Sunday, June 10, 2007

Racing

Suatu siang yang panas. Sebuah drama sedang terjadi. Adu cepat. Adu nyali. Adu kehebatan dan setingan motor, terjadi. Sekitar 100 pembalap, mengikuti Kejuaraan Nasional Motor Prix Seri III Region IV Kalimantan, di Sirkuit Sultan Syarif Abddurrahman, Pontianak, Minggu (3/6).

Kejuaraan diikuti pembalap dari Kalimantan Barat, Tengah, Selatan dan Timur. Kalimantan Barat mengirim lima pembalap, Kalsel 18 pembalap dan Kaltim dua pembalap.



Kejuaraan memperebutkan lima kelas. MP1, MP2, MP3, MP4, MP5. MP1, kelas bebek 110 cc tune up seeded kejurnas. MP2, kelas bebek 125 cc 4 langkah tune up seeded kejurnas. MP3, kelas 110 cc 4 langkah tune up pemula A kejurnas. MP4, kelas 125cc 4 langkah tune up pemula A. MP 5, kelas bebek 110 cc 4 langkah standard pemula B kejurnas.

Dari lima kelas yang dipertandingkan, Kalsel menyabet empat kelas. Dua kelas diantaranya, atas nama, M. Roni PJP. Kalbar menyabet satu kelas, MP1, atas nama Wendra.

Kemenangan Kalsel diperoleh melalui kerja keras dan persiapan yang mereka lakukan menjelang kejuaraan berlangsung. Tak itu saja, faktor motor juga menjadi penentu kemenangan.

“Tim Kalsel memiliki kualitas motor yang baik. Soal keterampilan atau skill, sebenarnya masih bersaing,” kata Ketua Umum Autosport Racing Club, Gusti Hersan Aslirosa. Yang juga ketua DPRD Kota Pontianak.

Seperti juga di arena balapan pada umumnya, bau harum parfum para gadis pembawa payung start, makin menambah semarak pertandingan. Begitu pun dengan penonton yang dengan antusias mengikuti jalannya lomba. Tak kalah serunya adalah balapan itu sendiri. Saling kebut dan balap, mewarnai aksi para pembalap.□

Fotografer : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri


Edisi Cetak ada di Borneo Tribune, edisi 10 Juni 2007


Baca Selengkapnya...

Saturday, June 9, 2007

*Pontianak Plus: Kelompok Dampingan Sebaya

Oleh: Muhlis Suhaeri

Merebaknya virus HIV/AIDS seharusnya disikapi dengan baik. Tidak perlu ada stigma, hujatan, atau pengucilan. Mereka seharusnya dirangkul. Didekati dan diberdayakan. Toh, mereka juga bagian dari kehidupan di sekitar kita.

Terinfeksi virus HIV/AIDS, bukanlah akhir dari segalanya. Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) bisa melakukan berbagai aktivitas kehidupan. Mereka bisa bekerja, berolahraga, atau kegiatan lainnya.


Perasaan senasib melahirkan kebersamaan. Kepedulian. Semangat saling berbagi dan persaudaraan. Begitu pun dengan para ODHA di Pontianak. Ketika tubuh mulai terinfeksi virus HIV/AIDS, rasa dan perasaan senasib itu pun muncul.

Mereka mengorganisir diri. Menghimpun diri dan bergabung dalam satu wadah atau organisasi. Namanya, Pontianak Plus (PP) Support.

Kelompok dukungan ini, berawal ketika Yayasan Spiritia, Jakarta, membuat suatu pelatihan dan program penguatan di Pontianak. Spiritia bertemu dan berbagi pengalaman tentang HIV/AIDS dengan para mantan pecandu narkoba, dokter, perawat, dan orang-orang yang peduli dengan masalah HIV/AIDS.

Pontianak Plus dibentuk pada 13 Oktober 2003, di Pontianak. Awalnya, pembentukan itu dilatarbelakangi, makin banyaknya kasus HIV/AIDS di Kalimantan Barat. Terdorong rasa peduli, menangani, dan membuat jejaring dalam penanganan itulah, mereka membentuk yayasan ini. Tujuannya, ingin saling berbagi pengalaman.

“Awalnya, ada komitmen pribadi dan yang lain, untuk berbagi pengalaman dan perasaan,” kata Hermia Fardin, biasa dipanggil Mia. Ia ketua Pontianak Plus.

Pontianak Plus merupakan kelompok dukungan sebaya ODHA. Dengan Pontianak Plus, mereka punya visi untuk menghapus stigma, diskriminasi, dan menghilangkan rasa takut masyarakat terhadap ODHA.

Stigma dan diskriminasi muncul, ketika masyarakat tidak tahu, apa itu HIV/AIDS. Bagaimana cara penularannya dan pencegahannya. Ketidaktahuan itulah yang membuat masyarakat menjauhi ODHA.

Dalam kegiatannya, Pontianak Plus selalu ingin memberdayakan ODHA. Meski telah terinfeksi virus HIV/AIDS, mereka masih bisa melakukan berbagai aktivitas. Pontianak Plus punya kepedulian pada ODHA, supaya mereka lebih semangat menjalani hidup.

Munculnya sikap masyarakat yang memberikan stigma atau diskriminasi, tak bisa disalahkan sepenuhnya. Kurangnya sosialisasi tentang permasalahan HIV/AIDS, juga jadi penyebab. Oleh sebab itulah, Pontianak Plus, juga membuat berbagai program dan informasi kepada masyarakat, tentang HIV/AIDS. Bentuk kegiatan ini dilakukan dengan pembuatan berbagai booklet, poster, dan buku saku mengenai HIV/AIDS.

Di Pontianak Plus, mereka giat memberi pelatihan, peningkatan keterampilan dan pengetahuan. Peningkatan keterampilan dalam hal ini, berupa berbagai pengetahuan teknis mengenai, cara menangani ODHA, pengobatan, dan lainnya.

Tak hanya itu, Pontianak Plus memberi dukungan dan pelayanan kepada ODHA dengan cara, memberikan akses informasi dan rujukan tentang pengobatan. Hal ini penting, karena ODHA maupun keluarganya, perlu tahu bagaimana mereka menangani permasalahan itu.

Pada perkembangannya, Pontianak Plus membentuk Yayasan Lembaga Kemanusiaan Pontianak Plus. Dengan terbentuknya yayasan itu, mereka berharap dapat memperkuat program di Pontianak Plus. Karena ada program, bagaimana Pontianak Plus kedepannya, bisa menjadi payung bagi kelompok dukungan sebaya di Kalimantan Barat.

Sekarang ini, Pontianak Plus punya kelompok dukungan sebaya di Kota Pontianak, Kabupaten Pontianak, Kota Singkawang, Kabupaten Sintang, dan Kabupaten Pemangkat, Kota Singkawang.

Selain melakukan pendampingan pada ODHA, Pontianak Plus juga melakukan berbagai pendampingan kepada kelompok masyarakat yang berisiko tinggi terhadap penularan HIV/AIDS. Mereka ini adalah, pengguna narkoba jarum suntik (IDU), perempuan pekerja seks (WPS), pelanggan WPS, homoseksual, dan orang yang hidup dengan HIV/AIDS (OHIDA). OHIDA dalam hal ini adalah, keluarga serumah yang tinggal dengan orang yang terinveksi HIV/AIDS.

Menurut Mia, Pontianak Plus merupakan kelompok payung yang melayani kelompok dukungan sebaya di seluruh Kalimantan Barat. “Dengan Pontianak Plus, kita bisa melakukan berbagai penjangkauan ke berbagai daerah,” kata Mia.□


Foto dokumen Mia
Edisi Cetak, Harian Borneo Tribune, 9 Juni 2007

Baca Selengkapnya...

Thursday, June 7, 2007

Adakah Jugun Ianfu di Kalbar?

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak

Tanggal 28 Juni, warga Kalimantan Barat, mengenang peristiwa Mandor atau Hari Berkabung Daerah (HBD). Peristiwa itu meninggalkan jejak, terbunuhnya ribuan warga Kalbar dari berbagai agama, etnis, dan golongan. Ada yang menyebut, jumlah korban 21.037. Ada lagi yang menyebut sekitar 50 ribu.

Kalau serdadu Jepang, membunuh ribuan warga Kalbar semasa penjajahannya, bagaimana dengan nasib perempuan? Berapa orang menjadi korban kekerasan seksual tentara Jepang?


Ketika elit politik, pejabat atau warga berteriak dan mengangkat isu HBD, isu tentang peremouan yang dijadikan budak nafsu tentara Jepang, tidak terdengar dalam teriakan para tokoh masyarakat itu. Apakah kita menutup mata terhadap permasalahan ini? Atau, memang tidak peduli dan tidak berani mengakui, karena merasa malu, bahwa perempuan kita pernah mengalami peristiwa itu.

Dalam kamus elektronik Wikipedia Indonesia, Jugun ianfu merupakan wanita yang dipaksa untuk menjadi pemuas kebutuhan seksual tentara Jepang di Indonesia, dan di negara jajahan Jepang lainnya, pada kurun waktu tahun 1942-1945, semasa Perang Dunia II.

Menurut riset Dr. Hirofumi Hayashi, seorang profesor di Universitas Kanto Gakuin, jugun ianfu termasuk orang Jepang, Korea, Tiongkok, Malaya (Malaysia dan Singapura), Thailand, Filipina, Indonesia, Myanmar, Vietnam, India, Indo, Belanda, dan penduduk kepulauan Pasifik. Jumlah perkiraan dari jugun ianfu pada saat perang, berkisar antara 20.000 dan 30.000. Pengakuan dari beberapa jugun ianfu yang masih hidup, jumlah ini sepertinya berada di batas atas dari angka itu. Kebanyakan rumah bordilnya berada di pangkalan militer Jepang, namun dijalankan oleh penduduk setempat, bukan militer Jepang.

Menurut riset Dr. Ikuhika Hata, seorang profesor di Universitas Nihon. Orang Jepang yang menjadi jugun ianfu ini sekitar 40 persen, Korea 20 persen, Tionghoa 10 persen. Dan 30 persen sisanya dari kelompok lain.

Dalam berbagai seminar mengenai trafiking, isu jugun ianfu kurang tersentuh dalam pembahasan. Padahal, Menurut Hairiah dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) perwakilan Kalbar, jugun ianfu termasuk dalam sejarah trafiking di Indonesia.

Masalah jugun ianfu pernah dilakukan tribunal court di Belanda dengan hakim dari negara-negara lain. Hasil dari persidangan menyatakan, pemerintah Jepang bersalah dan diharuskan memohon maaf pada korban dan keluarganya.
Menurut Asmaniar, jugun ianfu merupakan peristiwa menyedihkan. Dalam artian, banyak perempuan Indonesia dijadikan pemuas nafsu tentara Jepang, namun tidak terungkap. Demikian juga di Kalbar. Ada perasaan malu mengungkapkan. “Peristiwa ini dianggap sebagai aib bagi diri dan keluarganya,” kata anggota dewan dari Komisi D DPRD Kalbar, ini.

Ini sesuatu yang tidak adil dan menyedihkan. Dalam artian, banyak dari perempuan Indonesia menjadi korban, tapi tidak tersuarakan. Orang yang sudah menjadi korban, pada akhirnya menjadi korban lagi, karena tidak terungkap. Yang harus dilakukan tentu, membuat perasaan nyaman dan aman. Mereka harus dihargai dengan rasa kemanusiaan.

Membuat rasa aman pada perempuan yang menjadi jugun ianfu perlu dilakukan. Orang yang pernah diperkosa, punya efek psikologi dan trauma. Apalagi, dijadikan budak seks. Yang konotasi orang, jelek saja.

Dalam sejarahnya, para korban jugun ianfu tidak punya posisi tawar. Mereka tak berdaya. Yang laki-laki saja dibantai, apalagi perempuannya. Pada masa perang, sudah menjadi rahasia umum, perempuan dijadikan sandera dan pampasan perang.

Yang harus dipertanyakan adalah, apakah ini baik-baik saja. Artinya, tidak ada korban jugun ianfu. Atau, malu karena menjadi korban.

Seharusnya ada suatu usaha mencari tahu, apa yang sebenarnya terjadi. Caranya, menghimpun berbagai data tentang peristiwa itu. Seperti juga, bagaimana mencari berbagai data mengenai peristiwa Mandor. Dari hasil itu, dikuatkan pemerintah daerah dengan Perda. Bahwa, ini peristiwa yang memang pernah terjadi.

Dari rentang waktu terjadinya peristiwa hingga saat ini, para korban masih ada yang hidup. Dan kalau bicara harus mulai dari mana, harus ada yang mulai. Sejarah ini harus diungkap satu persatu. “Kita tidak punya kapasitas untuk menghujat. Malah, yang harus dilakukan adalah, melindungi dan membuka masalah ini ke permukaan,” kata Asmaniar. Seperti juga membuka tragedi Mandor.

Harus dibuka satu perspektif, para korban di Jawa sudah ada yang berani menuntut dan memperjuangkan masalah ini. Pemerintah Kalbar atau kelompok yang peduli, harus mau memperjuangkan hal ini. Sehingga korban terlindungi dan tidak membawa masalah ini sendirian, ke masa tuanya.

Lalu, tahapan apa saja yang harus dilakukan, sehingga isu ini tidak hanya menjadi wacana, tapi juga satu gerakan?

Sekarang ini situasinya memang masih cair sekali. Yang paling mungkin bisa dilakukan adalah, pemerintah harus membahas hal pada tataran eksekutif dan legislatifnya. Harus ada data awal, bahwa ada pengakuan persoalan kejahatan dilakukan oleh penjajahan Jepang pada perempuan Kalbar.
Pemerintah harus memberi informasi pada masyarakat, peristiwa itu memang pernah terjadi. Selain itu, harus ada studi perpustakaan atau penelitian tentang masalah ini.

Keterlibatan berbagai pihak dan instansi sangat diperlukan dalam hal ini. “Dinas sosial, Bapora, bahkan hingga ke Sekda, sekalipun,” kata Asmaniar.

Ia berharap, masalah ini harus dibuka. Menurutnya, bangsa ini adalah bangsa pelupa. Dan ada kekhawatiran dari korban untuk melapor atau malu. Bila itu terjadi, maka sejarah bangsa ini, tidak akan pernah terungkap. Kalau tidak punya sejarah, berarti tidak punya satu pijakan untuk bertindak dan berpijak, pada masa kini.

Menurut Sudarto, salah satu peneliti sejarah di Kalbar, saat ini pemerintah Jepang sudah memperbolehkan berbagai dokumen sejarah dibuka.

Hal ini tentu bisa ditelusuri. Membuka masalah jugun ianfu, bukan berarti ingin mempermalukan mereka yang menjadi korban. Tapi, ada satu usaha untuk meluruskan sejarah. Bahwa, penjajahan Jepang, pernah melakukan kekerasan terhadap perempuan di Kalbar.

Jepang harus minta maaf atas perbuatan-perbuatannya. Kalau memang bisa diikuti dengan pemberian kompensasi pada korban, tentu akan sangat lebih baik.

Persoalannya sekarang adalah di data. Kalau memang harus dibuka, harus ada bantuan dari berbagai pihak yang mengetahui masalah ini. Masalah ini harus dibuka secara bersama. Membuka masalah jugun ianfu bukan berarti mempermalukan korban atau membuka luka lama. Tapi, untuk melindungi hak-hak orang yang terbaikan.

Perjuangan ini tentu tidak sebentar. “Pemerintah Kalbar harus punya kemauan dan itikad baik, untuk mengangkat masalah ini. Ini memang bukan proses yang mudah,” kata Asmaniar.□

Edisi Cetak ada di Borneo Tribune, 7 Juni 2007
Foto Lukas B. Wijanarko

Baca Selengkapnya...

Monday, June 4, 2007

Pelatihan Pendidik Pengobatan bagi ODHA

Oleh: Muhlis Suhaeri

Yayasan Spiritia Jakarta dan Pontianak Plus mengadakan kerja sama pelatihan, untuk pendidik kesehatan, mengenai penggunaan terapi obat antiretroviral. Kegiatan berlangsung di Hotel Kini Pontianak dari 4-9 Juni 2007. Kegiatan bertujuan meningkatkan mutu hidup ODHA, melalui akses pengobatan dan kehidupan bermutu untuk HIV dan pada informasi untuk meningkatkan tingkat keberhasilannya.

Pelatihan ini sebagai respon dari makin banyaknya orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA). Yang menggunakan terapi antiretroviral (terapi untuk menekan pembuatan HIV). Obat ini sudah disubsidi keberadaannya oleh Dinas Kesehatan.


Meski sudah banyak ODHA yang menggunakan terapi antiretroviral, namun banyak juga yang belum mengetahui dan mengerti secara jelas, semua aspek pengobatannya. Dalam hal ini termasuk kepatuhan, efek samping, kombinasi obat dan bagaimana menjangkau obat tersebut. Bahkan, ada satu laporan menyebutkan, ada ODHA yang memakai obat ini, tanpa mematuhi dan pedoman dari dokter.

Pelatihan ini juga bentuk kesadaran, bahwa jumlah dokter yang punya pengetahuan, pengalaman, ketrampilan, menangani terapi ini, sangat terbatas jumlahnya.

Hal inilah yang mendorong Yayasan Spiritia Jakarta, bekerja sama dengan Pontianak Plus, mengadakan pelatihan. Tujuan dari pelatihan, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ODHA dan komunitas yang berpengaruh pada ART. Selain itu, pelatihan bertujuan mendorong ODHA, memulai ART dengan penuh percaya diri, dan menyediakan modul pelatihan pendidikan pengobatan, yang dapat dipakai oleh peserta untuk melakukan pelatihan sejenis, pada kelompok atau lembaganya.

Peserta pelatihan berasal dari seluruh wilayah Kalbar. Mereka yang ikut pelatihan ini punya kriteria, harus memahami dan punya pengalaman penuh tentang dasar HIV, dan pengobatannya. Mereka yang tertarik dan ingin belajar tentang cara pengobatan HIV dan bersedia membagi pengetahuannya kepada kelompok atau ODHA di daerahnya, juga bisa mengikuti kegiatan ini.

Materi yang diberikan dalam pelatihan itu antara lain, pengetahuan dasar mengenai HIV dan pengobatannya, ARV dan anak, HIV dan perempuan, infeksi oportunistik, pelatihan paliatif (penanganan nyeri), HIV dan Tuberculosis (TB), HIV dan Hepatitis, dan lainnya.

Selain materi tersebut, pelatihan juga diisi dengan materi praktik dan kegiatan penunjang. Bahkan, dalam setiap sesi acara, panitia juga mengadakan berbagai permainan, supaya sesama peserta ada rasa kebersamaan.

Hermia Fardin dari Pontianak Plus, menuturkan, “Kegiatan ini merupakan satu cara untuk memfasilitasi kelompok dukungan yang ada di tiap kabupaten, yang tergabung dan menjadi kelompok dampingan ODHA.”□

Foto by Lukas B. Wijanarko, "Siluet."
Edisi Cetak, Harian Borneo Tribune, 4 Juni 2007

Baca Selengkapnya...

Sunday, June 3, 2007

Gasing

Dalam satu pameran gasing di Jakarta, seseorang bertanya pada Iwan Fals, yang hadir pada pameran itu.
“Bang Iwan, apa filosofi dari gasing itu?”
“Kenapa gasing bisa berputar lama, karena punya keseimbangan. Nah, kalau hidup kita punya keseimbangan antara jasmani dan rohani, maka hidup akan lama,” kata Iwan Fals.

Begitulah. Apa yang diungkapkan Iwan Fals tentang gasing, benar adanya. Dalam permainan gasing, terkandung berbagai nilai dan filosofi. Ada nilai kebersamaan. Gotong royong. Kekompakan. Sportifitas dan kejujuran.


Dulu, ketika orang membuat gasing, mereka harus mencari bahan pembuat gasing secara bersama. Dari sanalah muncul kebersamaan dan gotong royong. Dalam permainan gasing, orang tidak boleh menganggu gasing orang lain. Artinya, ada nilai sportifitas dalam permainan ini.

Permainan gasing tidak mengenal usia. Anak kecil hingga orang tua, memainkannya.

Permainan gasing sangat lokal. Gasing dibuat berdasar bahan yang ada di sekitar daerah itu. Orang dari Kalimantan membuat gasing dari kayu kapas atau belian. Di Kalimantan, banyak terdapat jenis kayu ini.


Orang dari Jawa, menyebut gasing dengan nama paton. Mereka membuat gasing dari kayu jambu, mahoni, petai China atau kayu asam. Jenis kayu itu, banyak terdapat di Jawa. Orang Bali, membuat gasing dari kayu jeruk. Orang pesisir di Papua dan Ambon, membuat gasing dari buah nyamplung yang dibuang isinya.

Jadi, gasing sangat fleksibel. Mengikuti ranah kehidupan manusia yang berinteraksi dengan alam di sekitarnya.

Bentuk gasing ada dua. Gasing piring dan Jantung. Gasing piring bentuknya pipih dan melebar. Semakin pipih gasing itu, semakin bagus. Gasing jantung bentuknya mengerut seperti jantung.

Dalam permainan gasing, ada tiga biasa dilombakan. Gasing adu. Gasing uri, lamanya berputar. Dan gasing bunyi. Dinilai berdasarkan keindahan bunyinya.

Nah, apakah kehidupan Anda ingin harmoni dan seimbang. Maka, lihat dan seni dan falsafah dalam permainan ini.

Fotografer : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri

Edisi Cetak ada di Borneo Tribuen, edisi 3 Juni 2007

Baca Selengkapnya...

Sunday, May 27, 2007

Harkitnas adalah…..

Oleh: Muhlis Suhaeri

Hari itu, matahari masih sepengalah. Belum terlalu siang. Namun, waktu seolah berputar dengan cepat di Gedung Olahraga (GOR) Pangsuma, Pontianak. Puluhan orang beraktivitas dan hanyut dengan kegiatan masing-masing. Ada yang main futsal, lari pagi, jalan-jalan, atau belajar mengemudi mobil.

Pada satu sudut, deretan orang duduk dan berbincang dalam satu warung. Mereka para instruktur mengemudi. Seorang lelaki muda, nampak serius mengajar muridnya mengemudi. Namanya Wawan. Sudah tiga tahunan ini, dia mencari nafkah di sana. Setiap hari, ia mengajar orang belajar mengemudi. Baginya, kehidupan adalah, sesuatu yang terus berputar. Berubah dan dinamis. Seperti, roda mobil yang selalu ia pijak, tiap hari.

Ketika, ditanya tentang makna dan semangat Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas), dengan spontan ia menjawab. “Sekarang ini, belum dikatakan reformasi. Pemimpin masih begitu-begitu saja,” kata Wawan.

Ia mencontohkan, masih banyak masalah di pembangunan. Alhasil, pembangunan kurang berkembang. Ia mencontohkan pembangunan pasar. Sedari dulu, pembangunan pasar kacau dan semrawut.


Menurutnya, Kota Pontianak masih tertinggal dalam bidang pembangunan, karena gaya pemimpinnya kurang tegas. Pemimpin bukan dari orang pemerintahan. “Harusnya dari orang politik, sehingga dalam melakukan pembangunan bisa berjalan,” kata Wawan.

Seharusnya ada kegiatan yang dilaksanakan. Selain itu, pemimpin jarang terjun langsung ke masyarakat. Hal itu dibenarkan Nunung, seorang perempuan paruh baya. Ia sudah 12 tahun berjualan di sekitar stadion Pangsuma.

Bagi Wawan dan Nunung, pembangunan jalan punya arti penting. Sekarang ini, masalah itu kurang tergarap dengan baik. Pembangunan jalan lambat. Di pusat kota, jalan semestinya dilebarkan. Faktanya, hal itu kurang terlaksana. Padahal, jalan merupakan prasarana mempermudah mobilitas penduduk. Jalan penting bagi kelancaran perdagangan, ekonomi, dan kegiatan lain, antar daerah.

Menurut data Kalimantan Barat Dalam Angka (KDA) 2006, luas Kalbar 146.807 km2 atau 7,53 persen dari luas Indonesia. Luas ini setara dengan 1,13 kali luas pulau Jawa. Sebagian besar luas tanah di Kalbar adalah hutan (42,32%), padang/semak belukar/alang-alang (34,11%), areal perkebunan 1.574.855,50 atau 10,73 persen. Dari luas itu, areal untuk pemukiman berkisar 0,83 persen.

Dari luas wilayah itu, pembangunan jalan masih sedikit. Hingga 2004, pembangunan jalan sekitar 6.147,93 km. Terdiri dari jalan negara 1.575,32 km (9,17%), jalan propinsi 1.517,93 km (16,30%), dan jalan kabupaten/kota sepanjang 4.630 km (69,11%).

Jumlah kendaraan bermotor yang tercatat pada Direktorat Lalu Lintas Polda Kalbar, secara umum mengalami kenaikan dari tahun ke tahun. Pada 2004, tercatat 476.698 dari berbagai jenis. Padahal, pada 2003, hanya sebesar 422.854 buah. Dengan demikian, terjadi peningkatan sebesar 12,73 persen.

Sepeda motor mendominasi jenis kendaraan, dengan persentase mencapai 88,61 persen. Jika dibandingkan tahun sebelumnya, jumlah sepeda motor pada 2004, mengalami peningkatan 14,04 persen. Dengan penambahan kendaraan setiap tahunnya, sementara ruas dan panjang jalan tak bertambah, berakibat pada kemacetan.

Repotnya lagi, pemerintah tidak mengantisipasi hal itu. “Pemerintah hanya memikirkan pembangunan mall saja,” kata Wawan.

Ia mencontohkan akan dibangunnya super mall di gedung olah raga (GOR) Pangsuma, Jalan A Yani, Pontianak. Pembangunan itu menggusur keberadaan gedung olah raga milik KONI. Lagi-lagi, kepentingan masyarakat, tergusur oleh kepentingan pribadi. “Ke mana orang mau berolah raga?” kata Wawan.

Masalah air bersih juga kendala utama di Kalbar. Menurut data dari KDA, laporan dari PDAM seluruh Kalimantan Barat, pada tahun 2004, produksi air bersih mencapai 28.874.446 M3. Produksi itu naik sebesar 0,0043 persen dibanding tahun sebelumnya, 28.873.196 M3. Jumlah pelanggan naik dari 112.559 tahun 2003, menjadi 114.539 pelanggan pada 2004. Atau, naik sekitar 1,76 persen, selama kurun waktu 2003-2004. Padahal, jumlah penduduk di Kalbar, sekitar 4,09 juta jiwa (angka proyeksi), pada 2005.

Toifur, guru honor SD mengemukakan pendapatnya tentang Harkitnas. “Harkitnas sama dengan hari-hari biasa. Paling-paling di sekolahan ada upacara saja,” kata Toifur. Ia menyoroti masalah statusnya sebagai tenaga kerja honorer.

Masalah tenaga kerja masih membayangi Kalbar. Berdasar data KDA, pada 2003, perusahaan industri besar dan sedang berjumlah 117, dan sanggup menyerap 34.171 tenaga kerja. Pada 2004, perusahaan berjumlah 116. Jumlah tenaga kerja yang mampu diserap pada 2004, tercatat 36.247 orang.

Biaya input yang digunakan dalam proses produksi pada 2004, sebesar Rp 3.869.636 juta. Pada 2003, sebesar Rp 3.726.662 juta. Berarti ada kenaikan sekitar 3,69 persen. Sedangkan nilai output industri besar dan sedang Kalimantan Barat pada 2004, sebesar Rp 8.413.614 juta. Tahun 2003, sebesar Rp. 5.452.529 juta. Terjadi peningkatan nilai produksi sekitar 35,19 persen. Sementara nilai tambah juga mengalami peningkatan/lonjakan cukup besar, 62,02 persen.

Masalah energi listrik bagi rumah tangga dan industri, juga menjadi sorotan. Ada satu rumus, tingkat konsumsi listrik perkapita, dapat menunjukkan sejauh mana tingkat kesejahteraan masyarakat. Produksi tenaga listrik dewasa ini terus meningkat, sejalan peningkatan permintaan dan konsumsi.

Menurut laporan PT. PLN Wilayah V pada 2005, produksi tenaga listrik yang dihasilkan PLN pada sebelas lokasi pembangkit, mengalami kenaikan sekitar 3,76 persen, dibanding tahun sebelumnya. Beban puncak juga mengalami kenaikan. Pada 2004, beban puncak 195.455 kWh. Pada 2005 menjadi 204.621 kWh.

Basir Abdul Majid, legiun veteran, ketika ditemui di rumahnya, mengemukakan pendapatnya tentang Harkitnas. “Harkitnas merupakan momen baik, untuk membangun kembali semangat dan cita-cita. Yang diinginkan para pahlawan,” kata Majid.

Menurutnya, sekarang ini, setiap orang selalu mengedepankan kepentingan pribadi dan golongan. Pejabat dan pemimpin sering melupakan keberadaan rakyat. Padahal, sejak dulu, rakyat selalu berjuang.

Permasalahan lain adalah perilaku korupsi. Yang telah mengakar dan sulit diobati. Korupsi merajalela, karena penegakan hukum sangat lemah.

Korupsi yang merajalela, tentu saja merobohkan perekonomian. Karena itulah, perlu suatu investasi bagi pertumbuhan ekonomi. Dengan penanaman modal, akan terjadi penambahan lapangan kerja. Pengaruh penanaman modal, tercermin pada perkembangan Produk Nasional Bruto (GNP) maupun struktur angkatan kerja.

Pada 2005, rencana investasi pemilik penanaman modal dalam negeri (PMDN) di Kalbar, sebesar 9,576 triliun rupiah. Namun, realisasinya baru mencapai 4,096 triliun. Dengan demikian, baru mencapai 42,77 persen dari seluruh rencana. Untuk investasi penanaman modal asing (PMA), dari 1.580 ribu US $, baru terealisasi sebesar 573 ribu US $. Atau kurang lebih sebesar 36,27 %. Dari seluruh investasi yang terealisasi, sektor ekonomi yang menyerap realisasi tertinggi adalah sub sektor perkebunan.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Konsorsium Pancur Kasih, AR Mecer, menanggapi makna Harkitnas. “Kebangkitan nasional jangan hanya slogan saja,” kata Mecer. Orang harus menunjukkan dengan tindakan sederhana. Misalnya berpikir, bahwa orang merupakan bagian dari orang lain.

“Kita adalah bagian dari orang lain. Maka, harus mencintai yang lainnya,” kata Mecer. Setiap orang harus berjuang. Begitu juga dengan pola pikir. Meski tinggal di daerah atau lokal, orang harus berpikir global atau dunia. Ia menyayangkan, ada pihak tertentu ingin menonjolkan masalah suku dan agama, dalam mencapai tujuannya.

Ia berpendapat, sekarang ini orang mulai luntur rasa dan semangat kebangsaannya. Karena itulah, semangat dan rasa nasionalisme, harus dikembangkan. Sudah saatnya, orang menunjukkan rasa nasionalisme dengan hati nurani dan tindakan. Selain itu, mesti bekerja sama dan tidak merusak orang lain.

Menurutnya, untuk menumbuhkan kebangkitan nasional sejati, tidak bisa berjalan sendiri. Nah, satu cara yang dia lakukan adalah, melalui gerakan koperasi. “Ini merupakan satu gerakan yang bagus. Kita harus memecahkan masalah kita sendiri,” kata Mecer.

Dalam mengisi kemerdekaan dan Harkitnas, “Harus ada kejujuran dalam bekerja sama dan saling membantu. Ekonomi kerakyatan merupakan sesuatu yang nyata,” kata Mecer.

Tuhan menciptakan manusia dengan keragaman. Dan dengan keragaman itulah, lebih bisa memaksimalkan keberhasilan. Syaratnya, harus bisa saling menghargai, satu dengan lainnya.

“Karena, mengembangkan orang lain, pada akhirnya juga mengembangkan diri sendiri,” kata Mecer. Itulah, cara dia memaknai Harkitnas.□

Foto by Muhlis Suhaeri, "Dan Damailah Dunia."
Edisi Cetak, Harian Borneo Tribune, 27 Mei 2007

Baca Selengkapnya...