Wednesday, January 18, 2006

Perkutut: Lembut Suaranya, Deras Aliran Duitnya

Oleh: Muhlis Suhaeri

Pernahkah Anda membayangkan, seekor burung seharga Rp 2 miliar? Sekali lagi, Rp 2 miliar! Jawabannya, adalah burung perkutut. Ya, burung dengan suara lembut dan khas itu, seolah telah menghipnotis seseorang. Untuk mengeluarkan uang, berapapun besarnya. Asalkan dapat memiliki burung itu. Tak perlu merasa heran. Itulah pesona perkutut.

Burung itu bentuknya tak terlalu istimewa. Ukurannya kecil dan warna bulunya kelabu. Paruhnya kecil dengan mata kecil dan terlihat sayu. Burung mungil itu, memang memiliki daya magnetis bagi penggemarnya.


Harga burung perkutut lumayan besar. Untuk anakan (piyik) berumur bulanan saja, harganya bisa mencapai Rp 800 ribu. Kalau dijual ke kalangan menengah ke bawah, harganya antara Rp 300-500 ribu. “Burung perkutut komplek betul penjualannya. Ada berubah sedikit suaranya, harganya bisa berubah” kata H. Didik Imam Wahyudi, SE, Ak. Kalau aprahan atau jelek, masih bisa laku Rp 100 ribu.

Dari segi penjualan, tidak bisa dipastikan berapa jumlahnya dalam sebulan. Penggemar burung perkutut dari kalangan beragam. Setidaknya, bila dilihat dari komposisi keetnisannya adalah, orang Jawa 30 persen, Madura 30 persen, Melayu 20 persen dan Tionghoa 20 persen. Sekarang ini, penggemar perkutut masih dari kalangan menengah ke bawah.

Distribusi perkutut didatangkan dari Bangkok, Thailand. Sistem penjualannya berantai. Ada distributor dari Jakarta, mendatangkan burung dengan sistem borongan. Sekali beli langsung 50 kotak. Satu kotak berisi 25 ekor burung dengan harga Rp 2,5 juta. Lalu, perkotak dijual seharga, Rp 3 juta kepada grosir. Selanjutnya, sub grosir menjualnya dengan harga, Rp 3,5 juta. Nah, rantai penjualan berakhir di pedagang eceran. Biasanya dalam satu kotak ada 1-2 burung yang suaranya bagus. Tahun 1997-2000, orang paling suka dengan membeli borongan seperti itu. Sekarang ini, sudah banyak orang menangkarkan perkutut.

Membedakan perkutut, bisa dilihat secara anatomi. Perkutut betina, mata terlihat agak sayu. Pada bagian mata, terdapat warna putih agak banyak. Suaranya jarang bunyi dan kecil. Kalau perkutut jantan, suara agak besar. Badannya lebih besar.

Untuk menjodohkan perkutut, tidak butuh waktu terlalu lama. Dua minggu paling lama. Setelah bertelur, induk mengeram selama 11 hari. Setelah menetas, 1 bulan baru bisa diambil dari induknya. Kalau dengan induk asuh, bisa diberikan pada burung puter, sejenis dengan perkutut. Caranya, ketika sedang bertelur, burung puter diambil telurnya dan mengantinya dengan anak perkutut. Dan burung puter, akan memberi makan anak perkutut (meloloh). Teknik ini membuat perkutut lebih cepat besar, karena melolohnya banyak. Tidak sampai sebulan, anakan perkutut sudah besar. Kalau dengan induk aslinya, sebulan sudah bisa dipisahkan. Sehingga induknya bisa bertelur lagi.

Perkutut mulai dapat berkicau ketika menginjak usia 3 bulan. Namun, pada usia 3-6 bulan, suara burung bisa berubah. Bila sudah 7 bulan ke atas, suaranya tidak akan berubah lagi. Karenanya, beli piyik memang lebih murah. Tapi, untung-untungan, karena suaranya bisa berubah. Keberhasilan dan kebagusan suara ditentukan faktor nasib. Piyik bagus suaranya, bisa dilihat dari karakter suara, keturunan dan perawatan.

“Makanya, orang paling banyak beli burung piyik. Karena kalau sudah dewasa, tidak mampu belinya,” kata Didik.

Makanan perkutut antara lain, padi Lampung, milet, juwawut, dan ketan hitam. Harga padi Lampung perkilo dapat mencapai harga Rp 10 ribu. Padi itu kecil-kecil bentuknya. Milet paling bagus dari Amerika. Warnanya putih. Juwawut seperti milet, tapi warnanya merah. Makanan itu perkilonya Rp 6 ribu, dan bisa dipergunakan hingga 3 bulanan. Ketan hitam diberikan pada perkutut ketika musim hujan. Ketan hitam bisa menghangatkan tubuh. Untuk pemeliharaan makanan, perkutut memang tidak terlalu mahal. Yang mahal itu untuk beli bibitnya, kata Didik.

Perawatan kurang baik, membuat perkutut cacingan. Bila tidak dilakukan penanganan dengan baik, burung akan mati. Cacingan muncul karena kandang kurang bersih, sehingga burung makan tahinya sendiri. Kondisi hujan dan panas tak beraturan, dapat juga mempengaruhi kesehatan burung. Pemeliharaan perkutut tergantung dari kebersihan kandangnya. Yang utama harus kena sinar matahari. Kalau tidak kena sinar matahari, suara akan berubah. Makin kena panas matahari, akan semakin bagus. Intinya, perkutut itu harus kena sinar matahari.

Usia perkutut lokal dari 25-30 tahun. Untuk perkutut silangan, antara 15-20 tahun. Perkutut Bangkok punya suara besar. Tapi, hanya guk-guk-guuk. Tengahnya pendek dan iramanya monoton. Perkutut lokal suaranya kering, kecil, dan iramanya enak. Makanya, perkutut lokal, bagus bila dikawinkan dengan perkutut Bangkok. Hasilnya, burung berirama bagus, depan bagus, banyak, ujungnya panjang, dan dasar suaranya besar.

Bila ingin mendapatkan kualitas baik, harus mengetahui silsilah perkutut. Biasanya, pihak penangkaran akan mencatat dan memberi sertifikat bagi burung hasil penangkarannya.

Ada cara tersendiri melakukan persilangan. Perkutut dengan suara bagus, belum tentu menghasilkan anakan bersuara bagus. Tapi, burung perkutut yang induknya bagus, setidaknya 60 persen sudah ada keturunan bagus. Bila burung ini diternak, belum tentu menghasilkan suara jelek. Biasanya, dari cucu akan menghasilkan suara bagus. Istilahnya, generasi kedua dan ketiga (F2 dan F3).

Jadi, itulah perkutut. Punya seni tersendiri dalam menyilangkannya. Itu juga yang membuat perkutut mahal. Misalnya, ada burung jantan unggul di suara tengah, dan ujung. Maka, akan disilangkan dengan burung betina yang suara tengahnya unggul. Jadi, hasilnya akan mendapatkan anakan saling melengkapi.

Kalau orang sudah pakar dalam melakukan itu, akan menghasilkan duit. Seperti seorang penangkar bernama Sugandi. Yang rata-rata penghasilannya mencapai Rp 200 juta, sebulan. Penangkarannya menghasilkan perkutut bagus dan berkualitas. Dan dia juga berani beli burung untuk indukan.

Bagi pengemar perkutut, tak perlu khawatir bila ingin mencari komunitas dan penggemar perkutut. Ada organisasi memayunginya. Namanya, Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia (PPPSI). Organisasi memberi fasilitas pada anggotanya dengan kejuaran, seperti Liga Perkutut Kalimantan Barat (LPKB). Untuk tingkat nasionalnya, Liga Perkutut Indonesia (LPI). Lomba tingkat lokal sebulan sekali. Yang menang mendapat angka 10. Angka itu ditambahkan terus menerus selama kejuaraan dengan rentang waktu 1 tahun. Pemenang tentu saja pengumpul nilai tertinggi. Juri sudah hapal suara perkutut peserta. Jadi, tidak mungkin menganti burung untuk tiap perlombaan.

“Penilaian burung perkutut itu ada dasarnya. Ada AD/ART. Lain dengan penilaian burung kicauan,” kata Didik.

Lomba turut membuat harga perkutut jadi naik. Penilaian perkutut ada lima kategori. Pertama, suara depan, bunyinya klauuung. Kedua, suara tengah, bunyinya tek-tek-tek. Ketiga, suara ujung, bunyinya kuuung. Dengungnya panjang seperti gong. Keempat, iramanya. Iramanya beraturan dan ada ketukannya. Biasanya hingga 4 ketukan. Kalau 5 ketukan berarti double plus. Ada seninya. Kelima, dasar suara. Dasar suara ada kering dan basah. Kriteria pertama dalam penilaian lomba burung adalah dasar kualitas suaranya. Dasar suara bagus adalah gede atau cowong. Setelah itu, baru penilaian tengkungnya dan irama.

Perkutut mempunyai beragam karakter atau mental. Ada burung akan bunyi terus ketika di rumah. Tapi, giliran diikutkan lomba, tidak mau bunyi. Hal itu tentu saja menjadi kendala. Inilah yang dinamakan mental kurang bagus. Burung seperti ini, biasanya akan diternak saja. Karakter lainnya, ada perkutut terlalu sering bunyinya. Semakin burung bernafsu dan berbunyi, semakin tidak beraturan suaranya. Makin santai bunyinya, semakin bagus.

Berdasarkan lomba tingkat nasional yang pernah diadakan. Dari tahun 2000-2003, perkutut paling bagus suaranya disematkan pada perkutut dengan nama, Misteri Bahari. Perkutut itu milik Gunawan, pemilik Top Gun Merbox. Tahun 2004-2005, juara disandang perkutut dengan nama, Meteor Selancar. Pemiliknya bernama Gwan An. Seorang pengusaha dan pemilik pabrik ban, Black Stones dari Surabaya. Terakhir, perkutut ini ditawar hingga Rp 2 Milyar. Tapi, dia tak mau. Tahun 2006, perkutut paling bagus suaranya, Gotong Royong. Milik Hendro dari Kediri, Jatim.

Begitulah perkutut. Karenanya, tak heran bila ada gaji perawat perkutut, yang besarnya hingga Rp 10-15 juta perbulan. Orang itu bernama Abdul Syukur. Dia perawat terbaik nasional. Sekarang ini merawat burung Meteor Selancar, milik Gwan An.


Profil, Didik Imam Wahyudi

Dia terlihat antusias sekali, ketika berbicara tentang perkutut. Matanya berbinar dan cara bicaranya semangat sekali. Ya, memang begitulah, raut wajah seseorang ketika membicarakan minatnya pada sesuatu.

Suami dari Yanik Sudaryani, tergolong masih muda. Usianya masih 33 tahun. Dari pernikahannya, dia mempunyai dua orang anak perempuan, Rizka Farda Aini dan Rifdah Zalfa Sofiyani. Itulah sosok H. Didik Imam Wahyudi. Dalam menjalani hidup, dia mempunyai semboyan, “Bekerjalah kamu seakan-akan engkau hidup selamanya. Beribadahlah kamu, seakan-akan engkau mati esok pagi.”

Sekarang ini, dia menjadi Kepala Perwakilan PT. Marguna Tarulata APK Farmasi, Ketua Umum Persatuan Pelestari Perkutut Seluruh Indonesia, di Kalbar. Dan Wakil Ketua Ikatan Keluarga Besar Banyuwangi.

Awalnya memelihara perkutut, supaya kegemaran itu tidak merugikan. “Kan, hobi kalau kita sudah senang, tidak akan mikir lagi berapa itu harganya,” kata Didik.
Menurutnya, memelihara perkutut seperti ada Yoni. Misalnya, orang sudah punya satu perkutut. Begitu melihat ada perkutut yang punya suaranya bagus, dan kebetulan ada dana, maka akan beli lagi perkutut itu. “Kita tidak akan mikir dan akan langsung beli,” kata Didik. Padahal, kalau mau beli sesuatu, istilahnya dia akan pikir dua kali. Namun, tidak untuk perkutut.

Karena menciptakan peluang bisnis, dia juga menangkarkan perkututnya. Didik memberi nama penangkarannya OSLI. Yang merupakan singkatan dari Osing Asli. Osing merupakan penduduk asli di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Didik pertama kali beli perkutut pada tahun 2000, seharga Rp 300 ribu. Harga itu kayaknya terasa besar dan merasa takut karena mahal. Padahal, perkutut itu termasuk burung aprah atau sortiran. Sekarang ini, dia sudah mempunyai puluhan burung. Kalau ditotal, angkanya bisa mencapai Rp 400 juta. Itu untuk harga burungnya saja.

Mempunyai perkutut dengan suara bagus, tentu jadi kebanggaan tersendiri. Gengsi akan naik di mata penggemar perkutut lainnya. Penggemar perkutut punya gengsi tersendiri. Dan duit bukan satu hitungan. Perkutut dinilai karena kemerduan suaranya. Bahkan, ada orang berani pinjam duit di sebuah bank, hanya untuk beli perkutut. Sangking mau beli perkutut. Itulah perkutut. Orang seperti nyandu.

Sebenarnya, perkutut sanggup mendatangkan bisnis baru, seperti pembuatan sangkar dan makanan perkutut. Satu sangkar dapat mencapai harga Rp 2-3 juta. Ada seni tersendiri dalam membuatnya. Sangkar dihias dengan bermacam ragam hias dan ukiran. Di Kalbar belum begitu banyak pembuat sangkar. Penggemar masih mendatangkan dari Jawa. “Sebenarnya, inilah peluang bisnis yang belum tergarap dengan baik,” kata Didik.

Dari kumpul-kumpul sesama penggemar perkutut, bisa juga melahirkan bisnis. Bila ini dilihat dengan baik, akan mendatangkan pemasukan bagi daerah. Pernah ada seorang penggemar datang ke Pontianak, untuk melihat perkutut. Lalu, penggemar itu tertarik membuka bisnis hiburan. Selain itu, rencananya ada bisnis besar bakal dibuka, karena pimpinannya mempunyai minat yang sama pada perkutut. Sedang dijajaki pendirian pabrik ban di Kalbar. Itulah hebatnya perkutut. Dari segi pergaulan dan segi bisnis. Selain untuk lomba, mereka datang ke Kalbar, untuk bisnis juga. Dan itu tentunya penghasilan untuk Kalbar.

Didik mengakui, hingga saat ini Kalbar seolah masih ditelantarkan karena tidak ada lomba nasional, dan lainnya. Bahkan, dengan Banjarmasin dan Balikpapan, Kalbar cukup tertinggal. Kalbar ketinggalana karena tidak dilirik penggemar perkutut dari Jawa. Kenapa perkutut sangat maju di Jawa? Karena banyak peternak terbaik ada di sana. Antara lain, Amir, Kuat, Black Stones, dan lainnya. Di Jawa hubungan darat tidak sesulit seperti di Kalbar. Dan di Jawa ditunjang oleh penggemar perkutut yang fanatik.

Dalam hal ini, syarat supaya bisa dilihat secara nasional, harus ada figur yang dapat mendongkrak kemajuan daerah itu sendiri. Salah satu penggemar perkutut cukup tersohor di Kalbar bernama Imbran Susanto, Direktur PT Alas Kusuma. “Saat ini, beliau ini yang paling banyak beli burung bagus,” kata Didik.

Imbran termasuk penggemar sejak dulu. Tapi, karena dia ini orang sibuk, baru sekarang inilah, mulai konsentrasi menekuni minatnya pada perkutut. Terakhir kali, dia kepincut dengan kemerduan perkutut tingkat nasional. Tawaran Rp 250 juta, ditujukan pada pemilik burung. Namun, pemilik tak bergeming dengan harga itu. Karena dia inilah, rencananya, bulan Juni 2006 akan diadakan lomba perkutut tingkat nasional di Kalbar.

Didik berharap, penggemar perkutut tidak patah semangat. Perjalanan dan perkembangan perkutut masih jauh. Selain itu, sesama penangkar harus ada saling kerja sama dan saling bantu. Melihat realitas itu, apakah masih punya keyakinan kedepannya?

“Apa-apa, kalau ditekuni dengan baik akan menghasilkan sesuatu,” kata Didik.
Nah, bagaimana supaya bisnis perkutut bisa maju, tentu tergantung juga dengan semakin bertambahnya pengemar. Yang ditunjang dengan kemampuan beli perkutut. Dan tentunya, ada fokus jadwal nasional lomba perkutut diadakan.

“Hal itu akan mendongkrak harga perkutut itu sendiri,” kata Didik.***

Foto by Muhlis Suhaeri, "Terbanglah....Terbang."

Edisi Cetak, minggu ketiga, Januari 2006, Matra Bisnis

No comments :