Showing posts with label Essai Foto. Show all posts
Showing posts with label Essai Foto. Show all posts

Sunday, October 18, 2009

Para Penjelajah Kapuas

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Inilah tapak sejarah, yang menanda pada alat transportasi
Membentuk ciri dan kekuatannya yang khas
Menampilkan bentuk dan fungsinya,
untuk menjelajah alur dan sungai terpanjang ini.

Dialah para penjelajah Sungai Kapuas
Yang setia dan berbagi dengan lainnya,
Menapakkan punggungnya
pada coklat air yang kian keruh dan berlumpur


Para penjelajah itu, melayani kepentingan
ekonomi, wisata, budaya, pengamanan dan lainnya,
Dari para manusia yang seakan tak pernah putus kepentingannya.
Hingga pada akhirnya, tercipta yang baru dan membuang yang lama.

Begitulah teknologi terciptakan
Dan, Sungai Kapuas menjadi saksi
dari semua Perkembangan itu….


Teks dan Foto: Muhlis Suhaeri
Edisi cetak ada di Borneo Tribune 18 Oktober 2009

Baca Selengkapnya...

Sunday, October 11, 2009

Kampung Beting

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Seperti juga wajah wilayah lain di negeri ini,
wajah kampung ini, mirip dan sama nasibnya.

Tangan Negara melalui pembangunannya,
Tak menyentuh dan memberikan solusi,
bagi masalah yang sedang terjadi,
begitupun pada apa yang dibutuhkan warganya.

Semua dibiarkan berjalan dan tak ada rambu,
Sehingga menjadi liar dan tak terurus.
Kampung Beting ibarat jamban besar.
Semua yang dibuang dan dimasukkan
menyatu dalam satu wajan perkampungan.
Tak menyisakan nilai kebersihan, dan kesehatan bagi warga.

Padahal, bila Negara punya peran dan memberikan sentuhan,
Beting adalah keindahan. Mahkota yang siap dipoles dan menjadikannya bersinar.

Siap menampilkan pemandangan dan keindahan, dari setiap kelokannya.
Sebuah ciri khas perkampungan pinggir sungai,
dan kehidupan masyarakatnya yang dinamis.

Kampung itu menanti uluran dan penghapusan stigma. Kampung Beting, namanya…..

Teks dan Foto: Muhlis Suhaeri

Edisi cetak di Borneo Tribune, 11 Oktober 2009

Baca Selengkapnya...

Sunday, October 4, 2009

Tungku Naga

Muhllis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Sebuah tungku menghampar. Puluhan meter panjangnya.
Memanjang laksana naga. Siap memanggang dan mengeraskan,
semua yang bakal masuk. Menjadikannya liat dan keras.

Munculkan produk menawan dan mempesona,
bagi setiap mata yang memandang dan menjadikannya,
peranti pemercantik ruang dan tempat pribadi.
Menjadikannya keindahan yang mematri, bagi setiap mata yang memandang.


Tapi, tungku dan keramik naga itu mulai melemah.
Kurang mendapat tempat dalam pemasarannya.
Tersisih dengan barang sama dan murah yang makin menggempur.

Kini, semua mata harus mulai melihat,
pada geliat naga yang mulai lemah dan kurang tenaga.
Menyelamatkannya dari segala bala dan kehilangan arti keindahan,
Sang Tungku dan Keramik Naga.

Teks dan Foto: Muhlis Suhaeri
edisi cetak ada di Borneo Tribune edisi 4 Oktober 2009

Baca Selengkapnya...

Sunday, September 13, 2009

Pulau (Kabung) Berkabung

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Semoga saja, ini bukan sebuah kutukan, karena menyandang nama Kabung.
Nama yang terlanjur identik dengan kesedihan, petaka, susah, dan bencana…

Kabung adalah sebuah pulau penuh potensi,
Berada di pinggiran laut yang kaya hasil ikan, Laut Cina Selatan
Namun, Kabung seakan terlupakan dan tercerabut dari wajah pembangunan
Tak terurus dan termarjinalkan…


Pemerintah tak mengulurkan tangannya melalui pemberian berbagai sarana,
pembangunan listrik, dermaga, modal bagan, pengering ikan, sarana air bersih, dan penunjang lainnya.
Buruknya transportasi membuat warga selalu berhadapan dan dicengkram maut
Sulitnya mendapat pendidikan, membuat anak putus sekolah
Potensi ekonomi lokal tak bergerak, karena terhambat minimnya infrastruktur
Tak adanya modal, membuat warga selalu terbelit hutang pada tengkulak
Yang menyungkurkannya pada kemiskinan yang akut dan abadi…

Inilah wajah pembangunan kita
Selalu berpikir tentang sesuatu yang besar,
Namun permasalahan mendasar tak tersentuh dan terabaikan…..


Foto dan Teks: Muhlis Suhaeri
Edisi cetak ada di Borneo Tribune edisi 13 September 2009

Baca Selengkapnya...

Sunday, August 30, 2009

Ferri Penyeberangan Kapuas

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Sungai Kapuas adalah nadi
yang membawa hidup bagi jantung Borneo.
Segala yang hidup seakan tak lepas dari alirannya.

Kapuas memberi hidup bagi semua yang hidup.
Bahkan, tetap menyemai bagi yang telah mati.
Sebab, dari alirannya semua bakal menyemai kehidupan itu sendiri.


Kapuas menghidupkan ekonomi, membentuk kultur sosial,
dan menghidupkan berbagai religi.
Memberikan ruang bagi mereka yang ingin menjalani hidup.

Kapuas selalu diarungi.
Memberi mantra bagi siapa saja yang melewati,
Untuk selalu kembali dan mengarunginya.

Begitu juga bagi kapal ferri penyeberangan,
Yang seolah tak pernah lelah, menempelkan lambungnya
pada Sungai bernama Kapuas…

Foto dan Teks: Muhlis Suhaeri

Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 30 Agustus 2009


Baca Selengkapnya...

Sunday, August 23, 2009

Peziarahan

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Langkah-langkah ini serasa makin pelan,
Bahkan, saat kita harus berkejaran pada
ruang dan waktu yang tak bisa lagi menunggu
siap menggilas dan membuat kita seperti sepotong
daging yang teronggok dan membusuk
terlempar pada tepi sebuah jalan….

Peziarahan ini, harus kembali dijalani
‘tuk mengais secuil rahmat dan berkah yang Engkau
janjikan pada kami, hingga kaum-Mu ini harus
meratap dan berdoa penuh harap
untuk mendapatkan pahala terbesar-Mu….


Peziarahan ini, mesti kami jalani
bulan suci Ramadan kembali datang
membawa rejeki bagi para penjual bunga, kue, tukang parkir,
dan banyak umat-Mu….

Tapi, atas nama bulan suci, sebagian kaum-Mu,
melakukan perampasan hak dan main kuasa,
melebihi kuasa-Mu…..

Menutup warung makan, Café, membakar tempat prostitusi,
mengotong para PSK dan memasukannya dalam kerangkeng
mereka yang merasa berkuasa, melegalkan tindakan anarkis
atas nama kesucian bulan peziarahan ini….

Sesuci itukah Ramadan?
hingga ada sebagian umat-Mu berbuat jahat dan tak memiliki prikemanusiaan
pada yang lain?


Foto dan teks: Muhlis Suhaeri
Edisi cetak ada di Borneo Tribune 23 Agustus 2009

Baca Selengkapnya...

Sunday, August 16, 2009

Kabut, Sang Pencabut

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Kabut asap seakan tak mau lepas dari udara
bumi Khatulistiwa

setiap tahun ada dan selalu berulang
menampakkan wajah pucatnya yang makin beringas
menutup wajah-wajah pasrah yang tak mau
menyunggi nasibnya sendiri

manusia seakan tiada nalar lagi menghadapinya
ilmu pengetahuan telah mati dibuatnya
hukum tak lagi menjejakkan kukunya di bumi
dibeli dengan cara borongan oleh
mereka yang punya modal
dan, runtuh seruntuh-runtuhnya……


tak menyisakan harap
pada hidup yang harus direngkuh

Ini akan terus berulang,
Sebab, kita hanya DIAM
Tak pernah lakukan tuntutan-tuntutan!


Teks dan Foto : Muhlis Suhaeri

Edisi cetak ada di Borneo Tribune 16 Agustus 2009


Baca Selengkapnya...

Sunday, February 1, 2009

Daerah Batas yang Kian Merana

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak

Sudah sekian lama,
masyarakat perbatasan merasa ditelantarkan.
Meski sudah lama merdeka,
tapi wilayah itu, tak tersentuh pembangunan.

Padahal, dalam berbagai pidato dan kata sambutan yang disampaikan,
Kata-kata manis selalu diucapkan:

”Jadikan, wilayah perbatasan sebagai serambi,
Sebagai halaman depan. Dan sebagai-sebagai lainnya....”


Nyatanya, semua hanya slogan belaka.
Pemanis pidato dalam berbagai acara seremoni.
Pengering mulut bagi lidah yang kian tebal dan mati.

Kondisi berbeda dan sangat kontras
terlihat pada negara tetangga. Mereka semakin giat
memoles dan memperbaiki daerah perbatasan.

Bila ditilik dua pembangunan di sepanjang dua negara,
ibarat bumi dengan langit. Gelap dan terang.

Karena kegelapan di perbatasan itulah,
segala benda yang berada di tapal batas, terjarah dan terbengkas.
Jalur surga bagi segala perdagangan illegal dan terlarang,
tempat menyalurkan manusia dan barang...

Ketika semua sudah terjarah.....
Yang tersisa hanya gundah dan amarah....


Foto : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri

Edisi cetak ada di Borneo Tribune 1 Februari 2009


Baca Selengkapnya...

Sunday, January 18, 2009

Solidaritas yang Tertumpah

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak

Sebuah peristiwa kemanusiaan terjadi,
pada sebuah sisi dunia yang selalu menjadi bara,
tanah bernama Palestina.

Di tanah itu, pertumpahan dan pertikaian terjadi,
sejak dulu kala. Ketika budaya dan peradaban baru tumbuh,
tergerus, oleh nafsu yang saling memangsa.

Kini, tragedi dan pembantaian kembali terjadi.
Membuat seisi dunia bergerak, untuk segera menyerukan,
penghentian dan penghilangan generasi yang sedang berjalan.


Berbagai cara dilakukan, bagi solidaritas yang kian tak tertahan....

Demo digelar. Spanduk dibentangkan.
Teriakan lantang dikumandangkan. Do’a dipanjatkan.
Bendera sebagai simbol identitas,
dibakar dan dimusnahkan.

Solidaritas ini, mesti mengumandangkan nilai kemanusiaan,
bukan simbol agama dan etnisitas,
bagi sebuah dunia yang damai dan abadi.

Satu bumi tanpa penindasan.....


Foto : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri

Edisi cetak di Borneo Tribune 18 Januari 2008

Baca Selengkapnya...

Sunday, January 11, 2009

Zaman (Singkong) Bergerak

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak

Dalam deretan batang yang sejajar dan segaris,
puluhan batang Singkong, berderet menapak langit.
Coba menyapa zaman yang terus berkembang cepat,
ligat dan tak ada kompromi.

Singkong memiliki nilai ekonomis,
Batang, daun, dan umbinya. Semua bisa digunakan.
Ia memberi hidup, bagi yang memelihara dan merawatnya.
Ia menghasilkan pundi-pundi, bagi ketelatenan yang telah dilakukan.


Singkong tak hanya makanan.

Ia juga simbol,
bagi zaman yang terus bergerak...
Simbol yang satire,
bagi kehidupan yang dianggap papa.

Tak heran,
penggambaran ideal bagi sebuah ketertinggalan,
adalah, Zaman Singkong.

Ada Singkong, ada Keju
Manusia hidup, harus maju....


Foto : Yusriadi
Teks : Muhlis Suhaeri

Edisi cetak di Borneo Tribune, 11 Januari 2008


Baca Selengkapnya...

Sunday, January 4, 2009

Nasib Manusia Kayu

Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak

Kemarin, hari ini, lusa, atau hari-hari kedepannya….
pergulatan nasib sebuah komunitas manusia kayu
terus saja berlanjut.

Tak ada yang berganti,
kecuali batangan-batangan kayu yang semakin rentan dan mengecil.
Karena tak ada lagi penanaman ulang dan yang bisa ditebang.

Namun, harapan hidup janganlah terus dilimpahkan,
pada setiap jengkal tanah yang semakin gundul,
tak terurus, dan kering ini.


Karena hukum tak bakal lagi mentolerir,
pada hajat hidup,
yang membuat orang lain susah, akibat
banjir yang bakal ditimbulkannya.

Hari itu, pemangkasan kembali dilakukan,
terhadap mereka yang kembali membengkas alam,
di sebuah tempat bernama Sungai Ambawang.

Jangan atas namakan kemiskinan,
Bagi pemakluman kejahatan pada alam
yang bakal dilakukan….


Foto : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri


Baca Selengkapnya...

Sunday, August 3, 2008

Hidupku dari Bayam

Di sebuah hamparan tanah lapang
Sebuah keluarga bercocok tanam dan beternak.
Kehidupan mereka bersahaja.

Ada ikatan batin antara pilihan hidup,
dan perjuangan menyunggi nasib yang harus ditempuh.

Tanah yang kian basah dan berlumpur,
diaduk, dibalik, diolah dan diberi pupuk.
Tak lain, agar jadi lahan subur, bagi tanaman bayam yang bakal ditanam.
Dari tetumbuhan inilah, kehidupan bakal berlanjut.


Tak terlalu rumit.
Saban hari, seluruh keluarga bekerja untuk merawatnya.

Kulit-kulit yang putih dan bersih itu,
Tiap hari menantang cahaya matahari di garis Khatulistiwa
Yang sangat terik dan melengaskan....


Fotografer : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri

Baca Selengkapnya...

Sunday, June 1, 2008

Wajah Kota yang Tak Ramah

Ibarat magnet, kota selalu membuat orang untuk datang,
’tuk mengadu nasib dan mencari kehidupan lebih baik.

Kota dianggap menyediakan berbagai kemewahan
dan pencapaian.

Kota selalu menyebarkan harum dan bau wangi
menawarkan berbagai mimpi bagi masyarakat sekitarnya.

Di kota, berbagai simbol modernitas muncul
saling berkejaran dengan kemiskinan
yang selalu menampilkan wajah tergarangnya,
membuat realitas kian tumpang tindih dan paradok.


Lihatlah, bocah-bocah jalanan itu....
Tergilas dalam putaran waktu yang kian cepat dan tak kenal kompromi.

Menelantarkan siapapun yang tak sanggup bertahan
menenggelamkan kehidupan mereka yang kian rentan,
pada berbagai kekerasan dan pelecehan.

Sebuah tanya langsung terlontar,
di manakah tangan pemerintah?
tangan yang berjiwa.....
atau, tangan Tuhan?

Mengambil alih dan menyelamatkan, nasib para anak jalanan ini.



Fotogrfer : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri






Baca Selengkapnya...

Monday, May 19, 2008

Dendang Kami

Hari ini, kami berdendang tentang diri
tentang langkah yang mulai berpijak
dan berangkat dari langkah-langkah kecil.

Meniti, menelusur, dan menapakkan jejak
Pada berbagai momen dan peristiwa yang menggelegak,
Pada keras hidup yang kian tak berujung.

Tak terasa, setahun sudah waktu mengiring
Mengepakkan sayap dan jadi malaikat pelindung
Menajamkan mata pada setiap kalimat yang dirangkai
Pada batas ruang yang tak mengenal kompromi: DEADLINE


Kini, semua yang terbentuk, menegaskan bentuk
Segala yang tak nyata dan maya, tak ada lagi guna.
Karena yang ingin kami sampaikan
Adalah Fakta.

Inilah Kami
Yang akan menegaskan setiap kata dalam rangkaian kalimat
Membuka ruang kesadaran pada sebuah ingatan
dan menjaga ingatan pada sebuah lupa
Menutup celah, pada setiap yang mengandung berhala......

Terbang....
Terbanglah tinggi wahai Enggang Gading
Taklukkan dunia dari tanah leluhurmu
Tanah BORNEO.....

Selamat Ulang Tahun.....
Ini tahun pertamamu......


Foto : Jessica Wuysang dan Amirullah Asri
Teks : Muhlis Suhaeri

Baca Selengkapnya...

Sunday, April 27, 2008

Mendekatkan Diri dengan Lingkungan

Sepasang anak tersenyum dengan polos melihat ada yang datang.
Merasa tak terusik, ia lanjutkan permainannya dengan sang adik.
Keduanya penghuni perkampungan sampah.

Sebuah pertanyaan terlontar. Bagaimana mungkin, sebuah generasi tumbuh dengan baik, dalam kubangan sampah dan beragam kotoran kota ini? Itulah sisi-sisi kemiskinan. Tak adanya pilihan hidup, membuat mereka tetap menjalani hidup yang tak berperi ini.


Mengumpulkan setiap keping demi keping sampah. Menjualnya dan menukarkan jadi bahan kebutuhan pokok. Begitulah, realitas hidup dari pinggiran Kota Pontianak. Pemandangan itu, merupakan realitas sebagian besar perkotaan di negara ini.

Pembangunan tak menjawab dan mengubah nasib sebagian besar warganya. Mereka tetap terpinggirkan. Dalam kantong-kantong kemiskinan.

Siang itu, serombongan siswa mendatangi tempat penampungan sampah akhir.
Mereka berbincang. Bertanya. Dan mengamati lingkungan di sekitar.
Yang ada hanya sampah. Bau dan berjamur.

Rombongan siswa datang untuk belajar dan memahami arti lingkungan hidup. Mencari tahu kaitan lingkungan dan sampah yang mereka buang. Juga konsumsi air yang mereka gunakan.

Hasilnya? Pemahaman baru dan sudut pandang tentang kehidupan. Memang seperti itulah sebenarnya pendidikan. Membuka cakrawala pada sebuah realitas yang mengangga. Hingga muncul semboyan bersama.

Bersatu menyelamatkan alam dan lingkungan.□

Fotografer : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri

Baca Selengkapnya...

Sunday, April 13, 2008

Rumah di Atas Air

Ratusan rumah berdiri di atas air
Dalam keremangan malam, mereka menyalakan nasib.
Berbekal lampu petromak dan sebuah bagang dari kayu nibung,
Mereka berjuang mengadu nasib.

Lalu, menunggu dan menunggu…..

Pada sebuah jaring yang terentang, nasib sebuah keluarga dipertaruhkan.


Ikan, kepiting, cumi yang mengerubung cahaya pun, mulai tersangkut.
Pada keesokan hari, keluarga telah menunggu.
Hasil tangkapan berpindah tangan. Dibersihkan, kemudian dikeringkan.

Apa boleh buat,

nelayan harus menjual hasil tangkapan pada tengkulak,
Yang telah memberi mereka modal, tuk mendirikan bagang.
Tentang harga, tengkulak yang menentukan.

Murah memang, namun apa boleh buat.
Nelayan harus mengangsur utang yang mereka buat.

Dalam lingkaran hidup yang terus bergerak, nelayan terjerat.

Menapak hidup dalam gelombang alam dan kapital yang tak pernah surut.
Itulah nasib para nelayan di Pulau Kabung, Kalbar.


Fotografer : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri


Baca Selengkapnya...

Sunday, March 30, 2008

Duh, Rusaknya…..

Bayangkan, wilayah Kalbar yang begitu luas ini.
Dari utara ke selatan sepanjang lebih dari 600 km.
Dari barat ke timur sekitar 850 km.

Hingga tahun 2004, berdasarkan data Kalbar dalam angka,
Hanya 6.147,93 km jalan terbangun. Jalan itu terdiri dari jalan negara 1.575,32 km. Jalan provinsi 1.517,93. Jalan kabupaten/kota sepanjang 4.630 km.


Itupun tak semua jalan, bagus kondisinya.
Tak seharusnya jalan dibiarkan rusak begitu saja.
Jalan merupakan kehidupan. Urat nadi dari segala urusan.

Dengan adanya jalan, segala kehidupan bisa berlangsung.
Bayangkan bila tak ada jalan, betapa kehidupan bakal terkungkung dan terasing.
Jalan tak hanya menghubungkan satu daerah dengan lainnya.
Kehadiran jalan, mempermudah segala urusan.

Jalan rusak membuat segala sesuatu menjadi mahal.
Urusan susah dilakukan.
Barang pun susah dipasarkan.
Masyarakat mengeluarkan uang dan tenaga lebih dengan buruknya jalan.

Rusaknya jalan, rusak pula kehidupan.


Foto : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri


Baca Selengkapnya...

Monday, March 3, 2008

Pusat Kehidupan yang Semakin Redup

Seulas senyum mengembang,
Dari bocah-bocah penghuni rumah Betang.
Menatap masa depan dengan sikap optimis, khas seorang bocah.

Siang itu, mereka menyambut tamu yang datang. Bertegur sapa dan bergaya di depan lensa. Tak ada rasa canggung. Semua mengalir dengan alami. Begitulah dunia kanak.
Polos dan berseri.

Namun, masih dapatkah kita melihat senyum alami itu, beberapa tahun ke depan?


Ketika garda dan pertahanan terakhir mereka, harus lapuk dimakan waktu. Padahal, di sana semua yang bermula dan hidup, menambatkan arti dan makna sebuah identitas.

Ya, rumah Betang tak sekadar tempat tinggal. Rumah Betang adalah sebuah awal. Bagi kehidupan, budaya, dan semangat sebuah generasi. Rumah Betang pusat kehidupan yang terus bergerak.

Satu pertanyaan muncul. Masihkah rumah Betang membawa semangat dan pusat sebuah kehidupan? Ketika mereka yang sudah meninggalkan dan membuat rumah sendiri, tak lagi menengok dan melongokkan kepala, bagi kehidupan dan jati diri yang tinggal di sana?

Tak seharusnya, rumah Betang terabaikan. Ditinggalkan. Atau, rubuh oleh zaman.
Rumah Betang tak sekadar tempat tinggal. Ia sebuah identitas. Dengan hilangnya rumah Betang, hilang pula identitas sebuah generasi. Haruskah itu terjadi?

Seandainya ada garis nasib yang menentukan itu, aku akan melawannya. Bagaimana dengan Anda……..


Fotografer : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri

Edisi cetak di Borneo Tribune, 2 Maret 2008

Baca Selengkapnya...

Sunday, December 23, 2007

Perginya Sang Pemberi Teladan

Segalanya terjadi dengan mendadak. Tak ada kabar, bahwa ia alami sakit. Tak ada gejala, ia rasakan sesuatu. Tatkala berita itu tersiar, semua seperti tersentak. Kaget dan shok. Rabu (19/12), pukul 02.10 WIB, H Apar Aswin meninggal dunia di rumah sakit.

Benarkah berita yang didengar?

Bukankah, semalam ia masih bersama sang istri membuka suatu acara organisasi kepemudaan? Bukankah, ia baru saja pulang dari melantik kader Partai Hanura yang dipimpinnya di Kalbar? Bukankah, ia masih sehat dan berbincang dengan semua koleganya, malam itu?



Semua pertanyaan berpendar dalam setiap benak yang mengenalnya. Masih tak yakin. Hingga terlihat sebuah jasad telah terbujur kaku dalam satu rumah di Jalan Akcaya, tempatnya tinggal selama ini.

Sebagian besar pejabat dan staf hadir. Menyambangi untuk terakhir kali. Semua merasa kehilangan. Bagi mereka yang pernah mengenalnya, ia dikenal sebagai sosok yang rendah hati.

Meski Jenderal berbintang dua, karakter militer tak nampak dalam gaya pemerintahannya, semasa menjabat sebagai gubernur Kalbar, periode 1993-1998 dan 1998-2003.

Bila sedang marah, ia memilih diam. Bila ada staf terlihat bingung karena sedang tak ada uang, ia cepat tanggap dan memberikan jalan.

Karenanya, semua merasa kehilangan. Pada Sang Pemberi Tauladan.
Selamat jalan Pak. Kami akan mengenang dan melanjutkan cita-citamu….□


Foto : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri

Edisi Cetak 23 Desember 2007



Baca Selengkapnya...

Tuesday, December 18, 2007

Restu dari Semesta

Rintik hujan menetes. Dalam hitungan menit, bumi menangkap setiap butiran air yang jatuh. Seperti bunda yang menyambut kanak dengan elusan berjiwa. Semesta ikut berdendang. Menyambut pergantian dengan sebuah hidangan.

Hujan dan ritual. Alam dan kepercayaan. Dua sisi yang selalu selaras. Dalam kepercayaan masyarakat, bila ada ritual disambut dengan hujan, rejeki bakal lancar. Ada keberuntungan bakal terpancar.



Begitu juga siang itu, Senin (18/12). Ada satu ritual. Pelantikan Walikota dan Wakil Walikota Singkawang terpilih, periode 2007-2012, Hasan Karman, SH, MM dan Drs H Edy R Yacoub, Msi.

Hujan menyambut dan mengguyur bumi. Seolah memberi penanda dan restu. Ada kemakmuran bakal mengalir. Ada kehidupan bakal terjamin. Bagi sebuah asa dan kebersamaan yang hendak diukir.

Banyak masyarakat hadir. Pejabat yang melantik pun, tersungging. Menyematkan tugas baru, dan membawa pemerintahan ke depan. Bagi semua rakyat. Yang telah memberikan dukungan dalam sebuah pemilihan.

Sebuah bahtera bakal berlayar. Membawa semua harapan dan tumpuan. Bagi semua yang berjejak dan bernama pembangunan.

Bagimu, diserahkan semua kepercayaan. Bagi sebuah tatanan baru. Sebagai rakyat, kami ikut menyeru.

Selamat dan sukses. Bagi Hasan Karman, SH, MM dan Drs H. Edy R Yakoub, MSi. Walikota dan Wakil Walikota Singkawang.

Bawa. Bawalah kami. Dalam suatu kemakmuran dan pencapaian. □


Fotografer : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri

Baca Selengkapnya...