Monday, May 21, 2007

Bingkai Kota Melalui Penelusuran Sejarah

Oleh: Muhlis Suhaeri dan Mujidi

Ia ingin mengaktualisasikan diri. Berjuang sesuai dengan kemampuannya di bidang penelitian sejarah. Ia menganggap, Pontianak merupakan kota kedua kelahirannya. Di kota inilah, ia melebur dalam penyatuan. Pada diri dan lingkungan sosial.


“Saya ingin menyumbangkan pikiran dan tenaga, melalui program yang kita buat,” kata Dra. Lisyawati Nurcahyani, Msi, Kepala Balai Kajian Sejarah dan Nilai tradisional Pontianak.


Awalnya, ia kurang tertarik dengan ilmu sejarah. Tapi, seiring perjalanan waktu, ia makin tertarik dan mencintainya. “Sejarah membuat orang lebih bijaksana, karena punya pengalaman. Sejarah bisa jadi guru untuk melangkah dan mengambil keputusan,” kata Lisyawati.

Ia kelahiran Surakarta, Jawa Tengah. Karirnya diawali dengan belajar di Fakultas Sastra, Jurusan Sejarah, Universitas Diponegoro (Undip), Semarang. Lulus dari sana, ia langsung menyeberang ke Pontianak, mengikuti sang suami, Siswanto. Yang merupakan teman sekampus.

Siswanto, orang Jawa Pontianak. Sekarang ini, ia bekerja di kantor Bappeda, Kota Pontianak. Dari perkawinannya, Lisyawati dikarunia lima kanak. Empat lelaki dan satu perempuan.

Tak mudah memulai kehidupan baru di Pontianak. Dengan keragaman masyarakat, budaya, dan etnis, jadi tantangan sendiri. Kesulitan terutama dalam masalah sarana dan prasarana. Ketika musim kemarau, kehidupan seakan terhenti. Air susah. Ledeng tak mengalir. Air hujan pun jadi pilihan.

Pertama minum air hujan yang ditampung di tempayan, ia merasa geli. Seiring berjalannya waktu, ia terbiasa. Karena memang itulah, satu-satunya air minum yang bisa dikonsumsi. Mengandalkan air PAM, kualitasnya masih sebatas, kebutuhan mandi, cuci dan kakus. Belum lagi, masalah kabut asap dan selera makanan.

Menurutnya, masyarakat Pontianak lebih menyukai nasi manyar. Nasi agak kering dan memisah. Sementara ia, terbiasa makan nasi agak lengket, seperti ketan.

“Itu masa-masa sulit,” katanya. Tak mudah menghadapi. Butuh waktu tiga hingga lima tahun penyesuaian.

Beruntung, ia punya suami yang mengerti dan menguatkannya. Selain itu, tuntutan profesi dan berbagai penelitian yang ia lakukan, makin membuatnya mencintai kota ini. Banyak hal baru bisa digali.

Ada beberapa kendala memang dalam penelitian. Ia sulit mendapatkan sumber lisan, maupun tertulis. Dokumen penting sebagai pendukung sejarah. Ini tentu saja menyulitkan dirinya, ketika menulis. Padahal, Kalbar merupakan ladang penelitian yang tidak ada habisnya. Beragam etnis, budaya, dan sejarah, seakan tak ada habisnya untuk digali.

Penelitian lapangan juga memberinya berbagai pengalaman pribadi. Kadang lucu dan menggelikan. Misalnya saja, ketika ia melakukan penelitian di Sambas. Ia harus mandi di sungai. Apa boleh buat, inilah satu-satunya sarana membersihkan diri.

Mandi di sungai bukan tak ada kendala. Ia harus berjalan melewati perkampungan. Dengan memakai kemban atau kain yang dililitkan ke badan sebatas dada. Karena malu dan tak terbiasa, ia harus menunggu hingga perkampungan sepi dan gelap. Jadi, kalau mandi pagi, ia harus menyeberang kampung pada jam lima pagi. Bila mandi sore, ia harus menunggu hingga jam setengah tujuh malam.

Tak hanya itu. Berjalan puluhan kilometer, jadi kegiatan biasa. Ada saja pengalaman dialami. Ketika melakukan penelitian, ia punya pengalaman menggelikan. Ketika pulang dari daerah penelitian, beberapa warga bertanya padanya.
“Habis menyanyi ya, mbak?”

Baginya, menjalani kerja penelitian sejarah dan budaya, memang mengasyikkan. Ia merasa tertantang, untuk lebih mempopulerkan Pontianak dan Kalimantan Barat. Banyak sejarah belum tergali. Terutama mengenai kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat.

Dari segi budaya, juga punya keunikan tersendiri. Terutama budaya dan etnis Cina. Di Kalbar, penduduk Cina menempati urutan ketiga dari segi jumlah, setelah etnis Dayak dan Melayu. Ini tidak ditemui di propinsi lain.

Masyarakat Cina di Kalbar, sangat spesifik. Mereka mengisi beragam profesi. Ada kuli, sopir, petani hingga pengusaha. Bahasa dan dialegnya juga beragam. Dari aspek budaya, mereka melestarikan budaya. Bila ini digali, bisa jadi peluang bidang budaya dan sejarah.

Lalu, bagaimana dengan perkembangan kota, semasa tinggal di Pontianak? Yang pasti, banyak perubahan. Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pontianak tahun 1990-an, kota ini masih sepi. Jam tujuh malam, tak ada orang di jalan.

Pembangunan sarana dan prasarana, gedung, jalan, dan jembatan, banyak dilakukan. Sarana transportasi berkembang dengan pesat. Maskapai penerbangan dan pelayaran, marak dan berkembang. Menurutnya, peningkatan suatu daerah, bisa dilihat dari tranportasinya. Kalau transportasi lancar, mobilitas penduduk tinggi, perkembangan kota bakal cepat berkembang. Begitu juga sebaliknya.

Ada satu tempat jadi pilihannya, ketika ingin berlibur. Ia senang agrobisnis dan suasana pedesaan. Tak heran, ia selalu datang ke Punggur untuk rekreasi. Di sana, ia bisa menikmati suasana pedesaan, dan jauh dari polusi udara. Punggur merupakan pusat kebun langsat, jeruk sambal, dan beragam buah-buahan.

Ia menilai, Punggur mulai berubah. Petani menyekat tanahnya untuk dijual. Lahan kebun berubah jadi perumahan. Perlahan tapi pasti, kelezatan langsat Punggur, mulai tergusur.

Tak jauh dari Punggur, ada satu tempat yang juga menjadi kesukaannya. Ia senang menyambangi pelabuhan ikan di Sungai Kakap. Di sana, ia bisa menikmati beragam makanan hasil laut.

Namun, ada tempat yang membuatnya merasa suntuk dan semrawut. Daerah itu adalah Pasar Tengah. Menurutnya, kawasan itu tidak tertib dan semerawut. Tak membuat orang merasa aman. “Pokok ndak sukalah. Kawasannya semerawut, tidak aman, dan tidak ditata dengan bagus,” kata Lisyawati.

Pasar Tengah merupakan pasar pertama kali di Pontianak. Kehadiran pasar itu, merupakan satu ruang, pemenuhan berbagai kebutuhan Belanda, ketika itu. Parit berfungsi sebagai sarana perdagangan dan jalur transportasi. Seperti, pasang terapung.

Kawasan itu seharusnya ditata, supaya orang merasa nyaman, ketika belanja dan menjual barang. “Saya tidak setuju pasar tradisional hilang, karena itu salah satu pasar masyarakat kelas bawah,” kata alumni, S2 Sospol Untan, ini.

Ada satu masalah yang selalu menganggunya di kota ini. Selalu ada banjir. Air menggenangi kantor, rumah, dan perkotaan. Ia menyayangkan hilangnya berbagai parit di Pontianak. Parit-parit itu merupakan satu pemecahan terhadap banjir di Pontianak.

“Saya rasa, harus ada peningkatan dari segi pembangunan saluran air,” kata Lisyawati.

Apa rahasia sukses dalam menjalani profesinya?

“Saya selalu berpikir positif dan terbuka,” kata Lisyawati. Begitu pun ketika memimpin kantor. Ia menerapkan sikap itu. Tak heran, pada usia relatif muda, ia sudah menjadi kepala Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional di Pontianak.

Memimpin pada usia relatif muda, terkadang punya pengalaman tersendiri. Semisal ketika ia melakukan kunjungan atau tugas. Seorang ibu bertanya padanya.

“Lho, mana kepala kantornya?”
“Ya, saya.”

Ia dikira bukan kepala kantor. Maklumlah, sudah terlanjur ada di benak kita. Seorang kepala kantor, biasanya berumur, dan lelaki. Kalau dipikir, agak menyinggung harga diri memang, karena tidak dianggap. Tapi, ia berpikir positif saja.

Itulah, satu sosok warga Kota Pontianak. Ia ingin mendarmabaktikan kemampuannya di kota ini. Bersama waktu, ia ingin membingkai kota, melalui penelusuran sejarah dan nilai tradisional di dalamnya.□

Foto by Mujidi
Edisi Cetak, Harian Borneo Tribune, 21 Mei 2007

Baca Selengkapnya...

Saturday, May 19, 2007

Mencari Identitas dan Falsafah Kota

Oleh: Muhlis Suhaeri dan Mujidi

Semestinya, pembangunan sebuah kota, merujuk pada falsafah dan tujuan, ketika kota itu didirikan. Harus ada landasan berpikir, kota dibangun karena apa, dan kota bisa hidup dari mana.

Lelaki itu telah sepuh. Namanya Sudarto. Sikapnya ramah dan bersahabat. Guratan-guratan garis menanda pada wajahnya. Ia antusias dalam berbicara. Kalimatnya tersusun rapi dan terstruktur. Setiap fakta dan peristiwa, ia ingat betul datanya. Orang bilang, ia perpustakaan berjalan.


Ya, memang demikianlah adanya. Bicara dengannya, ibarat membuka puluhan lembar halaman buku. Segar dan mencerahkan. Malam itu, di rumahnya yang sederhana dan tertata apik, kami berbincang.

Setiap sudut rumahnya terisi rak buku dan majalah. Semua tersusun rapi. Puluhan gerabah, menghias lemari dan meja. Seolah mengikat si empunya rumah, pada daerah penghasil gerabah tersebut, Kasongan, Yogyakarta.

Sudarto kelahiran Yogyakarta. Pada awal 1960, ia hijrah ke Pontianak. Di tempat inilah, ia mendedikasikan diri pada pendidikan. Ia begitu peduli dengan pelestarian benda dan sejarah. Tak heran, ia begitu antusias, ketika berbincang tentang topik itu.

“Bila kita mengamati letak kota-kota di Kalimantan Barat, ada satu persamaan bisa diambil dari letak kota tersebut,” kata Sudarto, memulai dialog.

Kota selalu dibangun pada pertemuan dua aliran sungai. Misalnya, Pontianak yang dibangun pada pertemuan Sungai Kapuas dan Landak. Sintang, pertemuan Sungai Kapuas dan Melawi. Sambas, pertemuan Sungai Teberau dan Sungai Sambas. Sanggau, pertemuan Sungai Sempayan dan Sungai Kapuas. Sekadau, pertemuan Sungai Sekadau dan Sungai Kapuas. Ketapang, pertemuan Sungai Pawan dan Sungai Laur.

Para pendiri kerajaan, selalu membangun ibukota kerajaan pada pertemuan dua aliran sungai. Ini tidak lepas dari falsafah dan identitas dari masyarakat tersebut. “Masyarakat kita adalah berdagang, dan mendapatkan pajak dari lalu lintas perdagangan kapal yang lewat,” kata Sudarto, konsultan Pendidikan di Pontianak.

Lain halnya kota di Jawa. Misalkan saja, kota yang didirikan jaman kerajaan Mataram, Surakarta dan Yogyakarta. Kedua kota ini, hidup dan mengandalkan hasil pertanian. Karenanya, kota pun berdiri pada tanah subur, dan cukup menyediakan air bagi pertanian. Dari hasil pertanian itulah, dijual dan menjadi komoditas perdagangan.

Kota-kota di Kalimantan Barat, tidak punya lokasi pertanian. Karena itulah, konsep kota harus dikembangkan menjadi kota perdagangan, jasa dan industri. Ngabang dan Mempawah, merupakan perkecualian. Ngabang terletak di pedalaman, sehingga yang cocok dikembangkan adalah perkebunan. Ngabang sejak dulu mengandalkan hasil ekstraktif, seperti, tambang dan getah karet. Mempawah hanya kota transit. Sampai sekarang pun, kota ini sulit maju. Maka, rencana pembangunan pangkalan angkatan laut dan pelabuhan perikanan, dapat membuat kota ini lebih berkembang.

Lalu, bagaimana mencari jati diri kota Pontianak? Sejarah berdirinya Pontianak, berawal dan berpusat di sekitar istana Kadriah, serta masjid Jami’, Pontianak Timur. Pada perkembangannya, Belanda masuk dan mendirikan kota pemerintahan di Pontianak Selatan. Belanda minta tanah kerajaan, dan diberi lahan seribu tonggak. Lokasi tersebut berawal dari gertak satu di Sungai Jawi, hingga pusat perbelanjaan Ramayana di Tanjungpura. Daerah itulah yang disebut The Old Town.

Mau tidak mau, kita harus mengakui konsep pembangunan perkotaan, yang dilakukan Belanda. Ketika membangun Pontianak, Belanda sangat memahami falsafah pembangunan kota. Satu contoh, ketika melihat Pontianak berrawa dan ketinggiannya tidak lebih dari tiga meter di atas permukaan air. Di mana pun daerah berawa, selalu tidak sehat. Iklimnya lembab. Air tidak bagus. Banyak nyamuk. Kemudian dibuatlah cara, agar air tidak menggenang dan bisa berputar.

Belanda membuat parit-parit besar mengelilingi kota. Setiap parit terhubung dengan parit lainnya. Parit berfungsi sebagai jalan air dan membersihkan kota. Pasang dan surutnya air, bisa membersihkan berbagai kotoran, sehingga kota tetap bersih. Sirkulasi air juga berfungsi mendinginkan suhu panas.

Hingga 1960, kondisi parit masih bersih dan lebar. Awal 1970, Pontianak jarang terjadi banjir. Dalam perkembangannya, pembangunan kota yang tidak memahami falsafah kota, membuat parit menjadi hancur. Atas nama pembangunan jalan dan bangunan, banyak parit ditutup dan dipersempit. Akibatnya, parit tidak dapat menampung air, ketika hujan. Banjir pun menghadang. Berbagai infrastruktur kota, turut hancur. Efek dan kerugiannya, tentu saja masyarakat yang menanggungnya. Alhasil, lingkungan kota jadi tidak sehat.

Kini, sisa-sisa parit, masih bisa kita lihat di sepanjang Jalan Merdeka. Parit di Tanjungpura, sudah ditutup dan terjadi penyempitan. Bahkan, parit di Jalan Jawa atau Uray Bawadi dan Jalan Sumatera atau Johan Idrus, malah sudah hilang.

Falsafah dan konsep penataan kota jaman Belanda, mewujud pada penanaman pohon. Pemerintahan Belanda menamam pohon Singkup sepanjang jalan dan parit. Akar Singkup kuat dan berfungsi menahan tanah. Buahnya seperti Manggis dan berwarna kuning. Warna daun hijau tua dan lebat. Ketika musim buah tiba, keindahan memancar sepanjang jalan. Warna hijau tua berpadu dengan kuning, menimbulkan keindahan tersendiri.

Sekarang ini, kita banyak menebang pohon Singkup, dan menggantinya dengan pohon Angsana. Padahal, Angsana merupakan pohon yang cepat runtuh, dan akanya tidak kuat menahan tanah.

Begitu pun dengan bangunan kuno dan bersejarah. Pemerintah kurang punya perhatian. Alih-alih untuk merekonstruksi bangunan kota tua. Bangunan yang ada malah dihancurkan. “Mereka cenderung menghancurkan bangunan-bangunan, atau sesuatu yang punya nilai sejarah,” kata Sudarto.

Salah satu contoh, bekas bangunan benteng Belanda, yang kini berubah jadi pasar Nusa Indah. Atau, bangunan bekas penjara. Yang kini berubah jadi Rumah Sakit Antonius. Padahal di penjara itu, beberapa pejuang Kalbar pernah ditawan dan dieksekusi. Dengan hilangnya bangunan bersejarah, hilang pula nilai sejarah dan peristiwa yang melingkupinya.

Hendaknya, pembangunan kota, harus ada nilai kearifan. Pembangunan tidak hanya bersandar pada nilai ekonomis semata. Faktor sejarah, sosial dan budaya, juga menjadi prioritas. Bukankah, bila bangunan tua dan sejarah dipelihara, Pontianak bisa menjadi tujuan wisata. Orang berduyun-duyun datang, untuk menelusuri dan melihat kota tuanya.

Kalau pemerintah punya kepedulian kuat, bangunan dan wilayah yang punya nilai sejarah, tidak perlu dirubah. Kalau sudah dirubah dan jadi modern, orang tidak tahu, ini kota apa. Yang hidup, terputus dari akar sejarahnya. Kita memang tidak ingin berpikir pada sesuatu dimasa lampau. Tapi, setidaknya, kita bisa sesuatu dari masa lampau, untuk kepentingan masa depan.

Agaknya, kita bisa bercermin dari kata-kata bijak, mantan perdana menteri Inggris semasa perang dunia kedua, Sir Winston Churchill, “Pada mulanya, orang-orang membangun kota dan gedung-gedung. Kemudian justru gedung-gedung itulah yang membentuk identitas orang-orang yang membangunnya.”

Ada satu gundah, ketika kami mulai melangkah, meninggalkan rumah berlampu temaram itu. Ketika gedung-gedung bersejarah hilang dan tergusur, kemana generasi mendatang, mencari identitas diri itu?□

Foto by Muhlis Suhaeri, "Deretan Nasib."
Edisi Cetak, Harian Borneo Tribune, 19 Mei 2007

Baca Selengkapnya...

Tuesday, May 15, 2007

Standar Kompetensi Wartawan, Suatu Keharusan

Oleh Nurul Hayat
ANTARA


Pontianak, 14/5 (ANTARA) - "Masyarakat yang cerdas terbentuk dari wartawan yang cerdas. Wartawan akan cerdas jika standar kompetensi wartawan tercapai," kata Wakil Ketua Dewan Pers, Sabam Leo Batubara dalam diskusi "Standar Kompetensi Wartawan" di Pontianak, pada awal Mei lalu.

Kecerdasan wartawan dalam mengangkat persoalan atau informasi untuk disiarkan akan membantu menambah pengetahuan dan wawasannya, serta membuka pemahaman pembaca terhadap suatu permasalahan yang sedang terjadi, katanya.


Menurut dia, wartawan yang cerdas ada karena profesionalisme yang dibangun dengan baik, ditandai dengan kualitas atau mutu karya yang dihasilkan wartawan tersebut.


Namun, kondisi yang terjadi di Indonesia dewasa ini, kualitas wartawan dipertanyakan. Kualitas wartawan yang diukur melalui kompetensi dewasa ini tampak semakin terpinggirkan, karena turunnya reputasi dan harga diri mereka yang berkecimpung dalam profesi itu.

Kondisi ini, memerlukan perhatian serius banyak pihak.

Katanya, banyak kasus yang mengakibatkan reputasi dan harga diri wartawan rusak. Salah satunya, karena ulah segelintir oknum ataupun pihak yang mengatasnamakan wartawan atau jurnalis. Contoh kasusya, pemerasan dengan korban mulai dari masyarakat biasa hingga pejabat pemerintah.

Pelaku pemerasan, mengaku sebagai wartawan, berhasil mendapatkan uang dari korban-korban yang takut kesalahannya terbongkar dan diketahui masyarakat. Reputasi wartawan menjadi rusak. Karena para korban -- tentu saja tetap -- akan menuding wartawan sebagai pelaku pemerasan.

Terkait dengan kasus itu, ujarnya, kompetensi menjadi faktor penting yang harus dicapai seseorang yang berprofesi wartawan, sehingga terdapat pembeda antara wartawan asli dengan wartawan gadungan atau istilah populernya "bodrek".

"Wartawan yang sesungguhnya (diharapkan) bisa berpikir seribu kali jika hendak melakukan aksi serupa. Adanya kompetensi, juga menjadi pembeda dalam persoalan intelektualitas dan kualitas," katanya.

Sesungguhnya, apa yang dimaksud dengan kompetensi wartawan?

Menurut Ketua Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Prof DR Moestopo, DR Gati Gayatri, yang dimaksud dengan "Kompetensi Wartawan" adalah kemampuan seorang wartawan melaksanakan kegiatan jurnalistik yang menunjukkan pengetahuan dan tanggung jawab sesuai tuntutan profesionalisme yang dipersyaratkan.

Kompetensi, menurut Dewan Pers dalam buku "Kompetensi Wartawan" adalah Pedoman Peningkatan Profesionalisme Wartawan dan Kinerja Pers. Hal ini mencakup beberapa aspek, yakni aspek penguasaan keterampilan, pengetahuan, dan kesadaran.

Ketiga aspek itu diperlukan dalam melaksanakan tugas jurnalistik. Kesadaran mencakup di dalamnya, etika, hukum dan karir. Sementara pengetahuan meliputi pengetahuan umum, pengetahuan khusus dan pengetahuan teori jurnalistik dan komunikasi (sesuai bidang kewartawanan). Sedangkan keterampilan mencakup penguasaan menulis, wawancara, riset, investigasi, kemampuan penggunaan berbagai peralatan yang terkait dengan pekerjaan wartawan.

Pencapaian kompetensi

Upaya apa saja yang dapat dilakukan untuk pencapaian kompetensi?

Upaya pencapaian standar kompetensi bagi wartawan tidak bisa dipisahkan dari keberadaan perusahaan pers.

Menurut Leo Batubara, perusahaan pers yang baik harus memenuhi standar profesional seperti memiliki kompetensi sebagai pebisnis media, mengoperasikan SDM yang memenuhi standar kompetensi, memiliki atau minimal mampu menyewa peralatan yang diperlukan dan memiliki modal yang cukup.

Namun, kenyataannya, dari 829 perusahaan pers yang ada saat ini, hanya 30 persen saja yang sehat bisnis. Selebihnya tidak sehat.

Negara juga punya tanggung jawab untuk standar kompetensi wartawan dengan mendirikan sekolah jurnalistik sebagai wadah pendidikan bagi wartawan, melakukan reformasi politik hukum negara yang mengkriminalisasi pers dan mengubah penyelenggaraan negara yang punya kecenderungan mengekang dan mengontrol pers.

Selain itu, ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai standar kompetensi wartawan, seperti melalui pendidikan jurnalistik, pelatihan jurnalistik dan sistem pengembangan karir di mana wartawan memiliki level tertentu, meliputi yunior, madya, dan senior. Penentuan itu berdasarkan kemampuan, pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki.

Pada umumnya, wartawan yunior, madya, dan senior, bukanlah lulusan dari lembaga pendidikan tinggi khusus bidang tersebut. Hal ini tentu saja memperpanjang proses pencapaian kompetensi, bila dibandingkan mereka yang memang lulusan pendidikan (S1) jurnalistik, komunikasi atau publisistik.

Masalah tersebut meski masih dapat diatasi dengan adanya pelatihan jurnalistik yang disediakan oleh sejumlah lembaga pendidikan atau pun pengelola media massa, namun hal itu masih amat jarang ada.

Kebanyakan perusahaan media langsung melepas wartawan muda/yunior untuk terjun ke lapangan, tanpa terlebih dahulu dibekali dengan pemahaman akan ilmu dan pengetahuan bidang jurnalistik atau kewartawanan. Sehingga ketika menulis berita, ditemukan banyak kesalahan dan kekuranglengkapan informasi yang hendak disampaikan kepada publik.

Pendidikan dan pelatihan menjadi penting, sehingga karir jurnalistik bisa berkembang. Pendidikan dan pelatihan, menjadi syarat bagi seorang jurnalis jika ingin berkembang dan profesional dalam menjalankan pekerjaan. Seorang wartawan yang menjalankan tugas jurnalistik dengan profesional, akan dihargai di muka publik.

Pada akhirnya, seorang wartawan atau jurnalis, harus punya kemampuan dan kompetensi di dalam menjalankan profesinya. Tanpa itu semua, mustahil kemajuan di bidang jurnalistik bisa dicapai.

Sebaliknya, wartawan yang "bodoh", tidak saja akan "membodohi" pembacanya, tetapi juga akan memproklamirkan "kebodohannya" itu kepada publik melalui karyanya.***


Foto by Muhlis Suhaeri.
Edisi Cetak ada di Borneo Tribune.

Baca Selengkapnya...

Thursday, March 8, 2007

Terkecoh Telepon "Pak Sekjen"

Majalah Gatra, Rubrik Hukum

Zulkifli Hasan (Dok. GATRA/Astadi Priyanto)Gonjang-ganjing "rapelan anggota DPRD" akhirnya makan korban. Maaf, bukan korban secara politik. Tapi, ini yang agak malu-maluin, korban aksi penipuan. Kebetulan yang terkena apes semuanya kader Partai Amanat Nasional (PAN). Setidaknya ada enam kader, dengan kerugian Rp 100-an juta.

Para korban tersebar di beberapa daerah, seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, dan Jawa Barat. Mereka tertipu pada pertengahan Februari silam, dan baru diungkapkan Sekretaris Jenderal (Sekjen) PAN, Zulkifli Hasan, Kamis pekan lalu. "Oknum penipu itu beroperasi dengan cara menguras saldo," kata Zulkifli Hasan, geregetan.

Modus tipu-tipu ini sebetulnya sudah lawas. Yakni menguras rekening korban melalui panduan telepon. Korban disuruh ke ATM (anjungan tunai mandiri) terdekat, lalu mulailah dipandu sedemikian rupa sehingga tanpa sadar korban kemudian mentransfer duitnya ke rekening penipu.


Menariknya, kali ini penipu beraksi dengan membonceng isu pengembalian uang rapelan anggota DPRD, terkait Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 37 Tahun 2006 yang tengah direvisi itu. Si penipu, mengaku petinggi PAN, mengatakan akan memberi dana kompensasi bagi kadernya yang telah mengembalikan rapelan tersebut.

Besarnya kompensasi disebutkan sampai Rp 38 juta. Siapa yang tak ngiler? Umumnya korban merasa surprised sehingga manut saja dikomando si penipu. Simaklah pengalaman Muchlis Panaungi, anggota DPRD Sulawesi Selatan dari Fraksi PAN. Mula-mula telepon selulernya dihubungi seseorang yang mengaku Sekjen PAN di Jakarta.

Lewat telepon seluler, "Pak Sekjen" itu mengabari bahwa Muchlis bakal mendapat dana kompensasi Rp 38 juta. Selagi Muchlis bengong, si penelepon mencecarnya dengan mengatakan, "Harus diterima sekarang juga karena harus segera dilaporkan apakah sudah menerima dana tersebut," tutur Muchlis, yang menerima rapelan sekitar Rp 100 juta.

Guna meyakinkan korban, si penelepon meminta nomor rekening Muchlis berikut saldonya. Si penelepon terus mengejarnya, meski Muchlis sempat mengatakan bahwa ia berada di kantor polisi hendak melaporkan kecurigaannya itu. Muchlis malah dianjurkan mengecek ATM, apakah dana dimaksud sudah masuk atau belum.

Diliputi penasaran, Muchlis meluncur juga ke salah satu ATM BNI di kota Makassar. Ketika di dalam ruang ATM, komando lewat telepon selulernya itu terasa makin kuat. "Saya sepertinya disihir," tutur Muchlis. Tanpa sadar, ia bukannya memencet menu cek saldo, melainkan malah menu transfer, termasuk nomor rekening si penelepon.

Alhasil, duitnya Rp 14 juta melayang lewat tiga kali transfer saat itu. Si penipu betul-betul menguras isi rekening korbannya. "Saya baru sadar, ketika mengecek saldo, ternyata tinggal beberapa puluh ribu rupiah," ujar Muchlis, kecut. Kalang kabut ia melapor ke Bank BNI. Terlambat. Duit di rekening penampung itu sudah ditarik.

Di "kota anging mamiri" itu, kader PAN yang kecolongan bukan hanya Muchlis. Rekannya, Nurlinda Aziz, Wakil Ketua DPW PAN Sulawesi Selatan, malah lebih buntung. Duitnya Rp 69 juta melayang ke rekening penipu lewat ATM BNI dan ATM Bank Mandiri. Si penipu berlagak hendak memberikan dana bantuan pemberdayaan perempuan.

Cerita apes yang mencatut nama sekjen partai berlambang matahari terbit ini juga terjadi di beberapa daerah lain. Di Kalimantan Barat, misalnya, tiga kader PAN menjadi korban dengan total kerugian Rp 65 juta. Mereka adalah Abdusamad, Syarif Izhar Azuri, dan Dedi Iswadi.

Sekjen PAN, Zulkifli Hasan, yang dicatut namanya, jelas geram. Ia bertekad melaporkan kasus itu ke polisi untuk diusut siapa pelakunya. Muchlis dan Nurlinda rupanya sudah bergerak duluan, melapor ke kepolisian di Makassar. Toh, hasilnya belum tampak.

Kabid Humas Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan, Komisaris Besar Joko Subroto, menyatakan masih mengusut kasus itu. Ia menyesalkan orang setingkat anggota DPRD atau pengurus partai besar begitu mudah teperdaya. "Seharusnya mereka mengecek dulu benar tidaknya informasi itu," kata Joko. Iya tuh.

Taufik Alwie, Anthony, dan Muhlis Suhaeri (Pontianak)
[Hukum, Gatra edisi 16 Beredar Kamis, 8 Maret 2007]

Baca Selengkapnya...

Thursday, December 21, 2006

Tenun Songket Sambas Mati Suri?

Oleh: Muhlis Suhaeri

Kemajuan peradaban dan teknologi memang bagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, dia sungguh menguntungkan. Tapi di sisi lain, dia akan menggilas yang pernah hadir dan tak sanggup bertahan.

Demikian dengan berbagai produk dan kebudayaan di Nusantara. Yang terdiri dari beribu kepulauan, tentu saja menghasilkan berbagai jenis ragam dan produk budaya berbeda. Ambil satu contoh saja tradisi menenun. Hampir di sebagian besar wilayah Indonesia, ada kerajinan penghasil bahan sandang ini. Dan menjadi satu pertanyaan adalah, sanggupkah warisan budaya tersebut, bertahan menghadapi era globalisasi? Mari kita lihat salah satu faktanya.

Nama tenun ini sesuai dengan nama daerahnya, tenun songket atau tenun ikat Sambas. Kerajinan tenun, kian hari seolah kian terpuruk pusaran waktu. Betapa tidak, hasil kerajinan luar biasa bersahaja itu, seakan mati suri. Mati segan hidup pun enggan.


Pasalnya?
Salah satunya, sungguh sulit memasarkan barang kerajinan ini keluar daerah. Tidak itu saja. Proses produksi juga tersendat. Para pengrajin tersandung dengan pengadaan bahan baku. Benang semakin sulit diperoleh. Kalau pun ada, harganya cukup mahal. Tak itu saja. Sekarang ini susah mencari penenun. Mereka banyak hijrah dan mencari pekerjaan lain di Malaysia.

Alasannya cukup manusiawi. Penghasilan dari menenun, tidak menghasilkan cukup uang. Bahkan, banyak pula pengrajin di daerah ini, menjadi penenun di Brunei. Di sana lebih menjanjikan dari segi pendapatan.

Banyak lika-liku dialami para pengrajin. Padahal, ketrampilan memintal dan merajut benang menjadi kain itu, usianya sudah cukup lama.

“Kerajinan tenun songket Sambas usianya sudah ratusan tahun,“ kata Sahidah (60 tahun), pengrajin dari Dusun Manggis, Desa Tumuk Manggis, Sambas.

Sahidah sudah tiga generasi membuat tenun. Dia mewarisi selembar kain. Usia kain itu mencapai seratusan tahun.

Kini, di desanya tinggal 15 pengrajin saja. Itu pun yang aktif hanya 3 pengrajin. Artinya, pengrajin lain akan membuat kain, bila ada pesanan.

Apa yang menjadi motif dan ciri khas kain songket Sambas?
Orang Sambas biasa menyebutnya dengan suji bilang. Kain songket Sambas, selalu ada pucuk rebungnya. Pucuk rebung merupakan bambu muda. Motif itu bentuknya segi tiga, memanjang dan lancip.

Samidah juga mengembangkan motif sendiri. Motif itu dia adopsi dari berbagai tanaman mau pun hewan. Salah satu yang dia kembangkan adalah motif daun gali. Daun gali pipih dan memanjang bentuknya. Jenis tetumbuhan ini, banyak dijumpai di sekitar sungai Sambas.

Untuk membuat pola dan motif, harus teliti dan tidak asal menggambar. Ada perkaliannya. Biasanya motif itu digambar terlebih dahulu di kertas bergaris dan berkotak-kotak kecil. Bila motif salah mengambarnya, cara menempatkan benang akan salah. Padahal, salah menempatkan satu benang saja, bisa salah semua.

Tenun songket Sambas tidak bisa dipisahkan dengan benang emas. Benang emas itulah sebagai penanda motif. Jaman dulu, benang emas terbuat dari benang emas colok. Ciri dari benang ini ringan dan tahan lama. Warnanya pun tidak pudar, meski telah berusia ratusan tahun.

Pengrajin tidak bisa mendapatkan benang itu lagi. Sekarang ini, pengrajin menggunakan benang emas dari Jepang dan India. Benang dari Jepang cirinya tahan lama dan warnanya tidak pudar. Benang India kasar dan warnanya gampang berubah. Untuk mendapatkan benang, mesti memesan dari Jakarta.

Warna tenun songket Sambas cukup beragam. Biasanya warna cerah. Ada warna merah manggis, orange, warna paru (pink), hijau dan hitam. Peruntukannya, tentu saja untuk perempuan dan lelaki. Ukuran tenun songket untuk perempuan 200 cm kali 1,05 cm. Untuk lelaki, biasa disebut kain sabuk, ukurannya 150 cm kali 60 cm.

Harga kain untuk perempuan yang bagus sekitar Rp 1,5 juta perlembar. Bila pelanggan ingin motif lain, dan motifnya tidak ada di sana, mereka bisa memesan motifnya. Untuk itu, mereka harus rela merogoh kantungnya Rp 2 juta. Kain yang biasa seharga Rp 200.000. Untuk kain lelaki, yang bagus harganya Rp 750.000. Dan yang biasa Rp 150.000.

Bila motif itu sulit, cara pengerjaannya selama satu bulan. Untuk motif biasa saja, sekitar dua minggu. Pengrajin biasanya bekerja dari pukul 7 hingga pukul 17.00. Antara waktu itu, ada jeda dua jam beristirahat. Karyawan banyak juga membawa pekerjaannya ke rumah. Sekarang ini, Sahidah mempunyai 10 karyawan. Bayaran pekerja berfariasi. Untuk kain perempuan yang bagus, pekerja bisa mendapatkan Rp 500.000 perlembar. Dan untuk kain biasa sekitar Rp 50.000.

Proses dari pengerjaan tenun songket Sambas lumayan rumit. Diperlukan kesabaran dan ketelitian melakukannya. Pekerjaan membuat kain melalui beberapa tahap. Pertama, narraw atau memintal. Kedua, nganek, menggabungkan dari perumahan kolong benang ke anekan. Ketiga, nattar, menggulung benang dengan papan tandayan. Keempat, ngubung, menghubungkan benang dari tandayan ke suri (merapatkan benang). Kelima, menenun. Keenam, nyongket, membuat bunga dan memasukkan benang emas ke motif tenunan. Dari semua proses itu, nganek merupakan pekerjaan paling sulit. Bahkan, di kampung itu, tinggal satu orang saja sanggup mengerjakannya.

Sahidah punya obsesi melestarikan tenun ikat ini. Caranya, dia mendidik dan mengajari masyarakat setempat menenun. Belajar menenun membutuhkan waktu lumayan lama. Supaya mampu menenun dengan baik, sperlu waktu sekitar 2 tahunan. Tapi, hal itu juga tergantung dari kecerdasan dan kemampuan seseorang, dalam belajar dan menyerap ilmu yang diberikan.

Pemasaran kain Sambas hanya berputar di sekitar Sambas. Dalam sebulan paling banter, 4-5 lembar. Masyarakat menggunakan kain songket Sambas untuk seserahan, atau mas kawin bagi perkawinan, atau menghadiri sebuah prosesi adat. Mayoritas pembeli biasanya warga Sambas. Atau, orang Sambas yang bermukim di daerah lain, dan masih punya keterikatan budaya dengan Sambas. Pembeli juga datang dari Pontianak, Jakarta, Malaysia dan Brunei.

Contohnya, Dayang Nazariah (59 tahun) dari Pontianak. Ketika menikah, usianya 24 tahun. Sekarang ini, dia masih menyimpan kain seserahan atau antaran itu dengan baik. Warna mau pun kondisi kain masih bagus.

Nah, bagaimana supaya kain songket ini awet dan tahan lama? Perlu perlakuan khusus. Kain Sambas tidak boleh dicuci dan dikucek. Bisa dicuci dengan dry laundry. Kalau pun orang mau mencuci, boleh dibilas saja. Kain ini tidak boleh dijemur di bawah terik matahari langsung, karena warna dan moifnya akan cepat memudar dan rusak.

Cara menjemurnya hanya diangin-anginkan saja. Cara menyimpannya pun perlu perlakuan khusus. Dilipat dengan bagus dan rapi, lalu meletakkannya di lemari. Bila hal itu Anda lakukan, maka kain songket Sambas akan menemani, hingga beberapa generasi ke depan.

Sahidah berharap pemerintah ikut berperan dalam melestarikan tenun ikat ini. Caranya, mempertemukan pengrajin dengan pasar. Hal itu bisa dilakukan dengan membuat pameran atau lainnya. Pemerintah musti memperhatikan industri kecil ini melalui kemudahan memperoleh kredit. Modal kecil membuatnya tak sanggup membeli benang langsung ke Jakarta.

Bila ke sana, dia harus membeli benang minimal 50 kg, supaya tidak tekor uang perjalanannya. Dia tentu saja tidak sanggup membeli benang sebesar itu. Membeli benang secara eceran, tentu saja membuatnya tersendat melakukan proses produksi.

Sahidah meminta pemerintah melindungi industri ini dari berbagai penjiplakan motif. Karenanya, pengrajin melalui Dekrenasda (Dewan Kerajinan Nasional Daerah) sudah berusaha mengajukan 180 motif yang ada ke Disperindag (Dinas Perindustrian dan Perdagangan), Sambas. Nyatanya, yang diterima baru 5 buah dari 13 yang diajukan.

Ya, itulah berbagai kendala yang selalu menghinggapi para pengrajin tradisional. Jangan sampai kain Sambas nasibnya seperti tempe. Makanan asli Indonesia, tapi dipatenkan Jepang. Atau seperti nasib batik, yang sedang diperebutkan dengan Malaysia.

Well, bila tidak kita sendiri yang peduli, siapa lagi?***

Foto by Muhlis Suhaeri, "Tenun Songket Sambas."
Edisi Cetak, minggu ketiga Desember 2006, Matra Bisnis

Baca Selengkapnya...

Thursday, December 7, 2006

Mencari Celah di Jalur Perjalanan

Oleh: Muhlis Suhaeri

Datangnya perayaan Imlek dan Cap Go Meh memberi angin segar bagi dunia travel dan layanan perjalanan. Berbagai jurus dan strategi dikeluarkan. Tujuannya, tentu saja menjaring tamu. Nah, bagaimana biro perjalanan melihat peluang itu, mari kita lihat bersama.

Suatu kunjungan wisata, tentu saja tak dapat dipisahkan dengan layanan kenyamanan dan keamanan. Dengan hal itu, tamu yang datang bakal menikmati liburannya. Tak heran, jika perayaan Imlek dan Cap Go Meh, telah diantisipasi berbagai biro perjalanan dan wisata. Bila layanan baik dan memuaskan, tentu saja menghasilkan uang bagi perusahaan bersangkuatn dan masyarakat umum.


Nah, bagaimana sebenarnya syarat utama supaya tamu bisa datang dan mau mengunjungi Kalbar. Tentu ada berbagai syarat dan cara bisa dilakukan. Syarat itu antara lain, seperti dikemukakan Ketua Masyarakat Pariwisata Indonesia (MPI), Drs. H. Martias HR. Syarat pertama, situasi keamanan harus kondusif. Kedua, menyelenggarakan kegiatan tingkat nasional atau internasional. Yang dapat mendongkrak kedatangan tamu ke Kalbar. Misalnya, menyelenggarakan suatu pertemuan tingkat nasional, eksebisi olah raga, kejuaraan otomotif, dan lainnya. Ketiga, menyelenggarakan promosi mengenai agronomi, budaya, wisata belanja, sejarah dan lainnya.

“Intinya, perlu kerja sama antara stakeholder dengan eksekutif,” kata Martias, yang juga pengelola biro perjalanan wisata, PT Panorama Anugrah Pratama Tour & Travel.

Perayaan Imlek dan Cap Go Meh, tentu telah diincar berbagai biro perjalanan. Menurut Heriyadi, Wakil Ketua Asosiasi Travel Indonesia (Asita), jumlah perusahaan travel di Pontianak, sekitar 69 perusahaan. Kesemuanya sudah menjadi anggota Asita. Bila ditambah dengan kabupaten lain, ada sekitar 76 perusahaan.

Cara mengantisipasi dan menghadapi Cap Go Meh, tentu perlu strategi khusus. Salah satunya, “Dengan meningkatkan sumber daya manusia (SDM) yang ada. Baik dalam bidang ticketing, guiding, atau dalam membuat paket,” kata Heriyadi, yang juga mengelola PT. Anyta Tour & Travel. Untuk itu, Heri melakukan berbagai pembenahan ditingkatan anggota Asita. Caranya, dengan melakukan berbagai pelatihan, dan pembinaan.

Ketika menyambut Imlek dan Cap Go Meh, berbagai perusahaan perjalanan telah membuat paket khusus. Dari jumlah anggota yang ada, mereka biasanya lebih tertarik membuat paket Cap Go Meh dari pada Imlek. Namun, dari jumlah perusahaan yang ikut asosiasi, hanya 5-6 travel membuat paket Cap Go Meh, kata Heriyadi.

Mengenai berapa angka dan jumlah tamu mengikuti paket ini, Heriyadi belum bisa memberikan angkanya. Kesulitan di asosiasi, karena anggota belum memberikan berapa jumlah tamu. Yang mengikuti program perjalanannya.

Cap Go Meh memang jadi pesona tersendiri, bagi biro perjalanan untuk menyelenggarakan suatu paket kunjungan. Sebenarnya, apa arti Cap Go Meh itu sendiri, sehingga perlu mengadakan paket itu?

“Kebanyakan orang yang melakukan tur, kurang tahu apa itu Cap Go Meh. Sehingga dalam menyelenggarakan paket, kita juga akan menjelaskan acara itu,” kata Budi Setiawan, bagian tur dari Ateng Tour.

Perayaan Cap Go Meh, memang tak bisa dipisahkan dengan berbagai upacara yang menyertainya. Seperti, buka mata naga, tatung, dan acara ritual lainnya. Nah, berbagai ritual, dan prosesi itulah, yang dijelaskan pada peserta paket tur.

Cap Go Meh di Singkawang memang punya keunikan tersendiri. Beda dari tempat lain. Bukannya daerah lain tak ada, tapi karena Singkawang lebih banyak masyarakat Tionghoa yang mendiaminya. “Sehingga yang lebih menonjol, adalah Cap Go Meh untuk mereka,” kata Heriyadi.

Bagaimana supaya paket tur itu dilirik?

“Kita membuat harga yang kompetitif. Istilahnya, kita berani membanting harga,” kata Budi. Banyaknya perusahaan travel di Pontianak, membuat paket serupa. Untuk dapat bertahan, tentu harus membuat harga dapat bersaing. “Kalau bisa, kita akan membuka harga dibawah yang travel agen lain lakukan,” kata Budi. Makin besar jumlah peserta tur, harganya akan lebih murah.

Mengenai berapa harga paket tersebut, terkadang susah memprediksikan. “Karena bisa saja berubah,” kata Heriyadi. Misalnya, orangnya ingin menginap di salah satu hotel. Tapi, karena hotel itu penuh, sehingga harus mengalihkan ke hotel lain. Atau, tamu inginnya hotel lain.

Perubahan itu, tentu saja membuat harga jadi berubah. Jadi, tergantung permintaan tamu. Hal itu relatif dan tergantung permintaan. “Dan mengenai harga, tidak bisa kita patok dengan harga berapa,” kata Heriyadi.

Paket Cap Go Meh biasanya 3 hari 2 malam. Tamu biasanya dari luar Kalbar. Paling banyak dari Jakarta. Pada hari pertama kunjungan, tamu biasanya mengadakan plesir dengan mengunjungi beberapa wisata dalam kota. Seperti mengunjungi Tugu Katulistiwa, Musium, Istana Kodriyah, dan lainnya. Hari kedua, tamu datang ke Singkawang, pada hari H-nya. Dan setelah hari H-nya, langsung balik ke Pontianak. Hari ketiga, tamu diantar menuju bandara.

Perusahaan perjalanan, tentu saja ingin membuat terobosan baru, sehingga tamu bisa menginap lebih lama. Caranya, dengan membuat paket yang bisa membuat tamu tinggal lebih lama. Paling tidak, selama 4-5 hari. Sehingga daerah lain bisa dikunjungi. Potensi wisata daerah lain, juga tak kalah eloknya. Salah satu contoh, ada di Pemangkat. Di sana ada satu kelenteng tua, biasa disebut Kelenteng Perempuan. Rahibnya seorang perempuan. Di kelenteng ada sumur tak pernah kering. Meski, musim kemarau sedang melanda.

Menyelenggarakan paket tur, tentu saja ada berbagai kendala dan kesulitan. Kesulitan beragam sifatnya. Ada dari pihak tamu, karena memesan mendadak. Atau, kapasitas kamar hotel sudah penuh. Karenanya, untuk acara Cap Go Meh, paling tidak tiga bulan sebelumnya, sudah harus memesan kamar, kata Heriyadi.

Hal itu dibenarkan Budi. Biasanya, pada bulan Januari saja, pihak travel susah memesan hotel, karena kamar telah penuh. Apalagi hotel di Singkawang.

Kesulitan lainnya, bila tamu memesan mendadak. Mendadak dalam artian waktunya. Misalnya, 2 minggu sebelum hari H. Kalau jumlahnya kecil, antara 5-6 orang, hal itu bisa tertangani. Bila jumlahnya besar, tentu akan susah menanganinya. Bila tamu berjumlah 5-6, akan diberangkatkan dengan mobil Kijang. Tapi, bila lebih dari jumlah itu, akan diberangkatkan dengan bis.

Kesulitan dalam memperoleh hotel di Singkawang, biasanya disiasati dengan menggunakan mess Pemda, atau rumah penduduk. Tujuannya, supaya tamu bisa lebih dekat dari tempat berlangsungnya perayaan Cap Go Meh. Bila tamu tidak mau, akan dicarikan alternatif menginap di kota terdekat, seperti Sambas atau Pemangkat. Biasanya di Tanjung Permai, Tanjung Batu, atau hotel lain. Pengalihan ini juga ada tujuannya. “Supaya tamu juga wisata dan melihat daerah lain,” kata Heriyadi.

Imlek dan Cap Go Meh tentu saja berimbas pada jalur transportasi dan penerbangan. Biasanya ada kenaikan jumlah angka penerbangan. “Kenaikan jumlah penerbangan mencapai 30 persen,” kata Heriyadi.

Ada beberapa tahap keramaian. Tahap pertama, ketika Imlek. Orang yang setelah mengikuti Imlek, malas untuk balik dulu karena ingin mengikuti Cap Go Meh. Setelah itu, 1-2 setelah Cap Go Meh, mereka akan pulang. Tahap kedua, biasanya, 2-3 hari sebelum Cap Go Meh, orang baru pulang kampung. Tahap ketiga, peserta tur Cap Go Meh, biasanya 1-2 hari sebelum Cap Go Meh, mereka akan datang.

Untuk Imlek, keramaian biasanya 2-3 hari menjelang Imlek. Bila Imlek ramai, Cap Go Meh biasanya agak sepi. Bila Imlek sepi, maka saat Cap Go Meh akan ramai. “Biasanya yang kita jual itu untuk paket Cap Go Meh, dan bukan paket Imlek. Kedepan, kita juga ingin mengemas sembayang kubur,” kata Heriyadi.

Perayaan Imlek atau Cap Go Meh, punya peluang bisnis bagi perekonomian dan pariwisata, Kalbar. Nah, bagaimana kedepan acara itu harus ditangani dan diselenggarakan?

“Kedepannya, perlu kesiapan semua pihak untuk menyukseskan pariwisata. Sehingga dapat menjual kegiatan promosi pariwisata. Sehingga perekonomian dapat ditingkatkan,” kata Martias.***

Foto by Lukas B. Wijanarko, "Angkot Naik Angkot."
Edisi Cetak, minggu pertama, Desember 2006, Matra Bisnis

Baca Selengkapnya...