Thursday, February 25, 2021

Insidetalk: Pembelajaran Tatap Muka, Siapkah?


Insidetalk kali ini membahas soal kesiapan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di Kalbar. PTM sendiri sudah berlangsung sejak Senin (22/2/2021). Ada beberapa kriteria yang ditetapkan, agar sekolah bisa melaksanakan PTM ini.
Kendati demikian, faktanya PTM masih menuai pro kontra. PTM dikhawatirkan bisa membahayakan anak murid dan guru terpapar Covid-19. Mengingat kasus virus itu memang belum bisa dikendalikan. Seperti apa pembahasannya, simak Insidetalk episode III ini: #insidepontianak #insidetalk #muhlissuhaeri
#pembelajarantatapmuka #ptm #disdikbudkalbar #covid19 #pandemicovid19 Insidepontianak.com mengabarkan Kalimantan Barat, acuan pengambil kebijakan, dan teman rebahan paling andal. Insidepontianak.com menginformasikan seputar Kalimantan, Nasional dan Internasional. Dan jangan lewatkan simak informasi terbaru dari akun sosial media #insidepontianakcom

Baca Selengkapnya...

Wednesday, February 10, 2021

Insidetalk: Ketenagakerjaan di Kalbar, Peluang dan Tantangan


Insidetalk adalah program khas Insidepontianak.com yang ditayangkan di platform YouTube Insidepontianak. Insidetalk dipandu Pimpinan Redaksi Insidepontianak.com, Muhlis Suhaeri. Narasumber yang diundang berkompeten di bidangnya masing-masing. Bincang ini membahas segala aspek, program pemerintahan dan lainnya. Kali ini membahas tentang masalah ketenagakerjaan di Kalimantan Barat. Apa saja peluang dan tantangannya mengelola masalah tenaga kerja di Kalbar, apalagi saat pandemi seperti sekarang ini.

#muhlissuhaeri

Insidepontianak.com mengabarkan Kalimantan Barat, acuan pengambil kebijakan, dan teman rebahan paling andal. Insidepontianak.com menginformasikan seputar Kalimantan, Nasional dan Internasional. Dan jangan lewatkan simak informasi terbaru dari akun sosial media #insidepontianakcom​




Baca Selengkapnya...

Monday, February 1, 2021

Insidetalk: Evaluasi Vaksinasi di Kalbar


Pencanangan vaksinasi Covid-19 di Kalbar sudah digelar sejak 14 Januari 2021. Sejumlah pejabat publik, hingga tokoh agama ikut dalam pencanangan penyuntikan vaksinasi perdana tersebut. Termasuk Kepala Dinas Kehatan Provinsi Kalbar, Harrison. Vaksinsi tahap pertama diprioritaskan untuk para tenaga kesehatan (nakes). Dinkes Kalbar mencatat, sebanyak 27.242 nakes yang akan menerima vaksin tahap pertama ini. Di Kota Pontianak, vakinasi sudah berjalan. Lantas, bagaimana hasil evaluasi Dinkes Kalbar terkait vaksinasi tahap pertama ini?
#insidetalk #insidepontianak #muhlissuhaeri
#vaksincovid19 #sinovac #vaksin #harrison #dinkeskalbar #covid19 Insidepontianak.com mengabarkan Kalimantan Barat, acuan pengambil kebijakan, dan teman rebahan paling andal. Insidepontianak.com menginformasikan seputar Kalimantan, Nasional dan Internasional. Dan jangan lewatkan simak informasi terbaru dari akun sosial media #insidepontianakcom

Baca Selengkapnya...

Thursday, January 14, 2021

Surat kepada Sahabat, Korban Sriwijaya Air SJ-182


 Kulihat Liuk Jemarimu Dalam Doa yang Terpanjat

Ihsan Adlan Hakim. Tak pernah terbayang, harus berkabar tentang dirimu, dalam suasana penuh sesak oleh duka, seperti saat ini. Kalau boleh memilih, tentu aku ingin kembali ke zaman dulu. Zaman penuh suka cita. Zaman ketika kita menggebrak beragam panggung festival musik di Pontianak.

Masih lekat dalam ingatanku. Lirik lagu dari grup band legendaris, kita nyanyikan:

“Aku lari jauh

menggenggam dunia

kepak sayap

bentangkan layar

ombak-ombak mandi bertabur bintang

silaukan mata

Dunia.. simpan lah tangis dan duka..”

Ya, itu lirik lagu Menjilat Matahari dari Godbless.

Seperti aura dalam judul lagu itu, kita menyanyikannya dengan penuh semangat. Keceriaan dan totalitas. Khas anak baru gede, sedang ingin pamer kemampuan. Dan aku, bergerak dengan lincah di panggung Stadion Opu Daeng Manambon, Mempawah, 2003.

Itu panggung pertama Q-Mole. Band yang kita bentuk bersama. Dalam formasi band itu, aku sebagai vokalis. Dirimu, Ihsan ‘Keymol’ sebagai pemetik gitar. Sandi tukang betot bas. Isa penabuh drum. Dan Daus Keyboard.

Kita sangat beruntung malam itu. Bagaimana tidak? Band berisi para bocah ingusan itu, didapuk sebagai Juara II, Festival Musik se-Kalimantan Barat.

Duh, bangga sekali kita, ketika itu.

Mengenang dirimu, aku ingin menjelajah waktu. Memutar ingatan kembali. Merekonstruksi memori di kepala yang masih sesak. Oleh bayang aksi kita sebagai anak band.

Selepas festival musik di Mempawah, bagai pendekar sedang mekar, kita jelajahi panggung demi panggung. Kita taklukkan jagat musik dengan genre musik yang kita pilih, rock progressif.

Bahkan, Q-Mole sempat dijuluki sebagai Raja Festival Musik Pelajar Kalbar. Ini, tentu saja bukan pongah atau narsis, sahabat. Itu fakta. Begitulah adanya.

Medio 2003-2005, adalah tahun cemerlang dan keceriaan kita. Setiap festival musik, kita pasti keluar sebagai juara. Piala dan piagam penghargaan, bertabur bagai kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong. Lalu, terbang menjelajah dan melihat dunia. Penuh warna dan keceriaan. Seperti itulah dunia kita saat itu, sobat.

Sebagian piala itu masih kita pegang. Ada pula yang disimpan di Freest Studio, milik Om Barry. Pemilik studio tempat kita berlatih musik. Om Barry baik sekali. Dia sering beri diskon sewa studio. Tak jarang, Om Barry traktir makan. Kita posisikan dia seperti manajer.

Aku teringat, mengapa nama band itu kita beri nama Q-Mole.

Nama itu terinspirasi dari panggilan akrab dirimu, Ihsan Adlan Hakim alias Keymol. Tak ada arti atau filosofi khusus. Kesepakatan saja. Nama itu unik. Sekaligus, menghormati dirimu yang jago banget main gitar. Saking kerennya, kaulah ikon di band kita.

Petikan gitarmu maut dan melodius. Sesekali, seperti ada roh Eet Syahranie. Kamu mengangguk-anggukkan kepala saat tampil. Sejenak kemudian, menatap para penonton. Lalu, berlari mengitari setiap meter panggung.

Di waktu lain, seperti ada roh John Petrucci, gitaris Dream Theater, seolah merasukimu. Apalagi saat kita memainkan lagu dengan Arpeggio. Gila, melodinya yang dalam dan impresif itu, kau mainkan dengan begitu piawai. Deep banget.

Jarimu menari. Menjejak senar demi senar di atas grip gitar merk Star. Gitar itu bukan merk dagang terkenal. Kamu beli dengan harga murah. Lalu, dimodifikasi sedemikian rupa. Getaran resonansi yang keluar, seperti menyihir juri dan penonton festival. Sungguh jempolan.

Bagaimana juri tak suka, dirimu punya skill di atas rata-rata gitaris di Kalbar. Belum lagi, aksi “keiya-iyaan” kita menyebutnya. Dandanan nyentrik ala Rock and Roll. Blue jeans robek disematkan peniti beberapa biji. Entahlah, dapat inspirasi dari mana gaya itu. Aku kerap tersenyum sendiri, kala mengingatnya. Mungkin kamu menganggap, gaya itu sangat funky dan keren.

Style itu bikin band kita melejit. Terkenal. Keymol menjelma jadi idola anak seumuran. Tak sekadar bagi pelajar SMPN 3 Pontianak, khususnya yang lanjut studi di SMAN 1. Banyak gitaris berguru teknik main ‘Si Bodi Gadis Spanyol’ ke dirimu.

Julukan ‘Bang Best’ pun melekat. Kamu meraih banyak gelar The Best Player Guitar di berbagai festival.

Perjalanan panggung menuntun Een, panggilan akrab dalam lingkup keluargamu, ke kampus Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Selepas SMA, kamu hijrah ke ibu kota. Ingin serius jadi gitaris andal. Formasi Q-Mole, akhirnya ambyar. Kita cari peruntungan dan langkah masing-masing.

Well, begitu sampai di Jakarta, kau mulai sisi kehidupan keras ibu kota. Kondisi itu membentuk lelaki mata empat, jadi petualang tangguh. Tak merepotkan orang tua. Kamu mulai mengumpulkan receh sendiri. Kerja apa saja. Yang penting dapat cuan. Mulai dari manggung bersama band yang dibentuk di Jakarta, hingga jualan apa saja. Termasuk, jualan rambut gondrongmu.

Terdengar konyol. Namun begitulah. Kamu bercerita, ketika terdesak dan butuh duit, saking tak punya apa-apa lagi, mahkota di kepala kau cukur. Ditebus rupiah. Rambut hitam keriting yang dipelihara bertahun-tahun itu, rela terpangkas. Urusan untuk apa, itu masih jadi rahasia hingga kini. Biar si pembeli rambut dan dirimu saja yang tahu.

Boleh dikata, kehidupan awal di Jakarta, penuh perjuangan. Tinggal di kos-kosan di bilangan Cikini, Menteng, Jakarta Pusat. Turun naik angkot dan bus, adalah rutinitas sehari-hari. Rokok pun ketengan. Kalau ada duit baru beli sebungkus. Bahkan, baju saja, kamu beli baju bekas di Pasar Senen. Sehelai harganya ceban alias sepuluh ribuan.

Lambat laun, di ujung masa kuliah musik, grafik ekonomi anak ketiga dari empat bersaudara, mulai menapak. Jualan pernak-pernik telepon genggam mulai kau lakoni. Ada cashing hingga tongsis dari seller di Tiongkok. Laris manis tanjung kimpul, orang menyebutnya. Pulang Pontianak, kamu pun tak minder menjajakan dagangan.

Berawal dari itu, jaringan bisnismu makin besar dan moncer. Tak hanya aksesoris telepon genggam, engkau pun merambah bisnis vape atau rokok elektrik. Jualan itu kau rintis lewat online di media sosial. Siapa sangka, akhirnya bisnis itu semakin menggurita. Di fase ini, status sebagai musisi mulai memudar. Dirimu lebih aktif sebagai pebisnis.

Kamu memberi nama Gerobak Vapor, untuk merek dagangmu. Bahkan, kau patenkan nama itu. Namanya saja gerobak. Bangunan tempat kau jualan adalah gedung beneran. Ada dua di Jakarta. Satu di antaranya di Jalan Kramat Jaya Baru. Bisnis vapemu merambah Pontianak. Kau beri merek dagangmu, Area Vapor. Ada lima cabang. Dikelola si adik bungsu.

Tapi, kadung mulai bisnis dan hidup di Jakarta, kamu sibuk mondar-mandir urus periuk hingga ke luar negeri. Tak heran bila, kau jarang ke Pontianak. Menjadi sukses adalah ambisi. Namun, bagimu, kaya adalah jalan mulus jadi orang baik. Banyak harta, lebih mudah menolong orang. Apa saja bisa dilakukan untuk beri pertolongan.

Aku dan banyak teman lain, pernah merasakan.

Pernah suatu saat, aku berada di titik nadir. Ekonomi keluarga merosot. Anjlok. Masalah mulai muncul. Dirimu membuka diri dengan pertolongan. Nilai bantuan bukan jadi soal. Sebab, kalau sudah urusan materi, biasanya orang bakal sensitif.

Tapi dirimu tidak. Kamu menolong dengan ikhlas. Namun, tetap ingin membuat orang bertanggung jawab. “Selesaikan masalah kau dulu. Kalau udah kelar, udah beres dan aman, baru kau pikirkan urusan dengan aku An,” begitu ucapmu ketika itu.

Aku melihat kebajikan dan kebijaksanaan dalam sikapmu. Nilai itu ditanamkan kedua orang tuamu, Haji Nasir dan Hajjah Kamsiyah. Malahan, adikmu berkisah, Keymol anak paling menanti ridho orang tua, jika melakukan sesuatu. Termasuk, urusan menjalankan bisnis. Apa kata orang tua, jadi pijakan ketika melangkah.

Kesibukan membuat kita hilang kontak. Komunikasi terputus. Situasi itu cukup lama terjadi. Aku menghilang. Menenggelamkan diri untuk fokus kerja, serta urus keluarga. Akhir 2019, kita bertemu. Semeja lagi di sebuah warung kopi di Jalan Purnama, milik kawan kita.

Kebetulan, waktu itu kamu tengah urus bisnis di Pontianak. Bersiap buka cabang toko vape lainnya. Kita melepas rindu bersama beberapa teman lain. Bahkan, ngejam bareng di warkop itu. Main lagu lawas semasa ngeband dulu. Teriak-teriak, genjrang-genjreng hingga larut malam.

Tak lama kemudian, kamu melepas lajang. Menikah dengan Putri Wahyuni, kelahiran Pekanbaru, Riau. Perempuan satu frekuensi. Anak-anak vape. Kenal dari jaringan bisnis rokok elektrik. Dari vape, kamu tak hanya dapat cuan, tapi juga cinta sejatimu.

Pesta pernikahan pun kamu gelar di Pekanbaru, Maret 2020. Keymol dan Putri bahagia. Unggahan di akun Instagram menjelaskan. Potret dua sejoli penuh asmara. Intim. Romantisme memancar. Di setiap sesi foto, senyum sahabat yang dulu selalu menunggang motor Honda Astrea Grand, selalu merekah.

Putri hadir pada saat yang tepat. Macam cerita dalam dongeng. Muncul mendampingi Raja Vapor yang lagi galau-galaunya, tak kunjung ketemu patahan rusuk kiri.

Kisah asmara dan bahagia itu, sudah disiapkan untuk dibagi ke keluarga, teman, rekanan dan handai taulan di Pontianak, dalam sebuah pesta Ngunduh Mantu. Pesta itu bakal berlangsung di Gedung Pontianak Convention Center (PCC), Jalan Sutan Abdurrahman, Minggu (16/1/2020).

Segala persiapan sudah tuntas. Bahkan, 40 persen undangan telah tersebar. Resepsi tinggal menghitung hari itu, jadi buah bibir para sahabat. Kami menanti kabar kedatanganmu, Sabtu (9/1/2020).

Aku sudah membayangkan, keriuhan dan serunya pertemuan. Seperti anak kecil yang kembali menemukan mainan favoritnya. Saling lempar dan berebut dalam keceriaan. Namun, nasib berkata lain. Bukan senyum ceria yang terlihat. Malah, sebuah kabar menyentak yang kami dengar.

Namamu, Ihsan Adlan Hakim, masuk daftar penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ-182, yang hilang kontak di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta.

Berita itu menghempas kami. Sahabat dan kawan-kawanmu. Rasanya bagai ditabrak truk tronton. Terlempar sejauh-jauhnya.

Aku mengalami itu. Mendadak lemas, setelah istri memberitahu dari kursi tamu undangan di hadapanku. Aku yang tengah mendampingi ibu di pelaminan pernikahan adik waktu itu, langsung turun ke bawah. Ambyar seketika, saat baca daftar manifest yang viral di WA.

“Bukannya ini Keymol?” sebut istriku, menunjuk nama Ihsan Adlan Hakim.

Serrr. Darah berdesir. Mata berkaca. Sejurus pipi terasa basah. Aku tak tahu, mau berbuat apa. Gelagapan. Emosional. Aku segera hubungi kawan-kawan. Akhirnya, seorang kawan mengangkat panggilan teleponku. Sayup di ujung telepon, suara pelan bercerita tentang kecelakaan pesawat. Setahu yang dia pahami. Tak lebih.

Sampai detik ini, saat tulisan dirangkai dan diramu, nasibmu belum ada kabarnya, sahabat. Membayangkan kau melewati critical eleven berujung tragis, terasa perih luar biasa. Sesekali, aku masih menyeka air mata. Bagaimana, seorang sahabat yang sudah kuanggap sebagai saudara, jadi satu di antara orang yang alami masa krusial, penerbangan itu.

Sejak hari nahas itu, lantunan ayat suci Alquran tak putus. Dibacakan para handai taulan dari rumah sederhana orang tuamu di Jalan Tabrani Ahmad, Gang Ikrar, Nomor 41, Pontianak. Orang berjubel datang. Meluber, memenuhi wilayah tempat tinggal orang tuamu.

Mereka menanti kehadiranmu, sahabat. Keluarga yakin, dirimu dan istri bakal hadir. Mereka berharap ada mukzijat dan kekuatan ilahiah, Sang Maha Kuasa.

Hingga saat ini, aku merasa masih berjumpa denganmu. Walau dalam ruang dan rapalan doa. Dalam relung dan lubuk hati paling dasar. Seperti, selarik syair lagu dari Dream Theater, The Spirit Carries On yang kau suka:

“….If I die tomorrow

I’d be all right because I believe

That after we’re gone

the spirit carries on..”

Dan, aku pun harus menutup surat kepadamu. Percayalah, semua akan baik-baik saja sahabat, di mana pun itu.   

Penulis :

Andriadi Perdana Putra, Jurnalis Insidepontianak.com, sahabat dekat Ihsan Adlan Hakim, penumpang pesawat Sriwijaya Air SJ-182

Editor:

Muhlis Suhaeri

Baca Selengkapnya...

Tuesday, July 23, 2019

The Lion King

Ada satu frame di foto Opera The Lion King yang mengingatkan saya pada seseorang yang baru saja meninggal, Mas Sugeng Hendratno. 

Dia pernah bilang, “Sebelum motret obyek, kau rasakan dulu suasana di gambar itu.” Saya coba-coba memaknainya saja sendiri. Kekeran pertama, biasanya belum dapat. Entah itu karena masih coba-coba cari komposisi, pencahayaan kurang pas atau lainnya. Setelah frame kedua dan seterusnya, biasanya baru dapat, gambar yang kita inginkan.

Omongan yang Mas Sugeng katakan, terkadang sulit dilakukan, pada kondisi tertentu. Misalnya saja saat nonton Opera The Lion King di Broadway New York. Kebetulan, tahun 2010, saya dapat International Visitor Leaderhip Program (IVLP) dari pemerintah Amerika Serikat. Keliling lima negara bagian, satu diantaranya ke New York.

Di Theater Broadway yang terkenal itu, kita tidak boleh mengambil gambar selama pementasan. Dilarang keras. Tapi, untunglah. Saya terlahir di Negara yang Iklimnya rada nakal, untuk melawan urusan larang melarang seperti itu. Meski dilarang, tapi tetap dilakukan, asal dapat gambar. Mungkin, ini bisa saja bernama semangat. Contoh ketidakpatuhan. Atau, sikap mbalelo. Bedanya tipis-tipis saja.

Saya berpikir, bagaimanalah cari saat yang tepat, untuk keluarkan kamera. Ini hanya masalah waktu dan kesempatan yang harus ditata dengan tepat. Begitu pertunjukan sudah berjalan lebih dari 10 menit, orang mulai tersihir dengan pertunjukan yang memang bagus dari sisi pementasan. Setting panggungnya bagus dan dinamis. Tampilan para pemainnya menjiwai dan bagus. Tata cahaya menarik. Pokoknya satu kata, KEREN! 

Diam-diam saya keluarkan kamera dan lensa panjang dari tas. Saya berpikir, kesempatan saya ambil gambar paling hanya beberapa frame, sebelum orang lain marah. Malam itu, saya merutuki nasib. Inilah salah satu kelebihan kamera bagus dan mahal, sesedikit apa pun cahaya, bisa ditangkap. Gerak dinamis pemain atau tata cahaya lampu, bisa segera ditangkap dan dieksekusi dengan cepat. Atau, memang saya yang masih bodoh dalam memotret. 

Ya, memotret bagi saya adalah hobi. Juga, sarana untuk mendukung tulisan. Memotret bukan kerjaan utama (meskipun, saat pertama memutuskan kuliah di jurnalistik, menjadi fotografer perang adalah cita-cita setelah lulus kuliah. Keliling dunia dan mengambarkan masalah kemanusiaan, efek dari peperangan). 

Dan, benar saja. Begitu saya pencet tombol kamera, terdengar bunyi crek. Orang yang duduk di depan saya langsung menoleh. Tanpa basa basi, lensa saya ditepas. Didorong. Masih berusaha ambil lagi beberapa frame, tapi terus dihalang-halangi pakai tangannya. 

Ya, sudahlah.... Dan, minggu ini, film The Lion King terbaru yang disutradarai Jon Favreau mulai dipasarkan. Film yang diproduksi Walt Disney Pictures tersebut, iklannya gencar di televisi, serta medsos.

Ada teknologi baru, CGI di film itu. Sebuah teknologi foto realism yang digabungkan dengan motion picture, sehingga menghasilkan gambar lebih nyata dan bagus. Pasti, ini salah satu film yang bakal laris. Anak-anak di berbagai belahan dunia, bakal menyukainya. Hakuna matata...

#thelionking 
#waltdisneystudios 
#theatrebroadway 
#newyorkcity 
#sugenghendratno

Baca Selengkapnya...

Sunday, July 21, 2019

Sugeng Tindak Mas Sugeng Hendratno...

Saya mengenalnya sejak tahun 2005. Namanya, Sugeng Hendratno (55 tahun). Ketika itu, saya baru saja pindah ke Kota Pontianak dari Jakarta. Ada kerjaan menulis buku.

Selesai urusan wawancara atau bertemu narasumber, saya cari kesibukan dengan bertemu para jurnalis atau fotografer di Pontianak.

Nah, Sugeng Hendratno adalah fotografer di Pontianak ketika itu, yang biasa saya temui. Persamaan hobi membuat kami mendirikan komunitas fotografi.

Anggotanya, ada penggemar fotografi, jurnalis, fotografer profesional, macam Sugeng Hendratno, dan lainnya. Mas Sugeng, saya biasanya memanggilnya, orang yang tidak pelit dengan ilmu. Juga tidak pilih-pilih teman. 

Tak heran bila temannya banyak banget. Dari berbagai macam kelompok, profesi atau sebatas tongkrongan warung kopi. Sebagian besar orang mengenalnya. Tak hanya kenal, mereka juga suka dengan pribadinya. 

Mas Sugeng pandai menempatkan diri. Apalagi di dunia para penggemar fotografi. Kawannya mulai dari remaja, dewasa hingga orang tua. Mulai dari penggemar fotografi, fotografer kawinan, fotografi jurnalistik, hingga para model yang sering dijadikan obyek foto. 

Ia sosok yang disenangi dan jadi idola. Bagaimana tidak, anak yang baru pegang kamera dan lagi senang-senangnya motret pun, dia temani hunting foto. Begitu pun dengan para fotografer profesional atau sekedar hobi. Semua dekat dengannya. 

Dia tak pelit ilmu. Pada siapa pun. 

Saya punya pengalaman tersendiri, jalan bareng dia. Ketika itu, saya dapat dana hibah dari PPMN (Perhimpunan Pengembangan Media Nusantara) di Jakarta, untuk sebuah liputan investigasi, akhir tahun 2007. Liputan itu meliputi wilayah Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Mempawah, Bengkayang, Sambas, Singkawang hingga ke Sarawak, Malaysia. 

Setelah riset pustaka, membuat timeline liputan, menentukan narasumber, jalin kontak dengan para penghubung di lapangan, saya mengajaknya jalan bareng ke beberapa daerah pedalaman di Kalbar. Bagi orang luar Kalbar, masuk ke wilayah-wilayah pedalaman Kalbar, tentu saja harus punya cara tersendiri. 

Mas Sugeng ibarat jimat dalam perjalanan dan kerjaan yang saya lakukan. Dia kenal banyak orang. Bahkan, di tempat terpencil sekali pun. Heran saya. Ada saja orang yang dikenalnya di suatu wilayah. Itu sangat memudahkan perencanaan, gerak dan pencapaian target-target hasil liputan. 

Liputan itu terbit di koran tempat saya bekerja, Harian Borneo Tribune dengan judul The Lost Generation. Tulisan itu terbit 19 edisi secara bersambung. Ada 63 halaman folio atau sekitar 24 ribu kata. 

Naskah tentang pengusiran orang-orang Tionghoa sepanjang perbatasan Kalbar tersebut, memenangkan penghargaan jurnalistik Mochtar Lubis Award dan Adiwarta, untuk kategori investigasi tahun 2008.  

Lain kali, saya jalan bareng dengan Mas Sugeng lagi, untuk liputan di Majalah Play Boy Indonesia. Saya ditelepon seorang redaktur majalah tersebut, Agus Sopian (almarhum). 

“Lis, mau nulis untuk Majalah Play Boy, nggak?” 
“Oh, siap. Seneng banget, Kang.” 
“Oke, buat proposal liputannya, tema dan budjetnya, ya!” 

Setelah semua beres, saya liputan ke Singkawang. Dalam budjet yang saya buat, estimasi waktu liputan selama empat hari. Temanya, pengantin pesanan atau kawin kontrak di Singkawang. Hingga hari keempat, narasumber utama belum dapat. 

Otak mulai stres. Berbagai cara dan jaringan diberdayakan. Akhirnya, tugas beres. Beberapa hari setelah liputan itulah, istri cerita. 

Mas Sugeng cerita, “Gila, gigih suamimu itu.” 

Saya hanya senyum-senyum saja. 

SUGENG HENDRATNO, awalnya adalah pelukis. Ada banyak lukisan dia buat. Saya kebagian dua lukisan. Satu lukisan perempuan Dayak dengan hiasan manik-manik. Cerah dan ceria. Satu lagi, lukisan ukuran besar bertema topeng, dengan beragam ekspresi wajah. 

Lukisan itu dibuatnya di Sekretariat AJI Pontianak. Lukisan pernah beberapa kali pindah tempat. Terakhir saya bilang ke dia, 

“Aku ingin pasang lukisan itu di rumah. Pokoknya, aku bakal mulyakan lukisan itu.” 

Dan, memang, lukisan dengan dasar warna abu-abu itu, menempel di ruang tamu rumah. Gambaran wajah dalam topeng dengan beragam ekspresi tersebut, selalu membuat saya tersadar bahwa, dalam hidup ada beragam karakter manusia. 

Kita tidak bisa membuat semua orang senang, gembira atau melayani apa yang menjadi kemauannya. Yang bisa dilakukan dalam hidup dan pergaulan adalah, belajar dan menerima segala karakter tersebut. Bila tidak, kita akan berserak. Pecah seperti gambaran topeng yang berserak di dasar lukisan. 

Sebagai fotografer yang berawal dari pelukis, dia paham benar anatomi tubuh. Juga gestur dan komposisi. Foto-foto human interest yang dia potret, banyak menggambarkan detail itu. 

Begitu pun dengan foto-foto alam yang dipotretnya. Gambaran lukisan dengan berbagai pernak-pernik, warna dan tata cahaya, kerap muncul di foto-fotonya. Persis bak lukisan. 

Foto-fotonya kerap digunakan untuk berbagai program di WWF, tempat dia menjadi fotografer. Para aktivis pun, kerap menggunakan fotonya untuk kegiatan mereka. Dan, dia tak pelit atau minta imbalan untuk foto yang digunakan tersebut. 

Akhir 2018, saya tak lagi bisa menikmati foto-fotonya. Badannya mulai digerogoti penyakit. Kanker paru. Efek dari perjalanannya selama 24 tahun, keluar-masuk hutan. Gas dan karbon dioksida dari lingkungan yang basah dan lembab, mulai mengikis kekebalan tubuhnya, kata seorang dokter. 

Semalam, bayangan dan kilatan flash dari kameranya, seakan membekap kami dalam jarak. Kami saling memandang. Ia terbujur dalam diam. Tanpa kata-kata. Tangan yang biasa menenteng kamera dan lensa, tak lagi liat dan kekar. Imbas dari sakit yang mendera. 

Yang mengantarnya pada pusara. 

Clik. Cekrek... 

Keterangan foto: Sugeng Hendratno berfoto di depan mozaik foto karyanya. (Foto oleh Galih Nofrio Nanda)

Baca Selengkapnya...