negeri ini,
wajah kampung ini, mirip dan sama nasibnya.

Tangan Negara melalui pembangunannya,
Tak menyentuh dan memberikan solusi,
bagi masalah yang sedang terjadi,
begitupun pada apa yang dibutuhkan warganya.

Semua dibiarkan berjalan dan tak ada rambu,
Sehingga menjadi liar dan tak terurus.
Kampung Beting ibarat jamban besar.
Semua yang dibuang dan dimasukkan
menyatu dalam satu wajan perkampungan.
Tak menyisakan nilai kebersihan, dan kesehatan bagi warga.

Padahal, bila Negara punya peran dan memberikan sentuhan,
Beting adalah keindahan. Mahkota yang siap dipoles dan menjadikannya bersinar.

Siap menampilkan pemandangan dan keindahan, dari setiap kelokannya.
Sebuah ciri khas perkampungan pinggir sungai,
dan kehidupan masyarakatnya yang dinamis.

Kampung itu menanti uluran dan penghapusan stigma. Kampung Beting, namanya…..

Teks dan Foto: Muhlis Suhaeri

Edisi cetak di Borneo Tribune, 11 Oktober 2009

Baca Selengkapnya...

Media dan Kepentingan Publik

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Seperti juga minggu atau bulan sebelumnya, kita sepertinya selalu disibukkan dengan berbagai masalah yang selalu datang dan terus berganti. Begitu cepatnya permasalahan datang silih berganti, kita seolah tak diberi ruang dan jeda untuk bernafas.

Apalagi melakukan kontemplasi, perenungan atau melakukan evaluasi, terhadap berbagai permasalahan yang terjadi. Karenanya, kita tak pernah bisa fokus membedah sebuah isu dalam pemberitaan.

Bulan ini, media lokal dan nasional diisi dengan isu seputar Seruan Pontianak, gempa Padang, pemilihan pimpinan Partai Golkar dan isu terorisme.

Dari berbagai isu yang muncul itu, sikap media masih menunjukkan wajah dan prilaku lamanya. Pongah dan sombong. Seolah, dengan kemampuan dan kekuatan yang dimiliki, media merasa berhak mengeluarkan informasi apapun yang mereka miliki.

Awak media merasa punya hak menjejalkan informasi sepihak, opini, demi kepentingan dan kebutuhan akan sebuah legitimasi di masyarakat. Ini dalam kasus Seruan Pontianak. Demi rating media melakukan apa saja dan klaim sepihak. Ini dalam kasus penyiaran berita gempa. Media mendukung dan memberikan porsi pemberitaan secara berlebihan. demi kepentingan para pemilik media. Ini dalam kasus pemilihan Ketua Golkar. Bahkan, demi kepentingan yang lebih besar atau agenda setting lainnya. Ini dalam pemberitaan isu terorisme.

Orang yang berhubungan dengan media, siapapun itu, mereka yang bekerja atau pemilik media, mesti sadar bahwa media merupakan ruang publik. Berita yang dimuat merupakan sebuah pertanggungjawaban kepada publik. Karenanya, ada standar dan kode etik yang diterapkan dalam profesi ini.

Meskipun kita sadari bahwa, ketika orang mendirikan media atau bekerja di media, punya beragam alasan dan kepentingan. Hal itulah yang membuat dialektika sebuah media di masyarakat. Pada perkembangannya, apakah masyarakat jadi percaya dan menerima berita yang disuguhkan? Apakah awak media ketika membuat berita, memenuhi prinsip-prinsip dasar dari sebuah penulisan berita? Tidak melanggar kode etik dan memenuhi prinsip fairness atau keadilan dan memikirkan dampak yang ditimbulkan?

Prinsip dasar itulah yang harus terus dipegang para pekerja dan orang mereka yang berhubungan dengan media. Bagaimanapun, masyarakat harus mendapatkan informasi yang baik, dari permasalahan yang terjadi. Bukan berita sepihak yang dibuat untuk menyudutkan, dan membela kepentingan media sendiri.

Bila prinsip-prinsip itu dilanggar, artinya media sudah melakukan pembohongan publik. Meminggirkan prinsip-prinsip keadilan berita. Menggunakan kekuasaan dan kekuatan media demi kepentingannya sendiri. Bila ini terjadi, masyarakat tentu bisa memetakan dan memilah, bagaimana mereka harus bersikap terhadap media yang bersangkutan.

Sebab, informasi tidak hanya dari media saja. Masyarakat punya banyak alternatif informasi. Yang menjadi jendela bagi mereka, untuk menentukan dan membuat sikap, tentang apa yang sedang terjadi dan bagaimana mereka harus menyikapi.

Media harusnya memberikan informasi yang baik, agar masyarakat bisa menentukan sikap, ketika mereka berhadapan dengan sebuah permasalahan. Sebab, begitulah sebenarnya fungsi media.

Naskah ini diterbitkan di Harian Borneo Tribune, 11 Oktober 2009

Baca Selengkapnya...

Sunday, October 4, 2009

Tungku Naga

Muhllis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Sebuah tungku menghampar. Puluhan meter panjangnya.
Memanjang laksana naga. Siap memanggang dan mengeraskan,
semua yang bakal masuk. Menjadikannya liat dan keras.

Munculkan produk menawan dan mempesona,
bagi setiap mata yang memandang dan menjadikannya,
peranti pemercantik ruang dan tempat pribadi.
Menjadikannya keindahan yang mematri, bagi setiap mata yang memandang.

Tapi, tungku dan keramik naga itu mulai melemah.
Kurang mendapat tempat dalam pemasarannya.
Tersisih dengan barang sama dan murah yang makin menggempur.

Kini, semua mata harus mulai melihat,
pada geliat naga yang mulai lemah dan kurang tenaga.
Menyelamatkannya dari segala bala dan kehilangan arti keindahan,
Sang Tungku dan Keramik Naga.

Teks dan Foto: Muhlis Suhaeri
edisi cetak ada di Borneo Tribune edisi 4 Oktober 2009

Baca Selengkapnya...

Friday, October 2, 2009

Thursday, October 1, 2009

Bakar Kapal Wangkang

Ritual Penutup Sembahyang Kubur
Oleh: Muhlis Suhaeri
Kalimantan Barat yang multikultur dan etnis, memiliki tradisi dan budaya beragam. Salah satunya, ritual sembahyang kubur bagi warga Tionghoa. Sembahyang kubur dilaksanakan dua kali setahun. Pada bulan dua dan tujuh penanggalan Imlek. Sembahyang bulan dua dinamakan Cheng Beng. Sembahyang bulan ketujuh dinamakan Cit Gwee Puah. Sembahyang berlangsung dari tanggal 1 hingga 15.

Selama 15 hari, sebanyak 50 yayasan yang menaungi ratusan marga, bergiliran melakukan ritual sembahyang kubur. Waktu pelaksanaan sudah ditentukan. Biasanya, hari pertama sembahyang kubur dibuka oleh marga Halim, karena dianggap marga terbesar.

Menurut kepercayaan warga Tionghoa, pada bulan kedua dan tujuh penanggalan Imlek, pintu akherat dibuka. Mereka yang sudah meninggal, arwahnya akan turun ke bumi dan mengunjungi keluarganya. Nah, saat itulah, keluarga harus mengadakan sembahyang kubur, supaya ketemu arwah leluhur.

Penanggalan Imlek menggunakan sistem lunar atau bulan. Ini berbeda dengan penanggalan Masehi yang menggunakan sistem matahari. Tahun 2009 masehi, sama dengan 2560 tahun Imlek.

Pada sembahyang bulan ketujuh Imlek, kita bisa menyaksikan ritual budaya yang sungguh menarik. Namanya, ritual bakar kapal Wangkang. Ritual ini dilaksanakan sebagai puncak dari ritual sembahyang kubur pada hari ke 15.

Menurut buku Aneka Budaya Tionghoa Kalimantan Barat, karangan Lie Sau Fat atau XF Asali, sembahyang kubur di Tiongkok tanpa acara pembakaran kapal Wangkang. Di Pontianak, malah ada ritual itu. Kapal Wangkang atau Jong Son mempunyai arti Kapal Samudera. Kapal berfungsi mengangkut ruh-ruh yang tidak diurus oleh keturunan atau yang tidak ada keturunannya, supaya bisa kembali ke tempat kelahirannya. Sebab tiap-tiap ruh mesti ada asal-usulnya.

Mereka harus melalui samudera, maka diperlukan kapal Wangkang.

Pada ritual sembahyang kubur, orang Tionghoa dari Kalimantan Barat yang merantau ke berbagai daerah di Indonesia, kembali ke Pontianak, Singkawang, atau daerah lain di Kalbar. Para perantau ini, kebanyakan tinggal atau bekerja di Jakarta, Bandung, Batam dan Surabaya.

Bisa dipastikan, pada bulan-bulan ini, penerbangan penuh sekali. Harga tiket bisa dua kali lipat harganya. Bila pada bulan biasa harga tiket pesawat dari Jakarta atau Pontianak, sebesar Rp 400 - 740 ribu, pada sembahyang kubur bisa mencapai Rp 1-1,4 juta.

Pada bulan ini, Kota Pontianak semarak dengan berbagai kebutuhan sembahyang kubur. Seperti, kertas uang-uangan. Kertas ini sebagai simbol uang tail atau uang pembayaran. Buah jeruk, apel, pisang, pear, belimbing dan tebu, juga dibtuhkan bagi sembahyang kubur.

Ritual sembahyang kubur, sebagian besar dilakukan orang Tionghoa penganut Buddha, Kong Hu Cu dan Taoisme. Biasanya setiap keluarga melakukannya. Tak hanya keluarga, sembahyang kubur juga dilakukan setiap marga. Tujuannya, bila ada yang meninggal, tapi tidak disembahyangi keluarganya atau tak memiliki keturunan, maka anggota marga yang menyembahyanginya. Setiap marga berkumpul dalam satu yayasan. Puncaknya, pada tanggal 15, sembahyang kubur dilakukan Yayasan Bhakti Suci, yang menaungi seluruh yayasan Tionghoa di Kalbar.

Waktu pelaksanaan sembahyang kubur, tergantung setiap keluarga. Biasanya dipilih hari baik. Seiring dengan kesibukan setiap orang, biasanya hari libur dipilih sebagai hari melaksanakan ritual sembahyang kubur. Namun, setiap marga yang bernaung dalam yayasan, biasanya memiliki waktu tetap, bagi pelaksanaan sembahyang kubur setiap tahunnya.

Pagi itu, sekitar pukul 6.00 WIB, saya ketemu keluarga Vivi Hiu (23) di pemakaman Yayasan Bhakti Suci, Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya. Bhakti Suci merupakan yayasan yang menaungi semua yayasan Tionghoa di Kalbar.

Vivi datang dengan seluruh keluarganya dari pihak bapak. Ia menyembahyangi kakeknya. Nenek, Tjhau Gek Lan (78) tidak tidak boleh ikut sembahyang kubur. Begitu juga ketika kakek meninggal, nenek tidak boleh mengantar ke kuburan.

Bentuk kuburan itu lumayan besar. Sekira tiga kali tiga meter. Pada nisan tertera huruf China dengan gambar foto kakeknya. Nama dan foto nenek yang masih hidup, juga sudah ada di sana. Namun, nama dan foto itu, ditutup dengan kertas warna merah. Kalau neneknya sudah meninggal dan menempati areal tersebut, kertas merah itu bakal dicabut.

Komplek pekuburan Bhakti Suci luasnya puluhan hektar. Masing-masing keluarga dan marga, memiliki kavling di pekuburan ini. Setiap keluarga dan marga mesti beli.
Saya perhatikan, keluarga Vivi membawa buah anggur, apel, jeruk, klengkeng dan pear. Juga ada nasi, kue-kue, baju, dupa, daging babi, ayam atau itik, dan ikan. Semua daging dalam keadaan matang. Daging mewakili kehidupan di tiga wilayah, darat, udara dan air.

Hal yang tak boleh tertinggal adalah, kertas sembahyang. Kertas ini tengahnya ada cat perak. Kertas melambangkan uang atau tail. Semua peralatan itu, membutuhkan dana sekitar Rp 600 ribu. Yang paling mahal kertas tail emas atau Kim Cua. Kertas ini langsung didatangkan dari daratan Tiongkok. Modelnya satu ikat, harganya Rp 20-30 ribu. Tergantung kualitas kertas.

Ketika tiba di pekuburan, keluarga ini melakukan sembahyang kepada Dewa Bumi atau Thau Ti Pekong. Sembahyang ini, ibaratnya permisi kepada Dewa Bumi. Mereka akan melakukan sembahyang kubur, pada leluhurnya. Doa ini dipimpin sang ayah.

Ritual dilanjutkan dengan sembahyang kepada kakek. Ini, untuk menyapa kakek, bahwa keturunannya sudah datang. Keluarga juga bertanya, apakah kakek sudah bangun dari tidur, dan bagaimana keadaannya. Ritual diiringi menyulut dupa atau hio. Buah, makanan, baju, daging dan peralatan yang dibawa, ditaruh di depan nisan. Barang-barang ini, dipercaya bisa dipakai dan dimakan arwah leluhur. Ritual ini juga diiringi dengan menuangkan arak putih dan teh ke poci kecil. Minuman ini sebagai pengiring makanan yang terhidang.

Saya mencandai Vivi, “Wah, kakek bisa mabuk dong minum arak?”
“Oh, arak ini tidak memabukkan, kok.”

Sembari menunggu kakek “menyantap” makanan yang dibawa, keluarga ini melipat lembaran-lembaran kertas uang, menjadi segi tiga. Bentuk ini menyerupai uang tail kuno yang biasa digunakan di Tiongkok, dulunya. Dengan melipat kertas, nilai tukarnya dipercaya lebih tinggi. Sehingga kakeknya memiliki cukup uang, untuk belanja di alam baka. Bila kertas tak dilipat, nilainya tak seberapa.

Selepas itu, keluarga ini melakukan sembahyang tiga kali. Ritual ini, memanggil dan tanya pada kakek, apakah dia sudah menyantap hidangan makanan dan minuman yang dibawa. Selanjutnya, uang kertas disembahyangkan. Lalu, uang dibakar untuk kakek. Ritual diakhiri dengan bakar uang kertas bagi Dewa Bumi. Kegiatan tersebut, menutup ritual sembahyang kubur keluarga ini.

Seluruh makanan, daging, kue, buah-buahan yang dibawa ke pekuburan, kecuali nasi, dibawa pulang lagi ke rumah. Selanjutnya, keluarga makan-makanan itu secara bersama.

Saya penasaran dan tanya pada Vivi, “Bagaimana cara mengetahui, makanan yang terhidang itu, sudah dimakan arwah leluhur?”
“Dari bau makanan tersebut. Kayak basi, tapi bukan basi,” kata Vivi.

Agak jauh dari keluaga Vivi, sembahyang kubur Yayasan Sungai Beringin berlangsung. Jumlah mereka sekitar 30 orang. Ini sembahyang untuk marga. Tujuannya, orang-orang yang tak sempat disembahyangkan keluarganya, diwakili oleh marganya.

Yayasan Sungai Beringin beralamat di Jalan Gajah Mada Pontianak, biasanya sembahyang kubur pada hari kesepuluh, setiap tahunnya. Sembahyang kubur dipimpin para sesepuh dan tetua yayasan. Marga Lim atau Halim, biasanya sembahyang pada hari pertama sembahyang kubur. Marga Tan, pada hari kedua sembahyang kubur. Selain faktor hari baik, waktu sembahyang juga diatur, supaya tidak terjadi penumpukan orang ketika sembahyang.

Urutan dan ritualnya sama dengan ritual sembahyang kubur yang dilakukan keluarga.
Namun, makanan, kue, daging, kertas uang yang dibawa, tentu lebih banyak. Namanya juga bekal bagi banyak orang. Ada babi dan kambing satu ekor. Suasana meriah sekali. Umbul-umbul dan bendera marga tertancap di sekitar areal pelaksanaan ritual. Juga batang-batang tebu. Ini melambangkan kemakmuran. Rasa tebu manis. Lonceng dan genta juga ada.

“Sesaji merupakan sumbangan dari para pengusaha, panitia dan orang-orang kaya satu marga,” kata Andrew Yuen, pemuda yang ikut sembahyang.

Pada tanggal 15 penanggalan Imlek, saya datang lagi ke pekuburan Yayasan Bhakti Suci. Hari itu merupakan hari terakhir sembahyang kubur. Semua wakil yayasan hadir. Ini sembahyang kubur kolosal.

Semenjak pagi, masyarakat menyediakan berbagai makanan, buah-buahan, kue dalam keranjang dan menaruhnya di depan rumah. Siangnya, pengurus setiap yayasan membawa sesajian ke pekuburan Yayasan Bhakti Suci.

Di lapangan depan pekuburan, semua sesajian dihamparkan. Dengan sesajian ini, dilakukan sembahyang Shi Ku atau Sembahyang Rebutan. Setelah diberi doa, masyarakat berebut mengambil sesajian. Setiap orang Tionghoa yang mengikuti ritual tersebut, harus ikut berebut. Tidak peduli orang kaya atau miskin. Mereka percaya, dengan mendapatkan sesajian yang terhidang, rejeki tahun itu, bakal lancar.

Ada mitos dalam sembahyang Shi Ku, mereka yang berebut tidak boleh jatuh atau terpeleset. “Bisa kemasukan ruh,” kata Yuen.

Selepas sembahyang Shi Ku, ritual dilanjutkan dengan prosesi pembakaran kapal Wangkang. Kapal ini terbuat dari kertas. Kerangkanya dibuat dari kayu cerucuk.
Anek Abe (61), si pembuat kapal menjelaskan, kapal dibuat selama 20 hari. Biayanya sekitar Rp 20 juta. Biaya pembuatan ditanggung Yayasan Bhakti Suci. Panjangnya sekitar 21 meter. Lebar kapal 3,6 meter. Tinggi 1,2 meter.

“Setiap tahun, panjang kapal ditambah 5 cm. Alasannya, setiap tahun, arwah yang dibawa semakin banyak,” kata Anek, yang sudah 15 tahun membuat kapal Wangkang tersebut.

Setiap tahun, warna kapal berubah. Tak ada kepastian warnanya apa. Yang menentukan Yayasan Bhakti Suci. Tahun kemarin, 2008, warna kuning dan biru dengan garis merah di tengah. Tahun ini, warnanya kuning dan merah dengan garis hijau di tengah.
Kapal terbuat dari kayu cerucuk sekitar 300 batang, dan papan sekitar 200 keping. Pembuatan kapal membutuhkan kain sekitar 300 meter. Lama pembuatan sekitar 20 hari, dan dikerjakan sebanyak enam pekerja. Mereka dibayar secara harian, Rp 40-60 ribu.

Anek tak tahu pasti, kapan tradisi bakar Kapal Wangkang dimulai. Menurutnya, sebelum dia lahir, tradisi itu sudah ada. Bahkan, ketika zaman Orde Baru, perayaan itu tetap dilaksanakan. “Kalau tak dilaksanakan, nanti arwahnya ngamuk. Kota Pontianak bisa tak aman,” kata Anek.

Lim Yak Seng (56), salah satu pembuat kapal bercerita, pelaksanaan bakar Wangkang, awalnya berada di depan klenteng tertua yang berada di komplek pertokoan Pasar Kapuas Indah. Namun, karena wilayah itu sudah mulai padat, sekitar tahun 1990-an, pelaksanaan bakar Wangkang dipindahkan ke pemakaman Bhakti Suci.

Ada dua layar warna putih dengan tulisan huruf China. Layar pertama tertulis Ik Fan Fong Sun. Layar kedua atau belakang Sun Fung Tek Li. Dua kalimat tersebut, kira-kira begini artinya, “Selamat jalan mudah rejeki. Terus berjalan lurus mengikuti angin.”
Dalam kapal Wangkang, ibarat kapal sungguhan. Ada nahkoda, awak kapal, juru mudi, juru tulis, tempat sembahyang atau kelenteng. Semua dari kertas. Bekal untuk berlayar juga ada. Ada kue, buah kelapa, pinang, beras, sayur mayor, dan berbagai buah-buahan lainnya. Kertas uang atau Kim Cua bertumpuk-tumpuk sebagai bekal.

Menjelang pembakaran kapal Wangkang, dilaksanakan upara ritual sembahyang. Para petinggi Yayasan Bhakti Suci mewakili sembahyang. Ritual berlangsung di depan kapal Wangkang bagian haluan. Urutan dan prosesi, sama dengan sembahyang kubur keluarga atau yayasan. Selesai sembahyang, mereka mengitari kapal Wangkang. Selepas itu, setiap pengurus memegang kayu yang ujungnya diberi sumbu dari kain.

Setelah semua pengurus memegang kayu, bensin dituang ke bawah kapal Wangkang. Dengan aba-aba, mereka menyulut kapal kertas itu.

Seketika, api menyala dengan cepat. Bersama api dan asap yang membumbung tinggi, para arwah diantar menuju tempat terbaiknya. Pemadam kebakaran yang sedari tadi siaga, mulai menyemprotkan air di atas kapal Wangkang. Tak langsung kena ke kapal. Tujuannya, supaya bara api tidak terbang dan jatuh di perumahan penduduk.

Sore itu, saya menikmati pemandangan yang terasa sejuk di hati. Diantara kobaran api yang membara mengiringi ritual dan prosesi adat, anak-anak kecil Tionghoa, berjingkrak dan berlarian dengan riang. Lepas dan bebas. Mengantar para arwah kembali ke tempatnya.□

Edisi cetak ada di Majalah Suara Baru, edisi Oktober 2009.
Foto-foto Muhlis Suhaeri

Baca Selengkapnya...

Wednesday, September 30, 2009

Waspada terhadap Muntaber

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Sungai, selain menjadi urat nadi perekonomian, juga menjadi pasokan air minum. Berbagai kehidupan di Kalbar, tak bisa dipisahkan dengan kehidupan sungai. Sungai melebur dengan warga, menciptakan suatu harmoni. Ada berbagai budaya dan tradisi lahir, karena kedekatan manusia dengan sungai.

Namun, saat musim kemarau tiba, biasanya sungai di berbagai daerah di Kalbar, alami kekeringan. Kekeringan menciptakan pola interaksi yang berubah. Misalnya saja dalam masalah penyediaan air bagi kehidupan warga. Sungai merupakan sumber mata air bagi segala kehidupan yang dibutuhkan bagi kehidupan yang harus dijalani.

Karenanya, musim kering membuat pasokan air bagi warga menjadi terkendala. Dengan berkurangnya air sebagai pasokan warga, tentu saja berpengaruh terhadap kesehatan warga.

Dengan berkurangnya air, membuat pola hidup dan sanitasi menjadi kurang maksimal. Bahkan, kekurangan air bersih juga membuat warga alami berbagai penyakit. Salah satunya adalah muntaber.

Hal ini, tentu perlu penanganan yang baik. Pemerintah melalui dinas dan instansi terkait, mestinya segera mempersiapkan berbagai langkah, untuk mencegah terjadinya korban di masyarakat. Ini harus dilakukan, agar warga yang sudah alami berbagai kesulitan hidup, tak lagi harus menanggung dan mengeluarkan uang dalam jumlah besar, bagi biaya pengobatan yang mereka lakukan.

Selain itu, pemerintah juga harus berupaya dan lakukan pencegahan, agar muntaber tak meluas dan jadi bencana. Dengan cara itu, korban dapat dihindari dan sebisa mungkin, dapat ditekan jumlahnya.

Penangangan yang dilakukan harusnya tak terbatas pada bidang pengobatan saja. Pemerintah harus sedari awal, memberikan berbagai sarana dan sarana yang bisa digunakan warga. Agar, mereka bisa menjalani pola hidup yang lebih baik. Salah satunya dengan fasilitas air bersih.

Kalbar yang memiliki sumber air melimpah, karenanya harus dijaga dengan baik. Sehingga air yang menjadi sumber kehidupan, tidak tercemar dan rusak kualitas airnya.

Ini tentu saja bukan peran pemerintah saja. Semua harus berperan menyelamatkan sumber air baku bagi kehidupan. Sehingga semua bisa hidup lebih layak dan sehat. Dengan hidup sehat, tentu saja berpengaruh pada produktifitas warga. Sehingga berbagai roda ekonomi, sosial, politik, dan lainnya dapat tumbuh dengan baik.

Edisi cetak ada di Borneo Tribune 30 Septemebr 2009

Baca Selengkapnya...

Wednesday, September 16, 2009

Kisruh Ijazah Palsu

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Setiap ada hajatan pemilihan legislatif (Pileg), selalu saja ada kasus ijasah palsu.
Munculnya kasus ini, tentu tidak berdiri sendiri. Ini menyangkut sistem yang melibatkan banyak orang dan institusi.

Ada orang yang terlibat. Ada sekolah atau kampus yang dianggap berperan melegalkan. Atau, ada orang yang memfasilitasi praktek tersebut.

Pendidikan sebagai salah satu syarat keikutsertaan seseorang dalam suatu proses politik, tentu membawa sebuah konsekwensi bahwa, mereka yang tak pernah mengenyam pendidikan secara formal, akan terganjal partisipasi politiknya.

Pendidikan sebagai salah satu syarat ikut partisipasi politik, tentu punya argumentasi tersendiri. Sebab, orang yang akan menjunjung nasib warga, harus memiliki dasar yang baik. Salah satunya tentu saja dari segi pendidikan. Sebab, dengan pendidikan yang baik, akan membuat cara berpikir seseorang, menjadi baik. Itu konsekwensi logis saja.

Bila salah satu syarat itu tak terpenuhi, orang melakukan cara singkat atau potong kompas, untuk atasi tak adanya dokumen atau ijazah, sebagai salah satu syaratnya.

Cara ini dianggap paling gampang. Apalagi dengan buruknya sistem administrasi kependudukan atau pendataan kita. Sehingga orang sulit untuk dicek ulang bila terjadi pelanggaran terjadi.

Ini tentu suatu ironi. Orang yang akan memanggul tanggung jawab sebagai penyambung lidah rakyat, melakukan suatu praktek yang tak mencerminkan prilaku yang patut dan mencerminkan etika, atau moral yang baik. Belum menjabat saja sudah melakukan suatu praktek kecurangan yang sangat mendasar, apalagi bila mereka berkuasa nanti.

Inilah yang selalu terjadi dan terus terjadi. Ijazah palsu menjadi mata rantai yang seakan tak ada putusnya. Sanksi terhadap munculnya kasus ini yang dianggap tak terlalu keras, juga kerap melatarbelakangi orang melakukan praktek pemalsuan ijazah.

Padahal, sanksi terhadap permasalahan ini sangat jelas. Polisi berhak melakukan pemeriksaan. Nah, tentunya harus ada yang melaporkan. Kalaupun sudah ada yang melaporkan, kasus ini masih bisa terus berjalan. Tentunya, polisi yang harus punya kehendak.

Di sanalah hukum berperan. Apakah keadilan memang bisa ditegakkan dengan sebaik-baiknya, atau hanya orang yang punya kuasa dan uang, bisa membeli hukum.
Ini tentu menjadi tantangan tersendiri pada aparat penegak hukum, memperlihatkan sejauhmana kredibilitas mereka di bidangnya.

Pengadilan yang adil dan memenuhi rasa keadilan bagi seluruh masyarakat, tentu menjadi harapan semua warga. Nah, bagaimana kasus ini akan tertangani. Mari kita lihat bersama.

Edisi cetak ada di Borneo Tribune 16 September 2009

Baca Selengkapnya...

Sunday, September 13, 2009

Pulau (Kabung) Berkabung

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Semoga saja, ini bukan sebuah kutukan, karena menyandang nama Kabung.
Nama yang terlanjur identik dengan kesedihan, petaka, susah, dan bencana…

Kabung adalah sebuah pulau penuh potensi,
Berada di pinggiran laut yang kaya hasil ikan, Laut Cina Selatan
Namun, Kabung seakan terlupakan dan tercerabut dari wajah pembangunan
Tak terurus dan termarjinalkan…

Pemerintah tak mengulurkan tangannya melalui pemberian berbagai sarana,
pembangunan listrik, dermaga, modal bagan, pengering ikan, sarana air bersih, dan penunjang lainnya.
Buruknya transportasi membuat warga selalu berhadapan dan dicengkram maut
Sulitnya mendapat pendidikan, membuat anak putus sekolah
Potensi ekonomi lokal tak bergerak, karena terhambat minimnya infrastruktur
Tak adanya modal, membuat warga selalu terbelit hutang pada tengkulak
Yang menyungkurkannya pada kemiskinan yang akut dan abadi…

Inilah wajah pembangunan kita
Selalu berpikir tentang sesuatu yang besar,
Namun permasalahan mendasar tak tersentuh dan terabaikan…..

Foto dan Teks: Muhlis Suhaeri
Edisi cetak ada di Borneo Tribune edisi 13 September 2009

Baca Selengkapnya...

Tuesday, September 8, 2009

Bersikap Tegas terhadap Penyebab Asap

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Permasalahan kabut asap selalu terjadi setiap tahun di Kalbar. Pemerintah dan instansi terkait, seolah tidak berkutik dan tak punya solusi, terhadap permasalahan yang kerap terjadi ini. Permasalahan itu selalu terulang setiap tahunnya. Anehnya lagi, pihak-pihak yang terkait, selalu melempar tanggung jawab terhadap permasalahan tersebut.

Permasalahn asap, tidak bisa dipandang sebagai masalah yang berdiri sendiri. Dengan adanya kabut asap, semua sektor bakal terganggu. Orang menurun kemampuan dan kinerjanya, karena berbagai penyakit akibat asap. Seperti, munculnya ISPA, dan lainnya. Anak-anak kecil harus hidup menanggung beban penyakit, karena kualitas udara yang mereka hirup.

Kabut asap juga mengganggu sektor ekonomi. Berbagai jadwal penerbangan bisa saja dibatalkan dan membahayakan, bila kondisi itu terus terjadi. Begitu juga dengan perjalanan darat atau laut. Semua terkait dan beresiko, bila ada kabut asap terjadi di Kalbar.

Akibat penundaan dan perubahan jadwal, tentu merugikan semua pihak. Tidak hanya perusahaan, tapi juga pengguna jasa alat transportasi tersebut.

Dengan adanya kabut asap, berapa kerugian yang harus dialami seluruh masyarakat yang terkena dampak langsung, dari kegiatan segelintir orang ini.

Jangan juga alasan ekonomis, tidak adanya cara mengolah pertanian, menjadi suatu legitimasi bagi orang, untuk melegalkan kegiatan yang mereka lakukan. Juga jangan sampai pihak perusahaan perkebunan, menggunakan kesempatan yang sama, karena pembakaran merupakan cara paling murah dalam melakukan sebuah proses produksi. Tapi berbahaya bagi kesehatan semua orang.

Ini tentu saja perlu perhatian semua pihak. Kalau mau tegas, aparat keamanan juga tidak terlalu sulit mendeteksi dan menentukan, siapa dan wilayah mana terdapat pembakaran hutan dan lahan. Bukankah, semua wilayah tercatat kepemilikannya.

Karenanya, tidak terlalu sulit menentukan dan mengidentifiaksi. Permasalahannya adalah, sejauhmana kemauan dan niat melakukannya. Kita semua tentu setuju dan berharap, ada tindakan tegas aparat secara hukum, terhadap para pembakar hutan dan lahan ini. Sebab, dalam hokum pun sudah jelas sanksinya, bagi para pembakar hutan dan lahan ini.

Karenanya, kita semua sepakat dengan tindakan tegas yang akan dilakukan Polda Kalbar, dalam menyikapi permasalahan ini. Kita juga berharap, hal itu tidak sekedar ungkapan manis dan enak didengar saja.

Prinsipnya, segala tindakan tegas dan bersifat penegakkan hukum, mesti ditegakkan demi berlakunya kesadaran massal semua warga, akan pentingnya saling menjaga dan menghargai kehidupan bersama yang sedang dijalani. Bagaimanapun, cara hukum harus dilakukan, agar ada efek jera pada para pelaku pembakaran hutan dan lahan.

Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 8 September 2009

Baca Selengkapnya...

Sunday, September 6, 2009

Jurnalis Mesti Mampu Sajikan Informasi Bermutu

Eko Susilo
Borneo Tribune, Pontianak
Pelajaran berharga diberikan dua wartawan senior yang hadir sebagai pembicara dalam diskusi lesehan bertema “Merespon Isu, Mengolah Berita” yang digelar Sekretariat Bersama (Sekber) 43, bersama Tribune Institute, didukung FLEGT, di markas Sekber Jalan Karimana No. 43 Pontianak, Sabtu (5/9).

Diskusi diikuti jurnalis-jurnalis dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik ini, mengupas sisi kesalahan perspektif jurnalis dalam merespon isu baik di tingkat lokal maupun nasional.

Ahmad Yunus, freelance writer menuturkan kelemahan jurnalis saat ini adalah, tidak mampu menangkap realita yang terjadi di masyarakat. Hal ini bisa terlihat dari kebiasaan jurnalis yang lebih banyak mewawancarai narasumber yang berasal dari kalangan pejabat, polisi dan kalangan birokrat lainnya ketimbang mewawancarai petani, buruh, nelayan dan lainnya.

“Dan apapun yang mereka katakana, akan kita tulis tanpa mengecek kebenarannya,” kata Ahmad.

Padahal, tugas jurnalis adalah bagaimana melihat konteks-konteks itu dan menangkap suara-suara yang tidak pernah didengar. Sehingga pada nelayan dan petani dan masyarakat umum ini tidak hanya menjadi warga yang pasif, tetapi menjadi publik yang aktif. Mereka tidak hanya berbicara pada media. Tetapi juga berbicara dalam kebijakan publik.

Dalam peliputan konflik menurut Ahmad, jurnalis tidak bertugas untuk meredam konflik melalui tulisan yang dibuatnya, karena pilihan tersebut akan datang dari masyarakat sendiri. Yang harus dilakukan jurnalis adalah, membuka ruang seluasnya dan menjelaskan substansi masalah sebanyak mungkin, sehingga informasi ini semakin bermutu.

“Kita jangan terjebak pada peristiwa, tapi kita berbicara pada konteks, karena bisa jadi seseorang yang disebut korban, pada konteks sebelumnya dia adalah pelaku konflik,” tuturnya.

Dalam jurnalisme konflik ini, sang jurnalis perlu membuat tulisan yang sangat mendasar, bukan hanya pada tataran permukaan. Berbeda dengan pola-pola jurnalisme tradisional yang cenderung menyalahkan seseorang. Oleh karena itu, jurnalis harus berupaya membangun perspektif dari dirinya sendiri.

“Dengan susunan redaksi yang semakin beragam akan menumbuhkan kematangan redaksi itu sendiri,” tuturnya.

Ahmad mengatakan, dalam peliputan konflik, jurnalis harus menjaga independensinya untuk tetap mengatakan kita adalah wartawan di lapangan. “Bukan justru mewakili etnis atau agama tertentu,” ucapnya.

Tanggung jawab media menurutnya adalah, bagaimana menghasilkan berita yang bermutu dan beragam sehingga pembaca memiliki banyak pilihan.

Ahmad Yunus dalam sesi terakhirnya juga berbicara mengenai Pecojon. Sebuah lembaga yang mendidik para jurnalis, untuk menulis dan menanggapi sebuah konflik dengan perspektif seorang jurnalis yang sensitif dengan konflik yang terjadi.

Sedangkan wartawan senior Farid Gaban, mengatakan, kesalahan media dari sisi pemberitaan yang cenderung memanipulasi fakta dan menjerumuskan pembaca.

Ia mengambil contoh pemberitaan yang dibuat oleh media nasional yang mengangkat isu yang saat ini sedang hangat, yaitu isu terorisme dan klaim kebudayaan oleh negara tetangga, Malaysia.

“Hal-hal seperti SARA sangat mudah dimanipulasi untuk memunculkan sensasi berita,” kata Farid.

Menurut mantan Managing Editor Majalah Tempo dan Harian Republika ini, contoh kasus terorisme, banyak media yang menghukum orang yang belum diketahui, apakah benar-benar merupakan tokoh teroris atau bukan. Media ini kebanyakan menuliskan berita hanya dari satu narasumber, yaitu polisi.

“Dan akan jadi dosa besar wartawan bila seseorang yang dinyatakan sebagai teroris ternyata tidak terbukti,” katanya.

Dalam peliputan isu terorisme, jurnalis sering kali sudah menjadi hakim hanya melalui pernyataan dari polisi. Pemberitaan yang belum tentu benar ini akan menimbulkan dampak yang besar karena akan menimbulkan rasa takut pada masyarakat dan secara tidak langsung media sudah menjadi alat propaganda polisi.

Farid mengungkapkan berita-berita yang muncul ini merupakan bias dari orang-orang yang berada di Jakarta. Padahal, orang Jakarta tidak memiliki pemahaman yang sama dengan orang-orang yang berada di Kalimantan. Contoh kasus dalam persoalan hubungan Indonesia-Malaysia yang akhir-akhir ini sedikit menegang, akibat munculnya pemberitaan soal klaim Malaysia terhadap tari Pendet yang berasal dari Bali.

“Mereka (orang Jakarta) mudah saja berpikir untuk berperang, tanpa memikirkan orang-orang yang berada di perbatasan,” paparnya.

Oleh karena itu, menurut Farid, media dalam merespon isu harus memperhatikan kepentingan publik. Jangan sampai karena mengejar sensasi, sehingga mengesampingkan kepentingan publik, kemudian mengutamakan kepentingan pribadi atau perusahaan medianya.

“Media saat ini sudah terjebak pada satu agenda yang dibuat oleh orang lain,” katanya.

Bagaimana seseorang jurnalis membangun sebuah berita yang layak? Farid Gaban memaparkan sembilan elemen jurnalisme yang dirumuskan Bill Kovach dan Tom Roshentiel. Elemen jurnalisme ini meliputi jurnalis sebagai pencari kebenaran, loyalitas utama jurnalisme kepada warga negara serta disiplin verifikasi.

“Jurnalis harus menjaga independensinya, serta membuat dirinya sebagai pemantau independen dari kekuasaan,” kata Direktur PENA Indonesia ini.

Menurutnya, jurnalis memiliki tanggung jawab untuk mendapatkan semua fakta serta menyusunnya dalam sebuah konteks yang tepat. Tugas jurnalis adalah membuat verifikasi dan membuat filter berita yang penting dan berita yang tidak penting. Kualitas profesional seorang jurnalis juga dapat diketahui dari rasa ingin tahu yang besar, kematangan dan tanggung jawab, pengetahuan umum yang luas, kreativitas dan imajinasi serta kesabaran dan ketekunan.

“Memiliki keberanian, kejujuran dan integritas serta memiliki cara berpikir independen dan selalu mencari jawaban atau suatu gejala atau masalah,” ucap Farid.

Edisi cetak ada di Borneo Tribune, edisi 6 September 2009
Foto by Andi Fahrizal

Baca Selengkapnya...

Wednesday, September 2, 2009

Pertambangan Illegal Terus Terjadi

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Kerusakan lingkungan akibat pertambangan illegal, seolah tak pernah berhenti dari aktivitasnya. Meskipun pihak keamanan terus melakukan razia secara terus menerus.

Hal itu bisa dilihat dengan masih banyaknya kegiatan yang dilakukan. Kabar terbaru, Kepolisian Kalbar, kembali melakukan operasi terhadap para pelaku pertambangan illegal di Ketapang. Operasi dilakukan, karena kegiatan itu semakin berani dan banyak jumlahnya. Dalam operasinya, polisi tak tanggung-tanggung melakukannya. Sebanyak 100 personil Brimob, dan 40 personil Pol Air diterjunkan lakukan operasi.

Polda bahkan menutup jalan keluar dan masuk lokasi pertambangan dengan mendirikan Poskotis atau Pos Komando Taktis. Tak hanya itu, polisi juga menyekat distribusi BBM yang masuk ke lokasi pertambangan.

Dalam operasi tersebut, polisi juga keluarkan imbauan kepada pekerja tambang maupun masyarakat sekitar, yang terkait pertambangan illegal. Polda mendirikan papan peringatan, yang berisi sanksi, tentang pertambangan illegal di lokasi pertambangan.

Dari operasi yang dilakukan, polisi menangkap 13 tersangka. Menyita barang bukti ratusan mesin. Puluhan ton timah hitam.

Maraknya pertambangan liar, khususnya timah hitam, bukan tanpa sebab. Mahalnya timah hitam juga menjadi penyebab, kegiatan itu semakin massif dilakukan. Apalagi hasil akhirnya, dihargai dengan uang dolar. Semakin lengkap kegiatan itu dilakukan.

Ketapang memang daerah unik. Setelah illegal logging kayu yang melibatkan berbagai unsur aparat, mulai dari kepolisian, kehutanan, cukong, dan warga, kini kegiatan illegal juga merambah ke sektor tambang.

Repotnya lagi, karena massifnya kegiatan, polisi menurunkan aparat dari pusat, Mabes Polri hingga Kepolisian Kalbar, untuk lakukan operasi dan penanganan kegiatan itu. Turunnya aparat dari pusat dan provinsi, tidak akan dilakukan bila permasalahan yang terjadi berskala kecil, dan bisa ditangani tingkat Polres.

Semoga saja, langkah aparat kepolisian melakukan penertiban, juga diiringi dengan penegakan hukum, melalui sidang terhadap para pelaku yang sudah tertangkap. Dalam hal ini, pihak kejaksanaan dan kehakiman, harus melakukan sinergi yang baik. Sehingga kasus itu bisa ditindak dengan tegas, melalui pemberian hukuman yang setimpal pada para pelaku yang sudah tertangkap, dan barang bukti yang sudah menguatkan tindakan illegal tersebut.

Selain itu, semua unsur masyarakat, media, LSM, para akademisi, dan para stakeholder, mesti berikan perhatian pada proses persidangan yang bakal digelar. Agar, ada efek jera bagi para pelaku. Dan, bukan sekedar dagelan hukum, atau kepentingan orang tertentu, bagi kegiatan yang jelas merusak lingkungan tersebut.

Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 2 September 2009

Baca Selengkapnya...