Friday, December 12, 2008

Sandingkan Dua Penghargaan Jurnalistik

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak

Jurnalis Borneo Tribune, Muhlis Suhaeri, menyandingkan dua penghargaan bergengsi di bidang jurnalistik. Prestasi itu diperoleh, setelah pada pengumuman Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS), pada 11 Desember 2008, pukul 19-22.00 Wib, di Hotel Crown Plaza, Jakarta. Tulisan berjudul The Lost Generation, dinyatakan sebagai pemenang pada kategori investigasi sosial.

Tulisan yang sama juga telah mendapat penghargaan dari Mochtar Lubis Award (MLA), yang diselenggarakan pada 18 Juli 2008 di Jakarta. Naskah itu menang untuk kategori investigasi, dan mendapatkan hadiah Rp 50 juta dan tropi.

MLA dan AAS merupakan dua penghargaan yang prestisius yang diberikan bagi para jurnalis dari seluruh Indonesia. Dua penghargaan itu diselenggarakan, untuk menjaring naskah-naskah terbaik dari para jurnalis terbaik di negeri ini.


Penghargaan AAS dimulai pada 2006. Tahun ini merupakan penyelenggaraan ketiga. Pada 2008, panitia AAS menerima sebanyak 1.057 naskah dari 274 jurnalis dari 100 media di Indonesia. Dari jumlah itu, koran Kompas menempatkan enam finalis. Majalah Gatra lima finalis. Sindikasi Pantau Aceh dan Jakarta, sebanyak empat finalis.

Ada 19 kategori yang dilombakan pada AAS 2008. Karya dan naskah yang dinilai, tidak hanya bersifat baik dan memenuhi berbagai kriteria penulisan, tapi juga mesti memiliki dampak pada masyarakat. Karenanya, naskah yang masuk, mesti memenuhi berbagai syarat yang baik bagi sebuah tulisan.

Para juri di AAS terdiri dari orang yang sangat punya kapasitas dan kemampuan di bidangnya. Mereka terdiri dari orang-orang yang memiliki kemampuan di bidangnya. Ada jurnalis, ahli hukum, LSM, akademisi, dan lainnya. Penjurian juga dilakukan secara bertingkat. Ada juri semifinal dan final.

Juri semifinal adalah, Yosep Adi Prasetyo atau Stanley, jurnalistik. Ade Armando, komunikasi. Firman Ichsan, foto berita. Veven SP Wardhana, seni dan budaya. TD Asmadi, olahraga. Mohammad Ikhsan, ekonomi dan bisnis. Debra Yatim, sosial. Rocky Gerung, Politik. Adrianus Meliala, hukum.

Juri final terdiri dari, Rosihan Anwar, untuk kategori jurnalistik. Effendi Gazali, komunikasi. Oscar Motulloh, foto berita. Seno Gumira Ajidarma, seni dan budaya. Sumohadi Marsis, olahraga. Faisal Basri, ekonomi/bisnis. Francisia SSE Seda, sosial. Indria Samego, politik. Harkristuti Harkirsnowo, hukum.

Acara diiringi dengan pementasan tarian kontemporer dari Dalang Wayang Suket, Slamet Gundono. Beberapa sekuel tarian dibawakan dengan cerita tentang pers dan perkembangan demokrasi di Indonesia.

Effendi Gazali, Dewan Juri AAS dalam sambutannya sebelum memberikan pengumuman menyatakan, “Meskipun karya-karya yang masuk sudah cukup baik secara keseluruhan, namun masih ada beberapa yang belum lengkap. Seperti, kekuatan dan akurasi data. Kami berharap, hal ini dapat memotivasi para jurnalis, untuk terus meningkatkan kualitas karya-karyanya.”

Dalam seleksi yang telah dilakukan, akhirnya keluar sebagai karya terbaik adalah, Silvia Galikano dari Tabloid Koktail (Jurnal Nasional), kategori humaniora bidang seni dan budaya dengan karya berjudul, Misinya Menulis. Priyambodo dari Kompas, untuk kategori foto berita seni dan budaya. Karya berjudul Terbakar. Lasti Kurnia dari Kompas, kategori olah raga dengan karya berjudul Special Olympics: Berprestasi untuk Mengubah Dunia. Crack Palinggi dari Reuter untuk foto berita bidang olahraga dengan karya berjudul Untuk Indonesia. Dia juga menang pada kategori foto bidang sosial dengan karya berjudul Polusi. Marta Nurfaidah dari Harian Surya (Surabaya), untuk kategori humaniora bidang social dengan karya berjudul Kehidupan Pengungsi Sampit di Pasar Keputran.

Hendri Firzani dari majalah Gatra kategori reportase investigatif bidang hukum, dengan karya berjudul Nelayan Asing Menjarah Laut, Menebar HIV/AIDS. Irawan Santoso dari majalah Mahkamah, kategori humaniora bidang hukum dengan karya berjudul Merindukan Advokat Pejuang. Prasetyo Utomo dari ANTARA untuk kategori bidang hukum dengan karya berjudul, Sumpah Al-Amin. Arsadi Laksana dari Modus Aceh untuk kategori reportase investigatif bidang politik dengan karya, Tiga Tahun MoU Adakah yang Berubah?. Tjipta Lesmana dari majalah Teltra, kategori humaniora bidang politik dengan karya berjudul, Pers Nasional: Antara Roh dan Kinerja.

Wahyu Setiawan dari Koran Tempo, kategori foto bidang politik dengan karya berjudul Tekanan Politik. Yeni H. Simanjuntak dari Bisnis Indoonesia, kategori reportase investigatif bidang ekonomi/bisnis dengan karya berjudul, Menyoal Dana Investasi. Marlini Hasan Pontoh dari majalah Femina, kategori humaniora bidang ekonomi/bisnis dengan karya berjudul Meraup Triliunan Rupiah Lewat Gagasan. Achmad Ibrahim dari Associated Press untuk kategori foto bidang ekonomi/bisnis dengan karya berjudul, Hancur. Anastasia Putri dan Anton Sukma dari Liputan 6 SCTV, kategori karya jurnalistik televisi terbaik dengan karya berjudul, Profil: Salomina Berjuang Meraih Pendidikan.

Pada AAS 2008, dewan juri tidak memutuskan pemenang untuk kategori investigatif bidang seni dan budaya, serta bidang olahraga. Setiap pemenang mendapatkan uang sebesar Rp 18 juta, piala dan tropi. Setiap peserta yang naskahnya masuk sebagai finalis, juga mendapatkan uang Rp 3 juta.

AAS 2008, memberikan penghargaan khusus bagi Jurnalis Muda Berbakat. Penghargaan ini diberikan bagi jurnalis muda berusia dibawah 25 tahun, atau pengalaman jurnalistik kurang dua tahun. Pemenangnya Novia Liza dari Pantau Aceh. Juga, ada penghargaan khusus bagi media paling partisipatif dengan jumlah wartawan dan karya paling banyak diikutsertakan dalam AAS 2008, diraih Kompas dan RCTI.

Ketika memenangkan MLA dan AAS, ada sebuah keyakinan yang tertanam bahwa, naskah yang baik akan mencari jalannya sendiri. Kalimat itu yang selalu tergiang, ketika membuat tulisan. Begitu juga ketika membuat tulisan The Lost generation.
Naskah ini bercerita tentang pengungsian besar-besaran warga Tionghoa di sepanjang perbatasan, karena provokasi yang dilakukan militer Indonesia, terhadap warga Dayak pada 1967.

Ketertarikan menulis tema tentang ini, karena ketertarikan pribadi pada berbagai isu pada isu-isu kemanusiaan. Karenanya, ketika membuat penulisan ini, seolah tak berbatas halaman. Alhasil, naskah yang tersusun sebanyak 22.481 kata atau 161.451 karakter. Naskah ini membutuhkan 19 edisi penerbitan. Atau 11 halaman koran, ketika sekaligus dimuat.

Karenanya, pada sesi penyerahan piala AAS 2008, jurnalis senior di Indonesia, Rosihan Anwar berkata, ”Muhlis, tulisanmu panjang sekali.”

Tulisan ini tak terpikir bakal diikutsertakan dalam lomba penulisan. Tak ada sama sekali. Yang muncul ketika menulis hanya, bayangan para korban kekerasan di negeri ini. Mereka tak pernah mendapat keadilan, di negeri tempat mereka dilahirkan. Juga, tak ada pengadilan bagi para pelaku kekerasan yang telah dilakukan negara pada rakyatnya sendiri.

Aku menganggap, ini merupakan kemenangan bagi mereka yang pernah ditindas oleh kekuasaan negara. Dan, bagi mereka yang selalu berjuang bagi rakyat dan negerinya. Hasta la Victoria Siempre.□

Foto:

PENYERAHAN PIALA
Wartawan senior, Rosihan Anwar, menyerahkan piala kepada para pemenang kategori sosial pada acara Anugerah Adiwarta Sampoerna (AAS) pada 11 Desember 2008 di Hotel Crown Plaza, Jakarta. FOTO Fahri Salam/Freelancer

Edisi cetak 13 Desember 2008

Baca Selengkapnya...

Tuesday, December 2, 2008

Tato Bagi Masyarakat Dayak

Oleh: Muhlis Suhaeri

Sekelompok orang menari. Langkah dan geraknya ritmis. Mereka berderet dalam langkah-langkah teratur. Pakaian para penari khas dan unik. Ada sulaman, manik-manik dan rupa warna berpadu. Gelang dan giwang juga memenuhi tangan dan kaki penari.

Dua orang pemusik memegang Sape’. Ini jenis alat musik khas Dayak Kayaan yang bentuknya menyerupai gitar. Ada beberapa senar. Diantara yang menari, seorang perempuan tua, penuh tato di sekujur tangan dan kaki, ikut bergabung. Gerakannya masih lincah dan bersahaja. Ia seolah membimbing penari muda, mengikuti gerakannya.

Itulah sebuah siang, pada pertengahan bulan Juni di Rumah Betang, Jalan Sutoyo Pontianak. Hari itu, mereka berkumpul menggelar Gawai Dayak Kayaan. Setiap warga Dayak Kayaan di Pontianak, diharapkan hadir dalam acara itu. Berbagai upacara dan ritual adat digelar.


Dalam buku Mozaik Dayak, Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat, selain di Kalbar, subsuku Dayak Kayaan juga ada di Kalteng, Kaltim dan Sarawak, Malaysia. Subsuku Dayak ini cukup terkenal bagi kalangan peneliti.

Dalam masyarakat Dayak Kayaan, ada tiga tingkatan strata sosial. Hipi, bangsawan atau setingkat raja. Panyin, orang bisa. Dan, Diivan atau budak. Strata sosial ini, punya kemiripan dengan Dayak Taman, Lau’, dan Tamambalo. Namun, dalam perkembangannya, strata Diivan, sudah ditiadakan.

Dayak Kayaan memiliki budaya dan kesenian yang cukup dikenal. Tak hanya bagi kalangan masyarakat Dayak, juga masyarakat diluar Dayak. Salah satu contoh adalah seni tato. Seni tato dinamakan Tedak. Ini untuk kata benda. Kalau kata kerjanya, Nedak. Seni tato bagi masyarakat Dayak Kayaan, terutama dilakukan bagi perempuan.

“Dalam adat dan kesenian kami, perempuan harus ditato,” kata Ny Berdanetha JC Oevaang Oeray. Berdanetha perempuan Dayak Kayaan, kelahiran Kecamatan Putussibau, Kapuas Hulu. Ia istri Johannes Chrisostomus Oevaang Oeray, gubernur pertama dari suku Dayak. Berdanetha menikah dengan Oevaang Oeray pada umur 14 tahun. Namun, ia tak tahu persis tanggal kelahirannya. Ia memiliki tato di kedua tangan dan kakinya.

Dulu, ia tinggal di Rumah Betang di Tanjung Kuda, Putussibau. Rumah tradisional masyarakat Dayak bentuknya memanjang. Karenanya, disebut Rumah Betang atau Rumah Panjang. Seperti kebanyakan rumah Betang Dayak, bangunan rumah terletak di pinggir sungai. Yaitu, di Sungai Mendalam.

Masyarakat Dayak hidup secara komunal. Rumah Betang Tanjung Kuda, ada 90 pintu. Rumah dibangun dari kayu Belian. Ini jenis kayu paling keras dan bisa tahan ratusan tahun, meskipun terendam dalam air sekalipun.

Sayangnya, rumah itu tak ada lagi. Rumah terbakar, gara-gara dua remaja sedang memasak di dapur, dan tidak menjaganya. Ia tak ingat pasti, tahun berapa terbakar. Yang pasti, setelah Jepang masuk dan sebelum kemerdekaan. Berarti antara 1942-1945. Menurutnya, rumah itu bagus, besar dan kuat. Paling bagus diantara rumah betang lainnya.

Bagi perempuan Dayak Kayaan, ketika usia menginjak usia 10 tahun, mereka harus ditato. Tato bagi wajib hukumnya. Perempuan yang tidak ditato, dianggap belum dewasa. Kalau tak ditato, mereka tak dianggap dalam lingkungan sosial masyarakat di sana. “Akan diledek dan jadi ejekan,” kata Berdanetha.

Bambang Bider, seorang aktivis Dayak dari LSM Heart of Borneo menyatakan, tato semacam representasi spiritualitas terhadap yang maha tinggi. Semacam tuntunan bagi mereka, ketika meninggal dunia. “Tato menjadi peta dan jalan menuju Apo Lagam atau surga,” kata Bider.

Motif tato Dayak Kayaan, menunjukkan kelas sosial suatu masyarakat. Seorang Hipi atau bangsawan, tentu berbeda dengan kelas sosial biasa, ketika membuat tato. Begitu juga motif yang dipakai.

D. Uyub, lelaki Dayak Kayaan kelahiran Sungai Mendalam, menyatakan bahwa motif tato tidak saja berfungsi sebagai penerang dalam perjalanan di alam baka, hiasan tubuh agar tampak cantik, tapi juga untuk melihat strata sosial. Perempuan itu dari kasta Hipi atau masyarakat biasa. penggunaan motif tato pada kaum perempuan Dayak Kayaan, harus sesuai dengan tingkat strata sosialnya. Tujuannya, selain membedakan tingkat status sosial, juga memiliki makna religi tertentu.

Untuk melihat kasta perempuan Dayak Kayaan, bisa dilihat dari jenis dan motif tatonya. Perempuan Hipi menggunakan beberapa motif. Pertama, Usung Tingaang. Jenis motif ini berbentuk paruh burung Enggang. Ini burung endemik di Kalimantan, yang melambangkan tanda maran atau mulia. Kedua, Kajaa’ Lejo. Bentuknya seperti bekas telapang kaki harimau. Motif ini melambangkan kekuatan dan kegagahan. Kegagahan terlambangkan dengan kehebatan seseorang. Tapak harimau sudah menginjak paha, tapi tidak berbahaya. Karenanya, motif Kajaa’ Lejo menjadi motif tertinggi, pada kalangan perempuan Hipi. Ketiga, Usung Tuva’. Tuva’ sejenis tumbuhan yang akarnya bisa dipakai menuba atau meracun ikan. Motif ini melambangkan kekuatan jiwa, bagi seorang Dayung atau orang yang memimpin doa secara adat. Motif serupa angka delapan atau kurfa. Keempat, Usung Iraang. Motif ini berbentuk piramida. Memiliki ujung tajam. Makna motif, diyakini bisa memberi semangat tinggi, dan kemampuan menganalisa berbagai aspek sosial kehidupan manusia. Kelima, Tena’in Ba’ung. Bentuk motif ini melingkar bulat. Persis lingkaran obat nyamuk bakar. Motif ini mengambil makna usus ikan buntal. Ini sebagai tanda, perempuan siap berkeluarga, dan siap hamil. Ikan Ba’ung perutnya besar, persis perempuan hamil. Keenam, Iko’. Motif ini berbentuk gelombang. Digunakan sebagai batas antara motif satu dengan lainnya. Motif Iko’ tak punya makna khusus.

Motif tato perempuan Panyin, bisa menggunakan motif perempuan Hipi, selain motif Kajaa’ Lejo dan Usung Tingaang. Dua motif itu tak bisa dipakai perempuan Panyin. Akibatnya bisa celaka.

“Jika menggunakan motif tato sembarangan, diyakini akan mendapatkan mala petaka parit,” kata Uyub. Orang tersebut seluruh kulit tubuhnya akan berwarna kuning. Muka tampak pucat, serta perut besar. Penyakit itu diyakini bakal diderita seumur hidup.

Letak tato biasanya pada bagian tangan, kaki dan paha. Letak motif Usung Tinggang pada perempuan Hipi, terletak di paha kiri dan kanan. Tepatnya di atas lutut. Motif Kajaa’ Lejo, di paha kiri dan kanan bagian depan. Motif ini biasanya bercampur dengan Usung Tuva’ dan Usung Iraang, yang juga bisa dipakai kaum Panyin.

Letak motif tato perempuan Panyin, ada di beberapa bagian. Usung Tuva’ terletak di paha kiri dan kanan. Tena’in Ba’ung biasanya dipakai sebagai pembatas dengan motif Usung Tuva’, terletak di paha bagian belakang. Usung Iraang dipakai sebagai pembatas antara motif satu dengan lainnya, bercampur dengan Usung Tuva’dan biasa disebut Iko’. Terletak pada paha bagian depan. Bermakna menandakan ujung bagian yang tajam. Hal itu sesuai dalam Tekna Lawe Idaa Beraan, atau cerita sastra Lawe Idaan Beraan. Lawe adalah seorang tokoh dalam cerita Idaan Beraan.

Peletakan motif Usung Tuva’, Tena’in Ba’ung, Usung Iraang dan Iko’, pada kalangan Hipi bisa sama dengan kaum Panyin.

Pada usia 10 tahun, perempuan Dayak Kayaan ditato pada bagian kaki. Biasanya dari lingkaran engkel hingga betis atas. Ada juga yang hingga ke paha. Kaki bagian jari dan bagian atas juga kena tato. Setelah 12-13 tahun, mulai ditato pada bagian tangan.

Tato dibuat ketika tidak ada kegiatan. Bukan pada musim berladang. Tukang tato biasanya perempuan. “Mereka memiliki kemampuan yang diturunkan secara turun temurun. Tidak boleh sembarangan orang,” kata Bernadetha.

Alat membuat tato terbuat dari kayu. Ada tangkai pemukul dari kayu. Namanya Lutedak. Di ujung kayu ada jarum tato. Jarum dicelupkan ke tinta, setelah itu mengikuti ukiran yang sudah ada. Motif tato berupa cetakan di kayu. Kulit yang akan ditato, dicap dulu dengan alat cetakan ini. Setelah itu, jarum tato mengikuti gambar. Cetakan tato disebut Klinge. Ukuran Klinge sudah paten.

Tinta untuk membuat tato, dikumpulkan dari asap lampu pelita. Lampu ini bahan bakarnya tanah, dan ada sumbu pada ujungnya. Asap yang keluar dari ujung sumbu ditampung. Ketika dipakai, asap dicampur dengan air. Meski dari asap pelita, tapi kualitasnya bagus. Pernah suatu ketika, Bernadetha tersiram air panas. Namun, tatonya tidak apa-apa.

Tak ada pantangan ketika orang ditato. Orang yang ditato, tak boleh bicara. Alasannya, dikhawatirkan tato tak jadi dan tak tuntas, karena melanggar aturan. Ibarat orang sedang menggoreng dan mempersiapkan sebuah makanan, tidak boleh diajak bicara. Bagian yang sudah ditato, dibersihkan di sungai, untuk hilangkan kotoran dan daki.

“Meskipun baru ditato, tapi tak bisa hilang, saat dibersihkan di sungai. Heran, aneh juga,” kata Berdanetha.

Setelah ditato, biasanya bagian itu terasa bengkak. Tapi, tak menimbulkan inveksi. Obat untuk tato, beras yang disangrai atau ditumbuk halus. Lalu, beras dicampur dengan akar Bado. Ini jenis tumbuhan merambat. Cara membuatnya, akar ditumbuk dan dicampur dengan beras. Lalu, diurap dan dibalurkan ke tubuh yang telah ditato. Setelah itu, dibalurkan, seperti bedak dingin.

Tato paling sakit di kaki bagian atas, karena langsung kena tulang. Bila tidak kuat, akan menangis. Tangisan ini dilakukan sambil bernyanyi. “Hehehe......Istilahnya sambil bedayu atau menyanyi,” kata Berdanetha. Lagunya seperti menangisi orang yang meninggal.

Sekarang ini, tato tak dipakai lagi pada perempuan Dayak Kayaan. Hanya orang tua saja yang masih memikiki tato. Sebabnya? Faktor pendidikan dan pergaulan, membuat perempuan Kayaan tak lagi membuat tato di tubuhnya. “Mosok sekolah di kota, tapi lain dari yang lain,” kata Berdanetha.

Tak adanya Rumah Betang bagi komunitas masyarakat Dayak Kayaan, setidaknya turut membuat tradisi dan seni tato turut menghilang.

Selain masyarakat Dayak Kayaan, secara tradisi, tato juga dikenal di kalangan masyarakat Dayak Iban, dan Kenyah, kata Gerar Gabriel Martinus Daria.

Menurutnya, tato bagi masyarakat Dayak, lebih kepada nilai seni. Keberadaan tato sudah ada ratusan tahun lalu, seiring munculnya seni ukir pada masyarakat Dayak.

Gerar dari Kecamatan Benua Martinus di Kapuas Hulu. Ia membuat tato sejak usia 30 tahun. Menurutnya, tato merupakan tanda kebanggaan, ciri khas, dan tak ada unsur magis. Tapi, tato tidak boleh sembarangan. Misalnya, tato Naga. Kepala naga harus menghadap ke bawah. “Supaya tidak makan diri sendiri,” kata Gerar.

Dalam bahasa Dayak Martinus, Naga disebut dengan Naboaou atau mahlug penjaga air. Supaya hari tidak hujan, maka minta pertolongan pada Naboaou.

Bagi Dayak Iban, tato ada di semua badan. Selain Naga, burung Enggang atau Rangkong juga sering dibuat untuk motif tato. Terutama bagi masyarakat Dayak Iban. Mereka lebih banyak ke Sayap Enggang. Ini melambangkan keagungan. Burung Enggang merupakan simbol kesetiaan. Selama betina bertelur dan mengerami telornya, sang jantan akan selalu berada di depan sarang yang terbuat dari lubang pohon, dan mengantarkan makanan bagi betina.

Selain Enggang, gambar tato yang selalu ada di Dayak Iban adalah, Bunga Terong. Gambar ini selalu ada di dada kanan dan kiri. Ini lebih kepada nilai artistik. Namun, motif tato tidak spesifik, harus dipakai siapa. Misalnya saja Iban, bisa ditato apa saja, karena motifnya itu-itu saja.

Tato membuat ciri khas dari suatu suku orang Dayak.

Motif Dayak Kenyah berupa akar-akaran, ular dan segala binatang. Tato Dayak Kayaan lebih halus, kecil dan lebih rumit. Motifnya terutama akar-akaran. Motif akar selalu dipakai, karena orang Dayak tidak bisa dipisahkan dengan hutan dan isinya. “Jadi, aneh saja bila orang Dayak dianggap merusak hutan. Kehidupan mereka tidak bisa dipisahkan dengan hutan,” kata Gerar. Simbol-silmbol yang ada itulah, kemudian dimunculkan di tato. Simbol lain adalah, babi, ular dan anjing.

Tumbuhan akar, rebung, dan pakis, juga sering dijadikan motif untuk tato. Resam bentuk daunnya seperti sisir tali, dan bisa dibuat untuk kalung. Kantung Semar juga simbol yang bagus untuk membuat tato.

“Pada dasarnya, membuat tato seperti membuat motif pada Gunungan di Wayang Kulit. Ini ibarat pohon kehidupan,” kata Gerar. Ada pohon, binatang, berjajar hingga naik ke atas, seperti gambar Gunungan.

Dulu, membuat tato dengan menggabungkan 5-7 jarum menjadi satu. Setiap jarum dibatasi dan ada tandanya, setiap kedalamannya. Butuh waktu tujuh jam sampai satu hari. Tergantung pembuatannya. Namun, membuat tato biasanya tidak sekaligus. Yang paling berat adalah membuat arsir.

Orang membuat tato dari tinta Cina. Tinta ini dipakai karena sangat lengket. Orang Dayak menyebutnya Tawat. Terkadang, orang menggunakan arang batu baterei. Caranya, baterei arang dihancurkan dengan air. Namun, bahan ini, warnanya kurang bagus dan pudar.

Dulu, ada upacara adat untuk membuat tato. Namanya, Adat Batato. Adat ini lebih memohon keselamatan, sehingga ketika membuat tato tidak salah. Adat Iban, Kayaan, Kenyah, hampir sama. Dalam upacara adat ini, keluarga yang bakal ditato, menyembelih babi atau ayam. Ini merupakan bentuk dari syukuran. Di Rumah Betang, keluarga yang akan membuat tato, mengadakan syukuran, dan memberitahu komunitas keluarga lain.

Membuat tato tak sekali jadi. Upacara dilakukan tak sampai satu hari lamanya. Upacara dilakukan sekali saja, ketika orang itu akan membuat tato. Tato merupakan proses yang terus menerus. Tak sekali jadi.

Sekarang ini, ketika membuat tato, unsur adatnya sudah hilang. Namun, ada kejadian yang membuat orang bertato, dianggap preman. Zaman itu disebut Petrus atau penembak misterius. Ini era 80-an. Begitu juga dengan tradisi telinga panjang bagi perempuan Dayak di Rumah Betang. Pemerintah menganggap hal itu tidak bagus, sehingga tidak dibina.

“Sekarang ini, ada kecenderungan anak muda Dayak memiliki tato. Ada kebanggaan kalau memiliki tato,” kata Gerar.

Pada berbagai acara Gawai Dayak, selalu dilakukan pembuatan tato. Sifat dan motif tatonya kontemporer. Tato jenis ini, dasarnya tetap. “Proses tato juga berkembang sesuai dengan proses kehidupan,” kata Gerar.

Namun, sekarang ini ada yang rancu dan tidak pas. Misalnya, orang Dayak membuat tato Gergasi atau Barong dengan lidah menjulur. Lidah menjulur untuk barong dari Bali. Sekarang ini, pertatoan sudah mulai menjadi tren, seperti zaman dulu. “Yang pasti, tato Dayak tidak identik dengan preman,” kata Gerar.

Tak hanya orang Dayak biasa, tato juga melekat pada seorang biarawan. Bruder Stephanus Paiman, misalnya. Dia berasal dari Dayak Kandayatn. Biasa dipanggil Bruder Step. Ia dari Ordo Kapusin.

Menurutnya, tato bila badan tidak kuat, bisa demam dua minggu. Apalagi kalau tato di leher, orang bisa tidak sanggup makan selama dua minggu.

Orang tua tidak mempermasalahkan, ketika dia membuat tato. Mulai dari kakek, kakak, sudah biasa membuat tato.

Bruder Step ayahnya dari Dayak Kandayatn. Ketika zaman mengayau atau berburu kepala masih berlaku, kalau orang selesai mengayau, tangan kanannya diberi tanda tato. Bentuknya bulat dan di tengahnya ada dua garis silang. Lebar lingkaran sekitar dua senti meter. Tiap dapat satu kepala, bulatan itu bertambah, hingga melingkari tangan, seperti gelang. Lingkaran awal berada di ujung pergelangan tangan. Satu lingkaran bisa memuat 12 lingkaran. Setelah penuh, tanda lingkaran itu dibuat ke atas, atau arah siku. Kalau sudah penuh, harus ke atas lagi.

Bruder Step memiliki kakek bernama Kek Uban di Bantanan, Kabupaten Sambas, perbatasan dengan Biawak, Sarawak. Tatonya berbentuk gelang. Dari ujung tangan hingga ke siku.

Sebelum masuk biara, Bruder Step sudah membuat tato. Sejak SMU, mulai membuat tato berciri khas Kalimantan. Alasan ia membuat tato, karena unsur seni. Pertama kali membuat tato, antara 1974-1975. Tato pertamanya bergambar kepala Harimau di dada kanan. Ini melambangkan keberanian dan keperkasaan. Dia mengakui, dulunya suka berkelahi.

Gambar kedua burung Garuda terbang di dada kiri. Ini melambangkan kebebasan.
Ada motif Dayak Kandayatn dibuat di kaki. Di tangan kanan, ada burung Enggang yang dikitari Pakis. Di tangan kiri ada gambar Kalajengking dikitari pakis.

Membuat tato dengan motif binatang berbisa, memiliki arti tersendiri. Orang percaya, tato Kalajengking atau binatang berbisa lainnya, kalau pemiliknya memukul, bisa berakibat fatal. Apalagi ada tahi lalat di tangan. Ceritanya, bakal berbahaya bila memukul orang.

Namun, bila ada tato Ular, Kalajengking atau binatang berbisa lainnya, bila masuk ke wilayah pedalaman, harus izin dulu dengan masyarakat setempat. Tujuannya, supaya tidak diuji atau dicoba masyarakat. Misalnya, masyarakat mengirim Ular, Kalajengking atau lainnya.

Ketika di biara, Bruder Step memperbanyak tatonya. Alasannya, hal itu tidak bertentangan dengan konstitusi dan aturan hidup di Kapusin. Tidak ada ajaran gereja yang melarang hal itu.

Bagi Bruder Step, membuat tato berhubungan dengan sesuatu yang ideologis. Di Ordo atau kehidupan biarawan gereja, ada yang namanya mendera diri. Sejarahnya, pada abad pertengahan, banyak pengikut dari Ordo Fransiskus, hidup mendera diri dengan cambuk. Mereka ingin merasakan penderitaan Yesus dalam perjalanan menuju Golgota.

“Saya membuat tato, karena ada darah yang saya bayangkan, adalah penderitaan Yesus,” kata Bruder Step. Ia menerapkannya dengan tato. Ketika masuk biara, ia membuat kepala Yesus dengan hiasan Mahkota Duri. Gambar itu ada di bagian perut.

Sekarang ini, ada beberapa imam yang punya tato di tubuh. Cirinya khas. Yesus Sang Gembala. Gambarnya, Yesus dengan tongkat dan dua anak domba.

Bruder Step punya tato gambar salib di pangkal tangan kanan. Gembala di dada kanan atas. Di punggung ada gambar naga dan burung Phoenix.

Suatu ketika, ada ada Master General dari Roma, Italia, John Chardou datang ke Kalimantan Barat pada 2003. Ia berkata, “Step satu-satunya Kapusin yang bertato di seluruh dunia.”

Ada beberapa pengalaman unik, dengan tato di tubuhnya. Pada 2003, Bruder Step dan Romo Ignatius Sandyawan Sumardi SJ, menjemput TKI yang diusir dari Malaysia di Tanjung Priok. Pelabuhan ini terkenal dengan para preman dan calonya. Karenanya, Bruder Step diminta maju sebagai garda depan oleh Romo Sandyawan.

Pengalaman lainnya, ketika naik bis, tidak ada penumpang yang berani duduk di dekatnya. Tapi di sisi lain, ia kerap diincar Buser atau tim buru sergap polisi.

Begitu juga ketika ia sedang jalani pendidikan Novisat di Parapat, Medan, selama satu tahun. Setelah itu, pendidikan filsafat di Pematang Siantar, Medan, selama lima tahun. Ia tinggal di asrama selama jalani pendidikan.

Di Sumatera, ada anggapan umum, orang bertato dianggap preman.

Suatu ketika ia menuju kota, ada keperluan. Saat hendak kembali ke asrama, ia kehabisan uang. Ia cari akal. Apa boleh buat, ia simpan dulu kalung rosarionya, dan memasukannya ke kantong celana. Lalu, ia membuka dua kancing bajunya, sehingga tatonya terlihat.

Kebetulan, bangunan asrama berada dekat dengan jalur angkutan. Sehingga begitu turun, ia bisa mengambil uang di asrama. Saat itu, angkutan menggunakan colt pick up, Mitsubishi Colt 300.

Setelah angkutan sampai di dekat asrama, Bruder Step bicara pada kernetnya, “Tunggu sebentar, saya ambil uang di asrama.”

Tapi, sang kernet malah tidak mau, dan langsung minta supir untuk tancap gas. Meninggalkan tempat itu.□

Foto-foto by Muhlis Suhaeri

Baca Selengkapnya...

Monday, December 1, 2008

Mengenalkan Realitas

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak

Si Budi kecil kurus menggigil
Menahan dingin dengan jas hujan
Di suatu sore Tugu Pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu.....

Setiap mendengar lagu Sore Tugu Pancoran dari Iwan Fals, aku selalu teringat pada si kecil yang sedang bermain di rumah. Lagu itu bercerita tentang si Budi, anak kecil yang harus berjualan koran, untuk membiayai hidup dan sekolahnya. Budi selalu ngetem di sekitar Tugu Pancoran, Jakarta.


Sebagai orang tua yang sedang memiliki anak kecil, setiap mendengar lagu itu, selalu membuat hatiku serasa dikoyak-koyak. Kenapa harus ada anak kecil berkeliaran di jalan-jalan, untuk mencari sesuap nasi. Padahal, seumuran dia harus bersekolah dan menikmati masa kecil bersama teman-temannya. Pada dunianya.

Namun, inilah realitas. Apapun bentuk dan wujudnya, realitas memang cenderung ekstrem. Ia punya dua sisi yang seolah bisa saling memotong. Berseberangan. Tapi selalu duduk dan berdiri sejajar.

Ada kebahagiaan, tentu ada duka. Ada persahabatan, pasti ada penghianatan. Ada penghargaan, mungkin cacian.

Semua bentuk atau kata sifat itu, selalu melekat. Meski saling bersimpangan realitasnya, tapi ia selalu digunakan sebagai satu kata, untuk menemukan suku kata lainnya. Aneh memang. Begitulah realitas.

Karenanya, aku selalu ingin mengenalkan sebuah realitas pada anak-anakku kelak, sebagai sesuatu yang harus ditelaah. Dikenal. Didekati. Agar, ia tak trauma ketika mengalami suatu realitas yang membahayakan. Atau, ia tak lupa diri, ketika mendapatkan suatu kesuksesan. Aku akan selalu mengajarkannya, kembali ke Titik Nol. Kembali ke asal. Sehingga, ia tak perlu sombong dengan prestasi yang telah diraih.

Aku juga akan mengajak anak-anakku, untuk jalan-jalan ke berbagai lorong yang kotor dan menjijikkan. Agar, ia tahu sebuah realitas kekumuhan di kotanya. Atau, mengajaknya makan di Warung Tegal (Warteg) atau warung emperan. Agar, ia tahu masyarakat kecil yang berada di sekitarnya. Tapi, dia juga akan aku ajak untuk makan di restoran paling mahal sekalipun, agar ia tak minder dan rendah diri dalam bergaul. Juga, mengenalkan sebuah dunia lain.

O...O...ternyata, anak-anakku masih kecil. Ah, rasanya sudah tak sabar untuk melakukannya.□

Edisi cetak ada di Borneo Tribune 1 Desember 2008


Baca Selengkapnya...

Sunday, November 9, 2008

Koordinator Koalisi Resmi Tersangka

Tiga Wartawan Dipanggi Jadi Saksi

MAKASSAR, Harian Fajar
Koordinator Koalisi Jurnalis Tolak Kriminalisasi Pers, Upi Asmaradana resmi ditetapkan tersangka oleh pihak Polda Sulsel. Upi yang juga mantan Kontributor Metro TV itu disebut telah melakukan tindak pidana mengadu secara memfitnah dan atau memfitnah dengan tulisan.

Penetapan tersangka Upi diketahui setelah pihak Direktorat Reserse Kriminal Polda Sulsel memanggil tiga wartawan Fajar sebagai saksi dalam kasus
tersebut. Ketiga saksi dalam surat pemanggilan itu diinisialkan; Sil, Her, dan Lis.

Surat panggilan bernomor polisi: S.Pgl/666/XI/2008/Ditreskrim dilayangkan ke redaksi Fajar 7 November untuk menghadap ke penyidik AKP Anwar, SH pada Senin 10 November 2008.


Upi yang dihubungi kemarin, mengaku kaget dengan penetapannya sebagai tersangka. “Saya tidak pernah juga mendapat pemberitahuan sebagai tersangka. Memang yang lalu saya datang ke Polda sebagai saksi,” katanya.

Pengamat Pers dari Unhas, Dr Hasrullah menyayangkan penetapan Upi sebagai tersangka. Menurut Hasrullah, wartawan dan polisi adalah dua profesi yang sifatnya melayani masyarakat. "Wartawan memberi informasi yang konstruktif dan polisi memberi perlindungan kepada masyarakat," katanya saat dihubungi malam tadi.

Hasrullah juga mempertanyakan pihak Polda melakukan penetapan tersangka terhadap Upi. “Mestinya Polda memperjelas akar persoalannya, apakah terkait dengan
pernyataan Upi di media atau karena orasinya pada aksi demo,” tandasnya.

Dia mengungkapkan, jika Upi meliput atau menulis berita dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, polisi tidak berhak menjadikannya tersangka. Pasalnya, hal tersebut telah melanggar UU Pers No 40 tahun 1999 mengenai hak jawab. Isi UU ini dimana seseorang diberitakan nama baiknya tercemar, maka yang bersangkutan diberi hak untuk menjawab.

"Kasus Upi yang dijadikan tersangka ini sangat berbahaya. Karena itu sama saja
membatasi kebebasan berpikir dan berpendapat seseorang," tandasnya. Hal tersebut, lanjutnya, sama halnya melanggar deklarasi PBB mengenai hak asasi manusia (human rights).

Padahal, wartawan pun memiliki hak berbicara. "Jika ini dibiarkan, sama saja dengan pembunuhan karakter wartawan. Makanya jangan semena-mena membunuh pilar demokrasi," tambah Hasrullah.

Fungsi pers sebagai fungsi survilance bertugas membeberkan kesewenang-wenangan. Jika ini tidak dibiarkan, maka terjadi pembredelan pers karena wartawan tidak punya hak lagi menyampaikan informasi.

Fungsi wartawan, kata Hasrullah, ada dua. Pertama, sebagai peliput yang memiliki intelektual dan kecerdasan. Kedua, sebagai intelijen yang mencari berita lebih dalam dan menjadi spionase.

"Jika Upi dianggap mencemarkan nama baik sementara tidak ada bukti yang kuat,
dia tidak layak dianggap tersangka. Kalau ini terus dibiarkan, saya khawatir demokrasi dan fungsi pers di Makassar tidak jalan," tegas Hasrullah.

Sementara, dalam penetapan Upi sebagai tersangka, seharusnya menggunakan UU Pers dan bukan UU KUHP. "Kajian masalah ini harus menggunakan UU Pers yakni UU No 4 tahun 1990. Kecuali kalau sudah bersentuhan dengan masalah kriminal barulah menggunakan KUHP," tambahnya.

Terkait penetapan Upi selaku tersangka, Kabid Humas Polda, Kombes Hery Subiansauri mengaku belum tahu menahu. Ia malah balik menanyakan sumber informasinya. Saat dijelaskan bahwa itu berdasarkan surat pemanggilan saksi, Hery menyarankan untuk menghubungi langsung Kasat Reskrim Polda Sulselbar, Kombes Sobry. Hanya sayangnya, Sobry yang coba dikonfirmasi tak bisa tersambung. HP-nya aktif namun tidak diangkat. (m02-amr)

(berita ini dikutip dari Harian Fajar Edisi 9 November 2008).
Gambar diambil dari profile.myspace.com. Judul RED FLAG.

Lagi-lagi Kriminalisasi Pers......Lawan!


Baca Selengkapnya...

Wednesday, November 5, 2008

Berharap Perubahan dari Obama

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Change. Demikian singkat dan sederhana kalimat itu. Namun, efeknya sangat luar biasa. Kalimat itulah yang selalu menyertai kampanye yang dilakukan kandidat dari Partai Demokrat di Amerika Serikat (AS), Barack Hussein Obama (47).

Masyarakat di AS sudah jengah dengan berbagai kebijakan George Bush dari Partai Republik, yang cenderung agresor dan membahayakan perdamaian dunia. Perang di Afganistan dan Irak, jadi contoh. Perang itu menguras anggaran pertahanan AS. Ekonomi tak terbangun dengan baik. Akibatnya, muncul krisis dalam pemerintahan George Bush. Puncaknya adalah, krisis finansial atau keuangan yang melibas struktur keuangan di AS. Krisis ini juga menghantam keuangan dunia.


Karenanya, rakyat Amerika ingin perubahan. Ini merupakan syarat utama dalam tatanan sebuah sistem, bila terjadi kejenuhan dan kemandegan. Agaknya, kebutuhan itulah yang dilihat dengan baik oleh Obama. Dan, program serta kampanye yang dilakukan, sesuai dengan apa yang dibutuhkan rakyat AS.

Dalam berbagai jajak pendapat dan pemilihan pendahuluan, Obama lebih unggul dari John Mc Cain. Popularitas Obama tidak sekali jadi. Untuk menjadi kandidat dari Partai Demokrat, ia harus bersaing ketat dengan Hillary Clinton. Senator dari Illinois ini, menunjukkan konsistensi. Meski pada kampanye awal, ia sempat tertinggal. Pelan tapi pasti, akhirnya Obama bisa meraih suara dan menggungguli Hillary.

Pemilihan presiden 2008 di AS, menorehkan sejarah baru di AS. Bila Obama terpilih, ia akan menjadi presiden pertama dari kulit hitam. Begitu juga bila Mc Cain terpilih. Dia akan menjadi presiden tertua dalam sejarah AS. Umurnya 72 tahun. Dari segi partisipasi pemilih, pemilihan ini mencatat rekor tertinggi sejak 1920. Tingkat partisipasi sebesar 73,5 persen.

Di Indonesia, publik tak kalah bergairahnya. Obama pernah tinggal di Indonesia. Ayah tirinya juga dari Indonesia. Keterkaitan sejarah dan psikologi ini, tentu akan berpengaruh terhadap kebijakan luar negeri Amerika terhadap Indonesia, bila Obama terpilih kelak.

Tak hanya itu. Obama juga representasi dari sebuah proses multikulturalisme. Apalagi dengan kondisi sosial masyarakat Amerika, yang dibangun dari beragam budaya dan bangsa. Proses ini tentu bagian penting dari perjalanan sebuah bangsa.

Kini, semua mata tertuju pada pemilihan presiden AS, yang dianggap sebagai barometer dunia dalam proses demokrasi. Semua berharap, hasil yang didapat, bakal membawa proses perubahan yang lebih baik, bagi tatanan dunia.

Harapan itu, ada pada Obama.□

Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 5 November 2008
Gambar diambil dari www.creativeriview.co.uk

Baca Selengkapnya...

Tuesday, November 4, 2008

Istri Imam Samudera

Zakiyah “Prenjak” Darajad

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Entah mengapa, ingatanku tiba-tiba menyambar pada sebuah sosok. Teman yang tak pernah kutemui selama 18 tahun lamanya. Gambaran itu semakin nyata, terutama ketika menyaksikan layar televisi yang menayangkan, jelang eksekusi tiga terpidana mati Bom Bali: Amrozi, Ali Ghufron dan Abdul Aziz alias Imam Samudera.

Ya, gambaran dan sosok itu, bernama Zakiyah Darajad. Ia, istri Imam Samudera. Aku dan Zakiyah sekolah di SMAN 1, Jepara. Kami angkatan 1987. Lulus pada 1990. Sekolah kami berada di Jalan KS Tubun, Jepara. Pas di persimpangan jalan. Ini sekolah favorit.


Dua orang lulusannya, termasuk aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar Kopassus. Namanya, Rahardja Waluyo Jati dan Mugiyanto. Keduanya, kakak kelas dan adik kelas. Aku kenal keduanya di Jakarta. Sama-sama aktif di organisasi.

Aku dan Zakiyah satu kelas hingga tiga tahun lamanya. Murid tingkat pertama di SMA kami, ada delapan kelas. Kami duduk di kelas I-6. Wali kelasnya bernama, Endang. Ia mengajar biologi. Satu kelas bervariasi jumlah muridnya. Ada 40-45 murid tiap kelasnya. Kelas dua dibagi menjadi A1, ada dua kelas. Ini jurusan IPA-Fisika. A2, ada dua kelas. Ini jurusan IPA-Biologi. A3 ada tiga kelas. Ini jurusan Ekonomi. A4, ada satu kelas. Ini jurusan Bahasa.

Menginjak kelas dua, Zakiyah mengambil jurusan biologi atau A2. Kebetulan ada dua kelas, IIA2-1 dan IIA2-2. Zakiyah duduk di kelas IIA2-2. Satu kelas denganku. Guru walinya Widodo, guru biologi. Kelas tiga masih satu kelas di IIIA2-2.

Zakiyah berpostur kecil. Tingginya sekitar 150 cm. Tak gemuk dan kurus. Proporsional untuk tubuh seukuran itu. Rambutnya yang sebahu, selalu dikepang dua. Hampir tiga tahun lamanya, aku lihat tak ada perubahan dalam penampilan rambutnya. Selalu dikepang dua.

Begitu juga model seragam sekolahnya. Baju lengan pendek warna putih itu, selalu dikancingkan hingga ke leher. Bagian bawah mengenakan rok abu-abu. Dari segi penampilan, Zakiyah termasuk orang yang sederhana. Atau, mungkin konservatif. Tak seperti anak seusianya, yang selalu ingin tampil modis.

Itu terlihat dalam kesehariannya di sekolah. Di sekolah kami, mulai hari Senin hingga Kamis, murid mengenakan seragam abu-abu dan baju putih. Hari Sabtu, mengenakan seragam coklat Pramuka. Pada hari Jumat, kami tak mengenakan seragam sekolah. Siswa mengenakan pakaian bebas. Boleh pakaian apa saja. Pada hari itu, suasana sekolah marak sekali. Gaul banget pokoknya.

Pukul 07.00 Wib, semua murid dari kelas satu hingga kelas tiga berkumpul di lapangan sekolah. Kami melakukan senam pagi secara massal. Sekolah kami bentuknya U. Pas di tengah sekolah ada tanah lapang berumput. Di lapangan itulah, kami melakukan senam pagi. Pemandangan penuh warna-warni. Terlihat kontras dan menarik.

Namun, di antara warna-warni baju dan celana murid pagi itu, selalu saja ada baju putih dan rok abu-abu. Pemilik pakaian itu, tak lain adalah Zakiyah Darajad. Ia selalu mengenakan seragam, meski peraturan membolehkan berpakaian bebas.

Zakiyah mengenakan kaca mata minus. Bentuknya agak bulat. Kalau sedang bicara serius, matanya selalu menyala-nyala dan mengembang. Meski terlihat serius, kalau sudah tertawa, ia juga terlihat ekspresif. Tawanya berderai. Lepas mengalir.

Ia sosok mandiri. Ketika pertama kali mengenalnya, aku tanya:
“Kenapa sekolah di Jepara.”
“Ingin hidup mandiri.”

Ayahnya kelahiran Jepara. Namanya Saiful Fauzan. Dia bekerja dan tinggal di Serang sebagai PNS. Setelah pemekaran, tempat tinggalnya, termasuk wilayah Banten. Mereka tinggal di sebuah perumahan. Namun, aku lupa nama perumahannya. Zakiyah pernah berikan sebuah alamat pada secarik kertas padaku.

Tahun pertama sekolah, Zakiyah tak bisa bahasa Jawa. Dia selalu pakai bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari. Cara bicaranya penuh dengan semangat dan antusias. Karenanya, kami memberinya julukan Prenjak. Ini sejenis burung pipit. Bentuknya kecil. Gerakannya gesit. Selalu terbang dan berpindah tempat untuk mencari makan.

Di Jepara, Zakiyah tinggal dengan saudara dari pihak bapak di Kauman. Daerah ini dekat dengan Masjid Raya, kantor bupati dan alun-alun. Termasuk pusat kota dan pemerintahan. Jarak dari rumah ke sekolah sekitar 700 meter. Dia selalu jalan kaki bareng teman-temannya.

Semenjak kelas satu hingga kelas tiga, Zakiyah anak yang aktif berorganisasi. Ketika kelas satu, dia menjadi ketua kelas. Kelas dua, menjadi ketua OSIS. Selain itu, dia juga aktif di Pramuka. Dalam berbagai kegiatan sekolah, dia selalu aktif dan ikut partisipasi.

Meski tak dalam satu organisasi, saat itu aku lebih aktif di Palang Merah Remaja (PMR), kami selalu bertukar pendapat tentang pengalaman di organisasi masing-masing. Dia teman yang enak diajak bicara. Tapi, juga teman yang tak bisa terlalu dekat dengan pria. Rasa-rasanya, selama tiga tahun sekolah, tak pernah terdengar dia pacaran. Padahal, banyak sekali yang tertarik dan naksir dia.

Dalam bidang akademik, Zakiyah termasuk anak yang cerdas. Kelas satu dia juara kelas. Bahkan, untuk tingkat sekolah, dia masih termasuk juara. Tak heran ketika lulus sekolah, pada 1990, dia mendapatkan kesempatan kuliah tanpa tes masuk atau PMDK, pada Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) di Semarang, Jawa Tengah.

Setelah itu, aku tak mendengar cerita tentang Zakiyah Darajad. Aku sibuk mencari hidup dan menempuh pendidikan di Jakarta.

Dari seorang teman, aku mendapat kabar, dia aktif di sebuah pengajian. Setelah itu, dia pakai jilbab, dan menutupi wajahnya dengan cadar. Kabar terakhir, dia meninggalkan kampus dan semakin aktif di pengajiannya pada semester VI di Undip. Kabar terakhir lagi, dia menikah dengan seseorang. Kabar terakhir, suaminya, Imam Samudera, merupakan salah satu pelaku bom di Legian, Bali. Kabar terakhir lagi, Imam Samudera bakal dieksekusi mati.

Yang ingin aku tanyakan sekarang, bagaimana kabar terakhirmu, Zakiyah Darajad?□

Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 5 November 2008
Foto oleh Harian Suara Merdeka.

Baca Selengkapnya...

Monday, November 3, 2008

Promosi Lewat Adu Nyali

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Namanya keren. One Make Race (OMR). Bahasa sederhananya, Balapan Satu Merek. Populernya arena adu balap cepat, tak bisa dipisahkan dengan gelaran OMR yang dihelat oleh merek pabrikan ini, Suzuki.

Motor dengan logo huruf S lancip dan tegas ini, memulai debut balapan OMR dengan menggelar tiga kejuaraan di tiga kota besar, Jakarta, Bandung dan Bali pada 1991. Balapan di Jakarta berlangsung di Sirkuit Ancol. Bandung di Sirkuit Gazibu. Bali berlangsung di Sirkuit Renon. Sebelumnya, kejuaraan adu balap hanya berlangsung di Sirkuit Ancol, Jakarta.


Kegiatan OMR 1991, merupakan arena uji teknologi hasil produksi merek Suzuki. Ketika itu, Suzuki meluncurkan motor RGR. Begitu diluncurkan, motor roda dua dengan kapasitas mesin 150 cc tersebut, langsung menguasai jalanan. Menumbangkan “Raja” jalanan sebelumnya.

Tommy Ernawan, Marketing and Promotion 2W Departement, juga Racing Group Leader dalam kegiatan di Pontianak, memaparkan pengalamannya, ketika menggelar OMR 1991. Kegiatan itu tujuannya baik. Membina dan mengarahkan pembalap-pembalap muda.

Saat itu, kegiatan balap belum terkoordinir dengan baik. Banyak balap liar di jalan raya. “Nah, dari pada balap di jalanan, lebih baik dibuatkan acara balap,” kata Tommy, mantan pembalap motocross yang pernah jadi juara Asean Motocross pada 1984 di Batam.

Sukses dengan kegiatan ini, kejuaraan adu nyali dan teknologi ini, mulai merambah ke berbagai kota di Indonesia. Kegiatan adu balap ini, tentu tak bisa dipisahkan dengan kegiatan promosi, untuk mendongkrak penjualan merek pabrikan ini.

Ketika ditemui, Helmi sedang berada di Sirkuit Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak, Minggu (2/11). Pagi itu, ia mengkoordinasikan sebuah hajatan balap bertema One Make Race 2008.

Untuk tahun 2008, agenda adu cepat ini, digelar 13 balapan. Acara dibagi dalam enam region. Region pertama, Sumatera. Ada empat balapan di region ini. Kedua, Jawa. Ada lima balapan di region ini. Ketiga, Bali, NTB dan NTT. Ada satu balapan di region ini. Keempat, Sulawesi. Ada satu balapan. Kelima, Kalimantan. Ada dua balapan di region ini.

Pontianak merupakan tempat penyelenggaraan ke 11, 1-2 November 2008. Kota Medan menjadi kota pembuka kegiatan, 1-2 Maret 2008. Dan, tahun ini, lomba ditutup pada 22-23 November di Surabaya.

Dalam setiap lomba, ada 10 kategori diperlombakan. Kelas bebek 4 Tak Shogun, Smash, Satria dan Matik STD. Ada kelas pemula, Seeded, dan Open.

Meski OMR sudah berlangsung sejak 1991, penyelenggaraan di Kalbar, baru dua tahun terakhir ini. Agar acara berjalan dengan sukses, mesti ada pembangian tugas. Ada yang menangani penyelenggaraan semua acara. Juga, harus ada yang menangani banyaknya penonton dan peserta balap yang hadir.

Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 3 November 2008
Fotografer Jessica Wuysang.

Baca Selengkapnya...

Sunday, October 26, 2008

Saatnya Membuktikan Janji

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) di empat kabupaten, baru saja berlangsung. Dua kandidat di Kota Pontianak dan Kabupaten Pontianak, telah diketahui hasilnya. Dua lagi, Kabupaten Kubu Raya dan Sanggau, bakal melangsungkan putaran kedua. Paling lambat bulan Desember, dua daerah itu bakal melangsungkan putaran kedua.

Dari pelaksanaan kampanye yang dilakukan, berbagai janji ditebar para kandidat, untuk menarik simpati para pemilih. Ada pendidikan dan kesehatan gratis, pembangunan infrastruktu, jalan, jembatan, air bersih, peningkatan gaji pegawai dan lain sebagainya. Pokoknya indah, bagus dan enak didengar.


Ada warga yang menanggapi janji itu dengan antusias. Namun, tak sedikit yang abai dan menganggapnya sebagai angin lalu. Bagaimanapun, tebar janji dan program seperti itu, sudah menjadi tradisi dan perilaku politik bagi yang ingin menang dalam sebuah pemilihan.

Lalu, apakah ada apatisme terhadap politik dalam hal ini? Tentu saja tidak. Kesadaran memilih dan menentukan sosok pemimpin lima tahun kedepan, merupakan sikap politik yang sudah dibuktikan. Warga berbondong-bonding datang ke TPS dan mencoblos kertas suara.

Kesadaran memilih dan menentukan tidak sekali jadi. Namun, berangkat dari sebuah proses dan butuh waktu. Kesadaran ini, tidak sekali jadi. Ada proses pendidikan politik. Ada interaksi. Dari berbagai pemberitaan di media massa, orasi para kandidat, dan berbagai informasi lainnya.

Apalagi dengan era yang semakin global seperti sekarang. Informasi bisa diperoleh dengan mudah, cepat dan massal. Karenanya, hampir susah untuk menyembunyikan fakta dan berbagai borok yang ada. Tinggal, bagaimana orang punya keberanian untuk melakukannya.

Dalam hal ini, ada beberapa mekanisme kontrol dan pengawasan yang bisa dilakukan. Tentunya, siapa harus melakukan apa, sesuai kemampuan dan keahliannya. Warga yang mengetahui peristiwa, harus melaporkannya. Aparat hukum yang dilapori, harus memproses laporan dan melakukan tindakan. Awak media yang tahu peristiwa, harus memberitakan dengan berbagai prinsip dan etika jurnalistik yang baik. Bila hal itu bisa dilakukan, berbagai penyimpangan bisa dikurangi sekecil mungkin.

Bagaimanapun, niat melakukan penyimpangan muncul, karena adanya celah dan peluang. Bila semua orang memiliki kepedulian menutup dan menambal celah tersebut, semua orang pasti bisa menikmati hasil pembangunan. Bukan hanya segelintir orang saja.

Karenanya, menjadi kewajiban semua pihak, saling mengawasi dan mengingatkan. Akan pentingnya kelangsungan pembangunan kedepan. Dan, bagi yang sudah berjanji dan menawarkan program dalam kampanyenya, saatnya mengawasi dan melihat praktek dari pelaksanaan janji yang sudah terucap.

Janji merupakan sesuatu yang abstrak. Di Indonesia ini paling banyak agama. Tapi juga paling banyak terjadi korupsi. Terkadang, ketika orang dilantik dengan sumpah Alqur’an, Alkitab, atau apapun di atas kepalanya, hal itu hanya sebuah seremoni saja. Bukan sebuah janji kepada Sang Pencipta, Agama, atau Rakyat yang telah memilihnya.

Karenanya, harus ada mekanisme yang mengontrol dan melihat, bagaimana proses pembangunan dilakukan. Semua harus berperan dalam hal ini. Sehingga pembangunan bisa dinikmati oleh semua warga.

Bagi para kandidat yang terpilih, tentu harus memiliki kesadaran untuk membuktikan janji tersebut. Bila tidak, warga bakal menuntut janji, dan tak bakal memilih pada pemilihan berikutnya. Karena kesadaran warga bukanlah hanya sebatas beras dan sembako. Namun, lebih dari itu. Ada karakter yang mereka nilai dari sosok Sang Kandidat atau Pemimpin.□

Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 26 Oktober 2008

Fotografer Muhlis Suhaeri
















Baca Selengkapnya...

Wednesday, October 22, 2008

Makanan dan Minuman Bermelamin Masih Beredar

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak

Masyarakat kembali dikejutkan dengan berbagai penemuan tentang makanan dan minuman yang mengandung bahan berbahaya. Fakta tentang efek dan akibat dari mengkonsumsi makanan ini, seakan dipandang sebelah mata oleh pihak berwenang. Juga bagi mereka yang ingin mendapat keuntungan dari sebuah perdagangan yang dilakukan.

Meski sudah sering beritakan kalangan media massa, makanan dan minuman yang mengandung bahan berbahaya melamin, masih beredar di pasaran. Fakta dan masih ditemukannya biskuit dan susu yang mengandung melamin, membuktikan pihak berwenang tidak tanggap dan mengabaikan keselamatan warga negara.


Padahal, efek dari makanan dan minuman mengandung bahan bermelamin dari China, sudah sangat jelas. Puluhan nyawa bayi di China melayang, dan banyak lagi yang mengalami gagal ginjal.

Ini sebuah permasalahan serius. Karenanya, pihak yang terkait, dalam hal ini pemerintah, harus serius pula menanganinya.

Beredarnya makanan dan minuman bermelamin di Kalimantan Barat, tak lepas dari mudahnya barang itu masuk melalui perbatasan. Kendornya pengawasan di lintas batas ini, menjadi surga paling empuk bagi para pemasok barang.

Tak heran bila di berbagai swalayan besar dan toko kecil di seluruh Kalbar, mudah ditemukan makanan dan minuman produk Malaysia. Kejadian yang sudah lama terjadi tersebut, kembali menemukan gaung dan gugatan dari warga, seiring dengan ditemukannya bahan berbahaya dari produk tersebut.

Lemahnya pengawasan dan pembiaran terhadap berbagai produk tersebut, berakibat pada beberapa hal. Pemerintah tak mendapatkan pemasukan pajak dari barang yang diperdagangkan. Masyarakat juga tak mendapatkan jaminan keselamatan dari produk yang diperjualbelikan. Bagaimanapun, sebuah produk makanan dan minuman, layak dikonsumsi bila sudah lolos dari uji klinis.

Menilik dari permasalahan tersebut, kiranya pemerintah melalui pihak berwenang, harus berbuat tegas dan melakukan tindakan. Agar barang berbahaya tidak bisa masuk ke Kalimantan Barat. Tindakan tegas tentu bisa diambil melalui berbagai razia dan penelusuran di lapangan terhadap produk ini. Pemerintah juga harus kembali mensosialisasikan berbagai produk berbahaya tersebut kepada masyarakat.

Bila tidak, korban yang sudah terjadi, akan terulang kembali. Kita tentu tak ingin, kejadian itu berakibat pada keluarga sendiri. Karenanya, semua harus bekerja sama, untuk menangani hal tersebut.

Bukankah melindungi dan mengamankan warga dari berbagai bahaya makanan dan minuman berbahaya, merupakan tanggung jawab pemerintah. Sebab, pemerintah yang memiliki kekuatan infrastruktur, kebijakan dan personel, untuk melakukannya.

Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 22 Oktober 2008
Gambar diambil dari www.fomca.org.my

Baca Selengkapnya...

Wednesday, October 1, 2008

Kembali Suci Selamanya

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak

Hari Raya Idul Fitri merupakan perayaan yang dilakukan secara bersama sebagai bentuk kembalinya manusia pada kesucian, sebagaimana awal manusia diciptakan. Itulah inti dari khutbah yang disampaikan Dr. Aswandi, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura (Untan), pada salat Idul Fitri di Masjid Mujahidin, Jalan A Yani, Pontianak, Rabu (1/10).

Kalimat fitri merupakan ajaran penting Islam. Bahwa, muasal manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan bersih. Oleh karena itu, manusia bersifat hanif. Dalam artian, selalu merindukan dan mencari yang benar dan baik.

Kebenaran dan kebaikan sesuatu yang alami. Sedangkan, kepalsuan dan kejahatan tidak alamiah. Bertentangan dengan jati diri manusia yang ditetapkan Allah SWT.


“Jadi, inti dari perayaan Idul Fitri adalah, bersihnya kita dari dosa kepada Allah,” kata Aswandi. Dilengkapi dengan memohon maaf kepada sesama, serta saling memaafkan. Terutama kepada kedua orang tua, saudara dan saudari, dan para tetangga.

Pentingnya memohon maaf, tercermin dari doa malaikat yang diamini Nabi Muhammad SAW. Ketika itu, Beliau membaca khutbah kedua pada salat Jumat pada Ramadan. Yakni, tidak diterima ibadah puasa seorang hamba, ketika Idul Fitri tidak saling memohon maaf.

Hal itulah yang membuat manusia di seluruh penjuru dunia, berusaha balik dan kembali ke tempat asal mereka berada. Demi bersilaturahmi dan saling memohon maaf.

Kehidupan itu mempersyaratkan kondisi netral atau fase kesucian. Dosa kepada sesama, hanya dapat pengampunan dari Allah SWT, jika sesama manusia saling memaafkan. Karenanya, awal baru kehidupan hanif, hendaknya dimulai dengan merajut dan memantapkan kembali silaturahmi. Saling memaafkan, tanpa melihat status dan kedudukan dalam masyarakat.

Setelah mengalami masa pembinaan fisik dan mental menuju kesucian di bulan Ramadan, banyak manusia dengan mudah kambuh kembali kepada kebiasaan tidak baik yang pernah dilakukan. Ahli psikologi menjelaskan, fenomena kambuh kembali cenderung terjadi 80 persen, dalam waktu 90 hari. Sebanyak 60 persen kekambuhan berawal dari kesulitan emosional seperti perilaku tidak sabar dan tidak mampu menahan amarah.

Sekarang ini, rasa kemanusiaan semakin merosot. Beberapa tahun lalu, puluhan rektor berkumpul dalam suatu konferensi di Universitas Michigan, Amerika Serikat. Mereka tersentak dengan sebuah fenomena. Sekarang ini, manusia memiliki orang terdidik dan pintar yang jauh lebih banyak sepanjang sejarah. Setiap tahun memiliki lulusan dengan jenjang pendidikan lebih banyak. Namun, nilai kemanusiaan yang dimiliki, berpenyakit atau cacat. Tidak utuh.

Ini bisa dilihat dengan semakin banyak orang pandai, tetapi semakin sulit mencari orang jujur. Bernalar tinggi, tapi berhati kering. Sarjana pandai merekayasa dalam teknik, namun merayap dalam etik. Kaum intelektual pongah dengan pengetahuan, tapi kebingungan menikmati kehidupan.

Sekarang ini, manusia bukan hanya membutuhkan pengetahuan. Tapi juga kemanusiaan. Sesuatu yang bersifat spritual.

Kini, bulan Ramadan telah purna. Mulai hari ini, semua manusia memikul beban berat, mempertahankan kesucian yang telah diperoleh. Apalagi dengan momentum bakal diselenggarakannya Pilkada di Kabupaten Kubu Raya, Sanggau, Pontianak, dan di Kota Pontianak. Pada saat bersamaan, juga diselenggarakan persiapan Pemilu, memilih anggota legislatif dan presiden pada 2009. Dari pengalaman yang pernah terjadi, setiap penyelenggaraan Pemilu, sering menimbulkan konflik. Fitnah juga tumbuh subur di tengah masyarakat.

“Mulai saat ini, kita akan diuji oleh Allah SWT. Apakah termasuk golongan orang yang terus mensucikan diri, berzikir atau tetap mencintai dan mendahulukan hegomeni atau kesenangan dunia,” kata Aswandi.

Manusia pantas cemas. Berhati-hati. Memikirkan dan menjaga diri, setelah bulan Ramadan berlalu. Rasulullah sering merintih memohon ampunan. Padahal, Beliau manusia suci, dan insan yang sudah mencapai kesempurnaan.

Kesucian hati dan perbuatan, berhubungan erat dengan kesucian pikiran. Kesucian pikiran tergantung pada informasi yang dibentuk oleh pikiran tersebut. Baik yang diperoleh melalui pengamatan mata maupun telinga. □

Edisi cetak ada di Borneo Tribune 1 Oktober 2008
foto oleh Jessica Wuysang

Baca Selengkapnya...

Tuesday, September 23, 2008

Berebut Naik

Ribuan penumpang KM Leuser di Pelabuhan Pontianak, berebut menaiki tangga kapal yang akan membawa mereka mudik ke Pulau Jawa, Senin (22/9). Tak disiplinnya masyarakat untuk antre, telah membuat puluhan orang meregang nyawa, dalam beberapa pekan terakhir ini.(Foto Muhlis Suhaeri/Borneo Tribune)


Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 23 September 2008

Baca Selengkapnya...

Monday, August 25, 2008

Klik.....Ups....

Menjadi dosen, sebenarnya bukan mimpi yang terbayang dalam ingatanku. Tapi, tiba-tiba, aku diminta menjadi dosen. Ah, model apalagi ini....???

Aku diminta menjadi dosen "terbang" pada kelas ekstension, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura (Untan).

Awalnya, aku tidak tertarik, karena kerja di koran harian sudah sangat menyita waktu. Namun, aku juga tertantang untuk menjalaninya. Menjadi dosen, mau tak mau, aku harus selalu membaca dan belajar.

Nyatanya, kegiatan itu memang asyik. Apalagi mahasiswa/winya, semakin antusias dan selalu mengikuti perkuliahan. Bertanya dan berdiskusi. Padahal, ini mata kuliah pilihan.

Aku menjadi semakin tertantang. Berusaha sebaik mungkin, mendiskusikan bidang jurnalistik dan pengalaman di lapangan.


Aku lebih banyak menggunakan metode diskusi, selama berada di kelas. Juga, menyelesaikan berbagai makalah dengan contoh-contoh kongkrit, dan berbagi pengalaman selama menjadi jurnalis.

Selama mengajar, ada cerita-cerita lucu. Persahabatan. Perkawanan. Dan, semua berbaur dalam sebuah kenikmatan yang sama, ketika aku baru saja selesai menyelesaikan sebuah tulisan atau selesai deadline.

Foto:
Mahasiswa dan mahasiswi yang aku ajar, sedang berfoto bersama Andreas Harsono.

Baca Selengkapnya...

Tuesday, August 19, 2008

Bertahan dalam Luka di Perbatasan

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Sambas

Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 63, baru saja dilaksanakan. Berbagai kemeriahan terhampar di hadapan. Ada berbagai pengibaran bendera merah putih. Perlombaan di tiap kampung, kota atau kabupaten. Semua itu, seolah menawarkan berbagai jawaban atas semangat kemerdekaan itu sendiri.

Kemeriahan tiap tahun yang selalu dilaksanakan, jadi jawaban atas hikmah kemerdekaan yang terproklamirkan. Namun, kemerdekaan juga menjadi acara seremoni, yang tak menyentuh, makna kata kemerdekaan itu sendiri.

Menyimak kata kemerdekaan, menarik sekali bila kita melihat saudara-saudara kita sebangsa yang tinggal di daerah perbatasan.


Ardine, anggota Kelompok Informasi Masyarakat Perbatasan (Kimtas) di Paloh, Sambas. Jaraknya sekitar 274 km dari Pontianak ke arah utara. Dia tinggal di Desa Temajok, Kecamatan Paloh, Kabupaten Sambas. Dari daerahnya, jalan kaki sekitar setengah jam ke perbatasan Malaysia. Teluk Melano, Serabang, Malaysia, merupakan daerah perbatasan terdekat dengan Paloh.

Masyarakat di sekitar perbatasan, sebagian besar hidup dari bertani, nelayan dan perkebunan. Sebagian besar hasil produksi pertanian dan nelayan dipasarkan ke dalam negeri atau untuk kebutuhan sendiri. Banyak kesulitan dialami masyarakat di daerah itu.

Penduduk sulit melakukan perluasan lahan, karena terbentur dengan masalah kawasan hutan, sehingga tak bisa digarap. Di sana ada wilayah hutan produksi dan taman wisata alam. Padahal, kawasan itu tanahnya baik untuk tanaman karet.

Dalam hal pertanian, juga terbentur dengan masalah pupuk, karena susah didapat. Kalaupun ada, harganya mahal sekali.

Nelayan susah melaut karena sulitnya memperoleh bahan bakar solar. Selain itu, solar juga mahal harganya, Rp 6.000. Selain itu, masyarakat masih menggunakan peralatan jaring tradisional, sehingga hasilnya tak seberapa.

Lebih parah lagi, kalau terjadi angin utara, sekitar Oktober - Januari. Masyarakat nelayan di Temajo, mengalami kesulitan pangan. Sehingga sebelum datang angin utara, mereka harus menabung sembako dan berbagai kebutuhan pangan, untuk jangka waktu empat bulan. Barang kebutuhan tidak bisa dibawa dari Sambas, karena angin besar dan gelombang tinggi.

Informasi di sepanjang perbatasan kurang sekali. Kalaupun ada informasi diperoleh tentang sesuatu hal, itulah informasi yang dianggap benar. Tak ada informasi pembanding. “Siaran-siaran dari Indonesia sulit tertangkap, sehingga informasi tentang Republik ini, kurang jelas,” kata Ardine.

Meski demikian, sikap masyarakat masih kuat dari segi NKRI. Namun, harus ada perhatian khusus. Daerah perbatasan, di satu sisi sebagai garda terdepan dari Indonesia. Di sisi lain, masyarakat serba kesulitan mendapatkan berbagai kebutuhan, transportasi dan ekonomi.

Sembako sangat sulit diperoleh dari Indonesia. Meski sejak tahun 1978, era Datu Musa Hitam sebagai Wakil Perdana Menteri Malaysia, warga di sepanjang perbatasan boleh melintasi perbatasan, dan membeli berbagai kebutuhan dari Malaysia, dengan nilai 600 ringit perbulannya. Jumlah itu tidak termasuk kayu, bahan tambang dan barang bekas.

Warga di sepanjang perbatasan, bisa masuk ke Malaysia dengan selembar surat dari rukun tetangga (RT). Biasanya untuk bertemu dengan sanak saudara atau belanja. Syaratnya, mereka tidak untuk bekerja atau ke kota besar di Malaysia. Namun, lalu lintas yang secara tradisional sudah terjalin itu, kadang dirusak aparat keamanan yang mau mencari keuntungan, bagi diri sendiri.

“Aparat keamanan menangkap orang Malaysia yang berkunjung ke Indonesia,” kata Ardine. Bila hal itu terjadi, aparat keamanan Malaysia, juga melakukan pembalasan. Mereka menangkap warga Indonesia yang masuk ke Malaysia secara tradisional.

Meski secara infrastruktur mengalami kesenjangan dengan Malaysia, namun kondisi riilnya, masyarakat Indonesia masih memiliki semangat gotong royong yang kuat. Hal itulah yang membedakan dengan Malaysia.

Menurutnya, pemerintah harus memberikan perhatian khusus, dengan meningkatkan ekonomi masyarakat. Juga, membuat infrastruktur jalan yang baik, sehingga hasil pertanian, kebun dan nelayan bisa dipasarkan.

Sebagai gambaran, jalan raya dari Teluk Melano, Malaysia ke tapal batas di Indonesia, selebar 12 meter. Sementara dari Indonesia, lebar jalannya hanya 3 meter. Itupun, baru dibangun dua tahun terakhir. Jalan sebelumnya, hanya bisa dilalui dengan jalan kaki.

Meski demikian, masyarakat di perbatasan masih cinta Indonesia. Meski demikian, harus tetap diberikan motivasi dan penyuluhan hukum. Sehingga masyarakat memahami UU dan aturan Indonesia. “Kalau tidak, masyarakat akan larut dengan aturan negara Malaysia. Dan luntur idealisme dan nasionalisme kebangsaannya,” kata Ardine.

Misalnya, adanya Pos Lintas Batas (PLB), kadang dianggap remeh saja, sehingga batas negara tak ada lagi. Selain itu, pemerintah harus menjaga masalah patok batas yang ada di sepanjang perbatasan. Batas negara harus jelas.

Tenaga pendidik di perbatasan harus diperhatikan. Untuk mengambil gaji, bisa habis di perjalanan, karena sulitnya daerah yang harus dilalui.

Masyarakat di sepanjang perbatasan harus diberikan ketrampilan, sehingga bisa mandiri. Terutama yang berkaitan dengan komoditas ekspor. Begitu juga dengan masalah persediaan bahan bakar, harus tetap ada, sehingga masyarakat bisa melaut.

Sampai saat ini, loyalitas masyarakat terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di sepanjang perbatasan di Sambas, tanpa syarat. Warga tetap cinta Indonesia. Kedepannya, harus dibina terus. Misalnya dengan koran, TV, dan radio masuk perbatasan.

Masyarakat perbatasan tak menikmati listrik. Ketika pemerintah Malaysia akan memberikan aliran listrik, masyarakat tak mau. Alasannya, gengsi dan menjaga martabat bangsa. Mereka memakai solar cell, atau energi berbasis tenaga surya.

Begitu juga dengan pendidikan dan kesehatan. Pemerintah Malaysia membuka seluas-luasnya kesempatan bagi warga Indonesia di perbatasan, untuk datang ke Malaysia. Namun, masyarakat kurang merespon. Ada kekhawatiran, mereka nanti menjadi sangat tergantung dengan Malaysia.

Untuk menumbuhkan sikap cinta pada tanah air, setiap tanggal 17 Agustus, pada upacara bendera dan peringatan hari Kemerdekaan RI, masyarakat mengundang tokoh dari Malaysia, untuk datang dan melihat upacara. Masyarakat juga mengenalkan budaya Indonesia, kepada tokoh masyarakat yang datang. Dengan cara itu, diharapkan warga Malaysia, tahu tentang berbagai budaya Indonesia.

Namun, sikap patriotisme itu, hanya dimiliki generasi orang tua di sana. Sekarang ini, generasi muda, kurang punya sikap itu. Mereka lebih tertarik, bagaimana cara mendapatkan uang dengan mudah. Karenanya, banyak yang pergi ke Malaysia, dan bekerja di sana.

Dalam sebuah seminar perbatasan yang diprakarsai Forum Rektor di Pontianak, 16-17 Mei 2008, sebuah makalah dari Balitbang Dephan, berbicara mengenai pengembangan kawasan perbatasan.

Menurut makalah tersebut, pengelolaan wilayah perbatasan belum dikelola secara terpadu, termasuk di bidang pertahanan. Sehingga bila terus dibiarkan, akan menjadi ancaman bagi integritas dan keutuhan NKRI. Permasalahan yang dihadapi merupakan akumulasi dari terbatasnya sarana dan prasarana dasar dan pendukung, termasuk sarana di bidang pertahanan. Yang akhirnya, berdampak kepada kondisi sosial, ekonomi, pelayanan publik, kriminalitas dan pertahanan.

Kebijakan pengelolaan wilayah perbatasan, mensyaratkan adanya kesamaan dan penyatuan visi dan misi yang dapat dievaluasi. Bersifat holistik. Berkelanjutan dan mampu mengintegrasikan semua instansi terkait. Karenanya, mesti segera disusun payung hukum kebijakan terpadu, pengelolaan wilayah perbatasan. Caranya, dengan mensinergikan berbagai peraturan perundang-undangan terkait

Sebagai penjabaran dari kebijakan terpadu tersebut, perlu disusun rencana aksi terpadu per wilayah dalam jangka panjang dan jangka pendek. Tujuannya, mensinergikan berbagai kegiatan dari instansi di tingkat pusat maupun daerah.

Agar pengelolaan wilayah perbatasan dapat terlaksana secara komprehensif, perlu segera dibentuk suatu badan tersendiri yang menangani. Badan ini dikoordinir oleh seorang Menko.

Begitulah masalah konsepsi dan realitas sebuah perbatasan, yang hingga kini masih menyisakan berbagai permasalahan.

Orang seperti Ardine, dan masyarakat di sepanjang perbatasan lainnya, tak terlalu muluk dalam menuntut haknya sebagai warga negara. Kedepannya, ia berharap, kawasan perbatasan harus dikompromikan dengan masyarakat, sehingga bisa dimanfaatkan demi kesejahteraan.

“Kita harus mampu bersaing dengan negara tetangga. Kalau mampu menyaingi, masyarakat tidak akan pergi ke Malaysia,” kata Ardine.

Meski kondisi hidup di perbatasan masih sulit dan susah, Ardine, masih mencintai Indonesia. Negeri yang telah mendamparkan mereka dalam sebuah keterpurukan dan keterasingan.▪

Edisi cetak ada di Borneo Tribune tanggal 19 Agustus 2008
Foto Muhlis Suhaeri

Baca Selengkapnya...

Sunday, August 3, 2008

Hidupku dari Bayam

Di sebuah hamparan tanah lapang
Sebuah keluarga bercocok tanam dan beternak.
Kehidupan mereka bersahaja.

Ada ikatan batin antara pilihan hidup,
dan perjuangan menyunggi nasib yang harus ditempuh.

Tanah yang kian basah dan berlumpur,
diaduk, dibalik, diolah dan diberi pupuk.
Tak lain, agar jadi lahan subur, bagi tanaman bayam yang bakal ditanam.
Dari tetumbuhan inilah, kehidupan bakal berlanjut.


Tak terlalu rumit.
Saban hari, seluruh keluarga bekerja untuk merawatnya.

Kulit-kulit yang putih dan bersih itu,
Tiap hari menantang cahaya matahari di garis Khatulistiwa
Yang sangat terik dan melengaskan....


Fotografer : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri

Baca Selengkapnya...

Tuesday, July 29, 2008

Media Miliki Peran Penting Menyikapi Konflik

Muhlis Suhaeri dan Jessica Wuysang

Borneo Tribune, Pontianak
Media massa memiliki peran penting dalam menyikapi konflik. Media bisa menjadi racun atau obat, tergantung bagaimana mengelolanya. Hal itu dikatakan Amirudin al Rahab dari Elsam, Jakarta, dalam seminar dan lokakarya mengenai kekerasan komunal di Hotel Kapuas Palace, Senin (28/7). Lokakarya difasilitasi oleh Elpagar, Pontianak.

Menurutnya, media perlu mendidik dengan baik wartawannya, sehingga bisa menyikapi dan memahami permasalahan yang dihadapi atau suatu konflik. Akibat tidak memahami dan melakukan suatu prosedur yang baik, media bisa mengobarkan konflik yang terjadi.


Ketidakmampuan media dalam menyikapi suatu konflik, bisa juga berasal dari media yang tidak dikelola dengan baik. Sehingga media cenderung memberitakan berita-berita yang sensasional. Hal ini bisa membuat konflik makin besar.

Untuk meredam konflik, media massa harus bekerja sama dengan berbagai pihak, untuk meredam konflik yang terjadi.

AKBP Hendi Handono, Wadir Reskrim Polda yang juga menjadi pembicara mengemukakan, konflik bisa ditangani bila dilakukan cara preventif sebelum konflik terjadi. Konflik bisa mereda, bila ada kejujuran, transparansi, saling memaafkan, ada kepastian, dan selalu melakukan komunikasi yang baik.

Pembicara lainnya, Hardi Sujaie dari Fisipol Untan menyatakan, ketika terjadi konflik di Kalbar, media tidak melakukan fungsi yang baik dalam meredam konflik. Dari studi yang dilakukan terhadap pemberitaan media ketika terjadi konflik di Kalbar, ada 30 persen pemberitaan media malah memprovokasi konflik. Hanya 10 persen yang berusaha meredam konflik. Sisanya, biasa saja dalam memberitakan suatu konflik. Studi itu dilakukan antara 1998-2002.

Ia berkata, prilaku media yang tidak sensitif konflik bisa terjadi karena beberapa hal.
Ketika itu muncul kebebasan pers yang demikian besar, sehingga pers tidak memiliki alat kontrol. Sementara, kontrol dari dalam perse sendiri kurang bisa dilakukan, karena perusahaan pers dan pekerja pers, tidak memiliki pemahaman yang baik mengenai konflik.

Karenanya, dia mengimbau media untuk bisa bersikap profesional ketika terjadi konflik, sehingga tidak memperparah konflik itu sendiri.

Hardi memaparkan, sejak tanggal 17 Agustus 1945, telah terjadi beragam konflik sosial di Indonesia dengan beragam bentuk. Baik vertikal maupun horizontal. Dari sekian banyak kerusuhan konflik yang terjadi di Indonesia, secara umum kekerasan komunal itu lebih cenderung bernuansa politik. Misalnya, konflik antarmassa dan elite politik pendukung calon kepala daerah dalam Pilkada langsung.

Selain bernuansa politis, kekerasan komunal juga disebabkan oleh perebutan sumber daya, tawuran, amuk massa, etnik atau agama, dan melibatkan aparat keamanan.
Ini disebabkan perbedaan pemahaman yang timbul dari berbagai etnis. Sehingga konflik antarsuku, ras, dan agama, akan selalu menyertai di tengah-tengah merebaknya isu global.

Hal inilah yang terjadi hingga kini. Bahkan, jika pemerintah tidak segera menyikapinya, tidak tertutup kemungkinan, konflik semacam itu masih akan mengancam di tahun-tahun mendatang.

Lalu apa yang menjadi peran pers saat memberitakan suatu peristiwa yang terjadi di daerah rawan konflik? Pertama, pers mau tidak mau harus berdiri di luar dari mereka yang berkonflik. Masalahnya, seringkali pers terlibat atau sengaja melibatkan dirinya pada kelompok yang berkonflik. Tentu saja ini akan mengurangi objektivitas pemberitaannya. Bahkan seringkali pers menikmati keuntungan dibalik keterlibatannya.

Kedua, tidak terlibatnya pers dalam konflik akan memberikan otonomi pers untuk memilih dan memilah kalimat. Sehingga kata-kata secara lebih jernih sesuai untuk kepentingan semua pihak. Kata-kata yang memprovokasi tidak akan muncul manakala pers tak melibatkan diri dalam konflik tersebut.

Itulah sebenarnya, mengelola pers yang diserahkan pada mereka yang tak punya kepekaan akan berita, hanya akan menjadikan pers itu sebagai alat untuk mencapai keuntungan dan kepentingan sepihak.

Pers tugasnya adalah melihat, memperkaya fakta dan data kemudian melaporkannya saja. Interpretasi diserahkan pada masyarakat. Masih jauh untuk mencapai tujuan pers berperan sebagai pelopor pendidikan multikultur. Tetapi, usaha ke arah itu tentu harus didorong dan dipupuk. Maka, berikan informasi yang benar dan berimbang, pers akan melaporkan apa adanya.

Yadi Indradi, Danlanud yang hadir dalam seminar itu mengatakan, pers bisa menjadi dinamisator dan katalisator dalam suatu konflik. Ia menegaskan, jangan memberikan ruang pada militer untuk berada di depan, dalam menangani suatu konflik. Bila militer berada di depan, maka doktrin yang dimiliki dalam penanganan konflik adalah kill or to be kill.

Karenanya, ia mengajak semua masyarakat untuk melakukan civilisasi. ”Konflik tidak akan bisa berakhir. Yang bisa dilakukan adalah, meminimalisir konflik,” kata Yadi.

Listyawati Nurcahyani, Kepala Balai Kajian Sejarah dan Nilai tradisional Pontianak, memberikan masukan mengenai peran pers dalam memberitakan masalah konflik. ”Pers seharusnya tidak hanya memberitakan masalah konflik saja. Tapi juga menulis berbagai hal yang mengenai pemulihan konflik,” kata Listyawati. Selama ini, menurutnya media kurang berimbang dalam memberitakan hal itu.□

Edisi cetak ada di Borneo Tribune 29 Juli 2008
Foto Jessica Wuysang

Baca Selengkapnya...

Saturday, July 26, 2008

Antar Ajung

Menghidupkan lagi ritual dan tradisi yang telah lama ditinggalkan

Oleh; Muhlis Suhaeri

Siapa tak kenal Sambas? Sambas dikenal dengan jeruknya yang manis dan keelokan pariwsata budayanya. Sambas berada di pantai utara wilayah Kalimantan Barat. Berjarak sekitar 250 km dari ibukota provinsi, Pontianak.

Masyarakat Sambas hidup dari pertanian dan maritim. Kombinasi ini membuat budaya, tradisi dan pola kehidupan masyarakatnya, mengabungkan hal tersebut. Salah satunya budaya Antar Ajung. Ritual yang dilakukan sebelum menyemai padi. Asa juga ritual menjelang panen, ruah emping. Ruah artinya keselamatan. Emping berarti panen.

Antar Ajung memiliki makna, mengantar ajung. Ajung berasal dari kata Jung. Ini nama untuk kapal dengan dua layar utama. Bentuknya mirip kapal Shanghai dalam film-film Hongkong. Masyarakat susah menyebut kata Jung. Untuk lebih memudahkan pengucapan, ditambah huruf A.


Sejak dulu, masyarakat Sambas memang sudah akrab dan mengenal jenis kapal layar ini. Sambas merupakan pelabuhan internasional, dulunya.

Antar Ajung merupakan budaya masyarakat pesisir Melayu Sambas, ketika hendak menyemai padi. Dilakukan pada bulan Jumadil Awal, pada kalender Hijriah. Atau, pada Juni, penanggalan masehi. Biasanya, bulan itu musim hujan mulai datang. Tujuan lainnya, menyatukan musim tanam. Bila menanam secara bersama, hama padi akan berkurang.

Ritual Antar Ajung tak tentu waktunya. Pelaksanaan berdasarkan kesepakatan para tetua adat. Lalu, apa makna Antar Ajung bagi warga di Sambas?

“Dengan pelaksanaan Antar Ajung, kite dijaohkan dari marabahaya,” kata Azis Auli (68), warga Pipitteja, Paloh, Sambas. Masyarakat berharap, dengan Antar Ajung mereka dijauhkan dari berbagai macam roh jahat, hama wereng dan tikus. Karenanya, ruh-ruh jahat itu, mesti ‘diikat’ dan dibawa dengan ajung, menuju laut lepas. Dia percaya, ada perubahan hasil panen karena pelaksanaan Antar Ajung.

Tahun 2008, merupakan tahun kedua pelaksanaan Antar Ajung secara besar dan bersama-sama. Tradisi ini sudah 50 tahun ditinggalkan masyarakat. Alasannya, karena dianggap syirik atau menyekutukan Allah.

Kalaupun ada yang tetap melakukannya, sendirian saja. Misalnya, Awang Bujang (75) yang sudah melaksanakan Antar Ajung sejak 1953. Setiap tahun, dia membuat Ajung sendiri, dan melarungkannya ke laut. Sekarang ini, Dinas Pariwisata Sambas sudah mulai membantu kegiatan ini. Bahkan, sudah menjadikannya agenda pariwisata.

Pelaksanaan Antar Ajung dilaksanakan di Kecamatan Tanah Hitam dan Paloh. Setiap dusun membuat satu ajung. Tak ada pakem dalam pembuatan ajung. Ukurannya tak dibatasi. Besar atau kecil, terserah saja.

Saya coba tanya pada Azis tentang hasil panen, setelah dilaksanakan Antar Ajung.
“Kalau ajungnya besar, hasil panennya besar juga?”
“Hehehe.......”

Azis tak memberi jawaban. Sawah di Sambas diukur dengan borong. Dia kerjakan tiga borong. Enam borong setara dengan satu hektar. Untuk menghasilkan satu ton padi, biasanya dengan luasan dua borong. Itupun hasil panen setahun sekali.

Ajung dibuat dari kayu Jelutung. Warga menyebutnya kayu Pelaik atau Lempung. Ini jenis kayu ringan dan mudah terapung. Warga juga menggunakan kayu Sengon, atau lainnya. Kayu diambil dari pinggir hutan di sekitar kampung.

Panjang ajung sekira 1-2 meter. Lebar badan sekira 20-30 cm. Tinggi layar sekira 2-3 meter. Ada tiga layar di ajung. Layar depan, berfungsi menentukan arah kapal, selain kemudi tentunya. Layar utama dan kedua untuk membuat ajung berlayar. Di samping ajung diberi cadik atau katir. Ini sebagai penyeimbang, supaya ajung tidak roboh. Di bagian buritan ada kemudi dari kayu keras. Biasanya dari kayu Baris atau Kompas yang bisa tenggelam.

Ajung dibuat beramai-ramai atau sendiri. Tak ada ritual khusus dalam membuat ajung. Namun, komposisi panjang, tinggi dan lebar layar sangat menentukan, ajung bisa melaju dengan kencang atau tidak.

Biaya pembuatan ajung ditanggung secara bersama seluruh warga dusun, atau orang yang merasa mampu melakukannya. Satu ajung menghabiskan dana sekitar Rp 250-300 ribu. Sanggar Buana Lancang Kuning memberi bantuan Rp 50 ribu, pada setiap dusun, untuk pembuatan ajung.

Azis Auli membuat ajung sendiri. Ia menghabiskan waktu sebulan lamanya. Namun, tak demikian dengan Mathan (35), warga Tanah Hitam, Paloh. Dia membuat ajung bersama lima orang dari dusunnya, selama empat hari. Ajung itu dibuat dari kayu Sengon yang tengahnya dibuat lubang jalur, sehingga menyerupai bentuk perahu sungguhan. Setelah bagian tengah dicoaki, atasnya ditutup dengan triplek tipis, sehingga berat ajung akan ringan. Alat membuat ajung terdiri dari ketam, kapak, pabang, cat, paku, kain, dan lainnya.

Satu hari sebelum pelaksanaan Antar Ajung, masyarakat mengambil air di tong besar. Yang sudah didoakan sang pawang. Air itu dicipratkan ke rumah masing-masing. Zar’in, warga Pipitteja, sore itu memercikkan air ke sekitar rumah. Ia percaya, ini sebagai tolak balak. Malamnya, diadakan doa bersama di setiap dusun.

Doa dilakukan di rumah yang ada ajungnya. Ajung diberi sesajian dan ‘bekal’. Ada ketupat, kue cucur daram-daram, miniatur perabotan dapur, nyirok atau alat penampi beras, pinang, buah kelapa, beras ratih atau padi yang disangrai. Bekal ini diibaratkan, dalam berlayar orang membutuhkan semua peralatan dan makanan tersebut. Buah pinang disediakan, karena dulu orang suka menyirih. Kelapa mesti ada, sebab bisa diminum di perjalanan. Beras ratih untuk menyambut kedatangan tamu. Yaitu, makhluk tidak bisa dilihat.

Dalam ritual ini, ada acara menjumput beras kuning dan retih, lalu ditaburkan ke ajung. Ada daun juang, pepapas, daun mayang, menyan, dan air di tempayan yang telah diberi doa. Warga datang ke acara selamatan dengan membawa ketupat. Setelah sampai di rumah yang punya hajat, ketupat dikumpulkan dan dimakan secara bersama. Tuan rumah menyediakan kopi, teh dan makanan kecil. Begitulah kebersamaan yang menaungi ritual ini.

Malam itu, warga di Dusun Pipitteja, berkumpul di rumah Azis Auli. Ada satu ajung di pelataran rumah. Seorang pawang atau dukun, telah memberi doa dan mengisi ajung dengan berbagai syarat dan bekal. Tepat di depan rumah, anak-anak melafalkan lagu-lagu berbahasa Arab, diiringi sebuah musik dari kerincingan. Tepat pukul 21.00 WIB, mereka berdoa. Setelah itu makan bersama.

Kepala Desa Pipitteja, Nandes (37), hadir dalam kesempatan itu. Dalam upacara tersebut, kepala desa melimpahkan sepenuhnya kegiatan kepada tokoh adat.

Meski pernah lama tak diadakan, sebagian besar warga mengetahui ritual Antar Ajung. Mereka bercerita pada anak-anaknya. Setidaknya, itulah yang dilakukan Abdul Rosyid (59), warga Pipitteja. Ia punya enam anak. Semua anak tahu cerita tentang Antar Ajung.

Agak jauh dari lokasi itu, suasana lebih semarak. Di Dusun Danau Peradah, Paloh, ratusan orang ramai berkumpul. Ada puluhan ajung. Setiap ajung ditaruh pada sebuah kayu penyangga. Ada berbagai perlengkapan ritual, mulai dari beras ratih, daun juang, pinang, apam, dan lainnya.

Dulu, ada 16 pawang. Satu ajung satu pawang. Sekarang ini, cuma ada dua pawang. Di dusun ini, ritual mengisi ajung meriah sekali. Ada puluhan orang dukun. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka diminta masyarakat menyembuhkan penyakit atau mengusir ruh jahat. Usia mereka beragam. Dari anak muda hingga orang tua. Dukun bisa dimasuki ruh halus. Masuknya ruh harus melalui ritual dan upacara khusus. Bangsa halus ini mesti dipanggil. Ketika ruh hendak masuk ke raga, para dukun ini, kadang terjengkang ke belakang. Setelah itu sadar lagi, dan ruhnya bisa masuk.

Hamdi, dukun muda duduk di arena kegiatan. Di hadapannya, Awang Bujang (75), pawang, duduk sambil mengisap rokok. Hamdi mengikat kain kuning di kepalanya. Ia memusatkan diri. Konsentrasi. Setelah itu, dia terjengkang ke belakang. Lalu, ia bangkit dan duduk lagi. Tak berapa lama, ada yang ”masuk”. Terjadi dialog antara Hamdi yang sudah kerasukan dengan Awang Bujang.

”Sape name?”
”Saye orang kebenaran dari Batu Bejamban, Paloh.”

Bahasa Melayu Sambas, hampir sama dengan bahasa Melayu Pontianak atau bahasa Betawi. Cuma, beda dilogat atau ejaan. Sape name dan saye dilafalkan dengan nada tinggi, seperti menyebut kata tempe.

Paloh hingga sekarang, dianggap angker dan keramat. Nama tempat yang ada di sana, menyiratkan hal itu. Misalnya, Tanah Keramat, Tanah Hitam, dan lainnya. Pusat kehidupan bangsa dan ruh halus, ada di Batu Bejamban. Ini sebuah batu di Sungai Tengah. Bentuknya seperti jamban, tempat orang mandi. Letaknya sekitar tiga jam naik perahu klotok dari steigher di Tanjung Harapan, Sekura. Konon, banyak bersemayam ruh orang sakti dan keramat. Seorang warga Malaysia menyumbang sebuah villa, karena mendapat lotere, setelah menyepi di sana.

Awang minta Hamdi memeriksa perahu Lancang Kuning. Setelah menjumput bertih dan beras kuning, ia keliling memeriksa satu persatu ajung. Dengan mata terpejam dan tangan bergetar terus, Hamdi yang sudah kemasukan ruh, berkeliling memeriksa setiap ajung.

Ketika sadar dan selesai melakukan ritual, saya bertanya pada Hamdi.
”Bagaimana rasanya ketika kemasukan ruh orang kebenaran, Gusti Imam?”
”Seperti mimpi saja.”
“Kok bisa berjalan ke mana-mana?”
“Dituntun same orang kebenaranlah.”

Acara berlangsung hingga tengah malam. Ada puluhan dukun. Mereka punya karakter dan kelakuan unik, saat kemasukan ruh. Ada yang menari-nari sambil diiringi musik. Berlari-lari terus mengitari lapangan. Berjingkrak-jingkrak. Bahkan, ada yang naik ke beberapa ajung. Pakaian yang dikenakan juga beragam. Ada model pakaian Melayu, Dayak, Tionghoa, dan lainnya. Sesuai dengan ruh yang masuk. Ruh terdiri dari panglima perang, orang keramat, dan dote-dote (datuk).

Emma dari Sanggar Buana Lancang Kuning mengatakan, tahun ini tak hanya ritual Antar Ajung. Tapi juga ada festival. Ada 18 ajung bakal dilarung ke laut. Yang dinilai dalam festival adalah, kecepatan ajung ke tengah laut. Bentuk dan keindahan. Dalam Antar Ajung kali ini, ada berbagai pertunjukkan budaya dari setiap peserta. Tujuannya, selain melakukan ritual, juga melestarikan dan menampilkan berbagai budaya Sambas.

Menurutnya, kalau Antar Ajung sudah dilaksanakan, pawang tidak boleh bicara apapun mengenai ritual adat ini. Dikhawatirkan bisa kena ke tubuhnya. Ada beberapa pantangan harus dijauhi, setelah ritual Antar Ajung. Tidak boleh memotong binatang, ayam, kambing dan lainnya. Pantang menebang kayu besar atau sagu. Tidak boleh melaksanakan acara bersifat keramaian. Seperti pernikahan, sunatan atau lainnya. Seluruh masyarakat berlaku hal ini. Dulu, tiga hari pantangannya. Sekarang ini, satu hari saja berlaku.

Bila ada yang melanggar, hukumannya membuat ketupat 100 buah. Ketupat harus dibagikan ke seluruh rumah warga. Hukuman ini terasa ringan. Namun, ini merupakan sanksi moral. Semua orang jadi tahu kesalahannya. Selain itu, mereka yang melanggar, harus membayar Rp 25 ribu. “Uang itu sebagai infak ke masjid setempat,” kata Abdul Gani (61), Ketua Dewan Adat Melayu Desa Pipitteja, Kecamatan Pimpinan.

Pagi hari, masyarakat berbondong-bondong memenuhi jalan. Mereka mengarak ajung menuju pantai Tanah Hitam. Setiap dusun mengarak ajung yang mereka buat. Jarak dusun dengan tempat prosesi sekitar 15-17 km. Kalau terlalu jauh, biasanya ajung diangkut dengan mobil bak terbuka. Setelah dekat, baru diarak beramai-ramai.

Dalam arakan itu, ajung didampingi pawang. Dia selalu mengibaskan mayang atau bunga pinang yang terlebih dulu dicelup ke air tolak balak. Pinang menjadi ciri khas dari tradisi di masyarakat Melayu. Masyarakat Dayak biasanya pakai daun juang.

Tiba di pantai Tanah Hitam, semua ajung dijejer di pinggir pantai berpasir putih ini. Wilayah ini terletak di laut China Selatan. Menurut Mathan, yang tinggal di sana, dinamakan Tanah Hitam, karena dulunya ada tanah berwarna hitam. Sekarang tak ada lagi.

Serombongan peserta dari Dusun Peria Desa Tanah Hitam, didampingi tiga pawang perempuan. Sunnah (70), Halipah (65), dan Limah (60). Ketiganya memakai pakaian kuning, khas busana Melayu. Ketiganya mengisi ajung dengan ritual di pinggir pantai ini.

Pelepasan ajung berlangsung dua kali. Ajung yang bersifat ritual dan festival. Ajung ritual merupakan penyelenggaraan yang bersifat tradisi. Ajung festival merupakan ajung yang dilombakan.

Tepat tengah hari, ajung tradisi dilarung ke tengah laut. Beberapa orang menggotong ajung dan membawanya ke air. Begitu di air, angin yang bertiup kencang, langsung membawa ajung ke tengah lautan. Namun, ada juga ajung yang tak bisa jalan, bahkan miring dan hampir tenggelam.

Ajung yang dilarung ke laut, bisa sampai ke pulau Serasan di laut Natuna. Jaraknya sekira 10 jam perjalanan dengan perahu mesin nelayan dari pantai ini.

Selepas ajung dilarung, orang kembali lagi ke pinggir pantai. Sebuah panggung sederhana didirikan untuk menampung para penyanyi dan pengisi acara. Rombongan dari Pemda dan DPRD Sambas juga datang, meski dalam bentuk perwakilan.

Pertunjukkan dilanjutkan. Tarian dan nyanyian kembali bergemuruh. Dalam kata sambutannya yang dibacakan staff-nya, bupati Sambas, Burhanuddin A. Rasyid mengatakan, melalui kegiatan ini, diharapkan bisa mengembangkan perbedaan dalam kemenangan. “Gali terus nilai budaya, sepanjang tidak bertentangan dengan nilai agama,” katanya.

Menjelang pukul 15.00 WIB, awan mendung mulai menutupi areal kegiatan. Gerimis mulai menetes. Ajung yang berderet di pinggir pantai, serentak diberi aba-aba untuk segera dilarung. Dua hingga empat orang dari setiap dusun, mengangkat ajung. Setelah diberi aba-aba, mereka berlari dengan serentak menuju laut.

Kondisi itu menimbulkan pemandangan dramatik. Ada teriakan. Ada cipratan air laut. Ada pandangan ribuan warga. Semua meluruh bersama dengan ajung yang mulai terlarung.□

Edisi cetak ada di Koran Tempo, Agustus 2008

Foto Muhlis Suhaeri






Baca Selengkapnya...

Tuesday, July 22, 2008

Alasan Menang Mochtar Lubis Award

Ini alasan, mengapa tulisan mereka menang Mochtar Lubis Award.

Kategori Public Service
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad). Hancurnya Infrastruktur di Sulawesi Barat oleh Sidik Pramono dari Harian Kompas, Jakarta, 10 Mei 2008. Krisis Air Bersih Ancam Bandung oleh Zaky Yamani dari Harian Pikiran Rakyat, Bandung, 17 Maret 2008. Mencari Angka dalam Jerami oleh Daspriani Y. Zamzami dari Majalah Aceh Kini, Januari 2008. Politik Pendidikan Penebus Dosa oleh Asrori S. Karni dari Majalah Gatra, Jakarta, 23 Januari 2008. Save Our Airport oleh Gatot Rahardjo dari Majalah Angkasa, Jakarta, Maret 2008.

Pemenang
Politik Pendidikan Penebus Dosa oleh Asrori S. Karni dari Majalah Gatra, Jakarta, 23 Januari 2008.


Alasan Pemilihan Pemenang
Untuk kategori Pelayanan Publik, Dewan Juri menerima total 36 naskah. Sebagian besar peserta berasal dari Jakarta dan mengangkat persoalan Jakarta. Sejumlah daerah di luar Jakarta juga ikut ditampilkan, yaitu Aceh, Sumatera Barat, Batam, Lampung, Bandung, Banten, Surabaya, Bali, dan Sulawesi Barat. Jumlah peserta non-Jakarta ini tentu masih sangat terbatas dibandingkan dengan luasnya daerah di Indonesia serta kayanya ragam persoalan dari daerah-daerah yang belum terwakili itu, yang mungkin jauh lebih pelik dibandingkan apa yang tersaji pada naskah-naskah yang masuk tahun ini.

Dari total 36 naskah ini, kurang dari setengahnya – yaitu hanya 16 naskah -- yang benar-benar bisa dimasukkan ke dalam kelompok dengan tema Pelayanan Publik.. Sisanya menyajikan tema yang sama sekali tidak terkait dengan aspek Pelayanan Publik.

Beberapa dari naskah peserta ini sebetulnya memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh agar aspek Pelayanan Publiknya dapat lebih muncul. Beberapa karya hanya berupa snapshots atau potret sekilas, sebagian lainnya berupa laporan bernuansa kemanusiaan (human interest).

Adapun naskah yang benar-benar masuk dalam kelompok Pelayanan Publik (dengan jumlah 16 naskah tadi), sebagian besar masih memiliki sejumlah kekurangan untuk disebut sebagai laporan jurnalistik yang kuat. Beberapa kekurangan tersebut adalah: lemahnya data yang diperoleh dari observasi langsung di lapangan, terlalu menyandarkan diri pada data yang diperoleh dari narasumber resmi namun tidak menunjukkan kegigihan untuk menggugat data-data resmi ini lebih jauh, penempatan data yang terkesan asal jadi sehingga melelahkan pembaca, struktur yang kurang kokoh (banyak bagian yang sebenarnya bisa dihilangkan atau tak terlalu relevan), kurangnya aspek edukasi dan advokasi, serta penggunaan bahasa yang tampaknya masih bisa disempurnakan lebih jauh. Dengan kata lain: tidak ada karya dari kategori Pelayanan Publik ini yang betul-betul tampil menonjol.

Dewan Juri menilai lima aspek, yaitu kandungan informasi (termasuk akurasi, kekayaan data, tingkat kesulitan mendapatkan data, unsur advokasi dan edukasi, serta dampak tulisan terhadap masyarakat) dengan bobot nilai 30%; ide tulisan (orisinalitas, aktualitas, relevansi dan kreativitas dalam menemukan sudut pandang dan mengolah bahan) dengan bobot nilai 25%; lalu sistematika penulisan, kelancaran dan kejelasan tulisan, dan penggunaan Bahasa Indonesia (masing-masing dengan bobot nilai 15%). Berdasarkan panduan ini, dan melalui diskusi yang demokratis, Dewan Juri menetapkan lima finalis dan karya dengan nilai tertinggi yang kemudian ditetapkan oleh Dewan Juri sebagai pemenang jatuh kepada: Politik Pendidikan Penebus Dosa oleh Asrori S. Karni, terbit di Majalah Gatra, Jakarta, 23 Januari 2008.

Karya yang menjadi pemenang ini memiliki kekuatan dari sisi tema/subyek yang dipilih, yang pada intinya ingin mengedepankan pentingnya “pendidikan bagi semua warga negara”. Dalam konteks filosofis inilah tulisan ini sekaligus mengkritik kebijakan pemerintah karena bertentang dengan misi “pendidikan bagi semua warga negara” tadi, terbukti dari perlakuan diskriminatif yang selama ini dialami oleh sekolah-sekolah yang berbasis pada agama, seperti pesantren, madrasah, seminari. Perlakuan pilih-kasih tadi tampak antara lain dari relatif terbatasnya anggaran yang disediakan pemerintah bagi lembaga-lembaga pendidikan berbasis agama tersebut.

Gugatan ini menjadi terasa relevan dan kontekstual dengan kondisi aktual bangsa Indonesia saat ini, yang mengalami demoraliasasi hampir di semua lini. Kondisi ini sekaligus merupakan sebuah ironi, mengingat bangsa Indonesia seringkali membanggakan diri sebagai bangsa yang religius, namun kenyataan yang tertuang dalam tulisan ini menunjukan rendahnya keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan agama. Padahal seharusnya pemerintah memberikan porsi perhatian (termasuk alokasi anggaran) yang setidaknya sama antara pendidikan umum dan pendidikan berbasis agama. Tulisan ini juga menunjukkan sisi kemandirian dari lembaga pendidikan berbasis agama, serta kemampuannya menahan diri untuk tidak terseret dalam arus komersialisasi pendidikan yang kini telah merambah lembaga pendidikan hampir pada semua jenjang.

Tulisan ini niscaya akan menjadi lebih kuat andaikata hasil pengamatan dari lapangan lebih diperkaya dari apa yang telah disajikan oleh penulisnya. Data dan pengamatan dari lapangan tersebut dapat berfungsi sebagai ilustrasi yang memperkuat tulisan sekaligus sebagai alat untuk mekonfrontir data-data resmi yang tampak jauh lebih mendominasi dalam tulisan ini.

Dewan Juri (berdasarkan urutan abjad)
Arya Gunawan Usis
Teten Masduiki
Tulus Abadi

Kategori Feature
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad)
Frederick Sitaung: Guru Sejati Papua oleh Ahmad Arif dan Luki Aulia dari Harian Kompas, Jakarta, 1 September 2008. Hari Kembang oleh Agus Sopian dari Majalah Arti, Jakarta, Mei-Juni 2008. Mbak Suko: Simbol Perlawanan Petani oleh Ahmad Arif dan Sri Hartati Samhadi dari Harian Kompas, Jakarta, 10 April 2008. Meno Kaya Tidur di Selokan oleh Ahmad Arif, Luki Aulia dan Aryo Wisanggeni Genthong dari Harian Kompas, Jakarta, 13 September 2007. Ya Ampun, Sulitnya Sekolah oleh Indira Permanasari dari Harian Kompas, Jakarta, 31 Juli 2007.

Pemenang
Meno Kaya Tidur di Selokan oleh Ahmad Arif, Luki Aulia dan Aryo Wisanggeni Genthong dari Harian Kompas, Jakarta.

Alasan Pemilihan Pemenang
Ada kecenderungan menggembirakan saat kami menyimak 59 karya yang masuk untuk kategori feature. Banyak tulisan memiliki gagasan bagus, dan mereka berhasil menampilkan berbagai aspek kehidupan yang memperkaya wawasan serta bersifat menggugah. Tema yang muncul cukup beragam, dari perjuangan guru di daerah terpencil, perlawanan kreatif petani, kegigihan pedagang kembang, sampai dakwah di kalangan TKW Hongkong. Meskipun demikian, sayang, banyak gagasan bagus itu kurang tergarap dengan baik. Deskripsi yang dipakai sering klise, metafora kurang menggigit, dan penyuntingan kurang rapi.

Dari lima finalis satu berupa feature panjang karya wartawan majalah, empat yang lain adalah feature pendek karya wartawan koran. Kelimanya memiliki tema yang mencerminkan pemikiran dan watak Mochtar Lubis: kepedulian pada kemanusiaan, keadilan, seni dan lingkungan.

Meno Kaya Tidur di Selokan kami pilih sebagai pemenang dengan pertimbangan sebagai berikut. Karya ini menampilkan sudut pandang yang unik untuk sebuah persoalan sosial-ekonomi yang kompleks. Kritik sosial yang disajikan sangat tajam dengan menggunakan paradoks dan ironi yang tidak klise. Karya ini membuat pembaca tergugah akan betapa berlapis-lapisnya persoalan di daerah pertambangan. Dengan ini kami juga ingin menunjukkan bahwa tulisan pendek di koran pun bisa ditulis dengan pendekatan feature secara memikat.

Dewan Juri (berdasarkan urutan abjad)
Farid Gaban
Sori Siregar
Yusi Avianto Pareanom

Kategori Investigasi
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad)
The Lost Generation oleh Muhlis Suhaeri dari Harian Borneo Tribune, Pontianak, 10-28 Februari 2008. Menguak Tabir Dosa Ekologi di Balik Proyek PLTP Sibayak oleh Erwinsyah dari Surat Kabar Harian Ekonomi Medan Bisnis, Medan, 31 Maret-5 April 2008.
Muslihat Cukong di Lahan Cepu oleh Bagja Hidajat dkk dari Majalah Tempo, Jakarta, 7 Januari 2008. Roger... Roger... Intel Sudah Terkepung, oleh Budi Setyarso dari Majalah Tempo, Jakarta, 26 Agustus 2007. Zatapi dengan Sejumlah Tapi oleh Yosep Suprayogi, Philipus SMS Parera dkk dari Majalah Tempo, Jakarta, 30 Maret 2008.

Pemenang
The Lost Generation oleh Muhlis Suhaeri dari Harian Borneo Tribune, Pontianak, 10-28 Februari 2008.

Alasan Pemilihan Pemenang
Mochtar Lubis Award 2008 ini adalah kompetisi pertama yang menyertakan kategori investigasi. Sebuah kategori yang sulit, yang dalam jurnalisme sering disebut sebagai induk dari dari semua jurnalisme. Sebuah pekerjaan investigasi dewasa ini tak lagi mendapatkan perhatian yang layak dari pimpinan media di Indonesia. Di lingkungan media cetak hanya media besar yang masih memberikan tempat bagi liputan jenis ini.

Naskah yang masuk ke juri pada kompetisi kali ini total berjumlah 13 naskah. Ada hal yang menggembirakan dalam kompetisi kali ini. Antara lain bahwa meski didominasi oleh media besar nasional, ternyata ada juga naskah yang berasal dari tulisan media di daerah. Hal ini betul-betul membesarkan hati.

Kita semua patut merasa berbesar hati melihat semangat investigasi masih tumbuh. Di tengah tuntutan rutinitas wartawan koran dan tekanan deadline yang padat, ternyata masih ada beberapa wartawan yang –dengan keterbatasan waktu dan logistik— menyempatkan diri untuk mengupayakan peliputan investigasi, yang makan waktu dan tenaga, serta kerap tidak didukung penuh oleh organisasi redaksi.

Kriteria penjurian yang digunakan adalah muatan pilihan tema (15%), muatan proses penggalian(50%), dan penulisan (35%). Muatan pilihan tema terdiri dari aktualitas, magnitude, upaya membongkar kejahatan, skala atau kompleksitas kejahatan. Untuk muatan proses terdiri dari unsur rechecking, kompetensi nara sumber, data pendukung, adanya riset,dan upaya melakukan verifikasi. Sedangkan dari sisi penulisan yang diukur adalah gaya dan logika bahasa, kejelasan, deskripsi, penggunaan bahasa yang tidak klise, akurasi, keberimbangan, dan kedalaman tulisan.

Beberapa karya terlihat menonjol dalam hal semangat dan gairah (passion). Ini catatan yang menggembirakan melihat serbuan ”jurnalisme ludah” (sikap kewartawanan yang hanya ”menadahi” ludah para pejabat) yang tiap kali membanjiri ruang hidup kita. Sayangnya, semangat dan gairah yang menggebu-gebu itu seringkali membuat para wartawan muda terlalu terburu-buru menurunkan hasil investigasi yang belum matang benar. Barangkali, semangat yang berlebihan ini pula yang membuat wartawan kita kurang punya semangat ”skeptis” dalam dosis yang normal.

Setelah melewati penjurian secara terpisah, para juri memilih lima karya yang dinilai memenuhi kelayakan untuk masuk dalam nominasi calon pemenang Mochtar Lubis Award untuk kategori investigasi. Lima karya terbaik ini antara lain The Lost Generation, Muslihat Cukong di Lahan Cepu, Zatapi dengan Sejumlah Tapi, Roger... Roger... Intel Sudah Terkepung, dan Menguak Tbr Ds Ekologi di Blk Proy. PLTP Sibayak.

Namun, dari 5 karya yang ada, para juri akhirnya bersepakat untuk memilih tulisan berjudul The Lost Generation yang dimuat secara serial melalui 19 tulisan. Para juri terpesona membaca karya ini, karena tulisan ini memberikan pemahaman sejarah tentang praktik-praktik militerisme, politik pecah belah, operasi intelijen, kisah tragis manusia yang terjebak di antara situasi pergantian politik negara, dan akar perdagangan perempuan serta konflik komunal di daerah Kalimantan Barat.

Dewan juri terkesan pada gairah penulis untuk mencari data, menelusuri dokumen tua dan hasil riset para peneliti, menelusuri fakta dan menjumpai mereka yang terlibat dengan mengandalkan ingatan. Penelusuran ini sungguh tidak mudah mengingat kejadian ini sudah hampir 40 tahun berlalu, dan sebagian besar dari rakyat Indonesia bahkan sudah melupakan kekejian yang memakan puluhan ribu jiwa dan hilangnya satu generasi. Suatu tragedi yang dianggap tak pernah ada.

The Lost Generation dalam paradigma hak asasi manusia merupakan sebuah kejahatan yang berindikasikan pelanggaran HAM berat, yaitu kejahatan terhadap kemanusiaan. Ribuan penduduk sipil terbunuh. Sebagian besar dari mereka juga dipindahkan secara paksa dari daerah pedalaman.

Juri memang menemukan beberapa kelemahan dari karya ini. Di antaranya, istilah G-30S/PKI, yang menurut tidak terlalu tepat. Penulis juga tidak konsisten menggunakan istilah hanya G-30S. Selain itu ada beberapa konfirmasi yang tidak dilakukan, penyebutan nama narasumber yang tidak lengkap dan penulisan yang tersendat di beberapa bagian. Ada beberapa sumber penting yang tampaknya tak digunakan oleh si penulis, tapi barangkali keseriusan dan tekad untuk mengungkapkan skandal dibalik peristiwa yang distigma sebagai ”PGRS/Paraku” ini memberikan berbagai nilai lebih.

Si penulis mewawancarai puluhan orang saksi korban, saksi mata, dan saksi pelaku. Ia juga melakukan sejumlah penelusuran dukumen dan karya penelitian yang pernah dibuat orang mengenai peristiwa ini. Dari karyanya, kita melihat penulis sangat serius menemui orang-orang dalam jangkauan ratusan kilometer yang terpisah di berbagai kecamatan dan kabupaten – meskipun barangkali dengan logistik yang terbatas.

Juri berharap yang ditunjukkan oleh 5 para yang karyanya terpilih sebagai lima karya terbaik bisa memberikan inspirasi kepada para wartawan Indonesia. Terutama untuk terus berupaya mengungkapkan berbagai skandal dan kejahatan yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Sebuah semangat jihad tanpa pernah kompromi yang selalu ditunjukkan oleh almarhum Mochtar Lubis semasa hidupnya.

Dewan Juri berdasarkan urutan abjad
Dwi Setyo Irawanto
Maria Hartiningsih
Yosep Adi Prasetyo

Kategori Fotojurnalistik
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad)
Dag Dig Dug di Bukit Segambut (Operasi TKI) oleh Arie Basuki dari Koran Tempo, Jakarta, 9 Maret 2008. Jalan Tol Sedyatmo Km 26 Terputus oleh Agus Susanto dari Harian Kompas, Jakarta, 3 Februari 2008. Limbah di Banjir Kanal oleh Lasti Kurnia dari Harian Kompas, Jakarta, 5 September 2007. Mengungsi di Rel Kereta Api oleh Yuniadhi Agung dari Harian Kompas, Jakarta, 4 Februari 2008. Sepak Bola Rusuh oleh Ignatius Danu Kusworo dari Harian Kompas, Jakarta, 17 Januari 2008.

Pemenang
Dag Dig Dug di Bukit Segambut (Operasi TKI) oleh Arie Basuki dari Koran Tempo, Jakarta, 9 Maret 2008.

Alasan Pemilihan Pemenang
Foto Dag Dig Dug di Bukit Segambut (Operasi TKI) ini terpilih menjadi pemenang untuk kategori fotojurnalistik karena alasan-alasan sebagai berikut. Isu yang diangkat oleh Arie Basuki ini sering kita dengar tetapi jarang tampil di media massa secara utuh. Tema pada foto ini langka terungkap secara visual. Foto ini merupakan simbol visual yang mewakili ketidakberdayaan dan ketidakadilan, hal-hal inilah yang memang harus diangkat oleh pers dalam menjalankan fungsinya.

Foto ini memunculkan kedalaman dan usaha (effort) dalam mengambil gambar juga keberanian si fotografer menghadapi resiko yang tinggi. Foto ini juga menunjukkan semangat berjuang demi si miskin, hal ini selaras dengan kritik Mochtar Lubis yang menyindir bahwa di Indonesia ini ada begitu banyak orang kaya yang berada di atas, sementara mereka yang di bawah tidak mendapatkan bagian.

Catatan juri terhadap Dag Dig Dug di Bukit Segambut (Operasi TKI) ini adalah perlu adanya peningkatan dari aspek editing foto atau cropping yang masih belum sempurna.

Dewan Juri (berdasarkan urutan abjad)
Julian Sihombing
Oscar Motuloh
Sinartus Sosrodjodjo

Kategori In-Depth TV Reporting
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad)
Kartini yang Terdampar di Negeri Orang oleh Widyaningsih dkk dari SCTV, Jakarta, 20 April 2008. Mengeruk Laba dari Bangkai Sapi Darussalam Burnahan dkk dari ANTV, Jakarta, 19 September 2007. Pengoplosan di Balik Kisruh Minyak Tanah oleh Darussalam Burnahan dkk dari ANTV, Jakarta, 5 September 2007. Perburuan Ilegal Gading Gajah oleh Andi Azril dkk dari SCTV, Jakarta, 9 Maret 2008. Pintu Harapan untuk Si Miskin oleh Endah Saptorini dkk dari Astro Awani, Jakarta, 27 Oktober 2007.

Pemenang
Mengeruk Laba dari Bangkai Sapi Darussalam Burnahan dkk dari ANTV,
Jakarta, 19 September 2007. dan Pintu Harapan untuk Si Miskin oleh Endah Saptorini dkk dari Astro Awani, Jakarta, 27 Oktober 2007.

Alasan Pemilihan Pemenang
Juri memutuskan ada dua pemenang untuk kategori ini karena kedua lipuan ini mempunyai kekuatan ide, investigasi, dan tehnik yang memadai. Keduanya memunculkan fakta yang tidak diketahui masyarakat luas, tim menggali dan melakukan riset karena topik yang diangkat bukan isu yang tersaji begitu saja, tidak mengikuti mainstream berita.

Mengeruk Laba dari Bangkai Sapi mengingatkan kita pada kepentingan publik yang dikhianati, cara-cara yang kejam, tidak berperikemanusiaan, yang sudah memasuki wilayah animal cruelty dan crime against public health. Dari segi kesehatan, kita sebagai konsumen dilanggar haknya untuk mendapat jaminan kelayakan produk. Bagi umat Islam bahkan konsumen menjadi pemakan produk haram (bangkai).

Pintu Harapan untuk Si Miskin mengingatkan kita pada semangat Mochtar Lubis untuk melakukan kritik social yang lugas. Bertutur tentang problem kemiskinan yang dialami segenap lapisan masyarakat, khususnya kaum urban, dan ketidakadilan yang dialami untuk mendapatkan haknya.

Tayangan ini juga berhasil menampilkan praktek-praktek tersembunyi dari birokrasi yang korup, berbelit-belit, dan tidak punya empati, apalagi sense of urgency. Secara detil juga ditayangkan betapa pincangnya fasilitas umum yang diberikan rumah-sakit yang diberikan pada pasien yang miskin. Tetapi tayangan ini tidak berhenti pada kritik semata, melainkan juga mengangkat perjuangan orang-orang miskin untuk meraih harapannya, menjadi sejahtera, mempunyai solidaritas pada sesama yang miskin.

Sebagai catatan, khusus untuk Pintu Harapan untuk Si Miskin, anggota Dewan Juri Riza Primadi tidak terlibat dalam penjurian.

Dewan Juri berdasarkan urutan abjad
Bimo Nugroho
Dana Iswara
Riza Primadi

Kategori Fellowship
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad)
Proposal Divestasi KPC: Menggerus Batu Meninggalkan Bara oleh I Gusti Gede Maha Adi, Majalah Tempo, Jakarta. Proposal Investigasi Korupsi Dana Rekonstruksi Pasca Gempa Bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006 oleh Bambang Muryanto wartawan lepas, Masjidi dari MQ Radio dan Gigin W Utomo dari Majalah Swasembada, Yogyakarta.

Pemenang
Proposal Investigasi Korupsi Dana Rekonstruksi Pasca Gempa Bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006 oleh Bambang Muryanto wartawan lepas, Masjidi dari MQ Radio dan Gigin W Utomo dari Majalah Swasembada, Yogyakarta.

Alasan Pemilihan Pemenang
Dalam upaya menetapkan Mochtar Lubis Fellowship 2008, tiga anggota Dewan Juri telah melakukan penilaian atas sembilan usulan rancangan peliputan penyidikan atau investigative reporting yang diterima oleh Panitia Penyelenggara Mochtar Lubis Award 2008.

Dewan Juri menilai kesembilan rancangan tersebut dengan berpedoman pada panduan gagasan berikut untuk dapat meraih Mochtar Lubis Fellowship 2008:
o Rancangan peliputan penyidikan mengungkapkan peristiwa atau masalah yang terkait dengan kepentingan orang banyak.
o Rancangan ini memaparkan gagasan secara lengkap dan matang.
o Rancangan ini memiliki gagasan yang menarik dan memiliki kompleksitas yang mendalam untuk diterbitkan dalam bentuk buku sekira 100 halaman.
o Rancangan ini memuat perencanaan investigasi yang masuk akal dan realistis untuk dapat dilaksanakan dalam waktu empat bulan dengan biaya yang tersedia.
o Rancangan ini dapat menjadi model untuk Mochtar Lubis Fellowship pada tahun-tahun selanjutnya.

Dewan Juri menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada kesembilan tim yang telah berpartisipasi dalam program Mochtar Lubis Fellowship 2008, sebagai bagian dari program Mochtar Lubis Award yang pertama kali ini digelar di Indonesia.

Gagasan-gagasan yang dituangkan dalam kesembilan usulan rancangan itu sangat menarik sehingga tidak terelakkan perdebatan antara ketiga anggota Dewan Juri dalam menentukan peraih penghargaan ini.

Dewan Juri berpendapat, tema-tema yang digagas pada rancangan peliputan penyidikan itu sangat layak dikembangkan. Namun, kebanyakan tema itu lebih tepat ditelusuri dan ditulis untuk bentuk laporan berkedalaman atau in-depth reporting.

Dewan Juri, dalam sidangnya yang pertama pada 20 Juni 2008, bersepakat dengan suara bulat untuk menetapkan dua usulan sebagai rancangan peliputan penyidikan yang paling memenuhi panduan rumusan tersebut. Kedua usulan rancangan itu adalah:
1. “Divestasi KPC: Menggerus Batu Meninggalkan Bara”; dan
2. "Investigasi Korupsi Dana Rekonstruksi Pasca-Gempa Bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006"

Pada 1 Juli 2008, Dewan Juri mengadakan seleksi lanjutan dengan mengikuti presentasi dan mewawancarai wakil-wakil kedua tim pengusul rancangan peliputan penyidikan tersebut. Dalam sidangnya yang kedua hari itu, Dewan Juri akhirnya bersepakat dengan suara bulat pula untuk menetapkan peraih Mochtar Lubis Fellowship 2008, yaitu:
o "Investigasi Korupsi Dana Rekonstruksi Pasca-Gempa Bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006"—rancangan yang diusulkan oleh tim yang terdiri atas Bambang Muryanto (wartawan freelance), Gigih W. Utomo (reporter lepas), dan Masjidi (reporter).

Dewan Juri menetakan pilihan tersebut berdasarkan pertimbangan berikut:
1. Dari segi tema, sasaran peliputan penyidikan ini bersifat kemanusiaan dan menyentuh nilai-nilai kemanusiaan.
2. Dari segi kepentingan publik, dampak dari hasil peliputan ini menyangkut kehidupan masyarakat yang luas.
3. Dari segi pendidikan, hasil peliputan ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain yang mengalami peristiwa yang serupa dan diharapkan praktik penyalahgunaan wewenang serta sikap tidak berperikemanusiaan tidak terulang.
4. Dari segi waktu, dengan rencana investigasi selama empat bulan sejak Agustus sampai November 2008, diharapkan peliputan ini dapat dilaksanakan sepenuhnya.

Dewan Juri berdasarkan urutan abjad
Atmakusumah Astraatmadja
Murizal Hamzah
Susanto Pudjomartono

Sumber: Pengumuman panitia Mochar Lubis Award
Foto by Bajo Winarno

Baca Selengkapnya...