Wednesday, December 14, 2005

Bidai, Produk Kerajinan Indonesia dengan Stempel Malaysia

Oleh: Muhlis Suhaeri

“Kenapa kita ini mau dijajah Malaysia?” kata perempuan itu, “padahal, kalau kita dibina pemerintah, hasil kerajinan ini akan bisa dijual.”

Ada nada gugatan pada kalimat yang ia lontarkan. Apa yang diungkapkan perempuan itu, cukup beralasan dan sangat manusiawi. Bagaimana tidak? Harapan untuk mendapat binaan dan uluran tangan dari pemerintah, tidak kunjung tiba. Akhirnya, ia terpaksa menjual produk kerajinan yang dihasilkan ke negara tetangga, Malaysia. Apa yang dialami perempuan itu, juga dialami sebagian besar pengrajin di sana.


Perempuan itu bernama Kayen, 41 tahun. Ia seorang pengrajin Bidai di dusun Pereges, desa Seluas, kecamatan Seluas, kabupaten Bengkayang. Bidai merupakan tikar terbuat dari rotan. Untuk membuat motif, diberi selingan dengan kulit pohon Kapoa. Kayen baru menganyam Bidai sekitar 9 bulan. Sebelumnya, ia menjadi pembantu rumah tangga di Malaysia. Jarak dari Seluas ke ibukota Pontianak sekitar 300 km.

Kini, setiap minggu ia harus membawa satu hingga tiga Bidai ke pasar Serikin, Malaysia. Jarak dari Seluas ke Serikin sekitar 22 km. Untuk ongkos ke pasar Serikin, ia harus menyewa mobil secara patungan 5-6 orang. Karenanya, setiap orang harus membayar Rp 10 ribu. Bila tidak ada mobil sewaan, ia harus rela merogoh uang 20 ringgit, atau sekitar Rp 50 ribu. Satu ringgit setara dengan Rp 2.260. Itu ongkos sekali jalan untuk membayar ojek sepeda motor.

Di Pasar Serikin, Kayen menggelar dagangannya di emperan jalan. Ia biasa menjual dagangannya seharga 85 ringgit. Harga itu untuk Bidai berukuran 5x7 feet. Bila ia menggunakan halaman rumah orang, orang itu akan meminta uang sewa bagi dagangan yang ia jajakan. Bila hari menjelang siang, ia akan menurunkan harga dagangannya. Kalau tidak, berarti ia akan membawa dagangannya kembali ke Seluas. Dan itu sama artinya dengan kerugian.

Terpaksalah, ia menjual dagangannya dengan harga yang tidak semestinya. Bila ada yang menawar 70-75 ringgit akan ia lepas dagangannya. Yang lebih membuat Kayen mangkel dan jengkel, Bidai yang dibeli dengan harga murah dari pengrajin Indoensia, akan diberi label dan merk Malaysia. Dengan menambah bordiran pada pinggirnya, Bidai itu akan dijual ke Singapura, atau Kuala Lumpur seharga 300 ringgit. Bahkan, Bidai itu juga dikirim ke Bali, Australia dan China.

Orang Dayak sudah lama menggunakan tikar dari rotan ini. Mereka menggunakannya untuk menjemur padi. Hal itu sudah dilakukan secara turun temurun. Di Malaysia, tikar model ini ada juga. Yang membuat orang Dayak Bidayu. Namun, mereka lebih senang membeli, karena harganya lebih murah dari pada membuat sendiri.

Ukuran Bidai bervariasi, 2x4, 2x3, 3x4, 4x6, 5x7, 6x9, 7x8, 7x9,, 7x10, 7x12. Yang sering dipesan adalah ukuran 5x7, 6x9, 7x8, 7x10. Dan ukuran yang jarang dipesan 7x9. Bidai biasanya diukur dengan satuan foot/feet. Satu feet sama dengan 30, 47 cm.

Proses untuk membuat selembar Bidai cukup rumit. Rotan yang ada harus dibelah menjadi beberapa bagian. Setelah rotan terbelah, dihaluskan dengan meraut daging rotan.
Meraut satu ikat rotan upahnya Rp 20 ribu. Setelah rotan tipis, pinggir rotan dihaluskan. Proses itu namanya jangat. Bahkan untuk membuat motif yang berfariasi di tikar, ada rotan yang sengaja diolah untuk membuat rotan itu berwarna hitam.

Caranya, rotan itu dimasak dengan api yang cukup kuat selama satu hari. Dalam air yang mendidih itu dimasukkan pewarna alami, berupa daun jengkol, kulit dan daun rambutan, dan serbuk gergaji kayu. Setelah direbus, rotan akan direndam lagi dalam lumpur selama seminggu. Hasilnya, akan didapatkan rotan yang warnanya hitam.

Kulit kayu Kapoa diambil dengan menebang pohonnya. Pohon itu berdiameter 10-15 cm dan tingginya sekitar 5-7 meter. Pohon itu dipotong pada batang paling bawah. Setelah ditebang, pohon diambil kulitnya. Pohon yang ditebang, akan tumbuh lagi dengan sendirinya. Setelah 1-2 tahun, pohon itu baru bisa diambil kulitnya lagi. Kulit pohon yang sudah dikelupas dipisahkan lagi dari kulit luar pohon. Setelah itu kulit dijemur dan dihaluskan dengan cara memukul–mukul kulit dengan palu dari kayu, yang bentuknya lebar.

Awal mula Bidai menjadi barang dagangan ke Malaysia, ketika seorang penduduk dari Seluas membawa Bidai ke Serikin. Ia menjual tikar itu di sana. Peristiwa itu sekitar tahun 1980-an. Karena laku, orang lain melakukan hal yang sama dan menjual ke Malaysia.

Dulu pekerjaan itu yang mengerjakan perempuan. Lelaki banyak yang bekerja pada PT. Jamaker (Jaya Maha Kersa). Itu sebuah perusahaan perkayuan, dan beroperasi di Seluas dari 1976-1996. Sekarang ini, sebagian besar masyarakat di Seluas, menggantungkan hidupnya dengan menganyam Bidai.

Menurut Hamdani, 34 tahun, ketua pengurus Koperasi Pengrajin Bidai di Seluas, bahan rotan didatangkan dari Kalimantan Tengah, Darit (kabupaten Landak) dan Tohok. Dalam dua hari, ia biasa mendatangkan 1 truk berisi 300 ikat rotan. Satu ikat berisi 500 rotan yang sudah dibelah. Jenis rotan yang ia gunakan adalah Saga Mas. Warna kulitnya agak mengkilap.

Hamdani mempunyai seorang ayah dari Bugis, beribu Tionghoa dan kawin dengan perempuan Dayak Bekatik. Pertama kali jualan Bidai, juga dengan menjadi pengecer di pasar Serikin. Sebuah pengalaman yang ia petik ketika berdagang dengan orang Malaysia adalah, mengenai ketepatan waktu. Kalau sudah janji harus tepat waktu. Misalnya, janji pukul 10, maka harus datang pukul 10. Kalau datangnya telat, misalnya pukul 12, maka orang itu tidak akan mau mengambil pesanannya. Sampai besok pun kalau ketemu lagi, mereka tidak akan mau mengambil barang darinya.

Sistem perdagangan yang ia lakukan, ada uang ada barang. Cash and carry. Barang yang diserahkan akan langsung dibayar. Ia tidak mau mengantar barang itu ke Kuching, atau kota lainnya di Malaysia. Khawatir setelah sampai di sana, barang akan dikatakan jelek atau apa, sehingga ia bisa merugi. Memang, untuk mendapatkan harga lebih murah, orang Malaysia sering mengakali dengan mengatakan barang yang dibawa kualitasnya jelek.

Karena sering jualan itulah, akhirnya ada yang menampung barang di Malaysia. Sekarang ini, Hamdani memimpin Koperasi Wahana Cipta Karya.Yang membawahi para pengrajin Bidai di kecamatan Seluas, Bengkayang. Ia dan koperasinya sering kewalahan mendapatkan pesanan. Bahkan di Sariaman, Malaysia, ia mendapatkan pesanan 500 buah perminggunya, tapi tidak bisa dipenuhi. Anggotanya yang aktif di koperasi ada 7-8 orang. Kemampuan produksi dalam seminggunya sekitar 30 lembar. Itupun kalau ada bahan. Yang agak susah adalah kayu Kapoa (kayu Pudu). Tali kayu Kapoa yang bagus dari Sebujit Kecamatan Jagoi Babang.

Koperasi bermula pada bulan Agustus 2002. Ketika itu Dinas Kehutanan memberikan bantuan dana Rp 15 juta. Salah satu syarat untuk mendapatkan dana itu, harus ada koperasi terlebih dahulu. Maka terbentuklah koperasi dengan 23 anggota. Mereka membelikan uang Rp 15 juta untuk bahan dan rotan. Setiap anggota mendapat Rp 350 ribu. Pada saat anggota menyetorkan hasil kerajinan, uangnya dipotong untuk mengembalikan cicilan. Dari 23 orang anggota, kini tinggal belasan orang saja. Uangnya juga menyangkut di beberapa anggota lainnya.

Modal awal untuk membuat satu Bidai sekitar Rp 65 ribu. Itu untuk ukuran 5x7 feet. Tali pohon Kapoa, Rp 10 ribu/kg. Untuk membuat satu tikar butuh 3 kg kulit Kapoa. Untuk menjangat upahnya Rp 5 ribu /ikat. Upah menganyam Rp 60 ribu. Kalau yang sudah lihai, dalam satu-dua hari, Bidai sudah selesai.

Harga Bidai jatuh menjelang hari raya Lebaran, Natal dan Imlek. Bidai di Malaysia biasanya juga dipakai untuk dinding, dek dan lantai.

Hal yang dirasakan sama antara Kayen dan Hamdani adalah, tidak adanya perhatian pemerintah pada mereka. “Belum pernah ada pembinaan dari pemerintah kabupaten dalam bentuk pelatihan atau uang,” kata Hamdani. Padahal, ia ingin sekali ikut pelatihan atau studi banding ke lain daerah dalam hal tanam rotan atau pemasaran Bidai. Dengan cara itu, ia ingin mengembangkan hasil kerajinan itu.

Melihat kenyataan itu, Kepala Dinas Deperindag, Kalbar, Dra. Ida Kartini, Msi, memberikan tanggapan, “Pengusaha kita yang harusnya jeli. Kenapa pengusaha Malaysia bisa, kita tidak bisa?”

Pengrajin ini memang butuh arahan dan informasi. Deperindag juga sudah pernah mengadakan dialog dengan Kadin, peluang usaha apa yang bisa dilakukan. Pemda kabupaten inilah yang harus lebih responsif dalam melihat hal ini. Kemudian propinsi akan berkordinasi dengan pemerintah pusat. Melihat hal ini, Deperindag propinsi akan berkordinasi dengan Deperindag kabupaten, dan merekalah yang akan menunjuk pengrajin itu untuk datang ke propinsi.

Dengan terbatasnya dana yang ada, agenda yang ada di pemerintah tidak sepenuhnya bisa dilakukan. Karena itulah, pengrajin harus juga aktif dan mengungkapkan permasalahan mereka apa. Harus ada mitra dengan pengusaha, dan tidak mungkin jalan sendiri.

“Kalau tidak ya, buat tertulis saja, bahwa dia punya perkumpulan dan surat itu dikirimkan ke Deperindag kabupaten dengan tembusan ke Deperindag propinsi,” tutur Ida. Dari sanalah, Deperindag akan membuat program sesuai dengan kebutuhan daerah. Kalau pemerintah tidak dapat informasi, tentu kita tidak tahu apa yang menjadi kebutuhan daerah.***

Foto by Muhlis Suhaeri, "Perajin Bidai."
Edisi Cetak, minggu kedua, Desember 2005, Matra Bisnis

No comments :