Monday, December 11, 2023

Gadis Kretek, Kota M dan Gempuran Kapitalisme Global di Industri Rokok (bagian 4)

Oleh: Muhlis Suhaeri


Pontianak, insidepontianak –
Serial Gadis Kretek di platform streaming Netflik, memberikan gambaran, bahwa sejarah adalah produk yang terus berulang.

Tinggal, kita bisa melihat sejarah rokok kretek itu sebagai pembelajaran, atau hanya menganggapnya peristiwa perlintasan saja.  

Begitu pun dalam industri rokok kretek yang menjadi perjalanan sejarah, produk sosial dan budaya masyarakat Indonesia. Rokok kretek turut menjadi saksi sejarah dari bangsa yang terus berjalan ini.

Ketika depresi ekonomi melanda dunia tahun 1930-an, industri rokok kretek terus berjalan dan tetap bertahan. Begitu pun saat Indonesia mengalami krisis ekonomi tahun 1998. Bisnis rokok kretek dapat bertahan dari gempuran krisis, yang melumpuhkan hampir semua sendi perekonomian bangsa.

Kenapa industri rokok kretek sanggup bertahan? Sebab, semua bahan baku rokok kretek, tembakau, saus, cengkeh, kertas bungkus rokok, dan penikmatnya, semua dipasok dari dalam negeri. Konsumen terbesarnya juga orang Indonesia. Bisnis rokok kretek tetap bertahan, meski Indonesia didera krisis begitu hebat.

Ketika era pemerintah Hindia Belanda, memberikan proteksi yang baik dan menguntungkan bagi indusrei rokok kretek. Alasannya, bisnis rokok kretek merupakan penyumbang pajak, bagi pemerintah Hindia Belanda.

Ketika Indonesia merdeka, pemerintah turut memberikan kebijakan yang baik bagi industri rokok kretek. Misalnya, tahun 1970-an, pemerintah mencanangkan swasembada cengkeh, demi kurangi impor cengkeh. Tahun 1968, pemerintah mengizinkan penggunaan mesin atau mekanisasi industri, pembuatan rokok Bentoel. Selanjutnya, Djarum melakukan mekanisasi pada 1976. Gudang Garam, 1978. HM Sampoerna, 1984 (Abhisam, dkk, 2012).

Mekanisasi industri telah membuat perubahan besar pada bisnis rokok kretek, dengan lahirnya rokok kretek menggunakan filter. Kemasan rokok lebih bagus, sehingga bisa lebih bersaing dengan rokok putih. Tampilan rokok kretek berfilter, telah meningkatkan gengsi para penikmatnya.

Sebelumnya, rokok kretek identik dengan kelas menengah ke bawah. Rokok putih identik dengan kelas menengah ke atas. Adanya rokok kretek berfilter, telah membuat rokok kretek mendongkrak citra diri penikmatnya. Terutama, penjualan rokok kretek dalam bersaing dengan rokok putih dari luar negeri.

Kemajuan industri rokok kretek, kian maju dengan program transmigrasi.  Pemerintah secara ‘tidak sengaja’, turut melebarkan pasar rokok kretek dengan penyebaran warga ke luar Jawa.  

Coca Cola pernah memberikan minuman gratis pada pasukan Sekutu, di mana pun mereka berada saat Perang Dunia II. Hal itu sebagai bagian dari promosi gratis Coca Cola. Tak hanya memberikan kemasan Coca Cola dalam bentuk botol, berbagai dispenser berisi minuman khas tersebut, bebas dikonsumsi para serdadu.

Ketika Perang Dunia II usai, jalur distribusi, promosi, bahkan pabrik Coca Cola, sudah terbentuk dengan sendirinya di berbagai negara. Terutama, wilayah yang dekat atau menjadi penyangga perang.

Penghancuran Rokok Kretek


Pertengahan tahun 1999, pascakrisis ekonomi, timbul kegaduhan di dalam negeri. Pemerintah Indonesia membuat Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan. Hal terkait rokok diatur, misalnya; iklan, promosi, dan sponsorship.

Pemerintah memberlakukan larangan merokok di tempat tertentu. Penjualan rokok dibatasi. Peringatan kesehatan harus tercantum dalam produk dan kemasan rokok. Kadar kandungan tar dan nikotin turut dibatasi dengan level maksimum 20 mg (tar) dan 1,5 mg (nikotin).

Bila peraturan itu diberlakukan, perusahaan rokok kretek paling terdampak. Sebab, kandungan tar dan nikotin pada rokok kretek sangat tinggi. RPP itu diberlakukan pada Oktober 1999, dengan lahirnya Peraturan Pemerintah Nomor 81 Tahun 1999, tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan.

PP itu menandai, perang global melawan tembakau telah masuk ke Indonesia.

Perang global melawan tembakau awalnya terjadi di Amerika Serikat, antara perusahaan farmasi dan industri tembakau. Bisnis nikotin mendulang ceruk miliaran dollar Amerika. Bisnis itu diperebutkan.

Wanda Hamilton dalam ‘War Nicotine (2010)’, menulis, di balik perang tembakau, tersembunyi kepentingan besar bisnis perdagangan obat-obat Nicotine Replacement Therapy (NRP) atau penghenti kebiasaan merokok. Seperti; permen karet nikotin, koyok obat, semprot hidung, obat hirup, zyban, dan lainnya.   

“Kampanye kesehatan publik terkait bahaya tembakau, hanya kedok bagi kepentingan bisnis memasarkan produk penghenti kebiasaan merokok atau NRP,” tulis Wanda Hamilton.

Nikotin merupakan bahan dasar pembuat NRP. Tapi, dikotin tak bisa dipatenkan. Hanya bahan yang mirip nikotin saja bisa dipatenkan. Berawal dari situlah, persaingan dagang itu bermula. Perusahaan farmasi menggelontorkan dana sangat besar untuk riset, kampanye dan propaganda, menggandeng mitra, dan lainnya.

Bahkan, tiga perusahaan besar farmasi dunia, seperti; Pharmacia Upjohn, Novartis, dan Glaxowelcome, menggandeng dan mendanai Badan Kesehatan Dunia (WHO), untuk membuat WHO Tobacco Free Initiative. Salah satu tujuannya, mempromosikan WHO Frame Convention on Tobacco Control (FCTC). Selanjutnya, produk FCTC menjadi landasan hukum internasional bagi perang melawan tembakau di seluruh dunia.

Michael Bloomberg, Yahudi Amerika Serikat dan Wali Kota New York tiga periode (2001-2012), turut berperan besar dalam perang isu melawan tembakau. Tahun 2006, ia menggelontorkan dana 125 juta dollar Amerika. Tahun 2008, memberikan 250 juta dollar Amerika. Bahkan, bersama Bill Gates, Bloomberg mengumpulkan dana sebesar 500 juta dollar Amerika.

Di Indonesia, Bloomberg menggelontorkan dana ke berbagai LSM yang konsen dengan isu perlindungan anak, kesehatan, konsumen, atau korupsi. Juga masuk ke kampus, pemerintah di tingkat Pusat, Provinsi, Kota/Kabupaten untuk program anti-tembakau di Indonesia.

Tak heran bila lahir Perda Kota Bogor Nomor 12 Tahun 2009, tentang Kawasan Tanpa Rokok. Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 88 Tahun 2010, tentang Kawasan Dilarang Merokok. Perda anti-tembakau lainnya, turut dibuat di Surabaya, Tangerang, Depok, Bandung, Palembang, Pekanbaru, Padang Panjang, Makassar, dan lainnya.

Bahkan, Bloomberg juga masuk ke ormas keagamaan. Hasilnya, keluar fatwa mengharamkan rokok.   

Abhisam menulis, dibalik sikapnya yang selalu memberikan hibah untuk memerangi tembakau, Bloomberg merupakan orang yang mendukung operasi militer Israel ke Palestina. Bahkan, ketika berkunjung ke Israel, Bloomberg dengan terus terang berkata, “Bukti dukungan Amerika terhadap Israel dapat Anda saksikan lewat kedatangan kami ke Israel.”

Ekspansi dan Akuisisi

Tak hanya melalui isu perang dagang tembakau, penghancuran rokok kretek juga dilakukan dengan akuisisi atau mengambil alih perusahaan rokok kretek di Indonesia. Tahun 2004 dan 2005, Philip Morris, produsen rokok terbesar di dunia dan penghasil rokok putih Marlboro, mengakuisisi 97 persen rokok kretek HM Sampoerna dengan nilai US$ 5,2 miliar atau Rp 48,5 triliun. Nilai akuisisi itu jumlah paling besar yang dikeluarkan Philip Morris, untuk membeli perusahaan rokok di seluruh dunia.  

Saat dijual, HM Sampoerna merupakan perusahaan rokok terbesar pertama di Indonesia, yang menguasai 33 persen pangsa pasar rokok. Tahun 2004, HM Sampoerna masih membukukan laba sebesar Rp 1,99 triliun. Ketika dibeli Philip Morris, tahun 2005, HM Sampoerna membukukan keuntungan sebesar Rp 2,38 triliun.

Tahun 2008, British American Tobacco (BAT), perusahaan rokok terbesar nomor dua dunia, mengakuisisi 85 persen saham rokok kretek Bentoel dengan nilai US$ 494 juta atau Rp 5 triliun. Saat diakuisisi, Bentoel merupakan perusahaan rokok nomor empat terbesar di Indonesia. Bentoel pemegang tujuh persen pangsa pasar rokok di Indonesia.

Kini, kejayaan industri rokok kretek Indonesia, sudah ditumbangkan di negerinya sendiri. Keuntungan industri rokok yang sangat potensial, pada akhirnya terus mengalir ke negara yang menjadi pusat perusahaan dan industri rokok tersebut.

Inilah bukti, kapitalisme global selalu bisa mencari bentuk dan masuk ke berbagai lembaga dan institusi. Seperti, lembaga pendidikan, LSM, media massa, pemerintah dan lainnya, untuk memasukkan kepentingannya.

Sebelumnya, produk khas Indonesia, minyak kelapa juga sudah dihancurkan melalui perang dagang dan kampanye, melawan produk minyak bunga matahari atau minyak kedelai. Komoditas garam, gula, garam dan jamu, sudah dijungkirbalikkan.     

Ini bagian dari pengulangan sejarah. Dan, kita sudah terbiasa dengan mengunyah bagian remah-remahnya saja.*** 

Baca Selengkapnya...

Sunday, December 10, 2023

Gadis Kretek, Kota M dan Gempuran Kapitalisme Global di Industri Rokok (bagian 3)

Oleh: Muhlis Suhaeri

Pontianak, insidepontianak – Serial Gadis Kretek di platform streaming Netflik, memutar kembali ingatan orang pada industri rokok di tanah air.

Industri rokok mengalami pasang surut dan persaingan sengit. Bahkan, ada kerusuhan sosial terjadi, imbas dari persaingan usaha tersebut.

Tak hanya itu, industri rokok telah mendapat gempuran kuat dari modal besar dan trans-nasional. Ada gempuran kapitalisme global di industri rokok.

Perkembangan industri rokok kretek, tak lepas dari nama kota Kudus di Jawa Tengah. Dari sana, awal mula rokok kretek tercipta. Perusahaan rokok kretek besar, seperti Nojorono, Djambu Bol dan Djarum, lahir dan berkembang di Kudus.

Parada Harahap dalam bukunya, “Indonesia Sekarang (1952)” menulis, generasi awal pengusaha rokok di Kudus, antara lain: M. Sirin, pemilik rokok cap Teboe dan Jagung. M Atmowidjojo pemilik pabrik rokok cap Goenoeng. Ada juga H Nawawi, A Ashadi, H Rusjdi, HA Ma’roe, dan lainnya.

Bicara mengenai Kudus dan perkembangan industri rokok kretek, tak bisa dipisahkan dengan nama Nitisemito, pemilik NV Tjap Bal Tiga.

Nitisemito merupakan pengusaha Bumiputera terbesar, paling awal dan tertua yang berdiri pada zaman Hindia Belanda. Bahkan, tahun 1924, ia telah memiliki 15 ribu karyawan. 

Nitisemito pengusaha kretek visioner. Lahir 1863, Nitisemito tak sempat mengenyam bangku sekolah. Ia tuna aksara. Tak dapat membaca dan menulis. Namun, Nitisemito menerapkan berbagai macam cara menangani perusahaan secara moderen. Ada inovasi dilakukan.

Dalam pemasaran, misalnya, Nitisemito memberikan berbagai hadiah kepada pelanggannya. Pelanggan bisa menukar bungkus rokok dengan berbagai macam hadiah. Mulai dari sepeda, jam dinding, peralatan makan dan lainnya. Malahan, ada bus dengan kaca besar keliling untuk ‘jemput bola’ ke konsumen (Amen Budiman dan Onghokham, 1997).

Dalam beberapa scene dan adegan di serial Gadis Kretek, beberapa inovasi pemasaran dan promosi Raja Kretek Nitisemito, muncul di serial Netflik. Misalnya, Nitisemito menjual produk rokok pada berbagai macam acara keramaian dan pasar malam.

Ketika membuat sandiwara keliling, Nitisemito menyelipkan produk rokoknya. Ia juga mempromosikan produk kreteknya, menggunakan mobil untuk promosi dan pemasaran. Bahkan, Nitisemito menyebar pamflet dan promosi nama produksi rokoknya dengan pesawat terbang. Sesuatu yang tak pernah dilakukan di industri rokok hingga sekarang.

Industri rokok menyumbang kemajuan ekonomi di masyarakat. Alasannya, industri rokok menyerap jumlah tenaga kerja yang besar. Sebab, industri rokok mulai dari hulu hingga hilir, melibatkan banyak pekerja. Ada petani tembakau. Petani penggarap. Pengering tembakau di gudang. Yang mengeringkan tembakau selama satu hingga tiga tahun. Tembakau harus diputar secara terus, supaya tembakau kering secara sempurna.

Dalam proses produksi rokok, ada tukang rajang tembakau. Pelinting rokok yang biasanya dilakukan di rumah. Ada abon, bagian pengepul dari pelinting rokok. Ada tukang saus. Bagian pengemasan, dan lainnya. Rantai dan proses itu saling jalin menjalin.    

Persaingan di Industri Rokok

Persaingan di industri rokok sangat kuat. Mata rantai produksi rokok yang melibatkan banyak orang, bisa saja ketika ada satu proses produksi yang berkianat, dapat membuat hasil rokok menjadi tak enak rasanya.

Hal itu terjadi pada produk rokok Nitisemito. Ada kompetitor bekerja sama dengan Abon. Rokok Nitisemito menggunakan tembakau yang baik. Tapi, dalam proses pelintingan misalnya, Abon meminta pelinting rokok, menggunakan kualitas tembakau atau kertas rokok kurang baik. Rasa rokok Nitisemito menjadi rusak.    

Tak hanya diproses produksi, perkembangan industri rokok yang sedemikian maju, membuat orang Tionghoa mengikuti jejak para pengusaha lokal dalam industri rokok kretek. Persaingan itu sedemikian kuatnya, sehingga berimbas pada kerusuhan sosial di Kudus, tahun 1918. Kerusuhan di berbagai wilayah lain turut terjadi, berkaitan dengan persaingan usaha.

Kerusuhan berdampak pada rumah dan pabrik rokok kretek terbakar. Banyak korban harta dan benda. Pascakerusuhan, banyak pengusaha lokal dihadapkan pada pengadilan. Mereka dihukum. Akibatnya, banyak perusahaan lokal gulung tikar. Tak ada yang menjalankan lagi. Sebaliknya, posisi pengusaha Tionghoa semakin kuat dan maju (Amen Budiman dan Onghokam, 2017).

Tak hanya persaingan antar pengusaha lokal, bisnis rokok turut melibatkan perusahaan trans-nasional. Berdasarkan data pemerintah, impor rokok putih ke Hindia Belanda tahun 1923, mencapai 1 miliar batang. Bahkan, tahun 1925, perusahaan patungan antara Inggris dan Amerika, British America Tobacco (BAT), mendirikan pabrik di Cirebon. Selanjutnya, berdiri pabrik di Surabaya, 1928.

Uniknya, pemerintah Hindia Belanda melindungi pengusaha rokok kretek dengan berbagai peraturan yang menguntungkan. Misalnya, penerapan cukai rokok putih lebih tinggi. Penerapan pembuatan mesin untuk membuat rokok, harus dengan izin pemerintah.

Proteksi pemerintah Hindia Belanda kepada pengusaha rokok kretek, tentu bernilai ekonomis. Ketika usaha rokok kretek terus berjalan, pemerintah Hindia Belanda tetap dapat mengumpulkan pajak, dari para pengusaha rokok kretek lokal.

Kondisi itu tak membuat pengusaha rokok putih tinggal diam. Mereka menggunakan berbagai macam cara, menghancurkan pasar rokok kretek di berbagai daerah. Di Jawa Barat, pengusaha rokok putih membujuk warga di suatu pedesaan, menebang pohon kawung yang menjadi pembungkus rokok.

Tak adanya persediaan pohon kawung, diharapkan membuat perusahaan rokok gulung tikar. Tak ada bahan baku pembungkus rokok. Tapi, usaha itu tak berhasil. Pengusaha rokok kretek bekerja dengan cepat. Menanam pohon kawung lagi, menggantikan pohon kawung yang ditebang.

Bahkan, setiap ada daerah muncul pengusaha rokok kretek baru, perusahaan rokok putih membuat produk yang murah harganya. Rokok putih itu bermerek Pirate (Bajak Laut). Ketika rokok kretek itu sudah tak laku, produk rokok putih itu ditarik dari pasaran.

Praktik itu dilakukan secara berulang di berbagai daerah.*** 

Baca Selengkapnya...

Saturday, December 9, 2023

 

Gadis Kretek, Kota M dan Gempuran Kapitalisme Global di Industri Rokok (bagian 2)

Oleh: Muhlis Suhaeri


PONTIANAK, insidepontianak.com - Setelah mengarungi lautan Atlantik, dan mendarat di pulau San Salvador atau pulau Wetling, tahun 1492, Columbus menemukan perahu lesung berisi orang Indian dengan berbagai muatan daun kering di perahu. Daun kering itu, kelak disebut dengan tobacco atau tembakau (Amen Budiman dan Onghokham, 1987).

Ketika itu, orang Indian telah memiliki kebiasaan menghisap tembakau pada sebuah pipa panjang, biasa terbuat dari tulang. Mereka menikmati rokok pada ujung tulang yang sudah diberi tembakau. Pipa panjang itu disebut tubak. Dari kata tubak, kelak lahir kata tobacco dalam bahasa Inggris, dan tembakau dalam bahasa Indonesia.

Tembakau menempati peran istimewa bagi masyarakat Indian di benua Amerika Utara dan Selatan. Tembakau digunakan dalam setiap ritual keagamaan dan pengobatan. Bangsa Indian yang menempati sebelah timur pegunungan Rocky Mountain meyakini tembakau sebagai sesaji dan disukai oleh kekuatan gaib. Bahkan, bangsa Indian Alqoncuia Pusat, memiliki keyakinan bahwa tidak ada acara keagamaan bisa dimulai, tanpa kehadiran tembakau.

Di Indonesia, kebiasaan menggunakan tembakau dilakukan suku di sekitar sungai Fly di Irian Timur, berbatasan dengan Irian Jaya. Mereka memanfaatkan tembakau dengan merokok, tidak mengunyah seperti kebiasaan orang Indian. Orang Fly menggunakan pipa dari bambu untuk menikmati tembakau. Di wilayah Irian lainnya, warga menikmati tembakau dengan cara melintingnya menjadi rokok.

Sebelum mengenal rokok, orang Indonesia mengunyah sirih dan pinang. Ada kapur, gambir dan tembakau sebagai campuran. Bahan menginang hampir sama dengan campuran yang terkandung dalam kretek. Campuran tembakau untuk pinang disebut tembakau sugi. Orang Jawa menyebutnya mbako susur.

Kebiasaan makan sirih dan pinang itu, selanjutnya berubah jadi merokok dengan tembakau. Bahan pembungkus tembakau menggunakan daun jagung kering, daun pisang atau daun palem.

Kebiasaan merokok di Indonesia, diperkenalkan oleh bangsa Portugis. Selanjutnya, bangsa Belanda semakin mempopulerkan kebiasaan tersebut.

Kebiasaan merokok juga telah memasuki istana Keraton di Jawa. Utusan VOC, Dr H de Haen mendiskripsikan pengalamannya, ketika berkunjung ke Kerajaan Mataram untuk bertemu Sultan Agung.


Ia menuturkan, Sultan termashur yang memerintah antara tahun 1613-1645, merupakan perokok berat. Sultan Agung menggunakan pipa dari perak untuk merokok. Di samping Sultan, selalu ada abdi yang menyalakan rokok dengan upet atau tali api-api, ketika rokok Sultan mati.  

Ketika kebiasaan mengisap tembakau masih di lingkungan keraton, rakyat jelata hanya mengunyah pinang dan sirih. Lalu, kebiasaan merokok dinikmati rakyat jelata juga. Hal itu termaktub dalam kisah Roro Mendut dan Tumenggung Wiraguna, semasa pemerintahan Sultan Agung.

Kebiasaan mengisap rokok tersebut, selanjutnya menyebar dan bisa dinikmati rakyat biasa dengan rokok klobot. Sebatang rokok dengan tembakau, daun pandan atau daun jagung sebagai pembungkusnya.

Sama dengan penduduk Indian, rokok juga digunakan untuk ritual keagamaan atau sajen, bersama bunga mawar, cempaka, kenanga atau melati.     

Awalnya perkebunan tembakau ditemukan di Bogor, Priangan dan Cirebon. Ketika pemerintah Belanda mulai bangkrut, harus mendanai perang Diponegoro di Jawa, dan perang Padri di Minangkabau, pemerintah Hindia Belanda menerapkan tanam paksa. Terutama tanaman dengan komoditas ekonomi tinggi, seperti tembakau.

Perkebunan tembakau muncul di Kediri, Rembang, Madiun, Surabaya dan Madura. Perkebunan tembakau juga ditemukan di sekitar Klaten, daerah Kesultanan, Jember dan Besuki.

Bahkan, tahun 1830, memerintahkan Hindia Belanda menanam tembakau untuk ekspor Eropa, dengan bibit tembakau Havana dan Maryland di Jetis dan Probolinggo (saat ini Muntilan), seluas 55 bahu.

Bibit itu diberikan secara cuma-cuma kepada warga. Namun, upaya itu gagal karena letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah. Tahun 1834, penanaman bibit tembakau Manila dan Havana mulai dilakukan. Sejak 1836 dan 1845, tembakau menjadi tanaman utama ekonomis bernilai tinggi, selain tebu, kopi dan nila.

Lalu, apa yang membedakan antara rokok putih dan kretek?

Rokok putih hanya mengandung tiga jenis tembakau atau American Blend, yaitu; tembakau Virginia, Burley dan tembakau Oriental yang biasanya jenis Turkish. Sementara itu, dalam sebatang rokok kretek mengandung belasan hingga 30 tembakau dari seluruh pelosok Indonesia. Racikan cengkeh, tembakau dan saus itu menghasilkan rasa khas rokok Indonesia, rokok kretek. (Abhisam, dkk, 2012).

Nama rokok kretek berasal dari nama ketika rokok itu diisap. Ada bunyi kumretek dalam bahasa Jawa. Bunyi keretek-keretek ketika serpihan cengkeh dalam rajangan tembakau bertemu dengan api.

Rokok kretek awalnya ditemukan secara tidak sengaja. Hadji Djamhari menderita sakit dada. Setiap penyakit datang, ia mengusap dadanya dengan minyak cengkeh. Seketika penyakitnya hilang. Setelah itu, dia mengunyah cengkeh. (Amen Budiman dan Onghokham, 1997).

Djamhari menggunakan cengkeh sebagai obat. Caranya, merajang cengkeh dengan halus dan mencampurnya bareng tembakau sebagai rokok. Lalu, rokok itu dihisapnya dengan tujuan, asap campuran tembakau dan cengkeh, bisa langsung ke paru-parunya.

Penyakitnya mulai berkurang. Cara itu, selanjutnya menjadi terkenal di sekitar Kudus. Haji Djamhari membuat kretek itu dengan jumlah banyak, untuk memenuhi permintaan handai taulan dan orang di sekitar tempat tinggalnya. Peristiwa tahun 1870 hingga 1880 itu ditandai sebagai awal penemuan rokok kretek.*** 

Baca Selengkapnya...

Friday, December 8, 2023

Gadis Kretek, Kota M dan Gempuran Kapitalisme Global di Industri Rokok (bagian 1)

Oleh: Muhlis Suhaeri


PONTIANAK, insidepontianak.com - Publik penikmat sinema di Indonesia sedang dibikin kesengsem dengan serial Gadis Kretek di platform streaming Netflik. Gadis Kretek merupakan serial pertama Netflik dari Indonesia.

Serial Gadis Kretek pertama kali diperkenalkan pada Busan International Film Festival, 4-13 Oktober 2023. Selanjutnya, diputar di Netflik sejak 2 November 2023.

Film ini diadaptasi dari novel berjudul Gadis Kretek, karya Ratih Kumala. Ketika diadaptasi menjadi serial Netflik, Kamila Andini menyutradarai serial Gadis Kretek. Ada Dian Sastrowardoyo sebagai Dasiyah. Ia tokoh sentral dalam serial Gadis Kretek. Ada Ario Bayu sebagai Soeraja. Putri Marino (Arum), Arya Saloka (Lebas), dan lainnya.

Serial Gadis Kretek berlatar tahun 1960-an di Kota M, sebuah kota imajiner yang terletak di antara Yogyakarta dan Magelang. Di kota ini, geliat bisnis, sosial, dan politik, menyatu dalam balutan dialog, adegan dan plot, serial Gadis Kretek.

Dasiyah, perempuan introver dan lebih suka menyendiri. Ia tinggal dalam lingkaran bisnis keluarga. Dasiyah memiliki visi dalam industri rokok kretek. Ia memiliki mimpi, membuat kretek terbaik. Tapi, di dunia rokok kretek, perempuan hanya boleh menjadi pelinting saja.

Padahal, Dasiyah punya ide membuat ide saus baru. Hal itu menimbulkan pertentangan. Ada penolakan. Sebab, perempuan tak boleh berada di dalam ruang pembuatan saus. Ada mitos, hal itu membuat rokok menjadi tak enak. Apalagi membuat saus rokok. Jelas saja mendapat penolakan.

Saus rokok merupakan kunci bagi kenikmatan sebatang rokok. Ketrampilan mengolah berbagai ramuan rempah, menjadi ciri tersendiri. Saus rokok adalah karakter dari peracik saus.

Kemunculan saus dalam rokok kretek, mencirikan kebiasaan masyarakat Indonesia yang suka dengan memasukkan perisa apa saja ke mulut, ketika makan atau minum. Misalnya, menambahkan gula ke teh atau kopi. Menambahkan sambal atau kecap pada makanan.

Alasan pemakaian saus pada kretek ada dua. Pertama, faktor pemasaran. Setiap rokok harus punya karakter dan cita rasa berbeda. Kedua, tembakau kering sebagai bahan dasar kretek tak langsung siap saji. Alasannya? Kadar alkoholnya tinggi. Saus punya peran menetralisir rasa tembakau yang kasar, dan menjaga menstabilkan konsistensi rasanya (Abhisam DM, dkk, 2012).

Karenanya, ketika Dasiyah memiliki kesempatan memasuki ruang saus di perusahaan rokok keluarganya, ia bereksperimen dan meracik berbagai bahan dan rempah, menciptakan saus terbaru.

Saus terbaru itulah yang menguatkan indusrtri rokok keluarga Idroes Moeria (Rukman Rosadi), ayah Dasiyah. Moeria adalah rangkaian gunung di wilayah Kabupaten Kudus, Jepara dan Pati.

Namun, keberhasilan dan bisnis rokok keluarga Idroes, membuat iri pengusaha rokok lainnya, Soedjagad (Verdi Solaiman). Keduanya terlibat dalam persaingan sengit. Soejagad ingin mengalahkan Idroes dengan cara apa pun. Hal itu tak lepas dari masa lalu keduanya, ketika bersaing untuk mendapatkan Roemaisa (Sha Ine Febrianti), istri Idroes.

Bahkan, Soedjagad memasukkan Idroes dalam daftar hitam peristiwa 1965. Tentara mendatangi rumah Idroes. Ia ditangkap dalam peristiwa tsunami besar politik, sepanjang sejarah bangsa Indonesia.

Perusahaan rokok Idroes tutup. Keluarganya tercerai berai. Dasiyah sempat ditahan dalam kamp atau tahanan perempuan selama dua tahun. Meski tak disebutkan namanya, publik bisa saja menduga, kamp tahanan perempuan yang menjadi tempat bagi orang yang dianggap terlibat dalam peristiwa 1965, adalah kamp Plantungan di Kendal, Jawa Tengah.

Dalam buku berjudul “Gerwani, Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan, Amurwani Dwi Lestari, 2011, kamp Plantungan menjadi saksi bagi organisasi perempuan di bawah underbow PKI tersebut. Namun, banyak juga dalam kamp Plantungan, mereka hanya menjadi korban kecurigaan dan prasangka saja. Di kamp Plantungan, jiwa dan raga para perempuan itu dilecehkan, rusak dan dihancurkan. Oleh penjaga lelaki yang sebagian besar tentara.

Dibebaskan dari penjara, Dasiyah kembali ke rumah orang tuanya. Tak ada keluarga yang tersisa. Hanya rumah yang kotor dan berserak. Ia mencoba bangkit, menghidupkan industri rokok rumahan milik orang tuanya. Resep saus menjadi kunci. Namun, catatan saus kretek ada di buku jurnal miliknya.

Jurnal itu disimpan Soeraja yang telah menjadi menantu Soedjagad. Melalui resep saus milik Dasiyah, Soeraja membangun bisnis rokok hingga tingkat nasional. Kesuksesan yang dirah Soeraja, menyisakan derita pada keluarga Idroes, terutama Dasiyah.

Melalui plot maju-mundur, kondisi sekarang-dulu, serial Gadis Kretek membawa pemirsanya memasuki alam pikiran, sejarah dan konflik, yang dimainkan dengan apik oleh para pemainnya. Bernas dan bertenaga, namun menyayat.(Muhlis Suhaeri) 

Baca Selengkapnya...

Tuesday, November 16, 2021

Banjir Sintang, Bukti Carut Marut Pengelolaan Lingkungan, Mitigasi dan Adaptasi Bencana (Bagian III)

Oleh Muhlis Suhaeri 


Foto banjir Sintang by Captain Amardio 
Banjir Sintang dan lima wilayah lain di Kalbar, telah menimbulkan penderitaan terhadap puluhan ribu warga. Banjir merupakan bukti carut marut pengelolaan lingkungan.

Banjir Sintang dan wilayah di perhuluan Kalbar lainnya, mestinya bisa diperkecil dampaknya. Tentunya, bila pemerintah Provinsi Kalbar, memiliki mitigasi dan adaptasi bencana dalam melakukan pembangunan.

Sayangnya, Gubernur Kalbar Sutarmidji mengabaikan peringatan yang sudah dilakukan BMKG, dua bulan sebelum bencana terjadi. Hall itu merupakan bukti carut marut pengelolaan lingkungan.

Manajemen Bencana

Melihat masalah banjir di perhuluan Kalbar, seperti terjadi di Sintang, Melawi, Sekadau, Sanggau bisa dimulai dengan pertanyaan sederhana. Banjir itu bencana atau takdir? Kalau banjir disebut bencana, maka mesti ada mitigasi, perencanaan atau risk manajemen.

“Bila tidak diikuti dengan perencanaan, maka tidak ada penganggaran. Tidak ada tool ke perencanaan pembangunan. Yang bisa masuk dalam pembangunan adalah manajement risk,” kata Haryono dari Natural Kapital.

Ia menegaskan, untuk menangani masalah banjir, harus ada pembangunan berdasarkan keanekaragaman hayati (Kehati). Dan itu sudah ada pengumuman. Tapi, ini tidak dilakukan pengumuman mitigasi. Banjir belum ada early warning. Sistem ini tidak jalan.

“Harusnya Pemkab Sintang merespons info BMKG yang ada di Bandara Tebelian Sintang dua bulan sebelumnya. Kuncinya pada pejabat yang punya diskresi,” kata Yono.

Ada yang tidak terhubung dalam jalur penanganan banjir di tingkat antar institusi. Misalnya, BNPB bentuk mandat yang diberikan. Cuma, kerja BNPB tidak terkoneksi. Selain itu, BNPB tidak dalam rangka mitigasi. Mandat pencegahan bukan di BNPB, tapi ada di KLHK. BNPB tidak terkoneksi ke KLHK.

“Kalau disalahkan, sistem otonomi daerah. Sistemnya tidak menyambung,” kata Yono.

Misalnya, relasi dengan daerah hulu, perubahan penggunaan lahan seberapa parah? Daya dukung lingkungan Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial (BPEE) kritikal yang harus ditanggapi.

 "Sejauhmana yang punya kebijakan melaksanakan kapasitasnya,” kata Anas Nasrullah, pemerhati lingkungan, menambahi, “harus ada mitigas, adaptasi dan penanggulangan.“

Kepala daerah sering abai dengan informasi yang diberikan. Setelah terjadi bencana, pejabat baru bergerak. Sementara, mentalitas aparatur tidak bisa melaksanakan tugas itu.

Pada tahap penanganan, soal koordinasi tidak bisa bergerak. Apalagi di level hulu. Setiap bencana selalu kerepotan, karena tidak ada perencanaan.

Lantas, adakah skenario penanggulangan secara holistik? Atau, dari sisi kultural?

Mestinya, harus ada upaya untuk kembali ke budaya sungai. Contoh, saat orang buat rumah. Mereka tidak menghadap ke sungai. Malah dapurnya di sungai. Padahal, dulu, budaya sungai sudah menjadi tradisi. Misalnya, ada jembatan melengkung di atas sungai. Ada rumah panggung.

Penanganan Banjir

Penanganan banjir mesti dilakukan secara terintegrasi. Apalagi terkait dengan tata ruang. Satu daerah dengan lainnya, semestinya harus terhubung. Misalnya, Pinoh awalnya adalah buffer atau zona pengaman Kota Sintang.

Tapi, Pinoh alami banjir dan longsor. Hal itu terjadi, karena setiap wilayah diberi kuasa, mengelola wilayahnya sendiri. Sehingga penerbitan izin perkebunan, tambang dan lainnya, tidak memikirkan kondisi daerah lain.

“Harus ada kebijakan bersama untuk bicarakan mengenai banjir. Masing-masing Pemkab harus saling bicara, karena lintas kabupaten leadership Gubernur diperlukan” kata Anas.

Harus terpola dan saling terkoneksi, kerja bareng atasi banjir. Tidak berbasis keuangan saja. Tapi ada diskresi. Adakah skenario penanggulangan bersama. Dari pemkab dengan provinsi. Karena itu, lintas kabupaten, tidak lagi berbasis keluhan masalah, tidak punya otoritas, tidak mengoptimalkan birokarasi, dan lainnya.

“Yang namanya bencana, harusnya birokrasi putus di tingkat musyawarah para pihak,” kata Anas.

Dicontohkan Anas, harus ada seperti tata kelola SAR Mission Coordinator (SMC). Ada kerelaaan orang untuk dipimpin.

Menangani bencana dengan skenario birokrasi, pembatas masalah itu yang membuat penanganan tak bisa berjalan. Harus ada mekanisme yang disepakati. Kalau ada inisiasi yang terdampak adalah logistik, maka harus ada cara untuk mengamankan logistik. Mendistribusikan logistik.

Semua terkesan tidak siap, belum terlihat ada mekanisme yang dibuat untuk menangani banjir. Seperti, mekanisme untuk penanganan gempa. Misalnya, ada jalur-jalur evakuasi yang dibuat, bila terjadi gempa.

Padahal, mekanisme tidak butuh payung hukum. Cukup menggunakan strategi. Masing-masing sektor harusnya membuat mekanisme bersama.

“Voluntery based yang muncul. Maka bergerak tanpa dana. Bisa dilakukan, tapi tentu tidak semua,” ujar Anas.

Kalau bencana banjir ini dihubungkan dengan sawit, maka pertanyaanya, seberapa besar sedimentasi yang disumbang oleh sawit? Sehingga mengurangi volume sungai, karena sedimentasi. Tak semua ilok dan HGU ditanami. Paling kurang dari setengah saja, karena ada hak yang lain.

Bandingkan dengan individu petani yang menggunakan lahan. Data statistik di Sintang, 40 persen dikelola oleh small holder (sawit, karet dan lainnya), perusahaan 8-9 persen. Walaupun 9 persen, karena pola yang satu bentang lahan dan massif dalam pembukaan lahan, tentu ini harus menjadi titik kesadaran perusahaan, melakukan aksi penanggulangan dampak.

“Ekonomi penyokong Sintang (21 persen) adalah land base. Bisa sawit, karet dan lainnya,” kata Anas.

Trade off adalah salah satu alat dan perhitungan yang bisa menjelaskan alih fungsi lahan. Termasuk keberlanjutannya bagaimana.

Banjir bukanlah sesuatu yang terjadi begitu saja. Banjir ada penyebab. Masalah itu yang mesti ditangani. Satu diantaranya, setiap kepala daerah, harus punya perspektif lingkungan, saat mencanangkan pembangunan. Nyatanya, perspektif peduli lingkungan kurang dimiliki para kepala daerah. Buktinya?

Lihat saja visi-misi para kepala daerah, ketika mereka mencalonkan diri. Masalah terkait lingkungan, banjir, Karhutla dan lainnya, jarang disebut saat pemaparan visi-misi.(Muhlis Suhaeri)








Baca Selengkapnya...

Monday, November 15, 2021

Banjir Sintang, Bukti Carut Marut Pengelolaan Lingkungan, Mitigasi dan Adaptasi Bencana (Bagian II)

Oleh: Muhlis Suhaeri 

Banjir Sintang memberi pukulan telak, betapa pemerintah tidak memiliki konsep pembangunan berwawasan lingkungan. Tak ada mitigasi dan adaptasi bencana.

Ada bukti carut marut pengelolaan lingkungan, terlihat pada peristiwa itu. Banjir Sintang dan sebagian besar wilayah di perhuluan Kalbar.

Banjir Sintang menegaskan, tidak ada upaya mitigasi dan adaptasi bencana dalam pemerintahan Gubernur Kalbar Sutarmidji. Sebab, dua bulan sebelum bencana, BMKG telah memberikan peringatan terhadap hal itu. Tapi pemprov Kalbar terlihat abai.

Dampak Alih Fungsi Lahan

Dampak ikutan adanya perkebunan kelapas sawit yang dirasakan masyarakat secara langsung adalah, sistem ketahanan pangan masyarakat mengalami perubahan ke arah makin rentan, kehilangan sumber air, rusaknya sumber daya air, semakin seringnya bencana banjir dan kebakaran, serta kesehatan masyarakat menjadi rentan.

Pada 1969-1978, mata pencaharian masyarakat sepenuhnya diperoleh dari kawasan hutan, sungai dan rawa. Pada tahun 1980, masyarakat mulai membudidayakan tanaman karet. Pada 1984, warga mulai bercocok tanam padi.

Perubahan dimulai sejak 2006, banyak masyarakat menanam kelapa sawit, ketika perusahaan perkebunan kelapa sawit masuk. Sejak 2006, sistem pangan dan livelihood masyarakat berganti drastis.

Pola pertanian tradisional telah berganti menjadi pengelolaan perkebunan kelapa sawit. Masyarakat jadi buruh perkebunan. Secara keseluruhan, masyarakat sejak 2007-2015, sering menghadapi situasi dampak perubahan.

Hal tersebut mulai terasa dengan suhu yang semakin meningkat dan semakin kering. Musim kemarau yang semakin panjang (mulai Mei hingga Oktober), berdampak pada menyusutnya air sungai, sulit dapat air bersih, gagal panen, transportasi sungai jadi sulit, dan harga kebutuhan pokok meningkat.

Data perubahan di atas dapat diekstrak dari data BPS, sebagai contoh komposisi penggunaan lahan oleh perusahaan sawit sebesar 8-9.9 persen, sedangkan penggunaan lahan oleh masyarakat untuk berbagai penggunakan berbasis lahan sebesar 40-48 persen.

Banjir Menghadang

Banjir Sintang by Captain Amardio
Sejarah alih fungsi lahan dan eksploitasi hutan, berimbas pada daya dukung kawasan dan merusak sistem hidrologi. Pembukaan lahan juga berimbas pada sedimentasi dan pendangkalan di sepanjang daerah aliran sungai (DAS).

Kondisi itu membuat air yang semula tertampung dalam penampang aliran sungai meluber, akibat tak mampu lagi menampung air. Akibatnya, air meluap dan terjadi banjir. Di Kapuas Hulu, 80 persen wilayah merupakan hutan.

Selain itu, terdapat Danau Sentarum seluas 32.000 hektar. Kawasan danau menjadi penampung dan penyeimbang air. Fungsi danau layaknya bejana timbangan. Bila air Sungai Kapuas meluap, maka Danau Sentarum menampung air tersebut, sehingga potensi banjir secara alami bisa teratasi.

Demikian juga sebaliknya. Bila Danau Sentarum sudah terlalu penuh air, Sungai Kapuas mengalirkan air dari Danau Sentarum, sehingga kawasan sekitar danau tidak kebanjiran. Danau Sentarum menjadi buffer zone.

“Di Kapuas Hulu, ada Danau Sentarum yang berfungsi menyerap air. Kalau air sudah tak terserap, mengalir ke hilir. Dan, Sintang pasti banjir,” kata kata Anas Nasrullah, pemerhati lingkungan, sehari-hari tinggal di Sintang kepada Insidepontianak.com di Pontianak, Jum’at (12/11/2021).

Wilayah Kabupaten Melawi sebagian besar juga hutan. Sungai Melawi, Sungai Pinoh, Mentatai dan sungai besar lainnya mengalirkan air menuju Nanga Pinoh kemudian Kabupaten Sintang. Aliran airnya, bertemu dengan Sungai Kapuas di Kota Sintang.

Pertemuan dari beberapa sungai itu, membuat Kota Sintang, rentan terjadinya banjir. Apalagi alih fungsi lahan di sebagian besar Kabupaten Sintang, telah mengambil sebagian besar wilayah yang menjadi resapan air dan hutan rawa.

”Hanya wilayah Banning saja yang tersisa sebagai wilayah hijau. Semua sudah ditanami sawit. Apalagi di wilayah sekitar Kelam,” kata Sesep, aktivis lingkungan di Kalbar.

Tak hanya alih fungsi lahan menjadi sawit atau warisan HPH, penyebab banjir, salah satunya karena sedimentasi di pertemuan-pertemuan anak sungai dan sungai besar. Contoh di Nangah Pinoh dan di Sintang. Sedimentasi terjadi karena adanya aktivitas memindahkan material dari satu titik ke titik lain atau dari darat ke badan sungai dari praktek penambangan sepanjang aliran sungai.

“Penambangan sepanjang sungai, memindahkan material dari titik satu ke titik lain, mengubah aliran sungai, mengubah arus sungai sehingga dibeberapa titik sempadan sungai longsor tergerus air yang senantiasa berubah, hingga ada yang terbawa arus ke hilir dan bertemu di muara sungai,” kata Anas, menimpali.

Tak heran bila, pertemuan dua sungai tersebut, tumpukan pasir semakin banyak. Dapat dilihat ketika musim kemarau.

“Sungai tak bisa menampung volume air, akibat sedimentasi,” kata Anas.

Banjir tahun ini, juga menyisakan satu peristiwa langka. Tak pernah terjadi sebelumnya. Yaitu, banjir yang terjadi pada 23-25 Oktober 2021, di Desa Kayu Bunga, Kecamatan Belimbing Hulu, Kabupaten Melawi. Desa itu merupakan area perbukitan.

Banjir dan longsor menyebabkan sebagian besar rumah warga terdampak. Hanya bangunan gereja dan kantor desa, tak terdampak banjir karena letaknya tinggi. Setelah wilayah Melawi banjir, air segera mengalir ke Kota Sintang dan sekitarnya.

Akibat Degradasi Hutan

Peningkatan curah hujan akan meningkatkan kejadian banjir dan tanah longsor, diperparah tingginya laju deforestasi dan degradasi hutan. Kejadian ini sering ditemukan antara bulan November - Maret setiap tahunnya.

Menurut laporan ADB tahun 2015, peringkat kerentanan untuk sebagian besar Kalimantan Barat adalah Sedang (laporan penilaian Kerentanan Perubahan Iklim BIMP-EAGA, ADB pada April 2015).

Berdasarkan Perpres Nomor 61 Tahun 2011, tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas (RAN-GRK) telah menetapkan Provinsi Kalimantan Barat, sebagai salah satu provinsi yang rawan/medium (mempertimbangkan Indeks Pajanan dan Sensitivitas-IKS dan Indeks Kemampuan Adaptasi- IKA).

Status kerentanan ini diperkuat oleh Sistem Informasi Data Indeks Kerentanan (SIDIK) yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Perubahan Iklim - KLHK (2015), menyebutkan 1.967 desa di Kalimantan Barat (94,7 persen), rentan terhadap perubahan iklim. Lebih dari 264 desa, memiliki tingkat kerentanan sangat tinggi, termasuk desa di Melawi, Sintang dan Ketapang.

Warga Terjebak Banjir

Hampir sebulan ini, Kota Sintang masih tergenang banjir. Banjir pertama menggenangi Kota Sintang, 18 Oktober 2021. Banjir awalnya terjadi di sekitar wilayah pinggiran sungai. Seperti, Sungai Yana, Banning Kota, Mengkurai, Mesuka, Sungai Durian, Sungai Melawi, Kelurahan Ladang, Kelurahan Nalai, Keraton, Menyumbung Tengah, Pulak Jaya, dan lainnya. 

Tanggal 28 Oktober, air mulai surut. Tapi, tidak sampai kering. Pada 29 Oktober, pukul 2 dini hari, air mulai naik. Kondisi itu berlangsung hingga empat jam. Hingga 1 November 2021, kondisi air semakin menggenangi wilayah Kota Sintang. Mulai 5 November, pekarangan rumahnya di Jalan Raya Sintang menuju Kapuas Hulu, mulai tergenang air.

“Seumur hidup di Sintang, baru lihat belakang rumah tergenang air,” kata Agung.

Agung menenggarai, meski tahun 1963, pernah terjadi banjir besar, tapi tahun 2021, merupakan banjir tertinggi di Sintang.

Kalau melihat dari proses banjir, agak membingungkan. Kenapa? Karena debit air di hulu (red, Kapuas Hulu) sudah surut. Cuma, Kota Sintang terdapat muara sungai besar. Yaitu, Sungai Kapuas dan Melawi.

Saka Tiga, depan rumah Dinas Bupati Sintang, menjadi pertemuan dua sungai tersebut. Di Kapuas Hulu tidak banjir. Di Melawi banjir, tapi tidak tinggi. Banjir terbesar di Sintang.

Kalau dilihat dari masyarakat terdampak banjir, mereka yang terkena banjir langsung atau tidak kena banjir, tetap terdampak. Sebab, akses jalan utama, seperti Jalan Melawi dan PKP Mujahidin terputus. 

Jalan PKP Mujahidin untuk wilayah perkantoran juga terendam. Di jalan ini ada kantor Bupati Sintang. Kantor DPRD Sintang, dan lainnya. Sementara Jalan Lintas Melawi, adalah jalur bisnis di Kabupaten Sintang.

Selama banjir, ada kunjungan dari Wakil Gubernur Kalbar, Ria Norsan, Kamis (28/10/2021). Ia membawa 17 ton beras. Gubernur Kalbar, Sutarmidji, turut melihat banjir, Selasa (2/11/2021). Ia bawa 80 ton beras. Informasinya sudah disebarkan.

Ada kunjungan dari Menteri Sosial, Risma, Rabu (3/11/2021). Mensos menyerahkan bantuan Rp 653 juta untuk penanganan banjir. Kepala BNPB, Ganip Warsito mengunjungi Sintang, Selasa (9/11/2021). 

Ganip menyerahkan bantuan Dana Siap Pakai (DSP) senilai Rp 1,5 miliar, guna percepatan penanganan banjir yang melanda empat kabupaten di Kalbar. Sebanyak Rp 500 juta, mendukung penanganan banjir di Kabupaten Sintang. Rp 500 juta diberikan kepada Kabupaten Melawi. Rp 250 juta untuk Kabupaten Sekadau. Rp 250 juta untuk Kabupaten Sanggau.

Di Kota Sintang, warga kurang merasakan kunjungan itu. Ganip tak melihat banjir yang sesungguhnya. Ia hanya naik tronton, dan melihat banjir di sekitar Jalan Lintas Melawi. Padahal, dampak terbesar banjir, ada di Kelurahan Ladang, Kelurahan Alay, Keraton Menyumbung Tengah, dan Tulak Jaya. Daerah itu paling parah banjirnya.

Di Kecamatan Tempunak, dampak banjir lebih terasa. Tempunak lebih rendah dari Kota Sintang.

“Makanya, syok sekali banjir di pusat kota, sampai setinggi itu,” kata Sri Galuh, mahasiswi S2 Untan.

Kegiatan di kampung lumpuh. Tanaman karet terendam. Banjir sekitar 4 meteran. Ada yang lebih. Galuh pertama kali merasakan banjir besar seperti sekarang ini. Ada tiga pos pengungsian di desanya.

Warga membuat panggung dari kayu dan papan. Harta benda diletakkan di panggung tersebut. Sedangkan orang rumah mengungsi ke pos pengungsian.

“Untuk bantuan, alhamdulillah sudah. Tapi, rata-rata dari para donatur mandiri. Dari pemerintah belum ada. Tapi, dari instansi seperti TNI/Polri, sudah ada,” kata Galuh.

Banjir membuat listrik mati total. Jaringan komunikasi pun tersendat. Untuk mendapatkan sinyal, warga harus menumpang ke Puskesmas.

Bencana banjir membuat sebagian warga yang terdampak mulai putus asa. Bagaimana tidak? Harta benda sudah habis terendam. Semangat pun perlahan berkurang. Sementara genangan banjir terus naik.

"Semangat dah habes. Sisa bersyukur diberi sehat saja kami di sini (Sintang),” ucap Wati, warga Kelurahan Alay, Kecamatan Sintang.

Perempuan 34 tahun itu, sudah hampir sebulan merasakan banjir. Terparah sejak dua pekan terakhir. Rumahnya tenggelam habis.

Akibatnya, dia sekeluarga terpaksa mengungsi ke tempat yang telah disediakan pemerintah. Hari-hari makan nasi boks. Bantuan dari berbagai lembaga yang terus berdatangan.

Banjir itu membuatnya betul-betul lelah. Sebab tak ada tanda, banjir segera surut. Doa hanya bisa dipanjatkan. Agar bencana ini berlalu segera.

“Sudah sebulan kami di sini merasakan banjir. Saya dan keluarga sekarang mengungsi,” ujarnya.

Kini, Kota Sintang berubah seperti lautan. Air menggenang di sepanjang jalan, hampir sebulan lamanya. Kendaraan darat, seperti sepeda motor dan mobil, tak terlihat lagi melintas di jalan protokol kota.

Di Kabupaten Melawi, banjir juga terjadi. Restu Purnadi, warga di Kecamatan Tanah Pinoh, biasa disebut Kotabaru, menceritakan bencana banjir yang dialami.

“Kalau untuk di Kotabaru sendiri, jarang banjir berlangsung lama. Paling lama tiga hari. Itu pun airnya tak terlalu besar,” kata Restu, mahasiswa S2 Untan.

Biasanya, banjir terjadi karena hujan di hulu sungai. Pada hari pertama, banjir bisa setinggi satu hingga satu setengah meter. Kondisi itu untuk rumah di daerah dekat sungai. Warga bergotong royong menyelamatkan harta benda.

“Di kampung-kampung, pasti rasa solidaritasnya masih tinggi,” kata Restu.

Banjir seperti ini, jarang sekali bantuan dari pemerintah. Kalau banjir besar susah mau dilewati dari rute sungai bagi pemerintah. Terakhir, banjir besar pada tahun 2018, membuat tiga jembatan gantung terputus karena banjir.

“Akses jalan warga berubah menjadi sampan kecil. Sampan itulah yang digunakan warga untuk beraktivitas, urus segala keperluan,” kata Restu.

Di Kabupaten Kapuas Hulu, Berdasarkan data sementara BPBD Kapuas Hulu, ada 8.714 jiwa (2.603 KK) terdampak bencana banjir. Kepala Pelaksana BPBD Kapuas Hulu, Gunawan menyatakan, warga terdampak banjir berada di tujuh kecamatan. Yaitu, Silat Hilir, Suhaid, Selimbau, Jongkong, Batang Lupar, Badau, dan Semitau.

“Sedangkan desa yang terdampak banjir, sebanyak 41 desa. Ketinggian debet air kurang lebih satu sampai tiga meter setiap desa,” ujarnya, Kamis (11/11/21).

Ada 42 fasilitas umum terdampak banjir di Kabupaten Kapuas Hulu.

“Sekali lagi, ini adalah data sementara. Bisa bertambah karena kondisi banjir kita di Kapuas Hulu masih berlangsung, ditambah lagi curah hujan yang cukup tinggi, beberapa hari terakhir ini,” ucapnya.

Berdasarkan prakiraan BMKG, kerentanan banjir masih akan terjadi hingga Februari 2022. Curah hujan masih akan tinggi, siiring perubahan iklim La Nina. Berdasarkan laman id.wikipedia.org, La Nina merupakan fenomena alam, yang dikendalikan oleh perbedaan suhu muka air laut.

Selama fenomena La Nina berlangsung, suhu permukaan laut di sepanjang timur dan tengah Samudera Pasifik yang dekat atau berada di garis khatulistiwa mengalami penurunan sebanyak 3 derajat hingga 5 derajat celsius dari suhu normal. Kemunculan fenomena La Nina ini, biasanya berlangsung paling tidak lima bulan

Karena itu, ancaman banjir masih panjang. Pemerintah harus membuat skema mitigasi yang tepat. Terutama skema penyaluran bantuan logistik untuk warga terdampak. Agar ketersediaan kebutuhan sembako tidak tersendat. Penanganan dampak banjir mesti dilakukan bersama.(Muhlis Suhaeri)

Baca Selengkapnya...