Saturday, July 23, 2005

Tumpang Negeri Interaksi Manusia dengan Alam

Muhlis Suhaeri

Seperti juga suatu zat, ia pun melebur dan luruh dengan alam. Menjadi satu satu kesatuan dalam interaksi. Padu. Itulah makna filosofi dari acara Tumpang Negeri. Yang diselenggarakan Keraton Ismahayana, Landak, Kalimantan Barat.

Empat puluh tumpang dilarung ke segala penjuru negeri. Satu diantaranya diberi nama Tumpang Agung. Semua tumpang diantar serentak. Menuju pertemuan muara sungai, persimpangan jalan, rumah tua bersejarah, dan ke 10 kecamatan di Kabupaten Landak. Prosesi mengantar tumpang dilakukan antara pukul 15.00-17.00. Khusus untuk Tumpang Agung, dilarung dari muara keraton, menuju hilir sungai Landak.

Setiap tumpang terdiri dari seekor ayam kampung jantan yang telah dipanggang, anyaman daun kelapa muda berbentuk keranjang, seperangkat jajanan pasar, nasi pulut aneka warna, pulut rasul, setanggi wangi dan dupa menyan.



Upacara Tumpang Negeri dipenuhi berbagai persyaratan dan spiritualitas. Bila syarat tidak dilaksanakan, dipercaya dapat menimbulkan akibat tak diinginkan. Salah satu contoh, ayam yang digunakan untuk upacara, harus ayam kampung. Yang merupakan perlambang dan mempunyai sifat, selalu berusaha mencari makan sepanjang hari. Dan itu dilakukan semenjak subuh hari.

Begitupun manusia dalam menjalani hidupnya. Harus berusaha mandiri. Tidak perlu menunggu disantuni, atau mengharap bantuan orang lain. Pulut rasul merupakan simbol kerekatan sosial. Bahwa dalam masyarakat, harusnya bersatu seperti pulut. Kenyal dan tidak kaku. Tapi, ia terekat dalam satu kerekatan. Kue tradisional, merupakan wujud dari kesejahteraan.

”Tumpang Negeri merupakan kegiatan, yang berawal dari kearifan lokal orang Melayu, atau orang laut di Kabupaten Landak,” kata Drs. Gusti Suryansyah, MSi, Pangeran Ratu Keraton Ismahayana, Landak.

Kearifan lokal merefleksikan, manusia bukanlah mahluk berkuasa. Ketika terjadi bencana alam, manusia tidak bisa menghindar. Menyadari manusia mahluk lemah, supaya manusia menjadi kuat, ia harus berinteraksi dengan alam. Bekerja sama dengan alam, jauh lebih baik daripada menaklukan alam.

Alam ada dua. Alam gaib dan nyata. Kearifan lokal masyarakat setempat, manusia harus bisa berinteraksi dengan alam gaib. Melalui upacara Tumpang Negeri, masyarakat seolah ingin memberi tahu, bahwa mereka akan melaksanakan perhelatan besar selama setahun.

Tujuannya, supaya semua diberi kemudahan dalam melakukan sesuatu. Yang bertani mengharapkan kemudahan dalam bercocok tanam. Bagi yang bekerja di sektor usaha, dimudahkan dalam berusaha. Dan berbagai kemudahan dalam menjalankan aspek hidup lainnya.

Masyarakat menginginkan ”mereka” yang berada di alam gaib ikut menjaga, ketika manusia menggunakan sungai dan menggunakan jalan, tidak diganggu. Bagi sebagian besar masyarakat Kalimantan, sungai merupakan urat nadi kehidupan. Jalur perekonomian dan transportasi.
”Kita meminta kepada Tuhan, yang berkuasa atas mahluk-mahluk, supaya urat nadi kehidupan ini tidak diganggu,” kata Suryansyah.

Jadi, bukan meminta kepada alam gaib. Bila meminta pada alam gaib, sifatnya menjadi sirik dan menyekutukan Tuhan. Itulah, makna filosofinya.Acara Tumpang Negeri, mempunyai dua dimensi. Pertama, merupakan suatu doa, supaya terhindar dari segala balak, bencana alam dan penyakit. Kedua, permohonan keselamatan dan kesejahteraan. Supaya tahun mendatang, segala kehidupan akan lebih baik dan sejahtera.

Pelaksanaan Tumpang Negeri, biasanya dilaksanakan pada akhir atau awal tahun, berdasarkan situasi alam. Biasanya melihat tanda hujan. Itu menjadi syarat untuk penentuan acara. Kalau hujannya banyak atau sedikit, ada penentuannya. Hal itu merupakan upaya menyiasati tanda-tanda alam. Sifat acara ini tolak balak. Bila hujan terlalu banyak, maka dengan pelaksanaan Tumpang Negeri, tidak akan terjadi banjir. Tapi, kalau tidak turun hujan, diharapkan bisa turun.

Dalam 3 tahun terakhir, ada kesepakatan, acara dilaksanakan berdasarkan tanggal pengukuhan Pangeran Ratu, 24 Januari. Momentum ini memanfaatkan dua dimensi. Selain tolak bala, juga bagi keselamatan. ”Kita tidak mengedepankan ulang tahun pengukuhan kepangeranan. Tetapi mengedepankan acara proses adat, yang menjadi milik masyarakat,” kata Suryansyah.

Upacara Tumpang Negeri, harus didahului sedekah kampung. Selama 3 hari inilah, masyarakat diberi kegembiran dengan berbagai festifal seni, olah raga dan hiburan lainnya. Ada lomba sampan, pencak silat, pertunjukkan hadrah dan jepin, festival makanan tradisional, dan lainnya.Hari itu, 24 Januari 2006, upacara Tumpang Negeri merupakan puncak berlangsungnya acara.

Sebelum mengantar tumpang, masyarakat melakukan ziarah ke makam ke Raja Abdul Kahar atau Ismahayana, biasa disebut juga Iswara Mahayana. Yang merupakan pendiri kerajaan Landak. Makam itu terletak di desa Munggu. Acara diikuti kerabat kerajaan, pemuka agama dan masyarakat.

Menurut M. Natsir, Staff Pembantu Pimpinan Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Pontianak, nama kerajaan Landak muncul dalam kitab Negara Kertagama pada 1365. Kitab itu ditulis Empu Prapanca semasa raja Hayam Wuruk memerintah di Majapahit. Kerajaan Landak muncul setelah salah seorang bangsawan Singasari menuju Kalimantan. Dan membuka pusat pemerintahan awal di sana. Bangsawan itu dikenal dengan nama Ningrat Batur atau Angrat Batur. Dari sinilah, muncul Ratu Sang Nata Pali I, hingga Ratu Sang Nata Pulang Pali VII.

Dari Ratu Sang Nata Pali VII dengan permaisuri Dara Hitam, lahirlah Raden Iswara Mahayana. Setelah orang tuanya mangkat, ia diangkat menjadi raja pada 1472, dengan gelar Raja Adipati Karang Tanjung Tua. Setelah memerintah, ia memindahkan ibukota kerajaan ke kaki bukit, dan berhadapan dengan sungai Menyuke. Yang merupakan percabangan sungai Tenganap atau sungai Landak.

Lokasi baru itu berkembang menjadi ibukota kerajaan dan diberi nama Kota Ayu atau Munggu. Nah, pada masa pemerintahan Raja Adipati Karang Tanjung Tua (1472-1542) inilah, agama Islam masuk dan berkembang dengan pesat di kerajaan Landak.

Dari kerajaan Landak, muncul beberapa pejuang kemerdekaan. Salah satunya, Pangeran Natakusuma. Ia mendapat Satya Lencana dari pemerintah pusat, karena memimpin pemberontakan blusting (bahasa Belanda yang berarti pajak/upeti). Ia mengorganisir pertemuan dengan berbagai suku lainnya, untuk melawan penerapan pajak yang dilakukan Belanda. Pangeran Natakusuma kalah dalam persenjataan. Akhirnya, ia dibuang ke Bengkulu.

Sejak tahun 1946, muncul UU tentang penghapusan status Swapraja. Dengan sendirinya seluruh pemerintahan kerajaan, tidak memiliki eksistensi pemerintahan, kecuali keraton Yogyakarta. Tak heran bila pengukuhan Gusti Suryansyah pada 24 Januari 2000, ada yang menganggap sebagai munculnya feodalisme baru, dan mengembalikan romantisme kerajaan. Memang ada yang menanggapi dengan sinis, tetapi ada juga harapan.

Lalu, apa pendapatnya terhadap tudingan ini?

”Saya ingin mengkritisi itu. Feodalisme merupakan terminologi yang digunakan oleh raja-raja di Eropa. Dengan penguasaan tanah luas,” kata Suryansyah.

Menurutnya, sejarah kerajaan Landak, bukan sejarah feodalisme. Kerajaan Landak sama dengan kerajaan Yogyakarata. Yang berjuang demi kemerdekaan.Bedanya, sekarang ini keraton Yogyakarta masih memiliki berbagai pusaka dan tanah luas, sementara keraton Landak, sebaliknya. Tanah tinggal tersisa beberapa ratus meter di sekitar keraton saja.

Pusaka keraton tinggal satu keris dan dua tombak. Keris itu bernama Si Kanyit. Ada dimensi dongeng melingkupi keberadaannya. Keris itu didapat, ketika hanyut, bukan menghiliri sungai landak, tetapi menuju ke hulu sungai Landak. Namanya juga mitos.

Boleh percaya, boleh juga tidak. Dulunya, keris itu bertahtakan intan berlian. Maklum, Landak merupakan penghasil intan dari dulu hingga sekarang. Namun, karena keris telah berpindah tangan beberapa generasi, intan itu tak melekat lagi pada keris pusaka. Dua pedang pusaka pembuatannya seperti keris. Ada pamornya. Pedang pertama mempunyai pamor Satria Piningit, dan pedang kedua Pancur Emas.

Menurut Syarif Ibrahim Alqadri, seorang profesor dan guru besar ilmu sosiologi di Universitas Tanjung Pura (Untan), Pontianak, tampilnya kembali Pangeran, Sultan, atau pimpinan ikatan keluarga kesultanan hampir di semua wilayah Nusantara, merupakan revitalisasi dalam dinamika politik Melayu secara kongkret.

Revitalisasi adalah proses, atau kondisi bangkitnya kembali suatu kelompok agama, etnis atau sosial lainnya. Dan menampilkan kekuatan, energi, jiwa atau semangat baru dalam berhadapan dengan kelompok lain.

Revitalisasi pada dasarnya dapat dikategorikan sebagai kesadaran etnik yang bersumber dari luar. Ia merupakan jawaban atau reaksi logis dari realitas sosial yang terjadi di sekeliling kelompok bersangkutan. Yang diciptakan kelompok lain, pemerintah atau bangsa lain.

Dalam jaman yang kian menglobal seperti sekarang ini, makna dan identitas juga menjadi ciri tersendiri dalam menghadapi perubahan itu. Nah, seandainya mengantar Tumpang Negeri, dianggap sebagai kembali ke feodalisme, Gusti Suryansyah tidak keberatan dalam hal ini. Sebagai bagian dari bangsa, rasanya tidak ada larangan untuk ikut serta dalam proses pembangunan, katanya.

Ini merupakan wujud kongkret, mereka bereaksi terhadap kosmopolitan dan globalisasi Caranya, ”Dengan tetap konsisten terhadap nilai tradisional yang pernah hidup dan dipertahankan saat ini,” kata Suryansyah.*

Foto Lukas B. Wijanarko

Baca Selengkapnya...

Tuesday, July 12, 2005

Menabur Citra Membangun Usaha

Oleh: Muhlis Suhaeri

Membangun suatu bisnis, butuh keseriusan. Tak itu saja. Semua upaya, mesti dikerahkan bagi kelangsungan usaha tersebut. Karenanya, segala daya dan kemampuan, mesti dilakukan dengan maksimal. Begitu pun, dengan kemampuan managerial dan organisasi. Wajib dimiliki dan mutlak hukumnya. Nah, bagaimana membangun usaha dan organisasi usaha yang baik?

Inilah jawabannya.....

Dilihat dari caranya berbicara, nampak sekali dia seorang organisatoris. Cara mengungkapkan ide dan menjawab berbagai pertanyaan, baik dan lugas. Logika berpikirnya terstruktur, dengan kerangka sebab akibat. Itulah gambaran dasar sosok seorang, Heriyadi, Wakil Ketua Asosiasi Travel Indonesia (Asita). Berikut ini, petikan wawancara wartawan Matra Bisnis.

Untuk mengembangkan suatu perusahaan travel yang baik, modal utama adalah sumber daya manusia (SDM). Dan tentu saja, modal uang. Alasan orang membangun travel tentu beragam. Ada alasan baik dan kurang baik. Alasan baik misalnya, ingin membuka usaha mandiri. Salah satu alasan kurang baik misalnya, kesal dengan bosnya, dan lainya.

Terkadang ada orang membangun travel dengan “emosi”. Maksudnya, ketika melihat ada suatu acara ramai, semisalnya Imlek atau Cap Go Meh. Maka, orang beramai-ramai membuat travel. Karena saat itulah dianggap paling tepat mencari uang dan keuntungan. Padahal, keramaian acara itu hanya berapa hari saja. Nah, selanjutnya, mempertahankan travel itu bagaimana. Padahal, untuk biaya operasional, gaji karyawan, dan lainnya perlu dana. Mampu atau tidak, orang melanjutkannya?

Motifasi itulah yang membedakan berdirinya suatu travel. Namun, tak perlulah memperdebatkan alasan berdirinya suatu travel. Yang ingin dilihat, bagaimana membangun travel kedepannya.

Modal awal mendirikan perusahaan travel, sama saja dengan perusahaan lain. Pada dasarnya, harus memperhatikan berbagai unsur. Misalnya, bagaimana letak dan fasilitasnya. Hubungan ke pelanggan atau diluar pelanggan, ada atau tidak. Ketika persyaratan itu tidak terpenuhi, pengusaha travel akan susah mendapatkan akses.

Kenapa letak suatu travel begitu penting?

Ketika seseorang membangun travel atau mengajukan menjadi anggota Asita, masalah letak menjadi persyaratan dasar. Asita tidak memperkenankan anggotanya membangun kantor di gang. Yang namanya travel, apabila letaknya di dalam gang, akan susah. Karena fungsi travel itu sendiri, adalah untuk melayani masyarakat. Dan bukan hanya bagi suatu komunitas sendiri.

“Kita inginnya, travel itu berkembang lebih maju,” kata lelaki, yang biasa dipanggil Heri, ini.

Maksud dikenal dalam artian, tidak hanya di lingkungan mereka sendiri. Tapi, juga dikenal secara luas. Baik oleh teman sendiri, atau di luar negara. Sehingga bukan hanya pandai bermain pada bidang lokal, tapi diharapkan juga diluar.

Travel yang baik, harus mempunyai akses ke pelanggan, pemerintah, penerbangan atau travel lainnya. Ketika membuka travel, perusahaan harus tahu, siapa pelanggan dan menjadi target pangsa pasarnya. Akses ke pemerintah menyangkut ijin pendirian suatu travel. Akses ke penerbangan, bagaimana menjalin kerja sama dengan pihak penerbangan.

Kerja sama dengan travel lain mutlak dilakukan. Misalnya, ketika membuka travel di Pontianak, travel mana bisa diajak kerja sama di Jakarta. Ibaratnya, pusat ada di sana. Sehingga kalau ada informasi atau apa pun dari Jakarta, bisa memanfaatkannya. Lalu, travel punya akses ke mana. Apakah hanya untuk jualan tiket saja, atau penjualan paket tur dan tiket.

Perusahaan travel harus mempunyai SDM dari tamatan pariwisata. Persyaratan itu mesti diberikan pemerintah, ketika ada perusahaan mengajukan ijin mendirikan travel. Persyaratan lain, fasilitas travel musti dilihat. Jangan sampai, orang mendirikan travel dengan modal ruangan sempit, semisal 2x1, atau 4x4.

Nah, sampai saat ini, pemerintah kurang tegas memberikan berbagai aturan, ketika orang mendirikan travel. Asita berharap banyak pada pemerintah dalam hal ini. Sikap ini, bukan berusaha menutup kemungkinan orang membuat usaha. Cuma, untuk berusaha perlu kode etik tersendiri. Pemerintah belum melakukan itu, dan baru sekedar memberikan fasilitas ijin.

Asita pernah mengadakan himbauan dan audiensi pada pemerintah Kota Pontianak. Tidak menutup kemungkinan, akan melebar ke kabupaten lain. Supaya pemerintah menertibkan ijin travel. Jadi, sebelum pemerintah memberikan ijin, harus ada rekomendasi dari Asita. Tujuannya, memberikan informasi pada pengusaha, tentang apa yang bakal mereka buat.

Syarat mutlak ketika orang membuka travel adalah relasi. Itulah intinya. Biasanya kesulitan itu pada tahap penyesuaian keadaan. Penyesuaian pada tahap kerja. Terkadang teman, baik dari manager atau karyawannya, agak kikuk menyesuaikan dengan managemen dan relasi.

Biasanya, setelah itu mereka akan terbiasa bekerja dan mengetahui keadaan. Sehingga pada waktunya, mereka harus siap. Karena itulah, Asita mengharapkan SDM dari travel, orang dari sekolah pariwisata. Karena mereka sudah terlatih dan tahu bagaimana menangani suatu masalah. Sehingga tidak harus mulai dari awal lagi.

Asita bahkan bisa merekomendasikan, karyawan mana yang pengusaha mau. Sekolah pariwisata ada di Pontianak. Setiap tahun dipantau terus kemana para lulusannya. Biasanya siswa pariwisata magang di perusahaan travel. Lamanya bisa 3 bulan. Selepas magang, anggota Asita akan memberikan rekomendasi, bagaimana kualifikasi siswa itu ketika magang di travelnya. Data itu menjadi catatan tersendiri bagi Asita dalam memberikan rekomendasi.

Kadang orang membuka travel dengan merekrut kerabat atau saudaranya. Ketika ada kendala di lapangan, seperti pesawat terlambat datang, melobi tamu, atau masalah apa, mereka tidak tahu harus berbuat apa. Dan itu memang susah, karena harus penyesuaian. Biasanya penyesuaian bisa berlangsung selama 3 bulan. Nah, selama 3 bulan membuka travel itu, biasanya sudah rugi duluan. Karena pelanggan sering mengeluh.

Asita berusaha mengayomi semua anggotanya. Makanya, setiap bulan Asita selalu berkunjung dan memantau anggotanya. Bila ada anggotanya tutup, akan dicari tahu penyebabnya. Asita akan bertanya pada managernya. Apa penyebab, kendala, dan sehingga travel itu tutup. Laporan itu akan diberikan pada DPP (Dewan Pimpinan Pusat) Asita di Jakarta.

Asita berusaha melindungi setiap angotanya. Salah satu caranya dengan meningkatkan SDM. Baik dalam bidang ticketing, guiding, maupun dalam membuat paket perjalanan atau wisata. “Kita sedang dalam pembenahan dan membina lagi. Ada pelatihannya. Mereka yang dulunya melempem dan tidak ada kegiatan, akan kita angkat,” kata Heri.

Susahnya mengelola travel, terkadang diluar dari masalah travel itu sendiri. Semisal dengan perusahaan penerbangan. Karenanya, Asita menyarankan beberapa perusahaan penerbangan menjadi anggota Asita. Tanpa sertifikat dari anggota, suatu travel tidak bisa mengambil tiket di suatu penerbangan. Mereka hanya bisa menjadi agen dan sub agen dari penerbangan itu.

Lalu, diluar dari masalah itu adalah terbatasnya modal. Untuk mengembangkan diri, kebanyakan travel modalnya kecil, sehingga melorot lagi. Misalnya, dengan modal Rp 30 juta, orang bisa mendirikan travel dengan fasilitas seadanya saja.

Peluang membuka travel sebenarnya masih sangat besar sekali. Bahkan, ada banyak travel bisa hidup dari hanya menjual voucher hotel saja. Tapi, tidak menutup kemungkinan, travel juga menjual tiket. Tapi, menjual tiket bukanlah pendapatan utama. Travel juga bisa hidup dari penjualan tiket saja.

Karenanya, Asita akan mengelompokkan, mana travel bergerak di adventure, dan yang bergerak diluar kapasitas itu. Dari sana akan terlihat kekuatan suatu travel. Dengan mengetahui kekuatan, Asita akan sanggup meningkatkan SDM suatu travel. Sehingga kalau ada suatu pertemuan atau apa, bisa direkomendasikan travel mana yang akan menanganinya.

Dengan cara itu, kedepannya peran Asita hanya mengkordinirnya saja. Selain itu, Asita bisa merekomendasikan atau menilai, suatu hotel layak atau tidak sebagai tempat penginapan. Banyak hal yang nantinya bisa direkomendasikan untuk itu.

Peran pemerintah sekarang ini sudah mulai terbuka, dalam menfasilitasi peraturan dan memperlancar kegiatan itu. Selama ini, kendala pemerintah selalu terbentur masalah kekurangan dana. Ada ide-ide dari Asita dan diajukan pada pemerintah, selalu terbentur dan tidak bisa jalan, karena tidak ada dana.

Asita akan berkordinasi dengan pemerintah dan bekerja sama dalam membuat berbagai program. Yang berhubungan dengan pariwisata. Sehingga ketika pemerintah membuat kegiatan, akan mengikut sertakan Asita. Karena Asita tahu kekuatan organisasi dan anggotanya. Ketika pemerintah membuat suatu kegiatan seperti pelatihan, menjadi menjadi tepat sasaran. Jangan sampai anggota yang tidak bergerak dalam bidang tur, tapi diikutsertakan dalam pelatihan.

Kedepannya, Asita akan membuat spesifikasi suatu travel. Mana travel bergerak di bidang adventure (petualangan), umroh, paket wisata, dan lainnya. Sekarang ini masih masih acak. Semua bisa diambil.

Paket wisata yang paling punya peluang dikembangkan di Kalbar adalah paket adventure (petualangan). Peluang itu besar sekali. Ada beberapa tujuan wisata bisa dicapai seperti, Taman Nasional Betung Karihun, Danau Sentarum, dan potensi wisata hutan yang belum terjamah.

Selain itu, paket ini sanggup menawarkan keuntungan hingga 60 persen. Namun, tingkat resikonya juga tinggi. Hasil yang didapat sebanding dengan resikonya. Bahkan, kalau kena apes, bisa merugi dan kena marah tamu. Adventure berhubungan dengan faktor alam, yang kadang tak bisa terduga. Misalnya, target 4-5 hari sampai tujuan, tiba-tiba tidak bisa dicapai, karena faktor alam. Karena mobil terjebak lumpur atau apa, sehingga tamu harus diinapkan lagi. Dan itu tentu saja membuat biaya jadi membengkak. Tentu resikonya harus ditanggung.

Nah, sebenarnya, membuka bisnis travel masih memberikan harapan dan peluang bisnis. Prospeknya masih baik sekali. Sangat disayangkan, bila membangun travel, tidak dilandasi SDM. Jangan sampai umur travel hanya sebentar saja, karena tidak didukung SDM yang baik.

“Kuncinya di SDM itu,” kata Heri.***

Edisi Cetak, minggu pertama Desember 2005, Matra Bisnis
Foto Lukas B. Wijanarko

Baca Selengkapnya...

Monday, July 11, 2005

Dari Riak dan Gelombang Danau, Lahirlah Bisnis Angkutan

Oleh: Muhlis Suhaeri

Dalam sejarah peradaban manusia, tak bisa dipisahkan dengan usaha melawan waktu. Karena itulah muncul teknologi dan peradaban. Teknologi lahir, supaya manusia sanggup memperpendek waktu. Jauhnya jarak, dapat dipersingkat dengan penemuan dan munculnya teknologi baru. Mau tahu buktinya? Inilah jalinan cerita yang bisa Anda ikuti.

Awalnya, orang menggunakan perahu motor bandung untuk menempuh perjalanan dari Lanjak ke Semitau. Waktu yang diperlukan sekitar 8 jam. Lamanya waktu tempuh membuat orang berpikir, bagaimana mempersingkat jarak. Maka, lahirlah ide mengganti angkutan perahu motor bandung dengan perahu cepat (speed boat).



Adalah Agus Hariyanto. Seorang lelaki bertubuh gempal dari Lanjak, Kapuas Hulu. Semenjak tahun 1996-1998, lelaki ini melayari danau Sentarum dengan perahu bandung untuk mengantar para penumpang. Melihat lamanya waktu tempuh mencapai Lanjak dan Semitau, dia mulai melirik sebuah angkutan alternatif. Pilihannya jatuh pada perahu berbahan fiber. Ketika itu, usaha angkutan ini belum banyak dilihat orang. Lalu, dia mulai menggarap potensi itu, menjadi lahan bisnis.

Dia menggunakan mesin 115 pk. Perahu itu sanggup membawa 10 penumpang. Karena bisnis ini mendatangkan uang cukup lumayan, orang langsung mengikutinya. Satu persatu perahu mulai menambah jumlah armada penyeberangan danau Sentarum. Untuk mengatur angkutan, masyarakat membentuk Koperasi Unit Desa (KUD). Namanya, KUD Saum Jaya. Saum dalam bahasa Dayak Iban berarti kerabat. KUD ini mempunyai 25O anggota dan tiga bidang usaha. Yaitu, angkutan, waserda (warung serba ada) dan penginapan. Namun, diantara tiga bidang usaha itu, angkutan dan waserda terlihat lebih maju.

Supaya seluruh anggota mendapatkan penumpang, ukuran perahu dialihkan menjadi 40 pk. Tujuannya, supaya bisa menggunakan banyak tenaga, dan membagi rejeki pada lainnya. Perahu ini sanggup menampung 5 penumpang dan satu supir.

Tak tanggung-tanggung, ketika pertama kali beralih teknologi, Agus membeli 6 perahu cepat 40 pk. Perahu itu dibelinya dengan harga sekitar Rp 28 juta per-perahu.

Melalui KUD ini juga, segala perijinan dan berbagai kebutuhan anggota terpenuhi. Begitu pun kalau ada anggota yang ingin memperbaiki perahu. KUD bisa mengusahakannya ke Pontianak. Untuk mengganti badan perahu, anggota harus mengeluarkan uang sekitar Rp 8 juta. Badan perahu berukuran 1,5 x 4 meter.

Badan perahu ada dua macam. Badan perahu kodian dan pesanan. Badang perahu kodian dibeli secara langsung. Biasanya lapisan fibernya agak tipis, dan terdiri dari 3 rangkap lapisan serat fiber glas. Badan perahu pesanan biasa disebut badan cetak. Artinya, pesan khusus. Lapisan badang perahu lebih tebal, hingga mencapai 4 lapis fiber. Lapisan bawah perahu biasanya dibuat agak lebih tebal. Tujuannya, agar perahu lebih awet, karena bagian bawahlah, yang biasa terkena air dan penahan beban. Tebal badang perahu kurang dari 1 cm.

Perahu dipasang terpal pada bagian atasnya. Orang menyebut terpal dengan nama kap. Terpal membungkus bilah-bilah pipa besi. Dan berfungsi melindungi penumpang perahu dari hujan atau terik matahari. Terpal warna hijau ini bisa ditutup atau dibuka, sesuai dengan keinginan penumpang.

KUD selalu mengontrol kelayakan armada. Bila badan perahu sudah tak layak, pengurus akan minta pemilik untuk memperbaiki atau mengantinya. Badan perahu layak pakai tergantung dari keadaan. Kalau musim pasang, kadang ada bonggol kayu bertebaran sepanjang jalur sungai dan danau. Bila mengemudikan perahu tidak hati-hati, perahu akan melanggar batangan kayu tersebut. Hal itu tentu saja membuat badan perahu menjadi rusak. Dalam kondisi biasa, artinya tidak ada benturan atau tabrakan, badan perahu bisa bertahan hingga 5-6 tahun.

Begitu juga bila ingin mengganti mesin. KUD bisa memfasilitasi dengan mencarinya ke Pontianak atau ke Lubuk Antu, Malaysia. Harga mesin tergantung dari kondisinya. Tapi, anggota jarang mengganti mesin seluruhnya. Jika ada mesin rusak, paling memperbaiki sendiri. Kalau pun tidak bisa diperbaiki sendiri, biasanya mesin akan dibawa ke bengkel di Semitau atau Nanga Suhaid. Kerusakan onderdil mesin biasanya pada piston ring, bearing, dan lainnya. Biaya reparasi mahal sekali. Bisa mencapai jutaan rupiah.

Pengguna angkutan penyeberangan ini beragam. Yang pasti, semua orang bisa menggunakannya. Pada tahun 2000-2004, jumlah penumpang dapat mencapai sekitar 80-100 orang perhari. Sekarang ini susah sekali. Penamupang ramai kalau ada anak sekolah sedang liburan sekolah, atau hari besar keagamaan. Penumpang turun hingga 50 persen.

“Semenjak tak ada kerja kayu, sudah jarang sekali penumpang. Dulu, pekerja kayu banyak yang pakai speed. Tidak ada kayu, semua aspek kehidupan jadi berkurang,” kata Agus. Karyawan kayu banyak yang berasal dari Sambas, Jawa dan Bugis.

Penumpang perahu diasuransikan. Ada jasa raharja. Melintas danau dan sungai tentu berbahaya. Tapi, belum pernah ada kecelakaan hingga menyebabkan perahu tenggelam. Paling insiden kecil seperti senggolan antararmada. Tahun 1998, penumpang membayar tiket Rp 35 ribu. Sekarang ini, orang harus membayar Rp 120 ribu perorang. Jadi, sewa satu perahu Rp 600 ribu.

Biasanya penumpang adalah masyarakat yang ingin ke Pontianak. Mereka berangkat siang hari, karena harus mengejar bis Semitau-Pontianak. Bis berangkat dari Semitau pada pukul 13.30-14.00. Oleh sebab itu, penumpang perahu biasanya naik dari Lanjak sebelum pukul 12.00. Kalau musim penghujan, terkadang bis tidak bisa jalan, karena jalan darat tak bisa dilalui. Karenanya, penumpang perahu langsung menuju Sintang.

Dari Sintang, mereka melanjutkan perjalanan darat dengan bis ke Pontianak. Dari Lanjak ke Sintang, butuh waktu sekitar 5 jam dengan perahu. Biaya transportasinya Rp 1,5 juta. Perorang dikenakan biaya Rp 300 ribu. Kalau pun tidak ada penumpang lain, orang itu harus sanggup menutup ongkosnya. Bila tidak, ya tidak berangkat.

Perahu sanggup menampung 90 liter bensin. Tangki bahan bakar ada di bawah badan perahu. Tangki bahan bakar tidak boleh bocor, agar tidak berbahaya bagi keselamatan. Untuk menempuh jarak Lanjak-Semitau, pulang-pergi, perahu membutuhkan bensin sekitar 40 liter. Jarak Lanjak-Sintang, perahu butuh 180 liter. Perahu biasanya mengisi bensin di Semitau. Di Lanjak, Semitau, Nanga Suhaid dan sekitarnya, harga bensin mencapai Rp 7 ribu perliternya. Kebanyakan bensin beli di kios. Tak ada SPBU di sana.

Bagaimana suka duka mengelola bisnis ini?

“Waktu penumpang banyak, tentu kita senang. Kalau penumpang sedikit, kita pun berpikir, bagaimana cara menanganinya,” tutur Agus.

Sekarang ini, Agus hanya punya satu armada. Bukannya tidak boleh punya lebih dari satu, tapi yang lain juga ingin punya armada. Tidak bolah ada monopoli.

Angkutan danau ini menggunakan satu rute. Tujuannya, bila ada armada rusak atau nyasar dari jalur, akan dengan mudah ditolong. Tidak ada alat komunikasi radio. Ketika musim banjir seperti sekarang ini, semua jalur sepertinya sama. Karenanya, pengemudi harus pandai melihat berbagai penanda bagi jalurnya. Sebuah LSM pernah membuat berbagai penanda bagi jalur perahu dengan bahan seng. Namun, penanda itu banyak hilang, jatuh, rusak karena kena angin dan cuaca.

Bila tak ada tanda, biasanya supir perahu menggunakan tanda bukit dan pohon. Misalnya dari arah Semitau. Kalau melihat suatu bukit, maka bukit itu dijadikan arah dan penanda. Dengan berpedoman pada lengkungan-lengkungan bukit, biasanya tidak akan meleset. Tumbuhnya pohon juga dijadikan arah dan petunjuk bagi jalur pelayaran perahu. Dengan menguasai jalur, penumpang tidak akan merugi dan kehilangan banyak waktu.

Jadwal keberangkatan 32 armada diatur sedemikian rupa. Ada petugas mengaturnya. Armada dibagi menjadi 4 kelompok. Jadi, 32 armada dibagi 15 hari kerja. Kalau orang punya satu armada, berarti 2 hari sekali saja bisa berangkat. Dalam sehari, biasanya berangkat 8 armada dari Semitau, dan 8 dari Lanjak. Besoknya, giliran satu grupnya lainnya.

“Kalau tidak kita atur, bisa kacau jadwalnya. Kita tidak tetap jadwalnya. Pokoknya, ada lima orang jalan. Tidak terlalu sulit mengaturnya,” kata Salam Setiadi, petugas pengatur keberangkatan dan pemesanan tiket dari KUD Saum Jaya.

Antara Lanjak dan Semitau, biasanya berkordinasi lewat telepon. Misalnya, ada penumpang membludak di Lanjak. Maka, armada di Semitau bisa ditarik sebagian ke Lanjak.

Tak diragukan lagi, dengan hancurnya jalan darat, angkutan lewat sungai dan danau merupakan satu-satunya alternatif. Namun, masih ada satu kekurangan. Belum ada dermaga keberangkatan, bagi armada angkutan danau dan sungai ini.

Bagaimana dengan sikap pemerintah?

“Pemerintah kabupaten Kapuas Hulu, pernah menyanggupi membuat dermaga pemberangkatan. Katanya dalam waktu dekat ini,” kata Salam Setiadi..***

Edisi Cetak, minggu pertama, 7 Desember 2005, Matra Bisnis
Foto Muhlis Suhaeri


Baca Selengkapnya...

Monday, July 4, 2005

Potret Benyamin Apa Adanya


Oleh: Nurdin Kalim

Sebuah biografi seniman Betawi serba bisa, Benyamin Suaeb, diluncurkan. Buku yang menjejalkan segudang data sang tokoh.

-----


Pada suatu siang yang terburu-buru. Sebuah sepeda motor DKW Hummel meluncur membelah lalu-lintas Jakarta. Dengan hati berdebar, Benyamin Suaeb--pengendara motor itu--bergegas menuju studio Dimita Records, menyerahkan lagu Nonton Bioskop kepada idolanya: Bing Slamet. “Ini, Bang, lagunya,” kata Benyamin seraya menyerahkan secarik kertas kepada artis top era 1960-an itu.


Pertemuan dengan Bing Slamet pada 1968 itu titik sejarah penting bagi perjalanan karier Benyamin. Sebab, kejadian itu menjadi sumbu ledak bagi Ben--demikian sapaan akrab pria kelahiran Jakarta, 5 Maret 1939, ini--sebagai penyanyi lagu khas Betawi. Setelah menyerahkan lagu ciptaannya untuk direkam Bing Slamet, Benyamin malah disarankan membawakan sendiri lagunya itu. "Gua tahu lu bisa nyanyi, coba aja nyanyi,” ujar Bing kala itu.


Peristiwa 37 tahun silam itu tercatat dalam biografi Benyamin, Muka Kampung Rezeki Kota, yang diluncurkan awal Juni lalu. Buku setebal 511 halaman terbitan Yayasan Benyamin Suaeb, Jakarta, itu menyuguhkan perjalanan Benyamin dari lahir hingga ajal menjemputnya. Menurut Benny Pandawa Benyamin, putra bungsu Benyamin sekaligus penggagas terbitnya buku itu, biografi tersebut menyuguhkan sosok utuh almarhum ayahnya. “Idenya muncul pada April 2003,” katanya. “Buku itu terbit karena dorongan hubungan emosional dengan Babe,” Benny menjelaskan.

Biografi itu dibuka dengan suasana tempat kelahiran Benyamin: Kampung Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta. Sebuah perkampungan Betawi yang serba lugas, penuh canda, keceriaan. Lingkungan itulah yang banyak membentuk karakter Benyamin, humoris dan suka berceloteh riang. Benyamin merupakan bungsu dari delapan bersaudara pasangan Sukirman alias Suaeb dan Siti Aisyah. Kakeknya, Haji Ung, adalah tokoh Betawi terkenal, yang namanya kini terukir pada sebuah jalan di kawasan Kemayoran: Jalan Haji Ung. Kebanyakan orang melafalkannya “Jiung”.

Lahir atas pertolongan dukun Saodah, Benyamin bercita-cita menjadi pilot, tapi ditentang sang ibu. “Takut nanti pesawatnya jatuh,” kata ibunya. Sebelum menjadi penyanyi dan aktor film, lulusan SMA Taman Madya, Jakarta, itu pernah terdampar di beberapa tempat pekerjaan, dari kondektur bus kota, bagian amunisi peralatan TNI-AD, hingga pegawai PN Asbes Semen.

Sejak kecil Benyamin suka bermain musik. Bersama para abangnya, ia sempat membentuk grup musik dengan alat seadanya: drum minyak, kaleng biskuit, kotak obat. Sebelum dikenal sebagai penyanyi khas lagu Betawi, ia adalah penyanyi pop. Sempat bergabung dengan grup musik Melodi Ria yang berdiri pada 1957. Ia juga pernah bermain dengan dedengkot jazz Indonesia, Jack Lesmana dan Bill Saragih.

Kiprahnya dalam musik pop membawa Benyamin ke berbagai klub malam. Saat itu dia menyanyikan lagu-lagu Barat seperti Unchained Melody, Blue Moon, My Way. Tapi, apesnya, sebagaimana Koes Bersaudara yang dijebloskan ke penjara karena membawakan lagu-lagu The Beatles, Benyamin juga diganyang dan dilarang manggung di klub malam. Larangan membawakan lagu “ngak-ngik-ngok” atau lagu Barat itu dikeluarkan Presiden Soekarno pada 1965.

Ada peristiwa yang terus melekat di benak Benyamin berkenaan dengan larangan menyanyikan lagu-lagu Barat itu. Selagi asyik menyanyikan lagu Blue Moon di sebuah klub malam di Kemayoran, ia ditegur seorang wartawati harian sore pertama yang berhaluan kiri, Warta Bakti. “Kenapa nyanyiin lagu Barat, lu? Orang apa lu? Orang Indonesia? Kalau orang Indonesia, nyanyi musik Indonesia, dong!” pekik sang wartawati. Ketimbang menuai masalah, saat itu Benyamin banting setir menyanyi lagu-lagu keroncong. Hanya, pengunjung klub itu malah perlahan menyusut. Dan akhirnya sepi.

Benyamin tak patah arang. Sejak peristiwa itu, ia memutar otak. Sebagai jalan keluarnya, ia menyanyikan lagu-lagu khas Betawi dengan iringan musik gambang kromong. "Kalau tidak ada larangan Bung Karno, saya barangkali tidak akan pernah menjadi penyanyi lagu-lagu Betawi," katanya. Perlahan tapi pasti, namanya meroket sebagai penyanyi khas gaya Betawian.

Lagu-lagunya jenaka. Caranya menulis lagu, yang bisa lahir di mana saja, mungkin dapat jadi gambaran bahwa orang ini telah berusaha tampil apa adanya. Kekasaran dalam lirik-liriknya, irama yang ditemukannya, dan kadang kala kesentimentilan yang mencuat keluar dari lagu-lagunya, di samping merupakan ekspresi yang jujur juga merupakan satu cara supaya bisa komunikatif.

Dengan mengandalkan segi-segi wajar dalam lagu-lagu itu, kemudian Benyamin mencoba menitipkan sedikit pesan moral. Dengan gaya spontannya, ia berusaha menyentil kenyataan yang timpang sehari-hari. Dalam sekapur sirih Muka Kampung Rezeki Kota, Remy Sylado menulis, nyanyian-nyanyian Bang Ben merupakan ikhtisar sosial tentang Jakarta: jago kampung, ondel-ondel, kompor meleduk, copet, selebor, dan lin-lain.

Tapi, sejak 1980, Benyamin seolah tenggelam dari dunia musik. Banyak versi yang beredar seputar ketidakmunculannya itu. Mulai soal rumah tangganya bersama Noni Marhaeni hingga kesibukannya dengan pengajian Islam Jamaah-nya. Baru pada 1992, ia mengutarakan keinginannya bermain musik lagi kepada Harry Sabar. "Gue mau, dong, rekaman kayak penyanyi beneran," katanya. Maka, bersama Harry Sabar, Keenan Nasution, Odink Nasution, dan Aditya, jadilah band Al-Haj dengan album Biang Kerok. Lagu seperti Biang Kerok serta Dingin-dingin menjadi andalan album tersebut. Di album ini, Benyamin menyanyi dengan "serius". Inilah band dan album terakhir Benyamin.

Selain merekam sekitar 300 lagu (berduet dan menyanyi sendiri dalam periode 1964-1992), Benyamin juga membintangi sekitar 54 film. Dan ia sukses. Lewat film Intan Berduri (1973) dan Si Doel Anak Modern (1976), ia meraih Piala Citra sebagai Aktor Terbaik. Pada 1994, ia bermain dalam sinetron Si Doel Anak Sekolahan dengan celetukan khasnya, “tukang insinyur”. Setahun kemudian, ia membintangi dua sinetron, Mat Beken dan Begaya FM.

Seniman serba bisa itu meninggal pada 5 September 1995. Detik-detik menjelang ajal menjemputnya digambarkan cukup rinci dalam Muka Kampung Rezeki Kota. Saat itu Benyamin tengah bermain sepak bola di sebuah lapangan di kawasan Lebakbulus, Jakarta Selatan. Tiba-tiba, di tengah pertandingan, ia mengeluh capek. Ia minta dipijitin. Ternyata, ia terkena serangan jantung. Ya, penggemar sepak bola itu meninggal ketika bermain olahraga kesenangannya tersebut.

Begitulah. Buku itu berupaya menyajikan Benyamin apa adanya. Juga sedetail-detailnya. “Sampai urusan tetes keringat Babe dicoba untuk diungkapkan,” kata Benny Pandawa. Hanya, biografi bergaya tulisan reportase itu--kebetulan kedua penulis (Ludhy Cahyana dan Muhlis Suhaeri) memang pernah menjadi reporter--terkesan ingin menjejalkan segudang data sang tokoh seniman Betawi itu. Termasuk daftar lagu dan film, serta bagan silsilah keluarga Benyamin. Alhasil, kepada kita seperti dihidangkan laporan panjang hasil reportase seorang wartawan.

Apa pun, sebagai debutan kedua penulis itu, Muka Kampung Rezeki Kota bisa dikatakan menarik dibaca. Setidaknya, bagi pencinta Benyamin yang sebelumnya mengenal sosok sang idola hanya sepotong-sepotong, dalam biografi itu sosok tersebut terajut dalam sebuah bingkai lumayan utuh.***


LAYAR – 2 Halaman
Majalah TEMPO, 04 Juli 2005

Foto Jadul.blogspot.com



Baca Selengkapnya...

Wednesday, October 20, 2004

Kata Pengantar Penulis, NTHR

Buku yang Anda baca ini, pada awalnya merupakan sebuah liputan untuk majalah Kajian Media dan Jurnalisme Pantau. Karenanya, gaya penulisannya pun, memilki karakter narrative journalism. Atau, kawan-kawan di majalah Pantau, biasa menyebutnya dengan jurnalisme sastrawi.

Sebuah genre penulisan berita yang mengandalkan langsung pada reportase lapangan, riset data yang kuat, keakuratan fakta, gaya penulisan dan bahasa bertutur, tulisan panjang dan mendalam dengan multi plot - multi sumber – multi konflik, bahasa yang menarik, lugas dan lentur.


Namun, di negeri “dongeng” yang sedang kita kita pijak ini, dimana batas realitas dan garis imajiner sudah terlihat buram dan kabur, membuat sesuatu yang baik, bermutu dan mempunyai nilai, ibarat menegakkan benang basah. Ia akan selalu jatuh dan tersungkur. Begitu pun dengan majalah ini, ketika naskah peliputan sudah siap dan akan dimuat, majalah Pantau keburu tutup. Lenyap ditelan bumi. Meski, pada akhirnya sempat terbit lagi, untuk tiga edisi. Tapi, tutup lagi.

Apa hubungan majalah Pantau dengan film ini? Tentu saja ada. Di majalah inilah, aku lebih mengenal sosok sutradara pembuat film ini, Aria Kusumadewa.

Pertama kali mengenal sosok Aria, ketika aku bekerja di Pusat Data dan Analisa Tempo (PDAT). Pada suatu kesempatan, aku mewawancarainya untuk rubrik “Apa dan Siapa Tempo”. Dari sanalah, segala yang berkisar tentang sutradara film ini, mulai terkuak. Pengalaman hidupnya, pikiran-pikirannya, romantika hidupnya dan obsesinya. Segala yang terjadi pada dirinya, tentu saja menjadi picu dan melatarbelakangi karya-karya.

Data riset dan hasil wawancara yang sangat berlipah, tentu saja sangat sayang bila dilewatkan begitu saja. Karenanya, aku mengajukan diri untuk menulis sosok sutradara ini ke majalah Pantau. Liputan tentang sosok Aria, termuat pada edisi Agustus 2002. Begitu pun, saat Aria akan membuat film terbarunya, “Novel Tanpa Huruf R”. Serta merta, aku pun mengajukan diri untuk meliput pembuatan film ini. Hasilnya? Buku yang sedang berada di tangan saudara.

Melihat film Aria Kusumadewa, ibarat melihat dunia realitas yang biasa kita hadapi. Dunia keseharian yang sedang bergerak dan terus berputar. Dunia jalanan. Tema yang ia angkat, adalah dunia yang berada di sekitarnya. Pencarian ruang hidup. Karakter tokoh di filmnya, unik dan kuat. Karakter tokohnya berjalan sendirian, dan tiap tokoh tidak saling berhubungan. Uniknya, tiap tokoh yang ada terdapat di filmnya, merupakan terjemahan dari teman-teman dekatnya. Karenanya, pemain yang ada dalam filmnya, biasanya orang yang berada di sekitar kehidupannya. Bergaul dan dekat dengannya. Artinya, bila Aria mengetahui karakter dan watak pemainnya, ia akan lebih mudah untuk mengarahkan pemain itu, sesuai dengan karakter yang ia mau dalam filmnya.

Aria lebih suka membuat film yang dekat dengan kehidupannya. Dengan cara itu, ia akan lebih mudah untuk membuat filmnya. Realitas yang ia lihat, ia rasakan, kemudian ia endapkan dalam pikiran dan jiwanya. Hasil pengendapan itulah, yang menjadi ide dan dasar dari filmnya. Lalu, ia menuangkannya dalam bahasa gambar, film.

Maka, lahirlah karyanya; Pelacur di Malam Lebaran (film pendek, sebagai syarat kelulusan di Institut Kesenian Jakarta, 1990), Senyum Yang Terampas (film cerita, 1990), Laskar Putri Indonesia (film dokumenter, 1993), Si Luet (film cerita, !996), Aku Perempuan dan Lelaki Itu (film cerita, 1996), Dewi Selebriti (serial TV, 26 episode, 1997), PDI Perjuangan (film dokumenter, 1998), Medi Pencopet Kota Palembang (film dokumenter, 1998), Bingkisan Untuk President (film cerita, 1998), Beth (film cerita, 2000), dan Novel Tanpa Huruf R (film cerita, 2002). Beberapa iklan dan video klip pernah juga ia garap.

Ketika akan membuat film Novel Tanpa Huruf R, Aria mengalami berbagai kendala. Saat naskah skenario film ini, coba ditawarkan ke beberapa produser film, si sutradara ibarat menembus tembok batu. Naskah skenario itu selalu ditolak. Dianggap tidak komersil dan tidak sesuai pasar. Film yang dianggap laku dan diminati pasar saat itu, adalah film yang mengisahkan percintaan remaja, dunia hantu, dan dongeng negeri di awan.

Meski, skenario ditolak disana-sini, sutradara dan anggota yang ada di Tit’s Film Workshop, tak menyerah begitu saja. Dana terus dicari, sampai pada suatu titik, film harus segera diproduksi. Tit’s Film Workshop memang lahir dengan konsep untuk menciptkan ruang kebebasan dengan dengan caranya sendiri. Mereka mendesain, memproduksi, dan mendistribusikan filmnya sendiri.

Keterbatasan biaya, malah membuat sutradara menemukan sesuatu. Lampu “kotak telor” yang dibuat sendiri (untuk menekan biaya sewa lampu yang mahal), malah melahirkan cara penyutradaraan baru. Di film yang menggunakan lampu secara lengkap, ada adegan yang pemainnya diam saja, karena lampu sudah bisa meneranginya. Di film ini, pemain harus datang dan mendekati lampu (mendekati cahaya), supaya sosoknya terlihat di kamera. Cara ini, membuat penyutradaraan menjadi dinamis.

Yang paling khas dari cara penyutradaraan Aria, ia selalu berinteraksi dengan ruang, waktu dan peristiwa. Tak heran, muncul scene (adegan) baru yang tidak ada dalam skenario. Di satu sisi, cara ini tentu saja menambah besar biaya produksi, tapi itulah bagian dari proses kreatif yang ia miliki. Di film ini, banyak sekali scene tambahan.

Begitu pun saat melakukan penyuntingan (editing), Aria tidak lagi berpegang pada skenario yang ada. Ia punya konsep editing untuk filmnya sendiri. Struktur cerita bisa dibolak-balik, sesuai dengan apa yang ada dalam pikirannya (Makanya, saat membuat scene tambahan, ia sangat tahu, scene itu untuk kebutuhan editing filmnya). Atau, gambar yang secara artistik bagus dan menarik, malah ia buang, karena dianggap tidak sesuai dengan karakter yang ada di film ini. Padahal, perlu waktu dan kerja ekstra, ketika melakukan pengambilan gambar itu.

Aria cukup berani untuk membuat terobosan di bagian editing. Lihat saja, ketika ada sebuah adegan, seorang penjual ayat (Aria yang memerankan tokoh ini). Pada pengambilan gambar pertama, pemain utama (Agastya) tertawa. Ia tidak tahan melihat penampilan Aria, melafalkan ayat Alqur’an (fasih dan lancar di luar kepala), dan memerankan tokoh ini. Adegan kemudian diulang. Pada pengambilan adegan yang kedua, secara gambar dan dialog berjalan dengan baik, sesuai yang diinginkan. Tapi, pada tahap editing, Aria malah memasang gambar pertama. Alasannya, di antara ratusan shut gambar yang ada dan baik, satu gambar yang rusak, tidaklah apa-apa.

Setelah film ini jadi, ada pertentangan kuat antara Aria dan seluruh tim yang ada di Tit’s Film Workshop. Apakah film ini akan diputar di jaringan Bioskop 21 (twenty one), atau diputar secara keliling (road show) dari kampus–ke kampus dan kantung budaya. Cara road show pernah dilakukan sebelumnya untuk film Beth. Dalam tiap pemutaran film, biasanya akan diikuti dengan diskusi, antara penonton dan orang yang tergabung dalam pembuatan film ini (sutradara, aktris, aktor, cameramen, atau bagian yang lain).

Aria bersikeras, film ini diputar melalui road show. Dengan cara itu, film akan langsung bisa diapresiasi penontonnya. Pembuat film berhadapan langsung dengan orang yang menonton filmnya. Film itu dicerca atau dipuji, mereka harus siap menerima konsekwensi, dari apa yang telah mereka buat.

Ya, pada akhirnya, film ini memang menuai badai. Di Universitas Negeri Bandung (dulu namanya, IKIP), pihak rektorat melarang pemutaran film. Padahal, pihak rektorat belum menyaksikan film ini. Di Universitas Maranatha, Bandung (kampus milik sebuah Yayasan Kristen), film ini ditolak. Pasalnya, ada adegan anjing mencium patung Yesus, dan patung Yesus jatuh terpukul. Pecah dan berderai. Di Universitas Islam Bandung (Unisba), film ini diprotes dan didemo Lembaga Dakwah Kampus, karena dianggap melecehkan agama Islam.

Alasannya? Sahid, sebuah nama yang identik dengan semangat jihad dan perjuangan Islam, dipergunakan untuk nama seekor anjing. Menurut orang yang memprotes film ini, anjing merupakan salah satu binatang yang dianggap najis. Menanggapi protes itu, pembuat film menyodorkan sebuah fakta yang ada di Alqur’an, surat Al-Kahfi. Di salah satu ayat termaktub, anjing merupakan salah satu binatang, yang namanya tersebut dalam Al-qur’an. Bahkan, anjing termasuk binatang paling setia dan dijanjikan masuk surga.

Sekarang ini, atas nama mati sahid, orang melakukan sesuatu, misalnya bom bunuh diri. Meluluhlantakkan semua yang dianggap sesat dan bakal membawa bencana. Para pelaku mencari surganya sendiri dengan menyengsarakan orang lain.

Di film ini, justru simbol-simbol agama itulah yang coba dihancurkan. Akibat menyembah simbol, tatanan kehidupan menjadi tidak harmonis. Masyarakat dikotak-kotakkan ke dalam agama, suku, ras, dan antargolongan. Orang menjadi saling curiga, dan tidak bisa bersatu. Semangat agama yang membawa ideologi, rahmatan lil alamin, kedamaian bagi semua mahluk, menjadi hilang. Semangat cinta kasih menjadi saling benci dan menghancurkan.

Protes yang terjadi, kiranya dapat dimaklumi. Orang mempunyai persepsi dan sudut pandang berbeda, dalam menerjemahkan sebuah gambar. Ya, apa yang menjadi istilah, sebuah gambar nilainya sama dengan seribu kata-kata. Sebuah gambar, juga mempunyai seribu tafsir, terjadi di film ini.

Apapun yang terjadi atas film ini, si pembuat tentu saja mempunyai tafsir sendiri, atas apa yang sedang terjadi di negeri ini. Tafsir itulah, yang ia tuangkan dalam film yang dibuatnya.

Film ini, Aria memang tidak berusaha untuk membuat “pernyataan-pernyataan, ia hanya membuat pertanyaan-pertanyaan.”

Bila di salah satu novelnya, Omerta, pengarang berkebangsaan Italia, Mario Puzzo, membuat sebuah dialog, “Jangan kau ucapkan terima kasih untuk orang-orang yang berada di masa lalumu. Terima kasih hanya berlaku bagi orang-orang yang berguna untuk masa depanmu.” Namun, aku akan tetap mengucapkan terima kasih, untuk orang yang berada di masa laluku, dan orang yang akan berada di masa depanku. Karena, merekalah yang telah dan akan memberi warna, bagi kehidupanku.

Pada akhirnya, aku harus mengucapkan terima kasih, untuk semua orang yang telah membantu proses dan penerbitan buku ini. Terima kasih sebesar-besarnya untuk, Aria Kusumadewa. Yang telah memberi peluang dan kesempatan bagiku, untuk ikut berproses dalam pembuatan film ini. Semoga semangat independen, yang sama-sama kita miliki, tetap terjaga. Lola Amaria, terima kasih untuk kerja samanya. BE Raisuli, terima kasih untuk pembelajaran dan diskusinya. Rik A. Sakri, terima kasih untuk pengertiannya. Otig Pakis, untuk kehangatan sikap dan candanya. Saut Situmorang (almarhum) untuk diskusi dan puisi-puisinya, yang menggugah dan menantang. Aku menaruh hormat padamu.

Untuk seluruh pemain dan kru yang terlibat dalam pembutan film ini, Agastya, Norman R. Akyuwen, Fahrani Empel, Faizal Kamarullah, Pedro Tomasouw, Bob Stilo, Ine Febrianti, Aisyah, Arturo G.P, Zairin Zein, Nanduto, Subur, Budi “Roy” Irawan, Agus “Dodot” Taqwa, Hastagus “Black” Eka Yana, Chita, Yatsky, Trisno, John Payung, Edi Prasindo, Zamroni, Wim Salim, Fahmi Alatas, Insan Akbar, Turino Priyoatmojo, Herdoso Prisadono, Anik, Agus Sularto, Wahyudi Dono, dan Aman Sugandhi. Terima kasih untuk kerja sama dan pengalaman yang menantang. Terima kasih juga, untuk semua orang yang membantu proses pembuatan buku ini, yang tak bisa aku sebutkan satu persatu di sini, atas segala kebaikan yang dimiliki.

Khusus untuk seluruh punggawa SLANK, Bim-bim, Kaka, Ridho, Abdee, dan Ivan. Make the world crazy with your music, PEACE. Terima kasih untuk kerja sama dan apresiasinya. Tak lupa untuk Rulionzzo dan Rika, terima kasih, semua.

Untuk seluruh rekan yang ada di Pusat Data dan Analisa Tempo (PDAT), radio Voice of Human Right (VHR), dan majalah Pantau. Terima kasih untuk pembelajaran dan ilmu yang telah tertular, padaku.

Terima kasih untuk Lindha Christanty yang telah mengedit naskah ini, dan untuk LKiS yang telah menerbitkan buku ini.

Untuk mentor yang ada di jurnalisme sastra enam, Janet E. Steele, Andreas Harsono. Terima kasih untuk diskusi dan pencerahannya. Teman yang ada di jurnalisme sastra enam, Lisa Noor Humaidah, Nugie, Wiwid, Basil, Ana, Yus, Wahyu Dramastuti, Alfitra, Rizanul, Afifah, Damai, dan Hendra. Terima kasih untuk tukar pengalaman dan diskusi yang menggairahkan. Semoga, kelak di kemudian hari, kita bisa saling terus bekerja sama dan saling mendukung.

Untuk orang yang berada dan dekat dengan kehidupanku, Nurul Hayat, Ngarto Februana, Ramona Gandhi, Zaenal A. Budiyono, JP Indra, Ludhy Cahyana, Roy Sidharta, Ocid, Abdul Aziz, Bagus Armanusa, Hanum, Laely Nihayati, dan Lutfi Setiawan. Terima kasih untuk pengertian dan lingkungan pergaulan yang sehat.

Pada kedua kakak perempuan dan iparku, Siti Panjang Asih dan Muhlisin, Nur Hayati dan Mamak. Terima kasih untuk kebebasan dan penghargaan padaku, dalam menentukan pilihan hidup. Untuk keponakanku, Tutik Hidayati, Agus Supriyadi, Lia, Vera Lisiana Silvia, Meilinda Setiawati, Sherly Reinita Indah Adorada.

Untuk kedua orang tuaku, Suhaeri dan Mukarromah, inilah wajud baktiku.

Tabik,


Muhlis Suhaeri
Suatu malam di bulan Ramadhan,
Jakarta, 20 Oktober 2004.


Baca Selengkapnya...

Saturday, February 1, 2003

Keluarga Jagal

Hidup di antara darah dan daging dalam mata rantai tak terpisahkan

Oleh: Muhlis Suhaeri


LELAKI ITU membersihkan pisau yang telah basah oleh darah. Dia memasukkan pisau kecil itu ke sarungnya. Disekanya keringat yang mulai membasahi tubuh. Matanya nanar melihat sekeliling. Hanya gumpalan dan potongan daging yang berserak. Lantai memerah, penuh genangan darah.

Dengan pisau kecilnya, dia kembali merobek, membelah, dan memotong daging menjadi beberapa potongan. Kapak diayunkan untuk membelah tulang. Lalu, potongan daging besar dipanggulnya menuju sebuah timbangan. Daging dikaitkan. Mantri daging mencatat dan memberikan stempel pada daging yang telah ditimbang. Mobil telah menunggu, siap membawa daging ke seluruh pelosok kota.

Dia Bonin, biasa dipanggil Udin. Usianya lebih dari separuh abad. Ada rasa ngeri ketika kali pertama melihatnya. Tatapan matanya dingin. Cambang dan kumis membubuhi wajahnya yang bulat. Tinggi badannya sekitar 160 cm. Badannya kekar. Lengannya besar, bahunya lebar. Sesekali tawanya berderai.


Sore itu, di bawah rimbun pohon bambu yang memayungi rumahnya, kami bercakap. Udin duduk bersila. Sebatang rokok kretek dinyalakannya. Asap membumbung dan berkisaran di wajahnya.

“Saya kerja di pejagalan sapi sejak tahun 1963,” ujarnya.

Udin seorang jagal sapi di Rumah Pernotongan Hewan (RPH) Pancoran Mas, Depok. Pekerjaan itu dilakoninya sejak dia meninggalkan bangku Sekolah Rakyat (SR) Babakan, Parung, Bogor. Tak pernah terbersit di pikirannya untuk menjagal. Tadinya, dia ingin memanggul senjata, menjadi seorang serdadu. Ada rasa bangga dan gagah. Tapi nasib menentukan lain. Ketika itu, umurnya belum cukup untuk mendaftar.

Pergilah dia ke Jakarta untuk mengadu nasib. Rumah Pak Amat, pamannya, menjadi tujuannya. Di sini dia membantu pekerjaan pamannya yang membuka sebuah kantin di depan RPH Klender. Kantin itu menyediakan makanan bagi pemotong daging dan karyawan RPH. Dari sinilah dia mulai bergaul dengan para jagal sapi, yang mendorongnya bekerja di RPH.

Pada awalnya ada rasa ngeri dan jijik ketika pertama bekerja di pejagalan. Lumuran gajih, kotoran, dan darah sapi membuat Udin ingin muntah. Tapi, lama-lama dia terbiasa.

Udin menangani jeroan sapi. Usus, babat, dan lainnya dia bersihkan. Setelah mampu, dia mulai menguliti sapi. Hingga akhirnya dia belajar membelah sapi menjadi dua bagian dengan kampak. Sapi yang telah terbelah dua dipotong lagi menjadi empat bagian. Pekerjaan ini tidak mudah, dan tidak semua orang mampu mengerjakan.

"Kita harus tahu sela-sela tulang," ujar Udin.

Udin juga belajar membuka kepala sapi. Pekerjaan ini dilakukan dengan kampak. Otak, lidah, mata, dan segala yang ada di kepala sapi, memisah dari kulit dan tulang. Andai caranya tidak benar, isi kepala bisa berantakan. Ada teknik tertentu, yakni harus menyesuaikan dengan urat di kepala sapi.

Sekitar 1968, Udin mulai menyembelih sapi. Di RPH, ini bukan pekerjaan khusus. Siapa pun bisa melakukan, asalkan punya keberanian. “Kalau memotong urat leher harus sekali tarikan, dan tenggorokan sapi putus,” ujarnya.

Bila tidak, sapi menjadi kaget dan mengamuk, dan ini berbahaya bagi jagal. Bila pisau masih di tengah leher sapi, maka tangan jagal yang terkena pisau. Tenggorokan yang telah terputus mesti dibelah lagi urat nadinya untuk mengalirkan darah di tubuh sapi. Bila darah tidak mengalir, sapi bisa saja bangun lagi dan mengamuk -meski tenggorokannya telah putus.

Udin bekerja di RPH Klender hingga 1973. Dia pindah ke Pulogadung, dan kemudian Cakung. Sewaktu di Cakung inilah isu tentang pemotongan hewan tidak memakai bacaan bismillah muncul. Alasannya: pakai mesin. Masalah itu cukup menghebohkan. Pemasukan RPH sempat menurun drastis. Sebenarnya penyembelihan tetap dilakukan jagal dengan pisau. Setelah sapi dipotong, proses selanjutnya menggunakan mesin.

Udin sempat mencoba jualan daging ke pasar. Dia mengambil daging dari bosnya tanpa perlu keluar uang dulu. Hasilnya lumayan. Tapi suatu ketika, dia ditipu pedagang sapi yang menjadi mitranya. Uang sebesar Rp 11 juta lenyap. Seluruh barang dan perabotan di rumah terpaksa dia jual.

Udin pun kembali menekuni dunia penjagalan. Kebetulan ada seorang kenalan menawarkan kerja di RPH Depok. Udin bekerja di sana hingga sekarang.

ADA EMPAT bandar sapi di RPH Depok. Kepada bandar sapi inilah jagal menyandarkan tenaganya. Tanpa ikatan, para jagal ini bekerja secara lepas. Jarang ada Bandar memunyai karyawan tetap yang dibayar bulanan, kecuali di Lippo Karawaci, Tangerang.

“Modal di pejagalan hanya tenaga. Selama tenaga masih ada, maka akan terpakai,” ujar Udin.

Udin mendapat upah Rp 40 ribu per ekor untuk sapi Australia dan Rp 35 ribu untuk sapi Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Uang itu masih harus dibagi anggota kelompoknya, yang berjumlah tujuh orang. Dalam sehari mereka bisa memotong tujuh sampai sepuluh ekor sapi.

Pekerjaan ini rawan kecelakaan. Lengah sedikit badan bisa celaka. “Saya tidak bisa menghitung lagi kecelakaan yang disebabkan pisau,” ujar Udin sambil memperlihatkan beberapa luka di tangannya. Jari kelingking sebelah kanannya mati urat. Tulang siku kanannya menonjol karena dagingnya terkelupas.

“Daripada kena tulang, lebih baik kena pisau,” ujarnya. Kena tulang bisa infeksi. Tulang yang dibelah dengan kapak atau pisau biasanya menyisakan sudut-sudut tertentu yang runcing, dan ini berbahaya.

Bahaya tak kalah seramnya datang dari sapi. Sapi Australia berbahaya karena suka menendang. Sebelum disembelih, sapi mesti diikat tali pada kaki dan lehernya. Orang harus berjongkok untuk mengikatkan tali. Saat kaki sapi diikat dengan tambang, kaki sapi biasanya menendang. Tak jarang paha, kepala, dan anggota tubuh sendiri kena sasaran. Sudah puluhan kali Udin ditendang sapi. Tapi dia lebih beruntung. Temannya, Aripin, tertendang sapi Australia tepat di ulu hatinya hingga meninggal dunia.

Sapi di RPH Depok didatangkan dari penggemukan sapi di Lampung, Bojonegoro, dan Bali. Bandar sapi memi­liki hubungan langsung dengan pemasok sapi. Ada dua perusahaan besar yang memasok Bandar sapi: PT Santori dan Indo Jaya. Untuk sapi Bali atau sapi NTB, Bandar sapi langsung berhubungan dengan pengumpul sapi di Bojonegoro dan Bali.

RPH merupakan tempat pertemuan Bandar sapi dan pedagang daging. Pedagang daging membeli sapi hidup dari Bandar sapi dengan harga per kilogram, misalnya Rp 10 ribu/kg. Berat seekor sapi mencapai 400-500 kg. Biasanya pedagang langsung memotongkan sapinya ke jagal, yang notabene anak buah Bandar sapi. Seluruh biaya dibebankan kepada pedagang. Setelah sapi dipotong, pedagang akan membawa dagingnya ke pasar. Daging itu bisa langsung dijual ke konsumen, atau dibagikan ke pedagang lebih kecil, yang biasa disebut anak pedagang.

“Jadi hubungan kerja itu unik! Jagal sapi adalah anak buah Bandar sapi, tapi yang membayar pedagang daging,” ujar Faisal Sagala, mantri hewan yang mengepalai RPH Depok.

Dari situ Bandar sapi untung. Dihitung-hitung bisa mencapai Rp 100 ribu per ekor. Bayangkan kalau dia bisa menjual sapi sampai 10 ekor per hari. “Itu di atas kertas. Padahal kenyataannya tidak seperti itu,” ujar Faisal.

Seringkali uang tersendat di pedagang daging, dan sulit ditagih. Kalaupun mau membayar, mencicil sedikit-­sedikit, padahal uang harus berputar. Tak heran jika di RPH Depok ada kandang sapi dipindahtangankan, karena Bandar sapi bangkrut.

Begitu pun yang terjadi pada juragan daging. Risikonya sama. Tapi bisnis daging sapi tetap menjanjikan. Memang keuntungan sedikit, tapi perputarannya cukup tinggi. Belum lagi keuntungan dari kulit dan jeroan.

“Memang, daripada kita menerima gaji lebih baik dagang,” ujar Enung Nurjali, lelaki paruh baya yang meneku­ni jual-beli daging sejak 1978. Kini, dia menempati kios daging di pasar Kemiri, Depok.

Di pasar Kemiri ada sekitar 100 pedagang daging. Persaingan ketat. Apalagi kalau ada hari-hari khusus, seper­ti Idul Fitri. Saat itu banyak pedagang dadakan. Tinggal bagaimana pedagang menjaga usahanya agar tetap lancar. Kuncinya, “Pertama, me-manage keuangan. Kedua, harus didukung oleh garis bawah, anak pedagang. Kalau anak pedagang bagus, otomatis akan bagus.”

Enung melakukan berbagai cara untuk mengikat anak pedagang. Dia acap memberi hadiah. Selain itu, dia selalu memberikan harga yang baik. “Dalam bisnis ini, kebanyakan modal kepercayaan saja,” ujar Enung.

Begitulah mala rantai yang tak terpisahkan dalam distribusi daging sapi. Ada pemasok sapi, bandar sapi, pedagang daging, anak pedagang daging, jagal, dan RPH.


NAMIEM MERASA hidup sebagai istri jagal susah. Rumah tak punya. Penghasilan pas-pasan. Terkadang dia men­geluh dengan sikap suaminya yang tak pernah membawa pulang daging dari pejagalan. Kalaupun membawa pulang, bukan daging tapi gajih yang tidak bisa dijual mahal.
"Saya sih bisa mark up, tapi kita kan tidak kerja untuk satu atau dua hari,” ujar Namiem menirukan ucapan suaminya.

Pendidikan anak-anaknya juga tak terpenuhi dengan baik. Namiem dan suaminya hanya mampu menyeko­lahkan anak-anak mereka hingga sekolah menengah per­tama (SMP), beberapa di antaranya tidak sampai tamat.

Namiem, perempuan asal Kebumen, dinikahi Udin pada 1971. Dari perkawinan itu mereka dikaruniai tujuh anak: empat perempuan, tiga lelaki. Seorang anak lelakinya meninggal. Anak lelaki nomor empat mengikuti jejak bapaknya. Muhammad Nuh (21) namanya, biasa dipanggil Mat Nuh.

Kini, dia bekerja di pejagalan Ciputat. Sang ibu hanya bisa menasehati, “Lebih baik mencari kerja lain, ikut menyupir atau apa, dan jangan mengharapkan kerja di pejagalan.”

Udin sendiri hanya bisa pasrah, “Mungkin, saat ini dia hanya bisa menjadi kuli. Semoga, dia bisa belajar dan men­jadi juragan sapi atau punya usaha sendiri kelak.”

Saat kutemui, Mat Nuh baru pulang dari pejagalan. Tangannya penuh goresan luka. Mat Nuh mengatakan tidak ingin menjagal. Sama seperti bapaknya, dia bercita-cita jadi serdadu. Tetapi orang tuanya tak mampu membiaya sekolahnya.

Awalnya Mat Nuh bekerja di kandang. Tugasnya memberi makan sapi dan membersihkan kandang. Terkadang dia harus mencari pakan sapi, jerami kering, hingga ke Subang dan Kerawang. Hingga sekarang dia bekerja di pejagalan hampir empat tahun lamanya. Penghasilannya bisa untuk memban­tu ekonomi keluarga. Tiap hari dia bisa memberikan kepada ibunya uang belanja Rp 10 ribu.

Tetapi kondisi keluarga Udin tidak juga membaik. Apalagi kini pendapatan Udin lagi seret, pejagalan lagi sepi. Tempat pejagalan sudah bertebaran di mana-mana. Dalam sehari dia hanya bisa mendapatkan uang Rp 35 ribu.

Hidup bersama jagal sapi masih dijalaninya. Acap ada perasaan tertentu yang dirasakan Namiem. Bila suaminya marah, Namiem akan diam saja. Dia selalu ingat, suaminya bekerja di pejagalan dan biasa membawa pisau atau benda tajam lain.
“Jadi, ada rasa takut juga,” ujar Namiem.


KANDANG SAPI itu terletak di samping RPH. Ada empat blok kandang. Tiap blok milik seorang bandar sapi. Ada jalur khusus yang menghubungkan tiap kandang ke pejagalan. Tiap kandang ada orang yang bertugas mengurus sapi -biasa disebut tukang kandang. Dia bertugas memberi makan, merawat, dan membersihkan kandang.

Uniknya, meski menempati tanah RPH, bandar sapi tidak membayar uang sewa ke RPH. Pendapatan RPH murni dari retribusi pemotongan saja. “Mungkin, bandar sapi punya sejarah tersendiri dengan membuat kandang sendiri saat pertama kali RPH ini didirikan,” ujar Faisal.

Sapi yang masuk ke RPH harus memiliki surat keterangan sehat dari tempat sapi itu berasal. Bila tidak ada, sapi akan diperiksa apakah layak potong. Ini untuk menghindari penyakit.

Penyakit cacing hati umum ditemukan pada sapi. Biasanya sapi terlihat kurus, tapi dagingnya masih dapat dimakan -tinggal membuang hatinya. Parasit sudah jarang. Penyakit menular seperti Anthrax tidak pernah masuk ke RPH Depok.

Biasanya sapi didatangkan dari tempat penggemukan dengan truk-truk. Selama perjalanan, setiap pengirim membawa pengawal yang bertugas merawat dan memberi makan sapi. Pengiriman sapi biasanya dilakukan malam hari. Begitu sampai di Jakarta, sapi langsung diperiksa suratjalannya. Bila tidak ada masalah, sapi langsung dimasukkan ke kandang. Bila sapi stres, biasanya sering mengamuk, sapi harus segera dipotong hari itu juga. Bila tidak, berat badan sapi akan terus susut. “Air di dalam tubuh sapilama-lama akan habis, karena sering kencing,” ujar Faisal.

Ada ciri dan karakteristik tertentu pada sapi. Sapi Bali memiliki tanduk panjang, berat antara 150-200 kg. Sapi Kupang mirip sapi Bali, tapi lebih kecil. Beratnya sekitar 100-120 kg. Biasanya ada tali pada leher danhidungnya karena sapi piaraan. Kedua sapi ini tidak galak waktu dipotong, sehingga relatif lebih mudah sewaktu persiapan pemotongan. Cara menjatuhkannya lebih gampang dan tidak perlu dimasukkan ke kotak khusus; Cuma dituntun saja. Daging di leher sapi Bali dan Kupang lebih tebal, sekitar 5 cm. Dagingnya merah agak kehitam-hitaman. Harganya lebih mahal dari daging sapi Australia.

Daging sapi lokal lebih enak dan gurih. “Mungkin, karena makanannya alami, dari rumput hijau,” ujar Udin.

Sapi Australia biasanya tidak bertanduk. Cara memeliharanya dibiarkan di alam bebas. Lehernya tidak diberi tambang. Hidung sapi tidak pernah dicocok dan diberi tali. Kondisi ini membuat sapi galak. Sapi Autralia berat­nya antara 300-500 kg. Makanannya rumput kering dan ampas tahu. Sapi ini kalau dikuliti lebih lunak karena banyak lemak. Sewaktu dipotong, lemak dan daging di lehernya malah lebih tipis, sekitar 1 cm, jadi enak waktu memotongnya. Daging sapi Australia merah agak kepucatan.

Sapi Australia memerlukan cara khusus sebelum dipo­tong. Ada jalur dari kandang ke pemotongan. Jalur itu terbuat dari pipa besi dan bambu-bambu bulat besar. Lebarnya sekitar 50-70 cm, tingginya 170-200 cm, dan bermuara ke kotak besi. Ukurannya pas dengan badan sapi, baik tinggi maupun lebarnya. Kotak itu dari pipa besi ukuran 5 inci, dan dilapisi lempengan besi yang tebalnya sekitar 3-5 mm. Lempengan ini berfungsi melindungi jagal dari terjangan sapi. Di kotak ini, kaki dan leper sapi dijerat dengan tali. Untuk selanjutnya, dijatuhkan dan disembelih.

Sapi yang disembelih akan berbeda saat menjadi daging. Sapi yang berperut gemuk, berkulit tebal, karkasnya (tulang) tidak sampai 50%. Ada yang cuma 47%, atau malah 45%. Sapi yang berperut kecil akan mencapai 50%. Misalnya, berat sapi hidup saat ditimbang 500 kg. Maka, saat disembelih dan menjadi tulang dan daging, jumlahnya harus 50% dari 500 kg, atau 250 kg. “Kalau tidak begitu, pedagang akan rugi,” ujar Udin. Bila dipisahkan lagi antara daging dan tulang, berat tulang bisa mencapai 40 kg.

Sapi yang telah dipotong, bagian kepala, kulit, jeroan, dan lemak menjadi milik pedagang daging, dan itu tidak perlu ditimbang. Yang ditimbang adalah daging dan karkas. Karkas sapi Bali Rp 26 ribu/kg, saat Lebaran Rp 29 ribu/kg. Karkas sapi Australia Rp 24 ribu/kg, saat Lebaran Rp 26 ribu/kg. Terkadang ada hati sapi yang rusak. Hati sapi ini harus dibuang, karena tidak dapat dimakan. Tentu saja itu merugikan pedagang. Bila Bata hati sapi beratnya antara 2-3 kg, dan harganya Rp 25 ribu/kg, maka tinggal mengalikan saja.

Menurut Enung, pada hari raya, biasanya harga da­ging sapi Bali dan sapi Australia disamakan. Bukankah, harga karkas antara sapi Bali dan sapi Australia berbeda? Apakah pedagang tidak rugi? “Sapi Australia tulangnya besar. Sapi Bali dan Kupang tulangnya kecil, dagingnya juga lebih padat,” ujar Faisal. Jadi, selisih harga jual akan sama nantinya.

Penjagalan masih menyisakan berbagai persoalan. Sapi biasanya stress sebelum dipotong. Karenanya harus diikat, dibanting, dan dijatuhkan. Ini tentu saja berakibat pada kualitas daging. Daging sapi menjadi keras dan liat. Dulu ada sistem yang lebih hewani. Caranya? Menembak sapi di bagian kepalanya dengan obat bius. RPH Cakung pernah mempraktikkan cara ini. Tapi, biayanya terlalu mahal, sehingga tidak dilakukan lagi. “Kita sering menegur bila ada jagal yang kasar dengan sapi,” ujar Faisal.

Persoalan lain berhubungan dengan bau. Belum ada tempat khusus bagi pengolahan limbah. Fasilitas penjagalan juga perlu ditata dengan apik.


DIPERLIHATKANNYA PISAU kecil itu. Tak lagi mengilat. Gagang pisau yang terbuat dari kayu jati itu, bahkan mulai lusuh karena lemak dan darah. Pisau itu buatan tukang besi. Bahannya dari gergaji besi. Cara membuatnya sederhana saja. Pisau yang akan dibuat digambar ke gergaji besi. Lalu, mengikir dan mengerindanya. Setelah itu, menghaluskan dengan asahan biasa. Pisau itu harganya Rp 25 ribu.

Pisau potong asli mahal harganya. Pisau yang bagus merk Garpu, buatan Jerman. Pisau itu ada nomornya. Nomor satu sampai tujuh. Pemberian nomor berdasarkan panjang dan lebar pisau. Makin besar angka makin kecil dan pendek. Nomor tujuh harganya sekitar Rp 175 ribu, panjang pisau ini sekitar 15 cm. Nomor satu panjangnya 20 cm, dan harganya sekitar Rp 250 ribu. Dari segi pegangan dan kekuatan pisau, nomor satu lebih enak; lebih panjang, tebal, dan lebar pisaunya.

Tapi, “Enggak bakal kebeli,” kata Udin sembari tertawa.

Diselipkannya pilau kecil itu di pinggang. Alat pengasah menggantung dan bergerak bebas di pinggang sebelah kiri. Dia mengganti pakaian yang dikenakannya dengan pakaian kerja. Sebuah baju lusuh mulai menempel di kulitnya. Celana pendek penuh bercak membungkus bagian tubuh bawahnya. Sebuah peci bulat membungkus rambutnya. Ikat pinggang tebal, berdiameter 5 cm, membelit perutnya. Sabuk itu berguna bila dia mengangkat beban berat.

Pakaian kerja itu biasanya ditaruh dekat tempat pejagalan. Jarang dicuci. Paling seminggu sekali. Bahkan ada yang tidak pernah dicuci sama sekali. RPH sebenarnya punya standar kebersihan. Soalnya, pekerjaan itu berhubungan dengan makanan. “Seharusnya, sewaktu memotong daging harus memakai baju bersih,” ujar Faisal.

Kebutuhan air juga sering tak terpenuhi. Misalnya, RPH membutuhkan seribu liter air untuk satu ekor sapi. Air itu untuk membersihkan jerohan, usus, daging, lantai, tembok, dan sebagainya. Tahap akhir, perjalanan daging ke pasar, tak kalah tragis. Daging dimuat di bak mobil terbuka. Debu dan kotoran akan menempel ke daging. Masih untung kalau sopir menutup bak mobil dengan kain terpal.

“Mungkin, kalau orang bule tahu cara memotong sapi di Indonesia, mereka tidak akan mau makan daging lagi,” ujar Faisal.

Malam itu, kegiatan pemotongan melebihi hari biasa. Orang harus antri. Di tempat lain, orang menggiring sapi dari jalur. Di sisi lain, orang membelah dan mengampak sapi menjadi dua. Kegiatan ini cukup memerlukan tenaga. Yang melakukan pekerjaan ini biasanya anak muda. Orang sudah uzur mendapat tugas menarik rantai, bila ada sapi yang akan dinaikkan dengan alat katrol dari besi.

Saat memotong, Udin selalu membaca bismillah dan Allah Akbar. Tak berapa lama, lantai telah memerah. Beberapa kali jagal lain menyiram lantai dengan air. Kehatian-hatian masih diperlukan. Sapi yang telah disembelih masih mampu menendangkan kakinya. Bahkan meski sapi telah dikulili serta dipotong leher dan kakinya sebatas dengkul. “Justru gerakan terakhir itulah yang biasanya paling keras,” ujar Lani, salah seorang jagal sapi. Lani pernah mengalaminya. Pipi dan mata kirinya lebam. Bahkan matanya rusak, dan berbayang dua bila melihat suatu obyek.

Gerakan itu dinamakan rigormortis, istilah untuk kerja otot dari lentur ke kaku. "Karena proses cara menjagalnya kencang dan keras, sehingga rigormortis juga kencang,” ujar Faisal, “Mungkin, energi itu masih ada di dalam otot sapi yang telah dipotong.”

Sebenarnya peristiwa ini dapat dihindari. Caranya dengan membiarkan sapi yang telah dipotong untuk beberapa lama. Tapi, kerja di pejagalan berburu dengan waktu, dan cara itu tidak bisa ditempuh.

Setelah selesai, daging diletakkan di mobil. Manteri hewan memeriksa daging yang keluar dan memberinya cap. Stempel itu menggunakan tinta khusus dan tidak dapat dihapus dari daging. Lalu, selesai sudah semua pekerjaan.

Udin mulai membersihkan badan. Meski badannya masih berkeringat, dia mandi. Tak peduli biang keringat mengerubuti tubuhnya. “Supaya bau lemak dan darah cepat hilang, harus menggunakan air hangat,” ujarnya.

Dia mulai menggenakan celana pendeknya, lalu beranjak ke warung di depan pejagalan. Jagal-jagal lain sedang makan mie rebus, nasi goreng, atau sekadar minum kopi sembari mengobrol. Salah seorang mulai membagi hasil kerja. Wajah-wajah lelah itu kelihatan kembali sumringah. Apalagi dengan sebagian kantung plastik yang akan mereka bawa pulang.

Hari mulai beranjak pagi, dan Udin pun mengayunkan langkahnya pulang.***

Edisi cetak ada di majalah Pantau, edisi Februari 2003

Foto Lukas B. Wijanarko

Baca Selengkapnya...