Saturday, August 8, 2009

*Stella Bianca

Bakat Bawaan dan Dukungan Keluarga

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Serombongan anak sekolah dengan baju putih. Celana atau rok bagian bawah berwarna merah. Sebuah dasi dan topi warna merah, menyerta dalam seragam yang dikenakan. Ada sekitar 50 anak. Mereka menyusuri jalan kecil menuju sebuah gedung. Tak terlalu besar, namun cukup untuk menampung anak-anak ini. Sekolah itu berada di sekitar Gunung Hangmui.

Suasana pengab dan panas. Bulir keringat mulai menetas. Cahaya di gedung sangat kurang. Tak ada penerangan. Mereka duduk di lantai dan mulai membuka tas. Sebuah buku dikeluarkan. Catatan di buku sudah terlihat lusuh. Mereka mulai membaca buku catatan.

Seorang remaja yang sedari tadi mengikuti anak sekolah ini, segera membidikkan kameranya. Lensa kamera menangkap setiap detail obyek dengan baik.
Itulah, proses kreatif dari sebuah foto berjudul Menanti Cahaya, karya Stella Bianka Karman. Foto ini dinyatakan sebagai juara I, dalam lomba fotografi bertema pendidikan Ulang Tahun Borneo Tribune ke II. Dari segi tema dan teknis pengambilan gambar, foto bagus dan kuat. Tak heran bila tim juri memilih foto ini, sebagai juara I.

Dalam suatu perbincangan di Borneo Tribune, setelah penyerahan hadiah, 1 Agustus 2009, Stella menyatakan, ketika ingin mengikuti lomba ini, dia sengaja hunting atau mencari foto sesuai tema yang dilombakan, tentang pendidikan.

“Ada rasa sedih. Iba. Ekonomi tidak selalu berimbang. Orang kalau tak mampu, belajarnya begitu,” kata Stella.

Tapi, dia juga ada perasaan tidak puas. Kemudian, ia berpikir lagi. Kalau dirinya seperti mereka, maka tak bisa makan puas. Dari kecil sudah kerja. “Jadi, saya belajar puaslah,” katanya.

Stella bersyukur dengan kondisinya. Tapi, kepuasan itu tidak seimbang. Seharusnya orang yang mampu, harus tahu diri. Mereka sudah mendapatkan itu, tapi tidak puas.

Stella tertarik dengan dunia fotografi, karena bisa menggunakannya, untuk mendokumentasikan suatu peristiwa dan orang lain. Ia suka fotografi sejak duduk di bangku SMP, sekitar 2005-2006. Ia belajar sendri.

Baginya, fotografi bersifat alamiah saja. Ibarat orang sedang lapar, tentu akan mencari makan. “Kalau mau melakukan, ya, melakukan saja,” katanya.

Orang tua memberikan dukungan dan inspirasi. Bahkan, sang mama, membelikannya kamera. Kalau selesai hunting foto, biasanya sang mama ingin tahu hasilnya.

Pernah suatu kali, foto-foto hasil cepretannnya, diperlihatkan pada teman-teman mamanya di Jakarta. Mereka bilang, “Stella punya bakat dan mata sebagai fotografer. Perlu dikembangkan,” kata Stella, menirukan ucapan sang mama.

Kalau sedang motret, biasanya dia akan mengambil gambar suatu obyek dari berbagai sudut atau angle. Kemudian dilihat gambarnya dari segi komposisi, warna dan lainnya.
Stella biasanya memotret tema tentang pemandangan. Terdiri dari laut, pantai, gunung, langit dan lainnya.

Di Singkawang, ia jarang melakukan hunting atau berburu foto. Biasanya hanya memotret pemandangan di belakang rumah. Langitnya selalu berubah-ubah. Ada gunung Poteng. Ada masjid. Ada air terjun.

Dari kecil hingga lulus SMP, Stella tinggal di Jakarta. Setelah ayahnya terpilih sebagai walikota Singkawang, Stella pindah ke Singkawang. Perubahan baru itu, dirasakannya susah banget. Beda jauh dengan Jakarta. SMA St. Ignasius Singkawang.

“Harus sesuaikan dengan daerah,” katanya.

Ia sempat protes. Namun, kedua orang tuanya menasehati, agar ia mencobanya dulu. Ayahnya berkata, “Orang daerah banyak yang sukses, karena mereka lebih mandiri.”

Setelah mengamati, Stella merasa pendapat itu, ada benarnya. “Kondisi membuat mereka untuk mandiri,” katanya.

Namun, selama di Singkawang, dia tidak boleh sembarangan keluar. Padahal, dia Jakarta, ia bebas jalan ke mana saja.

Stella punya hobi menulis. Apa saja. Cerpen, puisi, pidato, dan lainnya. Bahkan, kalau ada workshop menulis, ayahnya juga minta padanya untuk ikut. Stella juga menyenangi Bahasa Inggris. Kalau yang berhubungan dengan bahasa, ia menyenangi sejak duduk di bangku SMP. Selain itu, ayahnya juga minta padanya untuk main piano dan biola. Orang tua selalu memberikan motifasi.

“Kalau mau melakukan sesuatu, harus dengan baik. Jangan mengeluh. Apa yang kita lakukan ada hikmahnya,” kata Stella.

Bersama kawan-kawannya di SMA, Stella membuat antalogi puisi. Buku kumpulan puisi itu, ditulis tujuh siswa dan satu orang guru.

Stella juga selalu mencari informasi. Salah satunya dari Harian Borneo Tribune. “Koran ini bagus dan kreatif. Terutama dari segi pendidikan. Selain memberitakan juga melakukan kerja sama dan ada kegiatan,” katanya. Contohnya, lomba menulis dan fotografi yang diselenggarakan koran ini.

Ia selalu ingin mengembangkan bakatnya. Namun, dia juga tak berikan target, mau jadi fotografer atau musisi.

Lalu?

“Ingin jadi guru piano atau guru Bahasa Inggris. Kayaknya asyik,” jawab Stella dengan senyum khasnya.

No comments :