Maryadi, Hadir Lagi Sebelum Kembali
Penulis: Muhlis Suhaeri
Sore yang pengab dan gerah. Listrik mati sedari siang. Urusan melihat venue untuk UKJ, dan mengecek kendaraan yang jebol laher atau bearing pun sudah tuntas.
Bersihkan badan berlama-lama di kamar mandi, jadi keistimewaan tersendiri. Selesai mandi handuk pun ditaruh. Mata menatap hape yang baru saja terisi daya.
Cahaya memendar. Sebaris nama muncul. Tapi, kawan, rekan atau mitra kerja ini, jarang sekali telepon.
Pasti ada sesuatu yang penting. Atau, rencana kerja yang ingin disampaikan. Tapi, suara di seberang itu terdengar parau. Serak dan tercekat. Ada sesunggukan yang coba ditahan.
"Bang, sudah dengar kabar tentang Bang Maryadi, belum?" tanyanya.
"Belum," jawabku singkat.
Sambil berpikir, saya membayangkan kalimat lanjutannya. Situasi itu, serasa berada dalam satu lorong waktu. Panjang dan mencekam. Tapi, kita harus terus berjalan. Dalam satu deretan panjang dan berjejal.
"Bang Maryadi meninggal," katanya melanjutkan.
"Hah, meninggal?" kataku mengulang.
Kalimatnya terdengar jelas. Tapi, telinga ini, seakan tak mau menerima informasi itu.
Lalu, ia menyampaikan, supaya informasi itu dikabarkan ke kawan-kawan di AMSI. Begitu lihat grup Member AMSI, situasi sudah ramai.
Banyak anggota AMSI di WAG, menanyakan kebenaran informasi itu: "Sekjen AMSI, Maryadi meninggal."
Waktu seakan berhenti. Layar hape seolah memancar warna pudar. Masa lalu dan sekarang, segera bergerak mundur.
Coba mengingat bagian dan serpihan. Yang saling beririsan dan menaut, dalam satu lanskap perjalanan waktu.
Jejak Panjang Perjalanan
Maryadi lahir pada 2 November 1973 di Jakarta. Ia sulung dari dua bersaudara. Maryadi masuk Fakultas Ekonomi Untan, Angkatan 1995.
Meski memiliki paman di Pontianak, ia lebih suka indekost.
Pamannya, Widodo, anggota legislatif Kota Pontianak, dari Partai Persatuan Pembangunan. Pernah menjabat selama 20 tahun. Terakhir, tahun 2024.
Maryadi memiliki pengalaman panjang sebagai jurnalis, dan mengelola media massa.
Dimulai ketika masih menjadi mahasiswa di Universitas Tanjungpura (Untan). Ia tergabung dalam Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Mimbar Untan (MIUN).
MIUN berdiri pada 25 April 1999. Awalnya, berupa media humas Rektorat Untan, bernama Suara Mahasiswa. Terbit pertama pada 1 Agustus 1984.
Maryadi juga aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Beberapa kawan yang pernah didampingi, Almarhum Firyan Aziz, mantan Komisioner KPU RI, periode 2017-2022.
Sebagai anak rantau, Maryadi sosok yang pandai bergaul. Pembawaannya ceria dan ramai. Orang suka bergaul dengannya.
[caption id="attachment_28508" align="aligncenter" width="640"]
Wahyu Dhyatmika dan Maryadi, saat terpilih sebagai Ketua Umum dan Sekjen AMSI pada Kongres III di Bandung, 24 Agustus 2023.(Foto AMSI).[/caption]Kehadirannya selalu dirindukan. Dan, ia menyadari itu. Maka, seperti karakter merak jantan. Sedikit memekarkan bulu dan tarian. Dan, para merak lain, segera berjalan mengikut.
Keriuhan dan keceriaan itu, selalu dirindukan. Bagi, orang yang pernah mengenalnya.
Mariadi pernah menjadi reporter media cetak di Pontianak. Namanya, Harian Suaka di Pontianak. Media itu milik pengusaha Kalbar, OSO. Tak bertahan lama, media itu keburu tutup.
Selanjutnya, ia menjadi reporter Detik.com di Pontianak.
Maryadi orang yang lincah dan cepat geraknya. Begitu pun saat mengejar narasumber. Selesai wawancara, ia langsung menelepon dan buat laporan ke kantornya.
Sementara, kawan-kawan liputannya masih harus ke kantor, untuk menulis laporan. "Mar, tunggu lok, jangan cepet-cepet," begitu kata kawan-kawannya.
Saat itu, sekitar 1999, koresponden Detik.com hanya setor berita dengan menelepon. Ada penulis yang merangkai dan menulis beritanya.
Sebagai koresponden media nasional, liputannya juga berita yang memiliki nilai lebih besar atau nasional. Wilayah liputan Maryadi, biasanya seputar Polda Kalbar, Kantor Gubernur dan DPRD Kalbar.
Saat pecah kerusuhan rasial, 1999-2000-an, Maryadi meliput isu-isu kerusuhan. Meski koleganya sempat kuatir dengan keselamatannya, ia menanggapinya dengan santai.
Ketika Detikcom butuh banyak SDM untuk mengisi posisi dan operasional, Maryadi ditarik ke Jakarta.
Ia tentu saja gembira. Sebab, gaji di pusat lebih besar dan "kolam"-nya lebih luas. Selain itu, ia bisa pulang kampung.
Dari Detikcom, ia menapak jalan lebih besar di media online Viva.co.id. Ada prahara internal di media tersebut.
Para punggawa dan pucuk pimpinan media tersebut, hengkang satu persatu. Maryadi bertahan, dan didapuk sebagai Pemimpin Redaksi.
Selanjutnya, dia menapak jalan lain. Bergelut di bidang pengembangan bisnis media. Ia bergabung di Katadata.com.
Pengembangan dan rintisan bisnis yang didapuknya, berjalan dengan baik. Jaringan dan kolega bisnisnya makin moncer.
Maryadi sempat bergabung di Nusantara TV dan Kabar Bursa. Tak puas bergabung di media lain, ia coba peruntungan baru dengan membuat media sendiri, Tutur.co.id bersama Don Bosco Salamun.
Juga Adi Prast dan Gaib Maruto, keduanya orang AMSI.
Perubahan Lanskap Media
Maryadi adalah satu kisah panjang. Bagaimana, jurnalis dengan tradisi media cetak, harus bertransformasi menjadi jurnalis media siber atau online.
Masa, ketika internet tak sekedar menjadi platform. Tempat media massa coba menata berita, dan merengkuh peluang di bisnis media.
Kehadiran teknologi, selalu menghadirkan dua mata pisau. Kehadiran internet, bawa kemudahan pada cara kerja media massa. Namun, internet juga membunuh ratusan, bahkan ribuan media cetak di seluruh dunia.
Dalam satu kesempatan mendapatkan program Internasional Visitor Leadhership Program ke Amerika Serikat, tahun 2010, seorang manajer Newseum, Gene Matter berujar:
"Saat ini (2010, red), sudah ada 30 ribu jurnalis di Amerika Serikat di rumahkan. Ada ratusan media di-Merger (digabung)."
Artinya, internet tak hanya mengubah cara kerja media. Tapi, juga mulai menggilas media cetak. Satu per satu media cetak tumbang.
Pembaca mulai pindah ke media siber. Alasannya, sederhana saja. Lebih cepat. Multi angle. Dalamn satu genggaman tangan saja. Bisa dibuka kapan saja.
Begitu pun dengan model bisnis media massa siber. Belum menemukan bentuk dan sisi bisnisnya. Masih sekedar urusan menulis berita.
Orang belum memiliki skema atau pola bisnis, supaya media terus berjalan. Pada titik ini, jurnalis sering keteteran.
Mereka tak terbiasa urusi bisnis media. Tapi, bila bisnis tak diurus, media juga tak bisa menggaji wartawannya.
Nah, Maryadi memiliki peran yang baik, dalam merintis dan mentransformasikan bisnis di media massa.
Sebagai perintis berdirinya Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Maryadi pernah terpilih sebagai Bendahara Umum AMSI, periode 2017–2023.
Pada Kongres AMSI III di Bandung, ia terpilih sebagai Sekjen AMSI, periode 2023-2027. Wahyu Dhyatmika sebagai Ketua Umum AMSI.
Melalui AMSI, Maryadi menjembatani media-media rintisan anggota AMSI, menggarap sisi bisnis media yang didirikan.
Caranya, tentu saja menyingkronkan antara visi dan misi media, pemebritaan, dan bisnis yang ingin diraih.
"Harus selaras dan sejalan," begitu katanya, dalam satu percakapan.
Pernyataan Maryadi, selaras dengan Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika, saat memberikan pernyataan resmi terkait wafatnya Maryadi.
"Maryadi adalah rekan seperjuangan yang memahami, pentingnya perusahaan media yang sehat, sebagai penopang jurnalisme berkualitas," tulis Bli Komang, panggilan akrabnya.
Wahyu Dhyatmika menegaskan, Maryadi bukan hanya seorang pengurus organisasi. Ia juga rekan seperjuangan yang memahami kerja suatu media.
"Bahwa, jurnalisme berkualitas hanya dapat tumbuh, apabila ditopang oleh perusahaan media yang sehat dan independen," kata Wahyu Dhyatmika.
Kembali ke Komunitas Awal
Awal tahun 2025, Maryadi sering bolak-balik Jakarta-Pontianak. Ia dipercaya sebagai konsultan media perusahaan besar. Tugasnya, menjembatani kepentingan perusahaan dan media massa, khususnya di Kalbar.
Maryadi menghidupkan lingkaran dan komunitasnya. Satu persatu dijalin dan dipilin. Dirangkul dan dipikul.
"Tapi, tentu saja kita tak bisa menyenangkan semua orang. Ya, jalan saja," ujarnya suatu ketika.
Perjalanannya kembali ke Pontianak, seolah memberi sinyal pada kawan-kawan lamanya. Ia harus memberi manfaat. "Bahwa, kehadirannya adalah jalan, sebelum dia kembali."
Selamat bertemu dikeabadian Sobat.***
Penulis:
Muhlis Suhaeri, Ketua AMSI Kalbar
CEO Borneo Review
No comments :
Post a Comment