Oleh: Muhlis Suhaeri
C. Herinowo
Komisaris Utama PT Bank Central AsiaAda beberapa hal yang bisa dilihat mengenai perekonomian Indonesia. Perkembangan ekonomi kurang menguntungkan, bila dilihat dari sisi nilai tukar rupiah. Adanya kenaikan suku bunga di Amerika. Yang tidak direspon dengan cepat dalam tingkat yang memadai oleh Bank Indonesia.
Suku bunga di luar negeri mempunyai dampak begitu besar, bagi perekonomian di Indonesia. Ini bukan hanya tipikal negara berkembang, bahkan negara maju sekali pun. Pengalaman menarik terjadi pada tahun 1991, ketika ada penyatuan Jerman Barat dan Jerman Timur. Pemerintah Jerman harus membangun Jerman Timur.
Pemerintah Jerman melakukan devisit financing besar-besaran. Namun, hal ini malah menciptakan inflasi. Pemerintah Jerman tidak mau tahu tahu, dan inflasi harus segera dibabat. Mereka menaikkan suku bunga bank. Akibatnya, terjadi krisis moneter di hampir sebagian besar Eropa, termasuk Inggris, Spanyol dan lainnya.
Bahkan, Italia sempat keluar dari sistem moneter Eropa. Yang lebih penting lagi adalah, terjadinya krisis di negara-negara Skandinavia, seperti, Finlandia, Swedia, Norwegia dan Denmark. Sektor perbankan di kawasan itu hancur lebur. Yang menyebabkan pemerintah harus mengambil alih bank yang ada. Melihat pengalaman itulah, suku bunga penting sekali artinya, bagi perekonomian suatu negara. Dan suku bunga dapat disesuaikan, jika itu mengharuskan.
Hal yang juga berpengaruh terhadap perekonomian suatu negara, adalah kenaikan harga minyak dunia. Bagaimana tidak, dengan naiknnya harga minyak dunia, berdampak bagi permintaan dolar untuk mengimpor minyak.
Struktur pasar valuta asing yang pincang, turut pula menyumbang kondisi sebuah perekonomian. Dampak itu lebih signifikan, karena kebetulan di Indonesia terjadi perubahan struktur dalam penyampaian dollar, dari hasil minyak maupun pembeliannya. Perubahan itu terlihat pada UU Migas baru yang mulai berlaku awal 2004. Dulu, kontraktor minyak asing menyetorkan valuta asing tagihan pemerintah melalui Pertamina. Dan perusahaan minyak negara itu meneruskannya ke Bank Indonsia. Dalam UU Migas yang baru, kontraktor asing langsung menyetornya ke BI.
Oleh karena itu, pada awalnya menjadi suatu gangguan yang besar. Awalnya Pertamina malah lebih ekstrem lagi, karena mereka melakukan penawaran pada bank. Siapa yang memberikan rate terbaik, akan diberikan. Tapi, dengan penawaran-penawaran itu, kurs menjadi melemah dengan cepat.
Dari segi inflasi, kedepan seharusnya jauh lebih rendah dari yang lalu. Dan ini diawasi oleh BI dengan yang namanya inflasi inti (core inflation), yang nilainya sebesar 8,9%. Oleh karenanya, kalau inflasi intinya sebesar itu, sebetulnya suku bunga yang ada sekarang ini, 12,5%, mungkin sudah cukup. Tapi, untuk hati-hatinya, prediksi kenaikan suku bunga akan masih meningkat. Meskipun tidak terlalu signifikan.
Di BCA memprediksi, akhir tahun ini suku bunga sekitar 13%. Dan pada gilirannya akan bergerak mencapai angka 14%. Namun, pada akhir 2006 akan turun kembali sekitar 13%. Dan seterusnya. Tentu saja situasi semacam ini kondisional. Yaitu sangat tergantung pada nilai tukar rupiah. Kalau posisi itu bergerak lagi, tentu saja kondisi akan berubah.
Nah, bagaimana dengan kenaikan suku bunga bank? Lalu, apa dampaknya bagi perbankan dan sektor real? Kalau suku bunga BI mencapai, katakanlah 16%, suku bunga kredit akan bergerak sekitar 18-20%. Sekarang ini, di perbankan sudah ada yang menetapkan untuk corporate custumer sekitar 18%.
Dari segi keuangan pemerintah banyak yang memprediksi, dengan kenaikan minyak seperti sekarang ini, akan terjadi kebangkurtan ekonomi. Tapi, kalau dilihat keuangan pemerintah lumayan bagus dan sehat. Bahkan, sebelum kenaikan BBM, sektor migas dari pemerintah masih menghadirkan suatu surplus.
Pemerintah memandang perlu menaikkan harga BBM, karena kecenderungan beberapa tahun terakhir ini, surplus yang dimiliki pemerintah semakin lama semakin menipis. Dan bukan tidah mungkin, suatu ketika akan menjadi devisit. Karenanya ini menjadi sesuatu yang sangat penting sekali.
Belum lagi adanya penyeludupan dan sebagainya. Oleh karena itu, kenaikan BBM merupakan suatu keharusan. Dengan kenaikan BBM, APBN pemerintah menjadi jauh lebih sehat dari sebelumnya. Tentunya dengan catatan, surplus yang dihasilkan tidak dihamburkan. Kalau hal itu dijaga, kondisi perekonmian akan selamat.
Ukurannya apa?
Devisit APBN pemerintah hanya berkutat di 1%, atau kurang dari 1% dari PDB. Dan ini suatu devisit yang kecil dibandingkan negara lain. Misalnya saja Amerika Serikat yang mencapai angka 5%, Jepang 7-8%. Begitu pun dengan kondisi utang Indonesia yang begitu besar. Secara rasio, utang pemerintah dibanding PBD, juga sudah menurun sekali. Sekarang ini berada di atas 40%, dibawah 50%. Dan ini lebih kecil dari negara-negara, yang selama ini dianggap sebagai negara modal bagi Indonesia. Di Eropa ada negara-negara yang utangnya 100% dari PDB. Bahkan Jepang ratio utangnya mencapai 160-170% dari PDB.
Terakhir dari segi sektor real. Salah satu contoh terjadi di Unilever. Yang agak mengherankan adalah, penjualan kwartal ketiga pertumbuhannya bagus sekali. Bukan dari segi keuntungannya, tapi dari segi jumlahnya. Ini berarti terjadi pertumbuhan real. Sebenarnya di sektor pertambangan juga mengalami pertumbuhan yang luar biasa.
Sekarang ini, keuntungan dari batu bara, mungkin sudah lebih dari sepertiga keuntungan Migas. Karena produksinya sudah sekitar 150 juta ton. Satu tonnya sekitar 40-50 US dolar. Kedepannya perolehan yang didapat pemerintah berarti sekitar 6 milyar dolar sendiri dari batubara. Belum lagi dengan timah, yang sekarang ini lagi juga lagi booming.
Dengan adanya inflasi, sebenarnya pemerintah tidak perlu pesimis betul menghadapinya. Yang paling penting adalah selalu bersikap optimis.***
Edisi Cetak, minggu ketiga November 2005, Matra Bisnis
Foto Lukas B. Wijanarko
Monday, November 21, 2005
Perkembangan Ekonomi Indonesia
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
9:14 AM
0
comments
Labels: Ekonomi
Wednesday, November 16, 2005
Si Mungil yang Setia Menemani Hidangan
Oleh: Muhlis Suhaeri
Bentuknya kecil, mungil dan imut. Dia seperti tak berdaya. Namun, begitu Anda meremasnya, seketika itu juga leleran airnya akan membuat lidah seolah menari, dan mengikuti jenis masakan yang terhidang. Begitulah, jeruk mungil ini, yang mempunyai nama latin, Ciprus Hystix ABC. Atau, biasa disebut jeruk sambal.
Bagi masyarakat yang hidup di Kalimantan Barat, jeruk sambal merupakan pelengkap makanan. Yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan mereka sehari-hari. Untuk memasak, orang butuh jeruk sambal. Untuk melepaskan dahaga, orang juga biasa memeras jeruk sambal.
Begitu juga ketika tenggorokan sakit. Jeruk sambal merupakan salah satu alternatif, dan dijadikan andalan. Perasan jeruk sambal terbukti sanggup mengobati sakit tenggorokan. Sebenarnya, bagaimanakah simungil ini hadir di meja makan, marilah kita lihat faktanya.
Namanya Andi Aswandi (45 tahun). Lelaki ini tinggal di Dusun Tiga, Simpang Banjar, Sungai Rengas, Kecamatan Kakap, Pontianak. Tempat itu biasa dia lalui dengan kendaraan roda dua sekitar satu jam dari Pontianak. Setiap harinya, lelaki berperawakan kurus ini, biasa mangkal di Pasar Flamboyan.
Dia membawa hasil kebunnya ke pasar yang berada di pinggir jalan raya cukup ramai ini. Pasar itu mulai buka pukul 3 subuh hingga 7 pagi. Sorenya, geliat pasar kembali berdenyut pada pukul 3 sore hingga 11 malam.
Dalam sehari, Aswandi biasa membawa jeruk hasil kebunnya sekitar 30-50 kg. Pembeli jeruk sambal biasanya penjual bakso, pemilik rumah makan, dan rumah tangga. Jeruk itu dijual seharga Rp 2000. Tapi, kalau harga jeruk sambal lagi baik, dia bisa menjual seharga Rp 3000. Harga musim jeruk yang baik pada Juni, Juli dan Agustus.
Pada bulan itulah, biasanya matahari bersinar dengan teriknya. Karenanya, orang selalu mencari jeruk, supaya airnya bisa diperas sebagai minuman. Harga jeruk sambal semakin tinggi pada hari menjelang lebaran. Pada momen seperti itu, harga jeruk sambal mencapai Rp 6.000.
Jeruk sambal tidak tergantung pada musim. Tanaman ini selalu berbuah setiap saat. Untuk tumbuhnya tanaman ini, tidak memerlukan berbagai persyaratan khusus. Cara menanam jeruk dengan membuat terumbu terlebih dahulu. Terumbu dibuat dengan menaikkan tanah menjadi sebuah gundukan setinggi 30 cm.
Membuat terumbu biasa dilakukan dengan cangkul. Setelah gundukan terbuat, tanah dibiarkan selama dua minggu. Setelah itu baru dihancurkan dengan cangkul. Selama tanah dibuat terumbu tidak perlu diberi pupuk. “Jeruk sambal kalau diberi pupuk malah cepat mati. Jeruk ini hanya diberi pupuk setahun sekali atau dua tahun sekali,” kata Aswandi.
Bibit jeruk sambal biasanya diperoleh melalui pencangkokan dari dahan pohon yang sudah besar. Harga sebuah cangkokan yang masih menempel di pohon sekitar Rp 2.500. Bila bibit sudah ditambak (dimasukkan plastik yang sudah ada tanahnya), harganya Rp 5000. Bibit yang sudah ditambak biasanya siap untuk ditanam.
Jeruk sambal mulai berbuah pada usia 3 tahun. Begitu muncul buahnya, jeruk muda itu langsung dibuang semua. Tujuannya, supaya buah berikutnya bisa besar. Kalau tidak dibuang, buah selanjutnya akan tumbuh kecil. Pohonnya pun akan cepat mati. Nah, setelah pohon berusia 4 tahun, barulah bisa diambil buahnya.
Tanaman jeruk tidak boleh terlalu banyak air, karena akan mati. Banyaknya hujan yang turun, juga berpengaruh pada kualitas jeruk. Kulit jeruk akan muncul bintik-bintik. Jeruk sambal tak perlu perawatan khusus. Yang pasti, di sekitar tumbuhnya pohon harus bersih dari rumput. Satu pohon bisa menghasilkan 1 kilo perhari.
Biasanya jeruk tidak bisa langsung dipetik semua. Pada minggu berikutnya, jeruk baru bisa dipetik lagi. Aswandi mempunyai 400 pohon jeruk sambal. Dalam sebulan, dia bisa menghasilkan 500 kg.
Biasanya jeruk dijual langsung oleh para petani ke pasar. Pasar Flamboyan dan Sentral di Pontianak, merupakan pasar yang biasa digunakan untuk memasarkan jeruk sambal. Menurut Aswandi, jeruk ini jarang dibawa langsung oleh petani ke berbagai daerah. Di Sungai Rengas tak ada koperasi yang menampungnya. Ada sekitar 5 orang yang menanam jeruk sambal di Sungai Rengas. Dalam sebulan, daerah itu bisa menghasilkan 3 ton jeruk sambal.
Musim jeruk sambal tidak pernah putus. Setiap hari selalu ada. Kalau harga jeruk dianggap menguntungkan, biasanya pedagang akan langsung mencari ke sentra jeruk di Sungai Rengas. Pedagang akan berbondong-bondong membawa jeruk.
Namun, bila harga jeruk dianggap murah, mereka tidak akan mengambil jeruk. Harga jeruk yang murah hanya memberatkan ongkos transportasi, sehingga pedagang merugi. Rata-rata pedagang di Pasar Flamboyan dan Sentral, campur dalam berjualan sayur dan tidak menjual jeruk saja.
Berapa langganan Aswandi?
“Tidak ada langganan. Pelanggannya siapa saja,” ungkapnya. Dalam sehari, dia biasanya menghabiskan 10-15 kg untuk dijual.
Jeruk yang bagus tidak ada bintik pada kulitnya. Bintik itu tidak masuk sampai ke dalam buah. Bintik muncul karena banyaknya hujan yang terjadi. Pembeli tidak bisa memilih jeruk yang mereka beli. Penjual biasanya memberikan jeruk sambal secara acak. Jeruk sambal tahan hingga 3 hari. Yang kulitnya kuning, hanya tahan 1-2 hari saja. Kalau jeruk tidak laku, maka akan langsung dibuang.
Sebagian besar masyarakat mengkonsumsi jeruk sambal. Contoh saja Hamidun (53 tahun), seorang tukang bakso di Pasar Flamboyan. Dalam sehari, dia biasa membeli jeruk satu hingga satu setengah kg untuk dagangannya. Jeruk itu dia beli dengan harga berkisar Rp 3000-4000 perkilo. Harga jeruk memang tak tetap.
Hamidun selalu menyediakan jeruk sambal untuk baksonya. Kenapa?
”Sebab orang Pontianak memang begitu. Meskipun di meja sudah ada cuka, orang masih tanya jeruk,” jawab lelaki kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah, ini. Namun, sekarang ini Hamidun tidak pernah lagi menyedian cuka pada meja baksonya.
Hal itu dibenarkan Setianto (31 tahun). Bila makan bakso, dia selalu memeras jeruk sambal pada kuah baksonya. Menurut pria yang tinggal di Sungai Raya Dalam ini, “Jeruk berfungsi menghilangkan rasa amis dan bau lemak. Jeruk juga mengandung asam, sehingga merangsang orang untuk makan.”
Setianto juga selalu menggunakan jeruk sambal ketika sakit tenggorokan. Menurutnya, perasan air jeruk sambal bagus untuk sakit tenggorokan. Begitu pun ketika batuk mulai menimpa. Dia akan mengambil 5 butir jeruk sambal dan memerasnya. Perasan itu akan langsung diminum, tanpa dicampur air terlebih dulu.
Dia mengaku tidak mengalami kesulitan mendapatkan jeruk sambal di Pontianak. Namun, saat berada di pedalaman, terutama di kecamatan, dia merasa susah mendapatkan jeruk sambal. Setianto biasa membeli jeruk dengan harga Rp 4000-5000 perkilo.
Jeruk sambal lebih diminati sebagai penambah rasa dari pada cuka. Yang dengan konsentrasi zat kimia tertentu. Cuka diencerkan dengan air untuk mengurangi rasa keasamannya. Tapi, untuk daerah lain, seperti Singkawang, tampaknya orang masih tertarik menggunakan cuka sebagai zat penambah rasa. Masyarakat merasa lebih aman makan bakso dengan jeruk sambal dari cuka. Tak heran jika sekarang ini, pemilik warung jarang menyediakan cuka di meja rumah makannya.
Bagaimana peran pemerintah dalam melihat potensi jeruk sambal?
“Jeruk sambal merupakan tumbuhan yang gampang tumbuh, tidak perlu lahan luas, dan merupakan tanaman khas Kalbar. Saya keliling hampir di seluruh Indonesia, tapi tidak pernah mendapatkan jeruk ini di lain tempat,” kata Ida Kartini, Kepala Disperindag, Kalbar.
Menurutnya, jeruk sambal juga enak dijadikan sirup. Dia mengaku paling suka dengan sirup jeruk. Dalam berbagai kesempatan di dapur, perempuan berjilbab ini selalu menggunakan jeruk sambal bagi setiap masakannya.
Misalnya, untuk membuat sambal, menghilangkan berbagai bau makanan, dia selalu menggunakan jeruk sambal. Ketika memasak udang, dia pasti menggunakan jeruk sambal dari pada cuka. Alasannya, “Kalau pakai cuka, mungkin saja bisa sakit maag. Kalau jeruk ini alami. Dan bisa membuat ikan terasa enak,” katanya.
Menurut Ida, wilayah Kalbar memang cocok bagi pengembangan bisnis agrobisnis. Dengan pemgembangan itu diharapkan mulai muncul peluang bisnis. Memang perlu kerja sama bagi semua pihak dalam menangani masalah itu. Selain masalah dana, harus ada bimbingan teknis, juga lahan untuk produksinya.
“Dan disinilah diharapkan ada pengusaha besar yang bermitra dengan pengusaha kecil. Sehingga dengan cara itu, produksi bisa dipasarkan dalam negeri dan ekspor,” kata Ida.
Namun, Ida mengaku tidak ada angka pasti mengenai berapa areal, dan produksi jeruk sambal di Kalbar. Jeruk sambal masih sebatas konsumsi lokal saja. Kerja sama dalam hal ini bisa dilakukan dengan dinas lainnya, seperti Dinas Pertanian. Misalnya, berapa lahan dibutuhkan, kapasitas lahan, dan lainnya.
“Dalam rapat kordinasi dengan dinas lain, terutama Dinas Pertanian, saya sering menanyakan angka yang real, dan bisa diterima calon investor/pengusaha, yang bisa mengolah itu,” tutur Ida.
Bila orang hendak membuat suatu industri, seperti sirup jeruk, tentu harus tahu berapa jumlah dari suatu bahan atau produk. Jangan sampai mesin menganggur, karena tidak ada bahan baku. Harus ada hitungan, dan membuat informasi tentang jeruk sambal yang akan dibuat sirup. Dengan hal itu, seorang pengusaha akan berpikir sesuai dengan kapasistas dan kemampuannya.
Yang menjadi pertanyaan adalah, seandainya ada seorang pengusaha ingin menanamkan uangnya pada produk ini, sejauhmana Disperindag akan menfasilitasi?
“Jangankan Disperindag. Semua dinas-dinas lain juga akan memberikan berbagai kemudahan. Pemerintah akan menfasilitasinya,” jawabnya dengan sungguh-sunguh.
Apalagi bagi jeruk sambal yang tidak diatur tata niaganya, dan bebas diperdagangkan. Dan kalau perlu untuk ekspor, atau antarpulau, tentu saja harus ada SIUP (Surat Ijin Usaha Perdagangan). “Dan itu gampang mengurusnya,” ujar perempuan itu memberi semangat
Yang pasti, pengusaha harus lebih proaktif untuk mengetahui, apa yang dibutuhkan pasar. Dia berharap, pengusaha besar mau bermitra dengan pengusaha kecil. Karena pengusaha besar inilah, yang menguasai modal, pasar, informasi dan lainnya.
Memang demikianlah seharusnya fungsi pemerintah. Menjembatani semua peluang bisnis yang ada, melalui berbagai kebijakan dan peraturan. Kita semua berharap, ungkapan itu tidak hanya manis di slogan saja. Tapi juga manis dipelaksanaan.
Ibaratnya, sesegar sirup jeruk, yang terhidang pada sebuah siang nan terik dan dahaga. Semoga.***
Foto by Lukas B. Wijanarko, "Pasar Malam Tradisional."
Edisi Cetak, minggu ketiga, November 2005, Matra Bisnis
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
10:07 AM
0
comments
Labels: Ekonomi
Monday, November 14, 2005
Mebel Jepara di Bumi Katulistiwa
Pilihan orang dalam memilih mebel adalah mengenai kualitas, harga bersaing dan model yang unik. Bisnis mebel yang harus diperhatikan adalah dalam masalah proses pengerjaan.
Terkadang dalam memesan mebel, orang membawa desain sendiri. Dan hal ini akan dikenakan biaya tambahan. Selain itu, mebel yang ada di Kalbar juga harus mengirim gambar yang diminta oleh pemesan itu ke Jepara. Waktu untuk menunggu hingga pesanan itu bisa disanggupi atau tidak sekitar satu bulan.
Pembeli mebel jati tidak bisa dipastikan berapa laku dalam sebulan. Terkadang dalam sehari bisa laku satu set mebel yang mahal, namun dilain waktu mebel yang ada juga akan mengkir dan tak terbeli. Karena itu, dari segi pendapatan tak tentu.
Masing-masing tenaga kerja dalam proses produksi mebel terpisah orangnya. Ada yang khusus mengamplas, mengukir, menyetel, memberi jok, dan finishing. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar mutu dan kualitas mebel tetap baik.
Mekar Jepara mempunyai delapan orang pekerja. Mereka dibayar secara harian. Jadi kalau tidak ada kerjaan ya mereka diam saja di toko. Namun, Jepara Mekar mempunyai 50-60 karyawan di Jepara. Untuk menjaga kelangsungan hidup para karyawan agar tidak terus bekerja, mau tidak mau harus dipikir bagaimana mereka mendapatkan pekerjaan secara berkesinambungan.
Cara, pemilik tidak bertahan terus pada harga yang mereka patok. Dengan mendapatkan untung seadanya, mereka berharap seluruh karyawan yang ada terus bekerja. Bisnis mebel memang lagi pada jeblok, sehingga tidak bisa mematk harga tinggi pada konsumen yang datang. Kalau pihak pengusaha inginnya sistem kerja dalah borongan, sehingga mereka tidak repot dalam mengurus berbagai macam hal.
Bisnis mebel adalah bisnis kebutuhan tersier, jadi sifatnya tidak rutin. Dan hanya laku pada saat tertentu saja. Kaena itu butuh kesabaran untuk menjalankan bisnis ini. Mebel hanya laku pada saat tertentu saja seperti menjelang lebaran, natal dan tahun baru, serta Imlek. Biasanya yang laku pada saat itu adalah lemari sudut, kursi dan meja tamu, dan meja prasmanan.
Sebaliknya, pada bulan April, Mei dan Juni, orang biasanya tidak membeli apapun untuk kebtuhan mebel. Tidak itu saja, bisnis lain juga mengalami lesu pada bulan-bulan ini. Apa sebabnya?
“Mereka ibaratnya menabung dulu, setelah mereka berlebara, natalan atau Imlek,” kata Dahria.
Nah, pada bulan haji, orang biasanya akan banyak membeli perlengkapan untuk satu set kamar tidur, seperti tempat tidur beserta meja rias, dan lemari. Pada bulan ini, biasanya orang melaksanakan pernikahan.
Mengenai model dan desain yang disukai, masing-masing masyarakat mempunyai karakteristik tersendiri. Bukan bermaksud menonjolkan atau mengutak-atik masalah etins, selera sebuah etnis bisa dikelompokkan dalam beberapa kategori.
Bila yang datang ke tempat mebel itu seorang beretnis Tionghoa, maka dia akan menyukai motif dengan ukiran burung, naga, atau huruf kanji. Orang Melayu lebih suka dengan mebel yang seluruhnya berupa ukiran. Mereka tidak mau bila mebel itu ada unsur bernyawa. Hal ini menyangkut sebuah keperayacaan, bahwa menyimpan gambar atau patung mahlug bernyawa kurang mendatangkan keberuntungan. Orang Dayak fleksibel dalam memilih mebel. Mereka akan memilih jenis mebel yang ada di hadapan mereka. Bila itu dianggap bagus dan suka dengan bentuknya, maka mereka segera membelinya.
Kendala utama dalam bisnis mebel di Kalbar adalah masalah pengiriman barang. Sering terjadi, barang yang sudah dicek dan masuk ke kapal, begitu sampai di tempat tujuan, tiba-tiba barang itu menjadi raib.
Nah lho?
Barang sebesar itu bisa raib tanpa bekas. Hal ini terjadi ketika barang sedang dalam perjalanan. Dan agen pengiriman tidak memberikan respon ketika kehialangan itu dilaporkan pada perusahaannya. Yang terjadi justru saling menyalahkan antara karyawan ekspedisi itu. Karyawan yang ada di Semarang berkata, bahwa kehilangan barang terjadi ketika barang itu berada di Pontianak. Sebaliknya, karyawan yang ada di pontianak menepis, dan menyatakan bahwa barang hilang ketika sedang dilakukan pengangkutan kapal di pelabuhan Semarang. Mereka saling lempar tanggung jawab. Ini tidak hanya terjadi sekali dua kali, tapi sudah berkali-kali.
Yang lebih parah lagi ketika menjelang kenaikan harga BBM, 1 Oktober 2005. Kapal tidak bisa berangkat karena tidak ada BBM. Sehingga beberapa pesanan dari konsumen tidak bisa terkirim. Menghadapi hal ini, tentu saja memberithaukannya pada konsumen. Ada konsumen yang mengerti dan bisa memahami, namun ada juga yang tak mengerti dan mengeluhkan pelayanan yang dilakukan.
Karena mendapatkan pelayanan yang tidak baik itulah, Jepara Mekar membuat sebuah janji dan motto dalam berbisnis, “Memberi service yang baik.” Service atau pelayanan yang baik tidak sekedar obral janji. Mereka membuktikannya dengan langkah kongkrit. Pelayanan dilakukan ketika konsumen datang dan pada saat purna jual. Misalnya, ketika orang yang beli mebel di tempat mereka mengalami masalah dengan mebel yang mereka beli, seketika itu juga akan dilakukan perbaikan dan pelayanan.
Ukiran mebel yang patak bisa langsung diperbaiki. Kayu yang terkena serangga langsung bisa disuntik dengan obat kimia atau minyak tanah. Semua tidak dikenakan biaya tambahan. Semua itu dilakukan dalam rangka memberikan pelayanan yang baik dan mengikat pelanggan untuk tetap kembali ke tempat mereka. Nah, kalau Anda ingin memperbaiki jok atau busa, mereka juga bisa melakukannya. Kekuatan busa biasanya berkisar antara 5-6 tahun. Untuk yang satu ini, tentu dibutuhkan biaya.
Bukankah untuk mengganti busa, juga harus membeli bahannya?
Dalam segi pelayanan, dia memperlakukan pelanggan dengan baik dan secara kekeluargaan. Dan yang penting dalam pelayanan harus jujur dan menyatakan apa adanya.” Tamu diajak dalam suasana kekeluargaan. Bahkan, ketika mereka tidak sedang belanja, terkadang ada yang sengaja mampir hanya untuk berbincang sambil minum kopi.
Tak hanya pelanggan di Pontianak, Mekar Jepara merambah pemasaran hingga ke Malaysia. Namun, mereka tidak menempatkan toko atau mebel di sana. Pedagang Malaysia yang datang langsung membawa barang mereka. Ya, mereka memang belum bisa membuka toko langsung ke negeri Jiran itu. Maklumlah, modal sendiri, tanpa bantuan dari bank.
Hal yang patut disayangkan, dalam bidang pemasaran mereka tidak menggunaakn dunia maya yang tanpa batas itu. Tak ada website atau brosur apapun di toko ini. Padahal, dunia maya melalui internetnya, merupakan cara yang ampuh juga untuk menjaring pembeli dan membuka jaringan penjualan. Mereka juga belum pernah membuka stand dengan ikut pameran tentang mebel.
Dalam bisnis ini sebenarnya masih terbuka banyak peluang. Namun, karena minimnya modal, tentu saja ide dan rencana pengembangan itu terbentur dengan kondisi yang ada.
Bisnis mebel jepara juga sudah merambah ke Malaysia. Banyak dari pedagang Malaysia yang langsung datang ke Pontianak untuk mencari mebel. Untuk mebel yang masuk ke malaysia, kualitasnya memang dibuat lain. Standar kualitasnya benar-benar dijaga.
Sebuah barang yang ada di Pontianak dan Malaysia, dengan desain dan model yang sama, harganya bisa jauh beda. Perbedaan disebabkan karena bahan kayu dan pengerjaan akhir atau finishingnya. Pedagang mebel di Pontianak lebih suka mencari pasar mebel dengan harga di bawah. Sementara pasar mebel di Malaysia mencari kualitasnya lebih bagus, dan harga tinggi.
Banyak juga masyarakat yang masih awam dengan kayu. Begitu mereka datang ke sebuah toko mebel, mereka akan berkata, “Apakah ini dari kayu jati?”
Menanggaai hal ini, mereka maklum saja dan berusaha menjelaskan dan memberi contoh mebel dengan harga dan kualitas yang standar saja.
Memang pertanyaan itu tak muncul begitu saja. Kelangkaan dan sulitnya bahan baku kayu jati membuat seorang pengusaha mengakali hal tersebut. Salah satunya dengan mencampur kayu yang ada dengan kayu lain, seperti kayu nangka.
Untuk satu set meja makan dengan enam kursi, harganya ada yang Rp 8 juta. Namun, ada juga yang seharga Rp 3,8 juta. Untuk satu set tempat tidur yang baik bisa mencapai angka hingga rp 30 juta. Namun, yang kualitas biasa dapat dibeli dengan harga Rp 6 juta.
Untuk mebel yang berada di ruang dapur dan taman jarang yang laku. Perkantoran juga banyak yang menggunakan mebel jati Jepara. Dan permintaan untuk mengisi ruang perkantoran pemerintah maupun swasta cukup bagus angkanya.
Mahalnya mebel karena kualitas kayu jati yang digunakan dalam pengolahan dan pengeringannya sangat lama. Proses oven itu memakan waktu hingga 4 bulan. Kedua, ukirannya sangat halus. Ketiga, pengerjaan finishing yang dilakukan sangat baik. Kayu jati yang baik malah tidak menggunakan warna, sehingga urat kayu terlihat dengan jelas.***
Edisi Cetak, minggu kedua November 2005, Matra Bisnis
Baca Selengkapnya...
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
8:36 AM
0
comments
Labels: Ekonomi
Tuesday, November 1, 2005
Dia yang Terus Bekerja
Jika Anda punya gaji sekitar Rp 30 juta sebulan, maukah menyisihkan waktu dan tenaga lagi, untuk sebuah usaha yang “hanya” menghasilkan uang Rp 2 juta perbulan?
Mengapa tidak? Itulah jawaban Yuliana.
Perempuan yang dikarunia empat anak itu, telah membuktikannya. Dalam kesehariannya, dia bekerja sebagai unit manager sebuah asuransi, Manulife. Meski telah mendapatkan gaji yang cukup wah di tempatnya bekerja, dia masih menekuni sebuah usaha industri kecil.
Di perusahaan tempatnya bekerja, nenek dari seorang cucu ini, telah mendapatkan gaji Rp 30 juta. Bayangkan? Dengan uang Rp 30 juta perbulan, dia masih mau bersusah payah mencari dan menghasilkan uang yang jauh dari gajinya.
Apa motifasi dia melakukan hal itu?
“Yang pasti, usaha yang dijalankan ini telah menghidupi beberapa orang dan menciptakan lapangan tenaga kerja,” katanya memberi jawaban.
Apa yang dilakukannya memberikan pekerjan pada orang yang butuh kerja. Salah satu contoh, ada seorang janda yang kerja padanya. Perempuan itu merasa bersyukur karena mendapatkan pekerjaan dengan mengaduk dodol. Dengan cara itulah dia bisa membayar uang sekolah bagi anaknya. Dalam sebulan, perempuan itu bisa mendapat uang satu juta lebih. Kerjanya mengaduk dodol terus.
Melihat hal itulah, Yuliana akan selalu meneruskan usaha ini. Banyak juga orang yang berkata, dia punya gaji besar, kenapa masih mau melakukan ini. Mereka tidak tahu, bahwa apa yang dia kerjakan bisa membantu banyak orang. Dari segi kesehatan juga banyak manfaat yang didapat, karena dodol itu tanpa bahan pengawet.
Bagaimana Yuliana memulai usaha?
Awalnya, sebuah kekecewaan. Kekecewaan pada anaknya. Ceritanya ada seorang anak Yuliana yang kuliah teknik pada sebuah universitas di Malaysia. Ketika pulang ke Pontianak, sang anak selalu membeli lidah buaya dan membuat adonan dodol. Ada sebuah pertanyaan yang dia lontarkan pada anaknya. “Kok kamu disekolahkan mahal-mahal keluar negeri, cuma mengaduk dodol?”
Ada sebuah ketidakrelaan pada apa yang dibuat sang hati. Padahal sudah ratusan juta dia habiskan, untuk memperoleh pendidikan bagi anaknya. Kemudian anak itu pergi ke Jakarta. Selepas anaknya hijrah ke Jakarta, Yuliana selalu berpikir, ini anak sekolah tinggi pasti ada visi dan misinya.
Lalu, dia melanjutkan resep-resepnya dan menguji sendiri. Sampai akhirnya ketemu sendiri. Dia mulai membuat dodol pada tahun 2000. Ketika itu, dodol buatannya hanya untuk teman-teman sendiri saja. Tak terasa, sudah 5 tahun dia menekuni usaha itu.
Yuliana belum merasa perlu untuk mencari uang ke bank, bagi pengembangan usahanya. Dia belum pernah menawarkan diri mengambil uang ke bank. Orang dari bank pun belum ada yang datang menawarkan bantuan modal. Dia merasa apa adanya saja dalam mengembangkan usaha itu. Berawal dari uang yang ada saja. Yang dia kejar adalah permintaan dari produksinya.
Sekarang ini, sudah lima bulan yang lalu dia mengudnurkan diri sebagai unit manager, dan pindah ke agen manager. Dia merasa sayang meninggalkan pekerjaan itu, karena terlanjur sayang dengan nasabahnya. “Mereka baik dengan saya. Mereka dengar saya usaha ini, mereka dukung,” kata Yuliana.
Dalam masalah hak paten, dia merasa belum waktunya membuat hak paten bagi produksinya. Selain karena biayanya mahal, juga harus memikirkan produknya dulu. Kalau memang produknya sudah banyak, baru bisa memikirkan tentang hak paten. Yang penting, produk ini harus terus diperbaiki. Itulah visi dan misi dalam bisnisnya.
Apa targetnya dalam bisnis yang ditekuninya sekarang?
“Pokoknya, saya kejar terus target dan penghasilannya. Akan saya kejar terus, sampai punya penghasilan, seperti saya kerja di manulife,” jawab ibu ini, penuh semangat.***
Edisi Cetak, 7 November 2005, Matra Bisnis
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
9:46 AM
0
comments
Labels: Profile
Tuesday, October 25, 2005
Nurul, Kepala Biro Antara Termuda
Pontianak Post
Selasa, 25 Oktober 2005
Nurul, Kepala Biro Antara TermudaPontianak,- Lembaga Kantor Berita Nasional ANTARA Kalbar mengadakan pergantian kepala biro. Agustinus Jo Seng Bie digantikan Nurul Hayat, yang sebelumnya merupakan pewarta di LKBN Antara Kalbar. Nurul terhitung perempuan ketiga yang memimpin biro daerah dan termuda.
Serah terima jabatan tersebut dilakukan di kantor LKBN ANTARA, Jalan Johar, Senin kemarin. Hadir dalam pelantikan, Wakil Pemimpin Pelaksana Redaksi Bidang Multimedia, Edy Supriatna Syafe'i. Edy juga pernah menjabat sebagai Kepala Biro LKBN ANTARA Kalbar dan bertugas selama delapan tahun.
Jo Seng Bie yang terkenal dengan tulisan-tulisan mengenai budaya, kesenian dan pendidikan, kini bertugas sebagai Kepala Biro LKBN ANTARA di Batam. "Pertimbangannya, Jo Seng Bie cukup mendalami masalah perbatasan di Kalbar dengan berbagai tulisannya. Batam juga mempunyai karakteristik yang hampir sama, yakni sama-sama berbatasan langsung dengan negara lain," tukas Edy.
Maka, Jo Seng Bie juga diharapkan dapat mengangkat masalah-masalah perbatasan yang mengemuka seperti halnya di Kalbar. Pers fungsi kontrol pemerintah juga diharapkan mampu menyampaikan permasalahan melalui tulisan yang bernas. Jo Seng Bie sendiri merupakan pewarta dari Biro LKBN ANTARA Bandung, bertugas selama 40 bulan di Kalbar. "Saya berterima kasih kepada seluruh rekan yang sudah membantu saya dalam bertugas," ujarnya. Dimata rekannya, Aries Munandar wartawan Volare FM, Jo merupakan wartawan yang selalu melakukan tulisan dengan pendalaman data dan narasumber. "Budaya dan kesenian selalu menarik perhatiannya," tukas Aries.
Sementara Nurul, dianggap mampu menjadi kepala biro dalam usia awal 30-an, dengan berbagai prestasi yang dimilikinya. Di tubuh LKBN ANTARA sendiri terdapat 3 kepala biro perempuan, namun Nurul terhitung pewarta yang menjadi kepala biro dalam usia muda dan termuda saat ini.
Nurul pernah mendapat pendidikan militer untuk peliputan di daerah konflik di Sangga Buana Jawa Barat. Selain itu, Nurul juga pernah bertugas untuk melakukan liputan di Nangro Aceh Darrussalam, Biruen, Lhokseumawe, dan Pidie pada tahun 2003, saat dimana Ersa Siregar dan kamaramennya hilang ketika hendak melakukan liputan.(lev)
Foto Lukas B. Wijanarko
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
3:14 AM
0
comments
Labels: Profile
Monday, September 19, 2005
Politik Identitas dalam Pelaksanaan Pilkada Kalbar
Oleh: Muhlis Suhaeri
Kepulauan Indonesia yang terdiri dari beragam etnis dan agama ini, sungguh merupakan suatu kekayaan tersendiri. Keanekaragaman budaya menghasilkan berbagai hasil budaya tingkat tinggi, seperti tarian, nyanyian, bangunan bersejarah, dan ciri khas fisik budaya lainnya.
Keanekaragaman itu menghasilkan sebuah identitas tersendiri bagi masyarakat dan wilayah. Dengan adanya identitas, pertalian dan kedekatan seseorang bisa bertambah, atau malah sebaliknya. Identitas bisa muncul melalui kesamaan etnis, ideologi, atau agama. Namun, apa sebenarnya identitas itu sendiri? Kapan ia muncul? Apakah ia bersifat abadi dan laten?
Dalam bukunya, In The Name of Identity, Amin Maalouf, menuliskan, identitas memang sebuah perkara khusus. Umat manusia sendiri tersusun atas perkara-perkara khusus. Hidup hidup adalah pencipta keberbedaan. Tak ada “reproduksi” yang pernah identik. Setiap individu tanpa kecuali memiliki identits campuran. Identitas tersusun dari sejumlah pertalian. Bahwa, identitas itu juga tunggal, sesuatu yang orang alami utuh dan sepenuhnya. Tak heran jika salah satu identitas itu tersenggol, orang akan bereaksi sepenuhnya.
Nah, dalam percaturan politik di negeri ini, masalah identitas kerap dijadikan salah satu cara untuk menjelekkan atau menjatuhkan, lawan politiknya. Masih jelas di ingatan kita, Pemilu 2004, yang lalu. Bagaimana identitas salah satu calon presiden dikritisi dan dibongkar. Katakanlah, presiden SBY. Oleh lawan politiknya, SBY diidentikkan sebagai calon presiden yang tidak agamis. Atau, istrinya, Kristina, juga mendapat pukulan dengan isu yang sama. Kristina dianggap sebagai pemeluk agama Kristen. Toh, akhirnya masyarakat juga tahu, bahwa hal itu hanya sebuah isu. Yang coba dihembuskan, untuk menjatuhkan dan menurunkan kredibilitasnya.
Identitas lahir dan muncul ketika kita lahir. Seorang anak dari bapak Jawa dan Ibu Jawa, maka ia akan menyandang identitas sebagai suku Jawa. Ketika ia lahir dari seorang ayah Tionghoa dan ibu Tionghoa, secara otomatis ia akan mendapatkan identitas sebagai etnis Tionghoa. Nah, ketika seseorang lahir dari ayah dan ibu seorang pemeluk agama Islam, seorang anak akan langsung mendapat identitas sebagai pemeluk agama Islam. Sama juga ketika dia lahir dari pasangan Kristen, secara identitas ia akan menjadi seorang penganut agama Kristen.
Dalam suatu kurun waktu tertentu, identitas juga bisa berubah, dihilangkan atau mengantinya dengan identitas baru. Penghilangan atau perubahan identitas dilakukan, bila suatu identitas dianggap merugikan atau kurang menguntungkan. Ambil contoh saja, ketika terjadi kerusuhan antargolongan di Kalbar, atau Ambon. Ketika menjadi Islam atau menjadi Kristen dianggap membahayakan dirinya, orang akan menanggalkan simbol atau identitas yang ia miliki. Sama halnya, ketika menjadi Dayak, Melayu atau menjadi Madura, dianggap membahayakan, maka orang akan menanggalkan identitasnya.
Nah, bagaimana dengan proses demokrasi seperti pemilihan kepala daerah (Pilkada)?
Sejauhmana isu mengenai identitas itu berkembang atau dilanggengkan?
Dalam setiap Pilkada di wilayah Kalbar, hal pertama yang akan kita dengar adalah, isu mengenai putra daerah. Sejauhmana sang calon pemimpin mempunyai “titisan darah” sebagai putra daerah. Isu mengenai putra daerah muncul, seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah. Ada kalimat dalam salah satu pasal yang berbunyi, kepala daerah adalah orang yang mengerti daerahnya. Kalimat itu diterjemahkan secara kasat mata menjadi, orang yang berasal daerah itu.
Apa dan siapa itu putra daerah? Apakah seorang anak yang lahir dari etnis Dayak atau Melayu, otomatis mendapat sebutan sebagai putra daerah Kalbar? Bagaimana kalau ia lahir di Jawa? Apakah masih berhak menyandang sebagai predikat putra daerah? Bagaimana dengan etnis Bugis, Tionghoa, Jawa, Madura, Batak, dan lainnya. Ketika mereka telah beranak pinak di Kalbar hingga 2-3 generasi, tidak berhakkah mereka menyandang predikat sebagai putra daerah Kalbar? Apakah kita harus minta pada Tuhan, supaya dilahirkan dari etnis atau agama tertentu, supaya bisa mencalonkan diri sebagai kandidat pemimpin?
Kekuasaan memang menggiurkan. Dengan kekuasaan orang bisa melakukan apapun untuk mengapai maksud dan tujuannya. Tak heran jika orang melakukan berbagai cara, untuk meraih tangga menuju kekuasaan. Dan satu hal yang perlu dicatat, kekuasaan cenderung korup. Apalagi kalau tidak dikontrol oleh masyarakat. Para politikus atau kandidat pemimpin, seolah sengaja memelihara atau memainkan politik identitas itu, untuk kepentingan politik dan hegemoni kekuasaan.
Nah, seperti kita lihat dalam realitas politik dan Pilkada di Kalbar. Masalah identitas selalu muncul dalam setiap Pilkada. Dengan identitas tertentu, calon kandidat bisa melakukan posisi tawar, untuk menjaring dan mendapatkan dukungan. Orang membubuhkan identitas tertentu pada dirinya. Atau, memainkan isu identitas untuk menarik simpati.
Satu contoh terjadi di Kabupaten Ketapang. Seorang kandidat menghembuskan isu dan identitas agama. Kondisi itu hampir saja memicu konflik antarmasyarakat dan pendukung masing-masing calon. Atau, lihatlah dalam setiap pemilihan bupati. Ketika kandidat calon ketua adalah Islam, maka wakilnya adalah Kristen. Ketika calon ketua Kristen, maka wakilnya adalah Islam. Tak usah bingung mencari contoh. Lihatlah, semua Pilkada yang pernah dilakukan. Polanya sama. Identitas dijadikan posisi tawar dalam suatu Pilkada.
Apakah ini cermin kemunduran dari suatu politik?
Saya tidak mau menghakimi. Namun, rasa-rasanya, peleburan masalah identitas keetnisan atau agama, telah lebur bersamaan dengan ikrar Sumpah Pemuda 1928. Lalu, kenapa politik identitas itu muncul? Sebabnya tentu beragam. Ketidakpercayaan untuk menampilkan potensi dan kemampuan diri, bisa juga dianggap sebagai salah satu sebab, kenapa politik identitas itu muncul. Ketika orang tidak punya kemampuan dan potensi yang diandalkan untuk menjadi figur seorang pemimpin, maka salah satu jalan termudah adalah, menggali salah satu identitasnya. Sehingga bisa dilihat dan mendekatkan dirinya dengan masyarakat.
Ya, itulah cara termudah dan dianggap gampang. Padahal bila pola politik identitas itu terus dikembangkan, kita akan terus terperosok menuju politik purba. Kenapa politik purba? Karena politik itu sudah ketinggalan jaman dan susah membawa kemajuan. Orang terbutakan dengan realitas. Bahwa, kemampuan memimpin, mengelola dan menyejahterakan masyarakat, jauh lebih penting. Daripada hanya sekedar masalah identitas, dan dari mana ia berasal.
Coba lihatlah dalam setiap pemilihan umum di suatu negara?
Para kandidat yang mencalonkan diri, berlomba menawarkan berbagai program dan penanganan masalah yang ada di sekitarnya. Berbagai ideologi dan paham juga merambah dalam memenangkan dan merebut hati simpatinya. Ideologi menjadi senjata paling ampuh untuk memenangkan setiap pertarungan dan wacana. Munculnya berbagai partai yang mengusung ideologi kiri, kanan, liberal, konservatif, dan lainnya, turut mendinamisasikan kehidupan berpolitik suatu bangsa.
Melihat realitas itu, masihkah kita memposisikan masalah identitas sebagai garda depan dari suatu cara untuk memenangkan suatu Pilkada? Tentunya ini menjadi tugas kita bersama. Bahwa, membangun suatu daerah, tidak hanya muncul dari tangan seseorang, yang mempunyai darah “seorang putra daerah”.
Ada banyak syarat lain mesti dimiliki. Salah satunya, bagaimana ia meleburkan dan membuka wacana, tentang identitas itu sendiri. Bukankah pemerintahan sekarang ini, SBY dan JK, sudah begitu terbuka untuk mengenai sebuah identitas, dan membuka kran demokrasi.
Nah, apakah kita masih akan melanggengkan politik identitas? Karena, komunitas manusia manapun, yang merasa dipermalukan atau cemas akan eksistensinya, akan cenderung memproduksi pembunuh.***
Pernah dimuat di rubrik Opini, harian Pontianak Post
Foto Muhlis Suhaeri
Posted by
Muhlis Suhaeri
at
12:11 AM
0
comments
Labels: Opini