Sunday, March 8, 2026

Jejak Perkampungan Pasukan Kubilai Khan di Pulau Maya (Bagian 2)


Penulis: Muhlis Suhaeri

Pulau Maya merupakan kecamatan di Kayong Utara, Kalimantan Barat. Pusat pemerintahan di Desa Tanjung Satai. Pulau Maya memiliki lima desa. Yaitu: Tanjung Satai, Satai Lestari, Kemboja, Dusun Besar dan Dusun Kecil. Pada tahun 2011, kecamatan ini dimekarkan menjadi Kecamatan Kepulauan Karimata.

Berdasarkan data BPS, luas daratan Pulau Maya sekitar 764,6o kilometer persegi. Pulau Maya memiliki garis pantai sepanjang 140,5 kilometer, dan titik tertinggi 509 meter.

Pulau Maya bisa ditempuh dengan speedboat atau perahu tradisional dari Sukadana, Kayong Utara. Pulau Maya dibagi menjadi beberapa kampung. Ada Kampung Sungai Lumpur. Batu Malang. Pasir Banjar. Sungai Sembilang, dan lainnya.

“Hanya Batu Malang dan Batu Lumpur yang ada penghuninya,” kata Hasan, warga Pulau Maya.

Dulu, Pulau Maya jadi transit dari Jawa ke China atau sebaliknya. Ada angin musim. Pulau Maya jadi persinggahan pasukan Tartar atau Mongol, untuk hukum Raja Singasari, Kertanegara. Mereka bangun perkampungan yang bisa mengarah ke Jawa atau China.

Tak hanya ke Jawa, kapal Tiongkok juga ke Palembang untuk perdagangan. Dari Tiongkok, ada komoditas keramik, besi, sutera dan lainnya. Dari Palembang, ada rempah, dan lainnya.

Jejak pasukan Kubilai Khan terlihat di Pulau Maya. Ada galangan kapal di Teluk Nuri. Teluk bagus untuk hindari badai. Ada banyak bangkai kapal zaman dulu. Di Dusun Besar banyak ditemukan kayu belian. Jenis kayu keras khas Kalimantan, bagus untuk perbaiki kapal.

Ada sumber air bersih yang bagus. Sangat ideal untuk perbekalan. Ada lahan yang bisa ditanami untuk pangan. Bisa menanam padi.

Salah satu perbekalan yang bagus untuk pelayaran adalah kelapa tua. Airnya bisa diminum. Buah kelapa bisa makan.  Arang bisa digunakan untuk api. Artinya, semua bagian bisa digunakan.

Untuk dukung kehidupan perkampungan, didatangkan orang Dayak dari Telok Melano, Sukadana. Ada bukti kehadiran orang Dayak di perkampungan. Ditemukan beliung atau kampak, manik-manik dan berbagai perlengkapan upacara adat.

“Kalau dilihat dari lokasinya, Dusun Besar dan Dusun Kecil, ada perbukitan yang cocok digunakan untuk pertanian,” kata Edi, ahli tambang dan pemerhati sejarah. Edi telah mengumpulkan banyak artefak dari Pulau Maya.

Terkait keberadaan orang Dayak di Pulau Maya, hingga saat ini, masih banyak orang Dayak dari Melano, ziarah keluarga atau leluhur di Pulau Maya. Mereka mengakui, leluhurnya yang menanam durian, dan lainnya. Durian sudah ada pada abad ke 11 dan 12.

Di Pulau Maya pernah ditemukan arca Buddha. Tradisi Buddha biasanya memakamkan orang yang meninggal dengan kremasi atau dibakar. Abunya disimpan dalam tempayan kecil selebar 30 cm hingga 40 cm.

Tempayan ditanam 50 cm di tanah. Di tempayan berisi abu pembakaran, biasanya keluarga menyertakan perhiasan dari emas.

Tak hanya emas dan gerabah, Pulau Maya jadi lokasi perbaikan kapal. “Pernah ditemukan kayu papan, tapi itu bukan kayu ulin atau kayu Kalimantan,” kata Edi.

[cTanjung Satai dari Udara Tanjung Satai di Pulau Maya dilihat dari udara dengan pemandangan laut dan dermaga di pinggir perkampungan.(Foto Warta Kayong)[/caption]

Namun, jejak kehidupan perkampungan itu menghilang begitu saja. Kenapa hilang begitu saja?

Pada zaman dulu, diperkirakan ada serangan perompak laut. Adanya emas tak hanya buat orang datang untuk cari emas. Juga mengundang bajak laut untuk datang dan mencari emas.

Ada bekas-bekas tunggul terbakar. Ada tanda kematian dan pembantaian. Lokasi yang dapat menggambarkan pembantaian itu, ada di wilayah Pasir Putih. Pernah juga ditemukan tengkorak-tengkorak manusia, seperti bekas pembantaian di Pulau Hantu.

Di Dusun Totek, banyak ditemukan tunggul-tunggul kayu bekas kebakaran. Ada bekas kayu bulat 40 cm lebarnya. ”Entah gimana nanjakkannya tuh,” kata Hasan.

Tunggul kayu itu memanjang. Seperti ciri khas rumah Tiongkok, modelnya memanjang. Rumah dibangun secara menyambung.

Hilangnya peradaban dan kampung di Pulau Maya, tentu saja bawa kisah tersendiri. Sebab, menaklukkan perkampungan yang dihuni banyak orang, tentu butuh armada dan pasukan terlatih dalam jumlah besar. Tidak hanya segerombolan bajak laut dengan satu kapal.

Bisa saja perompak itu, pasukan dari kerajaan. Sebab, kemampuan menggerakkan kapal dan pasukan dalam jumlah besar, hanya bisa dilakukan oleh satuan tempur kerajaan.

Kisah Hasan Pemburu Harta Karun

Sejak tahun 1990, Pulau Maya jadi perburuan harta karun. Ratusan orang berduyun-duyun dalam beberapa kelompok, mencari harta karun.

Mereka pasang jek, istilah untuk menyemprotkan air, agar tanah terkelupas dan terurai. Tanah tebing disiram untuk buang lumpurnya. Ketika ditemukan barangnya tidak rusak.

Warga menemukan barang terbuat dari emas. Ada piring, cangkir, sendok, liontin, cincin, jarum, dan lainnya. Ada gerabah dari keramik, manik-manik dan peralatan pertanian.

Hasan merupakan orang yang masih menekuni pekerjaan itu. Sejak tahun 2017, ia mulai menggali dan menyemprot tanah untuk mencari harta karun.

Hasan kelahiran 1972. Di Pulau Maya sudah 9 tahun. Sebelumnya merantau ke berbagai daerah. Mulai tertarik cari harta karun, awalnya dengar dari kawan, asli Pulau Maya.

Kawan itu cerita tentang Dusun Totek. Saat datang, lokasi sudah hancur.

Untuk menentukan wilayah pencarian, harus dilihat tanda-tandanya. Misalnya, pecahan keramik atau tunggul di luar ruangan. Barulah dicari pakai semprot air dengan mesin.

”Dulu, kita sering dapat emas. Kita lebur emasnya dan dijual,” kata Hasan.

Hssan tak pernah menemukan barang utuh. Semua sudah hancur. Kadang menemukan keramik pecah bertulis huruf China.

Warga tidak tahu, apakah barang itu termasuk peninggalan sejarah atau bukan. Motifnya menyambung hidup saja. Ketika menemukan barang, dapat dijual dan hasilkan uang. Sesederhana itu.

Hasan pernah dapat emas berbentuk nanas. Beratnya sekitar 6,8 gram. Barang itu sudah dijual.

Mencari harta karun tak hanya dilakukan warga asli yang tinggal di Pulau Maya. Ada ustadz dari Pontianak, Banten, Demak, dan Martapura Kalsel, datang ke Totek mencari harta karun.

Mereka tak cari barang dengan menggali. Namun, melakukan ritual dengan baca zikir atau doa. Namun, infonya tak ada yang pernah dapat barang.

Dusun Totek merupakan pusat pencarian harta karun. Totek berasal dari nama Dewa Swan Tek Kong. Tapi, nama itu sulit diucapkan. Lidah warga lokal menyebutnya dengan Totek.

Nama Totek berasal dari Dewa Kwan Tek Kong. Ia jenderal perang ternama dari Tiongkok. Sang Dewa memiliki karakter dan sifat mulia. Juga sifat kepahlawanan dan baik hati. Jadi contoh baik. Karenanya, dijadikan dewa dan disembah.

Dewa Kwan Tek Kong dipuja sejak Dinasti Song. Yang berkuasa di Tiongkok dari tahun 960 hingga 1279 Masehi. Dinasti Song berakhir setelah ditaklukkan Mongol.

Kisah pemujaan Dewa Kwan Tek Kong dilakukan berbagai kalangan. Juga jadi pemersatu budaya masyarakat Tionghoa. Kwan Tek Kong selalu digambarkan dengan kepercayaan, welas asih dan kesetiaan.

Di Totek pernah ditemukan prasasti yang diukir di batu. Tapi, pemburu harta karun telah menghancurkan prasasti. Dikira di prasasti ada emas.

Kini, Dusun Totek sudah sepi. Sekitar 2018, orang mulai meninggalkannya.

Hasan tetap berdiri dan mencari. Awal Maret 2026, ia menemukan lima jenis barang terbuat dari emas. Ada anting-anting, liontin, serta cincin. Semua sekitar 15 gram.

Hasan menemukan emas di Gunung Tugu. Berjarak sekitar 5 kilometer dari Dusun Totek. Ditemukan di dalam tanah. Di dataran paling tinggi di Pulau Maya, sekitar 509 Mpdl.

Hasan tidak sendiri. Ada Edi yang selalu jadi pasangan, ketika ada barang ditemukan. Hingga saat ini, Hasan dan Edi sudah kumpulkan 180 kilogram artefak dari Pulau Maya. Ada keramik dari zaman Dinasti Yuan atau Mongolia. Ada Dinasti Song. Ada emas dan perabot gerabah lainnya.

Kisah Hasan, bukan kisah baru dalam menjejak sejarah peradaban di negeri ini. Ketika ada barang temuan di tanah, yang bisa menjelaskan sejarah panjang negeri ini. Tak ada yang peduli.

”Kami tak pernah berhubungan dengan pemerintah untuk melestarikan barang-barang penemuan itu. Pokoknya dapat dijual. Kita perlu duit,” kata Hasan dengan polos.

Bisa dibayangkan, perjalanan suatu bangsa. Yang tak pernah memahami sejarah dan jati dirinya. Terus berjalan pada tapak yang semakin pudar. Tak lagi bisa memaknai, kisah dan peradabannya sendiri.(Muhlis Suhaeri)

Baca Selengkapnya...

Jejak Perkampungan Pasukan Kubilai Khan di Pulau Maya (Bagian 1)

Penulis: Muhlis Suhaeri

Dinasti Mongol dikenal sebagai Dinasti Yuan (1271–1368). Dinasti berkuasa di Tiongkok selama hampir satu abad. Kubilai Khan mendirikan dinasti pada 1271. Setelah hampir satu abad, Dinasti Yuan runtuh pada 1368.

Dinasti Yuan menandai satu era, wilayah Tiongkok dikuasai penguasa asing (non Han). Han adalah etnis terbesar di Tiongkok.

Pada tahun 1289, utusan kerajaan Mongol dari Tiongkok, tiba di Kerajaan Singasari. Raja Singasari, Kertanegara menyambut rombongan di istana. Meng Chi, sang ketua rombongan menyampaikan maksud Kaisar Mongol, Kubilai Khan.

Kerajaan Singasari diminta takluk. Mengakui kekuasaan Mongol. Singasari harus memberikan upeti pada Mongol. Kertanegara marah pada utusan Mongol.

Singasari juga berkoalisi dengan Kerajaan Champa atau Kamboja. Adik Kertanegara bernama Tapasi diperistri Raja Champa, Jaya Simhawarman III, sekitar tahun 1287–1307.

Menikahkan anggota atau keluarga kerajaan kepada seorang raja di wilayah lain, merupakan diplomasi dan politik untuk jalin koalisi. Tak heran bila, Raja Champa menolak bantu Mongol, saat menyerang Kertanegara pada 1292.

Berdasarkan Kitab Pararaton, Kerajaan Singasari berdiri pada 1268. Ekspedisi Pamalayu telah meluaskan wilayah Singasari, tak hanya di Jawa. Kerajaan di semenanjung Melayu dan beberapa raja Sumatera telah ditaklukkan.

Dari sisi perdagangan, ekspediri Pamalayu memperkuat posisi Singasari di Laut Natuna Utara (red: Laut China Selatan) dan Selat Malaka, dalam bidang perdagangan.

Kertanegara terlalu percaya diri. Ia tak menyadari kekuatan dan kekuasaan Mongol. Ia potong telinga dan rusak wajah Meng Chi. Kertanegara mengusir utusan dan menyuruhnya kembali ke Tiongkok.

Rombongan Tiongkok pulang. Dari pelabuhan Tuban, armada bergerak ke Pulau Gelam. Selanjutnya, Pulau Maya, Pulau Natuna, Pulau Hainan (Taipei) dan Tiongkok.

Perjalanan melalui jalur laut, harus menyesuaikan angin musim.

Indonesia miliki dua musim. Pertama, angin Muson Barat, bertiup antara Oktober hingga April. Angin Muson Barat bawa hujan dan angin kencang. Angin bertiup dari barat atau barat laut.

Angin bawa uap air atau musim hujan dengan kecepatan angin tinggi. Musim ini sering memicu gelombang tinggi, terutama di perairan Indonesia bagian barat dan utara Jawa. Pelaut dari Asia menggunakannya menuju Australia.

Kedua, angin Muson Timur, bertiup antara Juni hingga September. Angin bertiup dari timur atau tenggara. Iklim cenderung kering. Angin membawa udara kering. Gelombang tinggi sering terjadi di bagian timur Indonesia. Musim ini sering digunakan pelaut, berlayar dari Australia menuju Asia.

Saat mengetahui utusan dipotong telinga dan dirusak wajahnya, Kaisar Kubilai Khan murka. Dia mengirimkan sekitar 500 kapal perang dengan 20-30 ribu pasukan, untuk menghukum Kertanegara.

Setelah persiapan, armada berangkat ke Jawa dengan angin Muson Barat. Armada Kubilai Khan berangkat dari Quanzhou, Provinsi Fujian, Tiongkok Selatan. Perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Hainan (Taipei). Pulau Natuna jadi persinggahan berikutnya.

Jauhnya jarak, membuat pasukan Mongol harus beristirahat di Pulau Maya. Armada mengisi air, tambahan logistik, perbaikan kapal, atau menunggu angin Muson Barat berikutnya.

Jejak Mongol di Pulau Maya 
Prasasti batu Pasir Kapal dan Pasir Cina, Dusun Serutu yang mengisahkan keberadaan armada pasukan Mongol di Pulau Maya.(Balai Kajian Sejarah via Equator)

Peneliti Balai Arkeologi Banjarmasin, Imam Hindarto, seperti ditulis Equator, membenarkan jejak pasukan Mongol di Pulau Maya, khususnya di Pulau Serutu dan Pulau Karimata. Ada prasasti batu di Pasir Kapal dan Pasir Cina, Dusun Serutu.

Tulisan di prasasti berbunyi, "Armada Kubilai Khan saat singgah di gugusan Kepulauan Karimata berjumlah sekitar 500 perahu. Mereka memilih singgah di Karimata untuk mengisi air bersih dan membetulkan kapal, karena tersedia banyak pohon yang cocok untuk kapal."

Dari Pulau Maya, armada Mongol berlayar ke Pulau Gelam (di Ketapang), sebelum akhirnya mendarat di Pelabuhan Tuban. Perjalanan berlanjut melalui jalur darat ke Kerajaan Singasari (red: di Kabupaten Malang).

Namun, ketika tiba di Kerajaan Singasari, Raja Kertanegara telah wafat. Dia terbunuh oleh pemberontakan Jayakatwang dari Kerajaan Daha di Kediri.

Akhirnya, pasukan Mongol digunakan Raden Wijaya untuk bersama-sama menyerang Jayakatwang. Raja Daha terbunuh. Raden Wijaya menyerang balik pasukan Mongol. Armada Mongol balik ke China.

Tewasnya Jayakatwang dan mundurnya pasukan Mongol, memuluskan Raden Wijaya mendirikan Kerajaan Majapahit, tahun 1293. Raden Wijaya dinobatkan sebagai raja pertama dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana, 10 November 1293.

Kerajaan Majapahit berpusat di Trowulan, Jawa Timur. Majapahit menjadi kerajaan terbesar yang menyatukan Nusantara. Majapahit mencapai masa keemasan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk (1350-1389), dan didampingi Patih Gajah Mada. (Muhlis Suhaeri)

Baca Selengkapnya...