Friday, July 20, 2007

Menelusuri Jejak Sejarah Melalui AJARI II

Muhlis Suhaeri
Ketapang, Borneo Tribune

Kegiatan Nasional Arung Sejarah Bahari (AJARI) II, yang diikuti 72 mahasiswa dari seluruh universitas di Indonesia, pada Kamis (16/7) melaksanakan perjalanan ke Kabupeten Ketapang dan Sukadana, Kabupaten Kayung Utara (KKU). AJARI II yang digelar pada 15-21 Juli 2007, bertema “Mengarungi Lautan, Menyusuri Sungai, Menguak Peradaban.”

Sehari sebelumnya, Rabu (15/7) rombongan mengikuti diskusi sejarah, berkeliling Kota Pontianak, menyambangi berbagai obyek wisata sejarah. Seperti, Masjid Jami’, Keraton Kadariah, Tugu Khatulistiwa, Klenteng Budhisatva Karaniya Metta, Rumah Betang, Museum Negeri Kalbar, Pelabuhan Seng Hie, dan Makam Raja Pontianak di Batu Layang.


Rombongan mahasiswa dan panitia menggunakan pesawat terbang dari Jakarta. Meski tujuan kegiatan adalah menciptakan minat dan rasa cinta pada bahari, tapi panitia tak menggunakan kapal dari Jakarta ke Pontianak. Penggunaan kapal bisa membuat keuangan melambung tinggi.

Bayangkan, jika menggunakan salah satu kapal milik pemerintah, untuk mengisi solar selama seminggu saja, butuh dana sekitar Rp 2 miliar. Belum lagi harus membayar anak buah kapal.

Dari Pontianak, rombongan menggunakan kapal cepat Ekspres. Kapal berbobot 2000 ton ini, pasokan bahan bakarnya juga lumayan besar. Untuk sekali jalan saja, Pontianak Ketapang, butuh solar 2500 kiloliter atau 2,5 ton.

Dalam perjalanan ini, panitia menyewa kapal. Selama perjalanan, peserta diberi berbagai macam permainan dan kegiatan. Ada kegiatan mengisi peta buta, mengisi alur pelayaran bahari dunia dan Indonesia, menebak nama perahu tradisional di Indonesia dari gambar yang diberikan, dan lainnya.

Peserta terlihat menikmati permainan ini. Mereka begitu antusias. Dalam suasana kebersamaan, mereka menyelesaikan seluruh soal. Ada diskusi. Ada interaksi. Sesekali, canda nakal pun turut menyelingi. Khas remaja.

Di Ketapang, rombongan mengikuti diskusi di pendopo rumah dinas bupati, dan presentasi poster dari peserta.

Dalam lomba poster, yang dinilai ada beberapa kategori. Poster harus komunikatif. Bahkan, harus bisa ditangkap maksudnya oleh orang sekali pun. Ada kesesuaian tema. Harus sesuai dengan eye catching.

Esoknya, Rabu (18/7), mengunjungi Keraton Mulia Kerta, Makam Raja-raja Matan, Makam Keramat Tujuh dan Sembilan, dan Makam Iranata. Selepas mengunjungi makam itu, perjalanan dilanjutkan menuju Sukadana, Kabupaten Kayung Utara.

Keraton Matan menghadap sungai Pawan. Keraton ini merupakan hasil pemindahan kerajaan Tanjungpura pada 1922. Kerajaan Matan berakhir pada 1943, seiring dengan diculiknya Gusti Muhammad Saunan oleh tentara pendudukan Jepang. Hingga kini, jenasah sang penembahan tidak pernah ditemukan.

Tak ada yang menggantikan kedudukannya. Ia belum berkeluarga. Gusti M Saunan merupakan panembahan ke-5 kerajaan Matan.

Di istana yang dicat serba kuning ini, berbagai peninggalam masa kerajaan Matan, masih tersimpan rapi. Pada ruangan depan sebelah kiri, terdapat satu ruangan yang menyimpan berbagai benda pusaka keraton. Seperti, guci, kain, timbangan, tombak, dan lainnya. Ada juga tempayan gajah. Ini sebutan guci besar dengan motif naga dari China.

Sebuah busana lengkap bermotif Balai Mengunang, tergantung pada lemari kaca. Usia baju berumur 263 tahun. Sebuah kain bermotif Lunggi, berumur 340 tahun.

Di ruangan depan sebelah kanan, terdapat ruang kerja sang panembahan. Di ruangan ini, terdapat seperangkat meja dan kursi. Podium. Meja kerja. Almari.

Di ruangan tengah terdapat sepasang singasana. Semua ornamen dan ruangan itu, dipenuhi warna kuning. Warna kuning melambangkan keanggungan dan warna kerajaan.

Ada sepasang meriam Padang Pelita. Meriam ini jenis perempuan dan lelaki. Menurut sang juru kunci istana, Uti Syahrudin, bila meriam ini meletup atau dibunyikan, seluruh listrik bisa mati. Sangking, kerasnya letupan. Waallahu alam.

Namun, ada yang disayangkan dalam pengelolaan pusaka bersejarah ini. Setidaknya, hal itu dinyatakan Dian Pratiwi Pengemanenan, mahasiswi Fakultas Komunikasi, Jurusan Iklan, kampus Mustopo Beragama Jakarta.

“Seharusnya barang pusaka itu diberi pelindung, supaya tidak bisa langsung disentuh atau diduduki,” kata Dian, ”Mosok kita bisa dengan bebas memegang dan menduduki kursi atau tempat tidur bersejarah ini.”

Mengenai makam yang dikunjungi, merupakan makam kuno. Makam Keramat Tujuh atau Keramat Sembilan, telah diperbaiki dan dikumpulkan menjadi satu komplek makam. Namun, pengumpulan makam jadi satu komplek pekuburan ini, juga menyisakan pertanyaan. Di makam itu, tak jelas, siapa yang dimakamkan.

Begitu pun dengan tahun, kematiannya. Tak tertera angka tahun. Nisan makam terbuat dari batu andesit. Batu ini tidak ditemukan di Ketapang. Berarti, nisan batu itu, dibawa dari luar Ketapang atau Kalbar. Dari tulisan yang tertera pada makam, terdapat tulisan Arab berbunyi, kullunafsin daaikatul maut. Kalimat itu memiliki arti, setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Ada perbedaan komplek makam ini, dengan makam-makam kuno di Jawa. “Kalau makam di Jawa, hirarkinya jelas,” kata Surya Helmi, Direktur Arkeologi Bawah Air, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala. Helmi, pernah menjabat sebagai kepala balai sejarah di Minangkabau.

Menurutnya, kalau makam itu merupakan makam raja atau sunan, tidak mungkin makam itu dikelompokkan dalam satu tempat. Seperti, di makam Keramat Tujuh atau Keramat Sembilan. Makam seorang raja atau sunan, biasanya terpisah dengan makam lain. Ada satu tempat tersendiri.

Perjalanan dilanjutkan menuju Sukadana, Kabupaten Kayung Utara (KKU). Sukadana pernah diduduki Inggris dan Belanda. Daerah ini sejuk. Bukit menjunjung tinggi dengan warna hijau, berpadu dengan hamparan hamparan pasir pantai. Tak heran bila Belanda memberi nama Brusel, untuk Sukadana. Nama itu mengacu pada ibukota Belgia, Brusel. Yang terkenal karena keindahan dan kesejukan hawanya. Namun, lidah lokal keseleo, dan menyebut daerah ini dengan nama Bresol.

Di kabupaten yang baru saja dimekarkan ini, rombongan mengunjungi makam raja Sukadana, Tengku Akil. Perjalanan juga diteruskan dengan mengunjungi Tengku Abdul Hamid, rumah keturunan Tengku Akil, kantor dan tangsi Belanda.

Di pinggir pantai Tanjung Datu’, rombongan menikmati santap makan siang sambil diiringi tarian panen durian. Ini tarian khas masyarakat Sukadana.

Acara lain yang tak kalah seru, presentasi makalah peserta. Ada 39 makalah masuk ke panitia. Dari makalah itu, disaring menjadi 12 makalah. Ada tiga peserta dari Universitas Tanjung Pura (Untan), Pontianak. Dari Universitas Indonesia (UI), Jakarta. Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor. Universitas Pajajaran (Unpad), Bandung. Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta. Universitas Sumatera Utara (USU). Universitas Airlangga (Unair), Surabaya. Universitas Patimura, Ambon. Semua makalah dipresentasikan.

Selesai mendengarkan semua peserta presentasi makalah, Triana Wulandari, ketua panitia mengemukakan, “Semula saya tidak percaya, ketika pertama kali membaca makalah yang dibuat.”

Begitu juga ketika harus memilih makalah mana yang layak untuk masuk dalam 12 besar. Setelah mendengar langsung presentasi malam itu, ia merasa terharu dan kagum dengan kemampuan semua peserta. “Mereka lancar dan menguasai betul makalah yang dibuat,” kata Wulandari.

Malam Kamis, acara ditutup di pendopo Walikota Pontianak. Acara penutupan diisi dengan acara makan malam bersama. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan laporan panitia, dan diakhiri dengan pagelaran dan pentas seni dari peserta.

Begitulah, acara AJARI II tingkat nasional itu, telah menorehkan berbagai kenangan bagi peserta. Khususnya bagi wilayah Kalimantan Barat, yang telah menjadi tujuan acara kegiatan. Semoga, kegiatan itu menumbuhkan para pembaharu di bidang bahari. Semoga.□

Edisi Cetak ada di Borneo Tribune, 20 Juli 2007
Foto Muhlis Suhaeri, judul "Makam Keramat Tujuh di Ketapang."

1 comment :

sunaryo adhiatmoko said...

Salam,
Senang bisa mampir ke blog kawan tunggal banyu. Terus berkarya