Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Pada 29 Juni-1 Juli 2007, Ikatan Fisioterpi Indonesia (IFI), mengadakan pelatihan fisioterapi di Hotel Merpati, Pontianak. Pelatihan bertema “Penatalaksanaan Fisioterapi pada Stroke”, rencananya diikuti peserta dari seluruh rumah sakit, yang ada pengobatan fisioterapi.
Fisioterapi merupakan bidang pengobatan tanpa obat, dan menggunakan khasiat alam. Termasuk dalam hal ini adalah, menggunakan kekuatan listrik, mekanik, air, atau terapi gerak. Fisioterapi ada beragam bentuk. Fisioterapi tumbuh kembang, stroke, ibu hamil dan melahirkan, olahraga, bedah dan lainnya.
Untuk mempelajari fisioterapi, setamat SMA, orang harus melakukan pendidikan khusus mengenai fisioterapi selama empat tahun.
Awalnya, tujuan dari pelatihan ini, melatih para fisioterapi di Kalbar. Peserta pelatihan diutamakan dari Kalbar. “Tapi, pada perkembangannya, juga akan diikuti peserta dari seluruh Indonesia,” kata A. Jauhari, fungsional fisioterapi di Rumah Sakit Sudarso, Pontianak.
Dalam pelatihan pertama mengenai fisioterapi di Kalbar ini, panitia menggunakan pelatihan metode Bobath. Metode ini khusus bagi penderita stroke. Metode ini ditemukan oleh Berta dan Karel Bobath. Metode ini untuk aplikasi assessment dan treatment terhadap pemulihan pada penderita stroke, dan kondisi neurologi lain. Khususnya gangguan sistem saraf pusat pada orang dewasa atau anak.
Metode Bobath tidak menggunakan alat. Semuanya pakai tangan. Metode Bobath bisa dibawa ke rumah, karena tidak membutuhkan peralatan. Karena membawa berbagai peralatan ke rumah pasien, tentu merepotkan. Metode Bobath tingkat sembuhannya lebih cepat.
Metode Bobath baru dekade 90-an di dunia. Di Indoensia pada tahun 2000-an. “Di Pontianak, pelatihan baru dilakukan kali ini. Tapi, ada orang perorang yang belajar di Jakarta,” kata Jauhari.
Salah satunya, Agustinus Hendro. Dia sudah belajar mengenai metode Bobath di Jakarta, pada 2005. Kebetulan, dia ikut wawancara siang itu.
Sebelum ditemukan metode Bobath, para fisioterapi menggunakan metode Proprioceptive Neuromuscular Facilitation (PNF). Semua metode ada plus minusnya. Lalu, apa perbedaannya?
Misalkan, ada orang kena stroke pada tangannya. Kalau metode PNF, tangan itu saja yang diobati. Kalau metode Bobath, bila tangannya sakit, akan dicari dulu, mana yang menjadi inti dari sakitnya. Misalnya di leher. Maka, leher itulah yang diobati dulu. Kemudian baru mengobati tangannya. Istilahnya, dimulai dari akar hingga ke ujung. Basis adalah awal dari gerakan. Kalau basisnya tidak kuat, gerakannya juga goyang. Jadi, mesti menentukan dulu basisnya, barulah turun pada organ yang sakit.
Metode PNF, hasil akhirnya pasien bisa saja tidak kembali normal atau kaku. Kalau metode Bobath, sebagian besar berhasil dalam pengobatannya. Itulah kelebihan dari metode Bobath.
Pada pelatihan ini, semua rumah sakit kabupaten di Kalbar, kecuali kabupaten Melawi dan Kapuas Hulu, mengirimkan peserta. Dua rumah sakit kabupaten itu, tidak ada bagian fisioterapi.
Rumah sakit yang mengirimkan peserta dalam pelatihan, Sambas, Pemangkat, Singkawang, Sanggau, Sintang, landak, Bengkayang, Ketapang, Kabupaten Pontianak dan Kota Pontianak. Kota Pontianak ada Rumah Sakit Sudarso, Rumah Sakit Jiwa, Bayangkara, Rumah sakit tingkat III, dan Yarsi.
Dalam pelatihan itu, ada beberapa materi akan diberikan. Seperti, patofisiologi stroke, penatalaksaan fisioterapi/assesment FT, sisi kognisi, dan sensomotorik.
Patofisiologi berasal dari dua kata. Patologi yang berarti penyakit, dan fisiologi. Stroke ditinjau dari fisiologinya, fungsi dari otak dan penyakitnya itu sendiri. Yang sangat penting, sebelum menangani stroke, harus mengerti fisiologinya. Fisiologi ini menyangkut, apakah strokenya mengalami perdarahan, penyumbatan, kecelakaan, atau abnormalitas dari otak. Jadi, patofisiologi merupakan kata kunci, dan untuk menentukan suatu penanganan lebih lanjut.
Pada pelatihan ini, yang menjadi narasumber dari patofisiologi stroke, Airiza Ahmad. Ia merupakan doktor, dokter spesialis, dan konsultan pada Stroke Center Suparjo Rustam, Jakarta.
Pada materi penatalaksanaan fisioterapi diisi oleh Herry Priatna. Dia Ketua Fisioterapi Indonesia. Materi ini adalah, bagaimana ketika orang menghadapi stroke. Sang fisioterapi harus sudah tahu dan membuat program, untuk menangani stroke. Sudah harus bisa menatalaksanakan program ketika menghadapi stroke. Teknik pengobatan apa yang paling tepat. Misalnya, ada kekakuan sendi. Maka, fungsi geraknya mesti dinormalkan kembali. Hingga tahap akhir, sang fisioterapi harus bisa beraktifitas seperti biasa lagi.
Pada materi mengenai kognisi, sebagai pembicara Wayan, dari Stroke Center Suparjo Rustam. Sisi kognisi melihat, apakah ada sisi gangguan luhur pada strokenya. Pasien stroke biasanya mengalami perubahan perilaku. Yang tadinya periang jadi pemurung. Tadinya, sabar jadi pemarah. Ada perubahan perilaku. Kemampuan daya ingat jadi menurun. Penampilannya juga menurun. Yang semula memperhatikan penampilan, begitu kena stroke, jadi tidak peduli dengan penampilan. Kemampuan bekerja atau memotifasi dirinya juga berkurang. Jadi, sisi kognisi luas sekali.
Pada materi mengenai sensomotorik, yang menjadi pembicara Seman. Dia lulusamfisioterapi Belanda. Sensomotorik berhubungan dengan suatu sensor. Misalnya, kalau orang kena stroke, ada perasaan tidak enak. Badan tebal sebelah. Motoris adalah gangguan kelumpuhan. Yang tadinya bisa bergerak menjadi lumpuh layu dan kaku.
Pada pembukaan acara, akan diikuti oleh berbagai lembaga profesi. Seperti, Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Perawat Indonesia (PPI), Persatuan Ahli Rontzen Indonesia (PARI), Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Berbagai organisasi ini diundang pada saat pembukaan acara. Ketika acara pelatihan berlangsung, semua peserta adalah para fisioterapi.
Pemilihan fisioterapi stroke pada pelatihan ini, bukan tanpa alasan. Di Rumah Sakit Sudarso, rata-rata pasien stroke 10 orang perhari. Itu pasien rawat jalan. Pasien yang dirawat inap, sekitar 5 orang perhari. Itu baru satu rumah sakit.
Dalam melaksanakan pelatihan ini, karena panitia tidak mendapat subsidi dari pemerintah, pihak panitia menggandeng beberapa sponsor. Seperti, Kalbe Farma dan Dosni Roha.
Ada harapan kedepan terhadap pelatihan yang bakal dilakukan. “Bila pelatihan ini sukses, akan dilakukan pelatihan berikutnya dengan metode lainnya,” kata Jauhari.□
Edisi Cetak di Borneo Tribune 29 Juni 2007
foto by Lukas B. Wijanarko
Monday, July 2, 2007
Workshop dan Pelatihan Fisioterapi Pertama di Kalbar
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
11:37 AM
0
comments
Labels: Kesehatan
Saturday, June 9, 2007
*Pontianak Plus: Kelompok Dampingan Sebaya
Oleh: Muhlis Suhaeri
Merebaknya virus HIV/AIDS seharusnya disikapi dengan baik. Tidak perlu ada stigma, hujatan, atau pengucilan. Mereka seharusnya dirangkul. Didekati dan diberdayakan. Toh, mereka juga bagian dari kehidupan di sekitar kita.
Terinfeksi virus HIV/AIDS, bukanlah akhir dari segalanya. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) bisa melakukan berbagai aktivitas kehidupan. Mereka bisa bekerja, berolahraga, atau kegiatan lainnya.
Perasaan senasib melahirkan kebersamaan. Kepedulian. Semangat saling berbagi dan persaudaraan. Begitu pun dengan para ODHA di Pontianak. Ketika tubuh mulai terinfeksi virus HIV/AIDS, rasa dan perasaan senasib itu pun muncul.
Mereka mengorganisir diri. Menghimpun diri dan bergabung dalam satu wadah atau organisasi. Namanya, Pontianak Plus (PP) Support.
Kelompok dukungan ini, berawal ketika Yayasan Spiritia, Jakarta, membuat suatu pelatihan dan program penguatan di Pontianak. Spiritia bertemu dan berbagi pengalaman tentang HIV/AIDS dengan para mantan pecandu narkoba, dokter, perawat, dan orang-orang yang peduli dengan masalah HIV/AIDS.
Pontianak Plus dibentuk pada 13 Oktober 2003, di Pontianak. Awalnya, pembentukan itu dilatarbelakangi, makin banyaknya kasus HIV/AIDS di Kalimantan Barat. Terdorong rasa peduli, menangani, dan membuat jejaring dalam penanganan itulah, mereka membentuk yayasan ini. Tujuannya, ingin saling berbagi pengalaman.
“Awalnya, ada komitmen pribadi dan yang lain, untuk berbagi pengalaman dan perasaan,” kata Hermia Fardin, biasa dipanggil Mia. Ia ketua Pontianak Plus.
Pontianak Plus merupakan kelompok dukungan sebaya ODHA. Dengan Pontianak Plus, mereka punya visi untuk menghapus stigma, diskriminasi, dan menghilangkan rasa takut masyarakat terhadap ODHA.
Stigma dan diskriminasi muncul, ketika masyarakat tidak tahu, apa itu HIV/AIDS. Bagaimana cara penularannya dan pencegahannya. Ketidaktahuan itulah yang membuat masyarakat menjauhi ODHA.
Dalam kegiatannya, Pontianak Plus selalu ingin memberdayakan ODHA. Meski telah terinfeksi virus HIV/AIDS, mereka masih bisa melakukan berbagai aktivitas. Pontianak Plus punya kepedulian pada ODHA, supaya mereka lebih semangat menjalani hidup.
Munculnya sikap masyarakat yang memberikan stigma atau diskriminasi, tak bisa disalahkan sepenuhnya. Kurangnya sosialisasi tentang permasalahan HIV/AIDS, juga jadi penyebab. Oleh sebab itulah, Pontianak Plus, juga membuat berbagai program dan informasi kepada masyarakat, tentang HIV/AIDS. Bentuk kegiatan ini dilakukan dengan pembuatan berbagai booklet, poster, dan buku saku mengenai HIV/AIDS.
Di Pontianak Plus, mereka giat memberi pelatihan, peningkatan keterampilan dan pengetahuan. Peningkatan keterampilan dalam hal ini, berupa berbagai pengetahuan teknis mengenai, cara menangani ODHA, pengobatan, dan lainnya.
Tak hanya itu, Pontianak Plus memberi dukungan dan pelayanan kepada ODHA dengan cara, memberikan akses informasi dan rujukan tentang pengobatan. Hal ini penting, karena ODHA maupun keluarganya, perlu tahu bagaimana mereka menangani permasalahan itu.
Pada perkembangannya, Pontianak Plus membentuk Yayasan Lembaga Kemanusiaan Pontianak Plus. Dengan terbentuknya yayasan itu, mereka berharap dapat memperkuat program di Pontianak Plus. Karena ada program, bagaimana Pontianak Plus kedepannya, bisa menjadi payung bagi kelompok dukungan sebaya di Kalimantan Barat.
Sekarang ini, Pontianak Plus punya kelompok dukungan sebaya di Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak, Kota Singkawang, Kabupaten Sintang, dan Kabupaten Pemangkat, Kota Singkawang.
Selain melakukan pendampingan pada ODHA, Pontianak Plus juga melakukan berbagai pendampingan kepada kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terhadap penularan HIV/AIDS. Mereka ini adalah, pengguna narkoba jarum suntik (IDU), perempuan pekerja seks (WPS), pelanggan WPS, homoseksual, dan orang yang hidup dengan HIV/AIDS (OHIDA). OHIDA dalam hal ini adalah, keluarga serumah yang tinggal dengan orang yang terinveksi HIV/AIDS.
Menurut Mia, Pontianak Plus merupakan kelompok payung yang melayani kelompok dukungan sebaya di seluruh Kalimantan Barat. “Dengan Pontianak Plus, kita bisa melakukan berbagai penjangkauan ke berbagai daerah,” kata Mia.□
Foto dokumen Mia
Edisi Cetak, Harian Borneo Tribune, 9 Juni 2007
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
10:45 AM
0
comments
Labels: Kesehatan
Monday, June 4, 2007
Pelatihan Pendidik Pengobatan bagi ODHA
Oleh: Muhlis SuhaeriYayasan Spiritia Jakarta dan Pontianak Plus mengadakan kerja sama pelatihan, untuk pendidik kesehatan, mengenai penggunaan terapi obat antiretroviral. Kegiatan berlangsung di Hotel Kini Pontianak dari 4-9 Juni 2007. Kegiatan bertujuan meningkatkan mutu hidup ODHA, melalui akses pengobatan dan kehidupan bermutu untuk HIV dan pada informasi untuk meningkatkan tingkat keberhasilannya.
Pelatihan ini sebagai respon dari makin banyaknya orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA). Yang menggunakan terapi antiretroviral (terapi untuk menekan pembuatan HIV). Obat ini sudah disubsidi keberadaannya oleh Dinas Kesehatan.
Meski sudah banyak ODHA yang menggunakan terapi antiretroviral, namun banyak juga yang belum mengetahui dan mengerti secara jelas, semua aspek pengobatannya. Dalam hal ini termasuk kepatuhan, efek samping, kombinasi obat dan bagaimana menjangkau obat tersebut. Bahkan, ada satu laporan menyebutkan, ada ODHA yang memakai obat ini, tanpa mematuhi dan pedoman dari dokter.
Pelatihan ini juga bentuk kesadaran, bahwa jumlah dokter yang punya pengetahuan, pengalaman, ketrampilan, menangani terapi ini, sangat terbatas jumlahnya.
Hal inilah yang mendorong Yayasan Spiritia Jakarta, bekerja sama dengan Pontianak Plus, mengadakan pelatihan. Tujuan dari pelatihan, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ODHA dan komunitas yang berpengaruh pada ART. Selain itu, pelatihan bertujuan mendorong ODHA, memulai ART dengan penuh percaya diri, dan menyediakan modul pelatihan pendidikan pengobatan, yang dapat dipakai oleh peserta untuk melakukan pelatihan sejenis, pada kelompok atau lembaganya.
Peserta pelatihan berasal dari seluruh wilayah Kalbar. Mereka yang ikut pelatihan ini punya kriteria, harus memahami dan punya pengalaman penuh tentang dasar HIV, dan pengobatannya. Mereka yang tertarik dan ingin belajar tentang cara pengobatan HIV dan bersedia membagi pengetahuannya kepada kelompok atau ODHA di daerahnya, juga bisa mengikuti kegiatan ini.
Materi yang diberikan dalam pelatihan itu antara lain, pengetahuan dasar mengenai HIV dan pengobatannya, ARV dan anak, HIV dan perempuan, infeksi oportunistik, pelatihan paliatif (penanganan nyeri), HIV dan Tuberculosis (TB), HIV dan Hepatitis, dan lainnya.
Selain materi tersebut, pelatihan juga diisi dengan materi praktik dan kegiatan penunjang. Bahkan, dalam setiap sesi acara, panitia juga mengadakan berbagai permainan, supaya sesama peserta ada rasa kebersamaan.
Hermia Fardin dari Pontianak Plus, menuturkan, “Kegiatan ini merupakan satu cara untuk memfasilitasi kelompok dukungan yang ada di tiap kabupaten, yang tergabung dan menjadi kelompok dampingan ODHA.”□
Foto by Lukas B. Wijanarko, "Siluet."
Edisi Cetak, Harian Borneo Tribune, 4 Juni 2007
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
10:40 AM
0
comments
Labels: Kesehatan
Wednesday, December 14, 2005
Sepenggal Nyawa Pada Madu Alam
Oleh: Muhlis Suhaeri
Tahukah Anda, apa yang kita konsumsi sehari-hari, terkadang berasal dari suatu usaha dan taruhan nyawa, untuk mendapatkannya. Salah satu contoh, memperoleh madu alami. Untuk mendapatkannya, perlu ketrampilan, keahlian dan nyali khusus.
Bila Anda datang ke danau Sentarum, sempatkan mampir ke Pulau Tekenang. Di sana pemandangannya sungguh indah. Kombinasi bukit dan danau air tawar, memberi corak tersendiri pada alam. Deretan tumbuhan berjajar dan menapaki sebuah bukit di sana.
Pada sebuah bukit inilah, ada dua pohon besar. Tinggi pohon mencapai 200-300 meter dengan diameter sekitar 3-4 meter. Masyarakat menyebut pohon itu sebagai pohon lalao. Apa istimewanya pohon ini? Pohon lalao bukan sembarang pohon. Kepemilikannya, ada pada keturunan raja Selimbau. Salah satu keturunannya bernama Ade Ahmad. Dia bekerja sebagai nelayan. Di pohon lalao itulah, setiap setahun sekali, ratusan kilogram madu dapat diunduh atau dipanen. Hanya keluarga keturunan raja, boleh mengambil madu itu.
Madu biasanya panen pada bulan Januari dan Februari. Munculnya madu bisa dilihat dari adanya beberapa bunga, seperti, bunga putat, bunga kayu taun, dan bunga kayu masung. “Kalau bunga-bunga itu tak jadi, madu biasanya juga tak jadi,” kata Aspanwani, salah seorang penduduk di pulau Tekenang.
Cara mengambil madu di pohon lalao, musti dipanjat. Namun, tidak semua orang berani memanjatnya. Dulu ada satu orang di kampung itu, sanggup memanjat dan memanen madu. Sekarang tak ada lagi. Bila ingin memanen madu, keluarga Ade Ahmad harus mencari pemanjat dari kampung lain. Mereka berembug sesama keluarga untuk mencari pemanjat.
Cara memanen madu menggunakan sengkidau, tebauk dan tempayan. Sengkidau berupa kayu sebentuk dayung. Panjangnya sekitar 50-70 cm dengan lebar 5-7 cm. Ujungnya dibuat lebih lebar. Ukurannya sekitar 10 cm. Sengkidau berfungsi sebagai alat mengambil madu. Tebauk berupa akar-akaran. Fungsinya, menggusir lebah dari sarangnya. Tempayan merupakan alat untuk menampung madu. Kalau tak ada tempayan, bisa juga menggunakan blek kopi (tempat kopi dari lembaran logam dan berbentuk kotak), galon dan lainnya. Untuk memanjat pohon digunakan sebuah tali yang disambung satu dengan lainnya. Istilahnya tali panjat.
Mengambil madu dilakukan pada malam hari. Tujuannya, supaya lebah tidak menyengat. Biasanya mengambil pada pukul 6 sore hingga pukul 4 subuh. Bila tidak selesai malam itu, akan dilanjutkan malam berikutnya.
Ada ritual khusus ketika orang ingin mengambil madu di pohon lalao. Sebelum memanjat pohon, mantra-mantra dipanjatkan. Lafalnya seperti jampi-jampi atau nyanyian. Di bawah pohon itulah, mantra dilantunkan.
Setelah upacara kecil selesai, pemanjat akan segera naik ke atas pohon. Selama naik dan mendekati sarang, pemanen akan selalu melantunkan mantra. Fungsinya, supaya lebah tidak menyengat dan menyerang. Mantra juga berfungsi mengusir segala hantu atau roh jahat lainnya.
Setelah di atas, pemanen menyalakan gulungan akar dengan api. Kepulan asap didekatkan pada sarang lebah. Dengan cara itu, lebah bakal menyingkir dari sarangnya. Setelah lebah lari dari sarangnya, tempat untuk menampung madu diletakkan di bawah sarang. Setelah itu, pemanen akan mencocok sarang lebah dengan sengkidau. Madu yang tercocok akan jatuh ke dalam tempat penampungan.
Meski pada satu pohon, sarang lebah terpencar satu dengan lainnya. Satu pohon ada sekitar 40-50 sarang lebah. Sekali panen bisa menghasilkan sekitar 100 kg. Harga madu sekilonya Rp 25 ribu. Sistem pembagian madu dengan cara bagi hasil. Pemanen mendapat 60 persen dan pemilik pohon 40 persen. Memanjat resikonya besar, sehingga pembagiannya juga besar. Tapi, biasanya pemanen ada dua orang. Sehingga hasil pemanen juga dibagi dua.
Masyarakat di danau Sentarum juga membudidayakan madu. Caranya, mereka meletakkan kayu melintang pada dua dahan pohon. Di kayu itulah lebah akan menempatkan sarangnya. Cara budi daya itu biasa disebut dengan tikung. Tempat kayu hinggap dan meletakkan madunya disebut dengan repak.
Biasanya satu kepala keluarga (KK), membuat 30-40 tikung. Batang kayu untuk membuat tikung, biasanya dari kayu tembesu. Setelah satu tahun, barulah ada hasilnya. Satu pohon bisa menghasilkan 5 kg madu. Tikung biasa disebut dengan nama singkap. Satu pohon hanya satu tempat atau satu singkap.
Karena setiap orang punya tikung, mereka menandai tikung atau singkap dengan cara memberi tanda tertentu. Bisa berupa cat, atau tanda lainnya. Ada tanda runcing, bundar, persegi dan lainnya.
Cara mengambil tikung juga sama. Perlu dua orang untuk memanen madu. Satu orang memanjat pohon, dan satunya menunggu di perahu. Orang di perahu bertugas mengusir tawon, supaya tidak berada di perahu. Kalau tidak begitu, lebah akan tetap tinggal di perahu.
Setelah terkumpul, madu segera disaring. Caranya, meletakkan kain kasa di atas ember. Lalu, meletakkan sarang madu di kain kasa. Madu dengan sendirinya akan meleleh dan tertampung di ember.
Dulu, orang memeras madu sekalian dengan sarangnya. Hasilnya kurang bagus. Terbawanya tahi dan sarang lebah, membuat kualitas madu kurang bagus. Warna madu juga tidak bisa bening dan bagus. Masyarakat menjual sebagian besar madu yang dihasilkan. Kalau pun dikonsumsi di rumah, hanya sebotol saja.
Lalu, bagaimana mengetahui madu itu asli atau tidak. Ada beberapa cara mengetesnya. Menurut Aspanwani, salah satu cara dengan meneteskan madu pada kertas pembungkus batang rokok. Bila kertas tidak koyak, berarti madu asli. Cara lain dengan memasukkan sebutir beras ke madu. Kalau beras berbuih, berarti madu itu asli. Madu bila dikocok dan tidak berbusa, juga bisa menunjukkan sebagai madu asli. Madu asli bisa juga dibuktikan dengan meletakkan madu di tempat terbuka. Bila ada semut datang mengerubung, berarti madu itu tidak asli.
Apa khasiat yang terkandung dalam madu?
Menurut Muslimtechnologist, seperti ditulis pada koran Republika menyebutkan, madu mempunyai beberapa khasiat. Pertama, madu digunakan sebagai zat anti bakteri dan jamur. Madu dapat menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus, patogen tertentu, serta jamur, semisal Candida albicans. Kedua, madu digunakan sebagai antimencret.
Dengan konsentrasi hingga 40 persen, madu memberikan efek bakterial yang akan menghambat laju sejumlah bakteri yang menyebabkan mencret serta disentri, seperti Salmonella, Shigella, enteropatogenik E coli, dan Vibrio cholera. Ketiga, madu dapat digunakan sebagai penyembuh luka dan anti-inflammatory (luka bakar). Keempat, madu dapat digunakan sebagai zat antitusif dan ekspektoran.
Madu yang diandalkan sebagai obat batuk ini terkait dengan kemampuannya untuk mencairkan dahak dan melegakan tenggorokan. Kelima, madu sebagai sumber nutrisi. Madu tak terkontaminasi sangat sehat, makanan yang alami, dan mengandung banyak energi. Karena mengandung karbohidrat, protein, lipid, enzim dan vitamin. Satu sendok madu mengandung 60 kalori, serta mengandung 11 gram karbohidrat, 1 mg kalsium, 0,2 mg zat besi, 0,1 mg vitamin B dan 1 mg vitamin C.
Khasiat dan kegunaan madu, juga termaktub dalam Al-qur’an, surat An-Nahl, ayat 68-69, yang mempunyai arti, Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia, kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).”
Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.
Nah, karena mempunyai multi fungsi itulah, orang sejak jaman dulu telah menggunakan madu untuk berbagai obat dan menyembuhkan beragam penyakit. Tak heran jika madu telah akrab di kalangan masyarakat dan peradaban kuno, seperti pada bangsa Mesir, Assyria, Cina, Yunani dan Romawi kuno.
Maka, jangan menunggu. Bila Anda ingin sehat, salah satu cara dengan mengkonsumsi madu setiap hari.***
Foto by Muhlis Suhaeri, "Danau Sentarum."
Edisi Cetak, minggu kedua, Desember 2005, Matra Bisnis
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
8:25 AM
0
comments
Labels: Kesehatan