Oleh Muhlis Suhaeri
Kabupaten Sambas ibarat sosok penari. Penari yang sudah lupa bersolek. Penari yang telah gontai mengikuti ritme tarian. Padahal dengan sekali gebrakan, segala kejayaan era masa lalu, akan muncul dan bersinar kembali.
Sebuah sore di muara Ulakan, Sambas. Ulakan menjadi pertemuan tiga cabang anak sungai. Sungai Sambas, Subah dan Teberau. Matahari sebentar lagi turun. Awan bergerumbul di batas cakrawala jadi tujuan akhir. Cahaya matahari menerpa air sungai. Memendarkan warna kuning keemasan. Siluet gerbang dan tiang kapal membentuk imaji tersendiri. Kepingan dan untaian pemandangan sore di komplek Kesultanan Alwatzikhoebillah Sambas tersebut, seolah ingin mengatakan sisa-sisa kejayaan masa lalu.
Komplek kesultanan terletak pada areal seluas satu hektar. Ada dua gerbang. Gerbang pertama jadi pintu masuk. Memisahkan jalan raya dengan komplek kesultanan. Terdapat masjid Jami’ Sultan Muhammad Safiuddin II, alun-alun, tiga meriam di bawah tiang bendera berbentuk tiang kapal. Gerbang kedua memisahkan alun-alun dengan istana Kesultanan Alwatzikhoebillah Sambas.
Memasuki lingkungan istana, terlihat lambang Kesultanan Alwatzikhoebillah berupa dua kuda laut bersayap mengapit matahari bernomor 9. Istana terdiri dari tiga bangunan. Bangunan utama di bagian tengah. Bangunan di kanan dan kiri berfungsi menyimpang senjata kesultanan dan tempat tinggal.
Sore itu saya menemui imam masjid Jami’ selepas salat ashar. Rasyidi Mukhtar (66), sosok lelaki bersahaja. Tatapan matanya teduh. Kepala selalu menunduk. Sebuah sikap tawaduk. Khas para hamba Allah yang selalu berserah diri.
Masjid Jami’ berdiri pada 1 Muharam 1303 Hijriah atau 10 Oktober 1885. Sultan Muhammad Safiuddin II diberi nasehat ibunya, Ratu Sabar untuk mendirikan masjid. Warga berpartisipasi. Kesultanan memberi untaian bunga setaman kepada warga yang menyumbang pembangunan masjid. Warga berbondong dan menyumbang.
Arsitektur masjid Jami’ sangat khas. Ada empat menara berbentuk limas melengkung. Bagian atas menyerupai pagoda. “Ada perpaduan dengan bangunan dari Muangthai,” kata Rasyidi.
Masjid beberapa kali alami perbaikan. Tahun 1935 dan 1980. Renovasi tak sampai mengubah struktur masjid. Bagian atas tak pernah diubah. Masjid awalnya satu lantai. Lantai dua hasil renovasi tahun 1980-an.
Masjid Jami’ terbuat dari kayu belian. Ini jenis kayu keras. Tahan hingga ratusan tahun. Sebagian kayu berasal dari bekas bangunan istana Sultan Aqomadin III di Tanjung Rengas. Istana dibongkar dan pindah ke Desa Dalam Kaum. Sebanyak 20 tiang kayu belian berdiameter 30 cm dengan panjang sekitar 18 meter menopang kerangka masjid. Masjid sanggup menampung sekitar 900 jamaah. Ditambah bagian pelataran, bisa menampung sekitar 1.600 jamaah.
Atap masjid terbuat dari sirap atau kayu setebal satu centimeter. Dulu, masjid bagian depan terdapat dua pintu yang dapat dibuka kedepan. Sekarang diganti dengan pintu geser. Jendela kayu diganti kaca. Masjid terlihat lebih terang.
Bagian imam terdapat mimbar bermotif ukiran khas Melayu Palembang. Kesultanan Sambas mendatangkan ahli ukir dari Palembang. Ada tempayan keramik dari Tiongkok. Tinggi dan lebarnya sekitar satu meter. Dulunya untuk menampung air untuk berwudhu. Sekarang tak berfungsi. Tempayan diletakkan di dalam masjid.
Satu masjid lain yang sering dikunjungi para peziarah adalah, masjid Bersejarah Sirajul Islam di Kecamatan Selakau, Sambas. Saya bertemu Mursidin. Dia cucu generasi ketiga Syekh Muhammad Sa’ad. Dia murid Syekh Ahmad Khatib ibn Abdul Ghaffar al-Sambasi al-Jawi.
Sa’ad belajar agama dan hukum Islam di Bagdad, Irak. Dia mengajar Thariqat Qadiriyyah Naqshabandiyyah 18 tahun di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Juga mengajar di Nusa Tenggara barat (NTB), dan lainnya.
Masjid Bersejarah Sirajul Islam dibangun pada 1340 H atau 1927. Masjid berada di daerah aliran sungai Selakau. Pendiri masjid ada tiga orang. Yaitu, Syekh Muhamad Sa’ad, Datuk Itam dan Datuk Uray Aswan. Datuk Itam memiliki ilmu kanuragan. Dia kebagian cari kayu di hutan.
“Mereka mewakili golongan ulama, cendekiawan dan pemerintahan,” kata Mursidin.
Masyarakat secara swadaya turut membangun masjid. Setiap panen, warga menyerahkan sebagian padi bagi pembangunan masjid.
Bangunan utama masjid tidak diubah sejak dulu. Hanya bagian dalam yang diperbaiki. Atap sirap dari kayu diganti atap seng. Masjid berukuran 12 x 18 meter dapat menampung sekitar 300 jamaah. Ada enam tiang utama dari kayu belian berukuran 16 x 16 cm. Kayu dibungkus panel kayu.
Kekhasan bangunan masjid sangat kontras dengan lingkungan sekitar. Sungai, pasar, nelayan dan kuburan, seolah menjadi siklus bagi perjalanan hidup manusia.
Sejarah Sambas
Empu Prapanca dalam Kitab Negara Kertagama menyebut kerajaan Sambas yang masih beragama Hindu. Sejarah Sambas dibagi dua fase. Pertama, fase Sambas kuno sudah ada sejak abad ke 13. Warga Sambas masih beragama Hindu, karena pengaruh dari Majapahit. Kedua, sejak Kesultanan Sambas sekitar abad ke 16.
Kesultanan Sambas didirikan Sultan Muhammad Safiuddin I. Dia pemeluk agama Islam. Sultan memerintah dari 1631-1668. Kesultanan Sambas alami masa kejayaan saat diperintah Sultan Muhammad Safiuddin II, 1866-1934. Dia sultan ke 13. Pada saat itu rakyat Sambas sangat makmur. Perkembangan ekonomi maju. Begitu juga perkembangan Islam.
Kondisi itu tak mengherankan. Sebab, pelabuhan dan perairan Sambas langsung terhubung dengan jalur pelayaran internasional di Singapura dan Malaka. Sambas punya hubungan baik dengan negara-negara tetangganya.
Seperti juga kerajaan lain di Kalimantan Barat, Kesultanan Sambas berada di pinggir sungai. Sungai jadi jalur utama saat itu. Sehingga menjadi pilihan mendirikan pusat pemerintahan. Secara ekonomi dan pertahanan lebih menguntungkan. Kesultanan Sambas berada di muara Ulakan. Yang menjadi pertemuan tiga cabang anak Sungai Sambas, Subah dan Teberau.
Kesultanan Sambas mendatangkan para penambang emas dari Tiongkok, untuk menambang emas di wilayah Kesultanan Sambas. Monterado, Mandor dan Sempadang merupakan tujuan awal orang Tiongkok pertama kali masuk ke Kalbar.
Kesultanan alami kemunduran, saat Sultan Muhammad Mulia Ibrahim Syafiuddin yang berkuasa sejak 1931-1943, diculik dan dibunuh Jepang. Sejak Juli 1950, Kesultanan Sambas bersama seluruh kerajaan di Borneo Barat, bergabung dan menyerahkan mandat kekuasaan pada Republik Indonesia Serikat (RIS). Selepas itu, Kesultanan Sambas hanya diperintah Ketua Kerabat Kesultanan Sambas dengan gelar Pangeran Ratu.
Sejak 1957-1999, Sambas menjadi Daerah Tingkat II Sambas dengan ibukota Singkawang. Pada 2009, Kabupaten Sambas dimekarkan menjadi Kabupaten Bengkayang. Ibukota Kabupaten Sambas pindah ke Kota Sambas.
Perjalanan ke Kabupaten Sambas dapat ditempuh dengan perjalanan darat dari Pontianak. Ada bis umum melayani rute ini. Kalau mau lebih cepat, Anda bisa menggunakan taksi. Armadanya Kijang Innova. Kendaraan diisi 4-5 orang. Butuh waktu sekitar lima jam dari Pontianak.
Ada beberapa penerbangan langsung ke Pontianak. Dari Jakarta, Batam, Jogjakarta, Pangkalanbun, Balikpapan, Kuching dan Singapura.
Seni, Budaya dan Islam
Hampir tak ada kehidupan masyarakat Melayu Sambas terlepas dari ritual dan budaya. Sejak lahir hingga meninggal, masyarakat melaksanakan ritual dan adat yang identik dengan nilai-nilai keislaman.
Pengaruh Islam melekat pada seni dan budaya lokal. “Seni dan budaya di Sambas tak bisa dipisahkan dengan religi,” kata Arpan, penulis buku mengenai saprahan.
Warga punya tradisi makan bersama atau saprahan. Satu saprah untuk enam orang. Ditata berderet dan memanjang. Saprahan biasanya dilaksanakan pada acara pernikahan.
Menu saprahan tergantung orang yang punya gawe. Selama 2-3 hari acara, biasanya para tetangga cuti dari kerja. Mereka membantu dan bergotong-royong. “Sehingga setiap orang mampu melakukan saprahan,” kata Arpan.
Kalau di desa, karena sebagian besar berprofesi sebagai petani, mereka menyumbang dengan barang. Warga membawa dua kilogram beras, satu ekor ayam, satu kelapa dan gula. Hal itu sebagai tanda ikut bergembira dan meringankan yang punya gawe. Kalau di kota, biasanya menyumbang dengan uang.
Dalam saprahan terdapat acara rentetannya. Ada acara Mulang-mulangkan. Pengantin lelaki datang ke rumah pengantin perempuan. Pada acara itu, keluarga pengantin lelaki menyerahkan pengantin lelaki pada keluarga perempuan. Dan keluarga perempuan menyerahkan pengantin perempuan pada keluarga lelaki.
Pada acara Mulang-Mulangkan, dodol makanan khas yang selalu tersaji. Dodol rasanya manis. Hal itu sebagai harapan, kehidupan lebih baik bagi pengantin. Berbagai ritual adat dan budaya akan ditampilkan. Ada zikir, nyanyian dan tarian.
“Semua mengandung unsur keislaman,” kata Yuhendri, Kasi Kebudayaan Disporabudpar Sambas.
Ada tiga jenis zikir. Zikir barzanji, nazam dan maulud. Pada acara pindah rumah, sunatan, ritual buang rambut anak kecil, biasa menggunakan zikir barzanji. Isinya puji-pujian dan riwayat Nabi Muhammad. Zikir maulud khusus untuk acara maulud atau memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad. Kataman Alqur’an biasanya menggunakan zikir nayam.
Radat atau nyanyian berbahasa Arab akan ditampilkan. Liriknya memuji kebesaran Allah. Ada penyanyi solo. Gerakan penyanyi sederhana. Sehingga nilai religinya muncul.
Tarian jappen lembut ikut ditampilkan. Ini tarian khas. Hanya ada di Sambas. Beda dengan jappen di daerah lain. Jappen lembut pakai bahasa Arab. Tarian ini tak bisa dipisahkan dengan semangat dan nilai keislaman. Gerakan tubuh lentur dan lembut. Ada nuansa religi yang kuat pada penampilannya.
Begitulah budaya khas Sambas. Tak terpisahkan dengan nafas keislaman.
Para Imam dari Sambas
Sambas menorehkan beberapa nama besar dalam perkembangan Islam di Indonesia atau dunia. Karenanya, mengunjungi Sambas serasa tak lengkap, tanpa berziarah ke makam para raja dan imam. Meski hanya ramai pada hari tertentu saja, makam itu selalu dikunjungi para peziarah.
Ada ulama besar tingkat internasional kelahiran Sambas. Namanya, Syekh Ahmad Khatib ibn Abdul Ghaffar al-Sambasi al-Jawi. Dia kelahiran Kampung Dagang, Sambas, 1803. Semasa remaja belajar ilmu agama di Mekah, Saudi Arabia. Dia belajar kepada guru bernama Syekh Syamsuddin. Syekh Khatib menikah dan tinggal di Arab Saudi. Dia memiliki tiga anak. Yaitu, Syekh Yahya, Siti Khadijah dan Syekh Abdul Gaffar. Semasa hidupnya, dia menjadi imam di Masjidil Haram, Mekah. Dan termasuk ulama besar di Saudi Arabia.
Syekh Khatib mengabungkan dua aliran besar tasawuf, Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah menjadi Thariqat Qadiriyyah Naqshabandiyyah. Kemunculan tarekat ini menyumbang perkembangan dan peradaban Islam yang kuat di Indonesia. Syekh Khatib meninggal dan dimakamkan di Mekah pada 1875.
Sebagian besar muridnya menjadi penyebar Islam di Indonesia dan Asia Tenggara. Misalnya, Syekh Muhammad Makruf Ibn Abdullah al-Khatib dari Palembang. Syekh Haji Ahmad dari Lampung. Syekh Abdul Karim dari Banten. Syekh Ahmad Thalhah dari Cirebon. Syekh Ahmad Hasbullah dari Madura. Syekh Muhammad Isma'il Ibn Abdul Rahim dari Bali. Syekh Yasin dari Kedah Malaysia. Syekh Abdul Latif bin Abdul Qadir Sarawak, Malaysia. Syekh Nuruddin dari Filipina. Syekh Abdullah Mubarak bin Nur Muhammad dari Tasikmalaya. Syekh Muhammad Saad dari Selakau, Sambas.
Syekh Muhammad Sa’ad meninggal di Selakau. Makamnya berada di samping Masjid Sirajul Islam. Makam itu dibiarkan terbuka. Tak ada pembatas atau atap. Dulunya, pernah dibuat atap. Tujuannya melindungi makam dari hujan atau terik matahari. Namun, ketika anaknya bernama H. Abdul Mu’in pulang dari belajar di Kairo, Mesir, dia mendapati makam orang tuanya diberi rumah-rumahan. Segera saja rumah-rumahan itu dibongkar. Dia kuatir orang berbuat syirik, karena mengkultuskan dan mengeramatkan makam.
Setiap tahun ada rombongan tur kunjungi makam Syekh Muhammad Sa’ad. Terutama murid-murid dari pondok Pesantren Suralaya, Tasikmalaya, Jawa Barat. Atau, beberapa pesantren dari Nusa Tenggara Barat. Bahkan, tahun 2010, ada rombongan dari Brunei, Kuala Lumpur, Kabupaten Sanggau, Landak, Pontianak mengunjungi makam secara bersama.
Mereka datang dan berdo’a di depan makam. Paling lama dua jam.
Sejarah perkembangan Islam di Sambas tak bisa dipisahkan dengan Sultan Muhammad Safiuddin II, raja ke 13 Kesultanan Sambas. Semasa berkuasa, sultan mencanangkan Kesultanan Sambas sebagai Serambi Mekah. Sultan mengirim para alim ulama dari Sambas ke Arad Saudi, Mesir dan Irak untuk belajar ilmu dan hukum Islam. Juga mendatangkan ahli hukum agama dan guru pengajar agama Islam. Tak hanya dari Kalbar, juga dari negara tetangga. Sultan mengundang ulama dari Pattani, Thailand Selatan menjadi guru agama di Sambas. Namanya Abdul Jalil. Makamnya di Lumbang Keramat, Sambas. Peziarah kerap mengunjungi makam tersebut.
Orang Sambas menilai Sultan Muhammad Safiuddin II pemimpin berkarakter, jujur dan amanah atau bisa dipercaya. Ia memiliki karisma dan sifat pemimpin. Makam Sultan Muhammad Safiuddin II sering dikunjungi peziarah. Warga mengunjungi makam, karena semasa hidupnya sultan dianggap berjasa bagi Kesultanan Sambas. Keramat hidup dan mati. Artinya, semasa hidup berbuat baik dan berguna.
Warga kunjungi makam jelang Ramadan dan Lebaran. Ada berbagai alasan orang kunjungi makam. Mereka ingin bayar niat, mengharap berkah atau menghormati orang tersebut.
Sejarah penyebaran Islam di Kesultanan Sambas juga terlihat dari munculnya dua imam. Imam Maha Raja dan Maha Raja Imam. Imam Maha Raja adalah imam masjid. Ia tidak diangkat sultan. Sultan mengangkat dan menobatkan Maha Raja Imam melalui upacara kesultanan. Tugasnya mengurus pendidikan agama Islam, pendidikan sekolah agama, mengumpulkan zakat dan lainnya. Ia bertugas seumur hidup.
Sultan pernah mengangkat tiga Maha Raja Imam. Maha Raja Imam Haji Muhammad Arief, Maha Raja Imam Haji Muhammad Imran dan Haji Muhammad Basiuni bin Imran. Kedudukan mereka penting dalam syiar agama Islam di Sambas.
Saya menemui anak Basiuni Imran, Badran Hamdi. Ia seorang kontraktor. Menurutnya, sifat Basiuni Imran sangat sederhana. Basiuni sering diskusi dengan pemerintahan, bagaimana mengembangkan agama Islam dan ahlakul karimah warga.
“Beliau bisa bergaul mulai dari tingkat bawah hingga atas,” kata Badran Hamdi.
Basiuni Imran pernah belajar ke Mekah dan Mesir. Tahun 1889, ia ke Mekah mempelajari hukum Islam. Ia pulang ke Sambas tahun 1906. Tahun 1910, berangkat ke Universitas Al Azhar, Kairo untuk memperdalam hukum Islam.
Setelah balik ke Sambas, ia membuat beberapa metode dakwah. Mendirikan sekolah Tarbiyatul Islam. Menerbitkan buku-buku Melayu berbahasa Arab Melayu atau Melayu Jawi, biasa disebut Arab gundul. Melakukan pendekatan dengan kaum muda. Misalnya, sebagai dewan penasehat satu yayasan. Pemikirannya tentang Islam, terdokumentasi dalam beberapa buku. Dia juga menerjemahkan beberapa buku mengenai hukum Islam.
Dia juga terlihat dalam perjuangan kemerdekaan. Bersama pemuda-pemuda Sambas, ia memimpin dan mengganti bendera Belanda di kantor Controleur Sambas, 27 Oktober 1945.
Syiar agama bersanding dengan perjuangan membela tanah air.
Print edition in Garuda In-Flight Magazine, Middle East, December 2011
Thursday, December 1, 2011
Mengunjungi Sabuk Penyebaran Islam di Jantung Borneo
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
11:38 AM
4
comments
Labels: Wisata
Wednesday, November 30, 2011
Wisata Sejarah di Alcatraz
Oleh: Muhlis Suhaeri
California, pertengahan Maret 2010. Pesawat American Airlines yang saya tumpangi mulai memasuki wilayah udara California. Penerbangan dari St Louis, Missouri, membawa kesan tersendiri. Sepanjang perjalanan bentang pegunungan menampakkan wajahnya yang unik. Pengunungan mengukir lansekap dan memisahkan wilayah Amerika Serikat bagian tengah dan pantai barat.
Mendekati San Francisco, pemandangan pegunungan yang tertutup salju, mulai berganti dengan kabut. Mendung dan kabut merupakan wajah khas San Francisco yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik. California termasuk negara bagian Amerika Serikat dengan ibukota Sacramento. San Francisco salah satu kota terbesar, selain San Diego dan Los Angeles.
Pesawat mendarat di Terminal 3, Area E, Bandara Internasional San Fransisco. Area itu khusus bagi pesawat American Airlines yang melayani penerbangan dalam negeri dari beberapa kota di negara bagian Amerika Serikat. Bandara Internasional San Francisco terletak di San Francisco Bay Area bagian selatan. Untuk ke tengah kota, harus menyeberangi San Francisco Bay Bridge. Jembatan ini menghubungkan Pulau Yerba Buena dan pantai Oakland.
San Francisco kota berbukit. Rumah dan gedung pencakar langit berdiri pada sebuah sisi bukit merupakan pemandangan biasa di San Francisco. Bahkan, hotel yang saya tempati, Hotel Sir Francis Drake, berdiri pada sebidang tanah dengan kemiringan sekitar 30-35 derajat. Beberapa pulau kecil menghiasi lansekap San Francisco. Seperti, Pulau Alameda, Yerba Buena atau The “Alcatraz” Rock.
Saya berkesempatan mengunjungi penjara Alcatraz. Angin musim dingin bertiup menyambut, saat saya tiba di dermaga. Jaket tebal, sarung tangan, topi penutup kepala, sepatu boot, seakan tak mampu melindungi kulit tropis saya. Angin menusuk hingga ke celah-celah pori-pori terdalam.
Melihat dan mengunjungi Alcatraz, ibarat mengunjungi legenda para legenda. Alcatraz melegenda karena ketat dan disiplinnya sistem pengamanan di penjara. Juga para tahanan yang pernah mendekam di sana. Penjahat kelas kakap seperti Al Capone, Robert Franklin Stroud atau Alvin Karpis, pernah mendekam di Alcatraz. Kombinasi itu jadi cerita tersendiri yang semakin menguatkan legenda Alcatraz.
Kisah Alcatraz bermula ketika seorang penjelajah Spanyol, Lieutenant Juan Manual de Ayala, memetakan San Francisco sekitar 1775. Ia berlayar menyusuri pantai dan menemukan beberapa pulau. “I name this land ‘La isla de los Alcatraces’ (Island of the sea birds). Because of their being so plentiful there.”
Tak heran bila kita berkunjung ke Alcatraz, ratusan burung camar terbang bebas dan hinggap di kapal feri. Juga di setiap sudut pulau. Mereka tidak merasa terganggu dengan kehadiran para pengunjung. Interaksi dengan manusia sudah terjalin ratusan tahun.
Alcatraz berada di tengah Teluk San Francisco. Luasnya sekitar 0,0763 km persegi. Kondisinya berbatu dan gersang. Tak banyak tetumbuhan. Air dingin dan arus berkisar antara 6-8 mph mengelilingi pulau. Kondisi itu membuat pulau tak berpenghuni.
Pemerintah menjadikan Alcatraz sebagai situs sejarah. Dinas Pertamanan Nasional Amerika Serikat mengelolanya sebagai taman wisata yang bisa dikunjungi, dan menjadi bagian dari The Golden Gate National Recreation Area.
Feri penyeberangan berangkat dari Pier 33. Jarak ke Alcatraz sekitar 1,5 miles atau 2,4 km. Butuh waktu 15 menit. Feri berangkat setiap setengah jam sekali mulai pukul 9.30 hingga 17.30. Pada wisata malam, feri berangkat pukul 18.25 sore dan 18.50.
Pengunjung harus antre untuk dapatkan tiket. Pemesanan juga dapat melalui internet. Besarnya 36 dollar. Anak umur 5-11 tahun, 26 dollar. Umur di atas 62 tahun, tiket seharga 34,50 dollar. Wisata malam ke Alcatraz beda tiketnya. Untuk umum 43 dollar. Anak-anak 29,50 dollar. Orang tua 40,50 dollar.
Nama tour itu ke Alcatraz Discover Alcatraz Escape A Tour of The Attempt. Waktu berkunjung setengah jam atau tergantung kepada Anda sendiri. Dari penjara Alcatraz, kita bisa melihat pemandangan kota San Francisco yang elok. Juga melihat Golden Gate Bridge dan San Francisco Bay Bridge. Sesuai namanya, Golden Gate terlihat kuning keemasan. Menjelang senja, warna kemerahan berpadu dengan warna kuning matahari yang menimbulkan warna sensasi dan unik.
Ada juga wisata keliling sekitar Alcatraz hingga Golden Gate Bridge. Wisata dengan kapal feri itu tak berhenti di penjara. Perjalanan wisata sekitar satu jam. Selama perjalanan, pemandu akan menjelaskan sejarah San Francisco dan Alcatraz.
Feri mendarat di sisi bagian timur Alcatraz. Begitu tiba di dermaga, pemandu akan menyambut pengunjung dan memberikan penjelasan mengenai Alcatraz. Setelah itu kita naik kr bagian atas penjara. Anda bisa menggunakan mobil wisata bergandeng atau jalan kaki. Jaraknya sekitar 40 meter menuju blok pertama.
Di sepanjang jalur ini, terdapat menara penjaga. Ada pos jaga petugas. Ada perumahan petugas penjara. Sebagian rumah dalam kondisi bagus. Namun, ada juga yang sudah rusak karena pernah dikuasai demonstran dari suku Indian.
Ada beberapa pemberhentian tour. Setiap pemberhentian, pemandu menjelaskan cerita seputar tempat itu, dan usaha pelarian para tahanan. Pemberhentian pertama, dermaga kedatangan kapal feri. Kedua, di rumah penjaga. Ketiga, gedung di depan mercusuar. Keempat, di kamar tahanan. Kelima, Blok B sebelah utara ujung. Kelima, Blok D. Keenam, Blok C. Ketujuh, Blok B.
Ruangan masuk pertama berisi ruang kontrol dan ruang tunggu bagi pengunjung. Setelah itu masuk ke ruang tahanan utama. Begitu masuk ruang tahanan utama, terlihat deretan besi bulat menutup kamar tahanan. Setiap pintu besi dibuat berlapis bagi pengamanan yang maksimum. Setiap jendela diberi teralis besi bulat seukuran jempol orang dewasa.
Ada ruang laundry bagi tahanan. Juga ruang mandi air panas. Ada banyak kran dan pancuran. Ada sebuah cerita, bila tahanan terbiasa mandi pakai air panas, mereka tak bisa menyesuaikan diri dengan kondisi air dingin, saat mereka mencoba melarikan diri.
Alcatraz memiliki empat blok ruang tahanan. Blok A, B, C dan D. Setiap blok terdiri dari tiga lantai. Ruang potong rambut dan interogasi ada di Blok A di sebelah timur. Blok B merupakan blok pembinaan bagi mereka yang baru datang. Biasanya tahanan menempati Blok B selama tiga bulan pertama. Ini masa awal perkenalan di Alcatraz. Antara Blok C dan D terdapat jalur utama yang diberi nama Jalan Broadway. Ini jalan terpanjang di New York City.
Blok D paling diawasi. Para penjahat kelas kakap, berisiko kabur atau ribut dengan narapidana lain, ditempatkan di Blok D. Al Capone pernah menempati Blok D. Di samping Blok D terdapat ruang perpustakaan.
Ruang makan terdapat di sebelah barat. Ada ruang olah raga, mandi, pakaian dan perbaikan, gudang, ruang latihan main musik dan lainnya. Khusus ruang makan, pada bagian atas bangunan terdapat selang gas air mata. Bila ada kerusuhan di penjara, gas air mata bisa diaktifkan dari ruang kontrol penjara.
Kita bisa mendengarkan sebuah audio berisi cerita seputar Alcatraz. Semua itu bisa dinikmati dalam lima bahasa. Yaitu, bahasa Inggris, Spanyol, Jepang, Jerman dan Italia. Lama rekaman sekitar 30 menit. Rekaman berisi berbagai cerita dan testimoni para tahanan, sipir penjara, keluarga tahanan atau keluarga pegawai. Pengemasan audio sangat bagus. Bahkan, ketika kita mendengar cerita mengenai kisah para tahanan, derit pintu dibuka terdengar sangat jelas. Membuat kita yang mendengarnya, seolah-olah hadir dan ada dalam cerita tersebut.
Pada bagian akhir ruangan terdapat cendera mata. Ada baju, pin, mug, botol, dan berbagai pernah pernik dengan gambar atau logo khas Alcatraz. Lucunya, sebagian besar cendera mata itu buatan China.
Menurut booklet Discover Alcatraz Escape A Tour of The Attempt, Alcatraz awalnya benteng pertahanan. Militer menganggap perlu membangun benteng dan menempatkan meriam di Alcatraz. Sebab, Alcatraz menjadi salah satu pintu masuk ke Teluk San Francisco. Benteng pertama kali berdiri pada 1853. Selain Alcatraz, ada dua benteng pertahanan dibangun. Namanya Fort Point dan Lime Point. Tiga benteng tersebut menjadi penjaga bagi wilayah San Francisco. Militer juga membangun mercusuar. Kelak mercusuar ini merupakan yang tertua di wilayah pantai barat Amerika.
Pada 1859-1933, militer menggunakan Alcatraz sebagai penjara militer. Para tahanan menerima berbagai macam instruksi. Sekitar 70 persen menyelesaikan masa tahanannya dengan baik. Tetapi banyak juga yang mencoba kabur dari Alcatraz.
Pada 1877, sembilan tahanan melarikan diri ketika dipekerjakan di San Francisco. Mei 1878, dua orang tahanan menggunakan perahu dan meloloskan diri. Dan masih banyak kisah pelarian atau upaya melarikan diri dari para tahanan semasa dijaga militer. Banyak dari mereka yang mencoba melarikan diri, akhirnya tewas karena tenggelam atau ditembak petugas jaga.
Pada 1934, Departemen Kehakiman menggunakan Alcatraz sebagai salah satu penjara federal. Ada sebuah kebutuhan membuat penjara bagi para tahanan kelas kakap, untuk mengantisipasi gelombang kejahatan teroganisir yang berkembang di Amerika. Apalagi pada era 1920-an hingga 1930-an, depresi dan kolapnya perekonomian menciptakan kejahatan terorganisir yang membuat takut sebagian besar warga Amerika.
Tingkat huni Alcatraz tak lebih dari 300 orang. Biasanya 260-275 orang. Satu tahanan satu sel. Sipir memisahkan tahanan menjadi tiga kelas berdasarkan perilaku dan kejahatan yang telah dilakukan. Bila jumlah rasio penjara federal antara tahanan dan penjaga satu berbanding dua orang, maka di Alcatraz jumlah penjaga dan tahanan adalah, satu penjaga berbanding tiga tahanan. Karenanya, setiap sipir biasanya tahu dan kenal nama para narapidana.
Al Capone termasuk orang pertama dikirim ke Alcatraz. Ia tiba pada Agustus 1934. Al Capone menjalani penahanan selama empat setengah tahun di Alcatraz. Setelah itu, ia dipindahkan ke sebuah penjara di California selatan untuk menjalani sisa hukumannya. Orang yang biasanya mengacau dan menerobos berbagai sistem tersebut, harus mengakui sistem di Alcatraz. “I looks like alcatraz has got me licked.”
Selama 1934-1963, Alcatraz telah empat kali berganti kepala sipir penjara. Ada 1.576 tahanan yang diproses. Ada 90 petugas pemasyarakatan. Ada 53 aturan dan peraturan dibuat. Ada 14 usaha pelarian yang melibatkan 34 orang. Sebanyak 23 tertangkap. Enam orang tewas tertembak ketika melarikan diri. Dua tenggelam di laut saat melarikan diri. Dua orang yang tertangkap dan dieksekusi di kamar gas.
Hanya tiga berhasil lolos. Mereka adalah Frank Morris, Clarence Anglin dan John Anglin. Ketiganya melarikan diri pada 11 Juni 1962. Kisah pelarian mereka terekam dalam berbagai booklet atau informasi dari audio yang bisa didengar pengunjung. Bahkan, stasiun televisi kabel National Geographic membuat kisah dan cara ketiganya melarikan diri.
Pada 21 Maret 1963, Jaksa Agung Robert F. Kennedy menutup Alcatraz. Alasannya, biaya operasionalnya terlalu tinggi. Tiga kali lipat dari penjara biasa. Bayangkan saja, akibat tak ada pasokan air tawar, pemerintah harus membawa setidaknya satu juta galon air setiap minggunya ke Alcatraz dengan kapal. Polusi sampah turut jadi alasan penutupan.
Sekelompok orang Indian menduduki Alcatraz pada 1969. Mereka mengusulkan adanya pusat pendidikan, lingkungan hidup dan kebudayaan. Selama 18 bulan pendudukan, ada beberapa gedung rusak dan terbakar.
Kongres menetapkan Alcatraz sebagai bagian dari the Nasional Golden Gate Recreation Area pada 1972. Taman nasional itu salah satu yang terluas di dunia. Memiliki 75.000 acres dan 28 miles garis pantai. Tahun 1973, lokasi terbuka bagi umum. Operatornya The National Park Service.
Alcatraz mengilhami para sutradara dari Hollywood. Sejumlah film muncul dengan latar dan cerita mengenai pelarian atau ketatnya pengamanan di Alcatraz. Sebut saja film, Escape from Alcatraz, Alcatraz Island, Seven Miles From Alcatraz, Road to Alcatraz, Train to Alcatraz, Bird Man of Alcatraz, Murder in The First, The Rock, dan lainnya. Ada sekitar 40 film dengan latar dan cerita seputar Alcatraz.
Sebelum meninggalkan Alcatraz, sebuah dialog dalam film Escape From Alcatraz, antara kepala sipir, Warden (Patrick Mc Goohan) dan penjahat yang baru masuk, Frank Morris (Clint Eastwood), kembali mengingatkan saya:
“If you disobey the rules of society, they send you to prison. If you disobey the rules of prison, they send you to us.”***
Edisi cetak di Majalah Jalan-Jalan, Edisi Desember 2011.
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
11:18 AM
1
comments
Labels: Wisata
Tuesday, February 1, 2011
*Atlanta:
Di Sini Para Raksasa Dunia Berdiri Tegak
Oleh: Muhlis Suhaeri
Sebuah gambar perempuan dengan tangan terentang dan senyum tersungging, seakan menyambut kedatangan kami di Bandara Internasional Harstfield-Jackson, Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Meski cuaca begitu cerah dan bersinar, angin yang bertiup begitu kencang, membuat udara musim dingin Februari tahun lalu, terasa lebih menusuk.
Atlanta terletak di tenggara Amerika Serikat. Kota berdiri pada 1837. Kota Atlanta sangat rapi, bersih dan tertata. Di dalam kota tak banyak kendaraan lewat. Ada jalan lingkar seperti jalan tol. Sehingga kendaraan tak menumpuk di pusat kota. Kita tak perlu membayar untuk melewati jalan dua lajur, yang setiap lajurnya bisa dilewati empat kendaraan tersebut.
Toleransi dan semangat keberagaman sangat kental. Hal itu mewujud dalam berbagai bentuk. Tak heran bila Interfaith Media, yang memproduksi siaran keagamaan dari berbagai agama, bermarkas di Atlanta.
Ada banyak “raksasa” dunia berdiri tegak di sini. Raksasa industri, media, aktivis gerakan sosial, hingga jejak para presiden Amerika. Di Atlanta, kita bisa mengunjungi Coca Cola World. Sebuah museum dari minuman paling popular di jagad, Coca Cola. Di areal seluas 20 hektare, beragam botol dan kaleng Coca Cola dari seluruh penjuru dunia dan era, bisa dilihat. Juga merasakan sekitar 65 rasa Coca Cola yang dijual ke seluruh dunia. Bayangkan, merasakan nikmatnya Coca Cola di seluruh dunia, dalam satu tempat dan waktu.
Di Atlanta, kita bisa mengunjungi televisi berita paling ditonton di seluruh dunia, CNN. Melihat dan mengenang perjuangan aktivis dan gerakan sosial, bagi kesetaraan dan persamaan hak di Amerika Serikat era 1960-an, Dr Martin Luther King, Jr. Dan menyaksikan berbagai tempat spektakuler. Seperti, Georgia Aquarium, yang merupakan akuarium terbesar di dunia. Museum seni, sejarah, galeri, perpustakaan, hingga taman kota.
Keterbatasan waktu membuat saya, hanya berkesempatan mengunjungi museum Dr Martin Luther King, Jr, museum dan perpustakaan Jimmy Carter, serta pusat pemberitaan CNN.
Tempat pertama kunjungan adalah, museum Dr Martin Luther King, Jr. Museum dibuka sejak 10 oktober 1980. Di halaman masuk, terdapat kolam renang dan tempat makam Dr Martin Luther King, Jr dan istrinya, Corretta Scott King.
Sebuah jalur memanjang menghubungkan kolam renang dan pusat museum, diberi nama International Civil Rights Walk of Fame. Pemberian nama untuk mengenang dan menghormati mereka yang berani berjuang, dan mempelopori perjuangan bagi kesetaraan dan HAM.
Museum menyimpan beragam barang dan peralatan bersejarah yang pernah dikenakan sang pelopor. Mulai dari baju, jubah khotbah, sepatu, tas, dasi, foto-foto hingga tempat pemakamannya. Di salah satu sudut, juga terdapat barang dan koleksi mengenai Mahatma Gandhi. Tokoh pergerakan dan kemerdekaan India.
Tempat kedua, Jimmy Carter Library and Museum. Museum terletak di 441 Freedom Parkway, Atlanta. Tempat ini menarik untuk dikunjungi. Setidaknya, kita bisa melihat sebuah era yang telah dilalui seorang presiden Amerika Serikat. Yang terdokumentasi dengan baik, lewat kebijakan yang dibuatnya.
Meski selama pemerintahannya terjadi krisis penyanderaan terhadap staf kedutaan Amerika Serikat di Iran, Jimmy Carter tetap mendapat apresiasi yang baik selama memerintah. Bahkan, aktvitasnya selepas menjadi presiden. Tak heran bila Nobel Perdamaian, disematkan bagi sosok sederhana, anak seorang petani kacang dari Georgia tersebut.
Tak kalah menariknya adalah, mengunjungi raksasa media televisi CNN. Begitu masuk gedung, kita langsung dibawa pada suasana pemberitaan. Ribuan foto peristiwa dari seluruh penjuru dunia, menempel pada dinding. Membuat sebuah mozaik dan seolah mengabarkan peristiwa paling dekat kepada pemirsanya.
Ada yang menarik di gedung ini. Ada eskalator yang diklaim sebagai terpanjang di dunia. Eskalator itu sepanjang 205 kaki. Satu kaki setara sepertiga meter atau 0,3048 meter. Eskalator bakal membawa pengunjung ke jantung operasional media yang ditonton 28 juta pemirsa di 212 negara. Butuh waktu sekitar 2,5 hingga tiga menit, menuju lantai delapan. Rasanya, uang tiket antara $ 9-14 dollar, tak ada ruginya kita keluarkan. Apalagi, kita bisa bisa melihat, merasakan, mencoba, dan menyaksikan berbagai proses pemberitaan dan penyiaran, raksasa media ini.
Sepulang dari Atlanta, rasanya tak ada yang tak mungkin dikerjakan di dunia ini, asal kita punya niat dan berusaha. Seperti, kalimat paling popular yang pernah dipekikkan Dr Martin Luther King, Jr, dan menjelma sebagai semangat Amerika Serikat, bahkan dunia: “I Have a Dream”.
Terbit di VENUE Magazine, edisi Februari 2011
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
6:59 PM
0
comments
Labels: Wisata
Sunday, May 2, 2010
Broadway dan Sepenggal Kisah
TEMPO Interaktif, New York - Berada di Kota New York atau New York City (NYC), seperti yang saya alami sebulan yang lalu, ibarat menyusuri rimba belantara yang berisi gedung-gedung tinggi. Sejauh mata memandang, yang tampak hanya bangunan pencakar langit. Gedung-gedung berstruktur membelah langit tersebut seolah menenggelamkan penghuninya ke muka bumi yang tak terkena sinar matahari.
Ada pemahaman yang keliru selama ini soal New York dan NYC. New York adalah salah satu negara bagian di Amerika Serikat yang beribu kota di Albani. Sedangkan NYC merupakan kota (berupa pulau) dengan lima borough (setingkat kecamatan), yaitu Brooklyn, Queens, Manhattan, Staten Island, dan The Bronx.
NYC terpisah dari daratan AS. Ada dua terowongan, Lincoln Tunnel dan Holland Tunnel, yang menghubungkan Manhattan dengan wilayah terdekatnya, New Jersey. NYC terhubung dengan Brooklyn melalui Brooklyn Bridge dan Manhattan Bridge. Dan terhubung melalui Third Avenue Bridge serta Willis Avenue Bridge dengan wilayah The Bronx.
Saya dan rombongan melewati Lincoln Tunnel, yang berada di bawah Sungai Hudson, dalam perjalanan dari Weehawken di New Jersey menuju Manhattan. Terowongan ini dibangun pada 1934. Arsiteknya, Ole Singstad. Panjang terowongan 2,4 kilometer. Di dalam terowongan ada tiga lajur. Setiap lajur dapat dilewati dua kendaraan.
Di NYC tidak ada industri. Tapi semua perusahaan besar punya kantor di Manhattan. Pelabuhan besar juga sudah ditutup. Semuanya dipindahkan ke New Jersey.
“Tanah di Kota New York sangat ideal bagi fondasi pencakar langit,” kata Steven, 70-an tahun, pemandu wisata saya, yang pernah tinggal di Indonesia sampai 1950. Sebab, struktur tanahnya bebatuan. Selain itu, wilayah tersebut tak dilewati sabuk gunung api sehingga jarang terjadi gempa seperti yang sering terjadi di San Francisco di pantai barat.
Menurut sejarahnya, Kota New York awalnya dihuni orang Indian. Pada 1609, ekspedisi awal dan pemetaan dilakukan orang Belanda. Pada sekitar 1626, orang Belanda mulai berdatangan dan mendiami pulau berbukit ini. Mereka menamakan daerah itu Nieuw Amsterdam sebagai koloni barunya.
Kedatangan orang Belanda kerap memantik perseteruan dengan penduduk lokal. Sekitar 1650, perkampungan orang Belanda diserang orang Indian. Orang Belanda membuat pagar tinggi dari kayu mengelilingi daerah itu. Sekarang daerah itu dinamakan Wall Street. Wall Street merupakan daerah tertua di NYC. Tata wilayahnya tidak berkotak-kotak atau dibagi per blok seperti daerah lainnya. Wilayah itu dibangun sebelum ada perencanaan tata kota.
Pada 1664, penguasa wilayah ini berganti ke Inggris. Pada 1666, Inggris menyerahkan Pulau Banda di Indonesia kepada Belanda. Sebagai gantinya, Belanda menyerahkan Pulau Manhattan ke Inggris. Belanda merebutnya kembali dari tangan Inggris pada 1673. Tahun 1674, Inggris menguasainya secara permanen. Karenanya, wilayah itu diberi nama New York. Berasal dari kata Duke of York, bangsawan Inggris.
Kalau ingin berwisata mengelilingi Manhattan, banyak cara bisa ditempuh. Bisa menggunakan jalur kereta api dan bus. Ada lima jalur kereta bawah tanah yang terhubung dengan semua tempat di Manhattan. Jadwalnya tepat waktu. Tiketnya US$ 2,25.
Menyusuri NYC tentu tak bisa dilepaskan dari nama jalan yang satu ini, Jalan Broadway. “Broadway adalah jalan tertua di Kota New York,” kata Steven. Broadway berasal dari bahasa Belanda, Breede weg.
Bentuk jalan ini tak mengikuti struktur tata kota yang dibagi tegak lurus dan per blok. Jalan Broadway membelah kota dengan struktur diagonal dari ujung barat laut hingga ke tenggara. Jalan ini menghubungkan perbatasan NYC dengan Yonkers di Westchester County atau South Broadway, melewati The Bronx hingga ke Battery Park di bagian selatan. Panjangnya sekitar 60,8 kilometer.
Sepanjang Jalan Broadway, banyak tempat populer. Ada kampus, museum, gedung opera, gereja, perkantoran, pertokoan, dan lainnya. Universitas Columbia salah satunya. Jurusan jurnalistik di kampus ini jadi salah satu yang terbaik di AS, bahkan dunia. Uang kuliah di jurusan ini US$ 42 ribu per tahun. Sekolah musik yang sangat terkenal di Amerika, Juilliard School, yang berdiri sejak 1905, ada di jalan ini.
Bila menyusuri Jalan Broadway, kita akan bertemu dengan sebuah taman terluas di Manhattan, yakni Central Park. Luasnya sekitar 40 hektare. Central Park terletak di 5th-8th Avenue dan 59th-110th Street. Jalan Broadway menembus taman ini pada sisi sebelah barat daya.
Central Park selalu ramai. Ada orang yang melakukan olahraga: jalan santai, joging, atau bersepeda. Atau sekadar duduk-duduk saja. Bahkan lokasi ini selalu dijadikan latar beberapa pembuatan film. Terdapat jasa penyewaan sepeda. Juga danau, untuk olahraga air, lapangan tenis, dan lainnya. Taman ini relatif aman.
Ketika musim dingin, pohon-pohon di Central Park meranggas. Yang tersisa batangnya saja. Selepas musim dingin, pohon tumbuh kembali dan lebat daunnya. Kalau sudah begitu, terasa seperti bukan di NYC, karena tak terlihat gedung-gedungnya lantaran tertutup dedaunan pohon.
Para selebritas banyak tinggal di sekitar taman ini. Britney Spears, Michael Douglas, Madonna, dan lainnya, pernah tinggal di sepanjang jalur ini. Begitu pun salah satu legenda pers di AS, Joseph Pulitzer, rumahnya berada di bagian timur Central Park, di 5th Avenue.
Malah ada satu apartemen yang diklaim tertua di Amerika, bahkan dunia, bernama The Dakota. Di apartemen ini vokalis The Beatles, John Lennon, ditembak mati penggemarnya, Mark David Chapman, pada 8 Desember 1980.
Untuk mengenang Lennon, area di sisi barat Central Park, 72th Street, diberi nama Strawberry Fields Forever. Di taman ada keramik melingkar bertulisan “Imagine”, judul lagu The Beatles. Pada keramik ini selalu ada bunga dari para penggemarnya.
Segaris di sisi barat, terdapat American Museum of Natural History. Dibangun pada 1869. Museum enam lantai ini memiliki koleksi sekitar 32 juta artefak dari seluruh dunia. Di lantai 3 terdapat koleksi khas Indonesia, dari batik, keris, gamelan, sampai jenis-jenis binatang, seperti orangutan, bekantan, dan tupai Jawa. Uniknya, ada tur malam hari dengan penerangan lilin. Ada kepercayaan, pada tengah malam binatang-binatangnya seperti bisa jalan sendiri.
Museum lainnya di sekitar Central Park adalah El Museo del Barrio, Museum of the City of New York, Jewish Museum, Cooper-Hewitt Museum, National Academy Museum, Guggenheim Museum, Metropolitan Museum of Art, Whitney Museum of American Art, dan Neue Galerie.
Melewati Broadway, sejauh mata memandang akan terlihat banyak tempat hiburan dan teater. Setiap malam, ribuan orang memadati wilayah tersebut, untuk menonton teater. Saya berkesempatan menonton teater berjudul The Lion King di Minskoff Theatre, Broadway, 45th Street. Dengan tiket masuk US$ 20, badan rasanya tak mau beranjak dari kursi. Cara pemain beraksi, tata panggung, musik dan cahaya, kostum pemain, semuanya tertata apik dan sempurna.
Di seputar lokasi ini ada Time Square, yang sangat berwarna-warni oleh cahaya lampu dan billboard pada malam hari. Ada banyak restoran terkenal. Salah satunya, Hard Rock Cafe. Time Square menjadi tempat berkumpulnya ratusan ribu orang pada perayaan malam tahun baru.
Broadway mendekati gedung perkantoran tertinggi di AS, Empire State Building, milik konglomerat Rockefeller. Dibangun saat krisis di Amerika pada 1930-an. Gedung berlantai 102 ini kini tertinggi di New York setelah menara kembar World Trade Center (WTC) runtuh pada 11 September 2001. Empire State Building terbuka untuk umum. Dengan membayar US$ 20, pengunjung bisa sampai di puncak gedung.
Jalan Broadway juga membelah gedung yang diklaim sebagai tertua dan pertama di dunia yang menggunakan lift. Bentuknya segitiga, seperti setrika pakaian. Karenanya, gedung itu diberi nama Flatiron Building. Gedung dibangun pada 1903.
Bila kita berjalan-jalan di Manhattan, rasanya tak lengkap bila tak mengunjungi China Town. Daerah itu terletak di Canal Street, bersebelahan dengan Jalan Broadway. Ada sekitar 250 ribu anggota komunitas Cina di Manhattan. Jumlah tersebut dianggap yang terbesar di Amerika, bahkan di luar Asia. Mereka datang pada 1880-an.
Pada ujung Jalan Broadway di bagian selatan NYC, terdapat Financial District. Tempat ini menjadi pusat keuangan terbesar di AS, bahkan dunia. Ada Wall Street, tempat berkantor perusahaan keuangan dari seluruh pelosok dunia. Di Wall Street ada patung banteng terbuat dari perunggu seberat 3.175 kilogram. Patung ini melambangkan semangat dan antusiasme.
Ada juga kompleks WTC yang disebut Ground Zero. Di bekas gedung WTC itu dibangun gedung baru yang diberi nama Freedom. Bentuknya piramida, tidak setinggi WTC. Karena kompleksnya dipagar, kita tidak bisa melihat pembangunannya. Bila ingin melihat pengerjaan gedung, bisa mengamatinya dari gedung Winter Garden.
Ada gereja di samping WTC yang tak terkena sedikit pun reruntuhan WTC. Padahal bangunan di sekitarnya terkena. Warga menyebutnya Gereja Ajaib. Dari gedung Winter Garden, kita bisa berjalan kaki menuju pelabuhan penyeberangan, tempat patung Liberty berada. Sambil menyisir jalan dan taman yang asri di Battery Park. Ah, rasanya waktu tiada cukup untuk menjelajah NYC.
Muhlis Suhaeri, Penikmat Wisata, Tinggal di Pontianak
Edisi cetak di Koran Tempo tanggal 2 Mei 2010
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
2:55 AM
1
comments
Labels: Wisata
Thursday, April 22, 2010
*Melongok Amerika dari Dekat (Bagian 2)
Tradisi dan Sejarah Pers yang Terjaga
by Muhlis Suhaeri
Congress shall make no law respecting an establishment of religion or prohibiting the free exercise thereof or abridging the freedom of speech; or of the press; or the right of the people peaceably to assemble, and to petition the government for a redress of grievances. (The first amendment to the constitutions of the United State).
Tulisan dalam ukuran besar itu, mengukir dinding depan sebuah gedung beraksitektur modern, setinggi enam lantai di jalan 555 Pennsylvania Avenue, N.W, Washington DC. Inilah gedung Newseum yang didirikan pada 2008. Sebuah museum yang merangkai sejarah panjang pers di Amerika. Tak jauh dari gedung ini, kita bisa menyaksikan Capitol Hill atau Gedung Konggres Amerika di Washington.
Pada halaman depan gedung, pengunjung langsung disuguhi deretan kaca berisi berbagai halaman depan surat kabar. Ia seakan menyambut setiap tamu yang datang, untuk melihat dan menelusuri setiap detail dari sejarah panjang pers di Amerika.
Tradisi kebebasan surat kabar di Amerika sangat terjaga. Bahkan, UUD memberikan perlindungan, seperti tertuang dalam Amandemen I UUD. Karenanya, media benar-benar memiliki fungsinya sebagai pilar keempat demokrasi, selain eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Untuk masuk ke Newseum, pengunjung harus membayar $ 20 dollar. Ada dua pintu masuk. Pintu masuk bagi rombongan dan perseorangan. Banyak rombongan anak sekolah dan keluarga mengunjungi tempat ini.
Museum ini sangat interaktif. Pengunjung bisa melakukan berbagai eksperimen dan mencoba berbagai fasiltas teater dan pertunjukkan, ruang audio dan video, hingga praktek menjadi seorang reporter televise.
Ada enam lantai di bangunan ini. Bentuknya atrium dengan bagian tengah merupakan ruang kosong. Dari pintu masuk utama, kita langsung bisa menyaksikan sebuah helikopter jenis Bell bertengger di atas ruangan. Helikopter ini biasa digunakan untuk membuat berita seputar lalu lintas.
Pada lantai paling dasar terdapat Conus I Truck. Mobil ini berisi berbagai peralatan liputan, untuk sebuah acara langsung di televisi. Tak kalah fantastiknya adalah, adanya enam bekas dinding tembok Berlin dari Jerman dan menara pengawas. Tembok setinggi sekitar 2,5 meter tersebut, lengkap dengan coretan dan grafitinya, langsung dibawa dari Jerman, pascarubuhnya tembok yang pernah memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur.
Untuk lebih enaknya, pengunjung disarankan mulai mengunjungi lantai enam, terus turun ke bawah, lantai lima dan seterusnya. Pengunjung bisa menggunakan lift atau tangga melingkar.
Lantai enam berisi halaman muka sebagian besar surat kabar di Amerika dan dunia. Koran tersebut ditata dalam sebuah kotak kaca. “Di Newseum ada 700 halaman muka koran dari 75 negara di dunia. Namun hanya satu dari Indonesia. Yaitu, Media Indonesia,” kata Gene Mater, Media Consultant dari Freedom Forum. Gene merupakan salah satu pendiri, dan Freedom Forum adalah pengelola museum ini.
Pada lantai enam di bagian luar dari ruangan ini, ada Pennsylvania Avenue Terrace, juga berisi halaman muka surat kabar. Dari luar ruangan ini kita bisa melihat Gedung Konggres Amerika dengan lebih jelas.
Berjalan sedikit dari lokasi ini, pada lantai yang sama, terdapat Manhunt Chasing Lincoln’s Killer. Pengunjung akan disuguhi dokumentasi terbunuhnya presiden ke 16 AS, Abraham Lincoln. Di sini pengunjung bisa melihat berbagai gambar, lukisan dan teks yang mengisahkan terbunuhnya Abraham oleh Piter Both (?). Juga keterangan mengenai orang-orang yang terlibat dalam konspirasi pembunuhan Presiden, yang membebaskan perbudakan dari Amerika tersebut.
Turun ke lantai lima, pengunjung bisa melihat sejarah dari pemberitaan. Sejarah pemberitaan yang berawal dari buku, hingga terciptanya koran, radio, televisi dan internet. Berita-berita besar yang menjadi momentum dari sebuah peritiwa besar di dunia, terdokumentasi dengan baik lewat berbagai halaman muka surat kabar. Peristiwa terbunuhnya JF Kennedy, berakhirnya perang Vietnam hingga peristiwa sunami Aceh di koran The Jakarta Post, bisa kita lihat di sini.
Tak hanya itu, sebanyak lima teater juga bakal memanjakan rasa ingin tahu pengunjung dengan dokumentasi melalui audio visual. Dari lantai ini, kita juga bisa menyaksikan sebuah replika dari satelit ATS 1, yang dibuat untuk siaran langsung lima stasiun televisi.
Lantai empat merupakan drama dari peristiwa rubuhnya menara kembar World Trade Center (WTC). Peristiwa itu biasa disebut 9/11. Ratusan halaman muka surat kabar dari berbagai belahan dunia yang memberitakan peristiwa ini, menempel pada dinding selebar puluhan meter persegi. Pengunjung juga akan diaduk-aduk emosinya, lewat gambar-gambar dan audio visual yang bercerita tentang 9/11.
Tak hanya itu, berbagai perlengkapan jurnalis, seperti kamera, tas, buku catatan, kartu pers, yang berserakan dan rusak akibat meliput peristiwa tersebut, juga ditampilkan di sini. Lantai empat juga bisa disaksikan lima dari isi Amandemen I UUD Amerika, yang salah satunya berisi jaminan terhadap kebebasan pers.
Lantai tiga diisi dengan berbagai perkembangan media yang dimulai pada abad ke 19, seperti radio, televisi dan internet. Sebuah dinding besar dan berisi berbagai catatan tentang jurnalis yang menjadi korban selama melakukan liputan, juga ada di sini.
Tak kalah menariknya, di lantai ini terdapat master kontrol yang menjadi pusat kendali bagi siaran televisi. Juga, studio televisi dan berbagai pemberitaan dunia melalui media massa eletronik. Di bagian sudut sebuah ruangan, terdapat berbagai perlengkapan dan alat kerja seorang legenda jurnalis di AS, Robert R. Murrow.
Pada lantai dua terdapat ethics center. Di sini pengunjung bisa melakukan berbagai permainan yang berhubungan dengan masalah etika di bidang jurnalistik. Bagi pengunjung yang ingin merasakan menjadi reporter dan melakukan siaran langsung, layaknya seorang jurnalis profesional, ada kamera yang bisa siarang langsung di ruangan ini.
Lantai merupakan pintu masuk utama. Di lantai ini terdapat Annenberg Theater yang bisa digunakan untuk menyaksikan berbagai film dan pemberitaan. Rentetan foto-foto pemenang hadiah Pulitzer terpajang di sini. Pulitzer merupakan penghargaan bergengsi dalam bidang jurnalistik di AS. Diambil dari nama Yoseph Pulitzer, seorang pelopor dan pendiri berbagai koran di AS.
Di lantai satu terdapat toko terbuka yang menjual berbagai souvenir khas Newseum. Toko yang sama juga terdapat di lantai dua.
Lantai dasar selain berisi kepingan tembok Berlin, beserta menara pengawasnya, juga terdapat lima teater kecil. Pengunjung tinggal memilih, mau menyaksikan apa. Sebab, ada teater tentang dokumenter, olahraga, dan berbagai isu pemberitaan lainnya.
Di lantai dasar terdapat pusat jajan dan makanan. Bagi pengunjung yang merasa lapar setelah berkeliling enam lantai gedung ini, bisa rehat sejenak sambil menyeruput minuman ringan dan makanan. Setelah makan, pengunjung harus membawa nampan dan bekas makanannya ke tempat penyimpanan nampan kotor.
Yang paling menarik menyaksikan rangkaian Newseum adalah, sebagian besar ruangan atau isi museum, disumbang oleh orang atau lembaga. Semangat filantrophy atau mendonasikan uang bagi suatu kegiatan atau konservasi, merupakan salah satu tradisi di AS. Nah, bagaimana dengan Indonesia?
Edisi cetak di Tribun Pontianak, 22 April 2010
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
2:48 AM
0
comments
Labels: Wisata
Wednesday, April 21, 2010
*Melongok Amerika dari Dekat (bagian 1)
Amerika, Negeri Para Pencari Kebebasan
by Muhlis Suhaeri
Angin musim dingin segera menyergap, saat kami tiba di Bandara Internasional Dulles, Washington, Amerika Serikat (AS). Angin seakan membekap dan memenjarakan kami dalam suatu mesin pendingin raksasa. Hawa dingin menusuk hingga ke sumsum tulang. Dua lapis baju dan jaket tebal, seakan tak sanggup menutup kulit tropis kami, yang sepanjang tahun menerima sinar matahari dengan terik. Apalagi aku yang biasa hidup di garis Khatulistiwa, Pontianak.
Dua orang intepreter, Irawan Nugroho dan Shawn Callanan, segera membimbing kami menuju mobil limo penjemput. Irawan mantan jurnalis Jawa Post di biro Washington. Dia juga pernah bekerja di Voice of America (VOA). Shawn pernah belajar bahasa Indonesia di Yogyakarta. Dia juga bisa bahasa Jawa, Spanyol, dan Inggris tentunya.
Pertengahan Februari, cuaca di AS memang sedang ekstrem. Berita di layar televisi ketika kami tiba di hotel menunjukkan, temperatur berada di bawah nol derajat. Itu artinya titik beku. Tak heran bila sepanjang mata memandang, yang nampak hanya warna putih. Salju. Dan, sebelum kami tiba di Washington, badai salju terparah sepanjang AS, baru saja terjadi. Salju menutup lapisan permukaan tanah hingga ketebalan 60 cm. Ini salju terburuk dalam sejarah Amerika sejak 1921.
“Ketika turun salju, truk pembawa makanan banyak yang terlambat. Sehingga persediaan makanan dan keperluan, banyak yang kosong. Ini jarang sekali terjadi, bahkan setelah 16 tahun saya di Amerika,” kata Svet Voloshin, pemandu wisata kami di Washington. Voloshin kelahiran Rusia. Dia sudah jadi warga negara AS.
Suatu keberuntungan, aku bisa melihat dan merasakan Amerika dari dekat. Kesempatan itu kuperoleh karena mendapatkan undangan secara personal dari Kedutaan Amerika di Jakarta. Kegiatan itu bernama International Visitor Leadership Program (IVLP). Tema programnya, Democracy and Governance. Kami bertemu dengan orang media, akademisi, aktivis, pejabat pemerintahan, dan mengunjungi berbagai tempat bersejarah atau yang menjadi pusat kegiatan penting di pemerintahan dan media massa.
Kami ada lima orang. Ada yang dari Riau, Lampung, Jakarta, Pontianak dan Tarakan. Semuanya jurnalis. Di Amerika kegiatan berlangsung selama 21 hari, menjelajah lima negara bagian di AS. Yaitu, Washington DC, New York, Atlanta, Saint Louis dan California. Bila ditarik garis lurus antara lima negara bagian tersebut, perjalanan itu sekira dengan Kota Sabang di Aceh hingga Merauke di Irian Barat.
Sejarah Amerika termasuk baru, bila dibandingkan dengan Negara-negara di Eropa. Namun, Amerika punya landasan kuat, didasari dari filosofi Eropa, Montesqui, John Lock, dan lainnya. Ketika menyatakan kemerdekaannya dari penjajahan Inggris pada 4 Juli 1776, AS merupakan tempat mencari kebebasan para imigran dari Inggris, Irlandia, Swedia, Norwegia, Perancis, Belanda, Prusia, Polandia dan berbagai bangsa lainnya. Karenanya, kebebasan dan hak individu sangat dijaga dan dihormati.
Amerika didukung 13 negara bagian, saat pertama kali merdeka. Sekarang ada 50 negara bagian. UUD merupakan instrumen utama pemerintahan dan hukum tertinggi. “Kekuatan UUD Amerika, karena sifatnya sederhana, luwes dan lentur. Ada proses amandemen atau pengubahan, jika kondisi sosial, ekonomi atau politik mengharuskan,” kata Akram Elias, President Capital Communication Group, Inc, ketika memberikan materi diskusi.
Sejak diberlakukan secara resmi pada 4 Maret 1789, UUD Amerika sudah diamandemen 27 kali. Sebelum UUD berlaku, dasar pijakan pemerintahan adalah Articles of Confederation.
Dalam buku berjudul Garis Besar Pemerintahan Amerika Serikat, UUD diterjemahkan dalam suatu penjelasan bernama The Federalist Paper yang ditulis antara Oktober 1787 – Mei 1788 oleh Alexander Hamilton, 32 tahun, dan James Madison, 36 tahun. Penjelasan itu berupa tulisan essai sebanyak 51 surat di media massa. Intinya, untuk bisa bertahan sebagai bangsa terhormat, diperlukan transfer kekuasaan, meski terbatas kepada pemerintahan pusat. Para sejarawan, ilmuwan politik, berpendapat bahwa, The Federalist Paper merupakan karya penting mengenai filsafat politik dan pemerintahan di AS.
Amerika pernah mengalami perang sipil atau perang saudara antarnegara bagian, pada 1861-1864. Negara bagian selatan ingin memisahkan diri dari utara atau Union, dan memerintah sendiri dengan bentuk Konfederasi. Tapi hal itu dicegah pihak utara, terutama oleh Presiden AS ke 16, Abraham Lincoln. Isu utama perang, hak mengatur perbudakan di Negara Serikat yang baru terbentuk. Pihak utara ingin menghapuskan perbudakan, selatan tetap mempertahankan. Dalam perang ini, sebanyak 300-an ribu orang terbunuh dan 200-an ribu terluka.
Washington DC (District of Columbia) merupakan ibukota AS. Washington ibukota AS ketiga setelah New York dan Philadelphia.
Sebagai pusat pemerintahan, Washington merupakan kota yang ditinggali para diplomat. Sebagian besar negara yang memiliki hubungan diplomatik dengan AS, menempatkan perwakilannya di sini. Karenanya, tak heran bila gedung-gedung di Washington, banyak berkibar beraneka warna bendera.
Ada satu pengalaman lucu terjadi. Ketika sedang mencari makan, salah seorang teman berkata, “Lho, kok petugas di Kedutaan Indonesia, memasang bendera terbalik, ya?”
Kami segera menengok arah yang dia tunjuk. Setelah diamati, ternyata ada dua gedung yang memasang bendera hampir sama. Bendera dengan warna putih di atas dan merah di bawah. Dan bendera dengan warna merah di atas dan putih di bawah.
Setelah diamati dengan seksama, ternyata itu dua gedung berbeda. Satu gedung milik kedutaan Polandia, dan satunya milik Indonesia. Kami tertawa terpingkal dengan bebas. Sebebas negeri ini melakukan pembebasan, atas para individunya.
Edisi cetak di Koran Tribun Pontianak
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
2:39 AM
0
comments
Labels: Wisata
Tuesday, April 20, 2010
IVLP, Keliling Lima Negara Bagian Amerika
USA, Disiplin dan Aturan Jelas
By Muhlis Suhaeri
Sebagian besar kota di Amerika memiliki tata ruang yang tertata rapi. Kota memiliki blue print. Ada aturan jelas. Orang tidak bisa membangun sembarangan dan seenaknya sendiri.
Kota ditata berdasarkan blok-blok wilayah. Satu blok biasanya selebar 1 acre atau 70 meter persegi. Setiap beberapa blok ada taman kota. Tata kota yang permanen, membuat kota tetap terjaga. Bahkan, hingga ratusan tahun, sejak pertama kali didirikan.
Selama mengunjungi AS, jalan-jalan di dalam kota jarang terlihat macet. Kendaraan dialihkan dengan jalan keluar wilayah kota. Ada jalan tol penghubung ke semua wilayah. Bahkan ke semua negara bagian. Semuanya gratis. Tak perlu bayar. Begitu juga dengan air minum. Semua bisa langsung diminum dari kran.
Aku langsung teringat dengan air produksi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Bagaimana bila air dari kran langsung diminum? Pasti perut akan melilit dibuatnya. Karenanya, mau tak mau, harus merogoh uang kocek sebesar Rp 30 ribu, untuk satu gallon air atau 5 liter air, yang biasa kami konsumsi selama 4-5 hari.
Pemerintah AS sangat memperhatikan sarana dan fasilitas untuk warganya. “Ya, kami membayar pajak, kami harus dapat faslitas yang baik,” kata Michele dari Siera Club, pegiat LSM lingkungan di AS.
Sebagai pusat pemerintahan, Washington DC juga ditata dengan perencanaan yang baik. Tinggi bangunan tak boleh lebih dari The Washington Monument. Ini tugu berbentuk obelisk, setinggi 555 kaki atau sekira 169 meter.
Berbeda dengan Washington, New York merupakan kota jasa dan pusat perdagangan di pantai timur AS. Menginjakkan kaki di New York, ibarat berada di belantara gedung pencakar langit. Sangking tingginya, banyak jalan di New York, tak tersentuh panas matahari.
New York dihuni sekitar 8 juta orang. Meski padat dan sesak oleh manusia dan gedung pencakar langit, New York bukan kota semrawut. Setiap blok ada perempatan jalan yang diatur lampu lalu lintas. Di antara perempatan jalan tersebut, orang berlalu lalang dengan dinamis. Langkah-langkah para pejalan kaki seolah saling berpacu, dengan jarum jam yang terus berputar.
Karenanya, jangan sekali-kali lengah ketika menyusuri jalan di kota New York. Sekali terpisah dari rombongan, Anda akan alami kesulitan menemukan teman tersebut. Dia seakan hilang begitu saja, di tengah pusaran manusia, dan orang yang sedang berjalan kaki.
Seorang teman yang ditemui di New York berkata, Coen Husain Pontoh mengatakan, “Persaingan dan kehidupan di New York, luar biasa.”
Ketika meneruskan perjalanan ke Atlanta, pesawat dari New York, tak bisa langsung menuju ibukota negara bagian Georgia tersebut. Cuaca buruk membuat maskapai membatalkan penerbangan. Namun, maskapai penerbangan tetap bertanggungjawab, dan memberangkatkan kami menuju Houston. Dari sini, langsung ke Atlanta. Yang termasuk wilayah selatan AS.
Hampir di semua penerbangan domestik di AS, memberlakukan pengamanan dan pemeriksaan sangat ketat, terhadap semua penumpang. Segala macam tas, laptop, sepatu, ikat pinggang, dan sesuatu yang bakal menimbulkan bunyi, harus diletakkan dalam wadah khusus. Tas di bagasi tidak boleh dikunci. Tapi, Anda tidak perlu kuatir, barang Anda tak bakal hilang atau diambil petugas.
Hal itu dilakukan pascaperistiwa 9/11 atau ditabraknya menara kembar WTC oleh pesawat terbang. Bahkan, pemerintah AS membuat departemen baru. Namanya, Homeland Security Service. Salah satu tugasnya, mengamankan seluruh penerbangan domestik di AS.
Meski matahari bersinar lebih hangat di Atlanta, namun angin yang selalu bertiup kencang, membuat udara kota lebih dingin. Badan alergi dan muncul bercak-bercak merah yang rasanya gatal sekali. Ini kami alami semua. Karenanya, krim pelembab kulit dan bibir, harus selalu dibawa. Agar, kulit tak semakin pecah dan kering.
Selepas Atlanta, kami menuju St. Louis, Missouri. Kota ini menjadi pintu masuk bagi wilayah pantai timur AS, menuju pantai barat. Sejarah AS memang dimulai dari pantai timur. Sebagai simbol dari penjelajahan ke wilayah barat, pemerintah AS membuat monumen Gateway Arch. Ini tugu berbentuk melengkung, menyerupai gerbang, terbuat dari baja stainless setinggi 630 feet, dan lebar 630 feet. Satu feet sama dengan 30,48 cm.
St. Louis kota kecil. Penduduknya ramah dan bersahabat. Banyak bangunan tua dengan kondisi masih terawat dan apik.
Di sini banyak kampus terkenal. Salah satunya, Webster University. Ketika kami bertemu dengan beberapa dosen jurnalistik dari Webster, mereka dengan bangga menunjukkan sebuah kertas berisi, wisuda salah satu alumnusnya. Namanya, Susilo Bambang Yudhoyono. Biasa disebut SBY. Dia Presiden RI.
Perjalanan terakhir menuju San Francisco, California di pantai barat AS. Sepanjang perjalanan dari St Louis ke San Francisco, banyak wilayah kosong tak berpenghuni. Tapi, struktur tata wilayah dengan model blok, sudah dibuat sedemikian rupa. Dari atas pesawat, terlihat wilayah berbentuk kotak-kotak. Rapi dan tersusun. Ketika wilayah itu ditinggali, orang menyesuaikan sesuai dengan tata ruang yang sudah ada.
San Fransisco merupakan kota berbukit dengan Samudera Pasifik sebagai batas langsungnya. Memasuki wilayah udara kota ini, pesawat akan selalu disambut awan. Udara di kota ini lebih hangat. Namun, salju sesekali tetap saja nampak.
Stuktur kota ini unik, karena dibangun di atas bebukitan. Sehingga, banyak pencakar langit mengikuti struktur tanah yang miring, bahkan hingga 45 derajat. Ada sistem angkutan sangat khas di San Francisco. Kereta satu gerbong yang sanggup naik, hingga puncak paling tinggi di kota. Memakai jalur rel.
Penduduk di kota ini sangat beragam. Banyak orang Asia tinggal di sini. Orang dari China, Pilipina, Vietnam, Thailand, dan lainnya. “Meski beragam, tidak pernah terjadi keributan antara orang-orang yang tinggal di kota ini,” kata Albert, sopir yang biasa mengantar kami.
Karenanya, berjalan di kota San Francisco, serasa tinggal di kota sendiri. Hanya saja, mereka tentu ada kelebihannya. Mereka lebih tertib, disiplin dan modis….
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
3:11 AM
0
comments
Labels: Wisata
Wednesday, December 7, 2005
Melintas Alam Liar Danau Sentarum di Kalbar
Oleh: Muhlis Suhaeri
Suara mesin menderu. Kami berburu melawan waktu. Bagai sebuah pertandingan, kami seolah saling kejar, sikut dan menjatuhkan. Tak ada yang mengalah. Memperebutkan satu piala: kami harus segera sampai tujuan.
Sore yang indah bagi sebuah perjalanan. Langit cerah terlihat pada semua bidang. Hanya sepetak awan mengantung pada sebelah sisi cakrawala. Menyisakan gumpalan-gumpalan awan berjajar dan tak teratur. Terlihat bagai cabikan daging yang melepuh termakan waktu. Pucat dan kuyu.
Pada sebuah tepian sungai Nanga Suhaid, serombongan perahu cepat speed boat bersandar di dermaga. Masyarakat sekitar biasa menyebut perahu cepat ini dengan sebutan speed. Perahu ini dari serat fiber glas dengan mesin 40 pk. Cukup untuk menampung lima orang. Ukuran perahu selebar satu setengah dan panjang empat meteran. Tinggi perahu dari permukaan air sekitar setengah meter. Warna cat perahu berwarna-warni. Kontras dengan pemandangan alam sekitar, yang hijau menghampar. Riak dan gelombang sungai, membuat perahu bergoyang. Laksana boneka kecil sedang ditimang dalam momongan.
Hari itu kami menuju Lanjak. Perjalanan ini merupakan rangkaian dari kunjungan kerja Wakil Gubernur LH. Kadir ke beberapa wilayah di Kabupaten Kapuas Hulu. Sebelumnya, kami melakukan perjalanan dengan mobil dari Pontianak menuju Sejiram, Kecamatan Seberuang, Kapuas Hulu.
Dari arah Sintang menuju Sejiram, sebagian besar jalan hancur. Di Sejiram rombongan menginap. Paginya, ada pertemuan dengan berbagai elemen masyarakat. Wakil Gubernur menyerahkan sumbangan bibit karet dan sumbangan untuk gereja di Sejiram. Gereja Santo Fidelis di Sejiram merupakan gereja tertua di Kalbar. Ordo Fratrum Minorum Capucinorum, Ofm Cap, Kongregasi Imam Katolik dari Belanda, membangun gereja pada tahun 1890. Seiring dengan masuknya agama Kristen di Kalbar. Sekarang ini, pemerintah telah menetapkan gereja sebagai peninggalan bersejarah dan dilindungi.
Dari Sejiram, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kecamatan Nanga Suhaid. Di Nanga Suhaid rombongan berhenti dan mengadakan tatap muka dengan masyarakat. Dari sinilah, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Lanjak. Hancurnya infrastruktur jalan, membuat rombongan menggunakan perahu cepat. Perjalanan dengan perahu lebih efisien dan menghemat waktu. Bayangkan! Bila melalui jalan darat, kita harus meluangkan waktu sekitar 8-9 jam. Dengan perahu cepat, hanya butuh waktu sekitar satu setengah jam saja.
Lanjak merupakan satu wilayah di Kecamatan Batang Lupar, Kapuas Hulu. Kami berlima dalam perahu. Dini Hariyanto, Yunus, Budi, Susano, dan aku sendiri. Tiga orang pertama adalah pegawai Pemda Kapuas Hulu, bagian protokoler dan Polisi Pamong Praja. Nama keempat merupakan supir perahu, atau biasa disebut motoris. Dini seorang yang aktif dan banyak bercerita. Yunus dan Budi lebih banyak diam. Dini mampu menyemarakkan suasana. Dini duduk di depan bareng Susano.
Kami bercanda sepanjang perjalanan. Suara musik dari seperangkat tape recorder, juga menyemarakkan suasana. Meski lagu house music yang diperdengarkan tak karuan juntrungnya, namun cukuplah menemani selama perjalanan.
Perjalanan ini membuat adrenalin yang ada di tubuhku seakan bergolak. Sebuah perjalanan yang kunanti. Menjelajah alam liar. Penuh tantangan dan petualangan. Belasan perahu telah berangkat duluan. Kami perahu terakhir. Ketika pertama kali gas ditarik, Dini, Yunus dan Susano mencondongkan badannya ke depan. Cara itu dilakukan, agar moncong perahu tidak naik ke atas. Deru suara mesin membelah air danau. Menyisakan buih dan cipratan pada buritan perahu.
Selama menit-menit pertama, perahu melaju dengan kecepatan sedang. Menerobos permukaan sungai Kapuas yang airnya sedang pasang. Susano melakukan gerakan memutar dan menghindar, bila dilihatnya ada gelondongan dan serpihan kayu menghadang. Perahu wana merah dengan tulisan New River itu, seolah menari-nari di atas air. Kami yang ada di perahu makin duduk merapat, menikmati hempasan demi hempasan.
Pemandangan sungai Kapuas sungguh elok. Deretan tetumbuhan hutan tropis berjajar di sepanjang sisi sungai. Bentangan air sungai Kapuas berwarna hijau agak kecoklatan memisahkan deretan itu. Sungguh perpaduan fantastik dan eksotik. Aku yakin, andai pelukis Van Gogh masih hidup, dia akan menyapukan kuas dan mendokumentasikan keindahannya. Setara dengan rona keindahan lukisan Sun Flowers-nya.
Perahu melaju dengan kecepatan sekitar 40 perjam. Kami melewati aliran sungai Kapuas. Sekitar 30 menit berlalu, perahu mulai memasuki wilayah danau. Luas danau Sentarum sekitar 80 ribu hektar tahun 1992. Data terakhir, danau ini seluas 90 ribu hektar. Rencananya, pemerintah akan memperluas area danau hingga 132 ribu hektar.
Sangking luasnya, tepian danau seakan tak terlihat. Deretan bebukitan yang mengitari danau, hanya menyembulkan seujung garis putih saja. Beberapa kali, perahu menerobos celah tumbuhan danau. Tujuannya, untuk memangkas dan memperpendek jarak tempuh. Tentu saja perahu harus mengendorkan lajunya, bila melewati celah itu. Bila tidak, siap-siap saja dahan atau ranting akan menggores tubuh.
Lebih fatal lagi, perahu akan menabrak pohon. Meski sudah melewati daerah ini puluhan kali, orang bisa saja tersesat dan berputar-putar pada daerah yang sama. Penanda jalur perjalanan sedikit sekali jumlahnya. Seorang motoris hanya mengandalkan pengalaman dan daya ingatnya, bila berhadapan dengan jalur ini. Biasanya, deretan bukit dan pohon dijadikan sebagai tanda, di mana perahu harus berbelok dan mengarah.
Langit mulai berubah. Mendung mulai memayungi area danau. Awan hitam merata pada semua sisi. Tak lama, gerimis mulai turun. Kami menarik terpal warna hijau di buritan perahu. Segera saja, terpal dengan batangan besi itu, memayungi badan perahu. Ombak di danau mulai terasa. Menggoyangkan perahu berukuran kecil itu. Perahu mengurangi laju dan mulai berjalan pelan.
Motoris melongokkan kepala keluar. Dia mencari celah dan memecah ombak, agar perahu tidak terhempas. Sebuah kerja penuh perhitungan dan pengalaman tersendiri. Tinggi ombak memang tidak seberapa. Antara puncak tertinggi dan terendahnya, sekitar 30-40 cm. Namun, bila tidak cukup hati-hati, ombak sanggup menggulingkan perahu.
Bila sedang berhadapan dengan kondisi alam seperti ini, setegar apa pun seseorang, nyali bisa ciut juga. Ya, perasaan itu manusiawi sifatnya. Bagaimana dengan orang yang sudah terbiasa melintas di danau?
“Ada perasaan takut juga sih,” kata Susano.
Perahu tetap melaju meski terjadi hujan dan gelombang. Tak ada pilihan lagi. Mau ke tepi juga jauh. Satu-satunya pilihan, perahu mesti berjalan pelan menembus ombak. Setelah sekitar 15 menit diterpa hujan dan gelombang danau, cuaca mulai mereda. Kami langsung menyingkapkan terpal. Gas perahu ditarik. Dan suara mesin kembali memecah keheningan danau air tawar terlengkap speciesnya di dunia ini.
Menurut data di Suaka Margasatwa Danau Sentarum, ada sekitar 207 jenis flora yang tercatat di Sentarum. Ada sekitar 120 jenis ikan. Jenis ikan itu antara lain, arwana Sclerophages formosus, belida Chitala lopis, toman Channa micropeltes, betutu Oxyeleotris marmorata, jelawat Leptobarbus hoevenii, ulanguli Botia macracanthus, dan lainnya.
Berbagai jenis fauna yang populasinya tinggal sedikit dan terancam punah, juga ada di sini. Fauna itu adalah, burung rangkong (Nasalis larvatus), orangutan (Pongo pygmaeus), buaya muara Crocodylus porosus, buaya sinyulong Tomistoma schlegelli, buaya siam Crocodylus siamensisi, macan dahan Neofelis nebulosa, ruai Argusianus argus, bangau susu Ciconia starmii, dan lainnya. Kabarnya, ada 12-16 jenis species yang belum ada nama latinnya.
Pemerintah pusat menetapkan danau Sentarum sebagai suaka margasatwa melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 757/Kpts-II/Um/10/1982 tanggal 12 Oktober 1982.
Danau ini menawarkan banyak hal. Selain potensi ikan air tawar berlimpah jumlahnya, danau juga menyediakan berbagai potensi. Ada pulau Putri Melayu dan Tekenang. Pulau ini akan dijadikan obyek wisata alam. Ada potensi ilmiah yang bisa dijadikan berbagai obyek penelitian. Karenanya, pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, mencanangkan wilayah ini sebagai obyek ecotourism.
Tak heran jika di pulau Tekenang, ada pusat penelitian dan kantor suaka marga satwa. Danau Sentarum merupakan danau air tawar cukup unik. Bila musim hujan, area danau akan tergenang. Air danau berwarna merah agak kehitaman. Warna itu muncul karena hutan gambut di sekitarnya.
Danau Sentarum merupakan penyeimbang debit air di sungai Kapuas. Bila air sungai mulai menurun, maka air danau mengalir menuju sungai Kapuas. Kondisi itulah yang membuat debit sungai air Kapuas cenderung normal. Bila musim kemarau, permukaan danau akan kering di beberapa bagian. Pada saat itulah, ikan dalam jumlah ribuan ton, akan mengumpul pada beberapa sisi danau.
Pada beberapa bagian danau, terlihat pohon hitam melepuh. Area itu bekas terbakar pada musim kemarau. Menyisakan batang pohon yang memancang. Pemandangan ini memberi warna tersendiri pada kondisi danau.
Setelah melintas alam liar danau Sentarum hingga satu setengah jam, kami sampai Lanjak. Di sepanjang pinggiran danau, deretan kayu terapung di air dan terikat satu dengan lainnya. Sebagian telah terangkat ke darat dan tertata dengan rapi. Namun, banyak juga yang teronggok di sepanjang jalan.
Kayu itu memang dihanyutkan ke sekitar Lanjak. Kayu berasal dari berbagai wilayah di sekitar danau. Biasanya, kayu yang sudah berada di sekitar Lanjak, akan diangkut dengan jalan darat menuju perbatasan. Setelah itu akan dibawa ke Malaysia. Dengan dilarangnya masyarakat melakukan penebangan liar, nasib kayu itu juga tak tentu arah. Senasib dengan kondisi masyarakat sekitar. Yang juga terpuruk kehidupannya.
Begitulah perjalananku hari itu. Melintasi sungai dan danau air tawar, memberi pengalaman tersendiri bagi kehidupanku. Betapa potensi alam nan luas dan menghampar, masih menyisakan sebuah tanda tanya.
Akankah, potensi itu dibiarkan sedemikian rupa dan tak tersentuh? Atau, dia akan dipoles, bak layaknya seorang penari? Yang akan berlenggak-lenggok mengitari arena, dan membuat siapa pun mata memandangnya, akan terbelalak dan terpana dibuatnya?
Tentunya, hal itu menjadi tanggung jawab kita bersama. Nah, kalau Anda mau mencoba dan berpetualang alam liar, silahkan datang ke sana. Dijamin, Anda tak akan pernah menyesal.***
Foto by Muhlis Suhaeri, "Siap-siap."
Edisi cetak, minggu pertama, Desember 2005, Matra Bisnis
Foto Muhlis Suhaeri
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
8:55 AM
0
comments
Labels: Wisata