Tuesday, July 22, 2008

Alasan Menang Mochtar Lubis Award

Ini alasan, mengapa tulisan mereka menang Mochtar Lubis Award.

Kategori Public Service
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad). Hancurnya Infrastruktur di Sulawesi Barat oleh Sidik Pramono dari Harian Kompas, Jakarta, 10 Mei 2008. Krisis Air Bersih Ancam Bandung oleh Zaky Yamani dari Harian Pikiran Rakyat, Bandung, 17 Maret 2008. Mencari Angka dalam Jerami oleh Daspriani Y. Zamzami dari Majalah Aceh Kini, Januari 2008. Politik Pendidikan Penebus Dosa oleh Asrori S. Karni dari Majalah Gatra, Jakarta, 23 Januari 2008. Save Our Airport oleh Gatot Rahardjo dari Majalah Angkasa, Jakarta, Maret 2008.

Pemenang
Politik Pendidikan Penebus Dosa oleh Asrori S. Karni dari Majalah Gatra, Jakarta, 23 Januari 2008.


Alasan Pemilihan Pemenang
Untuk kategori Pelayanan Publik, Dewan Juri menerima total 36 naskah. Sebagian besar peserta berasal dari Jakarta dan mengangkat persoalan Jakarta. Sejumlah daerah di luar Jakarta juga ikut ditampilkan, yaitu Aceh, Sumatera Barat, Batam, Lampung, Bandung, Banten, Surabaya, Bali, dan Sulawesi Barat. Jumlah peserta non-Jakarta ini tentu masih sangat terbatas dibandingkan dengan luasnya daerah di Indonesia serta kayanya ragam persoalan dari daerah-daerah yang belum terwakili itu, yang mungkin jauh lebih pelik dibandingkan apa yang tersaji pada naskah-naskah yang masuk tahun ini.

Dari total 36 naskah ini, kurang dari setengahnya – yaitu hanya 16 naskah -- yang benar-benar bisa dimasukkan ke dalam kelompok dengan tema Pelayanan Publik.. Sisanya menyajikan tema yang sama sekali tidak terkait dengan aspek Pelayanan Publik.

Beberapa dari naskah peserta ini sebetulnya memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh agar aspek Pelayanan Publiknya dapat lebih muncul. Beberapa karya hanya berupa snapshots atau potret sekilas, sebagian lainnya berupa laporan bernuansa kemanusiaan (human interest).

Adapun naskah yang benar-benar masuk dalam kelompok Pelayanan Publik (dengan jumlah 16 naskah tadi), sebagian besar masih memiliki sejumlah kekurangan untuk disebut sebagai laporan jurnalistik yang kuat. Beberapa kekurangan tersebut adalah: lemahnya data yang diperoleh dari observasi langsung di lapangan, terlalu menyandarkan diri pada data yang diperoleh dari narasumber resmi namun tidak menunjukkan kegigihan untuk menggugat data-data resmi ini lebih jauh, penempatan data yang terkesan asal jadi sehingga melelahkan pembaca, struktur yang kurang kokoh (banyak bagian yang sebenarnya bisa dihilangkan atau tak terlalu relevan), kurangnya aspek edukasi dan advokasi, serta penggunaan bahasa yang tampaknya masih bisa disempurnakan lebih jauh. Dengan kata lain: tidak ada karya dari kategori Pelayanan Publik ini yang betul-betul tampil menonjol.

Dewan Juri menilai lima aspek, yaitu kandungan informasi (termasuk akurasi, kekayaan data, tingkat kesulitan mendapatkan data, unsur advokasi dan edukasi, serta dampak tulisan terhadap masyarakat) dengan bobot nilai 30%; ide tulisan (orisinalitas, aktualitas, relevansi dan kreativitas dalam menemukan sudut pandang dan mengolah bahan) dengan bobot nilai 25%; lalu sistematika penulisan, kelancaran dan kejelasan tulisan, dan penggunaan Bahasa Indonesia (masing-masing dengan bobot nilai 15%). Berdasarkan panduan ini, dan melalui diskusi yang demokratis, Dewan Juri menetapkan lima finalis dan karya dengan nilai tertinggi yang kemudian ditetapkan oleh Dewan Juri sebagai pemenang jatuh kepada: Politik Pendidikan Penebus Dosa oleh Asrori S. Karni, terbit di Majalah Gatra, Jakarta, 23 Januari 2008.

Karya yang menjadi pemenang ini memiliki kekuatan dari sisi tema/subyek yang dipilih, yang pada intinya ingin mengedepankan pentingnya “pendidikan bagi semua warga negara”. Dalam konteks filosofis inilah tulisan ini sekaligus mengkritik kebijakan pemerintah karena bertentang dengan misi “pendidikan bagi semua warga negara” tadi, terbukti dari perlakuan diskriminatif yang selama ini dialami oleh sekolah-sekolah yang berbasis pada agama, seperti pesantren, madrasah, seminari. Perlakuan pilih-kasih tadi tampak antara lain dari relatif terbatasnya anggaran yang disediakan pemerintah bagi lembaga-lembaga pendidikan berbasis agama tersebut.

Gugatan ini menjadi terasa relevan dan kontekstual dengan kondisi aktual bangsa Indonesia saat ini, yang mengalami demoraliasasi hampir di semua lini. Kondisi ini sekaligus merupakan sebuah ironi, mengingat bangsa Indonesia seringkali membanggakan diri sebagai bangsa yang religius, namun kenyataan yang tertuang dalam tulisan ini menunjukan rendahnya keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan agama. Padahal seharusnya pemerintah memberikan porsi perhatian (termasuk alokasi anggaran) yang setidaknya sama antara pendidikan umum dan pendidikan berbasis agama. Tulisan ini juga menunjukkan sisi kemandirian dari lembaga pendidikan berbasis agama, serta kemampuannya menahan diri untuk tidak terseret dalam arus komersialisasi pendidikan yang kini telah merambah lembaga pendidikan hampir pada semua jenjang.

Tulisan ini niscaya akan menjadi lebih kuat andaikata hasil pengamatan dari lapangan lebih diperkaya dari apa yang telah disajikan oleh penulisnya. Data dan pengamatan dari lapangan tersebut dapat berfungsi sebagai ilustrasi yang memperkuat tulisan sekaligus sebagai alat untuk mekonfrontir data-data resmi yang tampak jauh lebih mendominasi dalam tulisan ini.

Dewan Juri (berdasarkan urutan abjad)
Arya Gunawan Usis
Teten Masduiki
Tulus Abadi

Kategori Feature
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad)
Frederick Sitaung: Guru Sejati Papua oleh Ahmad Arif dan Luki Aulia dari Harian Kompas, Jakarta, 1 September 2008. Hari Kembang oleh Agus Sopian dari Majalah Arti, Jakarta, Mei-Juni 2008. Mbak Suko: Simbol Perlawanan Petani oleh Ahmad Arif dan Sri Hartati Samhadi dari Harian Kompas, Jakarta, 10 April 2008. Meno Kaya Tidur di Selokan oleh Ahmad Arif, Luki Aulia dan Aryo Wisanggeni Genthong dari Harian Kompas, Jakarta, 13 September 2007. Ya Ampun, Sulitnya Sekolah oleh Indira Permanasari dari Harian Kompas, Jakarta, 31 Juli 2007.

Pemenang
Meno Kaya Tidur di Selokan oleh Ahmad Arif, Luki Aulia dan Aryo Wisanggeni Genthong dari Harian Kompas, Jakarta.

Alasan Pemilihan Pemenang
Ada kecenderungan menggembirakan saat kami menyimak 59 karya yang masuk untuk kategori feature. Banyak tulisan memiliki gagasan bagus, dan mereka berhasil menampilkan berbagai aspek kehidupan yang memperkaya wawasan serta bersifat menggugah. Tema yang muncul cukup beragam, dari perjuangan guru di daerah terpencil, perlawanan kreatif petani, kegigihan pedagang kembang, sampai dakwah di kalangan TKW Hongkong. Meskipun demikian, sayang, banyak gagasan bagus itu kurang tergarap dengan baik. Deskripsi yang dipakai sering klise, metafora kurang menggigit, dan penyuntingan kurang rapi.

Dari lima finalis satu berupa feature panjang karya wartawan majalah, empat yang lain adalah feature pendek karya wartawan koran. Kelimanya memiliki tema yang mencerminkan pemikiran dan watak Mochtar Lubis: kepedulian pada kemanusiaan, keadilan, seni dan lingkungan.

Meno Kaya Tidur di Selokan kami pilih sebagai pemenang dengan pertimbangan sebagai berikut. Karya ini menampilkan sudut pandang yang unik untuk sebuah persoalan sosial-ekonomi yang kompleks. Kritik sosial yang disajikan sangat tajam dengan menggunakan paradoks dan ironi yang tidak klise. Karya ini membuat pembaca tergugah akan betapa berlapis-lapisnya persoalan di daerah pertambangan. Dengan ini kami juga ingin menunjukkan bahwa tulisan pendek di koran pun bisa ditulis dengan pendekatan feature secara memikat.

Dewan Juri (berdasarkan urutan abjad)
Farid Gaban
Sori Siregar
Yusi Avianto Pareanom

Kategori Investigasi
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad)
The Lost Generation oleh Muhlis Suhaeri dari Harian Borneo Tribune, Pontianak, 10-28 Februari 2008. Menguak Tabir Dosa Ekologi di Balik Proyek PLTP Sibayak oleh Erwinsyah dari Surat Kabar Harian Ekonomi Medan Bisnis, Medan, 31 Maret-5 April 2008.
Muslihat Cukong di Lahan Cepu oleh Bagja Hidajat dkk dari Majalah Tempo, Jakarta, 7 Januari 2008. Roger... Roger... Intel Sudah Terkepung, oleh Budi Setyarso dari Majalah Tempo, Jakarta, 26 Agustus 2007. Zatapi dengan Sejumlah Tapi oleh Yosep Suprayogi, Philipus SMS Parera dkk dari Majalah Tempo, Jakarta, 30 Maret 2008.

Pemenang
The Lost Generation oleh Muhlis Suhaeri dari Harian Borneo Tribune, Pontianak, 10-28 Februari 2008.

Alasan Pemilihan Pemenang
Mochtar Lubis Award 2008 ini adalah kompetisi pertama yang menyertakan kategori investigasi. Sebuah kategori yang sulit, yang dalam jurnalisme sering disebut sebagai induk dari dari semua jurnalisme. Sebuah pekerjaan investigasi dewasa ini tak lagi mendapatkan perhatian yang layak dari pimpinan media di Indonesia. Di lingkungan media cetak hanya media besar yang masih memberikan tempat bagi liputan jenis ini.

Naskah yang masuk ke juri pada kompetisi kali ini total berjumlah 13 naskah. Ada hal yang menggembirakan dalam kompetisi kali ini. Antara lain bahwa meski didominasi oleh media besar nasional, ternyata ada juga naskah yang berasal dari tulisan media di daerah. Hal ini betul-betul membesarkan hati.

Kita semua patut merasa berbesar hati melihat semangat investigasi masih tumbuh. Di tengah tuntutan rutinitas wartawan koran dan tekanan deadline yang padat, ternyata masih ada beberapa wartawan yang –dengan keterbatasan waktu dan logistik— menyempatkan diri untuk mengupayakan peliputan investigasi, yang makan waktu dan tenaga, serta kerap tidak didukung penuh oleh organisasi redaksi.

Kriteria penjurian yang digunakan adalah muatan pilihan tema (15%), muatan proses penggalian(50%), dan penulisan (35%). Muatan pilihan tema terdiri dari aktualitas, magnitude, upaya membongkar kejahatan, skala atau kompleksitas kejahatan. Untuk muatan proses terdiri dari unsur rechecking, kompetensi nara sumber, data pendukung, adanya riset,dan upaya melakukan verifikasi. Sedangkan dari sisi penulisan yang diukur adalah gaya dan logika bahasa, kejelasan, deskripsi, penggunaan bahasa yang tidak klise, akurasi, keberimbangan, dan kedalaman tulisan.

Beberapa karya terlihat menonjol dalam hal semangat dan gairah (passion). Ini catatan yang menggembirakan melihat serbuan ”jurnalisme ludah” (sikap kewartawanan yang hanya ”menadahi” ludah para pejabat) yang tiap kali membanjiri ruang hidup kita. Sayangnya, semangat dan gairah yang menggebu-gebu itu seringkali membuat para wartawan muda terlalu terburu-buru menurunkan hasil investigasi yang belum matang benar. Barangkali, semangat yang berlebihan ini pula yang membuat wartawan kita kurang punya semangat ”skeptis” dalam dosis yang normal.

Setelah melewati penjurian secara terpisah, para juri memilih lima karya yang dinilai memenuhi kelayakan untuk masuk dalam nominasi calon pemenang Mochtar Lubis Award untuk kategori investigasi. Lima karya terbaik ini antara lain The Lost Generation, Muslihat Cukong di Lahan Cepu, Zatapi dengan Sejumlah Tapi, Roger... Roger... Intel Sudah Terkepung, dan Menguak Tbr Ds Ekologi di Blk Proy. PLTP Sibayak.

Namun, dari 5 karya yang ada, para juri akhirnya bersepakat untuk memilih tulisan berjudul The Lost Generation yang dimuat secara serial melalui 19 tulisan. Para juri terpesona membaca karya ini, karena tulisan ini memberikan pemahaman sejarah tentang praktik-praktik militerisme, politik pecah belah, operasi intelijen, kisah tragis manusia yang terjebak di antara situasi pergantian politik negara, dan akar perdagangan perempuan serta konflik komunal di daerah Kalimantan Barat.

Dewan juri terkesan pada gairah penulis untuk mencari data, menelusuri dokumen tua dan hasil riset para peneliti, menelusuri fakta dan menjumpai mereka yang terlibat dengan mengandalkan ingatan. Penelusuran ini sungguh tidak mudah mengingat kejadian ini sudah hampir 40 tahun berlalu, dan sebagian besar dari rakyat Indonesia bahkan sudah melupakan kekejian yang memakan puluhan ribu jiwa dan hilangnya satu generasi. Suatu tragedi yang dianggap tak pernah ada.

The Lost Generation dalam paradigma hak asasi manusia merupakan sebuah kejahatan yang berindikasikan pelanggaran HAM berat, yaitu kejahatan terhadap kemanusiaan. Ribuan penduduk sipil terbunuh. Sebagian besar dari mereka juga dipindahkan secara paksa dari daerah pedalaman.

Juri memang menemukan beberapa kelemahan dari karya ini. Di antaranya, istilah G-30S/PKI, yang menurut tidak terlalu tepat. Penulis juga tidak konsisten menggunakan istilah hanya G-30S. Selain itu ada beberapa konfirmasi yang tidak dilakukan, penyebutan nama narasumber yang tidak lengkap dan penulisan yang tersendat di beberapa bagian. Ada beberapa sumber penting yang tampaknya tak digunakan oleh si penulis, tapi barangkali keseriusan dan tekad untuk mengungkapkan skandal dibalik peristiwa yang distigma sebagai ”PGRS/Paraku” ini memberikan berbagai nilai lebih.

Si penulis mewawancarai puluhan orang saksi korban, saksi mata, dan saksi pelaku. Ia juga melakukan sejumlah penelusuran dukumen dan karya penelitian yang pernah dibuat orang mengenai peristiwa ini. Dari karyanya, kita melihat penulis sangat serius menemui orang-orang dalam jangkauan ratusan kilometer yang terpisah di berbagai kecamatan dan kabupaten – meskipun barangkali dengan logistik yang terbatas.

Juri berharap yang ditunjukkan oleh 5 para yang karyanya terpilih sebagai lima karya terbaik bisa memberikan inspirasi kepada para wartawan Indonesia. Terutama untuk terus berupaya mengungkapkan berbagai skandal dan kejahatan yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Sebuah semangat jihad tanpa pernah kompromi yang selalu ditunjukkan oleh almarhum Mochtar Lubis semasa hidupnya.

Dewan Juri berdasarkan urutan abjad
Dwi Setyo Irawanto
Maria Hartiningsih
Yosep Adi Prasetyo

Kategori Fotojurnalistik
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad)
Dag Dig Dug di Bukit Segambut (Operasi TKI) oleh Arie Basuki dari Koran Tempo, Jakarta, 9 Maret 2008. Jalan Tol Sedyatmo Km 26 Terputus oleh Agus Susanto dari Harian Kompas, Jakarta, 3 Februari 2008. Limbah di Banjir Kanal oleh Lasti Kurnia dari Harian Kompas, Jakarta, 5 September 2007. Mengungsi di Rel Kereta Api oleh Yuniadhi Agung dari Harian Kompas, Jakarta, 4 Februari 2008. Sepak Bola Rusuh oleh Ignatius Danu Kusworo dari Harian Kompas, Jakarta, 17 Januari 2008.

Pemenang
Dag Dig Dug di Bukit Segambut (Operasi TKI) oleh Arie Basuki dari Koran Tempo, Jakarta, 9 Maret 2008.

Alasan Pemilihan Pemenang
Foto Dag Dig Dug di Bukit Segambut (Operasi TKI) ini terpilih menjadi pemenang untuk kategori fotojurnalistik karena alasan-alasan sebagai berikut. Isu yang diangkat oleh Arie Basuki ini sering kita dengar tetapi jarang tampil di media massa secara utuh. Tema pada foto ini langka terungkap secara visual. Foto ini merupakan simbol visual yang mewakili ketidakberdayaan dan ketidakadilan, hal-hal inilah yang memang harus diangkat oleh pers dalam menjalankan fungsinya.

Foto ini memunculkan kedalaman dan usaha (effort) dalam mengambil gambar juga keberanian si fotografer menghadapi resiko yang tinggi. Foto ini juga menunjukkan semangat berjuang demi si miskin, hal ini selaras dengan kritik Mochtar Lubis yang menyindir bahwa di Indonesia ini ada begitu banyak orang kaya yang berada di atas, sementara mereka yang di bawah tidak mendapatkan bagian.

Catatan juri terhadap Dag Dig Dug di Bukit Segambut (Operasi TKI) ini adalah perlu adanya peningkatan dari aspek editing foto atau cropping yang masih belum sempurna.

Dewan Juri (berdasarkan urutan abjad)
Julian Sihombing
Oscar Motuloh
Sinartus Sosrodjodjo

Kategori In-Depth TV Reporting
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad)
Kartini yang Terdampar di Negeri Orang oleh Widyaningsih dkk dari SCTV, Jakarta, 20 April 2008. Mengeruk Laba dari Bangkai Sapi Darussalam Burnahan dkk dari ANTV, Jakarta, 19 September 2007. Pengoplosan di Balik Kisruh Minyak Tanah oleh Darussalam Burnahan dkk dari ANTV, Jakarta, 5 September 2007. Perburuan Ilegal Gading Gajah oleh Andi Azril dkk dari SCTV, Jakarta, 9 Maret 2008. Pintu Harapan untuk Si Miskin oleh Endah Saptorini dkk dari Astro Awani, Jakarta, 27 Oktober 2007.

Pemenang
Mengeruk Laba dari Bangkai Sapi Darussalam Burnahan dkk dari ANTV,
Jakarta, 19 September 2007. dan Pintu Harapan untuk Si Miskin oleh Endah Saptorini dkk dari Astro Awani, Jakarta, 27 Oktober 2007.

Alasan Pemilihan Pemenang
Juri memutuskan ada dua pemenang untuk kategori ini karena kedua lipuan ini mempunyai kekuatan ide, investigasi, dan tehnik yang memadai. Keduanya memunculkan fakta yang tidak diketahui masyarakat luas, tim menggali dan melakukan riset karena topik yang diangkat bukan isu yang tersaji begitu saja, tidak mengikuti mainstream berita.

Mengeruk Laba dari Bangkai Sapi mengingatkan kita pada kepentingan publik yang dikhianati, cara-cara yang kejam, tidak berperikemanusiaan, yang sudah memasuki wilayah animal cruelty dan crime against public health. Dari segi kesehatan, kita sebagai konsumen dilanggar haknya untuk mendapat jaminan kelayakan produk. Bagi umat Islam bahkan konsumen menjadi pemakan produk haram (bangkai).

Pintu Harapan untuk Si Miskin mengingatkan kita pada semangat Mochtar Lubis untuk melakukan kritik social yang lugas. Bertutur tentang problem kemiskinan yang dialami segenap lapisan masyarakat, khususnya kaum urban, dan ketidakadilan yang dialami untuk mendapatkan haknya.

Tayangan ini juga berhasil menampilkan praktek-praktek tersembunyi dari birokrasi yang korup, berbelit-belit, dan tidak punya empati, apalagi sense of urgency. Secara detil juga ditayangkan betapa pincangnya fasilitas umum yang diberikan rumah-sakit yang diberikan pada pasien yang miskin. Tetapi tayangan ini tidak berhenti pada kritik semata, melainkan juga mengangkat perjuangan orang-orang miskin untuk meraih harapannya, menjadi sejahtera, mempunyai solidaritas pada sesama yang miskin.

Sebagai catatan, khusus untuk Pintu Harapan untuk Si Miskin, anggota Dewan Juri Riza Primadi tidak terlibat dalam penjurian.

Dewan Juri berdasarkan urutan abjad
Bimo Nugroho
Dana Iswara
Riza Primadi

Kategori Fellowship
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad)
Proposal Divestasi KPC: Menggerus Batu Meninggalkan Bara oleh I Gusti Gede Maha Adi, Majalah Tempo, Jakarta. Proposal Investigasi Korupsi Dana Rekonstruksi Pasca Gempa Bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006 oleh Bambang Muryanto wartawan lepas, Masjidi dari MQ Radio dan Gigin W Utomo dari Majalah Swasembada, Yogyakarta.

Pemenang
Proposal Investigasi Korupsi Dana Rekonstruksi Pasca Gempa Bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006 oleh Bambang Muryanto wartawan lepas, Masjidi dari MQ Radio dan Gigin W Utomo dari Majalah Swasembada, Yogyakarta.

Alasan Pemilihan Pemenang
Dalam upaya menetapkan Mochtar Lubis Fellowship 2008, tiga anggota Dewan Juri telah melakukan penilaian atas sembilan usulan rancangan peliputan penyidikan atau investigative reporting yang diterima oleh Panitia Penyelenggara Mochtar Lubis Award 2008.

Dewan Juri menilai kesembilan rancangan tersebut dengan berpedoman pada panduan gagasan berikut untuk dapat meraih Mochtar Lubis Fellowship 2008:
o Rancangan peliputan penyidikan mengungkapkan peristiwa atau masalah yang terkait dengan kepentingan orang banyak.
o Rancangan ini memaparkan gagasan secara lengkap dan matang.
o Rancangan ini memiliki gagasan yang menarik dan memiliki kompleksitas yang mendalam untuk diterbitkan dalam bentuk buku sekira 100 halaman.
o Rancangan ini memuat perencanaan investigasi yang masuk akal dan realistis untuk dapat dilaksanakan dalam waktu empat bulan dengan biaya yang tersedia.
o Rancangan ini dapat menjadi model untuk Mochtar Lubis Fellowship pada tahun-tahun selanjutnya.

Dewan Juri menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada kesembilan tim yang telah berpartisipasi dalam program Mochtar Lubis Fellowship 2008, sebagai bagian dari program Mochtar Lubis Award yang pertama kali ini digelar di Indonesia.

Gagasan-gagasan yang dituangkan dalam kesembilan usulan rancangan itu sangat menarik sehingga tidak terelakkan perdebatan antara ketiga anggota Dewan Juri dalam menentukan peraih penghargaan ini.

Dewan Juri berpendapat, tema-tema yang digagas pada rancangan peliputan penyidikan itu sangat layak dikembangkan. Namun, kebanyakan tema itu lebih tepat ditelusuri dan ditulis untuk bentuk laporan berkedalaman atau in-depth reporting.

Dewan Juri, dalam sidangnya yang pertama pada 20 Juni 2008, bersepakat dengan suara bulat untuk menetapkan dua usulan sebagai rancangan peliputan penyidikan yang paling memenuhi panduan rumusan tersebut. Kedua usulan rancangan itu adalah:
1. “Divestasi KPC: Menggerus Batu Meninggalkan Bara”; dan
2. "Investigasi Korupsi Dana Rekonstruksi Pasca-Gempa Bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006"

Pada 1 Juli 2008, Dewan Juri mengadakan seleksi lanjutan dengan mengikuti presentasi dan mewawancarai wakil-wakil kedua tim pengusul rancangan peliputan penyidikan tersebut. Dalam sidangnya yang kedua hari itu, Dewan Juri akhirnya bersepakat dengan suara bulat pula untuk menetapkan peraih Mochtar Lubis Fellowship 2008, yaitu:
o "Investigasi Korupsi Dana Rekonstruksi Pasca-Gempa Bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006"—rancangan yang diusulkan oleh tim yang terdiri atas Bambang Muryanto (wartawan freelance), Gigih W. Utomo (reporter lepas), dan Masjidi (reporter).

Dewan Juri menetakan pilihan tersebut berdasarkan pertimbangan berikut:
1. Dari segi tema, sasaran peliputan penyidikan ini bersifat kemanusiaan dan menyentuh nilai-nilai kemanusiaan.
2. Dari segi kepentingan publik, dampak dari hasil peliputan ini menyangkut kehidupan masyarakat yang luas.
3. Dari segi pendidikan, hasil peliputan ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain yang mengalami peristiwa yang serupa dan diharapkan praktik penyalahgunaan wewenang serta sikap tidak berperikemanusiaan tidak terulang.
4. Dari segi waktu, dengan rencana investigasi selama empat bulan sejak Agustus sampai November 2008, diharapkan peliputan ini dapat dilaksanakan sepenuhnya.

Dewan Juri berdasarkan urutan abjad
Atmakusumah Astraatmadja
Murizal Hamzah
Susanto Pudjomartono

Sumber: Pengumuman panitia Mochar Lubis Award
Foto by Bajo Winarno

No comments :