Saturday, January 7, 2006

Sodokan Setajam Pasarnya

Oleh: Muhlis Suhaeri

Mahalnya permainan biliar, tak membuat surut penggemar bola sodok, menyalurkan kegemarannya. Mereka mendatangi berbagai tempat yang menyediakan fasilitas permainan ini. Antusias pengemar tak disia-siakan. Lalu, muncullah meja biliar buatan lokal, untuk menjawab peluang bisnis itu.

“Yang pesan meja ini banyak. Mulai dari pegawai, polisi, pegawai bank, macam-macamlah,” kata Suhaeri, biasa dipanggil Peli (32 tahun).

Alasan orang membeli meja biliar beragam. Kalau orang kaya, mereka membeli untuk dipakai sendiri. Bagi kalangan menengah ke bawah, meja itu sebagai modal usaha. Biasanya orang memesan meja biliar untuk usaha. Sekali pesan, mereka beli 1 hingga 6 meja. Pemesannya, masih di sekitar Pontianak.


Kalau pun dari kabupaten lain, jumlahnya tidak seberapa. Penjualan meja biliar tidak tergantung musim. Tergantung orang punya keinginan. Nah, ada saat tertentu pesanan makin banyak. Ketika di TV ada musim pertandingan biliar, orang akan antusias membeli meja biliar.

Bisnis pembuatan meja biliar masih memiliki prospek menarik dari segi bisnisnya. Setidaknya, itulah pengakuan Peli ketika wartawan Matra Bisnis menyambangi bengkel pembuatan meja biliarnya di Siantan, Pontianak. Bengkel itu termasuk satu-satunya di Pontianak, dalam pembuatan meja biliar.

Meja biliar berukuran 7 dan 9 feet. Meja 7 feet mempunyai panjang 210 cm, lebar 130 dan tinggi 80 cm. Meja bilyar 9 feet berukuran panjang 270 cm, lebar 140 cm, dan tinggi 80 cm. Yang paling banyak dipesan meja berukuran 7 feet. Orang jarang membeli meja 9 feet, karena mejanya besar dan cara mainnya susah. Harga meja biliar 7 feet antara Rp 3-3,5 juta. Meja 9 feet antara Rp 4-4,5 juta. Harga itu sudah termasuk bola dan 5 stick (pemukul bola).

Kenapa pakai kata antara untuk sebuah harga?

“Kita lihat orangnya juga,” kata Peli. Kalau orangnya baik dari cara bicara dan sikapnya, maka harga bisa dinego. Tapi, bila orangnya sombong dan besar omongannya, dia akan mematok harga tinggi. Kuncinya, pembeli harus pintar melobi. Biasanya transaksi akan terjadi, karena memang butuh. Jadi, dalam masalah harga tidak bisa dibaca. Keuntungan dari membuat meja biliar tidak banyak.

Membeli meja biliar punya banyak alasan. Ada yang memang karena kegemaran. Ada juga sekedar untuk bermain. Salah satunya, seperti dituturkan Alfonsus, wartawan koran harian ibu kota yang mengisi biro Kalbar, “Kebetulan gue bukan penggemar biliar, makanya beli itu. Kalau gue penggemar biliar, tentu akan beli yang bagus. Lain halnya, kalau untuk mobil atau fotografer. Pasti saya akan cari yang terbaik.”

Dia membeli meja biliar buatan Peli, karena selisih harganya cukup besar dengan meja biliar merek Amerika, Murray. Meja merek Murray ukuran 7 feet harganya mencapai Rp 10,5 juta. Alfonsus membeli meja dengan ukuran 7 feet.

Menurut Peli, semenjak Jenderal Sutanto menjabat sebagai Kapolri, pesanan meja biliar menurun drastis. Kebijakan dari atas, tentu saja diturunkan kepada setiap Kapolda. Terkadang orang bertaruh, ketika main biliar. Karena itu, beberapa tempat biliar dan pemainnya pernah ditangkap polisi.

Kapasitas produksi meja biliar tergantung pesanan. Tak ada angka pasti. Dulu, seminggu bisa mengerjakan 5 meja. Sekarang ini, paling 1 meja seminggunya. Bila dulu mempekerjakan 6 orang, sekarang hanya 3 orang. Satu meja biasanya selesai dalam seminggu. Upah bagi pekerja mencapai Rp 300 ribu, setiap mejanya.

“Pertumbuhan bisnis meja biliar mulai naik lagi sekarang,” kata Peli.

Makin banyak orang memesan meja biliar. Beberapa tempat biliar di seputar Tanjung Hulu, Vila Ria, Flamboyan, Hotel Muslim, merupakan meja buatannya. Permintaan dari luar kabupaten mulai naik. Ada juga orang memperdagangkan meja itu.

Pemesan dari luar kabupaten, biasanya membawa meja itu sendiri. Untuk pesanan dalam kota Pontianak, meja akan diantar hingga rumah. Sampai saat ini, pemasaran meja biliar buatan Peli, masih di seputar Kalbar. Namun, pernah ada pedagang membawa dua meja hingga ke pulau Bawean, dekat pulau Madura. Di sana, sang pengusaha membuka permainan biliar.

Model meja biliar buatan Peli, memang tak sehebat meja asli buatan Murray. Meja asli, lantainya dari batu dan pada sudutnya ada besi nikel. Meja buatan Peli lantainya dari bahan lain dan tak ada besi nikel pada sudutnya. Itu saja bedanya. Yang dimaksud batu adalah, alas dari permukaan meja biliar. Di atas batu, barulah diletakkan karpet. Meja buatan peli terbuat dari campuran tepung milk dan berbagai bahan lainnya. Hasil dari berbagai campuran bahan itu, tidak bakal pecah. Kecuali, bila dihantam pakai martil atau sengaja dipatahkan. Kalau pun pecah, bisa disambung lagi dengan bahan yang sama.

Meja biliar dibuat dengan kayu pisang-pisang dan ngabang. Selain kayu, ada triplek dan multiplek. Untuk kaki meja, pembeli bisa meminta berbagai model. Ada model seperti pot bunga atau kotak, dan persegi panjang. Bila Anda sering pindah tempat, kaki kotak merupakan pilihan tepat, karena lebih mudah pengepakannya. Mengenai berat meja secara keseluruhan, Peli tidak pernah tahu hingga kini. Yang pasti, membutuhkan puluhan orang ketika mengangkatnya.

Mengenai kerumitan membuat meja biliar, terletak pada cara mengerjakan bannya. Kalau menempelkan ban ke meja terlalu tinggi, orang akan sakit memukulnya. Bila ban terlalu rendah, bola akan meloncat keluar. Jadi, harus pas mengukurnya. Mengukur sudut meja perlu ketrampilan khusus. Bila tidak, akan susah menggabungkan rangkaian meja. Kunci untuk membuat bilyar adalah ukurannya tepat, katanya.

Kesulitan utama bisnis meja biliar pada pemasaran. Peli tidak mempunyai toko untuk memajang produknya. Karenanya, pembeli tidak dapat melihat meja hasil buatannya. Menitipkan meja bilar pada toko olah raga juga tidak mungkin. Besarnya ukuran meja, akan menyita ruangan toko. Jadi, pembeli datang melalui promosi dari mulut ke mulut. Lokasi bengkelnya hanya diberi penanda dengan tulisan; membuat meja dan menjual biliar. Plang itu dia tempelkan pada gang menuju bengkelnya. Peli tidak pernah memasang iklan di media massa.

Selain meja biliar baru, Peli menyediakan meja setengah pakai. Harga meja itu sekitar Rp 2 juta. Tapi, biasanya orang beli meja baru. Meja setengah pakai, biasanya dilirik pengelola bisnis meja biliar, ketika mereka kekurangan meja.

Ada garansi ketika orang membeli meja biliar. Selama setahun, apabila ada kerusakan, meja akan diperbaiki. Tak ada biaya tambahan untuk itu. “Orang belum ada yang mengeluh, karena kerusakan pada kayu dan meja bilyarnya,” kata Peli. Kerusakan biasanya pada karpet dan ban pemantul sudah mati. Karpet dan ban memang membeli jadi. Sehingga tidak bisa diberikan jaminan.

Menurut pengalamannya, ban biasanya harus diganti setelah 8 bulan. Bila dipakai sendiri, bisa selama bertahun-tahun. Sekali ganti ban, butuh dana sekitar Rp 100 hingga Rp 200 ribu. Harga bola tergantung dengan kwalitas ban. Ban seharga Rp 200 ribu, pantulan bolanya kencang.

Jenis ban ada dua. Ban bentuk L dan A. Ban L tidak kencang dan bentuknya kurang bagus. Orang lebih suka ban bentuk A, karena bentuknya bagus dan modelnya seperti meja biliar merek Murray. Peli menerima pesanan, bila orang ingin mengganti ban.

Cara merawat meja biliar supaya tahan lama, jangan diduduki saja. Selain itu, tidak usah menggunakan tepung ketika bermain. Tepung membuat karpet cepat kotor, dan sulit dibersihkan. Meskipun dengan alat elektrik mesin penghisap debu. Karenanya, disarankan untuk memakai sarung tangan, bila sedang bermain.

Ketika memesan meja biliar, pembeli bebas memilih warna untuk karpetnya. Ada tiga warna; biru, merah dadu, dan hijau. Biasanya orang memilih warna hijau.

Meski bisnis meja biliar sifatnya musiman. Peluangnya tetap ada. “Dari jaman dulu orang sudah main bilyar. Jaman bapak saya sudah ada bilyar. Dan jaman anak saya nanti, mungkin masih ada bilyar,” kata Peli. Ada nada optimis pada kalimat yang dia ucapkan.


Berawal dari Patungan
Peli berasal dari keluarga pembuat mebel. Dia membuat mebel dari SMP kelas 2. Dia lahir pada tahun 1973. Kini, dia sudah berkeluarga dengan dua anak. Kuatnya persaingan dan saling menjatuhkan harga, membuat dia mengalihkan usaha mebelnya. Ketika itu, dia biasa membuat mebel dari kayu chin, atau semacam kayu agatis. Sekarang ini kayu itu jarang ditemui. Karena kesulitan mendapatkan kayunya, penjualannya juga terlalu tipis untungnya, dia banting haluan.

Modal awal ketika membuat meja biliar, Peli melakukannya dengan ngompreng alias patungan dengan kawan. Modal itu pun dengan meminjam orang. Modal Rp 5 juta dibagi dua. Dengan uang itulah, dia mulai membuat meja. Dia mulai membuka usaha pada bulan Maret 2002.

Kenapa tertarik menekuni bisnis ini?

“Karena, orang jarang bisa membuat meja biliar. Ini langka,” kata Peli. Ketika pertama kali ingin membuat meja, dia harus merogoh uang Rp 20 ribu untuk bermain biliar. Peli bukan penggemar, atau pintar main biliar. Selama bermain itulah, dia mulai mengukur dan meraba bentuk fisik meja biliar. Setelah itu, dia mulai menjiplak ukuran meja. Setelah membuat 3-4 meja, dia langsung pandai.

Awalnya meja itu disewakan. Dia menempatkan mejanya di beberapa tempat. Menurut Peli, menyewakan meja biliar dalam sebulan saja, modal bisa kembali. Dengan hitungan, setiap koin seribu. Sekali main biasanya lima koin. Banyak orang berkomentar meja buatannya. Karena itulah, dia mulai menjual mejanya ke beberapa orang. Karena permintaan meja banyak, dia langsung mengembangkan bisnis itu.

Pertama kali membuat kerangka meja biliar dari kayu, blockboard. Blockboard tidak tahan dengan air, karena kalau kena air akan mengembung. Karena ketahanannya tidak kuat, dia beralih ke kayu multiplek. Dari bahan blockboard ke multiplek sekitar 1,5 tahun. Pindah bahan berdasarkan pengalaman sendiri. “Jadi, mengejar mutu. Kalau mutu bagus orderan pasti datang terus,” kata Peli.

Peli mengaku tidak punya kiat khusus menjalankan bisnis ini. Cara menarik dan memuaskan pelanggan, dengan sikap ramah dan membuat barang sebaik mungkin.

Ketika pertama kali membuka usaha pada tahun 2003, Peli pernah mengajukan kredit pada sebuah bank daerah. Peli sudah menyerahkan surat tanah sebagai jaminan. Pihak bank meminta surat kuasa atas tanah itu. Kebetulan, yang dipakai surat kuasa lama atas nama ibunya. Dan ibunya sudah meninggal, sehingga tidak mungkin minta tanda tangan lagi.

Karena dianggap tidak bisa memenuhi syaratnya, pihak bank tidak pernah memberikan kredit modal. Padahal dia sudah memberikan persenan untuk surat menyuratnya. Yang dia minta juga tidak banyak, Rp 5 juta saja. Sejak peristiwa itu, dia tidak pernah lagi mengajukan kredit pada bank.

Makanya, jangan heran bila Anda memesan meja padanya. Dia akan meminta separo dari harga yang telah disepakati. Dengan uang panjar itulah, dia akan membeli berbagai kebutuhan untuk membuat meja.

Rencananya, dia ingin mengembangkan bisnis itu keluar kabupaten atau diluar Kalbar. Tapi, terbentur dengan modal, lahan, dan lainnya. Selain itu, dia juga ingin mendaftarkan meja hasil buatannya ke dinas terkait seperti Disperindag. Semuanya terbentur modal.

“Kita mau membuat hak cipta itu terbentur oleh modal. Tidak ada uang untuk itu. Kalau ada modal, tentu ada model,” katanya.*

Edisi Cetak, minggu pertama Januari 2006, Matra Bisnis

1 comment :

martin Situmorang said...

Gan numpang taya dong... alamat lengkap Pak Peli ini di mana yah? tq