Wednesday, December 28, 2005

PLN....OH......PLN

Oleh: Muhlis Suhaeri

Listrik sebagai salah satu energi, memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Apa kehidupan manusia yang tak terkait olehnya?

Mau masak, orang tinggal memencet rice cooker. Dan jadilah nasi. Mau mencuci, tinggal memasukkan pakaian ke mesin cuci. Ingin menyaksikan perkembangan dunia, tinggal menonton layar televisi. Secara garis besar, segala peralatan dan kebutuhan manusia, tidak bisa dipisahkan dengan energi listrik. Hal itu tidak dapat dibantah lagi.


Menurut Michael Parfit, Energi Masa depan, NGI, dalam sehari konsumsi energi dunia mencapai 320 miliar kilowatt-jam (kWh). Para ilmuwan memperkirakan, dalam abad mendatang, jumlah konsumsi dunia itu meningkat tiga kali lipat—960 miliar kWh. Pasalnya, dengan bertambahnya jumlah manusia, kebutuhan akan energi juga semakin besar. Dan kemampuan manusia untuk mendapatkan energi ada batasnya.

Untuk menghasilkan energi listrik, manusia memanfaatkan bahan tambang dan minyak bumi. Maka muncullah pembangkit listrik yang digerakkan bahan bakar solar, batu bara dan gas bumi. Karena bahan tambang dan minyak bumi ada batasnya, manusia mencari alternatif lain.

Lalu, muncullah teknologi listrik yang menggunakan energi alam seperti air, angin, dan tenaga panas surya. Di beberapa negara seperti Denmark dan Jerman, energi angin dan panas surya, menjadi tenaga alternatif yang sangat menguntungkan. Indonesia belum banyak menerapkan teknologi ini. Mungkin, karena teknologinya yang belum berkembang di sini. Atau, masih mahal dari segi ongkos produksinya.

Maka, jadilah kita sebagai bangsa, yang selalu tergantung pada cadangan bahan bakar minyak bumi. Padahal, dalam beberapa puluh tahun ke depan, diperkirakan cadangan minyak bumi dunia akan segera habis. Kondisi makin parah dengan terjadinya krisis multi-dimensi, yang dialami Indonesia sejak 1997. Krisis ekonomi berakibat pada beban puncak yang dialami negara dalam hal penyediaan energi listrik, dalam hal ini Perusahaan Listrik Negara (PLN), sebagai salah satu penyelenggara dan pemasok listrik.

Repotnya lagi, sebagian besar instalasi penghasil listrik di Indoensia, masih bersumber pada bahan baku minyak bumi. Padahal, minyak bumi merupakan bagian terbesar dari komponen HPP (Harga Pokok Penyediaan) listrik, sebesar 45%. HPP lainnya adalah pemeliharaan mesin, gaji pegawai, administrasi, biaya penyusutan dan lainnya.

Naiknya harga minyak mentah dunia, membuat pasokan bahan bakar juga tersendat. Tak heran jika kesulitan penyediaan bahan bakar yang dialami Indonesia sekarang ini, berimbas pada penyediaan energi listrik yang dihasilkan. Kuota pasokan bahan bakar untuk pembangkit PLN pun dijatah.

Penjatahan ini tentu saja terkait dengan masalah subsidi dari pemerintah dan APBN. Contohnya, PLN di Pontianak. Menurut Ir. Adang Sudrajat, Kepala PLN Cabang Pontianak, supaya listrik bisa menyala selama satu tahun, membutuhkan BBM sekitar Rp 190.138.986 liter. Kenyataannya, dalam kontrak pengadaan BBM, PLN Pontianak cuma mendapat Rp 175.908.000 liter.

Supaya kota Pontianak dapat menikmati listrik selama satu tahun penuh, maka PLN Pontianak mengadakan pemadaman bergilir. Hal itu terpaksa ditempuh, supaya Pontianak tidak padam total pada akhir tahun. Kebijakan itu tentu saja membuat berbagai pihak menjadi berang dan marah. Bagaimana tidak, segala kegiatan kantor, perdagangan, perekonomian, kesehatan dan aktifitas lainnya, jadi terganggu dengan matinya listrik. Berapa kerugian yang harus ditanggung konsumen dalam hal ini?

Apa yang dilontarkan konsumen memang benar adanya. Tapi, konsumen juga patut melihat, dalam menyediakan pasokan energi, PLN mengalami berbagai masalah. Kendala dan permasalahan itulah, yang mesti dilihat dan harus ditangani secara bersama. Betapa tidak, permasalahan itu juga terkait dengan prilaku masyarakat. Misalnya, masyarakat sering menunggak iuran PLN.

Faktanya, konsumen listrik di Pontianak yang berjumlah 150.000 pelanggan --rumah tangga 60%--, merupakan daerah yang tinggi tunggakan listriknya. Padahal, untuk memproduksi listrik saja, PLN Pontianak masih nombok alias merugi. Bayangkan, untuk 1 kilowatt-jam (kWh), PLN mengeluarkan biaya Rp 1.135/kWh. Sementara itu, PLN menjual pada masyarakat sebesar Rp 600/kWh. Berapa kerugian yang diderita PLN perkilowattnya? Berapa kerugian perhari, sampai setahunnya? Hasilnya cukup lumayan.

Pada tahun 2004, PLN menjual listrik sebesar 533 juta kWh. Artinya, pada tahun 2004, PLN merugi sekitar Rp 285 miliar. Untuk tahun 2005, dengan harga jual Rp 615/kWh, dan perkiraan menjual listrik sebesar 551 juta kWh, PLN akan merugi sekitar 382 milyar. Dengan naiknya BBM mulai Oktober 2005, biaya produksi mencapai Rp 2600 per-kVh. Yang dibayar masyarakat sekitar Rp 600/kVh. Kalau listrik rumah tangga malah dibawah Rp 500/kVh. Untunglah, kalau memang bisa dibilang untung, PLN Pontianak masih disubsidi pemerintah pusat.

Hal lain yang tak kalah berbahayanya bagi kelangsungan PLN Pontianak, tradisi masyarakat di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak. Mereka bermain layang-layang dengan mengikatkan kawat di ujung benang. Pemasangan kawat bertujuan, ketika bertarung dengan layangan lain, mereka akan menang. Namun, hal berbahaya seketika muncul, ketika layangan itu putus, atau mengenai jaringan kawat dan instalasi PLN. Instalasi PLN ada yang terlindung dengan isolasi dan ada yang tak terlindung. Meski kabel PLN terlindung dengan isolasi, induksi yang terjadi akan merusak isolasi dan memutuskan jaringan.

Biaya menyambung jaringan kabel yang rusak cukup lumayan. PLN harus menyambung jaringan dengan joint sleeve. Sekali pemasangan joint sleeve beserta ongkos perbaikan sekitar Rp 250 ribu. Padahal, putusnya jaringan listrik di Pontianak mencapai ratusan kasus perbulannya. Data terputusnya jaringan listrik karena layang-layang pada 2004, sebagai berikut; pada Januari ada 371 kasus, Februari 299, Maret 393, April 531, Mei 501. Pada tahun 2005, Januari 299, Februari 393.

Data ini memang tidak lengkap selama setahun. Tapi, cukup lumayan untuk menggambarkan kasus yang terjadi. Dan berapa besar biaya yang harus dikeluarkan PLN Pontianak, untuk memperbaiki jaringannya. Angka itu hanya untuk perbaikan jaringan yang putus. Kalau mengenai travo, dan menyebabkannya meledak, harga satu travo puluhan hingga ratusan juta. Satu contoh saja, travo 100 kVa, harganya Rp 100 juta.

Untuk menanggulangi masalah layang-layang, PLN Pontianak bekerja sama dengan pemerintah Kota Pontianak. Melalui Surat Keputusan (SK) Wali Kota, keluarlah Peraturan Daerah (Perda) nomor 3 tahun 2004, tentang Ketertiban Umum. Pada pasal 22, terdapat larangan bermain layang-layang di sembarang tempat. Hukuman bagi yang melanggar adalah kurungan penjara 6 bulan, atau denda sebesar Rp 6 juta. Nyatanya, Perda ini tidak cukup efektif dan membuat jera. Buktinya? Angka kerusakan jaringan listrik di PLN Pontianak masih tinggi, kan?

Lalu, bagaimana bila tidak ada musim layang-layang seperti sekarang ini. Toh, tetap ada pemadaman listrik bergilir. Kabar terbaru menyebutkan, empat pembangkit PLTD mengalami kerusakan. Tiga pembangkit di Siantan dan satu di Sungai Raya. Hal itu membuat daya mampu PLN turunnya cukup jauh. Kalau normal kemampuannya 126 kWh, sekarang ini hanya 94 kWh.

Makanya, sekarang ini kalau malam ada pemadaman sekitar 15 mega, dan kalau siang hingga 30 mega. Untuk memperbaiki mesin pembangkit telah didatangkan ahlinya. Mesin rusak karena ada yang patah kipasnya, maka harus diganti. Yang agak berat adalah mesin kepuntir karena seringnya mesin mendapat gangguan dari luar. Mesin yang RPM-nya besar tiba-tiba berhenti, sehingga mesin menjadi kepuntir.

Dengan matinya listrik membuat usaha dan bisnis menjadi terganggu. Banyak orang yang dirugikan. Bagaimana reaksi PLN, bila ada masyarakat yang merasa dirugikan dan melakukan class action? ”Tak masalah. Tapi, masyarakat harus tahu, bahwa mesin rusak tidak kita rencanakan. Kedua, mesin rusak penyebabnya dari luar,” kata Adang Sudrajat, kepala PLN Pontianak.

Mengenai kemungkinan digantinya mesin pembangkit, Adang merasa senang sekali bila Pemda Kota Pontianak bisa membantu melakukan itu. Namun, sewaktu PLN minta saran mengenai subsidi untuk BBM di PLN, sebesar 60 milyar, Pemda tidak sanggup. Apalagi untuk peremajaan mesin yang harga satu mesinnya dapat mencapai ratusan milyar.

Sisi Lain Sering Matinya Listrik
Anton, 31 tahun, seorang pengelola dan pemilik sebuah warnet. Dengan sering matinya listrik di Pontianak, tentu berimbas pada warnet yang dia kelola. Setiap mati lampu, dia harus menyalakan genset yang ada di rukonya. Genset itu lumayan besar menghasilkan pasokan listriknya. Untuk menyalakan genset, dia harus mengengkolnya. Butuh tenaga lumayan untuk melakukannya.

Karenanya, dia harus selalu siap, bila sewaktu-waktu listrik mati. Akibatnya, Anton tidak bisa kemana-mana. Perlu sekitar 5 menit lebih untuk mengganti sistem listrik ke sistem diesel. Bagaimana dengan komputer yang ada di warnetnya? Tidakkah, dengan sering matinya listrik, berakibat pada hard disk komputer?

Dia menggunakan sistem UPS, untuk mengantisipasi bila mati lampu. UPS semacam alat yang akan bisa menyimpan data, dan membuat komputer tetap menyala untuk beberapa lama, meski sedang mati listrik. Bila tidak, tentu puluhan hard disk komputer yang ada di warnetnya, akan cepat jebol. Dalam sehari, jaringan listrik di warnetnya bisa mati lampu sekitar 4-5 kali. Bayangkan, betapa repotnya bila harus selalu mengengkol genset dan menyalakannya. Yang lebih memprihatinkan adalah, matinya listrik terkadang berlangsung hingga sore hari. Karenanya, dia harus mengeluarkan biaya lumayan besar untuk membeli solar bagi gensetnya.

Ketika dia memberikan keluhan dan menelpon ke PLN, jawaban yang didapat selalu sama. Lama-lama, dia tak pernah melakukan keluhan lagi pada PLN. Apakah PLN pernah memberikan suatu pernyataan dan penjelasan tentang hak-hak seorang pelanggan?
“Yang kita tahu, setiap bulan kita harus membayar iuran. Lain tidak,” jawab alumni mahasiswa ekonomi Tri Sakti, Jakarta, ini. Dalam sebulan, Anton membayar listrik hingga satu jutaan.


Dengan sering matinya lsitrik, membawa dampak lain bagi bisnis penjualan mesin genset. Hal itu dibenarkan Akim, salah seorang pelaku bisnis di Kapuas Besar, Pontianak. Menurut Akim, genset yang paling laku adalah genset yang sanggup menghasilkan daya 1000-1100 watt. “Pembelinya yang paling banyak adalah pengguna rumah tangga. Orang yang tidak puas dengan pelayanan PLN, tentu akan membeli genset untuk penerangan,” kata Akim.

Kekuatan sebuah genset ditandai dengan satuan HP (Horse Power). Artinya, satu HP setara dengan seekor tenaga kuda. Kekuatan genset mulai dari 2-30 HP. Untuk satu rumah saja, Anda bisa menggunakan genset berkekuatan 2 HP. Untuk toko, genset berkekuatan 6,5 HP, sudah cukup untuk menerangi toko Anda. Harga sebuah genset memang tergantung mereknya. Pasaran untuk 1000 watt, berkisar Rp 400 ribu. Untuk 1100 watt, harga seputar Rp 600 ribu.

Genset yang baik kualitasnya, bisa dilihat dari beberapa hal. Misalnya, tarikan suara dan kehalusan suara mesin yang terdengar. Mesin yang baik, halus suaranya. Getarannya juga halus. Sementara ini, merek terkenal seperti Yamaha, Honda dan Yanmar, masih mendominasi penjualan genset. Banyak juga merk lain dari China masuk, seperti Tian Li.

Daya tahan genset paling banter sekitar 3-4 tahun. Toko tidak memberikan sebuah garansi bagi merek yang mereka jual. Garansi biasanya langsung diberikan oleh pabrik. Konsumsi bahan bakar genset, adalah solar bercampur oli. Bila genset kekurangan oli, tentu akan membuat mesin menjadi panas. Campuran yang bagus antara solar dan oli, 1 liter solar harus dicampur dengan 10 mili oli. Lama penyalaan genset ini biasanya 6 jam. Untuk genset yang menghasilkan tenaga lebih dari 1000 watt, biasanya ada pasokan oli tersendiri dalam sebuah kotak. Genset ini sanggup menyala nonstop selama 12 jam.

Nah, bila Anda merasa kurang puas dengan pelayanan PLN, minimal ada dua cara yang bisa dilakukan. Datang ke PLN melaporkan keluhan yang ada, atau datang ke toko genset.

Silahkan memilih...........***

Foto by Lukas B. Wijanarko, "Saksi Bisu."
Edisi Cetak, minggu keempat Desember 2005, Matra Bisnis

4 comments :

Ricky Cahya Andrian said...

Kenalkan nama saya ricky, saat ini saya bertugas di PLN Pengatur Beban Kendari, Sultra. Saya yang bertugas mengatur pembebanan pembangkit dan pembebanan feeder. Saya besar di Jakarta yang notabene jarang padam, sewaktu datang ke kendari, istilah byar pet sudah lumrah. Saya selidiki, memang masalahnya klasik, yaitu gangguan mesin, gangguan JTM dan BBM yang langka bahkan terlambat datang. Kalo ditanya solusinya adalah ganti BBM dengan energi lain yang lebih murah. Tujuannya agar cost struktur PLN menjadi rendah, kami bisa investasi mesin dan memperbaiki jaringan. JUTM PLN menggunakan kabel telanjang karena murah. kalo beli yg isolated harganya bisa 10 x lipat. PLN gak ada uang saat ini karena biaya BBM ini yang tinggi.Solusi jangka pendeknya adalah, Penghematan dengan menggunakan Listrik Mandiri di rumah konsumen, misalkan pakai GENSET, UPS atau pake inverter + Aki. Bisa dibayangkan ada perusahaan yang masih bertahan harga jual listrik hanya 600 perak, PLN menghasilkan listrik 2000 perak. Aneh bin Ajaib yah? Tapi PLN tetap melayani konsumennya dengan setia walaupun dicaci maki. Pelanggan tidak tahu, sewaktu pelanggan merayakan Idul Fitri, PLN tetap bekerja, bahkan kami di ujung tombak, dilarang untuk Mudik demi menjaga pasokan listrik buat pelanggan. Kesalahan pemakaian BBM ini adalah buakan kesalahan PLN sebagai operator tapi pemerintah sebagai regulator yang membuat kebijakan mengekspor gas keluar negeri dgn kontrak jangka panjang 20thn-30thn ke Nalaysia, Cina, Jepang,dll. Silakan Anda menilai, siapa yang salah dalam hal ini. Apakah perencanaan Pemerintah? atau PLN sebagai operator. Kami tidak mau membela diri, tapi memang demikian kenyataannya.

Itok said...

Saya ini orang bodoh gak mengerti yang beginian, tapi logika saya mengatakan, PLN merugi kok masih bisa bayar gaji direksi segitu banyaknya, trus udah gitu saya gak pernah denger ada karyawannya yang di PHK gara2 PLN gak punya duit (CMIIW), jadi bohong kalo ada yang bilang PLN gak punya duit...

dyksa said...

itok,

Perusahaan yang merugi bukan berarti nggak punya uang. Khan masih dapat uang tiap bulan dari pelanggannya, jadi masih bisa jalan. Tapi perusahaan yang merugi pasti tidak akan mampu menutup fixed-cost-nya, apalagi melakukan investasi.

Untuk kasus PLN: perusahaan ini sebelum krisis moneter 1998 khan profit. Setelah dollar naik (waktu itu $1=Rp 2500) maka hutangnya jadi naik walaupun nggak nambah hutang baru, karena banyak hutangnya dalam dollar. So pasti, dia merugi.

Mestinya tariff listrik ke pelanggan dinaikkan, tapi itu khan nggak dilakukan pemerintah. Mungkin mengingat kondisi masyarakat waktu itu.

Penggantinya ya subsidi pemerintah ke PLN, yang berarti pembayar pajak yang bukan pelanggan PLN ikut mbayarin konsumen PLN. Saya cek di laporan keuangan yang ada di website PLN, subsidi inipun nggak cukup juga. Biaya terbesar di pengadaan BBM, sedangkan biaya kepegawaian kecil.

Magnothus said...

Mau tanya dung... apa bener ya ada peraturan PLN tentang larangan menggunakan genset di daerah yang dialiri listrik PLN...?

klo emang ga ada, knapa ga berbondong2 aja beli genset, apa ongkos pemakaian genset sebulan lebihmahal daripada tagihan listrik?