Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Alat transportasi kita, selalu membuat kita was-was dan tidak merasa aman. Pasalnya, belum adanya standar yang baik, membuat alat transportasi, bukannya tempat yang nyaman, dan kawan yang baik bagi sebuah perjalanan. Tapi, menjadi ancaman ketika orang harus melakukan sebuah perjalanan.
Setiap tahun kita selalu mengalami peristiwa memilukan, berupa tenggelamnya kapal karena gelombang dan kelebihan muatan. Atau jatuhnya pesawat, karena kesalahan teknis dan manusia. Satu peristiwa belum usai, muncul peristiwa lain yang serupa.
Peristiwa kecelakaan laut contohnya. Peristiwa ini terus saja terjadi, karena tidak adanya disiplin dari nahkoda dan warga, yang tidak memedulikan keselamatannya. Nahkoda tidak disiplin, karena tidak mematuhi imbauan dari Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) atau pihak berwenang lainnya. Bahwa, kapan gelombang besar dan kapal diperingatkan tidak untuk berlayar.
Nahkoda juga dianggap memasukkan penumpang melebihi kapasitas. Ini bisa dilihat, dari banyaknya korban yang tenggelam, tidak memiliki tiket kapal. Ini bisa terjadi, karena dengan tidak adanya tiket, uang yang masuk demi kepentingan sang nahkoda dan awak kapal yang lain.
Begitu juga dengan penumpang yang tidak memikirkan keselamatan dirinya sendiri. Sehingga naik kapal tidak menggunakan tiket secara resmi. Atau karena alasan buru-buru, sehingga tidak mendapatkan tiket secara resmi.
Akibatnya, ketika ada petaka, mereka juga yang alami kerugian sendiri, karena tak ada yang menjamin dan menanggung mereka, ketika muncul masalah seperti asuransi.
Seharusnya, pemerintah dan dinas terkait, bertindak tegas dalam mengatasi masalah ini. Sehingga peristiwa yang sama tidak terulang. Adanya peristiwa yang terjadi, juga tidak ada sanksi tegas. Sehingga mereka yang melanggar dan membahayakan keselamatan bersama, ditindak dan jera melakukan kesalahan yang sama.
Tak adanya penyelesaian kasus dan penyelidikan yang dipublikasikan secara transparan ke masyarakat, turut membuat masalah ini selalu berulang setiap saat. Hal ini menandakan, tidak adanya efek jera bagi mereka yang melakukan. Sehingga tidak bisa menjadi pelajaran bagi yang lain, untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
Oleh karena itu, perlu ada suatu tindakan dan sanksi yang tegas, bagi permasalahan ini. Supaya semua orang merasa aman, ketika melakukan suatu perjalanan. Begitu juga dengan orang yang berada di rumah, merasa tenang saat anggota keluarganya sedang melakukan perjalanan.
Pemerintah sebaiknya harus melakukan inspeksi dan introspeksi diri, bagi kelangsungan hidup warganya. Caranya dengan membuat suatu peraturan dan pengawasan yang ketat, terhadap berbagai peraturan yang sudah dikeluarkan. Sehingga, orang merasa aman, ketika melakukan perjalanan. Harusnya, angkutan massal bukan menjadi ancaman. Apalagi menjadi alat pembunuhan massal bagi warga.
Edisi cetak ada di Borneo Tribune 4 Februari 2009.
Gambar diambil dari public-domain.zorger.com.
Wednesday, February 4, 2009
Tragedi yang Terus Berlanjut
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
2:35 AM
0
comments
Labels: Essai
Sunday, February 1, 2009
Bank Kalbar Tetap Jaya Ditengah Krisis Global
Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Bank Kalbar tetap jaya ditengah krisis keuangan global yang sedang terjadi. Krisis belum berpengaruh secara signifikan pada kondisi Bank Kalbar. Jamaluddin Malik, Direktur Utama Bank Kalbar menyatakan di Pontianak, saat memberikan sambutan pada penarikan undian dan pembukaan kantor cabang Flamboyan Bank Kalbar, Sabtu (31/1).
Kemampuan Bank Kalbar melaju ditengah krisis, karena Bank Kalbar belum menjadi bank devisa. Sehingga keseluruhan aset dalam bentuk uang rupaih. Bank Kalbar tidak memiliki portofolio derivatif. Karenanya, kondisi likuiditas dan tingkat kesehatan Bank Kalbar, masih tergolong sehat dengan ratio CAR sebesar 19,65 dan NPL sebesar 0,12 persen.
Hingga 2008, jumlah nasabah Bank Kalbar sebanyak 200.402. Uang yang bisa dihimpun sebesar Rp1,392 triliun. Padahal, pada 2007, jumlah nasabah hanya 160.911. Dari jumlah itu, bisa dikumpulkan uang sebesar Rp1,185 triliun. Artinya, ada peningkatan nasabah sebesar 39.491, dan peningkatan nominal sebesar Rp207 miliar.
Nasabah dipermudah dengan adanya 51 jaringan kantor cabang di seluruh Kalbar. Semua jaringan kantor telah terhubung sehingga memudahkan dalam bertransaksi bagi nasabah.
Oleh karena itu, ia mengajak nasabah untuk menyimpan uangnya di Bank Kalbar. Ia berkata, ada keuntungan lain, bila menabung di Bank Kalbar. “Para nasabah memperoleh bunga atau jasa yang cukup bersaing, dibanding bank lain,” katanya.
Selain itu, nasabah tidak perlu kuatir, karena uang nasabah dijamin oleh sebuah lembaga penjamin simpanan (LPS). Bahkan, transaksi dengan jumlah tertentu, ada layanan jemput bola. Artinya, Bank Kalbar yang bakal mendatangi nasabah.
Kemudahan lainnya, para nasabah bisa bertransaksi di mana saja. Ada 16.000 ATM dengan logo ATM Bersama. Nasabah juga diberi kemudahan dengan adanya fitur BPD online. Ini produk bersama BPD seluruh Indonesia. Sehingga sesama BPD sudah terhubung secara online.
Wakil Gubernur Kalbar, Christiandy Sanjaya, pada kesempatan yang sama mengungkapkan, keberhasilan yang diraih tak lepas dari kerja keras dan upaya semua pihak. Baik itu pemegang saham, pengurus bank, nasabah maupun jajaran PT Bank Kalbar.
Ia memberikan apresiasi, sekaligus mengingatkan seluruh jajaran Bank Kalbar. “Keberhasilan tersebut harus diikuti dengan peningkatan pelayanan kepada para nasabah, serta menjaga kepercayaan yang telah diberikan oleh masyarakat,” kata Christiandy.
Menanggapi belum adanya dampak krisis global pada Bank Kalbar, Christiandy mengingatkan agar jajaran Bank Kalbar tetap waspada. Pasalnya, pelan tapi pasti, beberapa negara sudah mulai terkena imbas dari krisis tersebut.
Karenanya, dia memberikan cara menghadapi krisis yang sedang terjadi. Pertama, ada rencana pendapatan dan belanja. Masyarakat hendaknya tidak mudah mengeluarkan uang untuk belanja. Kedua, sadar sedini sedari awal, melakukan penghematan dan hemat dalam pengeluaran. Ketiga, menggalakkan gerakan menabung. Terutama dengan investasi pada sesuatu yang tidak mudah goncang pada perubahan kebijakan moneter.
Kekuatan Bank Kalbar melaju ditengah krisis, tak lepas dari berbagai pembenahan yang dilakukan secara internal terhadap berbagai elemen yang mendukung. Business Review edisi Januari, dalam laporannya menulis, Bank Kalbar mendapatkan beberapa penghargaan dalam BUMD Award 2008. Ada enam kategori dinilai. Setidaknya, empat kategori berhasil diraih Bank Kalbar. Seperti, peringkat 2, dari segi sumber daya manusia (SDM). Peringkat ke 4, BUMD terbaik. Peringkat ke 4, pemasaran terbaik. Peringkat 13, keuangan terbaik.
Padahal, award tersebut diikuti 1500 BUMD. Setelah diseleksi menjadi 600 BUMD. Setelah diciutkan lagi, tinggal 30. Dari angka itu, hanya 22 yang menonjol dan masuk nominasi. Wah, selamat deh...
Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 1 Februari 2009
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
8:17 PM
0
comments
Labels: Ekonomi
Daerah Batas yang Kian Merana
Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, PontianakSudah sekian lama,
masyarakat perbatasan merasa ditelantarkan.
Meski sudah lama merdeka,
tapi wilayah itu, tak tersentuh pembangunan.
Padahal, dalam berbagai pidato dan kata sambutan yang disampaikan,
Kata-kata manis selalu diucapkan:
”Jadikan, wilayah perbatasan sebagai serambi,
Sebagai halaman depan. Dan sebagai-sebagai lainnya....”
Nyatanya, semua hanya slogan belaka.
Pemanis pidato dalam berbagai acara seremoni.
Pengering mulut bagi lidah yang kian tebal dan mati.
Kondisi berbeda dan sangat kontras
terlihat pada negara tetangga. Mereka semakin giat
memoles dan memperbaiki daerah perbatasan.
Bila ditilik dua pembangunan di sepanjang dua negara,
ibarat bumi dengan langit. Gelap dan terang.
Karena kegelapan di perbatasan itulah,
segala benda yang berada di tapal batas, terjarah dan terbengkas.
Jalur surga bagi segala perdagangan illegal dan terlarang,
tempat menyalurkan manusia dan barang...
Ketika semua sudah terjarah.....
Yang tersisa hanya gundah dan amarah....
Foto : Lukas B. Wijanarko
Teks : Muhlis Suhaeri
Edisi cetak ada di Borneo Tribune 1 Februari 2009
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
8:07 PM
0
comments
Labels: Essai Foto
Tuhan dan Seniman
Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Ada tiga kelompok komunitas yang aku sangat suka bergaul di dalamnya. Pengacara, Seniman, dan jurnalis. Namun, bukan berarti aku tidak suka bergaul dengan kelompok dan komunitas lainnya.
Berdasarkan suatu riset, tiga kelompok ini, merupakan profesi yang membutuhkan kemampuan intelektualitas tinggi. Ada beberapa alasan, kenapa aku suka bergaul di tiga komunitas itu. Aku suka bergaul di komunitas pengacara, karena mereka ini orang yang cerdas. Cara mereka berpikir. Cara mengemukakan pendapat dan membangun analisa, sangat baik dan mengesankan. Logika dan penalarannya sangat baik. Tak heran, mereka ini merupakan orang-orang yang flamboyan. Dan, salah satunya, jago menaklukkan perempuan dengan berbagai argumen yang dibangun.
Pada awal 2000-an, sebagian besar pengacara top di Jakarta, pernah aku wawancara. Aku senang saja mendengarkan cara mereka bicara. Mengkonstruksi fakta dari asumsi, dalil hukum, menjadi sebuah bangunan baru bernama pembelaan dan pembenaran. Terhadap siapa, itu lain hal. Tergantung ideologinya.
Bergaul dengan jurnalis, karena mudah menyambung saja ketika berbincang. Tahu kondisi terkini, dan isu-isu terbaru.
Bergaul dengan seniman? Nah, ini dia. Aku paling suka dengan mereka. Alasannya, mereka orang pilihan Tuhan. Yang diberi ilmu dan kemampuan, untuk mewujudkan keberadaan dan kesejatian Tuhan. Dalam bahasa sederhananya, Tuhan yang semula abtrak, menjadi nyata lewat kekaryaan, karya dan karsa para seniman. Tuhan mewujud dalam bentuknya yang lebih nyata.
Coba bayangkan! Dari mana munculnya lagu yang enak didengarkan. Lukisan yang indah dilihat. Novel yang enak dibaca dan dijadikan pelajaran. Film yang menggugah dan menginspirasi, dan karya seni atau produk kebudayaan lainnya. Semua tidak bakal tercipta, kalau para seniman tidak mendapat ilham dan bertransformasi dengan Sang Pencipta.
Mencipta bukan perkara mudah. Harus ada ide. Ada pemahaman terhadap suatu masalah. Ada kontek yang menghubungkan karya dengan suatu peristiwa, isu, paham atau ideologi, dan lainnya. Setelah semua itu didapat, tentunya harus ada kemampuan menuangkannya, pada media berbagai media yang dikuasai dan dimiliki.
Karenanya, aku semakin yakin saja, bahwa Tuhan yang penuh dengan sifat yang Maha itu, juga seniman. Kalau tidak, pasti tak bakal tercipta apapun di dunia ini.
Repotnya lagi, orang yang mengaku dekat dengan Tuhan, terkadang menghapuskan karya-karya kebudayaan dan seni, demi pemurnian penyembahan terhadap Tuhan. Munculnya agama, meminggirkan atau malah menghapus kebudayaan lokal. Padahal, adat istiadat dan budaya, dijadikan pintu masuk bagi penyebaran sebuah agama. Ironis, ya.
Parahnya lagi, orang meneriakkan nama Tuhan, untuk melarang dan menghalangi pelaksanaan suatu kegiatan budaya dan adat istiadat, yang penuh dengan karya dan keindahan itu.
Alamak........jangan-jangan, mereka sendiri tak kenal, siapa itu Tuhan. Atau, mengenal Tuhan, hanya di tenggorokan saja. Bukan di hati. Atau, dalam polah dan tingkah nyata di kehidupan sehari-hari.□
Edisi cetak ada di Borneo Tribune 1 Februari 2009
Gambar diambil dari tattoo4u.co.uk
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
2:44 AM
0
comments
Labels: Essai
Saturday, January 24, 2009
Dialog Naga dan Barongsai Tak Hasilkan Kesepakatan
Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Ruangan yang tertutup rapat itu, serentak buncak oleh teriakan. Puluhan orang yang sedari tadi hanya menunggu, tanpa dikomando langsung ikut berteriak. Teriakan bergelora, begitu dilihat para pemimpin yang mereka tunggu, keluar dari ruang rapat itu.
Suasana segera terlihat begitu emosional. Berbagai teriakan dan kalimat, meluncur begitu deras, dari wajah-wajah yang terlihat gelisah. Suasana memanas. Namun, tak ada gerakan atau kehendak untuk merusak. Semua masih terkendali. Masing-masing berusaha menahan diri. Massa membubarkan diri.
Saat itu, sedang berlangsung dialog tentang penyelenggaraan iring-iringan Naga dan Barongsai pada perayaan Imlek. Dialog yang difasilitasi Walikota Pontianak, Sutarmidji, berlangsung di kantor walikota, Kamis (22/1). Dalam dialog itu, hadir para utusan dari aparat kepolisian, Kodim, Muspida, tokoh masyarakat Majelis Adat Budaya Melayu (MABM).
Mereka yang baru saja keluar dari ruangan rapat adalah Gerakan Barisan Melayu Bersatu (GBMB). Mereka tidak ikut rapat. Kedatangan massa yang menggunakan satu truk bak terbuka ini, hanya ingin menyampaikan sebuah pendapat. Menolak penyelenggarakan arak-arakan Naga.
Erwan Irawan, ketika ditemui dalam barisan massa menyatakan, ”Tak ada dialog untuk arak-arakan Naga dan Barongsai.”
Kedatangannya ke ruang rapat, tidak untuk membicarakan mengenai dialog Naga dan Barangsai. Ia hanya ingin menyampaikan sebuah surat pernyataan. Dalam surat pernyataan yang ditandatangani dan mengatasnamakan GBMB, ia menyatakan, ”Menolak adanya permainan arakan Naga dan Barongsai untuk bermain di tempat-tempat umum di wilayah Kota Pontianak.”
Nazaruddin yang ikut dalam rombongan dan mengatasnamakan warga di Sungai Jawi, ikut memberikan pendapatnya. Ia tak setuju dengan arak-arakan Naga dan Barongsai. Alasannya, saat umat Islam akan melaksanakan arak-arakan keliling Kota Pontianak, dalam rangka memeriahkan Tahun Baru Islam, 1 Muharram, Pemkot melarang arak-arakan yang dilakukan.
”Ini namanya tidak adil,” katanya, dengan wajah emosi.
Sementara itu, di ruang pertemuan ruang walikota, masih berlangsung dialog. Suasana cair. Tak ada ketegangan. Dalam sebuah pernyataannya, Sutarmidji mengimbau pada warga yang ingin menyampaikan pendapat, agar berlaku sopan dan lemah lembut.
”Sampaikan sesuai dengan adat dan budaya Melayu,” katanya, ”ide boleh keras, tapi cara menyampaikan harus santun.”
Ia yang kelahiran Melayu Pontianak, dalam kehidupan sehari-hari, tak lepas dari adat dan budaya Melayu.
Menurutnya, ia sudah mengajak umat untuk datang pada perayaan 1 Muharram di Lapangan Makorem. Namun, yang datang sedikit saja. Hanya ada sekitar 70 mobil. ”Itupun yang banyak anak-anak,” kata Sutarmidji.
Pelaksanaan arak-arakan Naga dan Barongsai, seolah memang bagai benang kusut di Kota Pontianak. Pemerintah, melalui Walikota Buchary Abdurrachman, pernah mengeluarkan peraturan, SK Walikota Nomor 127 tahun 2008, untuk melarang arak-arakan Naga dan Barongsai di tempat tempat umum. Kini, peraturan itu telah dicaut.
Walikota terpilih, Sutarmidji, yang baru sebulanan menapak tampuk kepemimpinan, mendapat tekanan dari warga yang tak setuju peraturan itu dicabut.
Pada dialog terakhir, aparat kepolisian yang diwakili Wakasat Reskrim Poltabes, Muktar AP, hanya mendukung saja keputusan apa yang bakal dilaksanakan walikota. ”Karena belum ada keputusan, maka kami akan menunggu perkembangan yang akan disampaikan,” katanya.
”Bagaimanapun, semua budaya harus berkembang. Untuk mengembangkan budaya, semua harus bersemangat,” kata Setiman, dari aparat TNI yang ikut dalam rapat tersebut. Nah, kalau ada turis yang datang dan mengeluarkan uang untuk belanja, tentu yang bakal menikmati, masyarakat Kota Pontianak.□
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
3:08 AM
0
comments
Friday, January 23, 2009
Dialog Naga Tak Capai Mufakat
Muhlis Suhaeri
Borneo Tribune, Pontianak
Ruangan yang tertutup rapat itu, serentak buncak oleh teriakan. Puluhan orang yang sedari tadi hanya menunggu, tanpa dikomando langsung ikut berteriak. Teriakan bergelora, begitu dilihat para pemimpin yang mereka tunggu, keluar dari ruang rapat itu.
Suasana segera terlihat begitu emosional. Berbagai teriakan dan kalimat, meluncur begitu deras, dari wajah-wajah yang terlihat gelisah. Suasana memanas. Namun, tak ada gerakan atau kehendak untuk merusak. Semua masih terkendali. Masing-masing berusaha menahan diri. Massa membubarkan diri.
Saat itu, sedang berlangsung dialog tentang penyelenggaraan iring-iringan Naga dan Barongsai pada perayaan Imlek. Dialog yang difasilitasi Walikota Pontianak, Sutarmidji, berlangsung di kantor walikota, Kamis (22/1). Dalam dialog itu, hadir para utusan dari aparat kepolisian, Kodim, Muspida, tokoh masyarakat Majelis Adat Budaya Melayu (MABM).
Mereka yang baru saja keluar dari ruangan rapat adalah Gerakan Barisan Melayu Bersatu (GBMB). Mereka tidak ikut rapat. Kedatangan massa yang menggunakan satu truk bak terbuka ini, hanya ingin menyampaikan sebuah pendapat. Menolak penyelenggarakan arak-arakan Naga.
Erwan Irawan, ketika ditemui dalam barisan massa menyatakan, ”Tak ada dialog untuk arak-arakan Naga dan Barongsai.”
Kedatangannya ke ruang rapat, tidak untuk membicarakan mengenai dialog Naga dan Barangsai. Ia hanya ingin menyampaikan sebuah surat pernyataan. Dalam surat pernyataan yang ditandatangani dan mengatasnamakan GBMB, ia menyatakan, ”Menolak adanya permainan arakan Naga dan Barongsai untuk bermain di tempat-tempat umum di wilayah Kota Pontianak.”
Nazaruddin yang ikut dalam rombongan dan mengatasnamakan warga di Sungai Jawi, ikut memberikan pendapatnya. Ia tak setuju dengan arak-arakan Naga dan Barongsai. Alasannya, saat umat Islam akan melaksanakan arak-arakan keliling Kota Pontianak, dalam rangka memeriahkan Tahun Baru Islam, 1 Muharram, Pemkot melarang arak-arakan yang dilakukan.
”Ini namanya tidak adil,” katanya, dengan wajah emosi.
Sementara itu, di ruang pertemuan ruang walikota, masih berlangsung dialog. Suasana cair. Tak ada ketegangan. Dalam sebuah pernyataannya, Sutarmidji mengimbau pada warga yang ingin menyampaikan pendapat, agar berlaku sopan dan lemah lembut.
”Sampaikan sesuai dengan adat dan budaya Melayu,” katanya, ”ide boleh keras, tapi cara menyampaikan harus santun.”
Ia yang kelahiran Melayu Pontianak, dalam kehidupan sehari-hari, tak lepas dari adat dan budaya Melayu.
Menurutnya, ia sudah mengajak umat untuk datang pada perayaan 1 Muharram di Lapangan Makorem. Namun, yang datang sedikit saja. Hanya ada sekitar 70 mobil. ”Itupun yang banyak anak-anak,” kata Sutarmidji.
Pelaksanaan arak-arakan Naga dan Barongsai, seolah memang bagai benang kusut di Kota Pontianak. Pemerintah, melalui Walikota Buchary Abdurrachman, pernah mengeluarkan peraturan, SK Walikota Nomor 127 tahun 2008, untuk melarang arak-arakan Naga dan Barongsai di tempat tempat umum. Kini, peraturan itu telah dicaut.
Walikota terpilih, Sutarmidji, yang baru sebulanan menapak tampuk kepemimpinan, mendapat tekanan dari warga yang tak setuju peraturan itu dicabut.
Pada dialog terakhir, aparat kepolisian yang diwakili Wakasat Reskrim Poltabes, Muktar AP, hanya mendukung saja keputusan apa yang bakal dilaksanakan walikota. ”Karena belum ada keputusan, maka kami akan menunggu perkembangan yang akan disampaikan,” katanya.
”Bagaimanapun, semua budaya harus berkembang. Untuk mengembangkan budaya, semua harus bersemangat,” kata Setiman, dari aparat TNI yang ikut dalam rapat tersebut. Nah, kalau ada turis yang datang dan mengeluarkan uang untuk belanja, tentu yang bakal menikmati, masyarakat Kota Pontianak.□
Edisi cetak ada di Borneo Tribune, 23 Januari 2009.
Foto Muhlis Suhaeri
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
3:08 AM
0
comments
Labels: Budaya