Tuesday, December 2, 2008

Tato Bagi Masyarakat Dayak

Oleh: Muhlis Suhaeri

Sekelompok orang menari. Langkah dan geraknya ritmis. Mereka berderet dalam langkah-langkah teratur. Pakaian para penari khas dan unik. Ada sulaman, manik-manik dan rupa warna berpadu. Gelang dan giwang juga memenuhi tangan dan kaki penari.

Dua orang pemusik memegang Sape’. Ini jenis alat musik khas Dayak Kayaan yang bentuknya menyerupai gitar. Ada beberapa senar. Diantara yang menari, seorang perempuan tua, penuh tato di sekujur tangan dan kaki, ikut bergabung. Gerakannya masih lincah dan bersahaja. Ia seolah membimbing penari muda, mengikuti gerakannya.

Itulah sebuah siang, pada pertengahan bulan Juni di Rumah Betang, Jalan Sutoyo Pontianak. Hari itu, mereka berkumpul menggelar Gawai Dayak Kayaan. Setiap warga Dayak Kayaan di Pontianak, diharapkan hadir dalam acara itu. Berbagai upacara dan ritual adat digelar.


Dalam buku Mozaik Dayak, Keberagaman Subsuku dan Bahasa Dayak di Kalimantan Barat, selain di Kalbar, subsuku Dayak Kayaan juga ada di Kalteng, Kaltim dan Sarawak, Malaysia. Subsuku Dayak ini cukup terkenal bagi kalangan peneliti.

Dalam masyarakat Dayak Kayaan, ada tiga tingkatan strata sosial. Hipi, bangsawan atau setingkat raja. Panyin, orang bisa. Dan, Diivan atau budak. Strata sosial ini, punya kemiripan dengan Dayak Taman, Lau’, dan Tamambalo. Namun, dalam perkembangannya, strata Diivan, sudah ditiadakan.

Dayak Kayaan memiliki budaya dan kesenian yang cukup dikenal. Tak hanya bagi kalangan masyarakat Dayak, juga masyarakat diluar Dayak. Salah satu contoh adalah seni tato. Seni tato dinamakan Tedak. Ini untuk kata benda. Kalau kata kerjanya, Nedak. Seni tato bagi masyarakat Dayak Kayaan, terutama dilakukan bagi perempuan.

“Dalam adat dan kesenian kami, perempuan harus ditato,” kata Ny Berdanetha JC Oevaang Oeray. Berdanetha perempuan Dayak Kayaan, kelahiran Kecamatan Putussibau, Kapuas Hulu. Ia istri Johannes Chrisostomus Oevaang Oeray, gubernur pertama dari suku Dayak. Berdanetha menikah dengan Oevaang Oeray pada umur 14 tahun. Namun, ia tak tahu persis tanggal kelahirannya. Ia memiliki tato di kedua tangan dan kakinya.

Dulu, ia tinggal di Rumah Betang di Tanjung Kuda, Putussibau. Rumah tradisional masyarakat Dayak bentuknya memanjang. Karenanya, disebut Rumah Betang atau Rumah Panjang. Seperti kebanyakan rumah Betang Dayak, bangunan rumah terletak di pinggir sungai. Yaitu, di Sungai Mendalam.

Masyarakat Dayak hidup secara komunal. Rumah Betang Tanjung Kuda, ada 90 pintu. Rumah dibangun dari kayu Belian. Ini jenis kayu paling keras dan bisa tahan ratusan tahun, meskipun terendam dalam air sekalipun.

Sayangnya, rumah itu tak ada lagi. Rumah terbakar, gara-gara dua remaja sedang memasak di dapur, dan tidak menjaganya. Ia tak ingat pasti, tahun berapa terbakar. Yang pasti, setelah Jepang masuk dan sebelum kemerdekaan. Berarti antara 1942-1945. Menurutnya, rumah itu bagus, besar dan kuat. Paling bagus diantara rumah betang lainnya.

Bagi perempuan Dayak Kayaan, ketika usia menginjak usia 10 tahun, mereka harus ditato. Tato bagi wajib hukumnya. Perempuan yang tidak ditato, dianggap belum dewasa. Kalau tak ditato, mereka tak dianggap dalam lingkungan sosial masyarakat di sana. “Akan diledek dan jadi ejekan,” kata Berdanetha.

Bambang Bider, seorang aktivis Dayak dari LSM Heart of Borneo menyatakan, tato semacam representasi spiritualitas terhadap yang maha tinggi. Semacam tuntunan bagi mereka, ketika meninggal dunia. “Tato menjadi peta dan jalan menuju Apo Lagam atau surga,” kata Bider.

Motif tato Dayak Kayaan, menunjukkan kelas sosial suatu masyarakat. Seorang Hipi atau bangsawan, tentu berbeda dengan kelas sosial biasa, ketika membuat tato. Begitu juga motif yang dipakai.

D. Uyub, lelaki Dayak Kayaan kelahiran Sungai Mendalam, menyatakan bahwa motif tato tidak saja berfungsi sebagai penerang dalam perjalanan di alam baka, hiasan tubuh agar tampak cantik, tapi juga untuk melihat strata sosial. Perempuan itu dari kasta Hipi atau masyarakat biasa. penggunaan motif tato pada kaum perempuan Dayak Kayaan, harus sesuai dengan tingkat strata sosialnya. Tujuannya, selain membedakan tingkat status sosial, juga memiliki makna religi tertentu.

Untuk melihat kasta perempuan Dayak Kayaan, bisa dilihat dari jenis dan motif tatonya. Perempuan Hipi menggunakan beberapa motif. Pertama, Usung Tingaang. Jenis motif ini berbentuk paruh burung Enggang. Ini burung endemik di Kalimantan, yang melambangkan tanda maran atau mulia. Kedua, Kajaa’ Lejo. Bentuknya seperti bekas telapang kaki harimau. Motif ini melambangkan kekuatan dan kegagahan. Kegagahan terlambangkan dengan kehebatan seseorang. Tapak harimau sudah menginjak paha, tapi tidak berbahaya. Karenanya, motif Kajaa’ Lejo menjadi motif tertinggi, pada kalangan perempuan Hipi. Ketiga, Usung Tuva’. Tuva’ sejenis tumbuhan yang akarnya bisa dipakai menuba atau meracun ikan. Motif ini melambangkan kekuatan jiwa, bagi seorang Dayung atau orang yang memimpin doa secara adat. Motif serupa angka delapan atau kurfa. Keempat, Usung Iraang. Motif ini berbentuk piramida. Memiliki ujung tajam. Makna motif, diyakini bisa memberi semangat tinggi, dan kemampuan menganalisa berbagai aspek sosial kehidupan manusia. Kelima, Tena’in Ba’ung. Bentuk motif ini melingkar bulat. Persis lingkaran obat nyamuk bakar. Motif ini mengambil makna usus ikan buntal. Ini sebagai tanda, perempuan siap berkeluarga, dan siap hamil. Ikan Ba’ung perutnya besar, persis perempuan hamil. Keenam, Iko’. Motif ini berbentuk gelombang. Digunakan sebagai batas antara motif satu dengan lainnya. Motif Iko’ tak punya makna khusus.

Motif tato perempuan Panyin, bisa menggunakan motif perempuan Hipi, selain motif Kajaa’ Lejo dan Usung Tingaang. Dua motif itu tak bisa dipakai perempuan Panyin. Akibatnya bisa celaka.

“Jika menggunakan motif tato sembarangan, diyakini akan mendapatkan mala petaka parit,” kata Uyub. Orang tersebut seluruh kulit tubuhnya akan berwarna kuning. Muka tampak pucat, serta perut besar. Penyakit itu diyakini bakal diderita seumur hidup.

Letak tato biasanya pada bagian tangan, kaki dan paha. Letak motif Usung Tinggang pada perempuan Hipi, terletak di paha kiri dan kanan. Tepatnya di atas lutut. Motif Kajaa’ Lejo, di paha kiri dan kanan bagian depan. Motif ini biasanya bercampur dengan Usung Tuva’ dan Usung Iraang, yang juga bisa dipakai kaum Panyin.

Letak motif tato perempuan Panyin, ada di beberapa bagian. Usung Tuva’ terletak di paha kiri dan kanan. Tena’in Ba’ung biasanya dipakai sebagai pembatas dengan motif Usung Tuva’, terletak di paha bagian belakang. Usung Iraang dipakai sebagai pembatas antara motif satu dengan lainnya, bercampur dengan Usung Tuva’dan biasa disebut Iko’. Terletak pada paha bagian depan. Bermakna menandakan ujung bagian yang tajam. Hal itu sesuai dalam Tekna Lawe Idaa Beraan, atau cerita sastra Lawe Idaan Beraan. Lawe adalah seorang tokoh dalam cerita Idaan Beraan.

Peletakan motif Usung Tuva’, Tena’in Ba’ung, Usung Iraang dan Iko’, pada kalangan Hipi bisa sama dengan kaum Panyin.

Pada usia 10 tahun, perempuan Dayak Kayaan ditato pada bagian kaki. Biasanya dari lingkaran engkel hingga betis atas. Ada juga yang hingga ke paha. Kaki bagian jari dan bagian atas juga kena tato. Setelah 12-13 tahun, mulai ditato pada bagian tangan.

Tato dibuat ketika tidak ada kegiatan. Bukan pada musim berladang. Tukang tato biasanya perempuan. “Mereka memiliki kemampuan yang diturunkan secara turun temurun. Tidak boleh sembarangan orang,” kata Bernadetha.

Alat membuat tato terbuat dari kayu. Ada tangkai pemukul dari kayu. Namanya Lutedak. Di ujung kayu ada jarum tato. Jarum dicelupkan ke tinta, setelah itu mengikuti ukiran yang sudah ada. Motif tato berupa cetakan di kayu. Kulit yang akan ditato, dicap dulu dengan alat cetakan ini. Setelah itu, jarum tato mengikuti gambar. Cetakan tato disebut Klinge. Ukuran Klinge sudah paten.

Tinta untuk membuat tato, dikumpulkan dari asap lampu pelita. Lampu ini bahan bakarnya tanah, dan ada sumbu pada ujungnya. Asap yang keluar dari ujung sumbu ditampung. Ketika dipakai, asap dicampur dengan air. Meski dari asap pelita, tapi kualitasnya bagus. Pernah suatu ketika, Bernadetha tersiram air panas. Namun, tatonya tidak apa-apa.

Tak ada pantangan ketika orang ditato. Orang yang ditato, tak boleh bicara. Alasannya, dikhawatirkan tato tak jadi dan tak tuntas, karena melanggar aturan. Ibarat orang sedang menggoreng dan mempersiapkan sebuah makanan, tidak boleh diajak bicara. Bagian yang sudah ditato, dibersihkan di sungai, untuk hilangkan kotoran dan daki.

“Meskipun baru ditato, tapi tak bisa hilang, saat dibersihkan di sungai. Heran, aneh juga,” kata Berdanetha.

Setelah ditato, biasanya bagian itu terasa bengkak. Tapi, tak menimbulkan inveksi. Obat untuk tato, beras yang disangrai atau ditumbuk halus. Lalu, beras dicampur dengan akar Bado. Ini jenis tumbuhan merambat. Cara membuatnya, akar ditumbuk dan dicampur dengan beras. Lalu, diurap dan dibalurkan ke tubuh yang telah ditato. Setelah itu, dibalurkan, seperti bedak dingin.

Tato paling sakit di kaki bagian atas, karena langsung kena tulang. Bila tidak kuat, akan menangis. Tangisan ini dilakukan sambil bernyanyi. “Hehehe......Istilahnya sambil bedayu atau menyanyi,” kata Berdanetha. Lagunya seperti menangisi orang yang meninggal.

Sekarang ini, tato tak dipakai lagi pada perempuan Dayak Kayaan. Hanya orang tua saja yang masih memikiki tato. Sebabnya? Faktor pendidikan dan pergaulan, membuat perempuan Kayaan tak lagi membuat tato di tubuhnya. “Mosok sekolah di kota, tapi lain dari yang lain,” kata Berdanetha.

Tak adanya Rumah Betang bagi komunitas masyarakat Dayak Kayaan, setidaknya turut membuat tradisi dan seni tato turut menghilang.

Selain masyarakat Dayak Kayaan, secara tradisi, tato juga dikenal di kalangan masyarakat Dayak Iban, dan Kenyah, kata Gerar Gabriel Martinus Daria.

Menurutnya, tato bagi masyarakat Dayak, lebih kepada nilai seni. Keberadaan tato sudah ada ratusan tahun lalu, seiring munculnya seni ukir pada masyarakat Dayak.

Gerar dari Kecamatan Benua Martinus di Kapuas Hulu. Ia membuat tato sejak usia 30 tahun. Menurutnya, tato merupakan tanda kebanggaan, ciri khas, dan tak ada unsur magis. Tapi, tato tidak boleh sembarangan. Misalnya, tato Naga. Kepala naga harus menghadap ke bawah. “Supaya tidak makan diri sendiri,” kata Gerar.

Dalam bahasa Dayak Martinus, Naga disebut dengan Naboaou atau mahlug penjaga air. Supaya hari tidak hujan, maka minta pertolongan pada Naboaou.

Bagi Dayak Iban, tato ada di semua badan. Selain Naga, burung Enggang atau Rangkong juga sering dibuat untuk motif tato. Terutama bagi masyarakat Dayak Iban. Mereka lebih banyak ke Sayap Enggang. Ini melambangkan keagungan. Burung Enggang merupakan simbol kesetiaan. Selama betina bertelur dan mengerami telornya, sang jantan akan selalu berada di depan sarang yang terbuat dari lubang pohon, dan mengantarkan makanan bagi betina.

Selain Enggang, gambar tato yang selalu ada di Dayak Iban adalah, Bunga Terong. Gambar ini selalu ada di dada kanan dan kiri. Ini lebih kepada nilai artistik. Namun, motif tato tidak spesifik, harus dipakai siapa. Misalnya saja Iban, bisa ditato apa saja, karena motifnya itu-itu saja.

Tato membuat ciri khas dari suatu suku orang Dayak.

Motif Dayak Kenyah berupa akar-akaran, ular dan segala binatang. Tato Dayak Kayaan lebih halus, kecil dan lebih rumit. Motifnya terutama akar-akaran. Motif akar selalu dipakai, karena orang Dayak tidak bisa dipisahkan dengan hutan dan isinya. “Jadi, aneh saja bila orang Dayak dianggap merusak hutan. Kehidupan mereka tidak bisa dipisahkan dengan hutan,” kata Gerar. Simbol-silmbol yang ada itulah, kemudian dimunculkan di tato. Simbol lain adalah, babi, ular dan anjing.

Tumbuhan akar, rebung, dan pakis, juga sering dijadikan motif untuk tato. Resam bentuk daunnya seperti sisir tali, dan bisa dibuat untuk kalung. Kantung Semar juga simbol yang bagus untuk membuat tato.

“Pada dasarnya, membuat tato seperti membuat motif pada Gunungan di Wayang Kulit. Ini ibarat pohon kehidupan,” kata Gerar. Ada pohon, binatang, berjajar hingga naik ke atas, seperti gambar Gunungan.

Dulu, membuat tato dengan menggabungkan 5-7 jarum menjadi satu. Setiap jarum dibatasi dan ada tandanya, setiap kedalamannya. Butuh waktu tujuh jam sampai satu hari. Tergantung pembuatannya. Namun, membuat tato biasanya tidak sekaligus. Yang paling berat adalah membuat arsir.

Orang membuat tato dari tinta Cina. Tinta ini dipakai karena sangat lengket. Orang Dayak menyebutnya Tawat. Terkadang, orang menggunakan arang batu baterei. Caranya, baterei arang dihancurkan dengan air. Namun, bahan ini, warnanya kurang bagus dan pudar.

Dulu, ada upacara adat untuk membuat tato. Namanya, Adat Batato. Adat ini lebih memohon keselamatan, sehingga ketika membuat tato tidak salah. Adat Iban, Kayaan, Kenyah, hampir sama. Dalam upacara adat ini, keluarga yang bakal ditato, menyembelih babi atau ayam. Ini merupakan bentuk dari syukuran. Di Rumah Betang, keluarga yang akan membuat tato, mengadakan syukuran, dan memberitahu komunitas keluarga lain.

Membuat tato tak sekali jadi. Upacara dilakukan tak sampai satu hari lamanya. Upacara dilakukan sekali saja, ketika orang itu akan membuat tato. Tato merupakan proses yang terus menerus. Tak sekali jadi.

Sekarang ini, ketika membuat tato, unsur adatnya sudah hilang. Namun, ada kejadian yang membuat orang bertato, dianggap preman. Zaman itu disebut Petrus atau penembak misterius. Ini era 80-an. Begitu juga dengan tradisi telinga panjang bagi perempuan Dayak di Rumah Betang. Pemerintah menganggap hal itu tidak bagus, sehingga tidak dibina.

“Sekarang ini, ada kecenderungan anak muda Dayak memiliki tato. Ada kebanggaan kalau memiliki tato,” kata Gerar.

Pada berbagai acara Gawai Dayak, selalu dilakukan pembuatan tato. Sifat dan motif tatonya kontemporer. Tato jenis ini, dasarnya tetap. “Proses tato juga berkembang sesuai dengan proses kehidupan,” kata Gerar.

Namun, sekarang ini ada yang rancu dan tidak pas. Misalnya, orang Dayak membuat tato Gergasi atau Barong dengan lidah menjulur. Lidah menjulur untuk barong dari Bali. Sekarang ini, pertatoan sudah mulai menjadi tren, seperti zaman dulu. “Yang pasti, tato Dayak tidak identik dengan preman,” kata Gerar.

Tak hanya orang Dayak biasa, tato juga melekat pada seorang biarawan. Bruder Stephanus Paiman, misalnya. Dia berasal dari Dayak Kandayatn. Biasa dipanggil Bruder Step. Ia dari Ordo Kapusin.

Menurutnya, tato bila badan tidak kuat, bisa demam dua minggu. Apalagi kalau tato di leher, orang bisa tidak sanggup makan selama dua minggu.

Orang tua tidak mempermasalahkan, ketika dia membuat tato. Mulai dari kakek, kakak, sudah biasa membuat tato.

Bruder Step ayahnya dari Dayak Kandayatn. Ketika zaman mengayau atau berburu kepala masih berlaku, kalau orang selesai mengayau, tangan kanannya diberi tanda tato. Bentuknya bulat dan di tengahnya ada dua garis silang. Lebar lingkaran sekitar dua senti meter. Tiap dapat satu kepala, bulatan itu bertambah, hingga melingkari tangan, seperti gelang. Lingkaran awal berada di ujung pergelangan tangan. Satu lingkaran bisa memuat 12 lingkaran. Setelah penuh, tanda lingkaran itu dibuat ke atas, atau arah siku. Kalau sudah penuh, harus ke atas lagi.

Bruder Step memiliki kakek bernama Kek Uban di Bantanan, Kabupaten Sambas, perbatasan dengan Biawak, Sarawak. Tatonya berbentuk gelang. Dari ujung tangan hingga ke siku.

Sebelum masuk biara, Bruder Step sudah membuat tato. Sejak SMU, mulai membuat tato berciri khas Kalimantan. Alasan ia membuat tato, karena unsur seni. Pertama kali membuat tato, antara 1974-1975. Tato pertamanya bergambar kepala Harimau di dada kanan. Ini melambangkan keberanian dan keperkasaan. Dia mengakui, dulunya suka berkelahi.

Gambar kedua burung Garuda terbang di dada kiri. Ini melambangkan kebebasan.
Ada motif Dayak Kandayatn dibuat di kaki. Di tangan kanan, ada burung Enggang yang dikitari Pakis. Di tangan kiri ada gambar Kalajengking dikitari pakis.

Membuat tato dengan motif binatang berbisa, memiliki arti tersendiri. Orang percaya, tato Kalajengking atau binatang berbisa lainnya, kalau pemiliknya memukul, bisa berakibat fatal. Apalagi ada tahi lalat di tangan. Ceritanya, bakal berbahaya bila memukul orang.

Namun, bila ada tato Ular, Kalajengking atau binatang berbisa lainnya, bila masuk ke wilayah pedalaman, harus izin dulu dengan masyarakat setempat. Tujuannya, supaya tidak diuji atau dicoba masyarakat. Misalnya, masyarakat mengirim Ular, Kalajengking atau lainnya.

Ketika di biara, Bruder Step memperbanyak tatonya. Alasannya, hal itu tidak bertentangan dengan konstitusi dan aturan hidup di Kapusin. Tidak ada ajaran gereja yang melarang hal itu.

Bagi Bruder Step, membuat tato berhubungan dengan sesuatu yang ideologis. Di Ordo atau kehidupan biarawan gereja, ada yang namanya mendera diri. Sejarahnya, pada abad pertengahan, banyak pengikut dari Ordo Fransiskus, hidup mendera diri dengan cambuk. Mereka ingin merasakan penderitaan Yesus dalam perjalanan menuju Golgota.

“Saya membuat tato, karena ada darah yang saya bayangkan, adalah penderitaan Yesus,” kata Bruder Step. Ia menerapkannya dengan tato. Ketika masuk biara, ia membuat kepala Yesus dengan hiasan Mahkota Duri. Gambar itu ada di bagian perut.

Sekarang ini, ada beberapa imam yang punya tato di tubuh. Cirinya khas. Yesus Sang Gembala. Gambarnya, Yesus dengan tongkat dan dua anak domba.

Bruder Step punya tato gambar salib di pangkal tangan kanan. Gembala di dada kanan atas. Di punggung ada gambar naga dan burung Phoenix.

Suatu ketika, ada ada Master General dari Roma, Italia, John Chardou datang ke Kalimantan Barat pada 2003. Ia berkata, “Step satu-satunya Kapusin yang bertato di seluruh dunia.”

Ada beberapa pengalaman unik, dengan tato di tubuhnya. Pada 2003, Bruder Step dan Romo Ignatius Sandyawan Sumardi SJ, menjemput TKI yang diusir dari Malaysia di Tanjung Priok. Pelabuhan ini terkenal dengan para preman dan calonya. Karenanya, Bruder Step diminta maju sebagai garda depan oleh Romo Sandyawan.

Pengalaman lainnya, ketika naik bis, tidak ada penumpang yang berani duduk di dekatnya. Tapi di sisi lain, ia kerap diincar Buser atau tim buru sergap polisi.

Begitu juga ketika ia sedang jalani pendidikan Novisat di Parapat, Medan, selama satu tahun. Setelah itu, pendidikan filsafat di Pematang Siantar, Medan, selama lima tahun. Ia tinggal di asrama selama jalani pendidikan.

Di Sumatera, ada anggapan umum, orang bertato dianggap preman.

Suatu ketika ia menuju kota, ada keperluan. Saat hendak kembali ke asrama, ia kehabisan uang. Ia cari akal. Apa boleh buat, ia simpan dulu kalung rosarionya, dan memasukannya ke kantong celana. Lalu, ia membuka dua kancing bajunya, sehingga tatonya terlihat.

Kebetulan, bangunan asrama berada dekat dengan jalur angkutan. Sehingga begitu turun, ia bisa mengambil uang di asrama. Saat itu, angkutan menggunakan colt pick up, Mitsubishi Colt 300.

Setelah angkutan sampai di dekat asrama, Bruder Step bicara pada kernetnya, “Tunggu sebentar, saya ambil uang di asrama.”

Tapi, sang kernet malah tidak mau, dan langsung minta supir untuk tancap gas. Meninggalkan tempat itu.□

Foto-foto by Muhlis Suhaeri

Baca Selengkapnya...

Monday, December 1, 2008

Mengenalkan Realitas

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak

Si Budi kecil kurus menggigil
Menahan dingin dengan jas hujan
Di suatu sore Tugu Pancoran
Tunggu pembeli jajakan koran

Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu.....

Setiap mendengar lagu Sore Tugu Pancoran dari Iwan Fals, aku selalu teringat pada si kecil yang sedang bermain di rumah. Lagu itu bercerita tentang si Budi, anak kecil yang harus berjualan koran, untuk membiayai hidup dan sekolahnya. Budi selalu ngetem di sekitar Tugu Pancoran, Jakarta.


Sebagai orang tua yang sedang memiliki anak kecil, setiap mendengar lagu itu, selalu membuat hatiku serasa dikoyak-koyak. Kenapa harus ada anak kecil berkeliaran di jalan-jalan, untuk mencari sesuap nasi. Padahal, seumuran dia harus bersekolah dan menikmati masa kecil bersama teman-temannya. Pada dunianya.

Namun, inilah realitas. Apapun bentuk dan wujudnya, realitas memang cenderung ekstrem. Ia punya dua sisi yang seolah bisa saling memotong. Berseberangan. Tapi selalu duduk dan berdiri sejajar.

Ada kebahagiaan, tentu ada duka. Ada persahabatan, pasti ada penghianatan. Ada penghargaan, mungkin cacian.

Semua bentuk atau kata sifat itu, selalu melekat. Meski saling bersimpangan realitasnya, tapi ia selalu digunakan sebagai satu kata, untuk menemukan suku kata lainnya. Aneh memang. Begitulah realitas.

Karenanya, aku selalu ingin mengenalkan sebuah realitas pada anak-anakku kelak, sebagai sesuatu yang harus ditelaah. Dikenal. Didekati. Agar, ia tak trauma ketika mengalami suatu realitas yang membahayakan. Atau, ia tak lupa diri, ketika mendapatkan suatu kesuksesan. Aku akan selalu mengajarkannya, kembali ke Titik Nol. Kembali ke asal. Sehingga, ia tak perlu sombong dengan prestasi yang telah diraih.

Aku juga akan mengajak anak-anakku, untuk jalan-jalan ke berbagai lorong yang kotor dan menjijikkan. Agar, ia tahu sebuah realitas kekumuhan di kotanya. Atau, mengajaknya makan di Warung Tegal (Warteg) atau warung emperan. Agar, ia tahu masyarakat kecil yang berada di sekitarnya. Tapi, dia juga akan aku ajak untuk makan di restoran paling mahal sekalipun, agar ia tak minder dan rendah diri dalam bergaul. Juga, mengenalkan sebuah dunia lain.

O...O...ternyata, anak-anakku masih kecil. Ah, rasanya sudah tak sabar untuk melakukannya.□

Edisi cetak ada di Borneo Tribune 1 Desember 2008


Baca Selengkapnya...

Sunday, November 9, 2008

Koordinator Koalisi Resmi Tersangka

Tiga Wartawan Dipanggi Jadi Saksi

MAKASSAR, Harian Fajar
Koordinator Koalisi Jurnalis Tolak Kriminalisasi Pers, Upi Asmaradana resmi ditetapkan tersangka oleh pihak Polda Sulsel. Upi yang juga mantan Kontributor Metro TV itu disebut telah melakukan tindak pidana mengadu secara memfitnah dan atau memfitnah dengan tulisan.

Penetapan tersangka Upi diketahui setelah pihak Direktorat Reserse Kriminal Polda Sulsel memanggil tiga wartawan Fajar sebagai saksi dalam kasus
tersebut. Ketiga saksi dalam surat pemanggilan itu diinisialkan; Sil, Her, dan Lis.

Surat panggilan bernomor polisi: S.Pgl/666/XI/2008/Ditreskrim dilayangkan ke redaksi Fajar 7 November untuk menghadap ke penyidik AKP Anwar, SH pada Senin 10 November 2008.


Upi yang dihubungi kemarin, mengaku kaget dengan penetapannya sebagai tersangka. “Saya tidak pernah juga mendapat pemberitahuan sebagai tersangka. Memang yang lalu saya datang ke Polda sebagai saksi,” katanya.

Pengamat Pers dari Unhas, Dr Hasrullah menyayangkan penetapan Upi sebagai tersangka. Menurut Hasrullah, wartawan dan polisi adalah dua profesi yang sifatnya melayani masyarakat. "Wartawan memberi informasi yang konstruktif dan polisi memberi perlindungan kepada masyarakat," katanya saat dihubungi malam tadi.

Hasrullah juga mempertanyakan pihak Polda melakukan penetapan tersangka terhadap Upi. “Mestinya Polda memperjelas akar persoalannya, apakah terkait dengan
pernyataan Upi di media atau karena orasinya pada aksi demo,” tandasnya.

Dia mengungkapkan, jika Upi meliput atau menulis berita dan bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, polisi tidak berhak menjadikannya tersangka. Pasalnya, hal tersebut telah melanggar UU Pers No 40 tahun 1999 mengenai hak jawab. Isi UU ini dimana seseorang diberitakan nama baiknya tercemar, maka yang bersangkutan diberi hak untuk menjawab.

"Kasus Upi yang dijadikan tersangka ini sangat berbahaya. Karena itu sama saja
membatasi kebebasan berpikir dan berpendapat seseorang," tandasnya. Hal tersebut, lanjutnya, sama halnya melanggar deklarasi PBB mengenai hak asasi manusia (human rights).

Padahal, wartawan pun memiliki hak berbicara. "Jika ini dibiarkan, sama saja dengan pembunuhan karakter wartawan. Makanya jangan semena-mena membunuh pilar demokrasi," tambah Hasrullah.

Fungsi pers sebagai fungsi survilance bertugas membeberkan kesewenang-wenangan. Jika ini tidak dibiarkan, maka terjadi pembredelan pers karena wartawan tidak punya hak lagi menyampaikan informasi.

Fungsi wartawan, kata Hasrullah, ada dua. Pertama, sebagai peliput yang memiliki intelektual dan kecerdasan. Kedua, sebagai intelijen yang mencari berita lebih dalam dan menjadi spionase.

"Jika Upi dianggap mencemarkan nama baik sementara tidak ada bukti yang kuat,
dia tidak layak dianggap tersangka. Kalau ini terus dibiarkan, saya khawatir demokrasi dan fungsi pers di Makassar tidak jalan," tegas Hasrullah.

Sementara, dalam penetapan Upi sebagai tersangka, seharusnya menggunakan UU Pers dan bukan UU KUHP. "Kajian masalah ini harus menggunakan UU Pers yakni UU No 4 tahun 1990. Kecuali kalau sudah bersentuhan dengan masalah kriminal barulah menggunakan KUHP," tambahnya.

Terkait penetapan Upi selaku tersangka, Kabid Humas Polda, Kombes Hery Subiansauri mengaku belum tahu menahu. Ia malah balik menanyakan sumber informasinya. Saat dijelaskan bahwa itu berdasarkan surat pemanggilan saksi, Hery menyarankan untuk menghubungi langsung Kasat Reskrim Polda Sulselbar, Kombes Sobry. Hanya sayangnya, Sobry yang coba dikonfirmasi tak bisa tersambung. HP-nya aktif namun tidak diangkat. (m02-amr)

(berita ini dikutip dari Harian Fajar Edisi 9 November 2008).
Gambar diambil dari profile.myspace.com. Judul RED FLAG.

Lagi-lagi Kriminalisasi Pers......Lawan!


Baca Selengkapnya...

Wednesday, November 5, 2008

Berharap Perubahan dari Obama

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Change. Demikian singkat dan sederhana kalimat itu. Namun, efeknya sangat luar biasa. Kalimat itulah yang selalu menyertai kampanye yang dilakukan kandidat dari Partai Demokrat di Amerika Serikat (AS), Barack Hussein Obama (47).

Masyarakat di AS sudah jengah dengan berbagai kebijakan George Bush dari Partai Republik, yang cenderung agresor dan membahayakan perdamaian dunia. Perang di Afganistan dan Irak, jadi contoh. Perang itu menguras anggaran pertahanan AS. Ekonomi tak terbangun dengan baik. Akibatnya, muncul krisis dalam pemerintahan George Bush. Puncaknya adalah, krisis finansial atau keuangan yang melibas struktur keuangan di AS. Krisis ini juga menghantam keuangan dunia.


Karenanya, rakyat Amerika ingin perubahan. Ini merupakan syarat utama dalam tatanan sebuah sistem, bila terjadi kejenuhan dan kemandegan. Agaknya, kebutuhan itulah yang dilihat dengan baik oleh Obama. Dan, program serta kampanye yang dilakukan, sesuai dengan apa yang dibutuhkan rakyat AS.

Dalam berbagai jajak pendapat dan pemilihan pendahuluan, Obama lebih unggul dari John Mc Cain. Popularitas Obama tidak sekali jadi. Untuk menjadi kandidat dari Partai Demokrat, ia harus bersaing ketat dengan Hillary Clinton. Senator dari Illinois ini, menunjukkan konsistensi. Meski pada kampanye awal, ia sempat tertinggal. Pelan tapi pasti, akhirnya Obama bisa meraih suara dan menggungguli Hillary.

Pemilihan presiden 2008 di AS, menorehkan sejarah baru di AS. Bila Obama terpilih, ia akan menjadi presiden pertama dari kulit hitam. Begitu juga bila Mc Cain terpilih. Dia akan menjadi presiden tertua dalam sejarah AS. Umurnya 72 tahun. Dari segi partisipasi pemilih, pemilihan ini mencatat rekor tertinggi sejak 1920. Tingkat partisipasi sebesar 73,5 persen.

Di Indonesia, publik tak kalah bergairahnya. Obama pernah tinggal di Indonesia. Ayah tirinya juga dari Indonesia. Keterkaitan sejarah dan psikologi ini, tentu akan berpengaruh terhadap kebijakan luar negeri Amerika terhadap Indonesia, bila Obama terpilih kelak.

Tak hanya itu. Obama juga representasi dari sebuah proses multikulturalisme. Apalagi dengan kondisi sosial masyarakat Amerika, yang dibangun dari beragam budaya dan bangsa. Proses ini tentu bagian penting dari perjalanan sebuah bangsa.

Kini, semua mata tertuju pada pemilihan presiden AS, yang dianggap sebagai barometer dunia dalam proses demokrasi. Semua berharap, hasil yang didapat, bakal membawa proses perubahan yang lebih baik, bagi tatanan dunia.

Harapan itu, ada pada Obama.□

Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 5 November 2008
Gambar diambil dari www.creativeriview.co.uk

Baca Selengkapnya...

Tuesday, November 4, 2008

Istri Imam Samudera

Zakiyah “Prenjak” Darajad

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Entah mengapa, ingatanku tiba-tiba menyambar pada sebuah sosok. Teman yang tak pernah kutemui selama 18 tahun lamanya. Gambaran itu semakin nyata, terutama ketika menyaksikan layar televisi yang menayangkan, jelang eksekusi tiga terpidana mati Bom Bali: Amrozi, Ali Ghufron dan Abdul Aziz alias Imam Samudera.

Ya, gambaran dan sosok itu, bernama Zakiyah Darajad. Ia, istri Imam Samudera. Aku dan Zakiyah sekolah di SMAN 1, Jepara. Kami angkatan 1987. Lulus pada 1990. Sekolah kami berada di Jalan KS Tubun, Jepara. Pas di persimpangan jalan. Ini sekolah favorit.


Dua orang lulusannya, termasuk aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar Kopassus. Namanya, Rahardja Waluyo Jati dan Mugiyanto. Keduanya, kakak kelas dan adik kelas. Aku kenal keduanya di Jakarta. Sama-sama aktif di organisasi.

Aku dan Zakiyah satu kelas hingga tiga tahun lamanya. Murid tingkat pertama di SMA kami, ada delapan kelas. Kami duduk di kelas I-6. Wali kelasnya bernama, Endang. Ia mengajar biologi. Satu kelas bervariasi jumlah muridnya. Ada 40-45 murid tiap kelasnya. Kelas dua dibagi menjadi A1, ada dua kelas. Ini jurusan IPA-Fisika. A2, ada dua kelas. Ini jurusan IPA-Biologi. A3 ada tiga kelas. Ini jurusan Ekonomi. A4, ada satu kelas. Ini jurusan Bahasa.

Menginjak kelas dua, Zakiyah mengambil jurusan biologi atau A2. Kebetulan ada dua kelas, IIA2-1 dan IIA2-2. Zakiyah duduk di kelas IIA2-2. Satu kelas denganku. Guru walinya Widodo, guru biologi. Kelas tiga masih satu kelas di IIIA2-2.

Zakiyah berpostur kecil. Tingginya sekitar 150 cm. Tak gemuk dan kurus. Proporsional untuk tubuh seukuran itu. Rambutnya yang sebahu, selalu dikepang dua. Hampir tiga tahun lamanya, aku lihat tak ada perubahan dalam penampilan rambutnya. Selalu dikepang dua.

Begitu juga model seragam sekolahnya. Baju lengan pendek warna putih itu, selalu dikancingkan hingga ke leher. Bagian bawah mengenakan rok abu-abu. Dari segi penampilan, Zakiyah termasuk orang yang sederhana. Atau, mungkin konservatif. Tak seperti anak seusianya, yang selalu ingin tampil modis.

Itu terlihat dalam kesehariannya di sekolah. Di sekolah kami, mulai hari Senin hingga Kamis, murid mengenakan seragam abu-abu dan baju putih. Hari Sabtu, mengenakan seragam coklat Pramuka. Pada hari Jumat, kami tak mengenakan seragam sekolah. Siswa mengenakan pakaian bebas. Boleh pakaian apa saja. Pada hari itu, suasana sekolah marak sekali. Gaul banget pokoknya.

Pukul 07.00 Wib, semua murid dari kelas satu hingga kelas tiga berkumpul di lapangan sekolah. Kami melakukan senam pagi secara massal. Sekolah kami bentuknya U. Pas di tengah sekolah ada tanah lapang berumput. Di lapangan itulah, kami melakukan senam pagi. Pemandangan penuh warna-warni. Terlihat kontras dan menarik.

Namun, di antara warna-warni baju dan celana murid pagi itu, selalu saja ada baju putih dan rok abu-abu. Pemilik pakaian itu, tak lain adalah Zakiyah Darajad. Ia selalu mengenakan seragam, meski peraturan membolehkan berpakaian bebas.

Zakiyah mengenakan kaca mata minus. Bentuknya agak bulat. Kalau sedang bicara serius, matanya selalu menyala-nyala dan mengembang. Meski terlihat serius, kalau sudah tertawa, ia juga terlihat ekspresif. Tawanya berderai. Lepas mengalir.

Ia sosok mandiri. Ketika pertama kali mengenalnya, aku tanya:
“Kenapa sekolah di Jepara.”
“Ingin hidup mandiri.”

Ayahnya kelahiran Jepara. Namanya Saiful Fauzan. Dia bekerja dan tinggal di Serang sebagai PNS. Setelah pemekaran, tempat tinggalnya, termasuk wilayah Banten. Mereka tinggal di sebuah perumahan. Namun, aku lupa nama perumahannya. Zakiyah pernah berikan sebuah alamat pada secarik kertas padaku.

Tahun pertama sekolah, Zakiyah tak bisa bahasa Jawa. Dia selalu pakai bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari. Cara bicaranya penuh dengan semangat dan antusias. Karenanya, kami memberinya julukan Prenjak. Ini sejenis burung pipit. Bentuknya kecil. Gerakannya gesit. Selalu terbang dan berpindah tempat untuk mencari makan.

Di Jepara, Zakiyah tinggal dengan saudara dari pihak bapak di Kauman. Daerah ini dekat dengan Masjid Raya, kantor bupati dan alun-alun. Termasuk pusat kota dan pemerintahan. Jarak dari rumah ke sekolah sekitar 700 meter. Dia selalu jalan kaki bareng teman-temannya.

Semenjak kelas satu hingga kelas tiga, Zakiyah anak yang aktif berorganisasi. Ketika kelas satu, dia menjadi ketua kelas. Kelas dua, menjadi ketua OSIS. Selain itu, dia juga aktif di Pramuka. Dalam berbagai kegiatan sekolah, dia selalu aktif dan ikut partisipasi.

Meski tak dalam satu organisasi, saat itu aku lebih aktif di Palang Merah Remaja (PMR), kami selalu bertukar pendapat tentang pengalaman di organisasi masing-masing. Dia teman yang enak diajak bicara. Tapi, juga teman yang tak bisa terlalu dekat dengan pria. Rasa-rasanya, selama tiga tahun sekolah, tak pernah terdengar dia pacaran. Padahal, banyak sekali yang tertarik dan naksir dia.

Dalam bidang akademik, Zakiyah termasuk anak yang cerdas. Kelas satu dia juara kelas. Bahkan, untuk tingkat sekolah, dia masih termasuk juara. Tak heran ketika lulus sekolah, pada 1990, dia mendapatkan kesempatan kuliah tanpa tes masuk atau PMDK, pada Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) di Semarang, Jawa Tengah.

Setelah itu, aku tak mendengar cerita tentang Zakiyah Darajad. Aku sibuk mencari hidup dan menempuh pendidikan di Jakarta.

Dari seorang teman, aku mendapat kabar, dia aktif di sebuah pengajian. Setelah itu, dia pakai jilbab, dan menutupi wajahnya dengan cadar. Kabar terakhir, dia meninggalkan kampus dan semakin aktif di pengajiannya pada semester VI di Undip. Kabar terakhir lagi, dia menikah dengan seseorang. Kabar terakhir, suaminya, Imam Samudera, merupakan salah satu pelaku bom di Legian, Bali. Kabar terakhir lagi, Imam Samudera bakal dieksekusi mati.

Yang ingin aku tanyakan sekarang, bagaimana kabar terakhirmu, Zakiyah Darajad?□

Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 5 November 2008
Foto oleh Harian Suara Merdeka.

Baca Selengkapnya...

Monday, November 3, 2008

Promosi Lewat Adu Nyali

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Namanya keren. One Make Race (OMR). Bahasa sederhananya, Balapan Satu Merek. Populernya arena adu balap cepat, tak bisa dipisahkan dengan gelaran OMR yang dihelat oleh merek pabrikan ini, Suzuki.

Motor dengan logo huruf S lancip dan tegas ini, memulai debut balapan OMR dengan menggelar tiga kejuaraan di tiga kota besar, Jakarta, Bandung dan Bali pada 1991. Balapan di Jakarta berlangsung di Sirkuit Ancol. Bandung di Sirkuit Gazibu. Bali berlangsung di Sirkuit Renon. Sebelumnya, kejuaraan adu balap hanya berlangsung di Sirkuit Ancol, Jakarta.


Kegiatan OMR 1991, merupakan arena uji teknologi hasil produksi merek Suzuki. Ketika itu, Suzuki meluncurkan motor RGR. Begitu diluncurkan, motor roda dua dengan kapasitas mesin 150 cc tersebut, langsung menguasai jalanan. Menumbangkan “Raja” jalanan sebelumnya.

Tommy Ernawan, Marketing and Promotion 2W Departement, juga Racing Group Leader dalam kegiatan di Pontianak, memaparkan pengalamannya, ketika menggelar OMR 1991. Kegiatan itu tujuannya baik. Membina dan mengarahkan pembalap-pembalap muda.

Saat itu, kegiatan balap belum terkoordinir dengan baik. Banyak balap liar di jalan raya. “Nah, dari pada balap di jalanan, lebih baik dibuatkan acara balap,” kata Tommy, mantan pembalap motocross yang pernah jadi juara Asean Motocross pada 1984 di Batam.

Sukses dengan kegiatan ini, kejuaraan adu nyali dan teknologi ini, mulai merambah ke berbagai kota di Indonesia. Kegiatan adu balap ini, tentu tak bisa dipisahkan dengan kegiatan promosi, untuk mendongkrak penjualan merek pabrikan ini.

Ketika ditemui, Helmi sedang berada di Sirkuit Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak, Minggu (2/11). Pagi itu, ia mengkoordinasikan sebuah hajatan balap bertema One Make Race 2008.

Untuk tahun 2008, agenda adu cepat ini, digelar 13 balapan. Acara dibagi dalam enam region. Region pertama, Sumatera. Ada empat balapan di region ini. Kedua, Jawa. Ada lima balapan di region ini. Ketiga, Bali, NTB dan NTT. Ada satu balapan di region ini. Keempat, Sulawesi. Ada satu balapan. Kelima, Kalimantan. Ada dua balapan di region ini.

Pontianak merupakan tempat penyelenggaraan ke 11, 1-2 November 2008. Kota Medan menjadi kota pembuka kegiatan, 1-2 Maret 2008. Dan, tahun ini, lomba ditutup pada 22-23 November di Surabaya.

Dalam setiap lomba, ada 10 kategori diperlombakan. Kelas bebek 4 Tak Shogun, Smash, Satria dan Matik STD. Ada kelas pemula, Seeded, dan Open.

Meski OMR sudah berlangsung sejak 1991, penyelenggaraan di Kalbar, baru dua tahun terakhir ini. Agar acara berjalan dengan sukses, mesti ada pembangian tugas. Ada yang menangani penyelenggaraan semua acara. Juga, harus ada yang menangani banyaknya penonton dan peserta balap yang hadir.

Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 3 November 2008
Fotografer Jessica Wuysang.

Baca Selengkapnya...