Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Change. Demikian singkat dan sederhana kalimat itu. Namun, efeknya sangat luar biasa. Kalimat itulah yang selalu menyertai kampanye yang dilakukan kandidat dari Partai Demokrat di Amerika Serikat (AS), Barack Hussein Obama (47).
Masyarakat di AS sudah jengah dengan berbagai kebijakan George Bush dari Partai Republik, yang cenderung agresor dan membahayakan perdamaian dunia. Perang di Afganistan dan Irak, jadi contoh. Perang itu menguras anggaran pertahanan AS. Ekonomi tak terbangun dengan baik. Akibatnya, muncul krisis dalam pemerintahan George Bush. Puncaknya adalah, krisis finansial atau keuangan yang melibas struktur keuangan di AS. Krisis ini juga menghantam keuangan dunia.
Karenanya, rakyat Amerika ingin perubahan. Ini merupakan syarat utama dalam tatanan sebuah sistem, bila terjadi kejenuhan dan kemandegan. Agaknya, kebutuhan itulah yang dilihat dengan baik oleh Obama. Dan, program serta kampanye yang dilakukan, sesuai dengan apa yang dibutuhkan rakyat AS.
Dalam berbagai jajak pendapat dan pemilihan pendahuluan, Obama lebih unggul dari John Mc Cain. Popularitas Obama tidak sekali jadi. Untuk menjadi kandidat dari Partai Demokrat, ia harus bersaing ketat dengan Hillary Clinton. Senator dari Illinois ini, menunjukkan konsistensi. Meski pada kampanye awal, ia sempat tertinggal. Pelan tapi pasti, akhirnya Obama bisa meraih suara dan menggungguli Hillary.
Pemilihan presiden 2008 di AS, menorehkan sejarah baru di AS. Bila Obama terpilih, ia akan menjadi presiden pertama dari kulit hitam. Begitu juga bila Mc Cain terpilih. Dia akan menjadi presiden tertua dalam sejarah AS. Umurnya 72 tahun. Dari segi partisipasi pemilih, pemilihan ini mencatat rekor tertinggi sejak 1920. Tingkat partisipasi sebesar 73,5 persen.
Di Indonesia, publik tak kalah bergairahnya. Obama pernah tinggal di Indonesia. Ayah tirinya juga dari Indonesia. Keterkaitan sejarah dan psikologi ini, tentu akan berpengaruh terhadap kebijakan luar negeri Amerika terhadap Indonesia, bila Obama terpilih kelak.
Tak hanya itu. Obama juga representasi dari sebuah proses multikulturalisme. Apalagi dengan kondisi sosial masyarakat Amerika, yang dibangun dari beragam budaya dan bangsa. Proses ini tentu bagian penting dari perjalanan sebuah bangsa.
Kini, semua mata tertuju pada pemilihan presiden AS, yang dianggap sebagai barometer dunia dalam proses demokrasi. Semua berharap, hasil yang didapat, bakal membawa proses perubahan yang lebih baik, bagi tatanan dunia.
Harapan itu, ada pada Obama.□
Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 5 November 2008
Gambar diambil dari www.creativeriview.co.uk
Wednesday, November 5, 2008
Berharap Perubahan dari Obama
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
2:54 AM
0
comments
Labels: Opini
Tuesday, November 4, 2008
Istri Imam Samudera
Zakiyah “Prenjak” Darajad
Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Entah mengapa, ingatanku tiba-tiba menyambar pada sebuah sosok. Teman yang tak pernah kutemui selama 18 tahun lamanya. Gambaran itu semakin nyata, terutama ketika menyaksikan layar televisi yang menayangkan, jelang eksekusi tiga terpidana mati Bom Bali: Amrozi, Ali Ghufron dan Abdul Aziz alias Imam Samudera.
Ya, gambaran dan sosok itu, bernama Zakiyah Darajad. Ia, istri Imam Samudera. Aku dan Zakiyah sekolah di SMAN 1, Jepara. Kami angkatan 1987. Lulus pada 1990. Sekolah kami berada di Jalan KS Tubun, Jepara. Pas di persimpangan jalan. Ini sekolah favorit.
Dua orang lulusannya, termasuk aktivis yang menjadi korban penculikan Tim Mawar Kopassus. Namanya, Rahardja Waluyo Jati dan Mugiyanto. Keduanya, kakak kelas dan adik kelas. Aku kenal keduanya di Jakarta. Sama-sama aktif di organisasi.
Aku dan Zakiyah satu kelas hingga tiga tahun lamanya. Murid tingkat pertama di SMA kami, ada delapan kelas. Kami duduk di kelas I-6. Wali kelasnya bernama, Endang. Ia mengajar biologi. Satu kelas bervariasi jumlah muridnya. Ada 40-45 murid tiap kelasnya. Kelas dua dibagi menjadi A1, ada dua kelas. Ini jurusan IPA-Fisika. A2, ada dua kelas. Ini jurusan IPA-Biologi. A3 ada tiga kelas. Ini jurusan Ekonomi. A4, ada satu kelas. Ini jurusan Bahasa.
Menginjak kelas dua, Zakiyah mengambil jurusan biologi atau A2. Kebetulan ada dua kelas, IIA2-1 dan IIA2-2. Zakiyah duduk di kelas IIA2-2. Satu kelas denganku. Guru walinya Widodo, guru biologi. Kelas tiga masih satu kelas di IIIA2-2.
Zakiyah berpostur kecil. Tingginya sekitar 150 cm. Tak gemuk dan kurus. Proporsional untuk tubuh seukuran itu. Rambutnya yang sebahu, selalu dikepang dua. Hampir tiga tahun lamanya, aku lihat tak ada perubahan dalam penampilan rambutnya. Selalu dikepang dua.
Begitu juga model seragam sekolahnya. Baju lengan pendek warna putih itu, selalu dikancingkan hingga ke leher. Bagian bawah mengenakan rok abu-abu. Dari segi penampilan, Zakiyah termasuk orang yang sederhana. Atau, mungkin konservatif. Tak seperti anak seusianya, yang selalu ingin tampil modis.
Itu terlihat dalam kesehariannya di sekolah. Di sekolah kami, mulai hari Senin hingga Kamis, murid mengenakan seragam abu-abu dan baju putih. Hari Sabtu, mengenakan seragam coklat Pramuka. Pada hari Jumat, kami tak mengenakan seragam sekolah. Siswa mengenakan pakaian bebas. Boleh pakaian apa saja. Pada hari itu, suasana sekolah marak sekali. Gaul banget pokoknya.
Pukul 07.00 Wib, semua murid dari kelas satu hingga kelas tiga berkumpul di lapangan sekolah. Kami melakukan senam pagi secara massal. Sekolah kami bentuknya U. Pas di tengah sekolah ada tanah lapang berumput. Di lapangan itulah, kami melakukan senam pagi. Pemandangan penuh warna-warni. Terlihat kontras dan menarik.
Namun, di antara warna-warni baju dan celana murid pagi itu, selalu saja ada baju putih dan rok abu-abu. Pemilik pakaian itu, tak lain adalah Zakiyah Darajad. Ia selalu mengenakan seragam, meski peraturan membolehkan berpakaian bebas.
Zakiyah mengenakan kaca mata minus. Bentuknya agak bulat. Kalau sedang bicara serius, matanya selalu menyala-nyala dan mengembang. Meski terlihat serius, kalau sudah tertawa, ia juga terlihat ekspresif. Tawanya berderai. Lepas mengalir.
Ia sosok mandiri. Ketika pertama kali mengenalnya, aku tanya:
“Kenapa sekolah di Jepara.”
“Ingin hidup mandiri.”
Ayahnya kelahiran Jepara. Namanya Saiful Fauzan. Dia bekerja dan tinggal di Serang sebagai PNS. Setelah pemekaran, tempat tinggalnya, termasuk wilayah Banten. Mereka tinggal di sebuah perumahan. Namun, aku lupa nama perumahannya. Zakiyah pernah berikan sebuah alamat pada secarik kertas padaku.
Tahun pertama sekolah, Zakiyah tak bisa bahasa Jawa. Dia selalu pakai bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari. Cara bicaranya penuh dengan semangat dan antusias. Karenanya, kami memberinya julukan Prenjak. Ini sejenis burung pipit. Bentuknya kecil. Gerakannya gesit. Selalu terbang dan berpindah tempat untuk mencari makan.
Di Jepara, Zakiyah tinggal dengan saudara dari pihak bapak di Kauman. Daerah ini dekat dengan Masjid Raya, kantor bupati dan alun-alun. Termasuk pusat kota dan pemerintahan. Jarak dari rumah ke sekolah sekitar 700 meter. Dia selalu jalan kaki bareng teman-temannya.
Semenjak kelas satu hingga kelas tiga, Zakiyah anak yang aktif berorganisasi. Ketika kelas satu, dia menjadi ketua kelas. Kelas dua, menjadi ketua OSIS. Selain itu, dia juga aktif di Pramuka. Dalam berbagai kegiatan sekolah, dia selalu aktif dan ikut partisipasi.
Meski tak dalam satu organisasi, saat itu aku lebih aktif di Palang Merah Remaja (PMR), kami selalu bertukar pendapat tentang pengalaman di organisasi masing-masing. Dia teman yang enak diajak bicara. Tapi, juga teman yang tak bisa terlalu dekat dengan pria. Rasa-rasanya, selama tiga tahun sekolah, tak pernah terdengar dia pacaran. Padahal, banyak sekali yang tertarik dan naksir dia.
Dalam bidang akademik, Zakiyah termasuk anak yang cerdas. Kelas satu dia juara kelas. Bahkan, untuk tingkat sekolah, dia masih termasuk juara. Tak heran ketika lulus sekolah, pada 1990, dia mendapatkan kesempatan kuliah tanpa tes masuk atau PMDK, pada Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) di Semarang, Jawa Tengah.
Setelah itu, aku tak mendengar cerita tentang Zakiyah Darajad. Aku sibuk mencari hidup dan menempuh pendidikan di Jakarta.
Dari seorang teman, aku mendapat kabar, dia aktif di sebuah pengajian. Setelah itu, dia pakai jilbab, dan menutupi wajahnya dengan cadar. Kabar terakhir, dia meninggalkan kampus dan semakin aktif di pengajiannya pada semester VI di Undip. Kabar terakhir lagi, dia menikah dengan seseorang. Kabar terakhir, suaminya, Imam Samudera, merupakan salah satu pelaku bom di Legian, Bali. Kabar terakhir lagi, Imam Samudera bakal dieksekusi mati.
Yang ingin aku tanyakan sekarang, bagaimana kabar terakhirmu, Zakiyah Darajad?□
Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 5 November 2008
Foto oleh Harian Suara Merdeka.
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
3:15 AM
3
comments
Labels: Profile
Monday, November 3, 2008
Promosi Lewat Adu Nyali
Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Namanya keren. One Make Race (OMR). Bahasa sederhananya, Balapan Satu Merek. Populernya arena adu balap cepat, tak bisa dipisahkan dengan gelaran OMR yang dihelat oleh merek pabrikan ini, Suzuki.
Motor dengan logo huruf S lancip dan tegas ini, memulai debut balapan OMR dengan menggelar tiga kejuaraan di tiga kota besar, Jakarta, Bandung dan Bali pada 1991. Balapan di Jakarta berlangsung di Sirkuit Ancol. Bandung di Sirkuit Gazibu. Bali berlangsung di Sirkuit Renon. Sebelumnya, kejuaraan adu balap hanya berlangsung di Sirkuit Ancol, Jakarta.
Kegiatan OMR 1991, merupakan arena uji teknologi hasil produksi merek Suzuki. Ketika itu, Suzuki meluncurkan motor RGR. Begitu diluncurkan, motor roda dua dengan kapasitas mesin 150 cc tersebut, langsung menguasai jalanan. Menumbangkan “Raja” jalanan sebelumnya.
Tommy Ernawan, Marketing and Promotion 2W Departement, juga Racing Group Leader dalam kegiatan di Pontianak, memaparkan pengalamannya, ketika menggelar OMR 1991. Kegiatan itu tujuannya baik. Membina dan mengarahkan pembalap-pembalap muda.
Saat itu, kegiatan balap belum terkoordinir dengan baik. Banyak balap liar di jalan raya. “Nah, dari pada balap di jalanan, lebih baik dibuatkan acara balap,” kata Tommy, mantan pembalap motocross yang pernah jadi juara Asean Motocross pada 1984 di Batam.
Sukses dengan kegiatan ini, kejuaraan adu nyali dan teknologi ini, mulai merambah ke berbagai kota di Indonesia. Kegiatan adu balap ini, tentu tak bisa dipisahkan dengan kegiatan promosi, untuk mendongkrak penjualan merek pabrikan ini.
Ketika ditemui, Helmi sedang berada di Sirkuit Sultan Syarif Abdurrahman Pontianak, Minggu (2/11). Pagi itu, ia mengkoordinasikan sebuah hajatan balap bertema One Make Race 2008.
Untuk tahun 2008, agenda adu cepat ini, digelar 13 balapan. Acara dibagi dalam enam region. Region pertama, Sumatera. Ada empat balapan di region ini. Kedua, Jawa. Ada lima balapan di region ini. Ketiga, Bali, NTB dan NTT. Ada satu balapan di region ini. Keempat, Sulawesi. Ada satu balapan. Kelima, Kalimantan. Ada dua balapan di region ini.
Pontianak merupakan tempat penyelenggaraan ke 11, 1-2 November 2008. Kota Medan menjadi kota pembuka kegiatan, 1-2 Maret 2008. Dan, tahun ini, lomba ditutup pada 22-23 November di Surabaya.
Dalam setiap lomba, ada 10 kategori diperlombakan. Kelas bebek 4 Tak Shogun, Smash, Satria dan Matik STD. Ada kelas pemula, Seeded, dan Open.
Meski OMR sudah berlangsung sejak 1991, penyelenggaraan di Kalbar, baru dua tahun terakhir ini. Agar acara berjalan dengan sukses, mesti ada pembangian tugas. Ada yang menangani penyelenggaraan semua acara. Juga, harus ada yang menangani banyaknya penonton dan peserta balap yang hadir.
Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 3 November 2008
Fotografer Jessica Wuysang.
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
3:10 AM
1
comments
Labels: Olah Raga
Sunday, October 26, 2008
Saatnya Membuktikan Janji
Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Pemilihan Kepada Daerah (Pilkada) di empat kabupaten, baru saja berlangsung. Dua kandidat di Kota Pontianak dan Kabupaten Pontianak, telah diketahui hasilnya. Dua lagi, Kabupaten Kubu Raya dan Sanggau, bakal melangsungkan putaran kedua. Paling lambat bulan Desember, dua daerah itu bakal melangsungkan putaran kedua.
Dari pelaksanaan kampanye yang dilakukan, berbagai janji ditebar para kandidat, untuk menarik simpati para pemilih. Ada pendidikan dan kesehatan gratis, pembangunan infrastruktu, jalan, jembatan, air bersih, peningkatan gaji pegawai dan lain sebagainya. Pokoknya indah, bagus dan enak didengar.
Ada warga yang menanggapi janji itu dengan antusias. Namun, tak sedikit yang abai dan menganggapnya sebagai angin lalu. Bagaimanapun, tebar janji dan program seperti itu, sudah menjadi tradisi dan perilaku politik bagi yang ingin menang dalam sebuah pemilihan.
Lalu, apakah ada apatisme terhadap politik dalam hal ini? Tentu saja tidak. Kesadaran memilih dan menentukan sosok pemimpin lima tahun kedepan, merupakan sikap politik yang sudah dibuktikan. Warga berbondong-bonding datang ke TPS dan mencoblos kertas suara.
Kesadaran memilih dan menentukan tidak sekali jadi. Namun, berangkat dari sebuah proses dan butuh waktu. Kesadaran ini, tidak sekali jadi. Ada proses pendidikan politik. Ada interaksi. Dari berbagai pemberitaan di media massa, orasi para kandidat, dan berbagai informasi lainnya.
Apalagi dengan era yang semakin global seperti sekarang. Informasi bisa diperoleh dengan mudah, cepat dan massal. Karenanya, hampir susah untuk menyembunyikan fakta dan berbagai borok yang ada. Tinggal, bagaimana orang punya keberanian untuk melakukannya.
Dalam hal ini, ada beberapa mekanisme kontrol dan pengawasan yang bisa dilakukan. Tentunya, siapa harus melakukan apa, sesuai kemampuan dan keahliannya. Warga yang mengetahui peristiwa, harus melaporkannya. Aparat hukum yang dilapori, harus memproses laporan dan melakukan tindakan. Awak media yang tahu peristiwa, harus memberitakan dengan berbagai prinsip dan etika jurnalistik yang baik. Bila hal itu bisa dilakukan, berbagai penyimpangan bisa dikurangi sekecil mungkin.
Bagaimanapun, niat melakukan penyimpangan muncul, karena adanya celah dan peluang. Bila semua orang memiliki kepedulian menutup dan menambal celah tersebut, semua orang pasti bisa menikmati hasil pembangunan. Bukan hanya segelintir orang saja.
Karenanya, menjadi kewajiban semua pihak, saling mengawasi dan mengingatkan. Akan pentingnya kelangsungan pembangunan kedepan. Dan, bagi yang sudah berjanji dan menawarkan program dalam kampanyenya, saatnya mengawasi dan melihat praktek dari pelaksanaan janji yang sudah terucap.
Janji merupakan sesuatu yang abstrak. Di Indonesia ini paling banyak agama. Tapi juga paling banyak terjadi korupsi. Terkadang, ketika orang dilantik dengan sumpah Alqur’an, Alkitab, atau apapun di atas kepalanya, hal itu hanya sebuah seremoni saja. Bukan sebuah janji kepada Sang Pencipta, Agama, atau Rakyat yang telah memilihnya.
Karenanya, harus ada mekanisme yang mengontrol dan melihat, bagaimana proses pembangunan dilakukan. Semua harus berperan dalam hal ini. Sehingga pembangunan bisa dinikmati oleh semua warga.
Bagi para kandidat yang terpilih, tentu harus memiliki kesadaran untuk membuktikan janji tersebut. Bila tidak, warga bakal menuntut janji, dan tak bakal memilih pada pemilihan berikutnya. Karena kesadaran warga bukanlah hanya sebatas beras dan sembako. Namun, lebih dari itu. Ada karakter yang mereka nilai dari sosok Sang Kandidat atau Pemimpin.□
Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 26 Oktober 2008
Fotografer Muhlis Suhaeri
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
3:26 AM
0
comments
Labels: Opini
Wednesday, October 22, 2008
Makanan dan Minuman Bermelamin Masih Beredar
Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Masyarakat kembali dikejutkan dengan berbagai penemuan tentang makanan dan minuman yang mengandung bahan berbahaya. Fakta tentang efek dan akibat dari mengkonsumsi makanan ini, seakan dipandang sebelah mata oleh pihak berwenang. Juga bagi mereka yang ingin mendapat keuntungan dari sebuah perdagangan yang dilakukan.
Meski sudah sering beritakan kalangan media massa, makanan dan minuman yang mengandung bahan berbahaya melamin, masih beredar di pasaran. Fakta dan masih ditemukannya biskuit dan susu yang mengandung melamin, membuktikan pihak berwenang tidak tanggap dan mengabaikan keselamatan warga negara.
Padahal, efek dari makanan dan minuman mengandung bahan bermelamin dari China, sudah sangat jelas. Puluhan nyawa bayi di China melayang, dan banyak lagi yang mengalami gagal ginjal.
Ini sebuah permasalahan serius. Karenanya, pihak yang terkait, dalam hal ini pemerintah, harus serius pula menanganinya.
Beredarnya makanan dan minuman bermelamin di Kalimantan Barat, tak lepas dari mudahnya barang itu masuk melalui perbatasan. Kendornya pengawasan di lintas batas ini, menjadi surga paling empuk bagi para pemasok barang.
Tak heran bila di berbagai swalayan besar dan toko kecil di seluruh Kalbar, mudah ditemukan makanan dan minuman produk Malaysia. Kejadian yang sudah lama terjadi tersebut, kembali menemukan gaung dan gugatan dari warga, seiring dengan ditemukannya bahan berbahaya dari produk tersebut.
Lemahnya pengawasan dan pembiaran terhadap berbagai produk tersebut, berakibat pada beberapa hal. Pemerintah tak mendapatkan pemasukan pajak dari barang yang diperdagangkan. Masyarakat juga tak mendapatkan jaminan keselamatan dari produk yang diperjualbelikan. Bagaimanapun, sebuah produk makanan dan minuman, layak dikonsumsi bila sudah lolos dari uji klinis.
Menilik dari permasalahan tersebut, kiranya pemerintah melalui pihak berwenang, harus berbuat tegas dan melakukan tindakan. Agar barang berbahaya tidak bisa masuk ke Kalimantan Barat. Tindakan tegas tentu bisa diambil melalui berbagai razia dan penelusuran di lapangan terhadap produk ini. Pemerintah juga harus kembali mensosialisasikan berbagai produk berbahaya tersebut kepada masyarakat.
Bila tidak, korban yang sudah terjadi, akan terulang kembali. Kita tentu tak ingin, kejadian itu berakibat pada keluarga sendiri. Karenanya, semua harus bekerja sama, untuk menangani hal tersebut.
Bukankah melindungi dan mengamankan warga dari berbagai bahaya makanan dan minuman berbahaya, merupakan tanggung jawab pemerintah. Sebab, pemerintah yang memiliki kekuatan infrastruktur, kebijakan dan personel, untuk melakukannya.
Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 22 Oktober 2008
Gambar diambil dari www.fomca.org.my
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
3:46 AM
0
comments
Labels: Opini
Wednesday, October 1, 2008
Kembali Suci Selamanya
Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Hari Raya Idul Fitri merupakan perayaan yang dilakukan secara bersama sebagai bentuk kembalinya manusia pada kesucian, sebagaimana awal manusia diciptakan. Itulah inti dari khutbah yang disampaikan Dr. Aswandi, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tanjungpura (Untan), pada salat Idul Fitri di Masjid Mujahidin, Jalan A Yani, Pontianak, Rabu (1/10).
Kalimat fitri merupakan ajaran penting Islam. Bahwa, muasal manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan bersih. Oleh karena itu, manusia bersifat hanif. Dalam artian, selalu merindukan dan mencari yang benar dan baik.
Kebenaran dan kebaikan sesuatu yang alami. Sedangkan, kepalsuan dan kejahatan tidak alamiah. Bertentangan dengan jati diri manusia yang ditetapkan Allah SWT.
“Jadi, inti dari perayaan Idul Fitri adalah, bersihnya kita dari dosa kepada Allah,” kata Aswandi. Dilengkapi dengan memohon maaf kepada sesama, serta saling memaafkan. Terutama kepada kedua orang tua, saudara dan saudari, dan para tetangga.
Pentingnya memohon maaf, tercermin dari doa malaikat yang diamini Nabi Muhammad SAW. Ketika itu, Beliau membaca khutbah kedua pada salat Jumat pada Ramadan. Yakni, tidak diterima ibadah puasa seorang hamba, ketika Idul Fitri tidak saling memohon maaf.
Hal itulah yang membuat manusia di seluruh penjuru dunia, berusaha balik dan kembali ke tempat asal mereka berada. Demi bersilaturahmi dan saling memohon maaf.
Kehidupan itu mempersyaratkan kondisi netral atau fase kesucian. Dosa kepada sesama, hanya dapat pengampunan dari Allah SWT, jika sesama manusia saling memaafkan. Karenanya, awal baru kehidupan hanif, hendaknya dimulai dengan merajut dan memantapkan kembali silaturahmi. Saling memaafkan, tanpa melihat status dan kedudukan dalam masyarakat.
Setelah mengalami masa pembinaan fisik dan mental menuju kesucian di bulan Ramadan, banyak manusia dengan mudah kambuh kembali kepada kebiasaan tidak baik yang pernah dilakukan. Ahli psikologi menjelaskan, fenomena kambuh kembali cenderung terjadi 80 persen, dalam waktu 90 hari. Sebanyak 60 persen kekambuhan berawal dari kesulitan emosional seperti perilaku tidak sabar dan tidak mampu menahan amarah.
Sekarang ini, rasa kemanusiaan semakin merosot. Beberapa tahun lalu, puluhan rektor berkumpul dalam suatu konferensi di Universitas Michigan, Amerika Serikat. Mereka tersentak dengan sebuah fenomena. Sekarang ini, manusia memiliki orang terdidik dan pintar yang jauh lebih banyak sepanjang sejarah. Setiap tahun memiliki lulusan dengan jenjang pendidikan lebih banyak. Namun, nilai kemanusiaan yang dimiliki, berpenyakit atau cacat. Tidak utuh.
Ini bisa dilihat dengan semakin banyak orang pandai, tetapi semakin sulit mencari orang jujur. Bernalar tinggi, tapi berhati kering. Sarjana pandai merekayasa dalam teknik, namun merayap dalam etik. Kaum intelektual pongah dengan pengetahuan, tapi kebingungan menikmati kehidupan.
Sekarang ini, manusia bukan hanya membutuhkan pengetahuan. Tapi juga kemanusiaan. Sesuatu yang bersifat spritual.
Kini, bulan Ramadan telah purna. Mulai hari ini, semua manusia memikul beban berat, mempertahankan kesucian yang telah diperoleh. Apalagi dengan momentum bakal diselenggarakannya Pilkada di Kabupaten Kubu Raya, Sanggau, Pontianak, dan di Kota Pontianak. Pada saat bersamaan, juga diselenggarakan persiapan Pemilu, memilih anggota legislatif dan presiden pada 2009. Dari pengalaman yang pernah terjadi, setiap penyelenggaraan Pemilu, sering menimbulkan konflik. Fitnah juga tumbuh subur di tengah masyarakat.
“Mulai saat ini, kita akan diuji oleh Allah SWT. Apakah termasuk golongan orang yang terus mensucikan diri, berzikir atau tetap mencintai dan mendahulukan hegomeni atau kesenangan dunia,” kata Aswandi.
Manusia pantas cemas. Berhati-hati. Memikirkan dan menjaga diri, setelah bulan Ramadan berlalu. Rasulullah sering merintih memohon ampunan. Padahal, Beliau manusia suci, dan insan yang sudah mencapai kesempurnaan.
Kesucian hati dan perbuatan, berhubungan erat dengan kesucian pikiran. Kesucian pikiran tergantung pada informasi yang dibentuk oleh pikiran tersebut. Baik yang diperoleh melalui pengamatan mata maupun telinga. □
Edisi cetak ada di Borneo Tribune 1 Oktober 2008
foto oleh Jessica Wuysang
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
3:32 AM
1
comments
Labels: Agama