Ini alasan, mengapa tulisan mereka menang Mochtar Lubis Award.Kategori Public Service
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad). Hancurnya Infrastruktur di Sulawesi Barat oleh Sidik Pramono dari Harian Kompas, Jakarta, 10 Mei 2008. Krisis Air Bersih Ancam Bandung oleh Zaky Yamani dari Harian Pikiran Rakyat, Bandung, 17 Maret 2008. Mencari Angka dalam Jerami oleh Daspriani Y. Zamzami dari Majalah Aceh Kini, Januari 2008. Politik Pendidikan Penebus Dosa oleh Asrori S. Karni dari Majalah Gatra, Jakarta, 23 Januari 2008. Save Our Airport oleh Gatot Rahardjo dari Majalah Angkasa, Jakarta, Maret 2008.
Pemenang
Politik Pendidikan Penebus Dosa oleh Asrori S. Karni dari Majalah Gatra, Jakarta, 23 Januari 2008.
Alasan Pemilihan Pemenang
Untuk kategori Pelayanan Publik, Dewan Juri menerima total 36 naskah. Sebagian besar peserta berasal dari Jakarta dan mengangkat persoalan Jakarta. Sejumlah daerah di luar Jakarta juga ikut ditampilkan, yaitu Aceh, Sumatera Barat, Batam, Lampung, Bandung, Banten, Surabaya, Bali, dan Sulawesi Barat. Jumlah peserta non-Jakarta ini tentu masih sangat terbatas dibandingkan dengan luasnya daerah di Indonesia serta kayanya ragam persoalan dari daerah-daerah yang belum terwakili itu, yang mungkin jauh lebih pelik dibandingkan apa yang tersaji pada naskah-naskah yang masuk tahun ini.
Dari total 36 naskah ini, kurang dari setengahnya – yaitu hanya 16 naskah -- yang benar-benar bisa dimasukkan ke dalam kelompok dengan tema Pelayanan Publik.. Sisanya menyajikan tema yang sama sekali tidak terkait dengan aspek Pelayanan Publik.
Beberapa dari naskah peserta ini sebetulnya memiliki potensi untuk dikembangkan lebih jauh agar aspek Pelayanan Publiknya dapat lebih muncul. Beberapa karya hanya berupa snapshots atau potret sekilas, sebagian lainnya berupa laporan bernuansa kemanusiaan (human interest).
Adapun naskah yang benar-benar masuk dalam kelompok Pelayanan Publik (dengan jumlah 16 naskah tadi), sebagian besar masih memiliki sejumlah kekurangan untuk disebut sebagai laporan jurnalistik yang kuat. Beberapa kekurangan tersebut adalah: lemahnya data yang diperoleh dari observasi langsung di lapangan, terlalu menyandarkan diri pada data yang diperoleh dari narasumber resmi namun tidak menunjukkan kegigihan untuk menggugat data-data resmi ini lebih jauh, penempatan data yang terkesan asal jadi sehingga melelahkan pembaca, struktur yang kurang kokoh (banyak bagian yang sebenarnya bisa dihilangkan atau tak terlalu relevan), kurangnya aspek edukasi dan advokasi, serta penggunaan bahasa yang tampaknya masih bisa disempurnakan lebih jauh. Dengan kata lain: tidak ada karya dari kategori Pelayanan Publik ini yang betul-betul tampil menonjol.
Dewan Juri menilai lima aspek, yaitu kandungan informasi (termasuk akurasi, kekayaan data, tingkat kesulitan mendapatkan data, unsur advokasi dan edukasi, serta dampak tulisan terhadap masyarakat) dengan bobot nilai 30%; ide tulisan (orisinalitas, aktualitas, relevansi dan kreativitas dalam menemukan sudut pandang dan mengolah bahan) dengan bobot nilai 25%; lalu sistematika penulisan, kelancaran dan kejelasan tulisan, dan penggunaan Bahasa Indonesia (masing-masing dengan bobot nilai 15%). Berdasarkan panduan ini, dan melalui diskusi yang demokratis, Dewan Juri menetapkan lima finalis dan karya dengan nilai tertinggi yang kemudian ditetapkan oleh Dewan Juri sebagai pemenang jatuh kepada: Politik Pendidikan Penebus Dosa oleh Asrori S. Karni, terbit di Majalah Gatra, Jakarta, 23 Januari 2008.
Karya yang menjadi pemenang ini memiliki kekuatan dari sisi tema/subyek yang dipilih, yang pada intinya ingin mengedepankan pentingnya “pendidikan bagi semua warga negara”. Dalam konteks filosofis inilah tulisan ini sekaligus mengkritik kebijakan pemerintah karena bertentang dengan misi “pendidikan bagi semua warga negara” tadi, terbukti dari perlakuan diskriminatif yang selama ini dialami oleh sekolah-sekolah yang berbasis pada agama, seperti pesantren, madrasah, seminari. Perlakuan pilih-kasih tadi tampak antara lain dari relatif terbatasnya anggaran yang disediakan pemerintah bagi lembaga-lembaga pendidikan berbasis agama tersebut.
Gugatan ini menjadi terasa relevan dan kontekstual dengan kondisi aktual bangsa Indonesia saat ini, yang mengalami demoraliasasi hampir di semua lini. Kondisi ini sekaligus merupakan sebuah ironi, mengingat bangsa Indonesia seringkali membanggakan diri sebagai bangsa yang religius, namun kenyataan yang tertuang dalam tulisan ini menunjukan rendahnya keberpihakan pemerintah terhadap pendidikan agama. Padahal seharusnya pemerintah memberikan porsi perhatian (termasuk alokasi anggaran) yang setidaknya sama antara pendidikan umum dan pendidikan berbasis agama. Tulisan ini juga menunjukkan sisi kemandirian dari lembaga pendidikan berbasis agama, serta kemampuannya menahan diri untuk tidak terseret dalam arus komersialisasi pendidikan yang kini telah merambah lembaga pendidikan hampir pada semua jenjang.
Tulisan ini niscaya akan menjadi lebih kuat andaikata hasil pengamatan dari lapangan lebih diperkaya dari apa yang telah disajikan oleh penulisnya. Data dan pengamatan dari lapangan tersebut dapat berfungsi sebagai ilustrasi yang memperkuat tulisan sekaligus sebagai alat untuk mekonfrontir data-data resmi yang tampak jauh lebih mendominasi dalam tulisan ini.
Dewan Juri (berdasarkan urutan abjad)
Arya Gunawan Usis
Teten Masduiki
Tulus Abadi
Kategori Feature
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad)
Frederick Sitaung: Guru Sejati Papua oleh Ahmad Arif dan Luki Aulia dari Harian Kompas, Jakarta, 1 September 2008. Hari Kembang oleh Agus Sopian dari Majalah Arti, Jakarta, Mei-Juni 2008. Mbak Suko: Simbol Perlawanan Petani oleh Ahmad Arif dan Sri Hartati Samhadi dari Harian Kompas, Jakarta, 10 April 2008. Meno Kaya Tidur di Selokan oleh Ahmad Arif, Luki Aulia dan Aryo Wisanggeni Genthong dari Harian Kompas, Jakarta, 13 September 2007. Ya Ampun, Sulitnya Sekolah oleh Indira Permanasari dari Harian Kompas, Jakarta, 31 Juli 2007.
Pemenang
Meno Kaya Tidur di Selokan oleh Ahmad Arif, Luki Aulia dan Aryo Wisanggeni Genthong dari Harian Kompas, Jakarta.
Alasan Pemilihan Pemenang
Ada kecenderungan menggembirakan saat kami menyimak 59 karya yang masuk untuk kategori feature. Banyak tulisan memiliki gagasan bagus, dan mereka berhasil menampilkan berbagai aspek kehidupan yang memperkaya wawasan serta bersifat menggugah. Tema yang muncul cukup beragam, dari perjuangan guru di daerah terpencil, perlawanan kreatif petani, kegigihan pedagang kembang, sampai dakwah di kalangan TKW Hongkong. Meskipun demikian, sayang, banyak gagasan bagus itu kurang tergarap dengan baik. Deskripsi yang dipakai sering klise, metafora kurang menggigit, dan penyuntingan kurang rapi.
Dari lima finalis satu berupa feature panjang karya wartawan majalah, empat yang lain adalah feature pendek karya wartawan koran. Kelimanya memiliki tema yang mencerminkan pemikiran dan watak Mochtar Lubis: kepedulian pada kemanusiaan, keadilan, seni dan lingkungan.
Meno Kaya Tidur di Selokan kami pilih sebagai pemenang dengan pertimbangan sebagai berikut. Karya ini menampilkan sudut pandang yang unik untuk sebuah persoalan sosial-ekonomi yang kompleks. Kritik sosial yang disajikan sangat tajam dengan menggunakan paradoks dan ironi yang tidak klise. Karya ini membuat pembaca tergugah akan betapa berlapis-lapisnya persoalan di daerah pertambangan. Dengan ini kami juga ingin menunjukkan bahwa tulisan pendek di koran pun bisa ditulis dengan pendekatan feature secara memikat.
Dewan Juri (berdasarkan urutan abjad)
Farid Gaban
Sori Siregar
Yusi Avianto Pareanom
Kategori Investigasi
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad)
The Lost Generation oleh Muhlis Suhaeri dari Harian Borneo Tribune, Pontianak, 10-28 Februari 2008. Menguak Tabir Dosa Ekologi di Balik Proyek PLTP Sibayak oleh Erwinsyah dari Surat Kabar Harian Ekonomi Medan Bisnis, Medan, 31 Maret-5 April 2008.
Muslihat Cukong di Lahan Cepu oleh Bagja Hidajat dkk dari Majalah Tempo, Jakarta, 7 Januari 2008. Roger... Roger... Intel Sudah Terkepung, oleh Budi Setyarso dari Majalah Tempo, Jakarta, 26 Agustus 2007. Zatapi dengan Sejumlah Tapi oleh Yosep Suprayogi, Philipus SMS Parera dkk dari Majalah Tempo, Jakarta, 30 Maret 2008.
Pemenang
The Lost Generation oleh Muhlis Suhaeri dari Harian Borneo Tribune, Pontianak, 10-28 Februari 2008.
Alasan Pemilihan Pemenang
Mochtar Lubis Award 2008 ini adalah kompetisi pertama yang menyertakan kategori investigasi. Sebuah kategori yang sulit, yang dalam jurnalisme sering disebut sebagai induk dari dari semua jurnalisme. Sebuah pekerjaan investigasi dewasa ini tak lagi mendapatkan perhatian yang layak dari pimpinan media di Indonesia. Di lingkungan media cetak hanya media besar yang masih memberikan tempat bagi liputan jenis ini.
Naskah yang masuk ke juri pada kompetisi kali ini total berjumlah 13 naskah. Ada hal yang menggembirakan dalam kompetisi kali ini. Antara lain bahwa meski didominasi oleh media besar nasional, ternyata ada juga naskah yang berasal dari tulisan media di daerah. Hal ini betul-betul membesarkan hati.
Kita semua patut merasa berbesar hati melihat semangat investigasi masih tumbuh. Di tengah tuntutan rutinitas wartawan koran dan tekanan deadline yang padat, ternyata masih ada beberapa wartawan yang –dengan keterbatasan waktu dan logistik— menyempatkan diri untuk mengupayakan peliputan investigasi, yang makan waktu dan tenaga, serta kerap tidak didukung penuh oleh organisasi redaksi.
Kriteria penjurian yang digunakan adalah muatan pilihan tema (15%), muatan proses penggalian(50%), dan penulisan (35%). Muatan pilihan tema terdiri dari aktualitas, magnitude, upaya membongkar kejahatan, skala atau kompleksitas kejahatan. Untuk muatan proses terdiri dari unsur rechecking, kompetensi nara sumber, data pendukung, adanya riset,dan upaya melakukan verifikasi. Sedangkan dari sisi penulisan yang diukur adalah gaya dan logika bahasa, kejelasan, deskripsi, penggunaan bahasa yang tidak klise, akurasi, keberimbangan, dan kedalaman tulisan.
Beberapa karya terlihat menonjol dalam hal semangat dan gairah (passion). Ini catatan yang menggembirakan melihat serbuan ”jurnalisme ludah” (sikap kewartawanan yang hanya ”menadahi” ludah para pejabat) yang tiap kali membanjiri ruang hidup kita. Sayangnya, semangat dan gairah yang menggebu-gebu itu seringkali membuat para wartawan muda terlalu terburu-buru menurunkan hasil investigasi yang belum matang benar. Barangkali, semangat yang berlebihan ini pula yang membuat wartawan kita kurang punya semangat ”skeptis” dalam dosis yang normal.
Setelah melewati penjurian secara terpisah, para juri memilih lima karya yang dinilai memenuhi kelayakan untuk masuk dalam nominasi calon pemenang Mochtar Lubis Award untuk kategori investigasi. Lima karya terbaik ini antara lain The Lost Generation, Muslihat Cukong di Lahan Cepu, Zatapi dengan Sejumlah Tapi, Roger... Roger... Intel Sudah Terkepung, dan Menguak Tbr Ds Ekologi di Blk Proy. PLTP Sibayak.
Namun, dari 5 karya yang ada, para juri akhirnya bersepakat untuk memilih tulisan berjudul The Lost Generation yang dimuat secara serial melalui 19 tulisan. Para juri terpesona membaca karya ini, karena tulisan ini memberikan pemahaman sejarah tentang praktik-praktik militerisme, politik pecah belah, operasi intelijen, kisah tragis manusia yang terjebak di antara situasi pergantian politik negara, dan akar perdagangan perempuan serta konflik komunal di daerah Kalimantan Barat.
Dewan juri terkesan pada gairah penulis untuk mencari data, menelusuri dokumen tua dan hasil riset para peneliti, menelusuri fakta dan menjumpai mereka yang terlibat dengan mengandalkan ingatan. Penelusuran ini sungguh tidak mudah mengingat kejadian ini sudah hampir 40 tahun berlalu, dan sebagian besar dari rakyat Indonesia bahkan sudah melupakan kekejian yang memakan puluhan ribu jiwa dan hilangnya satu generasi. Suatu tragedi yang dianggap tak pernah ada.
The Lost Generation dalam paradigma hak asasi manusia merupakan sebuah kejahatan yang berindikasikan pelanggaran HAM berat, yaitu kejahatan terhadap kemanusiaan. Ribuan penduduk sipil terbunuh. Sebagian besar dari mereka juga dipindahkan secara paksa dari daerah pedalaman.
Juri memang menemukan beberapa kelemahan dari karya ini. Di antaranya, istilah G-30S/PKI, yang menurut tidak terlalu tepat. Penulis juga tidak konsisten menggunakan istilah hanya G-30S. Selain itu ada beberapa konfirmasi yang tidak dilakukan, penyebutan nama narasumber yang tidak lengkap dan penulisan yang tersendat di beberapa bagian. Ada beberapa sumber penting yang tampaknya tak digunakan oleh si penulis, tapi barangkali keseriusan dan tekad untuk mengungkapkan skandal dibalik peristiwa yang distigma sebagai ”PGRS/Paraku” ini memberikan berbagai nilai lebih.
Si penulis mewawancarai puluhan orang saksi korban, saksi mata, dan saksi pelaku. Ia juga melakukan sejumlah penelusuran dukumen dan karya penelitian yang pernah dibuat orang mengenai peristiwa ini. Dari karyanya, kita melihat penulis sangat serius menemui orang-orang dalam jangkauan ratusan kilometer yang terpisah di berbagai kecamatan dan kabupaten – meskipun barangkali dengan logistik yang terbatas.
Juri berharap yang ditunjukkan oleh 5 para yang karyanya terpilih sebagai lima karya terbaik bisa memberikan inspirasi kepada para wartawan Indonesia. Terutama untuk terus berupaya mengungkapkan berbagai skandal dan kejahatan yang selama ini tersembunyi atau sengaja disembunyikan. Sebuah semangat jihad tanpa pernah kompromi yang selalu ditunjukkan oleh almarhum Mochtar Lubis semasa hidupnya.
Dewan Juri berdasarkan urutan abjad
Dwi Setyo Irawanto
Maria Hartiningsih
Yosep Adi Prasetyo
Kategori Fotojurnalistik
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad)
Dag Dig Dug di Bukit Segambut (Operasi TKI) oleh Arie Basuki dari Koran Tempo, Jakarta, 9 Maret 2008. Jalan Tol Sedyatmo Km 26 Terputus oleh Agus Susanto dari Harian Kompas, Jakarta, 3 Februari 2008. Limbah di Banjir Kanal oleh Lasti Kurnia dari Harian Kompas, Jakarta, 5 September 2007. Mengungsi di Rel Kereta Api oleh Yuniadhi Agung dari Harian Kompas, Jakarta, 4 Februari 2008. Sepak Bola Rusuh oleh Ignatius Danu Kusworo dari Harian Kompas, Jakarta, 17 Januari 2008.
Pemenang
Dag Dig Dug di Bukit Segambut (Operasi TKI) oleh Arie Basuki dari Koran Tempo, Jakarta, 9 Maret 2008.
Alasan Pemilihan Pemenang
Foto Dag Dig Dug di Bukit Segambut (Operasi TKI) ini terpilih menjadi pemenang untuk kategori fotojurnalistik karena alasan-alasan sebagai berikut. Isu yang diangkat oleh Arie Basuki ini sering kita dengar tetapi jarang tampil di media massa secara utuh. Tema pada foto ini langka terungkap secara visual. Foto ini merupakan simbol visual yang mewakili ketidakberdayaan dan ketidakadilan, hal-hal inilah yang memang harus diangkat oleh pers dalam menjalankan fungsinya.
Foto ini memunculkan kedalaman dan usaha (effort) dalam mengambil gambar juga keberanian si fotografer menghadapi resiko yang tinggi. Foto ini juga menunjukkan semangat berjuang demi si miskin, hal ini selaras dengan kritik Mochtar Lubis yang menyindir bahwa di Indonesia ini ada begitu banyak orang kaya yang berada di atas, sementara mereka yang di bawah tidak mendapatkan bagian.
Catatan juri terhadap Dag Dig Dug di Bukit Segambut (Operasi TKI) ini adalah perlu adanya peningkatan dari aspek editing foto atau cropping yang masih belum sempurna.
Dewan Juri (berdasarkan urutan abjad)
Julian Sihombing
Oscar Motuloh
Sinartus Sosrodjodjo
Kategori In-Depth TV Reporting
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad)
Kartini yang Terdampar di Negeri Orang oleh Widyaningsih dkk dari SCTV, Jakarta, 20 April 2008. Mengeruk Laba dari Bangkai Sapi Darussalam Burnahan dkk dari ANTV, Jakarta, 19 September 2007. Pengoplosan di Balik Kisruh Minyak Tanah oleh Darussalam Burnahan dkk dari ANTV, Jakarta, 5 September 2007. Perburuan Ilegal Gading Gajah oleh Andi Azril dkk dari SCTV, Jakarta, 9 Maret 2008. Pintu Harapan untuk Si Miskin oleh Endah Saptorini dkk dari Astro Awani, Jakarta, 27 Oktober 2007.
Pemenang
Mengeruk Laba dari Bangkai Sapi Darussalam Burnahan dkk dari ANTV,
Jakarta, 19 September 2007. dan Pintu Harapan untuk Si Miskin oleh Endah Saptorini dkk dari Astro Awani, Jakarta, 27 Oktober 2007.
Alasan Pemilihan Pemenang
Juri memutuskan ada dua pemenang untuk kategori ini karena kedua lipuan ini mempunyai kekuatan ide, investigasi, dan tehnik yang memadai. Keduanya memunculkan fakta yang tidak diketahui masyarakat luas, tim menggali dan melakukan riset karena topik yang diangkat bukan isu yang tersaji begitu saja, tidak mengikuti mainstream berita.
Mengeruk Laba dari Bangkai Sapi mengingatkan kita pada kepentingan publik yang dikhianati, cara-cara yang kejam, tidak berperikemanusiaan, yang sudah memasuki wilayah animal cruelty dan crime against public health. Dari segi kesehatan, kita sebagai konsumen dilanggar haknya untuk mendapat jaminan kelayakan produk. Bagi umat Islam bahkan konsumen menjadi pemakan produk haram (bangkai).
Pintu Harapan untuk Si Miskin mengingatkan kita pada semangat Mochtar Lubis untuk melakukan kritik social yang lugas. Bertutur tentang problem kemiskinan yang dialami segenap lapisan masyarakat, khususnya kaum urban, dan ketidakadilan yang dialami untuk mendapatkan haknya.
Tayangan ini juga berhasil menampilkan praktek-praktek tersembunyi dari birokrasi yang korup, berbelit-belit, dan tidak punya empati, apalagi sense of urgency. Secara detil juga ditayangkan betapa pincangnya fasilitas umum yang diberikan rumah-sakit yang diberikan pada pasien yang miskin. Tetapi tayangan ini tidak berhenti pada kritik semata, melainkan juga mengangkat perjuangan orang-orang miskin untuk meraih harapannya, menjadi sejahtera, mempunyai solidaritas pada sesama yang miskin.
Sebagai catatan, khusus untuk Pintu Harapan untuk Si Miskin, anggota Dewan Juri Riza Primadi tidak terlibat dalam penjurian.
Dewan Juri berdasarkan urutan abjad
Bimo Nugroho
Dana Iswara
Riza Primadi
Kategori Fellowship
Finalis (judul disusun berdasarkan urutan abjad)
Proposal Divestasi KPC: Menggerus Batu Meninggalkan Bara oleh I Gusti Gede Maha Adi, Majalah Tempo, Jakarta. Proposal Investigasi Korupsi Dana Rekonstruksi Pasca Gempa Bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006 oleh Bambang Muryanto wartawan lepas, Masjidi dari MQ Radio dan Gigin W Utomo dari Majalah Swasembada, Yogyakarta.
Pemenang
Proposal Investigasi Korupsi Dana Rekonstruksi Pasca Gempa Bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006 oleh Bambang Muryanto wartawan lepas, Masjidi dari MQ Radio dan Gigin W Utomo dari Majalah Swasembada, Yogyakarta.
Alasan Pemilihan Pemenang
Dalam upaya menetapkan Mochtar Lubis Fellowship 2008, tiga anggota Dewan Juri telah melakukan penilaian atas sembilan usulan rancangan peliputan penyidikan atau investigative reporting yang diterima oleh Panitia Penyelenggara Mochtar Lubis Award 2008.
Dewan Juri menilai kesembilan rancangan tersebut dengan berpedoman pada panduan gagasan berikut untuk dapat meraih Mochtar Lubis Fellowship 2008:
o Rancangan peliputan penyidikan mengungkapkan peristiwa atau masalah yang terkait dengan kepentingan orang banyak.
o Rancangan ini memaparkan gagasan secara lengkap dan matang.
o Rancangan ini memiliki gagasan yang menarik dan memiliki kompleksitas yang mendalam untuk diterbitkan dalam bentuk buku sekira 100 halaman.
o Rancangan ini memuat perencanaan investigasi yang masuk akal dan realistis untuk dapat dilaksanakan dalam waktu empat bulan dengan biaya yang tersedia.
o Rancangan ini dapat menjadi model untuk Mochtar Lubis Fellowship pada tahun-tahun selanjutnya.
Dewan Juri menyampaikan penghargaan yang tinggi kepada kesembilan tim yang telah berpartisipasi dalam program Mochtar Lubis Fellowship 2008, sebagai bagian dari program Mochtar Lubis Award yang pertama kali ini digelar di Indonesia.
Gagasan-gagasan yang dituangkan dalam kesembilan usulan rancangan itu sangat menarik sehingga tidak terelakkan perdebatan antara ketiga anggota Dewan Juri dalam menentukan peraih penghargaan ini.
Dewan Juri berpendapat, tema-tema yang digagas pada rancangan peliputan penyidikan itu sangat layak dikembangkan. Namun, kebanyakan tema itu lebih tepat ditelusuri dan ditulis untuk bentuk laporan berkedalaman atau in-depth reporting.
Dewan Juri, dalam sidangnya yang pertama pada 20 Juni 2008, bersepakat dengan suara bulat untuk menetapkan dua usulan sebagai rancangan peliputan penyidikan yang paling memenuhi panduan rumusan tersebut. Kedua usulan rancangan itu adalah:
1. “Divestasi KPC: Menggerus Batu Meninggalkan Bara”; dan
2. "Investigasi Korupsi Dana Rekonstruksi Pasca-Gempa Bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006"
Pada 1 Juli 2008, Dewan Juri mengadakan seleksi lanjutan dengan mengikuti presentasi dan mewawancarai wakil-wakil kedua tim pengusul rancangan peliputan penyidikan tersebut. Dalam sidangnya yang kedua hari itu, Dewan Juri akhirnya bersepakat dengan suara bulat pula untuk menetapkan peraih Mochtar Lubis Fellowship 2008, yaitu:
o "Investigasi Korupsi Dana Rekonstruksi Pasca-Gempa Bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006"—rancangan yang diusulkan oleh tim yang terdiri atas Bambang Muryanto (wartawan freelance), Gigih W. Utomo (reporter lepas), dan Masjidi (reporter).
Dewan Juri menetakan pilihan tersebut berdasarkan pertimbangan berikut:
1. Dari segi tema, sasaran peliputan penyidikan ini bersifat kemanusiaan dan menyentuh nilai-nilai kemanusiaan.
2. Dari segi kepentingan publik, dampak dari hasil peliputan ini menyangkut kehidupan masyarakat yang luas.
3. Dari segi pendidikan, hasil peliputan ini dapat menjadi contoh bagi daerah lain yang mengalami peristiwa yang serupa dan diharapkan praktik penyalahgunaan wewenang serta sikap tidak berperikemanusiaan tidak terulang.
4. Dari segi waktu, dengan rencana investigasi selama empat bulan sejak Agustus sampai November 2008, diharapkan peliputan ini dapat dilaksanakan sepenuhnya.
Dewan Juri berdasarkan urutan abjad
Atmakusumah Astraatmadja
Murizal Hamzah
Susanto Pudjomartono
Sumber: Pengumuman panitia Mochar Lubis Award
Foto by Bajo Winarno
Tuesday, July 22, 2008
Alasan Menang Mochtar Lubis Award
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
3:01 AM
0
comments
Labels: Pers
Monday, July 21, 2008
Jurnalis Borneo Tribune Raih Penghargaan Jurnalistik
Borneo Tribune, Jakarta
Jurnalis Harian Borneo Tribune, Muhlis Suhaeri, meraih penghargaan Mochtar Lubis Award (MLA), untuk kategori investigasi. Tulisan berjudul The Lost Generations, dimuat secara bersambung di Harian Borneo Tribune pada 10 Februari-28 Februari 2008. Acara penghargaan berlangsung di Hotel Century Park, Jakarta, Jum'at (18/7).
Penyelenggaran MLA baru dimulai tahun ini. Dalam sambutannya, Ignatius Haryanto, Direktur Program Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP) mengatakan, MLA diberikan sebagai penghargaan terhadap profesi jurnalistik. “Kita ingin merangsang munculnya karya-karya jurnalistik terbaik,” kata Ignatius.
Aristides Katoppo, dari Sinar Harapan dan Dewan pengawas MLA ketika memberikan sambutan berkata, pena wartawan digunakan untuk kepentingan umum, kebenaran, dan tidak takut dengan bahaya, serta tidak tergoda dengan materiel. “Wartawan memerlukan profesionalisme dan dilindungi dengan sistem nilai dan etika,” kata Katoppo.
Mengapa penghargaan ini diberi nama MLA?
Ia lahir pada 7 Maret 1922 di Padang. Meninggal pada 2 Juli 2004 di Jakarta. Sebagai jurnalis, Mochtar Lubis dianggap konsisten terhadap kemerdekaan pers. Pendiri dan Pemimpin Redaksi Harian Indonesia Raya, tak gentar menghadapi berbagai tekanan dan kekuasaan pemerintah Orde Lama dan Baru, yang terus menekan kebebasan pers. Demi memperjuangkan idealismenya tersebut, Mochtar Lubis harus mendekam beberapa kali dalam penjara pemerintah Orla dan Orba. Konsistensi dan keberaniannya, membuat Mochtar Lubis diberi gelar Wartawan Jihad.
Sebagai wartawan, Mochtar Lubis pernah meliput di berbagai medan berbahaya. Seperti, perang Korea pada 1950. Berkat kegigihannya memperjuangkan kebebasan pers, ia mendapat penghargaan Ramon Magsaysay pada 1958.
Selain sebagai wartawan, Mochtar Lubis juga dikenal sebagai sastrawan. Beberapa karya novel dan kumpulan cerpen antara lain: Tidak Ada Esok (novel, 1951). Si Jamal dan Cerita-Cerita Lain (kumpulan cerpen, 1950). Teknik Mengarang (1951). Teknik Menulis Skenario Film (1952). Jalan Tak Ada Ujung (1952). Harta Karun (cerita anak, 1964). Tanah Gersang (novel, 1966). Senja di Jakarta (novel, 1970). Novel ini diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Claire Holt dengan judul Twilight in Jakarta, 1963. Judar Bersaudara (cerita anak, 1971). Penyamun dalam Rimba (cerita anak, 1972). Harimau! Harimau (1975). Manusia Indonesia (1977). Maut dan Cinta (1977). Berkelana dalam Rimba (cerita anak, 1980). Kuli Kontrak (kumpulan cerpen, 1982). Bromocorah (kumpulan cerpen, 1983). Selain itu juga ada berbagai terjemahan yang dilakukannya.
Segudang prestasi dan konsistensi itulah, yang membuat nama Mochtar Lubis diabadikan untuk penghargaan tertinggi di bidang jurnalistik ini. Penghargaan ini didukung orang-orang handal dan punya kemampuan di bidangnya. Ada tokoh pers, praktisi hukum, aktivis, dosen, fotografer, dan lainnya. Dewan juri itu antara lain, Arya Usis, Atmakusumah Astraatmadja, Bimo Nugroho, Dana Iswara, Farid Gaban, Julian Sihombing, Maria Hartiningsih, Murizal Hamzah, Oscar Motuloh, Riza Primadi, Sinartus Sosrodjojo, Sori Siregar, Susanto Pudjomartono, Teten Masduki, Tulus Abadi, Yosep Adi Prosetyo dan Yusi Avianto Pareanom.
MLA tahun ini, ada 234 peserta. Dari jumlah itu, 21 orang merupakan jurnalis perempuan. Peserta merupakan jurnalis dari seluruh Indonesia. Ada lima kategori yang diusung: Public service, feature, investigasi, foto jurnalistik dan In-Dept Reporting bagi TV. Satu lagi penghargaan adalah, pemberian Fellowship atau dana liputan untuk menulis buku.
Setiap kategori ada lima finalis. Setiap pemenang mendapat hadiah Rp 50 juta. Untuk Fellowship sebesar Rp 40 juta.
Malam itu, pengumuman pertama diberikan untuk kategori Fellowship. Ada dua finalis. Proposal Investigasi Korupsi Dana Rekonstruksi Pasca Gempa Bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006 oleh Bambang Muryanto dari The Jakarta Post, Masjidi dari MQ Radio dan Gigin W Utomo dari Majalah Swasembada, Yogyakarta. Proposal kedua berjudul, Divestasi KPC: Menggerus Batu Meninggalkan Bara oleh I Gusti Gede Maha Adi, Majalah Tempo, Jakarta. Pemenangnya adalah Bambang Muryanto, Masjidi dan Gigin W Utomo.
Kategori In-Depth TV Reporting: Kartini yang Terdampar di Negeri Orang oleh Widyaningsih dkk dari SCTV, Jakarta, 20 April 2008. Mengeruk Laba dari Bangkai Sapi Darussalam Burnahan dkk dari ANTV, Jakarta, 19 September 2007. Pengoplosan di Balik Kisruh Minyak Tanah oleh Darussalam Burnahan dkk dari ANTV, Jakarta, 5 September 2007. Perburuan Ilegal Gading Gajah oleh Andi Azril dkk dari SCTV, Jakarta, 9 Maret 2008. Pintu Harapan untuk Si Miskin oleh Endah Saptorini dkk dari Astro Awani, Jakarta, 27 Oktober 2007. Kategori ini memiliki dua pemenang, Endah Saptorini dari Astro dan Darussalam Burnahan dari ANTV.
Untuk kategori public service adalah, Hancurnya Infrastruktur di Sulawesi Barat oleh Sidik Pramono dari Harian Kompas, Jakarta, 10 Mei 2008. Krisis Air Bersih Ancam Bandung oleh Zaky Yamani dari Harian Pikiran Rakyat, Bandung, 17 Maret 2008. Mencari Angka dalam Jerami oleh Daspriani Y. Zamzami dari Majalah Aceh Kini, Januari 2008. Politik Pendidikan Penebus Dosa oleh Asrori S. Karni dari Majalah Gatra, Jakarta, 23 Januari 2008. Save Our Airport oleh Gatot Rahardjo dari Majalah Angkasa, Jakarta, Maret 2008. Pemenang untuk kategori ini, Asrori S. Karni dari Majalah Gatra.
Kategori feature, Frederick Sitaung: Guru Sejati Papua oleh Ahmad Arif dan Luki Aulia dari Harian Kompas, Jakarta, 1 September 2008. Hari Kembang oleh Agus Sopian dari Majalah Arti, Jakarta, Mei-Juni 2008. Mbak Suko: Simbol Perlawanan Petani oleh Ahmad Arif dan Sri Hartati Samhadi dari Harian Kompas, Jakarta, 10 April 2008. Meno Kaya Tidur di Selokan oleh Ahmad Arif, Luki Aulia dan Aryo Wisanggeni Genthong dari Harian Kompas, Jakarta, 13 September 2007. Ya Ampun, Sulitnya Sekolah oleh Indira Permanasari dari Harian Kompas, Jakarta, 31 Juli 2007. Kategori ini dimenangkan oleh Luki Aulia dan Aryo Wisanggeni Gentong dari Kompas.
Kategori Fotojurnalistik, Dag Dig Dug di Bukit Segambut (Operasi TKI) oleh Arie Basuki dari Koran Tempo, Jakarta, 9 Maret 2008. Jalan Tol Sedyatmo Km 26 Terputus oleh Agus Susanto dari Harian Kompas, Jakarta, 3 Februari 2008. Limbah di Banjir Kanal oleh Lasti Kurnia dari Harian Kompas, Jakarta, 5 September 2007. Mengungsi di Rel Kereta Api oleh Yuniadhi Agung dari Harian Kompas, Jakarta, 4 Februari 2008. Sepak Bola Rusuh oleh Ignatius Danu Kusworo dari Harian Kompas, Jakarta, 17 Januari 2008.
Kategori investigasi diumumkan terakhir kali. Dalam sambutannya sebelum membacakan pemenangnya, Yosep Adi Prasetyo atau biasa dipanggil Stanley menyatakan, puncak dari karya jurnalistik adalah liputan investigasi. “Diperlukan berbagai kemampuan untuk melakukan peliputan ini,” katanya.
Lima finalis itu adalah, The Lost Generation oleh Muhlis Suhaeri dari Harian Borneo Tribune, Pontianak, 10-28 Februari 2008. Menguak Tabir Dosa Ekologi di Balik Proyek PLTP Sibayak oleh Erwinsyah dari Surat Kabar Harian Ekonomi Medan Bisnis, Medan, 31 Maret-5 April 2008. Muslihat Cukong di Lahan Cepu oleh Bagja Hidajat dkk dari Majalah Tempo, Jakarta, 7 Januari 2008. Roger... Roger... Intel Sudah Terkepung, oleh Budi Setyarso dari Majalah Tempo, Jakarta, 26 Agustus 2007. Zatapi dengan Sejumlah Tapi oleh Yosep Suprayogi, Philipus SMS Parera dkk dari Majalah Tempo, Jakarta, 30 Maret 2008. Pemenangnya adalah Muhlis Suhaeri dari Harian Borneo Tribune.
Mendapat penghargaan ini, bulu kudukku kian merinding. Apalagi bila mengingat kata-kata dari Mochtar Lubis, “Mestinya pers bisa berfungsi sebagaimana seharusnya. Kalau dia tidak lagi berfungsi sebagaimana seharusnya, saya rasa lebih bagus dia berhenti, tutup.”
Secara tegas, Mochtar Lubis juga mengatakan, bila tidak bisa menjalankan profesi wartawan sesuai dengan kode etiknya, maka harus mencari profesi lain yang tidak perlu berkorban sebesar profesi jurnalis...... SEPAKAT.□
Edisi cetak ada di Borneo Tribune 21 Juli 2008
Foto by Bajo Winarno
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
3:41 AM
3
comments
Labels: Pers
Saturday, July 19, 2008
Penghargaan untuk Tingkatkan Kualitas Jurnalistik
Kompas
Sabtu, 19 Juli 2008
Dewan Pengawas Mochtar Lubis Award Aristides Katoppo (kiri) memberikan selamat kepada para pemenang Mochtar Lubis Award 2008, (dari kiri) Muhlis Suhaeri (harian Borneo Tribune), Asrori S Karni (majalah Gatra), Ahmad Arif dan Luki Aulia (harian Kompas), serta Arie Basuki (Koran Tempo) di Hotel Century Atlet Park, Senayan, Jakarta, Jumat (18/7). Mochtar Lubis Award 2008 baru pertama kalinya diberikan, yang terdiri atas enam kategori pemenang, yaitu Features, Investigasi, Foto Jurnalistik, Public Service, In-Depth TV Reporting, dan Fellowship.(Foto Lasti Kurnia/Kompas Image).
Jakarta, Kompas - Para pemenang dan penerima Mochtar Lubis Award yang dimotori Lembaga Studi Pers dan Pembangunan atau LSPP diumumkan, Jumat (18/7) malam. Dengan pemberian penghargaan tersebut, kualitas jurnalistik dari segi profesionalitas, etika, serta keberanian membela kebenaran dan keadilan diharapkan semakin meningkat, seperti yang telah diteladankan wartawan tangguh Mochtar Lubis.
Mochtar Lubis merupakan pemimpin dan pendiri Indonesia Raya yang terbit tahun 1949 hingga 1958 kemudian dibredel. Mochtar dipenjara selama 10 tahun.
Indonesia Raya terbit kembali pada tahun 1968 hingga 1974 sampai kemudian ditutup selama-lamanya. Mochtar Lubis merupakan tonggak dan legenda hidup pejuang kebebasan pers. Mochtar juga dikenal sebagai sastrawan dan pernah menjadi Pemimpin Redaksi Horison.
Pemenang Fellowship Investigasi diberikan kepada Bambang Muryanto (The Jakarta Post), Masjidi (MQ Radio) dan Gigin W Utomo (majalah Swasembada Yogyakarta) dengan proposal investigasi ”Korupsi Dana Rekonstruksi Pascagempa Bumi di Yogyakarta 27 Mei 2006”.
Pemenang Kategori Feature adalah Ahmad Arif, Luki Aulia, dan Aryo Wisanggeni Gentong (harian Kompas) dengan karya ”Meno Kaya Tidur di Selokan”.
Kategori Investigasi dimenangi Muhlis Suhaeri (harian Borneo Tribune, Pontianak) dengan karya ”The Lost Generation”.
Untuk kategori In-Depth TV Reporting terdapat dua pemenang, yakni Darussalam Burnahan dan kawan-kawan (ANTV) dengan karya Mengeruk Laba dari Bangkai Sapi serta Endah Saptorini dan kawan-kawan dari Astro Awani dengan karya Pintu Harapan untuk si Miskin.
Kategori Publik Service dimenangi Asrori S Karni (Gatra) dengan karya ”Politik Pendidikan Penebus Dosa”. Kategori Foto Jurnalistik dimenangi Arie Basuki (Koran Tempo) dengan karya ”Dag Dig Dug di Bukit Segambut”.
Para pemenang masing-masing mendapatkan hadiah uang Rp 50 juta, sementara untuk Kategori Fellowship Rp 40 juta.
Direktur Program Mochtar Lubis Award, sekaligus Direktur Eksekutif LSPP Jakarta, Ignatius Haryanto, dalam sambutannya mengatakan, acara itu diadakan guna memperpanjang semangat jurnalistik dan memberikan penghargaan tertinggi kepada para jurnalis terbaik. ”Dengan penghargaan ini, kami ingin merangsang hadirnya karya jurnalistik berkualitas,” ujarnya. (INE)
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
9:55 PM
0
comments
Labels: Pers
Friday, June 27, 2008
Belajar Menjadi Manusia
Dari Manusia yang Selalu Belajar
Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Membaca buku kumpulan tulisan Dr. Aswandi, Dekan Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura (Untan), ibarat menyelami luas dan dalamnya samudera. Kenapa begitu? Karena yang dipaparkan dalam buku ini, sebuah proses panjang dalam rentang waktu dan ruang, perjalanan hidup manusia.
Sebuah perjalanan, tentu saja perlu berbagai persiapan. Butuh pengetahuan. Semangat mencari berbagai hal dan pemahaman hakiki mengenai manusia. Tentang nilai. Untuk apa dan harus bagaimana, manusia menjalani dan menghadapi hidup.
Karenanya, judul yang diberikan dalam buku ini, “Belajar Menjadi Manusia” terasa tepat dan pas. Ada sikap rendah hati dari sang penulis. Ada pemaknaan, bahwa manusia harus selalu belajar. Bukankah, dalam ajaran agama pun menyatakan, belajar harus dilakukan sejak manusia lahir, hingga ajal menjemput?
Nah, dalam proses belajar itulah, manusia mengalami berbagai peristiwa dan pengalaman, yang membuat dirinya selalu menggunakan akal pikiran, pengetahuan, dan nilai agama, religi atau budaya.
Pada dasarnya, semua anak terlahir dengan jenius 99,99 persen. Anak berusia 0-5 tahun dapat mempelajari lebih banyak data dan fakta dari pada mahasiswa di perguruan tinggi, untuk mendapatkan kesarjanaan. Alasannya, anak menikmati proses belajar, dan sangat senang melakukannya. Sementara mahasiswa melakukannya dalam keadaan stress. Tetapi dengan begitu cepat selama enam bulan pertama, orang dewasa memupuskan kejeniusan anak (Sandy Mac Gregor dan Bucmester Fuller, 2000).
Orang dewasa secara sengaja atau tidak sengaja, memaksakan berbagai pemahaman dan nilai yang ada, pada seorang anak. Anak menjadi terkekang. Pada akhirnya, kreatifitas dan sikap spontanitas seorang anak, menjadi mandeg. Begitu juga ketika seorang anak memasuki jenjang sekolah.
Dalam proses belajar, sesuatu harus dilakukan dengan senang hati. Belajar akan efektif, bila dilakukan dalam suasana menyenangkan. Namun, kenyataan yang ada adalah, semakin dewasa seseorang, sekolah ternyata menciptakan sebuah sistem dan situasi belajar tidak menyenangkan (Rose dan Nicholl, 2002).
Lebih parah lagi, orang tua terkadang “memaksa” anaknya tumbuh menjadi anak sempurna, sesuai dengan pikiran, nilai-nilai dan ukuran sukses orang dewasa. Berbagai pendidikan dijejalkan. Alasannya, supaya anak bisa bersaing dalam kehidupannya kelak.
Menurut Dr. Aswandi, mengorbankan kebahagiaan anak demi mencapai kesempurnaan adalah kebablasan dan tidak manusiawi. Kesuksesan bukan kunci menuju kebahagiaan, melainkan kebahagiaan yang menjadi kunci kesuksesan (hal 16).
Dalam hidup, orang ingin sukses. Namun, sukses besar tidak dibangun di atas sukses. Melainkan dibangun di atas kesulitan, setumpuk masalah, kegagalan, frustasi, bencana besar, dan ditentukan oleh cara kita mengatasi dan mengubahnya.
Peristiwa sulit, ternyata mempunyai dampak penting dan berpengaruh terhadap otak manusia. Dalam bahasa Robin Sharma (2006), rasa sakit adalah guru menuju keberhasilan. Karakter terbentuk bukan dari pengalaman paling mudah. Melainkan dari pengalaman hidup sulit dan keras. Dari sanalah, seseorang menemukan siapa dirinya (hal 6).
Membaca kalimat tersebut, saya teringat dengan kawan satu tongkrongan, Ibnu Nurwanto. Sekarang, dia tinggal di Jakarta. Dia seniman dan pematung kayu cukup populer. Karya-karyanya menghiasi berbagai galeri terkenal di Jakarta dan luar negeri. Karya patungya dikoleksi orang dengan harga puluhan hingga ratusan juta.
Ketika saya tanya, apa dasar dia dalam berkarya? Dengan spontan dia menjawab. “Rasa sakit.” Ya, rasa sakit itulah yang menempa kehidupannya. Kesulitan hidup dan rasa sakit tidak disikapi dengan cengeng. Namun, menjadi batu pijakan untuk bangkit dan terus mengasah diri. Hasilnya, patung-patung yang ekspresif dan “bernyawa.”
Namun, ada sesuatu yang agak melegakan. Ternyata, sebagian besar orang tahan dengan penderitaan dan rasa sakit. Ketika manusia memperoleh kekuasaan dan harta, orang tidak tahan dan mudah jatuh. Setidaknya, itulah pendapat Si Penyair Burung Merak, Rendra, dalam sebuah perbincangan di rumahnya yang asri di Bojong, akhir 2003.
Nah, oleh karena itu, pendidikan dan pembelajaran yang efektif, harus mengajarkan kepada peserta didik tentang kecerdasan menghadapi masalah (hal 7). Dalam hal ini, sikap dan watak Dr. Aswandi sebagai seorang pendidik, muncul dalam wujud sejatinya.
Dalam belajar mengarungi hidup, manusia selalu berhadapan dengan realitas dan kenyataan. Realitas pada setiap sisi dan sudutnya, selalu menampilkan sosoknya yang paling ekstrem. Tak heran, tokoh revolusi Rusia, Vladimir Ilyich Lenin pernah berkata, “Realitas itu sesuatu yang revolusioner.”
Tak heran, bila berhadapan dengan suatu realitas, manusia terkadang harus menenggelamkan dirinya, agar bisa tetap bertahan. Terutama dalam mempertahankan jabatan yang disandangnya. Atau, mempertahankan kepemilikannya. Orang melakukan berbagai kebohongan, bukan suatu kebetulan belaka. Kebohongan tidak berada dalam kevakuman. Melainkan, telah direncanakan secara matang. Termasuk menghindari akibat buruk yang timbul dari kebohongan tersebut (hal 12).
Dalam sebuah proses belajar, salah satu penyakit manusia adalah, hasrat menjadi penting atau besar. Ini sifat dasar pembeda manusia dan binatang. Setidaknya, itulah pendapat Freud dan Dewey. Dalam prosesnya, banyak manusia menjadi gila dalam usahanya, mendapatkan perasaan menjadi penting.
Perasaan ini sering menghinggapi mereka yang pernah berkuasa atau berprestasi. Ketika semua telah redup, mereka tak kuasa menghadapi realitas yang terjadi. Dengan kalimat sederhana bisa diartikan, hasrat diri menjadi penting atau besar, tidak akan terwujud melalui jalan “Merasa Diri Penting”. Melainkan melalui kepemimpinan diri yang efektif, dan dirasakan oleh orang di sekitarnya, sebagai sesuatu yang bermakna (hal 24).
Buku ini memberikan pandangan, bagaimana cara dan sikap, serta tipe seorang pemimpin. Bagaimana menjadi pemimpin pemaaf. Memimpin dengan contoh. Kecerdasan sosial memimpin. Pemimpin dengan pengikut. Takut menjadi pemimpin. Pemimpin berkuping lebar. Kejujuran seorang pemimpin. Integritas seorang pemimpin. Pemimpin populer. Pemberani. Zuhud. Kepemimpinan berbasis nilai, moral dan lainnya.
Menjadi apa diri kita besok pagi, tergantung pada menjadi apa kita hari ini. Masa depan hanya milik seseorang menciptakannya hari ini. Mulailah dari diri sendiri. Dari yang kecil dan sekarang juga (230).
Buku ini layak dibaca bagi mereka yang masih ingin menjadi manusia. Dr. Aswandi memberikan berbagai wacana dan sudut pandang, bagaimana menjadi manusia yang baik dan berkualitas. Buku ini juga memberikan pemahaman khas seorang pendidik, dalam menyampaikan suatu permasalahan. Ada berbagai contoh kongkret tentang pengalaman hidup, dan referensi permasalahan secara literer.
Secara teknis penulisan, ada beberapa bagian dan bab di buku ini, masih menggunakan standar penulisan makalah akademis. Adanya penomoran angka, tanda kurung, dan lainnya. Banyaknya kutipan dari literatur, juga terasa menyesakkan isi sebuah buku. Begitu juga format spasi yang terkadang terlalu panjang, terasa sangat melelahkan pikiran, untuk menyerap pokok pikiran di alinea tersebut.
Pada akhirnya, siapa pun yang ingin memiliki kehendak menjadi manusia baik dan berkualitas, buku ini layak menjadi referensi dan bacaan. Dan, konsistensi Dr Aswandi untuk selalu menuangkan pokok pikirannya di media massa, patut diapresiasi dan diacungi jempol.
Sebab, sepintar apa pun seseorang, ketika tidak menulis, dia akan hilang dalam ingatan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. Begitulah, kata sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer. Dan, Dr. Aswandi sudah membuktikan hal itu.
Jadi, kalau Anda tidak ingin terlupakan dan hilang dalam ingatan sejarah, MENULISLAH.□
Judul buku : Belajar Menjadi Manusia
Penulis : Dr. Aswandi
Penerbit : Muare PR (Public Relation), Pontianak
Cetakan : I, Mei 2008
Dimensi : 152 mm x 270 mm
: xiii + 200 halaman
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
8:08 PM
1
comments
Labels: Resensi
Wednesday, June 25, 2008
Hari Ini Bupati KKU Dilantik
Hildi: Kunci Keberhasilan, Kemauan Belajar
Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Dia terlihat santai dan apa adanya. Tak ada niat jaim atau menjaga imeg, ketika bertemu atau bicara dengan siapapun. Semua keluar dengan apa adanya. Tak dibuat-buat. Ya, dialah Hildi Hamid. Sosok bupati Kabupaten Kayong Utara (KKU), yang dilantik hari ini, 25 Juni 2008.
Hildi Hamid dan Muhammad Said dilantik sebagai bupati dan wakil bupati. Pelantikan pasangan calon ini dilakukan langsung Gubernur Cornelis atas nama Mendagri.
Berdasarkan rekapitulasi hasil penghitungan perolehan suara pemilihan umum bupati dan wakil bupati KKU pada 2008, pasangan nomor urut dua ini memenangkan Pilkada dengan perolehan 27.460 suara atau 60,31 persen. Pasangan nomor urut tiga, Ibrahim Dahlan dan Djumadi Abdul Hadi Hamid memperoleh 11.584 suara atau 25,44 persen. Pasangan nomor urut satu, Citra Duani dan Adi Murdiani mendapat 6.485 suara atau 14,25 persen.
Siapakah Hildi Hamid? Hildi lahir di Ketapang, pada 19 Agustus 1954. Dia empat beradik. Ayahnya., M. Noer Hamid. Dia menjabat sebagai Sekretaris di Kawedanan Sukadana. Dia penggemar tenis lapangan. Terkadang, Hildi kecil selalu diajak ikut bermain, bersama ayahnya.
Ayahnya berhenti menjadi Sekretaris Kawedanan, dan beralih menjadi pengusaha. Ibunya, Djoes Hamid, pernah menjadi anggota DPRD Gotong Royong pada 1962-1964. Saat itu, ibunya mendapat inventaris motor Vespa. Namun, ia tak mau menerima kendaraan itu.
Meski di rumah ada pembantu, Hildi diajari dengan keras oleh keluarga, untuk mandiri. Setiap anak mendapat tugas dan harus menyelesaikan pekerjaan. Ada yang kebagian mencuci pakaian, mencuci piring, menyapu rumah, dan menyiram tanaman.
Begitupun ketika menginjak kelas dua SMA. Dia dikirim keluarga bersekolah di Yogyakarta. Padahal, tak ada keluarga di sana. Abangnya juga dikirim ke Bandung. Alasannya, “Selain punya ilmu, juga punya wawasan di luar kita,” kata Hildi, menirukan ucapan orang tua. Selesai menamatkan sekolah, dia langsung masuk Akademi Teknik Muhammadiyah (ATM) Yogyakarta.
Meski dari keluarga birokrat dan politikus, Hildi mengaku tak tertarik pada dunia politik.
“Tak ada kekaguman pada orang dan dunia politik,” kata Hildi.
Dia lebih banyak bergerak pada bidang teknik dan pembangunan. Hildi mulai bekerja pada beberapa perusahaan yang berkaitan dengan dunia rancang bangun. Dia juga membuat perusahaan sendiri. Ia bertindak sebagai kontraktor.
Sejak Reformasi 1997 bergaung, dia mulai melirik dunia politik dan bergabung dengan Gerakan Keadilan dan Persatuan Bangsa (GKPB). Organisasi ini merupakan cikal bakal dari Partai Keadilan dan Persatuan (PKP). Partai ini diketuai Jenderal Eddy Sudrajat dan didekalrasikan pada 15 Januari 1999.
Ketika ada pencalonan dan Pemilu, dia tak punya misi untuk pencalonan. Karenanya, dia lebih memilih daerah pemilihan Kapuas Hulu. Di Kapuas Hulu penduduknya sedikit. Hildi dapat nomor urut nomor dua. Kemungkinan dapat terlalu kecil, begitu pikirnya.
Namun, kehendak dan jalan nasib berkata lain. PKP mendapatkan satu suara. Jadilah, calon nomor urut satu, H. Ahmad Nur. Baru menjabat setahun sebagai anggota DPRD Provinsi, pada 2000 Ahmad Nur meninggal dunia. Hildi menggantikan posisinya.
Hildi langsung melepas jabatannya sebagai pimpinan perusahaan yang disandangnya. Bila tidak, akan terlibat dalam konflik kepentingan. Segala informasi tentang proyek ada di APBD. Dan, APBD dibahas di DPRD. Ia khawatir, naluri pengusahanya akan muncul. Sehingga cari berbagai proyek. ”Hal itu harus dihindari,” kata Hildi.
Meski menguasai masalah pembangunan, dia malah memilih komisi yang berhubungan dengan keuangan, Komisi B DPRD Provinsi. Kalau memilih komisi pembangunan, akan ketemu dan berhadapan dengan teman-temannya sendiri, sesama kontraktor.
Ia langsung berbenah. Belajar sebaik mungkin, untuk mengetahui tugas-tugas barunya di dewan. Ada satu hal yang perlu dicatat dalam diri Hildi. Dia orang yang tekun dalam bekerja dan belajar.
Saat itu, untuk membedakan KUHP dan KUHAP saja tak tahu, katanya dengan tertawa.
Dia berusaha mengejar berbagai kemampuan dan pengetahuan masalah keuangan.
Karenanya, setiap hari masuk kantor di DPRD Provinsi. Ada atau tidak sidang, dia akan selalu masuk kantor. Dia tak malu untuk bertanya pada orang pemerintahan, tentang berbagai istilah dan masalah teknis.
Kebiasaannya itulah yang membuat dia sering bertemu dengan para jurnalis di dewan. Para jurnalis ini selalu menemui Hildi, untuk mengkonfirmasi berbagai masalah, dan berhubungan dengan bidangnya. ”Dan harus saya akui, saya dibesarkan oleh orang media,” kata Hildi.
Dalam waktu tak terlalu lama, namanya kian berkibar. Berbagai masalah disikapinya dengan argumentatif. Setiap pernyataan yang keluarkannya, selalu sambung menyambung dan dimuat media.
Yang menjadi pertanyaan adalah, kenapa dia bisa menguasai permasalahan dengan begitu cepat? Kata kuncinya, Hildi punya sikap selalu ingin tahu dan belajar. Karenanya, dia selalu mengumpulkan berbagai data untuk dipelajari. Dengan cara itu, dia bisa menguasai masalah. Misalnya saja ketika membahas tentang APBD. Menurutnya, kunci pemerintahan adalah di APBD. Jadi, kalau mau memberantas korupsi, salah satu cara adalah mencegah dan menutup peluang untuk melakukan korupsi. Dan itu, ada di APBD.
Hildi bisa meringkasnya APBD yang tebalnya ratusan halaman, menjadi dua halaman. Ia bisa menguasainya dengan baik. Selain itu, ia selalu membuat dan meringkas isi dan masalah tersebut. Kuncinya adalah mau belajar, kata Hildi.
Ada satu pengalaman berharga semasa menjadi anggota dewan. Dia diundang ke Scotlandia di Inggris, untuk mempelajari berbagai mengenai demokrasi, transparansi, HAM dan tata pemerintahan yang baik. Dengan undangan dan hasil yang bakal dicapai itulah, dia bisa mengembangkannya kepada masyarakat.
Ada berbagai hasil fenomenal selama ia menjadi dewan. Ia sanggup menelisik kebocoran di Rumah Sakit Soedarso. Menyelamatkan Bank Kalbar dari pemerintah pusat. Menyelenggarakan Pansus pelepasan kapal nelayan asing. Untuk kasus terakhir, dia malah berhadapan dengan aparat pemerintah lainnya.
Jadi, Hildi bukanlah pendatang baru dalam bidang pemerintahan. Selamat dan sukses.□
edisi cetak ada di Borneo Tribune 25 Juni 2008. Foto Budi Rahman
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
2:35 AM
1
comments
Labels: Profile
Sunday, June 1, 2008
Wajah Kota yang Tak Ramah
Ibarat magnet, kota selalu membuat orang untuk datang,
’tuk mengadu nasib dan mencari kehidupan lebih baik.
Kota dianggap menyediakan berbagai kemewahan
dan pencapaian.
Kota selalu menyebarkan harum dan bau wangi
menawarkan berbagai mimpi bagi masyarakat sekitarnya.
Di kota, berbagai simbol modernitas muncul
saling berkejaran dengan kemiskinan
yang selalu menampilkan wajah tergarangnya,
membuat realitas kian tumpang tindih dan paradok.
Lihatlah, bocah-bocah jalanan itu....
Tergilas dalam putaran waktu yang kian cepat dan tak kenal kompromi.
Menelantarkan siapapun yang tak sanggup bertahan
menenggelamkan kehidupan mereka yang kian rentan,
pada berbagai kekerasan dan pelecehan.
Sebuah tanya langsung terlontar,
di manakah tangan pemerintah?
tangan yang berjiwa.....
atau, tangan Tuhan?
Mengambil alih dan menyelamatkan, nasib para anak jalanan ini.
Fotogrfer : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
7:04 AM
0
comments
Labels: Essai Foto